kukira aku benar terpikat
ternyata akalku sedang tak ditempat
silap oleh tipuan setan laknat
cuma terjebak menjadi keparat....
kapan aku berangkat?
Tampilkan postingan dengan label Uneg-Uneg. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Uneg-Uneg. Tampilkan semua postingan
Rabu, 26 Agustus 2009
Jumat, 19 Juni 2009
burung blo'on
petikan "kira-kira loh ya", ustadz yusuf mansur dalam taujih dhuha. gak persis kayak gini sih, cuma, latihan mengingat sambil nulis aja.
dalam sebuah pertemuan ilmu, seorang guru bertanya pada muridnya , "burung apa yang gak bisa terbang?"
ada yang menjawab burung sakit. burung kejepit, burung tenggelam, burung patah sayap. beragam dah pokoknya. kemudian, dilanjut sama guru tadi. "yang benar adalah burung malas", katanya.
namanya burung tentu punya sayap. udah tahu punya sayap, kenapa gak terbang. padahal terbang itu indah, bisa melihat angkasa. melihat keindahan alam. menikmati semesta. boleh jadi karena memang bener-bener pemalas atau, tidak ada rasa ketertarikan sama keindahan. mati rasa dah pokoknya.
lebih parah lagi, kalau ada burung yang gak bisa terbang karena dia gak tahu kalau sebenarnya dia punya sayap, gak nyadar. jelas-jelas nempel di badan, koq sampai tidak merasa. burung apa klo seperti ini namanya? jelas aja burung bego. bahlul. tolol. blo'on. trus, apa lagi?
itu burung loh.
sekarang yang berhubungan dengan manusia. kewajiban manusia sebenarnya cuma satu loh. apa itu? sholat. berarti orang hidup didunia mesti sholat terus dong. ibadah terus dong. gak perlu nyari dunia! kacau itu mah!
tahan dulu. bukan itu penjabarannya. "amalan yang lain itu tergantung sholatnya. kalau sholatnya baik, maka baik seluruh amalannya. begitu pula kalau jelek sholatnya, jelek pula seluruh amalannya". dari sini jelas, bahwa sholat ialah indikator utama untuk menilai amalan seseorang. kalau hidupnya amburadul, sementara ngakunya sholatnya bener. trus, gimana tuch? tampangnya alim, jenggotnya panjang, jidatnya hitam, tapi, kelakuannya kacau. trus, gimana juga tuch? emang bisa yang kayak gitu dikatakan sholatnya bagus?
soal sholat bagus ini, ada juga tuntunannya. ibarat burung, sholat juga punya sayap. apaan tuch? qobliyah ba'diyah, tentu saja. kalau ada orang yang masih belum ngejalanin sunnat rowatib, bearti, tuch orang sama saja burung yang gak bisa terbang. bisa males. bisa blo'on.
tinggal pilih dah yang mana. klo males, berarti udah tahu klo sholat wajib itu ada qobliyah ba'diyah, tapi tetap aja gak dijalanin. kalau blo'on, berarti gak nyadar, alias gak tahu klo sholat wajib tuch ada qobliyah ba'diyahnya. udah berapa tahun ngejalanin sholat, masih gak paham soal "sayap" nya sholat wajib.
trus, dilanjut lagi nih. qobliyah ba'diyah itu, termasuk sunnah. tapi, muakkadah. sunnat yang dianjurkan. sangat dianjurkan. bagaimana mungkin burung bisa meresapi keindahan hidup, keindahan alam, keindahan semesta kalau tidak terbang. bagaimana mungkin sholat bisa mengarungi kenikmatan sipiritual kalau tidak disempurnain sama yang sunnah. gitu, sederhananya mah.
soal muakkadah ini, bukan cuma qobliyah ba'diyah doang. ada yang tak kalah penting juga. ialah dhuha. dan, masih banyak lagi. hanya saja, untuk dhuha memang kayak masih asing gitu. masih jarang orang ngejalanin. bagaimana sih, koq sampai orang pada jarang dhuha?
pertama, bisa jadi emang tuch orang kagak tahu. makanya kita kasih tahu. tentang fadhilahnya, keutamaannya, dan seluk beluk lainnya.
kedua, berada di lingkungan yang tidak me-familiar-kan dhuha. contoh saja kayak perkantoran, sekolahan, intansi pemerintahan. kalau tidak ada iklim per-dhuha-an, mana mungkin orang jadi tertarik buat ngelakuin. inilah, fungsinya membentuk serikat. koloni. komunitas. benahing bareng-bareng. biar kerja tuch ada maknanya. hidup ada maknanya. pokoknya penuh makna gitu dah.
ketiga, system pendidikan yang membentuk manusia, di indonesia ini, memang tidak ada yang me-wajib-kan dhuha sedari kecil. wajib disini kayak semacam kegiatan, "dilaharang masuk kelas sebelum sholat dhuha 2 rokaat". atau minimal, "setiap hari jumat pagi, seluruh siswa wajib dhuha bareng-bareng di lapangan. coba kalau dari kelas 1 sd sudah digalakkan kayak gitu. umur 30-an udah gak bakalan 'baru ribut' latihan dhuha dah. he..he..he..
dalam sebuah pertemuan ilmu, seorang guru bertanya pada muridnya , "burung apa yang gak bisa terbang?"
ada yang menjawab burung sakit. burung kejepit, burung tenggelam, burung patah sayap. beragam dah pokoknya. kemudian, dilanjut sama guru tadi. "yang benar adalah burung malas", katanya.
