Tampilkan postingan dengan label oyot gatel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label oyot gatel. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 Mei 2009

Sapi Melenguh, Kamu Mengeluh, sama-sama 'Uh!'

Bekerja yang sesungguhnya adalah tidak bekerja. Nah loh, bingung kan?

Ketika engkau berdiam diri, tanpa ada aktifitas kau jalani, tak ada sesuatu menemani, itulah saat energimu terkuras habis. Engkau merasakan capek dan letih tak terkira. Urat terasa kaku, persendian ngilu. Kalori menumpuk yang seharusnya kau salurkan, bertarung antar diri di dalam tubuhmu. Cuma satu manusia butuhkan, ‘recycling’. Perputaran.

Itulah sebabnya, ketika manusia mendapati kelimpahan materi tanpa melalui perjuangan dan mengeluarkan energi, bukan nikmat ia dapat. Sebaliknya, bisa jadi laknat yang justru melekat.

Pernah dengar kabar tentang seorang pria baik-baik menjadi pembunuh dadakan? Justru, ketka ia barusaja menandatangani selembar deposit senilai 1,5 milyar di hadapan notaris. Warisan orang tua. “Kau hanya anak pungut, tak berhak mendapat bagian!”, tandasnya.

Illustrasi,

Perjalanan menuju dan pulang kantor memakan waktu satu jam setengah diatas kereta. Dan, aku cukup bersyukur bahwa buku adalah teman terbaikku. Begitu kaki melangkah pintu, jiwaku beralih ke buku. Tak kuhiraukan lagi segala kondisi –pengab, panas, gerah, berdesakan, berdiri dengan satu kaki, bergelayutan. Asal bisa nyari tempat strategis aja- sekitar. Terkadang kereta ditahan karena sebab tak pasti. Aku tetap tak peduli. Dan, ketika aku harus turun karena memang sudah sampai tujuan, aku merasakan keluar pintu sebagaimana aku keluar kamar tidur.

Beda lagi dengan orang lain disebelahku. Ia mengumpat sejadi-jadinya atas keterlambatan, kepenatan, nge-goblog-in masinis atau petugas kereta, dan masih banyak lagi. Pake teriak-teriak dan mengganggu orang disekitarnya pula. “Gila nih PJKA. Makin gak becus aja kerja!”, tangan terkepal, meninju dinding yang jelas terbuat dari lempengan baja. “Brang!”, semua mata pun menoleh.

Kepenatan dan keletihan bahkan capek luar biasa, justru akan diderita oleh orang kedua ketimbang saya. Padahal, aku justru beraktifitas, yaitu membaca. Sesekali menulis beberapa coretan setelah dapat giliran duduk, atau ada penumpang turun. Sementara orang itu, hanya diam. Diam tubuhnya. Diam tangannya. Tapi, gemuruh jiwanya.

Oke. Mungkin, tambahan illustrasi berikut ini lebih mengena lagi. Semog masih nyambung. Kalau gak, ya, sambung-sambungin aja.

Ketika kamu tidur. Beranjak pukul 9 misalnya, kamu hanya merasa beberapa saat saja walau bangun jam 7 pagi. Pulas. Kenikmatan selama tidur kamu rasakan sepenuhnya.

Apakah yang terjadi ketika kamu tidak mendapati kenikmatan (tidur) itu? Malam-malam terasa panjang, bentar-bentar melirik dinding. Jarum jam tiba-tiba berenti. Mati. Malahan, kau terbangun dan memastikan baterai apakah masih berfungsi.

Tersiksa jiwamu!

Dalam perjalanan tadi juga begitu. berapakali kau dengan sengit berucap serapah, hanya karena terlambat masuk kantor? padahal, satu saja diingat, nafas masih berkenan keluar masuk tenggorokan. Tentu akan lebih nyaman.

Dan, ingatlah pula ketika engkau bernafas! Begitu udara melewati lubang hidung dan keluar pada lubang yang sama disaat berikutnya. Maka, begitulah usiamu. Ia pergi tertiup angin dan tak pernah kembali lagi. Kecuali, dengan muatan nafas berikutnya. jadi, buat apa kau sia-siakan?

Hanya kesabaran yang dapat mengantarkan pada kemenangan. Tak ada ketergesaan kecuali hanya milik pecundang. Terburu-buru dan tanpa perhitunan adalah ciri kerja setan. Dan, kamu bukan setan kan? Jangan lagi sembrono, grasa-grusu, ceroboh, lantas protes dengan segala umpatan dan makian kotor terhadap apapun kondisi disekitarmu.

Nyaman tubuh, sedikit makan.
Nyaman jiwa, sedikit dosa.
Nyaman lisan, sedikit bicara.
Nyaman hati, sedikit keinginan.

Kata si cerdik pandai sich gitu. Dan, sayangnya aku setuju untuk beberapa kasus tertentu. Bagaimana untuk orator, sedikit bicara. Wah, bisa kabur semua audiens.

Sabar obatnya, syukur jalan keluarnya. Setuju?

tragedi sore hari

“Cepet amat shalatnya”, tanyaku.

“Kan udah apal”, jawabnya.

Aku meletakkan sejenak buku ‘sirah nabawiyah’. Menatap serius sebentar. Menggantungkan pandangan pada sesosok wajah mungil itu. Ceria dan kekanak-kanakan masih memancar. Polos. Ya, namanya juga masih bocah. Masih anak-anak. Bukan cuma tubuhnya saja, jiwanya juga masih bocah, tentu saja.

Jadi ingat tulisan beberapa waktu lalu, “tumbuh badan sebatas usia, tumbuh jiwa sebatas usaha”. Sebagus bagus badan, ada titik klimaksnya. Kemudian menurun, ada yang drastic, ada pula lambat. Intinya, akan nyampai juga ke titik akhir. Mati. Hancur. Lenyap.

Beda dengan jiwa. Ia akan tumbuh terus, terus, dan terus. Tidak kembali ke-mula. Semakin dewasa, matang, akhirnya suci dan bersih kembali sebagaimana fitrahnya.

“Wahai para hamba-Ku, kalian semua tersesat kecuali yang Aku beri petunjuk, maka mintalah petunjuk kepada-Ku, niscaya Aku akan beri petunjuk” (hadits riwayat muslim).

Waduh. Pantas aja tuch bocah masih ‘express’ setiap shalat. Nilai dan existensi dari gerakan apalagi bacaan belum mengena. Dalam arti, “dia masih tersesat”, sehingga belum faham betul akan kebutuhan shalat. Dia pikir “pantesan aja, shalatnya lama. Belum hafal sich bacaannya. Takut salah. Pelan-pelan”. Padahal sich, ya gitu deh.

“Coba. Kalau emang udah hafal, kalau takhiat baca apa?” tanyaku kemudian.

“Tasyahud lah. Cemen pertanyaan gitu mah. Ngapain sih ayah nanya-nanya. Pasti mau usil deh”, celetuk tuch bocah.

“Trus, tasyahud tuch intinya apa?”

“Gak tahu. Pokoknya bacaannya udah apal, ya udah, baca. Shalat kan gitu” jawabnya polos.

Dan, itu jawaban dari seorang anak yang belum haid. Artinya, masih bocah. Bener-bener bocah. Belum kena dosa karena belum baligh.

Lantas, aku coba jelasin dengan bahasa paling sederhana. Maksudku sebenarnya, ya nasehatin diri sendiri. Biasanya, kalau ngomongin orang lain, ingatan akan lebih kuat. Prinsip satu ilmu “bagilah, maka akan semakin bertambah”.

Inti tasyahud, ya shalawat. Setelah, sebelumnya didahului dengan kepasrahan bahwa “Segala kehormatan, kemuliaan, kebahagiaan dan kebaikan adalah milik Allh”.

Sementara inti shalawat itu sendiri, “Allahumma shali ala Muhammad, wa ala ali Muhammad”. Kalau mau komplit (dan lebih afdol) terusin sampai ‘innaka hamidummajid’. Artinya, (penekanan disini) ‘dan keluarga Muhammad’.

“Emang, Muhammad punya keluarga?” tanyaku tiba-tiba.

“Ya punya lah. Ayah juga punya keluarga. Ibu. Anak. Tuch, si botak tuch keluarga namanya”, jawabnya mulai ketus. “Aneh. udah tahu pake nanya”

“Trus, keluarganya Muhammad tuch siapa aja. Jadi pengin kenal. Tinggalnya dimana sih?”

“Ya gak bisalah. Orang udah pada mati. Gimana mau kenalannya?”, makin sewot tuch. Biasanya emang gitu sih. kalau di tanya soal yang saben hari dikerjain. Dan dikiranya udah bener gitu. trus, ada yang sok ngetest. Bawaannya sewot aja. ‘ngapain loe nanya-nanya, udah tahu juga. Ngerti-an juga gue ketimbang eloe. Usil amat. Urusan sama orang lain’.

