lucu juga. aku tuch biasa bikin tulisan ringan di milist bayangan di kantor. eh, ada yang ketularan nulis. maksudnya millist bayangan, hanya aku sendiri yang tahu keberadaan siapa dan berapa banyak anggotanya. karena aku kirim dalam alamat secara silent. tersembunyi. hanya dual komunikasi aja. gak multi gitu.
trus, terakhir ini ada seorang temen yang nulis do'anya dan dikirim ke aku. tergugah juga sih, tersentuh gitu sama do'anya. lugu dan apa adanya. polos gitu. gini doanya:
Doa pengharapan dan taubat seorang Ayah
Ya Alloh ampunilah dosa ku dosa semenjak mulai dari aqil baligh hingga usiaku sekarang ini
Ya Alloh ampuni dosaku dosa yang kecil dan dosa yang besar dosa yang kusengaja maupun dosa yang tak kusengaja , dosa yang kusembunyikan maupun dosa yang terang terangan
Ya Alloh aku tidak sanggup menghitung jumlah dosa dan kesalahan yang pernah aku perbuat, padahal semua
yang aku perbuat sudah terekam didalam catatan malaikat Rokib dan Atit
Ya Alloh aku berbuat dosa diatas bumiMu, dan mecari makan diatas bumiMu dan buang hajat juga diatas
bumiMu, tapi kadang aku sering menunda panggilan dan undanganMu untuk bersujud dan bersimpuh kehadiratMu.
Untuk itu ampunilah dosa ku Ya Alloh , aku takut ketika aku masuk didalam kubur tentu bumiMu tidak mau menerima kehadiranku lantaran banyak dosa yang telah aku berbuat, aku takut dihimpit bumi dan hangus terbakar dialam kubur.Untuk itu ampunilah aku karena Engkau maha pengampun,luaskanlah kuburku seluas mata memandang jadikan lah kuburku taman sebagaian dari taman syurgaMu sehingga ketika menunggu pengadilanMu di padang mahsar nati tidak begitu lama laksana pengantin baru , dan jangan Engkau jadikan kuburku seperti kubangan yang penuh dengan percikan api sebagian dari api nerakaMu.
Ya Alloh Ya Arhamarrohimin ,kasih sayangilah aku ketika nanti dipadang mahsar yang tidak naungan satupun
kecuali naunganMu,dengan beban dosa yang berat aku pikul tentu aku menjadi manusia yang hina dan sengsara dihari matahari dedikatkan dengan permukaan bumi yang berkilau warna putih, ampunilah aku Ya Alloh.
Ya Alloh ya Tuhanku Engkau maha pemberi, telah banyak nikmat dan karunia yang telah engkau limpahkan
kepadaku dan kepadan keluargaku, alhamdulillah Ya Alloh aku masih punya Iman mudah mudahan atas pertolangan dan kasih sayangMu imanku dapat tumbuh dan berkembang laksana bebijian yang tumbuh di musim hujan yang natinya mebuahkan amal sholeh bukan amal salah dan sesat yang Engkau murkai ya Alloh.
Alhamdulillah , alhamdulilah , alhamdulillah ya Alloh Engkau telah memberi kesehatan kepadaku dari ujung kaki sampai keujung rambut masih dapat berfungsi dengan baik dan panca indra yang ada dapat mendatangkan ketakjuban, keindahan , kenyamanan , kemudahan akan karunia dan ciptaanMu. Untuk itu Ya Alloh berilah aku kekuatan untuk menjadi orang yang senantisa bersyukur dan jangan engkau jadikan aku dari golongan orang yang lupa diri dan kufur akan ni'mat dan karuniaMU.
Ya Alloh Ya Robbi,dalam waktu dekat ini aku aku ingin sekali membelikan Hp buat istriku sebagai sarana
dan jalinan komunikasi agar tetap terjaga ketika aku tidak dirumah, Ya Alloh aku juga ingin membelikan motor istriku agar bisa mandiri dalam memenuhi kebutuhanya , untuk belanja antar anak sekolah dan mengahdiri majlis ilmu yang Engkau ridloi. Ya Alloh aku juga ingin sekali membelikan seperangkat komputer
bagi anak anakku agar mereka terampil dan tidak gaptek di dunia yang iya hadapi sekarang ini.
Ya Alloh Ya Robbi, sepertinya tidak mungkin dengan kondisi gajiku sekarang ini aku bisa memenuhi keinginan tersebut kecuali bila Engkau bukakan pintu rizqi dari arah yang tidak aku ketahui, Ya Alloh seandainya permohonanku ini tidak Engkau penuhi lantaran banyaknya dosa dan salah yang aku berbuat maka ampunilah aku dan rahmatilah aku Ya Alloh.
Ya Ya Robbi Ya Tuhanku,bimbinglah anak dan istri ku di jalanMu jalan yang Engkau ridloi, bukalah pintu hidayahnya, pintu hatinya , pintu rizkinya,dan lembutkanlah hatinya,berikanlah kepada mereka akhlaq yang baik seperti akhlaq kekasihmu Nabi Muhammad SAW
Ya Alloh , berikanlah aku kekuatan dan bimbingan untuk menjadi panutan bagi anak anank dan istriku,
Ya Alloh berikanlah kesempatan kepadaku bersama istriku untuk bisa memenuhi undanganMu ditempat yang
mulia dibumi yang tidak bisa di injak oleh dajjal untuk pergi haji mensucikan dosa dan aib diri dan membasahi wajah ini dengan airmata penyesalan dan taubat.
Ya Alloh jadikanlah anak kami anak yang sholeh dan sholihah, anak yang bisa menjadikan qurrota 'ayun penyejuk hati penentram jiwa
Ya Alloh Ya Robbi hindarkanlah keluraga kami dari siksa api neraka, dan kumpulkanlah keluarga kami dengan
leluhur kami dan orang orang sholeh dan dengan anak keturunan kami ditempat yang Engkau ridloi, amin amin ya Robbal ' Alamain
trus, ini komentarku :
amin amin amin ya robbal alamin. menyentuh ya do'anya. hanya dapat dilakukan oleh orang yang bener-bener telah dikaruniai kepahaman akan perjalanan hidup kemudian setelah alam dunia ini berakhir.
tadi pagi, sempat juga aku kebagian session 'nikmatnya sedekah' di tpi. walaupun tinggal separuh penayangan, acara yang dimulai pukul setengah lima dan berakhir setengah enam itu, sempat juga aku catat beberapa point penting.
temanya, kebetulan, tercatat di buku tulisku, "sedekah sebagai pelipur lara". dan, memang benar kalau diresapi mah. dual pelipur lara malah. object dan subject. penerima maupun pemberi.
jikalau kamu sakit, santunilah orang yang sakit. cari dan ketemukan, fakir miskin di pinggiran kali yang rutin kena gusuran saben trantib operasi. atas dasar peremajaan kota, katanya.
bangun dari pembaringan, minta tolong saudara untuk mapah. kalau memang tidak dapat berjalan sendiri. berangkat dah ke tempat si sakit. saat disana engkau jumpai sesosok tubuh kurus, hitam, urat bertonjolan sebagai saksi kerasnya perjuangan mencari sesuap nasi. sementara didinding bilik tak jua kau dapati poster kaligrafi maupun sajdah. ia berbaring sendirian, tiada sanak tiada kadang. hanya teko sebuah dan gelas berisi air putih disisi tempat tidur reyot.
seketika itu, hatimu berucap, "ya allah, engkau maha besar. ternyata sakitku tidak ada apa-apanya dibanding orang ini! engkau masih karuniakan saudara yang dapat memapahku. engkau masih karuniai aku pekerjaan, dimana tempat bekerjaku menjamin pengobatan pekerja yang sakit"
begitu kau jenguk orang itu dibiliknya. lantas, kau berikan santunan pengobatan. bahkan engkau pastikan ia diobati sampai sembuh seperti sedia kala. betapa bahagia orang itu. boleh jadi, hidayah allah datang padanya sehingga beberpa pekan mendatang, dinding bilik itu telah ada sebuah cantolan kawat kecil tempat menggantungkan sajdah. pelipur lara. ia tentu bahagia. tersentuh. itulah object. si penerima sedekah.
sementara, rasa syukurmu spontan berucap. hatimu terenyuh. sadar. ternyata apa yang kau alami tidak seberapa dibanding karunia allah.
pesan dari cerita diatas ialah, kalaupun sakit, kalaupun sedang resah, kalaupun iman sedang surut. atau juga punya kesedihan lantaran keterbatasan materi. atau juga keterbatasan phisik. bangkit. segera berangkat. cari orang yang lebih susah. allah ada disana. dan, hanya dengan mengingat allah saja, hati menjadi tenang. bukankah ketenangan sejati yang engkau harapkan?
itu, sekelumit kisat di acara 'nikmat sedekah'-nya tpi tadi pagi (26/05). jangan lupa, esok, rabu (27/05) juga ada. jangan lupa berucap sambil tengadah tangan, "ya allah, aku rela engkau tuhanku. aku rela muhammad nabiku. aku rela islam agamaku. ya rabb, berikan aku tambahan ilmu (dan pemahaman) dari apa yang akan aku lihat melalui media tipi sebentar lagi. berikan aku limpahan berkah dari rejeki yang engkau beri. amin." ditambah lagi, sebuah buku tulis dan pulpen untuk mencatat garis besar pokok isi yang disampaikan.
ketika ada seorang penelpon bertanya, namun kurang begitu jelas suaranya. hanya saja suara tangisan terdengan terisak. ustadz yusuf mansur berujar, "demi allah, aku tidak mendengar suara si penelepon ini. mungkin saja pemirsa dirumah malah jelas". disambut sama ustadz albar selaku host, "mungkin, ia sedang dalam kedukaan sangat mendalam ustadz. yang terdengar hanya tangisan".
lalu dijawab lagi sama ustadz yusuf, "oke deh. apapun kesedihan. seberat apapun masalah. minta petunjuk hanya pada allah. lakukan setiap hari, ucapkan laa hawla wa laa quwwata illa billah sebanyak 300x. insya allah, mohon bener-bener sama allah. allah angkat kesusahannya. allah akan tambah rejekinya. insya allah ya."
dilanjutkan lagi, "kalau mau ngrubah nasib. lakukan puasa daud", kata ustadz muda itu. hanya saja, banyak dijumpai juga, puasa sunnah udah getol, hanya saja saat buka koq kayak menggeser jam makan doang. artinya gini, begitu bedug magrib buka, langsung tancep. apa aja diembat. apa aja dicaplok. "buka, cukup 2 butir kurma. sekarang nyari kurma dimana-mana ada. tak perlu ke arab. tambahin dengna teh manis seteguk dua teguk. cukup. udah gitu, makan nasinya nunggu jam sepuluh malam. biar paginya sarapan gak terlalu banyak. biaya yang buat makan selama puasa. sedekahin dah. sambil minta didoain sama yang disedekahin itu"
diakhir session, disempatkan pula menjawab sms pemirsa dirumah. "ustadz, ilmu apa yang jika di inject ke orang lain bisa berubah?". "ya, ilmu sedekah" jawab ustadz yusuf mansur.
yusuf mansur sendiri, ketika masih tinggal di bintaro dan dalam keterpurukan luar biasa. ia bilang pernah nyaris bunuh diri. bukan nyaris lagi. emang udah bener-bener melakukan bunuh diri. hanya saja gagal melulu. saat itu sudah frustrasi. "pusing kuadrat dah pokoknya, kepala iya. urusan juga iya", katanya. lantas iapun minum pil banyak banget, ternyat itu pil malah nyangkut ditenggorokan. kesedak. balik lagi. "aduh pil. ngapain juga pake nyangkut sih. kesedak kan jadinya. gagal dah bunuh diri", keluhnya.
istri gak tahu masalah ini. pernah juga lain kesempatan, sebelum kejadian nelen pil itu, ia bunuh diri pakai sarung. gantung diri. eh, ada aja halangannya. kain sarungnya kependekan. gak nyampai mau ngiket keatas.
itu sekelumit kejadian pribadi dari ustadz yusuf mansur. selama ini banyak yang melihat segi keberhasilannya aja. padahal liku-liku yang dilalui setiap orang pasti berat menurut versi masing-masing. setiap orang ada perjuangan sendiri-sendiri.
dengan adanya sedekah, yang miskin jadi kaya. kaya tambah barokah. yagn sakit bisa sembuh. yang sembuh terjaga kesehatannya. "yang udah beristri, nambah lagi", seloroh host - ustadz albar. disambut tawa para hadiri.
eh, pas gitu, ada lagi sms masuk "sedekah apa yang harus dilakukan buat istri yang suaminya minta izin mau nikah lagi?". jawabannya pun lewat jalan sedekah juga. hanya detilnya gimana, rada-rada lupa.
akhirnya, aku pun tergelitik untuk menuliskan doa dipenghujung tulisan ini, "ya allah, ajari aku untuk selalu konsisten dalam membaguskan ibadahku kepadamu. perkenankanlah aku dekat denganmu. dan, berkenanlah engkau aku dekati. ajari aku untuk selalu meneladani kekasihmu, manusia suci itu, muhammad nabi dan rasulmu. amin"
itu tadi, sedekah pengalaman dan sedekah "tontonan" yang baru pagi tadi aku saksikan. jangan lupa, esok pagi 'live' di tpi mulai jam setengah lima pagi. nonton acara 'nikmat sedekah', siapa takut? sambil pegang pulpen dan coret-coret di kertas, siapa takut?
Kamis, 28 Mei 2009
Senin, 25 Mei 2009
diambang sadar
sedikit share, kemarin (ahad/24) saya menghadiri tablig akbar dari sekumpulan manusia dibilangan lippo cikarang. masjidnya cukup besar, rapi, bersih, dan tertata rapi.
perkiraan saya mah, lebih 2000 orang. saya merasa sangat kecil bener diantara orang-orang itu. pembicara seorang syekh, entah dari mana dan siapa, saya sendiri gak begitu paham. dan, ini, saya 'terperosok alias nyasar' ketempat seperti ini gara-gara nganterin istri. "ibu merasa sangat butuh ilmu. bukan sembarang ilmu yang hanya semakin bikin hati was-was dan semakin gelisah. tapi, ilmu yang membuat hati tenteram. ibu pengin sering sering kumpul sama orang-orang yang tawadlu'"
mantab bener man. saya bersyukur banget denger penuturan istri. dan, begitu nyampai di sono tuch, isinya orang-orang yang memiliki pandangan 'berisi' hampir semua. kenal tidak kenal, ketemu saling tersenyum. ada perniagaan juga disana. dan, tak jarang dari speaker tanda peringatan 'barang siapa yang menjual dua harga dalam satu pembelian, maka, itu temasuk kategori riba', kata pesan itu. jadi, apa (barang) yang dijual disana dari mulai buku, baju, minuman, makanan, apapun dah pokoknya, harganya 'sangat wajar' semua.
jadi teringat aja kalau berkunjung ke ancol, "pop mie ayam bawang satu", pesenku. giliran tiba saat pembayaran, harganya telah berlipat lebih dari dua kali. sangat kontras sekali.
satu materi bener-bener mengena dan terus mengiang di dada ini, ketika si pembicara bilang, "dunia ini terlaknat segala isinya, kecuali tiga perkara", katanya.