“Kalau gak kenal, gimana mau kirim shalawat segala. Ngapain juga kirim-kirim. Mending buat diri sendiri. Gak kenal ini.”, kataku. Trus, aku tegakkan punggung dan ambil nafas siap-siap deklamasi, “Allahumma shalli ala ana, wa ala ali ana. Duit koq dikasih-kasihin ke orang. Enak juga buat sendiri. Bisa buat beli es krim”

“Ih. Ayah nih aneh ya. Shalawat tuch hanya untuk nabi. Kalau ayah gak bisa dikasih shalawat. Emangnya ayah suci. Main-main dosa loh! Tanya sono sama ustadz! Yang ada tuch dikasih syafaat. Makanya, perlu ada shalawat biar dapet syafaat!”, waduh. Marah bener nih bocah. Klo diterusin, bisa ditimpuk raket nyamuk (lagi). Mana ada strumnya pula. Sakit sih enggak, kaget sama gatelnya itu. Ya udah dah. Mendingan stop aja. biarin bocah 10 tahun itu asyik dengan dunianya.

Tapi,

Aku jadi mikir juga. ‘wa ala ali Muhammad’, dan keluarga nabi Muhammad. Siapa aja ya istrinya. Siapa aja ya anak-anaknya. Ah, mesti baca sirah nabawiyah lagi nih kayaknya. Yuk!

Selasa, 19 Mei 2009

jaga, antara "me" dan "di"

"percaya dah, nyimpen uang tuh banyak gak untungnya, dimanapun pasti abis. kalau gak abis juga, kitanya yang abis", kata ustadz lihan. pengusaha yang merintis dari menjadi ustadz dan makelar motor itu.

lantas, buat apa nimbun banyak banyak uang di rumah. di bank. sekedar ngendon doang, tak diputer (sedekahin kek, kasih modal ke orang yang jago usaha kek, atau apa kek) biar lebih berkah?

toch, kalau aku mati duluan (gak ngarep gitu juga sih, penginnya mah sampai tua dan terus sehat, penuh barokah, gitu. amin.)dan kebetulan istri masih muda. walau janda, banyak juga yang ngincar. lantas, aku yang capek-capek ngumpulin sampai dibela-belain prihatin segala, toch suami kedua juga yang bakal nikmatin.

atau juga sebaliknya. bikin illustrasi sendiri dah.

lain halnya, kalau apa yang kita punya tuch di sedekahin. buat anak yatim. buat kaum dhuafa. buat jalan usaha yang mengundang berkah. tabungan akherat dah. malah justru 'apa yang dibelanjakan dengan jalan seperti itu', yang menjaga si pelakunya.

bukan sebaliknya, aku yang bekerja, aku yang nyimpen duit, aku yang bagus-bagusin rumah, aku yang... ah, pokoknya gitu deh. lantas, aku juga yang ngejagain. nge-resah-in kalau kenapa kenapa.

padahal, lebih enak menjaga atau dijaga? selamat merenung dech....

Jumat, 15 Mei 2009

setan semua!

Percaya gak, kalau gossip dan entertainment tuch isinya setan semua? Terlebih yang Cuma nayangin kawin cerai para artis, saling gugat soal hak asuh anak. Buntut-buntutnya saling berkoar kejelekan lawan.

“Di udah gak nurut suami koq. Mau diapain lagi. Kalau malam keluar, nurutin karir. Dua tahun ini saya udah gak ngesek sama dia. Gimana mau dikatakin melayani suami dengan baik seperti di omongin sama temen-temen wartawan”, kata selebritis beberapa waktu lalu. Ketika itu, rumah tangganya sedang goyah dan menjadi santapan media gossip.

Ia mengungkapkan terang-terangan, blak-blakan dan tayang secara ‘on air’ di kotak bening yang terus-terusan bunyi itu. Kotak itulah yang melahirkan fitnah, melahirkan kuntilanak, melahirkan aborsi. Media tv, kalau kau mau tahu.

Belum lagi bantahan-bantahan dari pihak wanita yang mau di cerai. Wuih, rahasia pribadi yang seharusnya ‘private and confidential’ keluar semua. Apalagi dibumbuin sama wartawan. Tambah panas!

Sekarang, perhatikan narasi dibawah ini.

Ahmad ibn Hanbal meriwatkan: Asma binti Yazid menuturkan: “Suatu ketika aku duduk di samping Rasulullah saw dengan sejumlah kaum laki-laki dan beberapa orang wanita.

Rasulullah bersadba, “Adakah diantara kalian seorang laki-laki yang pernah menceritakan rahasia dirinya dengan istrinya kepada orang lain. Dan adakah diantara kalian seorang istri yang menceritakan rahasia dirinya dengan suaminya kepada orang lain?”, para sahabat terdiam semuanya.

Lantas, aku pun berkata, “Demi Allah, wahai Rasulullah, sesungguhnya wanita-wanita pasti pernah melakukannya dan kaum laki-laki juga melakukannya.”

Maka beliau bersabda, “Janganlah kalian lakukan itu lagi. Sesungguhnya yang demikian itu adalah seperti setan laki-laki yang bertemu setan wanita di jalanan kemudian menggaulinya, dan orang-orang melihatnya.”

Tuch kan, setan semua!

Selayaknya para wanita menjaga apa yang terjadi antara mereka dan suaminya. Sebab, hal itu merupakan rahasia yang wajib disimpan, terlebih lagi bila hal itu berkenaan dengan hubungan seksual.

Trus, gimana dong?

Jumat, 01 Mei 2009

virus itu bernama -komentar-

selepas berkunjung ke blog "santri gundhul" dimana, dalam tautan blog ini aku kasih merek "ngawula gusti", aku kembali lagi untuk me-check apakah ada tulisan baru. ternyata belum. lantas, aku check lagi scroll down, ternyata komentarku bersambut. luar biasa, dampak dari 'meninggalkan jejak setiap blogwalking, ternyata menularkan spirit tersendiri untuk terus menulis.

makanya, buat sesama bloger, jangan hanya berkunjung ke 'rumah' yang udah dikenal aja. sempatkan untuk blog walking dan, berusahalah untuk menorehkan jejak disana. walhasil, pahala akan nyiprat kepada anda, karena turut membangkitkan semangat menulis. he..he.he... gitu kan?

komentarku begini,


kalau mau ndeketin kucing, ya bicaralah pakai bahasa kucing. macan, manuk, pitik, enthoq. apamaneh? bebek, wedhus, semana uga.

jadi, kalau mau ‘ndeketin’ (maksudnya biar kenal gitu) sama badan, jiwa, maupun ruh. ya, ‘mesti alias kudu bin harus’ ngerti dulu bahasa masing-masing.

bahasa badan, kalau gak mau mules, ya jangan makan sambel secobek-cobeknya. kalau gak mau mriang, jangan makan nasi ditelen segarpunya.

bahasa jiwa, gitu juga. bahasa ruh, apalagi.
mana ada orang bisa ndeketin ayam tapi, bahasa disuarakan pus..pus…pus… meong…meong…. lah, pitik’e malah kabur. he..he.he… manteb kang postingane.

secara, aku juga doyan sama blognya 'ngawula gusti' ini, terus berkarya ya mas. jangan kecewakan aku (pengunjung)dengan "lambat" posting. tulisan sampeyan huebat loh. dan, ini sambutan dari komentar ku itu.

***~~~~~~~~~~~~~~~~~~***
Kakang Salwangga,
Hanya yang KOSONG bisa MANUNGGAL dengan sang Maha KOSONG.
Untuk bisa manunggal dengan sang Sumber URIP yah harus dengan URIP kita.
Gonoh yah Kang…???

Sampeyan jiaaaaaaaannn….ces pleng tenan Kang.
Suwun Kang

lantas, dari komentar ini, karena kurang pas bener. aku coba ber-imaginasi ria. tuch kan, berbekal dari sebuah komentar bersambut, malah muncul ide baru untuk nulis.

selengkapnya, gini nih.


Aku tergelitik untuk menulis tuntas dan gamblang mengenai komentar ini. Dan, saat ini juga (jumat-01/05/09) pagi selepas dhuha 6 rokaat, setelah diawali sholat taubat 2 rokaat, aku sempetin bener-bener nih.

Semalem. Jam delapan malam ‘tenggo’ baru nyampe rumah. Kereta luar biasa tidak mau diajak kompromi. Niat sih, mau pulang cepet. Mau nemenin isteri buka puasa. Masalahnya, ini adalah kamis perdana istri bilang, “mumpung mbak Nimas libur, ada yang bantuin jaga rangga, ibu mau ikutan puasa bareng ayah”, katanya.

Subhanallah, seorang suami hanya perlu memberikan keteladanan, tak perlulah nasehat ‘dakik dakik’ dengan hujjah muluk muluk. Cukup tengadah tangan dikeheningan penghujung malam. “Duhai Dzat yang maha lembut, lembutkan hatiku, lembutkan hati istriku, lembutkan hati anak-anakku”, maka, ketika dosa-dosamu sudah ditolerir, munajad itu menjadi demikian kuat dan lekas nyampai.

Niat tinggal niat. Ternyata suasana kantor sepi. Bos-bos pada meeting di gedung tinggi. Mau kabur, ndak enak juga. Masak markas kosong melompong. Akhirnya, pulang awal pun gak jadi. Tetap aja on time, pulang jam 5. eh, malah kereta nambah-nambahin. Memang, kalau udah niat baik (demi istri bisa buka bareng, termasuk niat baik loh. Catat ya. Dan, mesti diingat nih. Suami romantis emang mesti kayak gini he..he..he..) malah ditunda, ya gini akibatnya. Masuk bekasi (stasiun) udah jam tujuh kurang duapuluh. Secara, isya’ aja jam tujuh teng udah masuk. mana sholatnya mesti ngantri pula.

Terlambat deh, magribnya. Begitu, “assalamu alaikum”, udah jam tujuh kurang sepuluh menit. Palingan, kalau langsung pulang, baru ambil motor, bayar parkir, udah keburu adzan. Ya udah aja. Tungguin isya’ sekalian. Biasanya, terdengar adzan tuch udah di deket rumah. Paling tidak udah tinggal sepertiga atau seperempat perjalanan gitu. tinggal belok dikit, nyari masjid terdekat. Absent dulu sama Allah, “aku datang memenuhi panggilan-Mu ya Allah, semoga pertemuanku dengan istri dan anak-anakku menjadi leih berkah atas berkah-Mu. Amin”. Baru deh, terusin perjalanan pulang. lah, ini. Tujuh lebih seperempat masih di bekasi. Masih empat puluh lima menit lagi nyampe rumah.

Begitu minum teh hangat (buka puasa koq jam 8, makan malam kali ini mah), mau nyuci, istri malah ngajakin ngobrol. Bagaimanapun juga, menjalin komuniasi mesti diutamain ketimbang pekerjaan mah. Menarik juga sih, hanya saja obrolannya tidak pas mau ditulis saat ini. Itu tuch, seputar hijab. Intinya, “Apa bener, seorang wanita yang sudah berjilbab lebar bahkan sampai bercadar harus mengasingkan diri dari pergaulan demi menjaga kesucian?” Tar aja deh, kapan-kapan.

Paginya, mau berangkat selepas subuh, “lah, cucian banyakjuga. Kasihan tuch, istri, kalau mesti nyuci juga. Jagain ‘si botak’ juga. Jagain warung juga. Masih harus masak juga.” Batinku. Udah aja, aku nyuci dulu. Berangkat kantor udah jam enam seperempat. Makanya, telat sampe kantor. naik kereta express jam tujuh.

Begitu duduk, nyalain komputer, tahu-tahu udah setengah sembilan. Cuap-cuap bentar, nyapa teman-teman, trus, pas jam sembilan baru dhuha. “Bukan nyengajaain nih, ngulur waktu. Saya perlu hablum minannas juga”, batinku. Alhamdulillah, 40 menit kemudian kelar. Asal jangan tiap hari aja, ngambil jam kantor buat ngejar sunnah mah.

Itu tadi, sekedar pengantar. Biasa, pamer! Mau bikin iri (para syetan) gitu, kalau dhuha tetep terjaga, he..he..he.. Tapi, Insya allah enggak ya, semoga aku dijauhkan dari segala riya’ dan sum’ah. Istighfar dulu deh, biar lurus gitu niatnya. “astaghfirullahaladziim…”. Selagi diberi kesadaran, tetap dijaga terus istiqomah.

Kembali ke tulisan kang Santri Gundul, yang aku komentari. Terus terang ya, aku tuch doyan banget baca-baca tulisan model beginian. Muatannya ada. Hanya saja, perlu penelaahan khusus untuk bisa memahami. Perlu hati khusus juga untuk ‘mau’ baca sampai tuntas. Berat bahasanya.

Sama itu indah loh. Mau tahu? Simak pengalaman saya berikut. Penekanan ada pada makna mempersamakan diri loh ya. Mesti sama dulu nih orientasinya.

Sore itu, Rangga (3 tahun). Cowok, tentu saja. Mana ada cewek dikasih merek Rangga, korslet ini mah, orang tua ngasih nama perempuan gitu. Susah bener suruh pulang. mandi. Dia main kejar-kejarn dengan empat temennya. Paling kecil padahal tuch anak. Tiga lainnya udah sekolah TK. Herannya, si botak tuch justru jadi jagoan dan pegang komando. “Aku jandi ranger merah. eh enggak, biru aja. Keren. Kamu yang jadi monster. Jahat”, tuch kan, anak kecil aja udah bisa main peran. Kenapa gak pilih jadi Khalid bin Walid aja, atau Shalahuhin Yusuf, atau,… ah, dasar emang zaman udah makin tua.

Pertama, kakaknya, Nimas (10 tahun, cewek. Anak pertama) ngegelandang. Mental tuch, tak mempan. Malah justru marah-marah, pulang tanpa hasil. Yang ada, punggungnya sakit di tebas pake pedang-pedangan. Katanya, “Orang malah disuruh jadi ranger pink sama Rangga. Belum-belum udah di gebuk. Ya sakit lah”, adunya.

Kedua, ibunya teriak-teriak. Kalau saja jam dua pagi, seluruh gang bisa kaget. Untung sore-sore. Hanya saja, istri tidak nyamperin. Cuma ngelongok’in kepala, “Rangga, pulang! udah sore tuch. Mau mandi enggak?”. Sekali, dicuekin. Dua kali, tetap dicuekin. Rangga masih asyik ketawa-ketawa sambil lari sana sini. Panggilan ketiga tambah kenceng, dan, alhamdulillah, di cuekin juga. Walaupun sudah diancem, “Ibu mau ke Arab nih”, katanya. Eh, malah dijawab, “Ya udah, sono. Rangga sama ayah aja”, kata Rangga.

“Ayah, tuch! Lihatin anaknya. Kalau udah main aja. Leher sampai sakit teriak-teriak. Susah banget disuruh pulang. belum mandi, belum makan” kata istri mulai sewot. Secara, dia juga lagi goreng apa tahu kegemaranku di dapur. “Biar ayah aja mbak. Biar ngerti, gimana ngejagain Rangga seharian”.

“Iya tuch. Punya anak gitu amat. Dasar, botak!”. Nimas, ikutan sewot. Tangannya ngelus punggung. Sakit juga kali ya, he..he.he.. konspirasi kaum wanita nih kayaknya. Adu gencar mencerca kaum laki-laki. But, double botak is the best, he..he..he….

Aku taruh buku, geliat sebentar, berdiri, puter leher kanan, “kletuk”, kiri, “kletuk”. Secara, masih pakai sarung. Sedari ashar belum copot baju koko, langsung duduk santai, baca buku. Tak terasa udah sejam. Ternyata enak juga dirumah. Bisa nyaksiin drama berbabak-babak. Ada celoteh anak. Ada celoteh tetangga. Ada celoteh istri. celoteh kambing juga ada koq. Klo anjing, gak ada. Gak ada yang berani miara. Babi, apalagi.

Pandangan aku arahkan ke tembok. Coba nyari, apa yang bisa aku perbuat. Arah mataku jatuh pada kolom meja belajar. Ada benda bundar dengan warna warni. Menarik. “Hmmm, ku tahu yang ku harus perbuat”, kataku sambil senyum.

Bola aku ambil, mainin sembentar. Tendang kearah tembok. “Jder…!”, Istri udah melotot aja. “Bukannya diurusin tuch anak. Suruh mandi udah sore. Malah main bola lagi!”, katanya. Aku copot sarung, lepas baju, cuma pakai kaos dalem doang. Celana kolor. Turun kejalan dan, mulai beraksi.

Gak perlu teriak, begitu aku main bola. Tendang sana, tendang sini, di gojek sendiri, sesekali main sundulan. Tuch bocah, empat-empatnya pada nyamper. Gak pake keluar urat, gak pakai bejam-jam. Sekira lima atau sepuluh menit kemudian, bukan hanya Rangga, tiga temennya udah asyik disekelilingku berebut bola.

Tak buang waktu lagi, “Mandi, makan, tar main bola lagi. Akur?” tanyaku. “Sip! Tos dulu.”

Cuma, imbasnya, aku harus mandi rame-rame juga di jalan. Pakai selang. Niatnya mau mandiin Rangga, lainnya pengin mandi juga. Apes dah. Kalau dikamar mandi, mana muat. Bisa kebaca kejadian selanjutnya. Ganti baju. Makan. Lancar-lancar aja. Sementara bola, “Besok sore, kita adu lagi. Sekarang makan dulu biar kuat. Udah pada pulang sana. Minta makan yang banyak! Jangan mau kalah sama Rangga. Masak, nendangnya loyo gitu”.

Sama itu indah. Sama itu nikmat. Sama itu bisa membuat ‘nyampai’ apa yang ingin kita komunikasikan. Bukan membuat ‘yang lain’ kita paksa untuk sama dengan kita. Tapi, bagaimana kita membuat sama diri kita dengan ‘yang lain’ itu. Samakan unsur. Itu intinya.

“Kalau mau manggil ayam, jangan bilang ‘wek…wek..wek…’ bisa-bisa bebek tuch nyamperin”, intinya gitu deh maksudnya. Jangan disamain anak gue sama ayam yah. Ini, perumpamaan aja. Analogi, bahasa kerennya mah.

Kalau mau dialog sama kambing, jangan mengaum. Bisa gak punya temen. Kabur semua. Begitu pula, kalau mau bersosialisasi sama macan, jangan kebanyakan mengembik, bisa dicaplok dan gak punya perbawa. Kurang greget. Kurang gigi. Gak ada taring. Kurang dianggap.