"satu. dzikrullah, dalam artian luas. dua. yang serupa dengannya dalam rangka taat kepada allah. sebagaimana engkau berangkat pagi buta pulang hari udah gelap untuk mencari nafkah buat keluarga. ketiga. orang alim atau terpelajar yang mengajarkan ilmunya, menyerukan pada jahiliyah yang tidak kenal allah kepada menyembah allah", lanjut syekh itu.
itu baru satu catatan ringan yang sempat aku goreskan di kertas kecil. di dalam forum itu, nyaris semua peserta tablig membawa alat tulis. kitab alquran. dan satu lagi yang membuat aku tercengan ialah, tidak satupun orang merokok. bersih dari asap. tidak ada yang bicara tanpa guna. semua menyimak dengan khusyu'. hingga akhirnya acara berakhir dengan jamaah dhuhur. saya sangat keculitan duduk tasyahud saking berdesak-desak.
satu lagi membuat aku mengelus dada, 'bener-bener aku merasa terhina berada ditengah-tengah mereka, 75% yang hadir masih muda (dalam artian, jauh dibawah usiaku. banyak juga yang masih bujang. namun, lebih banyak lagi keluarga baru dengan baru satu atau dua anak bayi dalam gendongan ibunya. hal ini saya ketahui ketika bubar, karena tempat mereka (cowok dan cewek, atau ikhwan dan akhwat, atau abi dan ummahat, terpisah)
bab pembahasan sih, soal keutamaan mencari ilmu. boleh juga dah, saya tularkan disini sebuah hadits, "tidak ada orang yang melangkahkan kaki untuk menghadiri majelis ilmu di satu rumah dari rumah-rumah allah (masjid) kecuali diberikan sakinah hingga akhirnya, diberikan lezatnya ilmu. yaitu bagi mereka yang membaca kitabullah dan me-dirosahkannya.
sakinah disini dikaruniai ketenangan, ketentraman, kebahagiaan, kedamaian, diliputi rahmah allah, dikelilingi malaikat yang berjalan di muka bumi dengan mengembangkan sayapnya. dan yang tertinggi dari itu ialah, allah memuliakan mereka dengan menyebut nama mereka dihadapan para makhluknya.
tapi, ada syaratnya. nah, apa saja tuch syaratnya. temen-temen pasti jauh lebih paham ketimbang saya. tul kan?
mengingat catatan saya masih amburadul dan belum sempat saya rapikan, saya belum bisa menuliskan secara terperinci disini.
sebagai penutup dari tabligh itu, satu pesan yang didengunkan berulang kali dari si syekh tersebut ialah "ilmu dunia semakin bertambah, bertambah, bertambah sampai semakin terbuka rahasia allah yang dulu-dulunya belum tersingkap. contoh saja handphone. teknologi. banyak kemutakhiran yang semakin mudah dicerna oleh akal manusia. sedangkan ilmu 'dien' semakin berkurang, berkurang, berkurang, hingga akhirnya lenyap. itulah pertanda kiamat semakin dekat. hingga akhirnya, semakin nampak nyata segala kejahil-an. diminumnya khamr secara terang-terangan. dan dinampakkannya per-zina-an"
hmmm, kembali aku hanya bisa mengusap janggut yang tak seberapa panjang ini. sambil mata menerawang atas kelakuan dimasa lalu. atas kualitas ibadahku selama ini.
perkiraan saya mah, lebih 2000 orang. saya merasa sangat kecil bener diantara orang-orang itu. pembicara seorang syekh, entah dari mana dan siapa, saya sendiri gak begitu paham. dan, ini, saya 'terperosok alias nyasar' ketempat seperti ini gara-gara nganterin istri. "ibu merasa sangat butuh ilmu. bukan sembarang ilmu yang hanya semakin bikin hati was-was dan semakin gelisah. tapi, ilmu yang membuat hati tenteram. ibu pengin sering sering kumpul sama orang-orang yang tawadlu'"
mantab bener man. saya bersyukur banget denger penuturan istri. dan, begitu nyampai di sono tuch, isinya orang-orang yang memiliki pandangan 'berisi' hampir semua. kenal tidak kenal, ketemu saling tersenyum. ada perniagaan juga disana. dan, tak jarang dari speaker tanda peringatan 'barang siapa yang menjual dua harga dalam satu pembelian, maka, itu temasuk kategori riba', kata pesan itu. jadi, apa (barang) yang dijual disana dari mulai buku, baju, minuman, makanan, apapun dah pokoknya, harganya 'sangat wajar' semua.
jadi teringat aja kalau berkunjung ke ancol, "pop mie ayam bawang satu", pesenku. giliran tiba saat pembayaran, harganya telah berlipat lebih dari dua kali. sangat kontras sekali.
satu materi bener-bener mengena dan terus mengiang di dada ini, ketika si pembicara bilang, "dunia ini terlaknat segala isinya, kecuali tiga perkara", katanya.
"satu. dzikrullah, dalam artian luas. dua. yang serupa dengannya dalam rangka taat kepada allah. sebagaimana engkau berangkat pagi buta pulang hari udah gelap untuk mencari nafkah buat keluarga. ketiga. orang alim atau terpelajar yang mengajarkan ilmunya, menyerukan pada jahiliyah yang tidak kenal allah kepada menyembah allah", lanjut syekh itu.
itu baru satu catatan ringan yang sempat aku goreskan di kertas kecil. di dalam forum itu, nyaris semua peserta tablig membawa alat tulis. kitab alquran. dan satu lagi yang membuat aku tercengan ialah, tidak satupun orang merokok. bersih dari asap. tidak ada yang bicara tanpa guna. semua menyimak dengan khusyu'. hingga akhirnya acara berakhir dengan jamaah dhuhur. saya sangat keculitan duduk tasyahud saking berdesak-desak.
satu lagi membuat aku mengelus dada, 'bener-bener aku merasa terhina berada ditengah-tengah mereka, 75% yang hadir masih muda (dalam artian, jauh dibawah usiaku. banyak juga yang masih bujang. namun, lebih banyak lagi keluarga baru dengan baru satu atau dua anak bayi dalam gendongan ibunya. hal ini saya ketahui ketika bubar, karena tempat mereka (cowok dan cewek, atau ikhwan dan akhwat, atau abi dan ummahat, terpisah)
bab pembahasan sih, soal keutamaan mencari ilmu. boleh juga dah, saya tularkan disini sebuah hadits, "tidak ada orang yang melangkahkan kaki untuk menghadiri majelis ilmu di satu rumah dari rumah-rumah allah (masjid) kecuali diberikan sakinah hingga akhirnya, diberikan lezatnya ilmu. yaitu bagi mereka yang membaca kitabullah dan me-dirosahkannya.
sakinah disini dikaruniai ketenangan, ketentraman, kebahagiaan, kedamaian, diliputi rahmah allah, dikelilingi malaikat yang berjalan di muka bumi dengan mengembangkan sayapnya. dan yang tertinggi dari itu ialah, allah memuliakan mereka dengan menyebut nama mereka dihadapan para makhluknya.
tapi, ada syaratnya. nah, apa saja tuch syaratnya. temen-temen pasti jauh lebih paham ketimbang saya. tul kan?
mengingat catatan saya masih amburadul dan belum sempat saya rapikan, saya belum bisa menuliskan secara terperinci disini.
sebagai penutup dari tabligh itu, satu pesan yang didengunkan berulang kali dari si syekh tersebut ialah "ilmu dunia semakin bertambah, bertambah, bertambah sampai semakin terbuka rahasia allah yang dulu-dulunya belum tersingkap. contoh saja handphone. teknologi. banyak kemutakhiran yang semakin mudah dicerna oleh akal manusia. sedangkan ilmu 'dien' semakin berkurang, berkurang, berkurang, hingga akhirnya lenyap. itulah pertanda kiamat semakin dekat. hingga akhirnya, semakin nampak nyata segala kejahil-an. diminumnya khamr secara terang-terangan. dan dinampakkannya per-zina-an"
hmmm, kembali aku hanya bisa mengusap janggut yang tak seberapa panjang ini. sambil mata menerawang atas kelakuan dimasa lalu. atas kualitas ibadahku selama ini.
Label:
catatan (hati) seorang suami,
renungan
Rabu, 20 Mei 2009
Sapi Melenguh, Kamu Mengeluh, sama-sama 'Uh!'
Bekerja yang sesungguhnya adalah tidak bekerja. Nah loh, bingung kan?
Ketika engkau berdiam diri, tanpa ada aktifitas kau jalani, tak ada sesuatu menemani, itulah saat energimu terkuras habis. Engkau merasakan capek dan letih tak terkira. Urat terasa kaku, persendian ngilu. Kalori menumpuk yang seharusnya kau salurkan, bertarung antar diri di dalam tubuhmu. Cuma satu manusia butuhkan, ‘recycling’. Perputaran.
Itulah sebabnya, ketika manusia mendapati kelimpahan materi tanpa melalui perjuangan dan mengeluarkan energi, bukan nikmat ia dapat. Sebaliknya, bisa jadi laknat yang justru melekat.
Pernah dengar kabar tentang seorang pria baik-baik menjadi pembunuh dadakan? Justru, ketka ia barusaja menandatangani selembar deposit senilai 1,5 milyar di hadapan notaris. Warisan orang tua. “Kau hanya anak pungut, tak berhak mendapat bagian!”, tandasnya.
Illustrasi,
Perjalanan menuju dan pulang kantor memakan waktu satu jam setengah diatas kereta. Dan, aku cukup bersyukur bahwa buku adalah teman terbaikku. Begitu kaki melangkah pintu, jiwaku beralih ke buku. Tak kuhiraukan lagi segala kondisi –pengab, panas, gerah, berdesakan, berdiri dengan satu kaki, bergelayutan. Asal bisa nyari tempat strategis aja- sekitar. Terkadang kereta ditahan karena sebab tak pasti. Aku tetap tak peduli. Dan, ketika aku harus turun karena memang sudah sampai tujuan, aku merasakan keluar pintu sebagaimana aku keluar kamar tidur.
Beda lagi dengan orang lain disebelahku. Ia mengumpat sejadi-jadinya atas keterlambatan, kepenatan, nge-goblog-in masinis atau petugas kereta, dan masih banyak lagi. Pake teriak-teriak dan mengganggu orang disekitarnya pula. “Gila nih PJKA. Makin gak becus aja kerja!”, tangan terkepal, meninju dinding yang jelas terbuat dari lempengan baja. “Brang!”, semua mata pun menoleh.
Kepenatan dan keletihan bahkan capek luar biasa, justru akan diderita oleh orang kedua ketimbang saya. Padahal, aku justru beraktifitas, yaitu membaca. Sesekali menulis beberapa coretan setelah dapat giliran duduk, atau ada penumpang turun. Sementara orang itu, hanya diam. Diam tubuhnya. Diam tangannya. Tapi, gemuruh jiwanya.
Oke. Mungkin, tambahan illustrasi berikut ini lebih mengena lagi. Semog masih nyambung. Kalau gak, ya, sambung-sambungin aja.
Ketika kamu tidur. Beranjak pukul 9 misalnya, kamu hanya merasa beberapa saat saja walau bangun jam 7 pagi. Pulas. Kenikmatan selama tidur kamu rasakan sepenuhnya.
Apakah yang terjadi ketika kamu tidak mendapati kenikmatan (tidur) itu? Malam-malam terasa panjang, bentar-bentar melirik dinding. Jarum jam tiba-tiba berenti. Mati. Malahan, kau terbangun dan memastikan baterai apakah masih berfungsi.
Tersiksa jiwamu!
Dalam perjalanan tadi juga begitu. berapakali kau dengan sengit berucap serapah, hanya karena terlambat masuk kantor? padahal, satu saja diingat, nafas masih berkenan keluar masuk tenggorokan. Tentu akan lebih nyaman.
Dan, ingatlah pula ketika engkau bernafas! Begitu udara melewati lubang hidung dan keluar pada lubang yang sama disaat berikutnya. Maka, begitulah usiamu. Ia pergi tertiup angin dan tak pernah kembali lagi. Kecuali, dengan muatan nafas berikutnya. jadi, buat apa kau sia-siakan?
Hanya kesabaran yang dapat mengantarkan pada kemenangan. Tak ada ketergesaan kecuali hanya milik pecundang. Terburu-buru dan tanpa perhitunan adalah ciri kerja setan. Dan, kamu bukan setan kan? Jangan lagi sembrono, grasa-grusu, ceroboh, lantas protes dengan segala umpatan dan makian kotor terhadap apapun kondisi disekitarmu.
Nyaman tubuh, sedikit makan.
Nyaman jiwa, sedikit dosa.
Nyaman lisan, sedikit bicara.
Nyaman hati, sedikit keinginan.
Kata si cerdik pandai sich gitu. Dan, sayangnya aku setuju untuk beberapa kasus tertentu. Bagaimana untuk orator, sedikit bicara. Wah, bisa kabur semua audiens.
Sabar obatnya, syukur jalan keluarnya. Setuju?
Ketika engkau berdiam diri, tanpa ada aktifitas kau jalani, tak ada sesuatu menemani, itulah saat energimu terkuras habis. Engkau merasakan capek dan letih tak terkira. Urat terasa kaku, persendian ngilu. Kalori menumpuk yang seharusnya kau salurkan, bertarung antar diri di dalam tubuhmu. Cuma satu manusia butuhkan, ‘recycling’. Perputaran.
Itulah sebabnya, ketika manusia mendapati kelimpahan materi tanpa melalui perjuangan dan mengeluarkan energi, bukan nikmat ia dapat. Sebaliknya, bisa jadi laknat yang justru melekat.
Pernah dengar kabar tentang seorang pria baik-baik menjadi pembunuh dadakan? Justru, ketka ia barusaja menandatangani selembar deposit senilai 1,5 milyar di hadapan notaris. Warisan orang tua. “Kau hanya anak pungut, tak berhak mendapat bagian!”, tandasnya.
Illustrasi,
Perjalanan menuju dan pulang kantor memakan waktu satu jam setengah diatas kereta. Dan, aku cukup bersyukur bahwa buku adalah teman terbaikku. Begitu kaki melangkah pintu, jiwaku beralih ke buku. Tak kuhiraukan lagi segala kondisi –pengab, panas, gerah, berdesakan, berdiri dengan satu kaki, bergelayutan. Asal bisa nyari tempat strategis aja- sekitar. Terkadang kereta ditahan karena sebab tak pasti. Aku tetap tak peduli. Dan, ketika aku harus turun karena memang sudah sampai tujuan, aku merasakan keluar pintu sebagaimana aku keluar kamar tidur.
Beda lagi dengan orang lain disebelahku. Ia mengumpat sejadi-jadinya atas keterlambatan, kepenatan, nge-goblog-in masinis atau petugas kereta, dan masih banyak lagi. Pake teriak-teriak dan mengganggu orang disekitarnya pula. “Gila nih PJKA. Makin gak becus aja kerja!”, tangan terkepal, meninju dinding yang jelas terbuat dari lempengan baja. “Brang!”, semua mata pun menoleh.
Kepenatan dan keletihan bahkan capek luar biasa, justru akan diderita oleh orang kedua ketimbang saya. Padahal, aku justru beraktifitas, yaitu membaca. Sesekali menulis beberapa coretan setelah dapat giliran duduk, atau ada penumpang turun. Sementara orang itu, hanya diam. Diam tubuhnya. Diam tangannya. Tapi, gemuruh jiwanya.
Oke. Mungkin, tambahan illustrasi berikut ini lebih mengena lagi. Semog masih nyambung. Kalau gak, ya, sambung-sambungin aja.
Ketika kamu tidur. Beranjak pukul 9 misalnya, kamu hanya merasa beberapa saat saja walau bangun jam 7 pagi. Pulas. Kenikmatan selama tidur kamu rasakan sepenuhnya.
Apakah yang terjadi ketika kamu tidak mendapati kenikmatan (tidur) itu? Malam-malam terasa panjang, bentar-bentar melirik dinding. Jarum jam tiba-tiba berenti. Mati. Malahan, kau terbangun dan memastikan baterai apakah masih berfungsi.
Tersiksa jiwamu!
Dalam perjalanan tadi juga begitu. berapakali kau dengan sengit berucap serapah, hanya karena terlambat masuk kantor? padahal, satu saja diingat, nafas masih berkenan keluar masuk tenggorokan. Tentu akan lebih nyaman.
Dan, ingatlah pula ketika engkau bernafas! Begitu udara melewati lubang hidung dan keluar pada lubang yang sama disaat berikutnya. Maka, begitulah usiamu. Ia pergi tertiup angin dan tak pernah kembali lagi. Kecuali, dengan muatan nafas berikutnya. jadi, buat apa kau sia-siakan?
Hanya kesabaran yang dapat mengantarkan pada kemenangan. Tak ada ketergesaan kecuali hanya milik pecundang. Terburu-buru dan tanpa perhitunan adalah ciri kerja setan. Dan, kamu bukan setan kan? Jangan lagi sembrono, grasa-grusu, ceroboh, lantas protes dengan segala umpatan dan makian kotor terhadap apapun kondisi disekitarmu.
Nyaman tubuh, sedikit makan.
Nyaman jiwa, sedikit dosa.
Nyaman lisan, sedikit bicara.
Nyaman hati, sedikit keinginan.
Kata si cerdik pandai sich gitu. Dan, sayangnya aku setuju untuk beberapa kasus tertentu. Bagaimana untuk orator, sedikit bicara. Wah, bisa kabur semua audiens.
Sabar obatnya, syukur jalan keluarnya. Setuju?
Label:
Ndleming,
oyot gatel,
renungan
tragedi sore hari
“Cepet amat shalatnya”, tanyaku.
“Kan udah apal”, jawabnya.
Aku meletakkan sejenak buku ‘sirah nabawiyah’. Menatap serius sebentar. Menggantungkan pandangan pada sesosok wajah mungil itu. Ceria dan kekanak-kanakan masih memancar. Polos. Ya, namanya juga masih bocah. Masih anak-anak. Bukan cuma tubuhnya saja, jiwanya juga masih bocah, tentu saja.