Dengan bahasa lebih dalam lagi, kalau mau mengenali jiwa, mesti paham dulu bahasa jiwa. Bahasa ruh. Bahasa badan. Bagaimana kalau badan ngantuk, berarti minta tidur. Lapar, minta makan. Capai minta istirahat. Mesti paham bener. Jangan sinyal udang bunyi, “eh, gue penat nih. lemah gitu. udah pengin diistirahatin” kata badan. Tindakan instant biasanya malah minum suplemen.

Contoh paling valid lagi deh. Alquran. Bahasa yang dipakai adalah bahasa nur. Cahaya. Bukan sembarang bahasa arab. Beda, asal tahu saja.

Untuk bisa memahami alquran, mesti “jadi” cahaya dulu. Dalam tanda kutip loh ya. Hanya cahaya yang bisa menyelami cahaya. Malaikat gak perlu berubah, karena emang unsurnya, dasarnya, bahan pembuatnya cahaya. Sementara manusia, asalnya tanah. Cikal bakalnya, dari setetes air mani yang hina. Butuh perjuangan super hebat untuk bisa paham alquran.

Itu pula yang dikatakan ‘tidak menyentuhnya, kecuali orang bersuci’, dalam artian menyucikan hati, menjernihkan jiwa, sering-sering akses ruh ilahiah yang ditiupkan pada jasad ini. Hanya saja, banyak yang ngartiin, “kalau nyentuh quran harus wudhu dulu. bersuci”, kata seorang temen. Boleh aja, silahkan artikan secara seperti itu. Namun, mesti ditinjau juga makna tersirat dan tersurat dibalik kalimat itu.

Bagaimana caranya bersuci. Waduh, butuh pembahasan panjang lagi nih. kembali ke konsep ‘samakan bahasa’ tadi. Sholat malam, tahajud, taubat, dzikir, puasa, dan segala macam makanan jiwa lainnya. Kesukaan ruh. Intinya, mesti sama bahasa dulu antara badani (jasadi), jiwa, ruh. Karena, ketiga komponen (ada juga yang bilang empat (ditambah sukma), silahkan saja) musti punya “key word” alias “kata kunci” alias “bahasa kunci” yang bisa meng-konek satu sama lain. Card interface, boleh lah dikatakan demikian.

Punya beda pandangan? Silahkan.

Jadi, jangan berharap bisa ndeketin macan (apalagi sampai berdialog dan memahami) melalui teriak, “embeeeek, embeeek…” he..he..he..he.. jaka sembung bawa golok sambil nenteng gitar, kagak nyambung tapi gak usah bilang goblok, mending nyanyi sambil nge-jrenk.

Satu pertanyaan buat direnungkan adalah, “untuk berdialog dengan kucing, apakah perlu menjadi kucing, atau hanya dibutuhkan paham cara berdialog (bahasa) kucing?” Pertanyaan ini adalah, untuk menyelami alquran, bahasa nur, apakah perlu jadi nur, ataukah memahami bahasa nur?”. Bagi saya, spirit islam itu, cikal bakalnya dari alquran dulu.

tuch kan, virus itu jadi gemuk begitu nyampe ke aku. tulisan jadi panjang gini. mau hobby nulis juga? makanya, komentar!

Jumat, 24 April 2009

setengah gila

"kamu tuch ya", kata rio. "modal manusia itu cuma satu:nafas. heran saja. umur kan tidak dapat ditukar dengan apapun. koq disia-siakan gitu."

sambil berdecak, rio masih megang koran 'lampu merah' dengan judul super mencolok tentang seorang caleg mati gantung diri. padahal masih muda. cantik pula. cewek? ya iya. masak cowok cantik sih.

kalau mau mikir sih, untuk hidup cuma butuh satu kegiatan. nafas! that's sudah cukup. tak perlu embel-embel lagi. hanya saja, nafas bagaimana yang berpotensi hidup dan menghidupkan. itu yang repot.

orang bisa bertahan hidup karena keinginan, tapi, bisa mati juga (gara-gara) karena keinginan. kira-kira orang yang bunuh diri gitu, waras tidak ya?

hmmm, kata rio lagi sih orang gituan mah setengah gila. mau di reparasi belum boleh karena masih ada unsur warasnya. sementara mau di lepas bahaya juga kalau kambuh sewaktu-waktu.

"lah trus, kalau tiba-tiba bunuh diri gitu, yang sedang merasuki warasnya apa gilanya?" tanyaku. eh, rio-nya gak jawab.

Rabu, 22 April 2009

buangin sampah gue!

Hati-hati berkehendak

Ada seorang supervisor cost accounting. Chinest. Disebuah perusahaan, jika jabatannya sudah spv alias supervisor biasanya mempunyai daya magnet lumayan tinggi. Pengaruh maksudnya. Dimata para staff biasa, orang ini cukup disegani. Disamping ketelitian tinggi, disiplin dan tak kenal kompromi terhadap adanya penyimpangan data (cost gitu loh, duit duit. Oalah duit. Tiap hari berkutat sama perhitungan rugi laba dan cost production, labour cost, dan sejenisnya) yang kurang sreg. Intinya, harus zero defect. Cacat nul. Nihil penyimpangan. Serupiahpun. Udah kebayang, karakter gimana hendak kusampaikan tentang orang ini.

Sebut saja Koh. Tidak lantas, Koh tidak bisa diperintah. Tergantung bagaimana cara memanfaatkan move-energi.

Ceritanya gini nih. Aku bertaruh sebungkus rokok sama temen. Kalau aku bisa membuat Koh membuang sampah dari tanganku. Menyalakan rokok dimulutku. Maka, si temen ini harus membayar dengan dua bungkus rokok untukku. Ya iyalah, masak untuk monyet. Jelas untukku dong. Gimana sih?

Si temen ini ngotot ‘ah, mana mungkin’, secara, biasa urusan job aja mesti adu argument dulu untuk bisa ngalahin dia. Apalagi urusan update data yang jelas-jelas kita salah. Mesti ada berita acara dulu (ngemis istilahnya) baru ia mau berbuat.

Taruhan dinaikkan, untuk dia limapuluh ribu. Untukku cukup (tetap) dua bungkus rokok. Ia udah yakin banget bakal makan nasi padang siang ini. Akupun still yakin aja dengan perbuatanku.

“Koh”, kataku, “transaksi kemarin, ada kesalahan input data dibagian produksi. Sementara, cost sudah terlanjur diposting. Ini, akan berakibat pada posting month and close akhir bulan nanti. Ending balance tidak akan nyambung untuk periode kedepan”

Si Koh, mulai menoleh. “jurus pertama masuk” batinku. Untuk menarik simpati dan perhatian Koh, sengaja aku sodorkan permasalahan yang unik dan merugikan dia. Fatal akibatnya kalau tidak didengarkan. Akhirnya, Koh dengan antusias mendengarkan penjelasanku. Segala proses dan alur transaksi system aku jelaskan secara detail.

Interaksi dialog pun terjadi. Si Koh makin serius. Konsentrasi Koh seratus persen full pada pembicaraan. Ditengah asyik masyuk seperti itu. Perlahan aku keluarkan korek dan rokok yang masih utuh (belum dibuka segel). Dimana, kalau dibuka, harus ada part (bagian) harus dibuang. Inilah, sampah yang harus dibuang sama Koh.

Korek aku sodorkan ke dia. Sambil bercerita tentu saja. Tuch korek, aku peragakan sebagai sebuah data. Sengaja ceritaku se-berbelit mungkin.

Mau tidak mau, ia antusias menyimak. Sangat malah. Begitu pembicaraan makin masuk. aku buka rokok tadi. Dengan sampah masih aku pegang dengan tangan kiri. Sementara, tangan kanan masih pegang rokok.

Dengan body moving, aku atur sedemikian rupa. Sementara pikiranku tetap konsentrasi kearah mata. Memastikan ia semakin terlena dengan ucapanku. Costing gitu loh. Dia pasti super gerah kalau saja kesalahan benar-benar terjadi. Kalau tidak dapat diupdate ia bakalan kebakaran jenggot nantinya.

Sampah (tutup segel rokok yang beberapa menit lalu aku buka) telah berpindah tangan. Si Koh ini tidak menyadari. Aku pun hanya bilang degnan bahasa isyarat, “telunjuk menunjuk tempat sampah disebelah dia”, tanpa ucapan –nyuruh- ia membuang tuch sampah ketempatnya. Ingat, si Koh tetap antusias dan konsentrasi dengan topik pembicaraan.

“Yes”, batinku. Tanpa mengalihkan pembicaraan. Aku melirik ke teman. Ia mulai nyengir akan kecerdikanku. Misi pertama sukses. “Si Koh berhasil aku suruh ngebuangin sampah!” skak mat. Satu kosong buatku. Si temen udah kelihatan lemes aja. Tapi, ia mengacungkan satu jari. Pertanda, masih ada satu misi lagi.

Aku mengeluarkan rokok (sebatang. Ya iya lah. Mau di isep masa dua. Emang mulut gue berapa.), taruh di mulut. Bukan di hidung, tentu saja. Sambil terus meningkatkan interaksi dialog, tanganku berusaha gerayangan dari saku baju. Pindah ke saku celana, kanan, kiri, sambil terus tanganku bergerak mengikuti irama ucapanku (body moving juga) membuat ia semakin berusaha konsentrasi.

Hasilnya, si Koh ini menyalakan korek. Dan, nyus, mendekatkan tangannya kearah mulutku. Puss..pusss..puss. rokokpun nyala.

“Yes!” missiku berhasil dengan sukses. Si temen hanya nyengir. Untuk tidak mengundang kecurigaan, aku tetap melanjutkan topik pembicaraan. Intinya, aku harus menjelaskan lagi bagaimana kemungkinan untuk update data itu. Dimana, jelas-jelas transaksi itu hanya fiktif. Alias, problem yang aku buat-buat. Alias ngibul belaka.

“Oh, iya. Sorry. Aku salah persepsi. Ternyata transak udah benar” kataku. Akupun sambar pesawat aipun dan pura-pura ngecek ke bagian administrasi produksi. “Gimana, prosedur udah dijalankan dengan benar? Oke. Kalau gitu tidak ada masalah. Hanya saja, aku tadi salah dengar.”

Pembicaraan dengan Koh pun selesai sudah. Aku minta kembali korek itu dari tangannya. Dan aku ucapkan, “terimakasih bos. Anda layak jadi body guard-ku. Tanpa sadar anda telah menyalakan rokokku” kataku. Ia pun tersenyum, tanpa merasa tersinggung. Karena memang aku tidak nyuruh. Hanya reaksi spontan.

Sebaliknya, ia juga puas karena telah mendapatkan sharing penjelasan seputar cost specialisasi job-nya. Bahkan, ia berterimakasih juga karena ‘telah diselamatkan’ dari sebuah transaksi yang ‘bisa saja’ membahayakan posting month and closed akhir bulan ini.

Kejadian itu, nyata. Terjadi tahun 2004. si pecundang itu aku sendiri. Dan si temen –yang harus merelakan dua bungkus rokok- teman satu ruangan.

Hendak aku paparkan dari uraian diatas ialah, hati-hati dengan kehendak disekitar anda yang tidak anda sadari. Jangan sembarangan menanamkan keinginan dalam hati. Ingatlah, kekuatan pikiran jauh lebih dahsyat dapat menggerakkan segala sesuatu. Tapi, jauh lebih dahsyat lagi adalah kekuatan hati.

Bila hati anda jernih. Bila jiwa anda suci. Bila pikiran anda bersih. Anda akan dapat menggerakkan gunung hanya dengan “suara batin” anda. Fakta! Aku dapat menggerakkan seorang -supervisor cost accounting yang seorang chainis yang terkenal dilingkunganku sangat tetili dan a lot dalam hal negosiasi- untuk membuangkan sampahku dan menyalakan rokokku. Tanpa ia sadari!

Bisa jadi, anda dengan segala rutinitas keseharian anda adalah si Koh yang begitu serius menyimak pembicaraanku. Dan, aku hanyalah symbol dari transaksi kehidupan yang begitu menggoda dan melenakan. Sementara, anda tidak sadar telah melakukan perbuatan yang hanya menjauhkan dari tujuan hidup itu sendiri.

Waspadalah, anda pun bisa saja membuangkan sampah bahkan menyalakan rokokku tanpa anda sadari. Dan, itu jelas bukan keinginan anda. Kehidupan serba menipu. Jangan lekas percaya apa yang ada di depan anda. Tapi, percayalah dengan apa yang anda pahami dengan hati anda.

Untuk itu, biarkan Tuhan memberikan pendengaran dan penglihatan-Nya ke dalam lubuk hati anda. Waktunya adalah, sepertiga malam terakhir saat anda sujud dengan begitu damai dan khusyuk untuk menyembah-Nya. Disetiap penghujung malam, Ia bersama malaikatnya turun kelangit bumi untuk hamba-hamba_Nya.

Ashsholatu khoirun minannaum…..! Mau?

Jumat, 17 April 2009

menulis adalah...

menulis itu dari dalam jiwa. jika jiwamu murni, menulis akan mengalir tanpa hambatn. jika tak murni? kau harus berlatih mati-matian.

jangan biarkan pikiran merajai aktivitas, biarkan hatimu pegang kendali. perbanyaklah melatih simpati, gali empati, pertajam intuisi. hanya itu satu-satunya cara agar jiwamu suci kembali.

sebagimana bayi dalam kandungan yang baru saja ditiupkan ruh oleh sang maha kreasi. kosong. putih. bersih. masih berupa lembaran siap kau toreh apa saja. sementara tintanya adalah darah setiap saat mengalir dalam diri. tak perlu kau tuntun, ia akan bergerak sendiri.

aku manggut-manggut saat membaca tulisan ini. secara, ada dibuku diary yang biasa aku bawa. lupa juga sih, kapan dan pada saat bagaimana aku menuliskan itu. hanya saja, aku jadi merenung juga gara-gara coretan ini.

berarti, aku harus memurnikan jiwaku untuk dapat memunculkan (ilmu) kesaktianku dalam hal tulis menulis.

caranya?

Senin, 13 April 2009

Saatnya Tanggalkan baju (5)

Dan, akhirnya edaran terakhir. Pas hari minggu (05/04) terakhir masa kampanye aku bikin edaran ini. Sayang saja, hanya nyangkut di ketua RW dan tak sempat diedarin ke warga. Tapi, buat kenang-kenangan aja. Tulisan ini masuk blog juga.

Yuk SMS! Yuuuk SAS

Danau telaga sakinah rata dengan pasir. Seorang muda dengan penuh semangat, walau peluh menetes sepanjang tanah, terus saja bolak-balik memikul sekarung pasir. “Danau ini harus segera penuh dengan pasir-pasir. Pembenahan lingkungan harus segera terjadi”, katanya dalam hati.

Dari aparat setempat, katanya tempat itu hendak dirapikan dan dijadikan arena rekreasi. Taman perumahan. Agar lebih tertata dengan tidak mengurangi fungsinya sebagai resapan dan tampungan air.

Banyak orang hanya melihat. Ada yangmencibir, ada pula yang diam. Masa bodo. Tidak sedikit juga yang mendukung memberikan semangat. Paling banyak adalah hanya bicara memberikan pengarahan bagaimana cara lebih baik.

Pemuda itu tetap dengan apa yang dilakukannya. Ditengah orang yang tidak banyak berbuat, ia terus saja bekerja. “Saya niatkan ibadah, tentang hasil, kapan, dan, bagaimana jadinya, biar menjadi urusan Tuhan saja” katanya.

Narasi diatas hanya fiktif belaka.

Hendak saya sampaikan disini ialah; seandainya seluruh komponen masyarakat sekitar turut andil, bersama-sama menggenggam pasir, melempar ke danau itu. Niscaya, peluh dan kepayahan tidak begitu terasa. Sejuta orang memikul kerja bersama-sama, hasilnya lebih cepat merubah keadaan ketimbang hanya satu orang. Walaupun satu orang itu menggunakan seluruh potensi miliknya.

Membenahi lingkungan tidak semudah membalik telapak tangan. Butuh proses secara berkesinambungan. Butuh pemimpin berdiri didepan. Sangat bergantung masyarakat yangmendukung dibarisan belakang.

Kalau disuatu tempat sering terjadi tindak pencurian, misalnya. Si pencuri tidak sepenuhnya salah. Si tercuri tidak sepenuhnya menjadi korban. Lingkungan sosial juga harus diperhatikan. Begitu pula, si kekurangan (miskin) tidak selalu malas, si kelebihan (kaya) bukan berarti tak peduli. System birokrasi pemerintahan dan tatanan masyarakat wajib dipertanyakan.

Yuk, SMS - Saatnya Mengukir Sejarah!
Yuk, SAS - dukung Saipul Anwar Sadat.


Baik itu dimulai dari rumah. Blok A adalah rumah kita.
Mari kita benahi bersama.


Pilih wakil terdekat dengan rumah kita. Kalau kita ingat dengan seseorang, tentulah orang itu juga ingat kepada kita.

Ingat, kamis 9 April 2009, kesampingkan sejenak urusan pribadi anda! Datanglah ke TPS, gunakan hak pilih anda.

JANGAN golput! Karena dapat mempengaruhi mental “siapapun” yang duduk di dewan nantinya. Sisi manusiawi “semangat berjuang” bisa saja drop. Lemah. Merasa lebih banyak yang tidak butuh pada pemimpin. Berarti, anda –yang mungkin berpikiran tidak ikut pemilu- turut andil dalam menbangun bobroknya mental bangsa ini.

Jika saya dipercaya orang lain, maka saya akan mempertahankan kepercayaan itu. Begitu pula anda, bukan?


Yuk SMS!, Yuuuk SAS.


Salam,
simpatisan untuk kemajuan blok-A


he..he… narsis abis gue. Iya kan?

Yang penting kan hasilnya. 80% warga (dari total daftar pemilih tetap) hadir dan milih. yang tadinya (mayoritas) ngotot golput dan gak mau dateng.

20% (yang gak datang) itupun, kebanyakan orangnya udah gak ada ditempat. Ya pindah lah. Ya pergi lah. Ya meninggal lah.

Dan dari 80% itu, 75% suara masuk ke sang tokoh. Manteb ya? Jangan ditiru loh, kampanye seperti ini. Tapi, buat pemilihan presiden kelak. Boleh lah….