Jadi ingat tulisan beberapa waktu lalu, “tumbuh badan sebatas usia, tumbuh jiwa sebatas usaha”. Sebagus bagus badan, ada titik klimaksnya. Kemudian menurun, ada yang drastic, ada pula lambat. Intinya, akan nyampai juga ke titik akhir. Mati. Hancur. Lenyap.
Beda dengan jiwa. Ia akan tumbuh terus, terus, dan terus. Tidak kembali ke-mula. Semakin dewasa, matang, akhirnya suci dan bersih kembali sebagaimana fitrahnya.
“Wahai para hamba-Ku, kalian semua tersesat kecuali yang Aku beri petunjuk, maka mintalah petunjuk kepada-Ku, niscaya Aku akan beri petunjuk” (hadits riwayat muslim).
Waduh. Pantas aja tuch bocah masih ‘express’ setiap shalat. Nilai dan existensi dari gerakan apalagi bacaan belum mengena. Dalam arti, “dia masih tersesat”, sehingga belum faham betul akan kebutuhan shalat. Dia pikir “pantesan aja, shalatnya lama. Belum hafal sich bacaannya. Takut salah. Pelan-pelan”. Padahal sich, ya gitu deh.
“Coba. Kalau emang udah hafal, kalau takhiat baca apa?” tanyaku kemudian.
“Tasyahud lah. Cemen pertanyaan gitu mah. Ngapain sih ayah nanya-nanya. Pasti mau usil deh”, celetuk tuch bocah.
“Trus, tasyahud tuch intinya apa?”
“Gak tahu. Pokoknya bacaannya udah apal, ya udah, baca. Shalat kan gitu” jawabnya polos.
Dan, itu jawaban dari seorang anak yang belum haid. Artinya, masih bocah. Bener-bener bocah. Belum kena dosa karena belum baligh.
Lantas, aku coba jelasin dengan bahasa paling sederhana. Maksudku sebenarnya, ya nasehatin diri sendiri. Biasanya, kalau ngomongin orang lain, ingatan akan lebih kuat. Prinsip satu ilmu “bagilah, maka akan semakin bertambah”.
Inti tasyahud, ya shalawat. Setelah, sebelumnya didahului dengan kepasrahan bahwa “Segala kehormatan, kemuliaan, kebahagiaan dan kebaikan adalah milik Allh”.
Sementara inti shalawat itu sendiri, “Allahumma shali ala Muhammad, wa ala ali Muhammad”. Kalau mau komplit (dan lebih afdol) terusin sampai ‘innaka hamidummajid’. Artinya, (penekanan disini) ‘dan keluarga Muhammad’.
“Emang, Muhammad punya keluarga?” tanyaku tiba-tiba.
“Ya punya lah. Ayah juga punya keluarga. Ibu. Anak. Tuch, si botak tuch keluarga namanya”, jawabnya mulai ketus. “Aneh. udah tahu pake nanya”
“Trus, keluarganya Muhammad tuch siapa aja. Jadi pengin kenal. Tinggalnya dimana sih?”
“Ya gak bisalah. Orang udah pada mati. Gimana mau kenalannya?”, makin sewot tuch. Biasanya emang gitu sih. kalau di tanya soal yang saben hari dikerjain. Dan dikiranya udah bener gitu. trus, ada yang sok ngetest. Bawaannya sewot aja. ‘ngapain loe nanya-nanya, udah tahu juga. Ngerti-an juga gue ketimbang eloe. Usil amat. Urusan sama orang lain’.
“Kalau gak kenal, gimana mau kirim shalawat segala. Ngapain juga kirim-kirim. Mending buat diri sendiri. Gak kenal ini.”, kataku. Trus, aku tegakkan punggung dan ambil nafas siap-siap deklamasi, “Allahumma shalli ala ana, wa ala ali ana. Duit koq dikasih-kasihin ke orang. Enak juga buat sendiri. Bisa buat beli es krim”
“Ih. Ayah nih aneh ya. Shalawat tuch hanya untuk nabi. Kalau ayah gak bisa dikasih shalawat. Emangnya ayah suci. Main-main dosa loh! Tanya sono sama ustadz! Yang ada tuch dikasih syafaat. Makanya, perlu ada shalawat biar dapet syafaat!”, waduh. Marah bener nih bocah. Klo diterusin, bisa ditimpuk raket nyamuk (lagi). Mana ada strumnya pula. Sakit sih enggak, kaget sama gatelnya itu. Ya udah dah. Mendingan stop aja. biarin bocah 10 tahun itu asyik dengan dunianya.
Tapi,
Aku jadi mikir juga. ‘wa ala ali Muhammad’, dan keluarga nabi Muhammad. Siapa aja ya istrinya. Siapa aja ya anak-anaknya. Ah, mesti baca sirah nabawiyah lagi nih kayaknya. Yuk!
“Kan udah apal”, jawabnya.
Aku meletakkan sejenak buku ‘sirah nabawiyah’. Menatap serius sebentar. Menggantungkan pandangan pada sesosok wajah mungil itu. Ceria dan kekanak-kanakan masih memancar. Polos. Ya, namanya juga masih bocah. Masih anak-anak. Bukan cuma tubuhnya saja, jiwanya juga masih bocah, tentu saja.
Jadi ingat tulisan beberapa waktu lalu, “tumbuh badan sebatas usia, tumbuh jiwa sebatas usaha”. Sebagus bagus badan, ada titik klimaksnya. Kemudian menurun, ada yang drastic, ada pula lambat. Intinya, akan nyampai juga ke titik akhir. Mati. Hancur. Lenyap.
Beda dengan jiwa. Ia akan tumbuh terus, terus, dan terus. Tidak kembali ke-mula. Semakin dewasa, matang, akhirnya suci dan bersih kembali sebagaimana fitrahnya.
“Wahai para hamba-Ku, kalian semua tersesat kecuali yang Aku beri petunjuk, maka mintalah petunjuk kepada-Ku, niscaya Aku akan beri petunjuk” (hadits riwayat muslim).
Waduh. Pantas aja tuch bocah masih ‘express’ setiap shalat. Nilai dan existensi dari gerakan apalagi bacaan belum mengena. Dalam arti, “dia masih tersesat”, sehingga belum faham betul akan kebutuhan shalat. Dia pikir “pantesan aja, shalatnya lama. Belum hafal sich bacaannya. Takut salah. Pelan-pelan”. Padahal sich, ya gitu deh.
“Coba. Kalau emang udah hafal, kalau takhiat baca apa?” tanyaku kemudian.
“Tasyahud lah. Cemen pertanyaan gitu mah. Ngapain sih ayah nanya-nanya. Pasti mau usil deh”, celetuk tuch bocah.
“Trus, tasyahud tuch intinya apa?”
“Gak tahu. Pokoknya bacaannya udah apal, ya udah, baca. Shalat kan gitu” jawabnya polos.
Dan, itu jawaban dari seorang anak yang belum haid. Artinya, masih bocah. Bener-bener bocah. Belum kena dosa karena belum baligh.
Lantas, aku coba jelasin dengan bahasa paling sederhana. Maksudku sebenarnya, ya nasehatin diri sendiri. Biasanya, kalau ngomongin orang lain, ingatan akan lebih kuat. Prinsip satu ilmu “bagilah, maka akan semakin bertambah”.
Inti tasyahud, ya shalawat. Setelah, sebelumnya didahului dengan kepasrahan bahwa “Segala kehormatan, kemuliaan, kebahagiaan dan kebaikan adalah milik Allh”.
Sementara inti shalawat itu sendiri, “Allahumma shali ala Muhammad, wa ala ali Muhammad”. Kalau mau komplit (dan lebih afdol) terusin sampai ‘innaka hamidummajid’. Artinya, (penekanan disini) ‘dan keluarga Muhammad’.
“Emang, Muhammad punya keluarga?” tanyaku tiba-tiba.
“Ya punya lah. Ayah juga punya keluarga. Ibu. Anak. Tuch, si botak tuch keluarga namanya”, jawabnya mulai ketus. “Aneh. udah tahu pake nanya”
“Trus, keluarganya Muhammad tuch siapa aja. Jadi pengin kenal. Tinggalnya dimana sih?”
“Ya gak bisalah. Orang udah pada mati. Gimana mau kenalannya?”, makin sewot tuch. Biasanya emang gitu sih. kalau di tanya soal yang saben hari dikerjain. Dan dikiranya udah bener gitu. trus, ada yang sok ngetest. Bawaannya sewot aja. ‘ngapain loe nanya-nanya, udah tahu juga. Ngerti-an juga gue ketimbang eloe. Usil amat. Urusan sama orang lain’.
“Kalau gak kenal, gimana mau kirim shalawat segala. Ngapain juga kirim-kirim. Mending buat diri sendiri. Gak kenal ini.”, kataku. Trus, aku tegakkan punggung dan ambil nafas siap-siap deklamasi, “Allahumma shalli ala ana, wa ala ali ana. Duit koq dikasih-kasihin ke orang. Enak juga buat sendiri. Bisa buat beli es krim”
“Ih. Ayah nih aneh ya. Shalawat tuch hanya untuk nabi. Kalau ayah gak bisa dikasih shalawat. Emangnya ayah suci. Main-main dosa loh! Tanya sono sama ustadz! Yang ada tuch dikasih syafaat. Makanya, perlu ada shalawat biar dapet syafaat!”, waduh. Marah bener nih bocah. Klo diterusin, bisa ditimpuk raket nyamuk (lagi). Mana ada strumnya pula. Sakit sih enggak, kaget sama gatelnya itu. Ya udah dah. Mendingan stop aja. biarin bocah 10 tahun itu asyik dengan dunianya.
Tapi,
Aku jadi mikir juga. ‘wa ala ali Muhammad’, dan keluarga nabi Muhammad. Siapa aja ya istrinya. Siapa aja ya anak-anaknya. Ah, mesti baca sirah nabawiyah lagi nih kayaknya. Yuk!
Label:
Ndleming,
oyot gatel
Selasa, 19 Mei 2009
jaga, antara "me" dan "di"
"percaya dah, nyimpen uang tuh banyak gak untungnya, dimanapun pasti abis. kalau gak abis juga, kitanya yang abis", kata ustadz lihan. pengusaha yang merintis dari menjadi ustadz dan makelar motor itu.
lantas, buat apa nimbun banyak banyak uang di rumah. di bank. sekedar ngendon doang, tak diputer (sedekahin kek, kasih modal ke orang yang jago usaha kek, atau apa kek) biar lebih berkah?
toch, kalau aku mati duluan (gak ngarep gitu juga sih, penginnya mah sampai tua dan terus sehat, penuh barokah, gitu. amin.)dan kebetulan istri masih muda. walau janda, banyak juga yang ngincar. lantas, aku yang capek-capek ngumpulin sampai dibela-belain prihatin segala, toch suami kedua juga yang bakal nikmatin.
atau juga sebaliknya. bikin illustrasi sendiri dah.
lain halnya, kalau apa yang kita punya tuch di sedekahin. buat anak yatim. buat kaum dhuafa. buat jalan usaha yang mengundang berkah. tabungan akherat dah. malah justru 'apa yang dibelanjakan dengan jalan seperti itu', yang menjaga si pelakunya.
bukan sebaliknya, aku yang bekerja, aku yang nyimpen duit, aku yang bagus-bagusin rumah, aku yang... ah, pokoknya gitu deh. lantas, aku juga yang ngejagain. nge-resah-in kalau kenapa kenapa.
padahal, lebih enak menjaga atau dijaga? selamat merenung dech....
lantas, buat apa nimbun banyak banyak uang di rumah. di bank. sekedar ngendon doang, tak diputer (sedekahin kek, kasih modal ke orang yang jago usaha kek, atau apa kek) biar lebih berkah?
toch, kalau aku mati duluan (gak ngarep gitu juga sih, penginnya mah sampai tua dan terus sehat, penuh barokah, gitu. amin.)dan kebetulan istri masih muda. walau janda, banyak juga yang ngincar. lantas, aku yang capek-capek ngumpulin sampai dibela-belain prihatin segala, toch suami kedua juga yang bakal nikmatin.
atau juga sebaliknya. bikin illustrasi sendiri dah.
lain halnya, kalau apa yang kita punya tuch di sedekahin. buat anak yatim. buat kaum dhuafa. buat jalan usaha yang mengundang berkah. tabungan akherat dah. malah justru 'apa yang dibelanjakan dengan jalan seperti itu', yang menjaga si pelakunya.
bukan sebaliknya, aku yang bekerja, aku yang nyimpen duit, aku yang bagus-bagusin rumah, aku yang... ah, pokoknya gitu deh. lantas, aku juga yang ngejagain. nge-resah-in kalau kenapa kenapa.
padahal, lebih enak menjaga atau dijaga? selamat merenung dech....
Label:
oyot gatel,
renungan
Jumat, 15 Mei 2009
setan semua!
Percaya gak, kalau gossip dan entertainment tuch isinya setan semua? Terlebih yang Cuma nayangin kawin cerai para artis, saling gugat soal hak asuh anak. Buntut-buntutnya saling berkoar kejelekan lawan.
“Di udah gak nurut suami koq. Mau diapain lagi. Kalau malam keluar, nurutin karir. Dua tahun ini saya udah gak ngesek sama dia. Gimana mau dikatakin melayani suami dengan baik seperti di omongin sama temen-temen wartawan”, kata selebritis beberapa waktu lalu. Ketika itu, rumah tangganya sedang goyah dan menjadi santapan media gossip.
Ia mengungkapkan terang-terangan, blak-blakan dan tayang secara ‘on air’ di kotak bening yang terus-terusan bunyi itu. Kotak itulah yang melahirkan fitnah, melahirkan kuntilanak, melahirkan aborsi. Media tv, kalau kau mau tahu.
Belum lagi bantahan-bantahan dari pihak wanita yang mau di cerai. Wuih, rahasia pribadi yang seharusnya ‘private and confidential’ keluar semua. Apalagi dibumbuin sama wartawan. Tambah panas!
Sekarang, perhatikan narasi dibawah ini.
Ahmad ibn Hanbal meriwatkan: Asma binti Yazid menuturkan: “Suatu ketika aku duduk di samping Rasulullah saw dengan sejumlah kaum laki-laki dan beberapa orang wanita.
Rasulullah bersadba, “Adakah diantara kalian seorang laki-laki yang pernah menceritakan rahasia dirinya dengan istrinya kepada orang lain. Dan adakah diantara kalian seorang istri yang menceritakan rahasia dirinya dengan suaminya kepada orang lain?”, para sahabat terdiam semuanya.
Lantas, aku pun berkata, “Demi Allah, wahai Rasulullah, sesungguhnya wanita-wanita pasti pernah melakukannya dan kaum laki-laki juga melakukannya.”
Maka beliau bersabda, “Janganlah kalian lakukan itu lagi. Sesungguhnya yang demikian itu adalah seperti setan laki-laki yang bertemu setan wanita di jalanan kemudian menggaulinya, dan orang-orang melihatnya.”
Tuch kan, setan semua!
Selayaknya para wanita menjaga apa yang terjadi antara mereka dan suaminya. Sebab, hal itu merupakan rahasia yang wajib disimpan, terlebih lagi bila hal itu berkenaan dengan hubungan seksual.
Trus, gimana dong?
“Di udah gak nurut suami koq. Mau diapain lagi. Kalau malam keluar, nurutin karir. Dua tahun ini saya udah gak ngesek sama dia. Gimana mau dikatakin melayani suami dengan baik seperti di omongin sama temen-temen wartawan”, kata selebritis beberapa waktu lalu. Ketika itu, rumah tangganya sedang goyah dan menjadi santapan media gossip.
Ia mengungkapkan terang-terangan, blak-blakan dan tayang secara ‘on air’ di kotak bening yang terus-terusan bunyi itu. Kotak itulah yang melahirkan fitnah, melahirkan kuntilanak, melahirkan aborsi. Media tv, kalau kau mau tahu.
Belum lagi bantahan-bantahan dari pihak wanita yang mau di cerai. Wuih, rahasia pribadi yang seharusnya ‘private and confidential’ keluar semua. Apalagi dibumbuin sama wartawan. Tambah panas!
Sekarang, perhatikan narasi dibawah ini.
Ahmad ibn Hanbal meriwatkan: Asma binti Yazid menuturkan: “Suatu ketika aku duduk di samping Rasulullah saw dengan sejumlah kaum laki-laki dan beberapa orang wanita.
Rasulullah bersadba, “Adakah diantara kalian seorang laki-laki yang pernah menceritakan rahasia dirinya dengan istrinya kepada orang lain. Dan adakah diantara kalian seorang istri yang menceritakan rahasia dirinya dengan suaminya kepada orang lain?”, para sahabat terdiam semuanya.
Lantas, aku pun berkata, “Demi Allah, wahai Rasulullah, sesungguhnya wanita-wanita pasti pernah melakukannya dan kaum laki-laki juga melakukannya.”
Maka beliau bersabda, “Janganlah kalian lakukan itu lagi. Sesungguhnya yang demikian itu adalah seperti setan laki-laki yang bertemu setan wanita di jalanan kemudian menggaulinya, dan orang-orang melihatnya.”
Tuch kan, setan semua!
Selayaknya para wanita menjaga apa yang terjadi antara mereka dan suaminya. Sebab, hal itu merupakan rahasia yang wajib disimpan, terlebih lagi bila hal itu berkenaan dengan hubungan seksual.
Trus, gimana dong?
Label:
oyot gatel,
renungan
Kamis, 14 Mei 2009
just prolog:
Yazid ar-Raasyi pernah berkata pada dirinya sendiri, “Yazid, Yazid. Celaka, kamu! Setelah kamu nanti tiada, siapa yang mau shalat atas namamu? Siapa yang sudi berpuasa atas namamu? Dan siapa yang bersedia memintakan keridhaan Allah atas namamu?”
“Ketika kami sedang duduk bersama Rasulullah, tiba-tiba muncul seorang sahabat Anshar. Setelah mengucap salam kepada beliau, ia bertanya, ‘Rasulullah, siapakah orang mukmin yang terbaik itu?’ Beliau menjawab, ‘Yang paling baik akhlaknya’. Ia bertanya, ‘Siapakah orang mukmin yang paling pintar?’ Beliau menajwab, ‘yang paling sering ingat kematian dan yang punya persiapan terbaik untuk menyambut apa yang terjadi sesudahnya. Mereka itulah orang yang paling pintar.’” (ath-Thabrani dan Ibnu Majah).
----------$$$----------
prolog diatas, merupakan cuplikan hadits. just pengantar aja. tulisan sebenarnya sich yang dibawah ini. meski comot sana sini dan gak jelas sumbernya (tepatnya lupa), yang penting tulis aja.
“Bu Tyas nitip buku yang kayak punya ibu”, kataku membuka pembicaraan. Sore itu jam setengah delapan aku udah nyampe rumah. Alhamdulillah, perjalanan lancar. Sholat isya’nya di dekat rumah pula. Begitu mau masuk komplek (perumahan), pas adzan. Mampir dulu dech, absen sama Allah, baru masuk rumah. Biar adhem dulu, gitu.
Sambil menyeruput teh manis anget buatan istri, trus, ada ubi juga, lumayan, buat buka. Kalau langsung makan, malah suka neg perut. secara, seharian kosong masak mau langsung dipenuhin.
“Ya udah. Sekarang aja kita beli. Yuk, ibu anterin”, sahutnya.
Udah kayak pacaran aja, cuma ke depan komplek, mesti berdua-dua. Hanya saja, si botak gak mau ketinggalan, biasa, buntut-buntutnya mau minta es krim tuch. Dan, benar saja. Begitu aku masuk ke toko buku, ia udah nyelonong duluan ke indomaret.
Saat aku mau bayar buku, di rak pojok deket pintu adalah beberapa majalah. Mataku terfokus pada tulisan pada salah satu sampul, “yang dikejar tidak dapat, yang dikandung berceceran”. Wah, boleh juga nih majalah, kataku.
Bukan majalan besar loh ya, hanya sebatas ukuran buku. Jadi praktis, bisa dibawa kemana-mana. Udah gitu, isinya hanya 32 halaman. Harganya juga murah koq. 3.500. ya udah, aku ambil aja.
“Udah, pulang! jangan ambil lagi. Niatnya beliin buku Bu Tyas, tar malah dapetnya macem-macem” kata istri.
Oh, pantes aja pengin nemenin. Critanya ngawal toch, takut klo kebanyakan buku kebeli. Tapi, emang sih, mataku udah ijo aja klo masuk ke toko buku.
Baru ini aku ngrasain ketemu majalah kecil, mungil, tapi penuh gizi. Sarat renungan. Menggelitik nurani untuk kembali fitri. Menghisab diri. koreksi diri. Tak tahan deh rasanya! rasanya gimana gitu.
Gaya bertutur (tulisan) nya itu loh, manusia banget dah pokoknya. Eit, jangan protes dulu! maksud ku gini. Fitrah manusia, itu kan sebenarnya hanif. Baik. Makanya, semua manusia tuch sebenarnya kangen dan rindu sama kebaikan.
Tapi, akhir-akhir ini ‘hakekat’ manusia itu sudah mati. Sedikit sekali yang tidak membuat kerusakan. Yang doyan ngrusak, apa dong namanya? Manusia?
Salah satu renungan yang uenteng banget nih ya, simak;
Kita,
Kita bukannya pandai untuk cakap orang lain bodoh, tapi, ktia adalah pandai jikalau kita sebarkan ilmu itu kepada orang lain.
Kita bukanlah kaya untuk cakap orang lain miskin, tapi, kita adalah kaya jikalau kita manfaatkankekayaan kita kepada jalan kebaikan.
Kita bukanlah handsome utnuk cakap orang lain muka tak handsome (perhatikan pemilihan kata ‘tak handsome’ ketimbang jelek. Jitu kan?), tapi, kita adalah handsome jikalau kita tak meninggi diri.
Kita bukanlah cantik untuk cakap orang lain tak cantik, tapi, kita adalah cantik jikalau kita senantiasa memuji orang lain.
Kita bukanlah baik untuk cakap orang lain jahat, tapi, kita adalah baik jikalau kita mengajak orang lain kea rah kebaikan dan menjadi contoh dan tauladan orang lain.
Kita bukanlah alim untuk cakap orang lain lupa sembahyang, tapi, kita adalah alim jikalau kita memperuntukkan sebagian rutin seharian kita kepada-Nya dengan seikhlas hati.
Kita bukanlah kuat untuk cakap orang lain lemah, tapi, kita adalah kuat jika kita senantiasa membantu orang yang lemah.
Kita bukanlah berani untuk cakap orang lain penakut, tapi, kita adalah berani jikalau kita sanggup menggadaikan nyawa untuk mempertahankan agama.
Kita bukannya manusia yang hebat untuk mencaci dan mengutuk ciptaan-Nya. Dia Maha Mengetahui. Setiap apa yang diciptakannya mempunyai hikmah yang tersendiri.
Keunikan dari majalah ini, banyak banget hadits-hadits pilihan yang sering diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Hanya saja, kemasannya itu tidak memuakkan dan bikin muntah. Tahu kan yang ku maksud?
Coba baca kumpulah hadits shohih Bukhari-Muslim. Gak bakalan betah dah pegang sejam aja. Paling-paling buka, kalau pas nyari lisensi doang.
Tapi, dalam majalah ini, super ringan dan enak dibaca. Bahasanya menyeluruh. Dalam artian, tidak gaul, tapi, juga tidak formil. Dalam arti, dakik-dakik sebagai mana kiyai memberi petuah. Dibaca sekali saja, langsung tertanam dalam hati. artikelnya juga pendek-pendek. Padet gitu. mutiara kata juga ada. Dan, dikemas dalam tutur kata yang ‘nggak neko-neko’. Pokoknya pas gitu deh.
Atau juga, bagi yang pernah terjebak berbuat dholim atau maksiat, baca kalimat ini. “Sesungguhnya maksiat yang mencetuskan ketundukan dan membuat hati hancur lebih baik daripada ketaatan yang mengakibatkan ketakjuban diri sendiri dan ketakaburan.”
Siapa yang tidak berbesar hati walaupun pernah berbuat salah begitu membaca kalimat itu? Atau, bagaimana rasanya jika, orang udah salah, kehilangan, malah di salah-salahin. Di hujat pula. Eh, lah koq masih di goblok-goblokin. “Dasar, bahlul ente. Udah tahu gitu, masih dilakuin juga!”, apa gak gondok? Atau juga frustasi?
sebuah cerita terkenal tentang seorang pembunuh segera melintas. perampok sadis ini, yang suka ngambil harta sekaligus nyawa pemiliknya, ketika itu sudah membunuh 99 korban. saat hati resah, dan pengin tobat, ketemu kiai muda baru turun gunung. "he, anak muda. aku pengin tobat, apakah tuhan mengampuniku?".
"oh, dosamu sudah terlalu banyak. tuhan tidak mangampunimu!"
"ya sudah saja, sekalian kubunuh kau biar genap 100", kata perampok itu. trus, kelanjutannya udah pada tahu kan? akhirnya tuch perampok tobat juga dan diterima tuhan setelah mendapat arahan dari kiai sepuh penuh sahaja. bahwasanya, ia akan diampuni kalau tobat sungguh-sungguh, dan meninggalkan komunitas lama dan mencari tempat yang baru yang penuh dengan hunian orang shalih.
Salah satu testimoni seorang pembaca, “MA adalah majalah yang bagus untuk umat muslim, alangkah indah setiap kata-kata yang tersaji didalamnya, dari MA aku baru tahu betapa berartinya hidup ini, dan skan sia-sia apabila aku menjalankan hidup ini tanpa Allah, alhamdulillah aku telah mengenal MA, terus berjuang… wassalam.” (Novalia, Jakarta Timur)
Majalah apakah itu? (sebenarnya aku lebih suka menyebutnya buku. Karena bentuknya emang seukuran buku tulis). Itulah, Mutiara Amaly alias MA. Penyejuk jiwa penyubur iman.
Saat aku menulis tentang “umur manusia didunia Cuma 3 menit” beberapa waktu lalu, juga terinspirasi dari majalah MA ini.
Yang jelas, majalah ini bagus, dan aku suka baca renungan-renungannya. Aku juga ingin, temen-temen ikut baca juga.
So….
Kalau diantara rekan ada yang tertarik, cari aja di sekitar anda. semoga nemuin dech. atau juga, saya akan kirimkan ke alamat anda, mau?
Yazid ar-Raasyi pernah berkata pada dirinya sendiri, “Yazid, Yazid. Celaka, kamu! Setelah kamu nanti tiada, siapa yang mau shalat atas namamu? Siapa yang sudi berpuasa atas namamu? Dan siapa yang bersedia memintakan keridhaan Allah atas namamu?”
“Ketika kami sedang duduk bersama Rasulullah, tiba-tiba muncul seorang sahabat Anshar. Setelah mengucap salam kepada beliau, ia bertanya, ‘Rasulullah, siapakah orang mukmin yang terbaik itu?’ Beliau menjawab, ‘Yang paling baik akhlaknya’. Ia bertanya, ‘Siapakah orang mukmin yang paling pintar?’ Beliau menajwab, ‘yang paling sering ingat kematian dan yang punya persiapan terbaik untuk menyambut apa yang terjadi sesudahnya. Mereka itulah orang yang paling pintar.’” (ath-Thabrani dan Ibnu Majah).
----------$$$----------
prolog diatas, merupakan cuplikan hadits. just pengantar aja. tulisan sebenarnya sich yang dibawah ini. meski comot sana sini dan gak jelas sumbernya (tepatnya lupa), yang penting tulis aja.
“Bu Tyas nitip buku yang kayak punya ibu”, kataku membuka pembicaraan. Sore itu jam setengah delapan aku udah nyampe rumah. Alhamdulillah, perjalanan lancar. Sholat isya’nya di dekat rumah pula. Begitu mau masuk komplek (perumahan), pas adzan. Mampir dulu dech, absen sama Allah, baru masuk rumah. Biar adhem dulu, gitu.
Sambil menyeruput teh manis anget buatan istri, trus, ada ubi juga, lumayan, buat buka. Kalau langsung makan, malah suka neg perut. secara, seharian kosong masak mau langsung dipenuhin.
“Ya udah. Sekarang aja kita beli. Yuk, ibu anterin”, sahutnya.
Udah kayak pacaran aja, cuma ke depan komplek, mesti berdua-dua. Hanya saja, si botak gak mau ketinggalan, biasa, buntut-buntutnya mau minta es krim tuch. Dan, benar saja. Begitu aku masuk ke toko buku, ia udah nyelonong duluan ke indomaret.
Saat aku mau bayar buku, di rak pojok deket pintu adalah beberapa majalah. Mataku terfokus pada tulisan pada salah satu sampul, “yang dikejar tidak dapat, yang dikandung berceceran”. Wah, boleh juga nih majalah, kataku.
Bukan majalan besar loh ya, hanya sebatas ukuran buku. Jadi praktis, bisa dibawa kemana-mana. Udah gitu, isinya hanya 32 halaman. Harganya juga murah koq. 3.500. ya udah, aku ambil aja.
“Udah, pulang! jangan ambil lagi. Niatnya beliin buku Bu Tyas, tar malah dapetnya macem-macem” kata istri.
Oh, pantes aja pengin nemenin. Critanya ngawal toch, takut klo kebanyakan buku kebeli. Tapi, emang sih, mataku udah ijo aja klo masuk ke toko buku.
Baru ini aku ngrasain ketemu majalah kecil, mungil, tapi penuh gizi. Sarat renungan. Menggelitik nurani untuk kembali fitri. Menghisab diri. koreksi diri. Tak tahan deh rasanya! rasanya gimana gitu.
Gaya bertutur (tulisan) nya itu loh, manusia banget dah pokoknya. Eit, jangan protes dulu! maksud ku gini. Fitrah manusia, itu kan sebenarnya hanif. Baik. Makanya, semua manusia tuch sebenarnya kangen dan rindu sama kebaikan.
Tapi, akhir-akhir ini ‘hakekat’ manusia itu sudah mati. Sedikit sekali yang tidak membuat kerusakan. Yang doyan ngrusak, apa dong namanya? Manusia?
Salah satu renungan yang uenteng banget nih ya, simak;
Kita,
Kita bukannya pandai untuk cakap orang lain bodoh, tapi, ktia adalah pandai jikalau kita sebarkan ilmu itu kepada orang lain.
Kita bukanlah kaya untuk cakap orang lain miskin, tapi, kita adalah kaya jikalau kita manfaatkankekayaan kita kepada jalan kebaikan.
Kita bukanlah handsome utnuk cakap orang lain muka tak handsome (perhatikan pemilihan kata ‘tak handsome’ ketimbang jelek. Jitu kan?), tapi, kita adalah handsome jikalau kita tak meninggi diri.
Kita bukanlah cantik untuk cakap orang lain tak cantik, tapi, kita adalah cantik jikalau kita senantiasa memuji orang lain.
Kita bukanlah baik untuk cakap orang lain jahat, tapi, kita adalah baik jikalau kita mengajak orang lain kea rah kebaikan dan menjadi contoh dan tauladan orang lain.
Kita bukanlah alim untuk cakap orang lain lupa sembahyang, tapi, kita adalah alim jikalau kita memperuntukkan sebagian rutin seharian kita kepada-Nya dengan seikhlas hati.
Kita bukanlah kuat untuk cakap orang lain lemah, tapi, kita adalah kuat jika kita senantiasa membantu orang yang lemah.
Kita bukanlah berani untuk cakap orang lain penakut, tapi, kita adalah berani jikalau kita sanggup menggadaikan nyawa untuk mempertahankan agama.
Kita bukannya manusia yang hebat untuk mencaci dan mengutuk ciptaan-Nya. Dia Maha Mengetahui. Setiap apa yang diciptakannya mempunyai hikmah yang tersendiri.
Keunikan dari majalah ini, banyak banget hadits-hadits pilihan yang sering diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Hanya saja, kemasannya itu tidak memuakkan dan bikin muntah. Tahu kan yang ku maksud?
Coba baca kumpulah hadits shohih Bukhari-Muslim. Gak bakalan betah dah pegang sejam aja. Paling-paling buka, kalau pas nyari lisensi doang.
Tapi, dalam majalah ini, super ringan dan enak dibaca. Bahasanya menyeluruh. Dalam artian, tidak gaul, tapi, juga tidak formil. Dalam arti, dakik-dakik sebagai mana kiyai memberi petuah. Dibaca sekali saja, langsung tertanam dalam hati. artikelnya juga pendek-pendek. Padet gitu. mutiara kata juga ada. Dan, dikemas dalam tutur kata yang ‘nggak neko-neko’. Pokoknya pas gitu deh.
Atau juga, bagi yang pernah terjebak berbuat dholim atau maksiat, baca kalimat ini. “Sesungguhnya maksiat yang mencetuskan ketundukan dan membuat hati hancur lebih baik daripada ketaatan yang mengakibatkan ketakjuban diri sendiri dan ketakaburan.”