Saatnya Tanggalkan baju (4)

Tukang kompor beraksi

Hasrat hati memeluk gunung, apa daya gunugnya menciut. Ya udah. Kekep ajah. Gitu kata aku mah.

Sekian lama memendam keinginan. Akhirnya terbongkar juga. Gerak jalan itu hanya untuk mengundang simpati sekaligus mengenalkan “sang tokoh” dilingkungan sendiri. Secara, orang penting, kan otomatis jarang bersambang dipelosok-pelosik gang. Meskipun itu komplek hunian sendiri. Untuk itu, harus dikenalin juga.

Inti dari pelaksanaan gerak jalan adalah saat pemotongan pita. Balon pun terbang kesana kemari. Dihadiri oleh 1200 peserta, mulai dari orok yang masih digendong, didorong pakai sepeda bayi, keranjang bayi, anak-anak batita, balita, sampai abg. Juga bapak-bapak, emak-emak, nenek-nenek, kakek-kakek. Komplit pokoknya. Kalau perlu kambing piaraan juga didaftar kalau bisa ngomong mah.

Balon disiapin, diikat diatas hadiah utama (sepeda) trus, datang deh sang maestro. Dengan pakaian olahraga, sepatu kets putih. Ia nangkring diatas panggung. Dan, tress… putus dah tuch tali. Si tokoh pun tersenyum manis dan langsung jalan paling depan. Dan, itulah mereka baru tahu dan kenal langsung dalam artian lihat dari dekat. Face to face. Karena, selama ini mereka (para warga) hanya kenal nama dan nyaris tak pernah ketemu.

“Begitu saya teriakkan ‘kita bersaudara’, hadirin harus menyambut dengan ‘aku suka bekerja sama’, begitu pun kalau dibalik” kataku berseru. Tukang jual obat aja dijamin kalah dah. Antusias bener mereka. Karena aku bilang juga, barang siapa bergaya paling unik langsung dapet hadiah tanpa diundi. Kontan aja tuch. Ada yang jinkrak-jingkrak. Ada yang pekik merdeka segala.

Kinim, musim coblos mencoblos telah lewat. Yang ada adalah contreng mencontreng. Akhirnya, siapa yang dikenal itulah yang dipilih.

Tugas “memperkenalkan” inilah yang harus aku (dan teman-teman) perjuangkan. Masih dengan system edaran juga. Menjelang hari pemili (masa kampanye) edaran demi edaran ku tulis mulai beraksi. Ini nih, yang pertama.

Saatnya mengukir sejarah


2010 siklus banjir 5 tahun-an. Blok A, telaga murni terendam. Hah…?! Yang bener?


Seorang warga di blok A6 terbangun dari tidur. Air telah masuk rumah! Ternyata hujan yang mengguyur sejak sore, pagi itu telah bermain-main ke kamar warga. Air memang tak bisa dilarang. Kemana saja pengin masuk, disanalah berada.

“kemana nih, orang-orang. Saya kebanjiran begini tidak ada yang keluar satu pun”, pikirnya. Intip tetangga sebelah. Kasur berenang diruang tamu, sementara pintu terkunci. Orangnya masuk shift malam.

Bergegas kearah timur, ternyata di dekat irigasi telah banyak orang kerjabhati mengeruk parit dan sungai kecil itu. “baru bangun? Kebanjiran juga toh?” tanya seorang. “iya. Kirain saya aja, koq sepi pada kemana. Tak tahunya disini sudah ramai”, jawabnya.

Kejadian itu terjadi beberapa waktu menjelang akhir musim hujan awal maret lalu. Terdokumentasi, lapangan bulutangkis RT-02 telah dipenuhi oleh air. Ya, benar. Air hujan. Banjir! Tidak banyak yang tahu memang, tapi, dari tulisan ini anda jadi paham. Blok A pernah ada banjir dan sudah masuk kerumah warga. Saat itu anda tidur pulas, karena, kejadian jam 2 dini hari.

“wah, 2010 nanti, bisa kerendem nih blok A” canda orang itu. “jangan lah. Gak enak banjir itu. Kita harus kerjabhakti, benerin saluran air. Rapiin jalan kalau perlu”

apa yang terlintas dari narasi singkat diatas?

Untuk membenahi lingkungan, tidak bisa sendiri. Harus bersama-sama. Bareng-bareng. Rame-rame. Kompak!

Terpenting adalah, tahu jalur briokrasi untuk minta bantuan. Tambahan dana, misalnya. Harus tahu kemana mintanya, bagaimana caranya, siapa yang harus dihubungi dan tentunya prosedurnya tidak boleh dilupakan.
–Harus ada aparat bergerak!-

Kita butuh pemimpin. Itu sudah pasti! Tapi, pemimpin yang kenal, ngerti, tanggap lingkungan dimana kita tinggal. Mudah dihubungi, loyal terhadap masyarakat, terbukti sudah berbuat untuk blok A, ini yang mesti dipikirkan.

Masjid tidak berada dengan sendirinya di blok A. ada jalur birokrasi harus ditempuh untuk mendatangkan bantuan dari Uni Emirat Arab. Pos yandu, lapangan, fasilitas sosial, dan juga berbagai kegiatan, tidak mungkin ada tanpa campur tangan pemuka masyarakat dan aparat pemerintahan.

Anda tahu, siapa yang kenal dan terdekat dengan blok A?

Renungkan. Kita butuh TPA, Sekolah mini, balai pertemuan dengan semarak kegiatan ibu-ibu dan bapak-bapak serta anak-anaknya. Siapa (pemimpin) yang dekat dengan kita, kenal kita, pernah membaur, bahkan menganggap saudara?

Saatnya mengukir sejarah. Torehkan “100% warga blok A mendukung SAS untuk menyalurkan aspirasi di kursi legislatif”

Hamzah Haz, pemilu lalu baru 98% didukung oleh masyarakat dimana ia tinggal. Tapi, tahun ini, blok A telaga murni, akan mengukir sejarah, satu-satunya di Indonesia, bahkan didunia yang 100% warganya mencoblos di bilik suara 9 april 2009 mendatang. Dan, contrengannya adalah seragam. SAS.

Ini bukan untuk kepentingan apa dan siapa, melainkan akan kembali ke blok A. satu orang saja tidak menggunakan hak pilih dengan benar, angka 100% tidak mungkin terealisasi.

Saya yakin, blok A adalah satu keluarga. Semangat bersatu sangat tinggi. Saling bahu-membahu dalam hidup bermasyarakat.

Satu suara anda, sangat menentukan sejarah ini dapat terjadi. Seumur hidup anda akan bangga, karena pernah tinggal di blok A. dan menjadi bagian dari satu suara bulat -100% SAS.

Uang satu juta, jika kurang satu rupiah saja, gugur-lah predikat sejuta itu. Suara anda sangat berharga untuk kehormatan blok A.

kita adalah warga blok A. kita adalah saudara. Keluarga besar blok A akan mengukir sejarah di pemilu 2009 ini. Amin. Dari caleg DPD, DPRD2, DPRD1, DPR pusat. Khusus DPRD2, tanggalkan (baju) kepartaian –utamakan kehormatan keluarga.

Koran, radio, televisi, akan menyiarkan sejarah ini. mau?
Judul beritanya, “sebuah perumahan di cikarang barat-bekasi- sangat kompak!” dan, salah satu diantara anda akan diwawancarai.


Kita bersaudara! Aku suka bekerjasama.
Aku bangga tinggal di blok A.


Salam,
simpatisan untuk kemajuan blok A



Ya, benar. Edaran ini aku copy lebih 400 lembar. Kembali, bersama aparat RW dan seluruh RT yang ada di blok A telaga murni, satu persatu, pintu perpintu diketuk dan dikasih selebaran ini.

Saatnya Tanggalkan baju (3)

Tahab berikutnya adalah, aku membuat selebaran. Dengan sedikit provokatif dan nyentrik. Kata-kata aku pilih sedemikian rupa. Sayang aja, aku gak bisa nyantumin di blog ini secara lay-out sebenarnya aku buat. Padahal komposisi tulisan maupun warga, luar biasa bagus bagnet loh. Secara, penulis amatiran gitu.

Kata-katanya kurang lebih seperti ini nih.

jangan lewatkan
jalan santai berhadiah, menyongsong agustus-an
kita bersaudara! Aku suka bekerjasama
balonku ada lima, rupa-rupa warnanya. Hijau kuning kelabu, merah muda dan biru
meletus balon merah duar! Hilang semua prasangka

minggu, 03 agustus 2008
jam 06:00 berangkat dari blok A
jangan terlambat ya, karena hadiah utama di undi sebelum berangkat.

route,
menuju lapangan depan telaga sakinah, istirahat sejenak. Kembali lagi ke blok A
hadiah hiburan : tas, tempat pensil, mainan anak-anak, kaos, sepatu, dan masih banyak lagi

sering kebingunan cari lilin saat mati lampu? Kami sediakan 5 buah Emergency lamp untuk anda.

pengin dapet handphone gratis? Datang deh… ada 2 lho HP-nya….

atur jadwal rutin anda, jangan sampai terlewatkan. Luangkan waktu cukup 2 jam.
adik-adik suka balon?

panitia menyediakan (+-)500 buah lho, semuanya gratis!
WAW! hadiah utama, Sepeda! mau?

pendaftaran, GRATIS. Hubungi ketua RT masing-masing untuk mendapat info selengkap-lengkapnya.

eh, ada satu lagi nih. Bagi peserta yang bisa menjawab soal yang diberikan oleh panitia, hadiah unik berhak anda bawa pulang.

sssttt…. Jangan bilang-bilang ya, ini bocoran seputar pertanyaan : siapa nama ketua RT 03, siapa bendahara RT 04, tetangga sebelah namanya siapa,
apa nama masjid di blok A, fasos & fasum di blok A ada apa saja, berapa kali got depan rumah dibersihkan, siapa nama tokoh dlm edaran pertama.
ups… kebanyakan ya, bocorannya.