Siapa yang tidak berbesar hati walaupun pernah berbuat salah begitu membaca kalimat itu? Atau, bagaimana rasanya jika, orang udah salah, kehilangan, malah di salah-salahin. Di hujat pula. Eh, lah koq masih di goblok-goblokin. “Dasar, bahlul ente. Udah tahu gitu, masih dilakuin juga!”, apa gak gondok? Atau juga frustasi?
sebuah cerita terkenal tentang seorang pembunuh segera melintas. perampok sadis ini, yang suka ngambil harta sekaligus nyawa pemiliknya, ketika itu sudah membunuh 99 korban. saat hati resah, dan pengin tobat, ketemu kiai muda baru turun gunung. "he, anak muda. aku pengin tobat, apakah tuhan mengampuniku?".
"oh, dosamu sudah terlalu banyak. tuhan tidak mangampunimu!"
"ya sudah saja, sekalian kubunuh kau biar genap 100", kata perampok itu. trus, kelanjutannya udah pada tahu kan? akhirnya tuch perampok tobat juga dan diterima tuhan setelah mendapat arahan dari kiai sepuh penuh sahaja. bahwasanya, ia akan diampuni kalau tobat sungguh-sungguh, dan meninggalkan komunitas lama dan mencari tempat yang baru yang penuh dengan hunian orang shalih.
Salah satu testimoni seorang pembaca, “MA adalah majalah yang bagus untuk umat muslim, alangkah indah setiap kata-kata yang tersaji didalamnya, dari MA aku baru tahu betapa berartinya hidup ini, dan skan sia-sia apabila aku menjalankan hidup ini tanpa Allah, alhamdulillah aku telah mengenal MA, terus berjuang… wassalam.” (Novalia, Jakarta Timur)
Majalah apakah itu? (sebenarnya aku lebih suka menyebutnya buku. Karena bentuknya emang seukuran buku tulis). Itulah, Mutiara Amaly alias MA. Penyejuk jiwa penyubur iman.
Saat aku menulis tentang “umur manusia didunia Cuma 3 menit” beberapa waktu lalu, juga terinspirasi dari majalah MA ini.
Yang jelas, majalah ini bagus, dan aku suka baca renungan-renungannya. Aku juga ingin, temen-temen ikut baca juga.
So….
Kalau diantara rekan ada yang tertarik, cari aja di sekitar anda. semoga nemuin dech. atau juga, saya akan kirimkan ke alamat anda, mau?
Tuhan Tidak Ada, kata si atheis
Seorang konsumen datang ke tempat tukang cukur untuk memotong rambut dan merapikan brewoknya.
Si tukang cukur mulai memotong rambut konsumennya dan mulailah terlibat pembicaraan yang mulai menghangat.
Mereka membicarakan banyak hal dan berbagai variasi topik pembicaraan, dan sesaat topik pembicaraan beralih tentang Tuhan.
Si tukang cukur bilang,'Saya tidak percaya Tuhan itu ada'.
'Kenapa kamu berkata begitu ???' timpal si konsumen.
'Begini, coba Anda perhatikan di depan sana , di jalanan.... untuk menyadari bahwa Tuhan itu tidak ada'.
'Katakan kepadaku, jika Tuhan itu ada, Adakah yang sakit??, Adakah anak terlantar??' .
'Jika Tuhan ada, tidak akan ada sakit ataupun kesusahan'.
'Saya tidak dapat membayangkan Tuhan Yang Maha Penyayang akan membiarkan ini semua terjadi'.
Si konsumen diam untuk berpikir sejenak, tapi tidak merespon karena dia tidak ingin memulai adu pendapat.
Si tukang cukur menyelesaikan pekerjaannya dan si konsumen pergi meninggalkan tempat si tukang cukur.
Beberapa saat setelah dia meninggalkan ruangan itu dia melihat ada orang di jalan dengan rambut yang panjang,
berombak kasar mlungker-mlungker- istilah jawa-nya', kotor dan brewok yang tidak dicukur. Orang itu terlihat kotor dan tidak terawat.
Si konsumen balik ke tempat tukang cukur dan berkata,
'Kamu tahu, sebenarnya TIDAK ADA TUKANG CUKUR.'
Si tukang cukur tidak terima,' Kamu kok bisa bilang begitu ??'.
'Saya disini dan saya tukang cukur. Dan barusan saya mencukurmu!'
'Tidak!' elak si konsumen.
'Tukang cukur itu tidak ada, sebab jika ada, tidak akan ada orang dengan rambut panjang yang kotor dan brewokan seperti orang yang di luar sana ', si konsumen menambahkan.
'Ah tidak, tapi tukang cukur tetap ada!', sanggah si tukang cukur.
' Apa yang kamu lihat itu adalah salah mereka sendiri, kenapa mereka tidak datang ke saya', jawab si tukang cukur membela diri.
'Cocok!'-kata si konsumen menyetujui.
'Itulah point utama-nya!... Sama dengan Tuhan,
TUHAN ITU JUGA ADA !, Tapi apa yang terjadi...
orang-orang TIDAK MAU DATANG kepada-NYA, dan TIDAK MAU MENCARI-NYA.
Oleh karena itu banyak yang sakit dan tertimpa kesusahan di dunia ini.'
Si tukang cukur terbengong !!!!
Si tukang cukur mulai memotong rambut konsumennya dan mulailah terlibat pembicaraan yang mulai menghangat.
Mereka membicarakan banyak hal dan berbagai variasi topik pembicaraan, dan sesaat topik pembicaraan beralih tentang Tuhan.
Si tukang cukur bilang,'Saya tidak percaya Tuhan itu ada'.
'Kenapa kamu berkata begitu ???' timpal si konsumen.
'Begini, coba Anda perhatikan di depan sana , di jalanan.... untuk menyadari bahwa Tuhan itu tidak ada'.
'Katakan kepadaku, jika Tuhan itu ada, Adakah yang sakit??, Adakah anak terlantar??' .
'Jika Tuhan ada, tidak akan ada sakit ataupun kesusahan'.
'Saya tidak dapat membayangkan Tuhan Yang Maha Penyayang akan membiarkan ini semua terjadi'.
Si konsumen diam untuk berpikir sejenak, tapi tidak merespon karena dia tidak ingin memulai adu pendapat.
Si tukang cukur menyelesaikan pekerjaannya dan si konsumen pergi meninggalkan tempat si tukang cukur.
Beberapa saat setelah dia meninggalkan ruangan itu dia melihat ada orang di jalan dengan rambut yang panjang,
berombak kasar mlungker-mlungker- istilah jawa-nya', kotor dan brewok yang tidak dicukur. Orang itu terlihat kotor dan tidak terawat.
Si konsumen balik ke tempat tukang cukur dan berkata,
'Kamu tahu, sebenarnya TIDAK ADA TUKANG CUKUR.'
Si tukang cukur tidak terima,' Kamu kok bisa bilang begitu ??'.
'Saya disini dan saya tukang cukur. Dan barusan saya mencukurmu!'
'Tidak!' elak si konsumen.
'Tukang cukur itu tidak ada, sebab jika ada, tidak akan ada orang dengan rambut panjang yang kotor dan brewokan seperti orang yang di luar sana ', si konsumen menambahkan.
'Ah tidak, tapi tukang cukur tetap ada!', sanggah si tukang cukur.
' Apa yang kamu lihat itu adalah salah mereka sendiri, kenapa mereka tidak datang ke saya', jawab si tukang cukur membela diri.
'Cocok!'-kata si konsumen menyetujui.
'Itulah point utama-nya!... Sama dengan Tuhan,
TUHAN ITU JUGA ADA !, Tapi apa yang terjadi...
orang-orang TIDAK MAU DATANG kepada-NYA, dan TIDAK MAU MENCARI-NYA.
Oleh karena itu banyak yang sakit dan tertimpa kesusahan di dunia ini.'
Si tukang cukur terbengong !!!!
Rabu, 13 Mei 2009
paling sayang
"hanya allah yang paling sayang sama kita. dan, allah jua yang paling tahu bagaimana cara dia menyayangi kita. bahkan kita tidak tahu bagaimana cara kita menyayangi diri sendiri. bohong kalau kebahagiaan ada di uang mah. tergantung di kekayaan." gitu kata ustadz yusuf mansur. tadi pagi (rabu, 13 mei) kebetulan, aku sempatin nonton acara "nikmatnya sedekah" di tpi.
coba, renungkan ilustrasi berikut;
ketika seorang sopir sedang kecapean habis muter-muter nganterin bosnya ketemu klien dan duduk tepekur di belakang kemudi lapangan parkir sebuah gedung. tiba-tiba, pintu kaca diketuk, "mang, numpang tidur ya, pusing gue!", kata orang itu.
ternyata si boss yang baru sejam lalu masuk gedung perkantoran sendiri, miliknya. padahal, tuch sopir baru aja ngelamunin, "duh, enak bener kerja dikantor gituan. ruangan bersih, udaranya dingin, minum tinggal minta, makan tinggal telpon, apa-apa udah disediain. ngilangin penat tinggal ngelonjor di sofa empuk. gak harus kayak gue gini, panas, capek, kadang masih diomelin juga".
kalau memang sumber kebahagiaan dan 'katanya' ungkapan cinta kasih sayang berdasar harta kekayaan. masa iya, si boss dibela-belain 'numpang ngadem' di sebelah supir.
sebagaimana kahlil gibran pernah tulis, "kebahagiaan dan kekayaan sejati ada di dalam diri kita. bukan (karena sesuatu) yang di luar diri kita". kalau boleh aku tambahin disini, "untuk itu marilah kita sebanyak mungkin mengenali kebahagiaan dan kekayaan itu, tak perlu blingsatan mencari kesana kemari. bukannya ketemu, malah semakin jauh."
atau juga, kalau setuju denganku, pernah juga aku bincang-bincang sama istri. intinya begini, "kalau seorang manusia sudah kesulitan mencari apa yang kurang pada dirinya, maka ia sudah tidak mempunyai alasan lagi untuk merasa tidak kaya. lain halnya, kalau ia hanya mampu melihat bahkan mencari-cari segala kekurangan dan apa yang tidak dia miliki. sampai hidup berakhir pun tidak ia akan tersungkur dalam nista dan miskin berkepanjangan". walau sebenarnya, omonganku ini terinspirasi dari buku 'menjadi wanita paling bahagia'nya aidh alqarni, boleh dong bergaya dikit didepan kekasih hati.
"trus, gimana dong sama orang-orang yang tiap hari berkendara mobil mewah, tiap malem makan di restauran bahkan tidur di hotel mana tinggal pilih. mau jalan-jalan kemana aja tinggal pilih", kata istri mencoba menimpali. "meraka ketawa-ketawa terus tiap hari. senyum senyum melulu kalau ketemu orang", lanjutnya.
itu hanya simbol saja. biar dikira bahagia. biar dikira kaya. karena pada dasarnya tuch orang masih mencari-cari apa sebenarnya yagn bisa membuatnya berhenti. hanya saja, semakin ia kejar, justru makin jauh. semakin ia cari, semakin tak pernah ketemu. karena, sekali lagi, yang ia dapat cuma simbol aja. sedangkan hakekat tentang bahagia dan kaya itu sendiri justeru semakin tak tersentuh.
kalau mengaku beragama, berarti percaya bahwa kebahagiaan dan kekayaan itu sudah di rangkum dalam buku panduan. kitab. tinggal baca dan mengenali. dan, buku itu setiap saat ada didepan mata. sayang saja, tidak pernah mampu membuka, apalagi membaca. boro-boro menyelami. apakah buku itu? ya alquran tentu saja.
dua hal yang membuat manusia tenang dan damai ialah : sabar dan syukur. jadi, apa dan bagaimana tuch (membuktikan) cinta?
coba, renungkan ilustrasi berikut;
ketika seorang sopir sedang kecapean habis muter-muter nganterin bosnya ketemu klien dan duduk tepekur di belakang kemudi lapangan parkir sebuah gedung. tiba-tiba, pintu kaca diketuk, "mang, numpang tidur ya, pusing gue!", kata orang itu.
ternyata si boss yang baru sejam lalu masuk gedung perkantoran sendiri, miliknya. padahal, tuch sopir baru aja ngelamunin, "duh, enak bener kerja dikantor gituan. ruangan bersih, udaranya dingin, minum tinggal minta, makan tinggal telpon, apa-apa udah disediain. ngilangin penat tinggal ngelonjor di sofa empuk. gak harus kayak gue gini, panas, capek, kadang masih diomelin juga".
kalau memang sumber kebahagiaan dan 'katanya' ungkapan cinta kasih sayang berdasar harta kekayaan. masa iya, si boss dibela-belain 'numpang ngadem' di sebelah supir.
sebagaimana kahlil gibran pernah tulis, "kebahagiaan dan kekayaan sejati ada di dalam diri kita. bukan (karena sesuatu) yang di luar diri kita". kalau boleh aku tambahin disini, "untuk itu marilah kita sebanyak mungkin mengenali kebahagiaan dan kekayaan itu, tak perlu blingsatan mencari kesana kemari. bukannya ketemu, malah semakin jauh."
atau juga, kalau setuju denganku, pernah juga aku bincang-bincang sama istri. intinya begini, "kalau seorang manusia sudah kesulitan mencari apa yang kurang pada dirinya, maka ia sudah tidak mempunyai alasan lagi untuk merasa tidak kaya. lain halnya, kalau ia hanya mampu melihat bahkan mencari-cari segala kekurangan dan apa yang tidak dia miliki. sampai hidup berakhir pun tidak ia akan tersungkur dalam nista dan miskin berkepanjangan". walau sebenarnya, omonganku ini terinspirasi dari buku 'menjadi wanita paling bahagia'nya aidh alqarni, boleh dong bergaya dikit didepan kekasih hati.
"trus, gimana dong sama orang-orang yang tiap hari berkendara mobil mewah, tiap malem makan di restauran bahkan tidur di hotel mana tinggal pilih. mau jalan-jalan kemana aja tinggal pilih", kata istri mencoba menimpali. "meraka ketawa-ketawa terus tiap hari. senyum senyum melulu kalau ketemu orang", lanjutnya.
itu hanya simbol saja. biar dikira bahagia. biar dikira kaya. karena pada dasarnya tuch orang masih mencari-cari apa sebenarnya yagn bisa membuatnya berhenti. hanya saja, semakin ia kejar, justru makin jauh. semakin ia cari, semakin tak pernah ketemu. karena, sekali lagi, yang ia dapat cuma simbol aja. sedangkan hakekat tentang bahagia dan kaya itu sendiri justeru semakin tak tersentuh.
kalau mengaku beragama, berarti percaya bahwa kebahagiaan dan kekayaan itu sudah di rangkum dalam buku panduan. kitab. tinggal baca dan mengenali. dan, buku itu setiap saat ada didepan mata. sayang saja, tidak pernah mampu membuka, apalagi membaca. boro-boro menyelami. apakah buku itu? ya alquran tentu saja.
dua hal yang membuat manusia tenang dan damai ialah : sabar dan syukur. jadi, apa dan bagaimana tuch (membuktikan) cinta?
Label:
catatan (hati) seorang suami
Senin, 11 Mei 2009
hai manusia, ingat umur! (2)
Lanjut ya, masih jam setengah satu. Sebenarnya udah laper sich, hanya saja, biar berentinya di persimpangan. Kapan-kapan kalau mau ngelanjutin lagi gampang. Gak perlu terlalu banyak muter ke belakang. Untuk ambil ancang-ancang.
Karena ini soal ibadah sebagai bekal di kehidupan berikutnya nanti, yang aku kupas juga seputar ibadah ini aja. “Tidak di ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah”. Tentu ingat dan hapal betul dengan ayat ini.
Iya, kalau bekerja ku dihitung ibadah. Lebih sering mengeluh ketimbang bersyukur. Apalagi kalau January kenaikan tak sebanding dengan angan-angan. Belum lagi kenaikan grade yang masih simpang siur dan tak kunjung datang. Masih ditambah kerjaan yang ditambah melulu. Ah… entah berapa prosen kadar ibadah di dalam aku bekerja ini.
Iya, kalau tidur ku dihitung ibadah. Kadang juga lupa berdoa apa enggak. Bangun tidur apalagi. Boro boro sebut “alhamdulillahiladzi ahyana ba’dama amatana wa ilaihinnusur”. Lebih sering langsung kabur ke kamar mandi kebelet kencing.
Iya, kalau puasaku di bulan ramadhan tidak Cuma mendapat predikat lapar dan dahaga. Secara, kebanyakan hanya menggeser jam makan doang. Mentang-mentang seharian (siang) puasa, begitu dalam magrib sampai menjelang subuh, puas-puasin makannya. Apa aja di caplok.
Iya, kalau makan dan minum ku dihitung ibadah. Masih suka makan enak dan kekenyangan. Minum juice beraneka rasa. Makan siang saat jam istirahat kantor masih milih-milih restoran. Menimbun beras dan sembako yang seharusnya boleh jadi hak fakir miskin. Kulkas kosong barang sehari aja, udah ngomel melulu.
Iya, kalau…. Ah, terlalu banyak ternyata yang meragukan untuk diperhitungkan sebagai IBADAH!
Okelah, untuk shalat yang Cuma 10 menit itu tadi (ini pun masih dengan asumsi, karena, tidak jarang shalat seperti ayam patuk beras. Capluk. Udah. Tak ada kesan sama sekali. Bahkan belum tasyahud aja udah lupa, tadi baca surat apa, boro-boro arti dan maknanya). Plus perhitungan biar gampang aku buletin menjadi 1 jam sehari semalam.
Karena ini ngelanjutin, biar gampang ngikutin, baca lagi dari depan aja. Intinya adalah, dalam kurun 65 tahun jatah usiaku, hanya 50 tahun diperhitungkan sebagai “pencari bekal” dengan beribadah. Sehingga ketemu angka 18.250 jam.
Atau, kalau dijadikan hari 18.250 jam / 24 jam(dalam 1 hari) = 760,4167 hari. Dibikin tahun, menjadi 760,4167 hari / 365 hari (dalam 1 tahun). Ketemu angka 2,08 tahun. Gila! Bener-bener gila. Selama itu hanya 2,08 tahun berbanding dengan angka 50 tahun! Hanya 4% saja. Astaghfirullahaladzim…
Jujur ya, ketika sampai (menulis ini) disini, aku menangkupkan kedua tangan ke mukaku. Hanya 4% saja, dan aku mengharap syurga. Bagaimana jadinya kalau aku meminjamkan uang 100 juta, lantas si peminjam baru mengembalikan 4 juta saja. Padahal dari uang modal itu, ia sudah menjadi kaya raya dan mempunyai pabrik dimana-mana. Apakah lantas, aku masih menganggap pantas tuch orang mendapatkan “tanah surgaku” seandainya aku punya? Udah gitu, giliran ditagih, “mana pinjamanku?”, dengan enteng ia menjawab, “apaan? Mana ada pinjaman itu. Yang ada ini adalah jerih payahku sendiri. Tak ada campur tanganmu?”
Itu baru perumpamaan uang 100 juta. Bagaimana dengan modal dua tangan, dua telinga, dua lubang hidung, ginjal, hati, jantung, sepasang kaki, otak yang tiap hari dipakai untuk ngibul dan ngebodohin orang lain ini? Masih ditambah lagi, rezeki, pekerjaan, kesehatan, anak yang lucu-lucu, teman yang saling ngerti. Ah…. Kembali aku hanya dapat beristighfar. Astaghfirullahaladzim!
Pahala sholat yang hanya 4% alias 2 tahun berbanding dengan perbuatan dosa dan lalai selama 48 tahun. Itupun, iya kalau sholat ku diterima. Ya Allah ya Rabb, sungguh, hanya Engkau yang maha agung, jauh lebih agung dari segala apa yang diperbuat seluruh manusia segala zaman. Sungguh, betapa hina dan terpuruknya aku jika Engkau ya Aziz, ya Rahman, ya Rahim, tidak mengampuni dosa-dosaku.
Dalam percakapanku, banyak dusta. Dalam pergaulanku banyak ngibulin orang. Dalam perbuatanku banyak mengecewakan sesama. Dan, mungkin juga, dalam tulisanku ini pun nyinggung pembaca juga. Waduh, 2 banding 48 gitu loh!
Allahu Akbar! Sungguh, hanya Allah yang Maha Besar. Ternyata udah limabelas menit aku menulis. Dan, perut ini sudah minta diisi. Semoga lain kali relungan ini masih berlanjut. Atau…. Ada rekan yang mau nerusin? Silakan.
Karena ini soal ibadah sebagai bekal di kehidupan berikutnya nanti, yang aku kupas juga seputar ibadah ini aja. “Tidak di ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah”. Tentu ingat dan hapal betul dengan ayat ini.
Iya, kalau bekerja ku dihitung ibadah. Lebih sering mengeluh ketimbang bersyukur. Apalagi kalau January kenaikan tak sebanding dengan angan-angan. Belum lagi kenaikan grade yang masih simpang siur dan tak kunjung datang. Masih ditambah kerjaan yang ditambah melulu. Ah… entah berapa prosen kadar ibadah di dalam aku bekerja ini.
Iya, kalau tidur ku dihitung ibadah. Kadang juga lupa berdoa apa enggak. Bangun tidur apalagi. Boro boro sebut “alhamdulillahiladzi ahyana ba’dama amatana wa ilaihinnusur”. Lebih sering langsung kabur ke kamar mandi kebelet kencing.
Iya, kalau puasaku di bulan ramadhan tidak Cuma mendapat predikat lapar dan dahaga. Secara, kebanyakan hanya menggeser jam makan doang. Mentang-mentang seharian (siang) puasa, begitu dalam magrib sampai menjelang subuh, puas-puasin makannya. Apa aja di caplok.
Iya, kalau makan dan minum ku dihitung ibadah. Masih suka makan enak dan kekenyangan. Minum juice beraneka rasa. Makan siang saat jam istirahat kantor masih milih-milih restoran. Menimbun beras dan sembako yang seharusnya boleh jadi hak fakir miskin. Kulkas kosong barang sehari aja, udah ngomel melulu.
Iya, kalau…. Ah, terlalu banyak ternyata yang meragukan untuk diperhitungkan sebagai IBADAH!
Okelah, untuk shalat yang Cuma 10 menit itu tadi (ini pun masih dengan asumsi, karena, tidak jarang shalat seperti ayam patuk beras. Capluk. Udah. Tak ada kesan sama sekali. Bahkan belum tasyahud aja udah lupa, tadi baca surat apa, boro-boro arti dan maknanya). Plus perhitungan biar gampang aku buletin menjadi 1 jam sehari semalam.
Karena ini ngelanjutin, biar gampang ngikutin, baca lagi dari depan aja. Intinya adalah, dalam kurun 65 tahun jatah usiaku, hanya 50 tahun diperhitungkan sebagai “pencari bekal” dengan beribadah. Sehingga ketemu angka 18.250 jam.
Atau, kalau dijadikan hari 18.250 jam / 24 jam(dalam 1 hari) = 760,4167 hari. Dibikin tahun, menjadi 760,4167 hari / 365 hari (dalam 1 tahun). Ketemu angka 2,08 tahun. Gila! Bener-bener gila. Selama itu hanya 2,08 tahun berbanding dengan angka 50 tahun! Hanya 4% saja. Astaghfirullahaladzim…
Jujur ya, ketika sampai (menulis ini) disini, aku menangkupkan kedua tangan ke mukaku. Hanya 4% saja, dan aku mengharap syurga. Bagaimana jadinya kalau aku meminjamkan uang 100 juta, lantas si peminjam baru mengembalikan 4 juta saja. Padahal dari uang modal itu, ia sudah menjadi kaya raya dan mempunyai pabrik dimana-mana. Apakah lantas, aku masih menganggap pantas tuch orang mendapatkan “tanah surgaku” seandainya aku punya? Udah gitu, giliran ditagih, “mana pinjamanku?”, dengan enteng ia menjawab, “apaan? Mana ada pinjaman itu. Yang ada ini adalah jerih payahku sendiri. Tak ada campur tanganmu?”
Itu baru perumpamaan uang 100 juta. Bagaimana dengan modal dua tangan, dua telinga, dua lubang hidung, ginjal, hati, jantung, sepasang kaki, otak yang tiap hari dipakai untuk ngibul dan ngebodohin orang lain ini? Masih ditambah lagi, rezeki, pekerjaan, kesehatan, anak yang lucu-lucu, teman yang saling ngerti. Ah…. Kembali aku hanya dapat beristighfar. Astaghfirullahaladzim!
Pahala sholat yang hanya 4% alias 2 tahun berbanding dengan perbuatan dosa dan lalai selama 48 tahun. Itupun, iya kalau sholat ku diterima. Ya Allah ya Rabb, sungguh, hanya Engkau yang maha agung, jauh lebih agung dari segala apa yang diperbuat seluruh manusia segala zaman. Sungguh, betapa hina dan terpuruknya aku jika Engkau ya Aziz, ya Rahman, ya Rahim, tidak mengampuni dosa-dosaku.
Dalam percakapanku, banyak dusta. Dalam pergaulanku banyak ngibulin orang. Dalam perbuatanku banyak mengecewakan sesama. Dan, mungkin juga, dalam tulisanku ini pun nyinggung pembaca juga. Waduh, 2 banding 48 gitu loh!
Allahu Akbar! Sungguh, hanya Allah yang Maha Besar. Ternyata udah limabelas menit aku menulis. Dan, perut ini sudah minta diisi. Semoga lain kali relungan ini masih berlanjut. Atau…. Ada rekan yang mau nerusin? Silakan.
hai manusia, ingat umur! (1)
“… sesungguhnya sehari di sisi Rabb adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.” (Qs. Al Hajj : 47)
akhir-akhir ini, aku suka memikirkan dan akhirnya menganalisa, sebenarnya berapa lama sih aku hidup di dunia ini? Tenyata, fantastic, very-very fantastic, hanya 3,9 menit! Atau, sekira 3 menit 54 detik saja!
Hal ini, aku teringat oleh petuah para pinisepuh di dusunku dulu. bahwa, “urip ana ndonya iku mung mampir ngombe”. Hidup didunia itu hanya numpang minum, perjalanan sesungguhnya masih jauh dan penuh gelombang terjal harus dilalui. Sayangnya, bekal yang harus dipersiapkan tergantung dari berapa banyak amalan yang dilakukan selama sesingkat itu.
Mau tahu analisaku? Begini.
Dari ayat diatas, berarti kalau boleh aku artikan secara isi kepalaku (untuk anda silahkan setuju atau juga punya argument lain) berarti 1000 tahun menurut perhitungan di dunia ini yang kita kenal dengan satuan waktu-nya manusia, berarti hanya 1 hari disisi Allah.
Aku lantas teringat pula sebuah hadits, “Umur umatku berkisar antara 60-70 tahun. Sangat sedikit di antara mereka yang umurnya melampaui kisaran itu.” Kata Rasulullah sebagaimana diriwayatkan At-Tirmidzi). Ambil rata-rata, bahwa jatah umurku habis di usia 65 (ini sekedar simulasi. Insya Allah, semoga Allah memanjangkan umurku, memberikan keberkahan dengan cahaya iman dan taqwa. Amin) berarti, coba cermati hitungan berikut ini.
65 tahun x 365 hari (abaikan tahun kabisat) x 24 (jam/hari). Ketemu angka 569.400 jam.
Sementara, versi (disisi ) Allah, satu hari itu identik dengan 1000 tahun. Berarti, satu harinya menurut Allah (berdasar ayat diatas) adalah 1000 x 365 x 24 = 8.760.000 jam.
Bagaimana untuk mendapatkan konversi pembanding?
65 tahun jatah umur saya berarti dibagi dengan 1.000 tahun. (perbandingan dibalik) hasilnya, 569.400 jam / 8.760.000 jam. Ketemu angka 0,065.
Biar gak pusing, jadikan ke menit, menjadi 0,065 x 60 = 3,9 menit. Ketemu kan?
Hanya segitu singkat! Pantes aja, orang tua sering bilang “hidup di dunia Cuma numpang minum!. 3,9 menit menurut perhitungan Allah (ini hanya logika asal-asalan berdasar versi satuan waktu yang dikenal oleh manusia. Kalau bicara dengan manusia memang harus pakai bahasa manusia juga.) atau 3 menit 54 detik.
Astaghfirullahaladzim, naudzubilahi min dzalik! Sesingkat itu, dan aku masih (suka) beranggapan bahwa hidup di dunia ini begitu lama dan mengasyikkan. Ya Rabb, ampuni hambamu yang masih suka lalai ini ya Allah.
Bayangkan, apa yang anda dapat lakukan dalam kurun 3 menit sekian detik tersebut, kecuali hanya dan hanya untuk mempersiapkan perjalanan panjang di fase berikutnya. So, masih pantaskah petentang-petenteng dengan apa yang didapatkan sampai saat ini?
Atau, masih pantaskah mengeluh atas sekelumit (anggapan) kekurangan akan fasilitas semu dari apa yang disodorkan dunia?
Ya Allah, ya Ghoffar. Ampuni hamba kalau masih lalai mempersiapkan bekal (amal) sebanyak-banyaknya. Tunjuki hamba pada jalan-Mu yang lurus. Tetapkan hatiku senantiasa dalam jalan taat kepadamu ya Allah.
Lantas, aku berpikir kembali kebelakang. Sekedar mau ngitung aja, sebanyak apa amalanku.
Rata-rata usia dihisap (akhir baliq) adalah selepas 15 tahun. Karena aku cowok. Untuk cewek biasanya 12 tahun, tergantung juga kapan pertama haid. Berarti 65-15=50 tahun. Berarti, kalau saja, dalam sehari, sholatku bener (yang Cuma 10 menit itu!) x 5 berarti ketemu angka 50 menit. Atau biar gampang ngitungnya, buletin aja menjadi 1 jam sehari semalam.
Dalam kurun waktu 50 tahun itu, waktuku terpakai untuk ibadah (taruhlah, shalatku aku anggap bener dan diperhitungkan sebagai ibadah) berapa lama?
Nanti dech, bersambugn ke tulisan berikutnya……
akhir-akhir ini, aku suka memikirkan dan akhirnya menganalisa, sebenarnya berapa lama sih aku hidup di dunia ini? Tenyata, fantastic, very-very fantastic, hanya 3,9 menit! Atau, sekira 3 menit 54 detik saja!
Hal ini, aku teringat oleh petuah para pinisepuh di dusunku dulu. bahwa, “urip ana ndonya iku mung mampir ngombe”. Hidup didunia itu hanya numpang minum, perjalanan sesungguhnya masih jauh dan penuh gelombang terjal harus dilalui. Sayangnya, bekal yang harus dipersiapkan tergantung dari berapa banyak amalan yang dilakukan selama sesingkat itu.
Mau tahu analisaku? Begini.
Dari ayat diatas, berarti kalau boleh aku artikan secara isi kepalaku (untuk anda silahkan setuju atau juga punya argument lain) berarti 1000 tahun menurut perhitungan di dunia ini yang kita kenal dengan satuan waktu-nya manusia, berarti hanya 1 hari disisi Allah.
Aku lantas teringat pula sebuah hadits, “Umur umatku berkisar antara 60-70 tahun. Sangat sedikit di antara mereka yang umurnya melampaui kisaran itu.” Kata Rasulullah sebagaimana diriwayatkan At-Tirmidzi). Ambil rata-rata, bahwa jatah umurku habis di usia 65 (ini sekedar simulasi. Insya Allah, semoga Allah memanjangkan umurku, memberikan keberkahan dengan cahaya iman dan taqwa. Amin) berarti, coba cermati hitungan berikut ini.
65 tahun x 365 hari (abaikan tahun kabisat) x 24 (jam/hari). Ketemu angka 569.400 jam.
Sementara, versi (disisi ) Allah, satu hari itu identik dengan 1000 tahun. Berarti, satu harinya menurut Allah (berdasar ayat diatas) adalah 1000 x 365 x 24 = 8.760.000 jam.
Bagaimana untuk mendapatkan konversi pembanding?
65 tahun jatah umur saya berarti dibagi dengan 1.000 tahun. (perbandingan dibalik) hasilnya, 569.400 jam / 8.760.000 jam. Ketemu angka 0,065.
Biar gak pusing, jadikan ke menit, menjadi 0,065 x 60 = 3,9 menit. Ketemu kan?
Hanya segitu singkat! Pantes aja, orang tua sering bilang “hidup di dunia Cuma numpang minum!. 3,9 menit menurut perhitungan Allah (ini hanya logika asal-asalan berdasar versi satuan waktu yang dikenal oleh manusia. Kalau bicara dengan manusia memang harus pakai bahasa manusia juga.) atau 3 menit 54 detik.
Astaghfirullahaladzim, naudzubilahi min dzalik! Sesingkat itu, dan aku masih (suka) beranggapan bahwa hidup di dunia ini begitu lama dan mengasyikkan. Ya Rabb, ampuni hambamu yang masih suka lalai ini ya Allah.
Bayangkan, apa yang anda dapat lakukan dalam kurun 3 menit sekian detik tersebut, kecuali hanya dan hanya untuk mempersiapkan perjalanan panjang di fase berikutnya. So, masih pantaskah petentang-petenteng dengan apa yang didapatkan sampai saat ini?
Atau, masih pantaskah mengeluh atas sekelumit (anggapan) kekurangan akan fasilitas semu dari apa yang disodorkan dunia?