Intinya, pertanyaan gampang² aja koq. Pasti bisa dijawab, karena hanya seputar sosial lingkungan bermasyarakat.

tapi, kalau mau tahu lebih banyak. Tidak ada salahnya sih nglobi ketua RT, siapa tahu dikasih bocoran lebih banyak lagi.

hmmm, apa lagi ya. Tuh kan, hampir saja lupa. Kalau masih ada sisa anggaran, kegiatan ini akan di-CD-kan.

wah, pasti seru dech kalau dilihat 2 atau 5 tahun mendatang. Ternyata warga blok A sangat kompak!

Gerak jalan santai, ikut semua. Ada 5 kamera digital untuk mengabadikan acara ini. Termasuk 1 handycam.


Acara ini lumayan sukes. Dari target peserta 800-an orang. All in. maksudnya all ini adalah semua warga dari mulai orok sampai nenek-nenek. Hadir. Eh, peserta membludak. Total lebih dari 1200 peserta. Bahkan ada tetangga komplek yang ikut nyelonong jadi peserta gelap juga. Terang aja, Cuma dapet snack doang. Gak boleh bawa hadiah pulang.

Akhirnya, dari total hadiah yang semuanya aku belanja sendirian. Ke mangga dua. Pasar nelayan. Pasar petak. Dari mulai mobilan, boneka kecil, tas segala ukuran, sampai sepeda ukuran sedang dengan merek united. Aku semua yang beli. Secara, team kami sudah ada bagian masing-masing. Udah gitu mereka (masing-masing ketua RT) mesti ngontrol pelaksanaan tanding tujuh belasan.

Walau akhirnya, mereka harus kecewa. Karena, piala utama jatuh ke aku juga. Ha..ha..ha..ha.. terimakasih buat seluruh rekan-rekan seksie olahraga atas kerjakerasnya.

Saatnya Tanggalkan baju (2)

Awal perjuangan itu

Sekira pertengahan tahun 2008, menjelang agustusan. Telah ada desas-desus maupun issue terpendam mengenai “akan dicalonkannya” seorang teman menjadi caleg. Dari sini, kemudian pengaruh mulai dicari. Pertama-tama adalah para pengurus RW dan juga RT setempat mulai digalang perhatiannya.

Saat itu kami, para pengurus pemerintahan setempat (selevel RT loh ya. Pak lurah dan keamanan setempat juga kami libatkan) mencoba mengadakan kegiatan yang bisa diikuti oleh seluruh warga. Dan, inilah memoir itu diawali.

Gerak jalan santai. Topik inilah aku coba sodorkan dengan berbagai proposal dan cara pelaksanaan. Setelah dialog dan negosiasi mengenai budgeting, akhirnya disetujui. Untuk penarik massa pertama, aku coba gunakan system edaran.

Segera, kami berlima waktu itu, rapat mendadak secara singkat dan jelas. Membahas dari awal sampai akhir. Untuk mendukung suasanya, aku sodorkan sebuah budget bahwa, untuk mebahas seperti ini butuh tempat khusus, suasana khusus, dan tentu saja jamuan khusus. Aku pilihlah tempat makan “riung bandung” (eh, di cikarang ada juga loh. Kirain dibandung aja) depan hotel perdana. Waw, teman-teman semangat abis kalau rapat ditempat gituan. Dan, hasilnya, luar biasa. Bukan hanya rencana mateng tapi juga konsisten bersama untuk saling bekerja keras.

Dan, inilah edaran itu. Aku ketuk pintu per pintu setiap warga. Kasih rumah per rumah.

Sifat : edaran
GERAK JALAN SANTAI menyongsong PERAYAAN 17 AGUSTUS 2008
Slogan : Kita Bersaudara! Aku Suka Bekerjasama

Rumahku surgaku
Klowor, seorang siswa SMP swasta di Bekasi. Baru kelas dua. Setiap pagi berangkat sekolah, pulang pun tak pernah telat. Sehari-harinya juga menjadi anak penurut dan rajin membantu orang tua. Ia baik, ramah, hanya saja sedikit tertutup. Sayangnya, ia tidak begitu akrab dengan tetangga.

Sore itu, jam lima sore Klowor ditegur keras Bapaknya. Apa pasal? Ternyata surat panggilan dari sekolah untuk orang tua murid agar datang ke sekolah karena sering bolos. Setelah diusut, klowor memang berangkat dari rumah. Tapi parkir di Ply Station sampai jam sekolah bubar.

Antara percaya dan tidak, tapi terjadi. Klowor begitu baik dan pendiam di rumah, siapa sangka tak terkendali di luar. Dan tahukah anda, si Klowor ini anak dari salah satu tetangga di blok A. sebenarnya ada salah seorang tetangga melihat bolos, tapi “biarin aja lah, bukan anakku ini. Toh pertanggungjawaban di akherat tidak mungkin tertukar”, batinnya.

Lain Klowor, lain pula Pak Jagur
Pagi jam enam pergi kerja, sore hari menjelang magrib baru nyampe rumah. Sabtu minggu terkadang lembur, kalaupun libur dimanfaatkan untuk memperdalam ilmu agama. Majelis taklim diluar perumahan. Sholat jamaah di masjid selalu aktif, dari subuh hingga isyak. Selain dhuhur dan ashar tentunya, karena sudah pasti di tempat kerja. Ia tidak begitu pusing dengan urusan anak, karena istrinya sebagai ibu rumah tangga selalu di rumah. Anaknya pun baru satu, umur dua setengah tahun.

Yang menjadikannya aneh adalah, Pak Jagur selalu aktif dengan pengajian di luar komplek, padahal sudah ada masjid. Ironis memang, masjid sendiri malah jarang dikunjungi. Meskipun sudah lebih empat tahun tinggal. “Oh, saya kan berbeda pandangan”, bisiknya dalam hati. Padahal sesama mukmin bersaudara.

Beda lagi dengan Bu Sumringah
Ia seorang ibu rumah tangga tulen, sehari-hari berkecimpung dengan pekerjaan dapur dan anak yang baru TK nol kecil. Aneh bin ajaib, si ibu ini tidak pernah keluar rumah. Alasannya, hanya memperbanyak dosa karena ngrumpi. Sampi-sampai pengajian yang diadakan untuk seluruh warga pun tidak mau datang. Paling tidak, ia mencoba menerapkan apa yang sempat ia tangkap dari ustadzah “bicara yang baik, atau diam”.

Apa yang kurang dengan blok A, kenapa kegiatan terasa kerontang? Beberapa orang yang potensial dan berilmu justeru merasa lebih dibutuhkan aktif diluar.

-----------&-----------

Ketika terjadi penyelewengan moral, misalnya. Reaksionis langsung terjadi. “ayo, tangkap saja. Gerebek rame-rame. Ini sudah mencemari lingkungan kita”. Atau juga dalam skala besar, penyesatan aqidah –penyimpangan ritual- selayaknya ahmadiyah. Anarkis pun tak terelakkan, “bubarkan, bakar masjidnya”. Kenapa bisa se-sensitive itu ya? Kenapa harus ber-orientasi jauh keluar, padahal lingkungan sendiri butuh pertolongan. Bagaimana dengan keanehan sosial, Apakah secepat itu reaksinya? Hidayah memang mutlak milik Tuhan. Tapi, dakwah dengan orang terdekat rasanya tidak merugikan. Menguntungkan malah.

Krisis kontrol sosial, agaknya sudah menggejala. Sangat berbahaya untuk generasi mendatang.

Pernah mengamati pelangi?
Me-ji-ku-hi-bi-ni-u atau merah jingga kuning hijau biru nila dan ungu. Merahnya sangat kuat, begitu pula kuning ataupun hijau. Tapi, TIDAK ADA GARIS PEMBATAS antar warna. Dari merah perlahan pudar, samar bercampur semi jingga akhirnya jingga penuh. Begitu seterusnya sampai ungu. Sama-sama kuat karakter warnanya tapi berdampingan harmonis tanpa garis pembatas, hingga membentuk keindahan. Coba satu warna, bukan pelangi namanya. Tidak akan pernah ada lagu “… merah kunging hijau, dilangit yang biru…pelukismu agung, siapa gerangan ….”
-----------&&-----------

Hari minggu, tanggal 22 juni 2008. pengajian ibu-ibu tingkat RW, seharusnya bisa dihadiri oleh tiga tarus enam puluh lima. Kenyataan hadir hanya kurang lebih dua puluh lima orang. Pengajian bapak-bapak lebih parah lagi malah. Paling banter sepuluh orang, itupun empat orang diantaranya terkantuk-kantuk nyandar di tembok. Saat ada season Tanya jawab “… kalau ada yang mau ditanyakan, silahkan…” kata Ustadz. Sepi. Langsung do’a penutup. Wasalam.