Ya Allah, ya Ghoffar. Ampuni hamba kalau masih lalai mempersiapkan bekal (amal) sebanyak-banyaknya. Tunjuki hamba pada jalan-Mu yang lurus. Tetapkan hatiku senantiasa dalam jalan taat kepadamu ya Allah.
Lantas, aku berpikir kembali kebelakang. Sekedar mau ngitung aja, sebanyak apa amalanku.
Rata-rata usia dihisap (akhir baliq) adalah selepas 15 tahun. Karena aku cowok. Untuk cewek biasanya 12 tahun, tergantung juga kapan pertama haid. Berarti 65-15=50 tahun. Berarti, kalau saja, dalam sehari, sholatku bener (yang Cuma 10 menit itu!) x 5 berarti ketemu angka 50 menit. Atau biar gampang ngitungnya, buletin aja menjadi 1 jam sehari semalam.
Dalam kurun waktu 50 tahun itu, waktuku terpakai untuk ibadah (taruhlah, shalatku aku anggap bener dan diperhitungkan sebagai ibadah) berapa lama?
Nanti dech, bersambugn ke tulisan berikutnya……
Jumat, 01 Mei 2009
virus itu bernama -komentar-
selepas berkunjung ke blog "santri gundhul" dimana, dalam tautan blog ini aku kasih merek "ngawula gusti", aku kembali lagi untuk me-check apakah ada tulisan baru. ternyata belum. lantas, aku check lagi scroll down, ternyata komentarku bersambut. luar biasa, dampak dari 'meninggalkan jejak setiap blogwalking, ternyata menularkan spirit tersendiri untuk terus menulis.
makanya, buat sesama bloger, jangan hanya berkunjung ke 'rumah' yang udah dikenal aja. sempatkan untuk blog walking dan, berusahalah untuk menorehkan jejak disana. walhasil, pahala akan nyiprat kepada anda, karena turut membangkitkan semangat menulis. he..he.he... gitu kan?
komentarku begini,
kalau mau ndeketin kucing, ya bicaralah pakai bahasa kucing. macan, manuk, pitik, enthoq. apamaneh? bebek, wedhus, semana uga.
jadi, kalau mau ‘ndeketin’ (maksudnya biar kenal gitu) sama badan, jiwa, maupun ruh. ya, ‘mesti alias kudu bin harus’ ngerti dulu bahasa masing-masing.
bahasa badan, kalau gak mau mules, ya jangan makan sambel secobek-cobeknya. kalau gak mau mriang, jangan makan nasi ditelen segarpunya.
bahasa jiwa, gitu juga. bahasa ruh, apalagi.
mana ada orang bisa ndeketin ayam tapi, bahasa disuarakan pus..pus…pus… meong…meong…. lah, pitik’e malah kabur. he..he.he… manteb kang postingane.
secara, aku juga doyan sama blognya 'ngawula gusti' ini, terus berkarya ya mas. jangan kecewakan aku (pengunjung)dengan "lambat" posting. tulisan sampeyan huebat loh. dan, ini sambutan dari komentar ku itu.
***~~~~~~~~~~~~~~~~~~***
Kakang Salwangga,
Hanya yang KOSONG bisa MANUNGGAL dengan sang Maha KOSONG.
Untuk bisa manunggal dengan sang Sumber URIP yah harus dengan URIP kita.
Gonoh yah Kang…???
Sampeyan jiaaaaaaaannn….ces pleng tenan Kang.
Suwun Kang
lantas, dari komentar ini, karena kurang pas bener. aku coba ber-imaginasi ria. tuch kan, berbekal dari sebuah komentar bersambut, malah muncul ide baru untuk nulis.
selengkapnya, gini nih.
Aku tergelitik untuk menulis tuntas dan gamblang mengenai komentar ini. Dan, saat ini juga (jumat-01/05/09) pagi selepas dhuha 6 rokaat, setelah diawali sholat taubat 2 rokaat, aku sempetin bener-bener nih.
Semalem. Jam delapan malam ‘tenggo’ baru nyampe rumah. Kereta luar biasa tidak mau diajak kompromi. Niat sih, mau pulang cepet. Mau nemenin isteri buka puasa. Masalahnya, ini adalah kamis perdana istri bilang, “mumpung mbak Nimas libur, ada yang bantuin jaga rangga, ibu mau ikutan puasa bareng ayah”, katanya.
Subhanallah, seorang suami hanya perlu memberikan keteladanan, tak perlulah nasehat ‘dakik dakik’ dengan hujjah muluk muluk. Cukup tengadah tangan dikeheningan penghujung malam. “Duhai Dzat yang maha lembut, lembutkan hatiku, lembutkan hati istriku, lembutkan hati anak-anakku”, maka, ketika dosa-dosamu sudah ditolerir, munajad itu menjadi demikian kuat dan lekas nyampai.
Niat tinggal niat. Ternyata suasana kantor sepi. Bos-bos pada meeting di gedung tinggi. Mau kabur, ndak enak juga. Masak markas kosong melompong. Akhirnya, pulang awal pun gak jadi. Tetap aja on time, pulang jam 5. eh, malah kereta nambah-nambahin. Memang, kalau udah niat baik (demi istri bisa buka bareng, termasuk niat baik loh. Catat ya. Dan, mesti diingat nih. Suami romantis emang mesti kayak gini he..he..he..) malah ditunda, ya gini akibatnya. Masuk bekasi (stasiun) udah jam tujuh kurang duapuluh. Secara, isya’ aja jam tujuh teng udah masuk. mana sholatnya mesti ngantri pula.
Terlambat deh, magribnya. Begitu, “assalamu alaikum”, udah jam tujuh kurang sepuluh menit. Palingan, kalau langsung pulang, baru ambil motor, bayar parkir, udah keburu adzan. Ya udah aja. Tungguin isya’ sekalian. Biasanya, terdengar adzan tuch udah di deket rumah. Paling tidak udah tinggal sepertiga atau seperempat perjalanan gitu. tinggal belok dikit, nyari masjid terdekat. Absent dulu sama Allah, “aku datang memenuhi panggilan-Mu ya Allah, semoga pertemuanku dengan istri dan anak-anakku menjadi leih berkah atas berkah-Mu. Amin”. Baru deh, terusin perjalanan pulang. lah, ini. Tujuh lebih seperempat masih di bekasi. Masih empat puluh lima menit lagi nyampe rumah.
Begitu minum teh hangat (buka puasa koq jam 8, makan malam kali ini mah), mau nyuci, istri malah ngajakin ngobrol. Bagaimanapun juga, menjalin komuniasi mesti diutamain ketimbang pekerjaan mah. Menarik juga sih, hanya saja obrolannya tidak pas mau ditulis saat ini. Itu tuch, seputar hijab. Intinya, “Apa bener, seorang wanita yang sudah berjilbab lebar bahkan sampai bercadar harus mengasingkan diri dari pergaulan demi menjaga kesucian?” Tar aja deh, kapan-kapan.
Paginya, mau berangkat selepas subuh, “lah, cucian banyakjuga. Kasihan tuch, istri, kalau mesti nyuci juga. Jagain ‘si botak’ juga. Jagain warung juga. Masih harus masak juga.” Batinku. Udah aja, aku nyuci dulu. Berangkat kantor udah jam enam seperempat. Makanya, telat sampe kantor. naik kereta express jam tujuh.
Begitu duduk, nyalain komputer, tahu-tahu udah setengah sembilan. Cuap-cuap bentar, nyapa teman-teman, trus, pas jam sembilan baru dhuha. “Bukan nyengajaain nih, ngulur waktu. Saya perlu hablum minannas juga”, batinku. Alhamdulillah, 40 menit kemudian kelar. Asal jangan tiap hari aja, ngambil jam kantor buat ngejar sunnah mah.
Itu tadi, sekedar pengantar. Biasa, pamer! Mau bikin iri (para syetan) gitu, kalau dhuha tetep terjaga, he..he..he.. Tapi, Insya allah enggak ya, semoga aku dijauhkan dari segala riya’ dan sum’ah. Istighfar dulu deh, biar lurus gitu niatnya. “astaghfirullahaladziim…”. Selagi diberi kesadaran, tetap dijaga terus istiqomah.
Kembali ke tulisan kang Santri Gundul, yang aku komentari. Terus terang ya, aku tuch doyan banget baca-baca tulisan model beginian. Muatannya ada. Hanya saja, perlu penelaahan khusus untuk bisa memahami. Perlu hati khusus juga untuk ‘mau’ baca sampai tuntas. Berat bahasanya.
Sama itu indah loh. Mau tahu? Simak pengalaman saya berikut. Penekanan ada pada makna mempersamakan diri loh ya. Mesti sama dulu nih orientasinya.
Sore itu, Rangga (3 tahun). Cowok, tentu saja. Mana ada cewek dikasih merek Rangga, korslet ini mah, orang tua ngasih nama perempuan gitu. Susah bener suruh pulang. mandi. Dia main kejar-kejarn dengan empat temennya. Paling kecil padahal tuch anak. Tiga lainnya udah sekolah TK. Herannya, si botak tuch justru jadi jagoan dan pegang komando. “Aku jandi ranger merah. eh enggak, biru aja. Keren. Kamu yang jadi monster. Jahat”, tuch kan, anak kecil aja udah bisa main peran. Kenapa gak pilih jadi Khalid bin Walid aja, atau Shalahuhin Yusuf, atau,… ah, dasar emang zaman udah makin tua.
Pertama, kakaknya, Nimas (10 tahun, cewek. Anak pertama) ngegelandang. Mental tuch, tak mempan. Malah justru marah-marah, pulang tanpa hasil. Yang ada, punggungnya sakit di tebas pake pedang-pedangan. Katanya, “Orang malah disuruh jadi ranger pink sama Rangga. Belum-belum udah di gebuk. Ya sakit lah”, adunya.
Kedua, ibunya teriak-teriak. Kalau saja jam dua pagi, seluruh gang bisa kaget. Untung sore-sore. Hanya saja, istri tidak nyamperin. Cuma ngelongok’in kepala, “Rangga, pulang! udah sore tuch. Mau mandi enggak?”. Sekali, dicuekin. Dua kali, tetap dicuekin. Rangga masih asyik ketawa-ketawa sambil lari sana sini. Panggilan ketiga tambah kenceng, dan, alhamdulillah, di cuekin juga. Walaupun sudah diancem, “Ibu mau ke Arab nih”, katanya. Eh, malah dijawab, “Ya udah, sono. Rangga sama ayah aja”, kata Rangga.
“Ayah, tuch! Lihatin anaknya. Kalau udah main aja. Leher sampai sakit teriak-teriak. Susah banget disuruh pulang. belum mandi, belum makan” kata istri mulai sewot. Secara, dia juga lagi goreng apa tahu kegemaranku di dapur. “Biar ayah aja mbak. Biar ngerti, gimana ngejagain Rangga seharian”.
“Iya tuch. Punya anak gitu amat. Dasar, botak!”. Nimas, ikutan sewot. Tangannya ngelus punggung. Sakit juga kali ya, he..he.he.. konspirasi kaum wanita nih kayaknya. Adu gencar mencerca kaum laki-laki. But, double botak is the best, he..he..he….
Aku taruh buku, geliat sebentar, berdiri, puter leher kanan, “kletuk”, kiri, “kletuk”. Secara, masih pakai sarung. Sedari ashar belum copot baju koko, langsung duduk santai, baca buku. Tak terasa udah sejam. Ternyata enak juga dirumah. Bisa nyaksiin drama berbabak-babak. Ada celoteh anak. Ada celoteh tetangga. Ada celoteh istri. celoteh kambing juga ada koq. Klo anjing, gak ada. Gak ada yang berani miara. Babi, apalagi.
Pandangan aku arahkan ke tembok. Coba nyari, apa yang bisa aku perbuat. Arah mataku jatuh pada kolom meja belajar. Ada benda bundar dengan warna warni. Menarik. “Hmmm, ku tahu yang ku harus perbuat”, kataku sambil senyum.
Bola aku ambil, mainin sembentar. Tendang kearah tembok. “Jder…!”, Istri udah melotot aja. “Bukannya diurusin tuch anak. Suruh mandi udah sore. Malah main bola lagi!”, katanya. Aku copot sarung, lepas baju, cuma pakai kaos dalem doang. Celana kolor. Turun kejalan dan, mulai beraksi.
Gak perlu teriak, begitu aku main bola. Tendang sana, tendang sini, di gojek sendiri, sesekali main sundulan. Tuch bocah, empat-empatnya pada nyamper. Gak pake keluar urat, gak pakai bejam-jam. Sekira lima atau sepuluh menit kemudian, bukan hanya Rangga, tiga temennya udah asyik disekelilingku berebut bola.
Tak buang waktu lagi, “Mandi, makan, tar main bola lagi. Akur?” tanyaku. “Sip! Tos dulu.”
Cuma, imbasnya, aku harus mandi rame-rame juga di jalan. Pakai selang. Niatnya mau mandiin Rangga, lainnya pengin mandi juga. Apes dah. Kalau dikamar mandi, mana muat. Bisa kebaca kejadian selanjutnya. Ganti baju. Makan. Lancar-lancar aja. Sementara bola, “Besok sore, kita adu lagi. Sekarang makan dulu biar kuat. Udah pada pulang sana. Minta makan yang banyak! Jangan mau kalah sama Rangga. Masak, nendangnya loyo gitu”.
Sama itu indah. Sama itu nikmat. Sama itu bisa membuat ‘nyampai’ apa yang ingin kita komunikasikan. Bukan membuat ‘yang lain’ kita paksa untuk sama dengan kita. Tapi, bagaimana kita membuat sama diri kita dengan ‘yang lain’ itu. Samakan unsur. Itu intinya.
“Kalau mau manggil ayam, jangan bilang ‘wek…wek..wek…’ bisa-bisa bebek tuch nyamperin”, intinya gitu deh maksudnya. Jangan disamain anak gue sama ayam yah. Ini, perumpamaan aja. Analogi, bahasa kerennya mah.
Kalau mau dialog sama kambing, jangan mengaum. Bisa gak punya temen. Kabur semua. Begitu pula, kalau mau bersosialisasi sama macan, jangan kebanyakan mengembik, bisa dicaplok dan gak punya perbawa. Kurang greget. Kurang gigi. Gak ada taring. Kurang dianggap.
Dengan bahasa lebih dalam lagi, kalau mau mengenali jiwa, mesti paham dulu bahasa jiwa. Bahasa ruh. Bahasa badan. Bagaimana kalau badan ngantuk, berarti minta tidur. Lapar, minta makan. Capai minta istirahat. Mesti paham bener. Jangan sinyal udang bunyi, “eh, gue penat nih. lemah gitu. udah pengin diistirahatin” kata badan. Tindakan instant biasanya malah minum suplemen.
Contoh paling valid lagi deh. Alquran. Bahasa yang dipakai adalah bahasa nur. Cahaya. Bukan sembarang bahasa arab. Beda, asal tahu saja.
Untuk bisa memahami alquran, mesti “jadi” cahaya dulu. Dalam tanda kutip loh ya. Hanya cahaya yang bisa menyelami cahaya. Malaikat gak perlu berubah, karena emang unsurnya, dasarnya, bahan pembuatnya cahaya. Sementara manusia, asalnya tanah. Cikal bakalnya, dari setetes air mani yang hina. Butuh perjuangan super hebat untuk bisa paham alquran.
Itu pula yang dikatakan ‘tidak menyentuhnya, kecuali orang bersuci’, dalam artian menyucikan hati, menjernihkan jiwa, sering-sering akses ruh ilahiah yang ditiupkan pada jasad ini. Hanya saja, banyak yang ngartiin, “kalau nyentuh quran harus wudhu dulu. bersuci”, kata seorang temen. Boleh aja, silahkan artikan secara seperti itu. Namun, mesti ditinjau juga makna tersirat dan tersurat dibalik kalimat itu.
Bagaimana caranya bersuci. Waduh, butuh pembahasan panjang lagi nih. kembali ke konsep ‘samakan bahasa’ tadi. Sholat malam, tahajud, taubat, dzikir, puasa, dan segala macam makanan jiwa lainnya. Kesukaan ruh. Intinya, mesti sama bahasa dulu antara badani (jasadi), jiwa, ruh. Karena, ketiga komponen (ada juga yang bilang empat (ditambah sukma), silahkan saja) musti punya “key word” alias “kata kunci” alias “bahasa kunci” yang bisa meng-konek satu sama lain. Card interface, boleh lah dikatakan demikian.
Punya beda pandangan? Silahkan.