Pengurus yang hanya itu-itu saja, sampai putus asa. Bagaimana caranya agar pengajian bisa semarak.

Apakah memang harus seperti ini lingkungan blok A perumahan telaga murni. Apakah sudah tidak mungkin lagi, cerdas secara sosial?
Bisa, pasti bisa. Caranya? Kerjasama. Endapkan dalam hati slogan ini “Kita Bersaudara! Aku Suka Bekerjasama”

Latar belakang daerah dengan beragam culture budaya bahkan seni beribadah bukan hal yang tidak bisa dipadukan. Sulit memang. Tapi, harus optimis. Bukan hanya rumahku surgaku yang akan tercipta, tapi lingkunganku surgaku tidak mustahil dapat terlaksana. Dengan catatan, si merah tidak menonjolkan merahnya, si kuning tidak angkuh dengan kuningnya, si jingga tidak ngotot paling benar dengan jingganya. Begitu pula si hijau, si nila, si ungu. Tidak saling mempertegas garis pemisah, tetapi saling berbaur agar tercipta kebersamaan.
-----------&&&-----------

Untuk itulah, kami selaku pengurus RW akan mencoba mengadakan kegiatan yang dapat diikuti oleh seluruh warga blok A dari mulai bayi, anak-anak, remaja bahkan orang tua.

Catat hari dan tanggal pelakanaannya. Minggu, tanggal 03 agustus 2008. gerak jalan santai atau kami singkat gelasan dengan mengambil route; blok A menuju lapangan bola depan telaga sakinah. Kemudian kembali lagi. Jarak yang ditempuh sekitar 950 meter. Atur rencana anda, jangan sampai dilewatkan acara ini.

Kami, selaku team panitia gelasan akan mencoba menggali dana dari para donatur (bukan iuran warga) demi meriahnya agenda ini. Hadiah dan doorprize serta cindera mata dengan total jutaan rupiah telah kami targetkan. Satu hal lagi yang menarik, kami akan membagikan gratis satu buah balon kepada seluruh anak-anak yang mengikuti. Pastikan, jangan sampai anak anda ketinggalan.

Tunggu ketua RT mendata kembali warganya. Jangan sampai terlewat. Kegiatan ini gratis dan tidak dipungut biaya sepeserpun. Hadiah utama? Insya Allah ada.


Salam,
Panitia gelasan.

Ps : edaran ini bukan pertama. Akan ada edaran-edaran berikutnya. Catat dan ingat beberapa point penting, bagi yang bisa menjawab pertanyaan panitia seputar edaran ini, hadiah menarik berhak menjadi milik anda.


secara, edaran ini bertujuan untuk memperkenalkan acara yang akan diusung itu. dan ternyata, efektif juga. hasilnya, postingan berikutnya deh.

Saatnya Tanggalkan baju (1)

Perjuangan itu tidak sia-sia.

Sabtu (11/04) sekira jam setengah satu siang. Selepas dhuhur. Hp nokia jadul dimeja kuraih. Sepotong nomer kutuju dan tak berapa lama….

“Halo. Sadat gimana?”

“Sudah aman pak. Dari procentase pemilih yang masuk, hanya butuh minimal 12000 suara. Sekarang udah masuk 8000. Pasti dapet”

“Okelah, gak sia-sia perjuangan kita. Yang aku tanyakan adalah lingkungan kita”

“Aman pak. Dari wilayah kita, RT 01 dan 02 di TPS 56. total undangan….”

“Bentar bentar. Aku ambil pulpen dulu” sergahku. “Yuk. Lanjut!”

“TPS 56 dari 488 DPT, datang dan milih 394 orang. Masuk ke suara Sadat 296. nyoblos partai 9. jumlah suara rusak 7. sementara, dari RT 03 & 04 yang di TPS 57 meskipun menghawatirkan karena ada golkar dan demokrat, tapi, masih unggul. Dari DPT 430 yang datang nyoblos 324. masuk suara Sadat 180 orang. Golkar…”

“Sip! Berarti kita berhasil menggiring warga di TPS 56 dengan 75% mendukung. Sementara 55% dari TPS 57. Angka yang cukup untuk kita sodorkan jika suatu saat kita butuh bantuan”

Secara singkat, aku bikin kalkulasi ringan. Ternyata, dari total kehadiran warga yang tadinya kenceng di golput alias tak mau milih. Lebih 80% orang berbongong-bondong datang ke Tempat pemungutan suara. Sementara dari TPS satunya lagi, memang lebih rengah. Hanya saja –aku bilang- masih diatas rata-rata. Yaitu 75%. Mengingat dari seorang temen di kawasan Jakarta utara, ada sebuah tps dengan kehadiran cuma 20%.

Kemudian, aku tulis pesan singkat. “Harapan tidak pernah datang dengan sendirinya. Harapan harus kita ciptakan. Dan, keyakinanku berkata, bahwa engkau saudaraku, mamapu menciptakan harapan itu. Selamat berjuang! Salam, Salwangga”. Sent.

Hanya dalam hitungan detik, HP kembali bunyi. “Terimakasih Pak Sal atas dukungannya. Semoga, harapan dapat kita ciptakan sesuai tujuan bersama.” Dari seorang caleg yang aku dukung. Yang namanya SADAT itu. Dan, tentu saja aku perjuangkan segenap kemampuan supaya dapet suara penuh dari lingkunganku sendiri.

Mungkin, ada yang bingung. Postingan apa ini, koq tentang suara segala.

Baiklah, aku coba petakan. Paling tidak ini adalah memoir atau kenang-kenangan perjuanganku atas seorang teman, saudara, tetangga, bahkan sahabat yang mencalonkan diri menjadi caleg di komplek aku tinggal.

Rumahku, type 21/60, berada dikawasan cikarang barat. Namanya, Telaga Murni. Memang sih, tidak ada telaganya. Konon, dari cerita masyarakat setempat, kawasan itu dulunya (tahunnya gak disebutin. Pokokny duluuuu aja) sebuah rawa. Nama kampungnya pun rawa keting. Ada sebuah pengembang tertarik dengan kawasan itu. Maka jadilah komplek hunian. Perumahan.

Blok A adalah sebuah hunian kecil dengan kapasitas 425 kepala keluarga. Karena tempatnya yang terpisah dengan blok Telaga Murni lama, maka dijadikanlah satu RW. Terdiri dari 4 RT. Di sini ada 2 TPS. Kalau satu dikhawatirkan tidak cukup menampung dafter pemilih tetap yang ada.

Secara, caleg ini tinggal sini juga. Maka, mau tidak mau atas dasar pertimbangan rasa kekeluargaan. Kami, harus mendukung si “sahabat” tadi. Meskipun, sejatinya beda partai. Tapi, bolehlah secara bertahap aku coba postingkan di blog ini. Sekali lagi, ini adalah kenang-kenangan buat aku sendiri. Siapa tahu ada blogger yang baca, terus, ada yang kenal dengan daerah itu.

Meskipun, ini adalah “kecil” dibanding puluhan ribu suara yang dibutuhkan untuk membetot si caleg agar dapat duduk di kursi dewan, tapi, suara kami sangat menentukan. Kenapa?

Secara logika gini. Itu caleg tinggal di komplek kami. Setiap hari boleh dikata aku lewat didepan rumah dia. Yang namanya kehormatan, aku bilang, dimulai dari rumah. Asalkan tuch caleg gak jelek-jelek amat, bisa kerjasama, profil kepemimpinan ada, tidak pelit, bisa berpolitik, bisa memperjuangkan hak-hak lingkungan, buruh, orang kecil. Tidak ada alasan untuk tidak didukung.

Akhirnya, dari yang semula banyak issue berhembus “tidak ada caleg yang layak. Semua partai sama saja. Orang-orangya gak bener. Tukang korupsi. Mendingan golput. Gak usah milih”, dan sebagainya. Lingkungan kami berhasil mebawa 80% warga untuk nyoblos dan ikut active dalam menggunakan hak pilihnya.

Oh iya, secara hukum, kebetulan saat ini aku masih menjabat jadi ketua RT. Jadi, inilah kenang-kenangan termanis yang dapat aku persembahkan buat “sejarah”. Meski kecil-kecilan. Tapi, guratan ini tak akan pernah lekang di pelupuk kami. Saya terutama. Kalau untuk menorehkan sejarah besar, aku kan bukan Ken Arok yang berani membunuh raja untuk kemudian berkuasa. Aku juga bukan orang nekat, yang tiba-tiba saja menodongkan pistol di kepala bapak presiden dan memaksa hengkang, lalu aku duduki kursinya.

Terpenting adalah, kami semua bisa kompak.

Rabu, 23 Januari 2008

oyot gatel

dalam keseharian anak - anak jogja tentunya mengenal oyot suket yang dapat mengobati rasa gatel yang diakibatkan oleh sabetan atau goresan daun dan batangnya. tumbuhan ini dikenal dengan bahasa setempat dan daerah setempat dengan "lateng".