Jadi, jangan berharap bisa ndeketin macan (apalagi sampai berdialog dan memahami) melalui teriak, “embeeeek, embeeek…” he..he..he..he.. jaka sembung bawa golok sambil nenteng gitar, kagak nyambung tapi gak usah bilang goblok, mending nyanyi sambil nge-jrenk.
Satu pertanyaan buat direnungkan adalah, “untuk berdialog dengan kucing, apakah perlu menjadi kucing, atau hanya dibutuhkan paham cara berdialog (bahasa) kucing?” Pertanyaan ini adalah, untuk menyelami alquran, bahasa nur, apakah perlu jadi nur, ataukah memahami bahasa nur?”. Bagi saya, spirit islam itu, cikal bakalnya dari alquran dulu.
tuch kan, virus itu jadi gemuk begitu nyampe ke aku. tulisan jadi panjang gini. mau hobby nulis juga? makanya, komentar!
makanya, buat sesama bloger, jangan hanya berkunjung ke 'rumah' yang udah dikenal aja. sempatkan untuk blog walking dan, berusahalah untuk menorehkan jejak disana. walhasil, pahala akan nyiprat kepada anda, karena turut membangkitkan semangat menulis. he..he.he... gitu kan?
komentarku begini,
kalau mau ndeketin kucing, ya bicaralah pakai bahasa kucing. macan, manuk, pitik, enthoq. apamaneh? bebek, wedhus, semana uga.
jadi, kalau mau ‘ndeketin’ (maksudnya biar kenal gitu) sama badan, jiwa, maupun ruh. ya, ‘mesti alias kudu bin harus’ ngerti dulu bahasa masing-masing.
bahasa badan, kalau gak mau mules, ya jangan makan sambel secobek-cobeknya. kalau gak mau mriang, jangan makan nasi ditelen segarpunya.
bahasa jiwa, gitu juga. bahasa ruh, apalagi.
mana ada orang bisa ndeketin ayam tapi, bahasa disuarakan pus..pus…pus… meong…meong…. lah, pitik’e malah kabur. he..he.he… manteb kang postingane.
secara, aku juga doyan sama blognya 'ngawula gusti' ini, terus berkarya ya mas. jangan kecewakan aku (pengunjung)dengan "lambat" posting. tulisan sampeyan huebat loh. dan, ini sambutan dari komentar ku itu.
***~~~~~~~~~~~~~~~~~~***
Kakang Salwangga,
Hanya yang KOSONG bisa MANUNGGAL dengan sang Maha KOSONG.
Untuk bisa manunggal dengan sang Sumber URIP yah harus dengan URIP kita.
Gonoh yah Kang…???
Sampeyan jiaaaaaaaannn….ces pleng tenan Kang.
Suwun Kang
lantas, dari komentar ini, karena kurang pas bener. aku coba ber-imaginasi ria. tuch kan, berbekal dari sebuah komentar bersambut, malah muncul ide baru untuk nulis.
selengkapnya, gini nih.
Aku tergelitik untuk menulis tuntas dan gamblang mengenai komentar ini. Dan, saat ini juga (jumat-01/05/09) pagi selepas dhuha 6 rokaat, setelah diawali sholat taubat 2 rokaat, aku sempetin bener-bener nih.
Semalem. Jam delapan malam ‘tenggo’ baru nyampe rumah. Kereta luar biasa tidak mau diajak kompromi. Niat sih, mau pulang cepet. Mau nemenin isteri buka puasa. Masalahnya, ini adalah kamis perdana istri bilang, “mumpung mbak Nimas libur, ada yang bantuin jaga rangga, ibu mau ikutan puasa bareng ayah”, katanya.
Subhanallah, seorang suami hanya perlu memberikan keteladanan, tak perlulah nasehat ‘dakik dakik’ dengan hujjah muluk muluk. Cukup tengadah tangan dikeheningan penghujung malam. “Duhai Dzat yang maha lembut, lembutkan hatiku, lembutkan hati istriku, lembutkan hati anak-anakku”, maka, ketika dosa-dosamu sudah ditolerir, munajad itu menjadi demikian kuat dan lekas nyampai.
Niat tinggal niat. Ternyata suasana kantor sepi. Bos-bos pada meeting di gedung tinggi. Mau kabur, ndak enak juga. Masak markas kosong melompong. Akhirnya, pulang awal pun gak jadi. Tetap aja on time, pulang jam 5. eh, malah kereta nambah-nambahin. Memang, kalau udah niat baik (demi istri bisa buka bareng, termasuk niat baik loh. Catat ya. Dan, mesti diingat nih. Suami romantis emang mesti kayak gini he..he..he..) malah ditunda, ya gini akibatnya. Masuk bekasi (stasiun) udah jam tujuh kurang duapuluh. Secara, isya’ aja jam tujuh teng udah masuk. mana sholatnya mesti ngantri pula.
Terlambat deh, magribnya. Begitu, “assalamu alaikum”, udah jam tujuh kurang sepuluh menit. Palingan, kalau langsung pulang, baru ambil motor, bayar parkir, udah keburu adzan. Ya udah aja. Tungguin isya’ sekalian. Biasanya, terdengar adzan tuch udah di deket rumah. Paling tidak udah tinggal sepertiga atau seperempat perjalanan gitu. tinggal belok dikit, nyari masjid terdekat. Absent dulu sama Allah, “aku datang memenuhi panggilan-Mu ya Allah, semoga pertemuanku dengan istri dan anak-anakku menjadi leih berkah atas berkah-Mu. Amin”. Baru deh, terusin perjalanan pulang. lah, ini. Tujuh lebih seperempat masih di bekasi. Masih empat puluh lima menit lagi nyampe rumah.
Begitu minum teh hangat (buka puasa koq jam 8, makan malam kali ini mah), mau nyuci, istri malah ngajakin ngobrol. Bagaimanapun juga, menjalin komuniasi mesti diutamain ketimbang pekerjaan mah. Menarik juga sih, hanya saja obrolannya tidak pas mau ditulis saat ini. Itu tuch, seputar hijab. Intinya, “Apa bener, seorang wanita yang sudah berjilbab lebar bahkan sampai bercadar harus mengasingkan diri dari pergaulan demi menjaga kesucian?” Tar aja deh, kapan-kapan.
Paginya, mau berangkat selepas subuh, “lah, cucian banyakjuga. Kasihan tuch, istri, kalau mesti nyuci juga. Jagain ‘si botak’ juga. Jagain warung juga. Masih harus masak juga.” Batinku. Udah aja, aku nyuci dulu. Berangkat kantor udah jam enam seperempat. Makanya, telat sampe kantor. naik kereta express jam tujuh.
Begitu duduk, nyalain komputer, tahu-tahu udah setengah sembilan. Cuap-cuap bentar, nyapa teman-teman, trus, pas jam sembilan baru dhuha. “Bukan nyengajaain nih, ngulur waktu. Saya perlu hablum minannas juga”, batinku. Alhamdulillah, 40 menit kemudian kelar. Asal jangan tiap hari aja, ngambil jam kantor buat ngejar sunnah mah.
Itu tadi, sekedar pengantar. Biasa, pamer! Mau bikin iri (para syetan) gitu, kalau dhuha tetep terjaga, he..he..he.. Tapi, Insya allah enggak ya, semoga aku dijauhkan dari segala riya’ dan sum’ah. Istighfar dulu deh, biar lurus gitu niatnya. “astaghfirullahaladziim…”. Selagi diberi kesadaran, tetap dijaga terus istiqomah.
Kembali ke tulisan kang Santri Gundul, yang aku komentari. Terus terang ya, aku tuch doyan banget baca-baca tulisan model beginian. Muatannya ada. Hanya saja, perlu penelaahan khusus untuk bisa memahami. Perlu hati khusus juga untuk ‘mau’ baca sampai tuntas. Berat bahasanya.
Sama itu indah loh. Mau tahu? Simak pengalaman saya berikut. Penekanan ada pada makna mempersamakan diri loh ya. Mesti sama dulu nih orientasinya.
Sore itu, Rangga (3 tahun). Cowok, tentu saja. Mana ada cewek dikasih merek Rangga, korslet ini mah, orang tua ngasih nama perempuan gitu. Susah bener suruh pulang. mandi. Dia main kejar-kejarn dengan empat temennya. Paling kecil padahal tuch anak. Tiga lainnya udah sekolah TK. Herannya, si botak tuch justru jadi jagoan dan pegang komando. “Aku jandi ranger merah. eh enggak, biru aja. Keren. Kamu yang jadi monster. Jahat”, tuch kan, anak kecil aja udah bisa main peran. Kenapa gak pilih jadi Khalid bin Walid aja, atau Shalahuhin Yusuf, atau,… ah, dasar emang zaman udah makin tua.
Pertama, kakaknya, Nimas (10 tahun, cewek. Anak pertama) ngegelandang. Mental tuch, tak mempan. Malah justru marah-marah, pulang tanpa hasil. Yang ada, punggungnya sakit di tebas pake pedang-pedangan. Katanya, “Orang malah disuruh jadi ranger pink sama Rangga. Belum-belum udah di gebuk. Ya sakit lah”, adunya.
Kedua, ibunya teriak-teriak. Kalau saja jam dua pagi, seluruh gang bisa kaget. Untung sore-sore. Hanya saja, istri tidak nyamperin. Cuma ngelongok’in kepala, “Rangga, pulang! udah sore tuch. Mau mandi enggak?”. Sekali, dicuekin. Dua kali, tetap dicuekin. Rangga masih asyik ketawa-ketawa sambil lari sana sini. Panggilan ketiga tambah kenceng, dan, alhamdulillah, di cuekin juga. Walaupun sudah diancem, “Ibu mau ke Arab nih”, katanya. Eh, malah dijawab, “Ya udah, sono. Rangga sama ayah aja”, kata Rangga.
“Ayah, tuch! Lihatin anaknya. Kalau udah main aja. Leher sampai sakit teriak-teriak. Susah banget disuruh pulang. belum mandi, belum makan” kata istri mulai sewot. Secara, dia juga lagi goreng apa tahu kegemaranku di dapur. “Biar ayah aja mbak. Biar ngerti, gimana ngejagain Rangga seharian”.
“Iya tuch. Punya anak gitu amat. Dasar, botak!”. Nimas, ikutan sewot. Tangannya ngelus punggung. Sakit juga kali ya, he..he.he.. konspirasi kaum wanita nih kayaknya. Adu gencar mencerca kaum laki-laki. But, double botak is the best, he..he..he….
Aku taruh buku, geliat sebentar, berdiri, puter leher kanan, “kletuk”, kiri, “kletuk”. Secara, masih pakai sarung. Sedari ashar belum copot baju koko, langsung duduk santai, baca buku. Tak terasa udah sejam. Ternyata enak juga dirumah. Bisa nyaksiin drama berbabak-babak. Ada celoteh anak. Ada celoteh tetangga. Ada celoteh istri. celoteh kambing juga ada koq. Klo anjing, gak ada. Gak ada yang berani miara. Babi, apalagi.
Pandangan aku arahkan ke tembok. Coba nyari, apa yang bisa aku perbuat. Arah mataku jatuh pada kolom meja belajar. Ada benda bundar dengan warna warni. Menarik. “Hmmm, ku tahu yang ku harus perbuat”, kataku sambil senyum.
Bola aku ambil, mainin sembentar. Tendang kearah tembok. “Jder…!”, Istri udah melotot aja. “Bukannya diurusin tuch anak. Suruh mandi udah sore. Malah main bola lagi!”, katanya. Aku copot sarung, lepas baju, cuma pakai kaos dalem doang. Celana kolor. Turun kejalan dan, mulai beraksi.
Gak perlu teriak, begitu aku main bola. Tendang sana, tendang sini, di gojek sendiri, sesekali main sundulan. Tuch bocah, empat-empatnya pada nyamper. Gak pake keluar urat, gak pakai bejam-jam. Sekira lima atau sepuluh menit kemudian, bukan hanya Rangga, tiga temennya udah asyik disekelilingku berebut bola.
Tak buang waktu lagi, “Mandi, makan, tar main bola lagi. Akur?” tanyaku. “Sip! Tos dulu.”
Cuma, imbasnya, aku harus mandi rame-rame juga di jalan. Pakai selang. Niatnya mau mandiin Rangga, lainnya pengin mandi juga. Apes dah. Kalau dikamar mandi, mana muat. Bisa kebaca kejadian selanjutnya. Ganti baju. Makan. Lancar-lancar aja. Sementara bola, “Besok sore, kita adu lagi. Sekarang makan dulu biar kuat. Udah pada pulang sana. Minta makan yang banyak! Jangan mau kalah sama Rangga. Masak, nendangnya loyo gitu”.
Sama itu indah. Sama itu nikmat. Sama itu bisa membuat ‘nyampai’ apa yang ingin kita komunikasikan. Bukan membuat ‘yang lain’ kita paksa untuk sama dengan kita. Tapi, bagaimana kita membuat sama diri kita dengan ‘yang lain’ itu. Samakan unsur. Itu intinya.
“Kalau mau manggil ayam, jangan bilang ‘wek…wek..wek…’ bisa-bisa bebek tuch nyamperin”, intinya gitu deh maksudnya. Jangan disamain anak gue sama ayam yah. Ini, perumpamaan aja. Analogi, bahasa kerennya mah.
Kalau mau dialog sama kambing, jangan mengaum. Bisa gak punya temen. Kabur semua. Begitu pula, kalau mau bersosialisasi sama macan, jangan kebanyakan mengembik, bisa dicaplok dan gak punya perbawa. Kurang greget. Kurang gigi. Gak ada taring. Kurang dianggap.
Dengan bahasa lebih dalam lagi, kalau mau mengenali jiwa, mesti paham dulu bahasa jiwa. Bahasa ruh. Bahasa badan. Bagaimana kalau badan ngantuk, berarti minta tidur. Lapar, minta makan. Capai minta istirahat. Mesti paham bener. Jangan sinyal udang bunyi, “eh, gue penat nih. lemah gitu. udah pengin diistirahatin” kata badan. Tindakan instant biasanya malah minum suplemen.
Contoh paling valid lagi deh. Alquran. Bahasa yang dipakai adalah bahasa nur. Cahaya. Bukan sembarang bahasa arab. Beda, asal tahu saja.
Untuk bisa memahami alquran, mesti “jadi” cahaya dulu. Dalam tanda kutip loh ya. Hanya cahaya yang bisa menyelami cahaya. Malaikat gak perlu berubah, karena emang unsurnya, dasarnya, bahan pembuatnya cahaya. Sementara manusia, asalnya tanah. Cikal bakalnya, dari setetes air mani yang hina. Butuh perjuangan super hebat untuk bisa paham alquran.
Itu pula yang dikatakan ‘tidak menyentuhnya, kecuali orang bersuci’, dalam artian menyucikan hati, menjernihkan jiwa, sering-sering akses ruh ilahiah yang ditiupkan pada jasad ini. Hanya saja, banyak yang ngartiin, “kalau nyentuh quran harus wudhu dulu. bersuci”, kata seorang temen. Boleh aja, silahkan artikan secara seperti itu. Namun, mesti ditinjau juga makna tersirat dan tersurat dibalik kalimat itu.
Bagaimana caranya bersuci. Waduh, butuh pembahasan panjang lagi nih. kembali ke konsep ‘samakan bahasa’ tadi. Sholat malam, tahajud, taubat, dzikir, puasa, dan segala macam makanan jiwa lainnya. Kesukaan ruh. Intinya, mesti sama bahasa dulu antara badani (jasadi), jiwa, ruh. Karena, ketiga komponen (ada juga yang bilang empat (ditambah sukma), silahkan saja) musti punya “key word” alias “kata kunci” alias “bahasa kunci” yang bisa meng-konek satu sama lain. Card interface, boleh lah dikatakan demikian.
Punya beda pandangan? Silahkan.
Jadi, jangan berharap bisa ndeketin macan (apalagi sampai berdialog dan memahami) melalui teriak, “embeeeek, embeeek…” he..he..he..he.. jaka sembung bawa golok sambil nenteng gitar, kagak nyambung tapi gak usah bilang goblok, mending nyanyi sambil nge-jrenk.
Satu pertanyaan buat direnungkan adalah, “untuk berdialog dengan kucing, apakah perlu menjadi kucing, atau hanya dibutuhkan paham cara berdialog (bahasa) kucing?” Pertanyaan ini adalah, untuk menyelami alquran, bahasa nur, apakah perlu jadi nur, ataukah memahami bahasa nur?”. Bagi saya, spirit islam itu, cikal bakalnya dari alquran dulu.
tuch kan, virus itu jadi gemuk begitu nyampe ke aku. tulisan jadi panjang gini. mau hobby nulis juga? makanya, komentar!
Label:
Ndleming,
oyot gatel,
Uneg-Uneg
Langganan:
Postingan (Atom)