namanya burung tentu punya sayap. udah tahu punya sayap, kenapa gak terbang. padahal terbang itu indah, bisa melihat angkasa. melihat keindahan alam. menikmati semesta. boleh jadi karena memang bener-bener pemalas atau, tidak ada rasa ketertarikan sama keindahan. mati rasa dah pokoknya.
lebih parah lagi, kalau ada burung yang gak bisa terbang karena dia gak tahu kalau sebenarnya dia punya sayap, gak nyadar. jelas-jelas nempel di badan, koq sampai tidak merasa. burung apa klo seperti ini namanya? jelas aja burung bego. bahlul. tolol. blo'on. trus, apa lagi?
itu burung loh.
sekarang yang berhubungan dengan manusia. kewajiban manusia sebenarnya cuma satu loh. apa itu? sholat. berarti orang hidup didunia mesti sholat terus dong. ibadah terus dong. gak perlu nyari dunia! kacau itu mah!
tahan dulu. bukan itu penjabarannya. "amalan yang lain itu tergantung sholatnya. kalau sholatnya baik, maka baik seluruh amalannya. begitu pula kalau jelek sholatnya, jelek pula seluruh amalannya". dari sini jelas, bahwa sholat ialah indikator utama untuk menilai amalan seseorang. kalau hidupnya amburadul, sementara ngakunya sholatnya bener. trus, gimana tuch? tampangnya alim, jenggotnya panjang, jidatnya hitam, tapi, kelakuannya kacau. trus, gimana juga tuch? emang bisa yang kayak gitu dikatakan sholatnya bagus?
soal sholat bagus ini, ada juga tuntunannya. ibarat burung, sholat juga punya sayap. apaan tuch? qobliyah ba'diyah, tentu saja. kalau ada orang yang masih belum ngejalanin sunnat rowatib, bearti, tuch orang sama saja burung yang gak bisa terbang. bisa males. bisa blo'on.
tinggal pilih dah yang mana. klo males, berarti udah tahu klo sholat wajib itu ada qobliyah ba'diyah, tapi tetap aja gak dijalanin. kalau blo'on, berarti gak nyadar, alias gak tahu klo sholat wajib tuch ada qobliyah ba'diyahnya. udah berapa tahun ngejalanin sholat, masih gak paham soal "sayap" nya sholat wajib.
trus, dilanjut lagi nih. qobliyah ba'diyah itu, termasuk sunnah. tapi, muakkadah. sunnat yang dianjurkan. sangat dianjurkan. bagaimana mungkin burung bisa meresapi keindahan hidup, keindahan alam, keindahan semesta kalau tidak terbang. bagaimana mungkin sholat bisa mengarungi kenikmatan sipiritual kalau tidak disempurnain sama yang sunnah. gitu, sederhananya mah.
soal muakkadah ini, bukan cuma qobliyah ba'diyah doang. ada yang tak kalah penting juga. ialah dhuha. dan, masih banyak lagi. hanya saja, untuk dhuha memang kayak masih asing gitu. masih jarang orang ngejalanin. bagaimana sih, koq sampai orang pada jarang dhuha?
pertama, bisa jadi emang tuch orang kagak tahu. makanya kita kasih tahu. tentang fadhilahnya, keutamaannya, dan seluk beluk lainnya.
kedua, berada di lingkungan yang tidak me-familiar-kan dhuha. contoh saja kayak perkantoran, sekolahan, intansi pemerintahan. kalau tidak ada iklim per-dhuha-an, mana mungkin orang jadi tertarik buat ngelakuin. inilah, fungsinya membentuk serikat. koloni. komunitas. benahing bareng-bareng. biar kerja tuch ada maknanya. hidup ada maknanya. pokoknya penuh makna gitu dah.
ketiga, system pendidikan yang membentuk manusia, di indonesia ini, memang tidak ada yang me-wajib-kan dhuha sedari kecil. wajib disini kayak semacam kegiatan, "dilaharang masuk kelas sebelum sholat dhuha 2 rokaat". atau minimal, "setiap hari jumat pagi, seluruh siswa wajib dhuha bareng-bareng di lapangan. coba kalau dari kelas 1 sd sudah digalakkan kayak gitu. umur 30-an udah gak bakalan 'baru ribut' latihan dhuha dah. he..he..he..
Jumat, 01 Mei 2009
virus itu bernama -komentar-
selepas berkunjung ke blog "santri gundhul" dimana, dalam tautan blog ini aku kasih merek "ngawula gusti", aku kembali lagi untuk me-check apakah ada tulisan baru. ternyata belum. lantas, aku check lagi scroll down, ternyata komentarku bersambut. luar biasa, dampak dari 'meninggalkan jejak setiap blogwalking, ternyata menularkan spirit tersendiri untuk terus menulis.
makanya, buat sesama bloger, jangan hanya berkunjung ke 'rumah' yang udah dikenal aja. sempatkan untuk blog walking dan, berusahalah untuk menorehkan jejak disana. walhasil, pahala akan nyiprat kepada anda, karena turut membangkitkan semangat menulis. he..he.he... gitu kan?
komentarku begini,
kalau mau ndeketin kucing, ya bicaralah pakai bahasa kucing. macan, manuk, pitik, enthoq. apamaneh? bebek, wedhus, semana uga.
jadi, kalau mau ‘ndeketin’ (maksudnya biar kenal gitu) sama badan, jiwa, maupun ruh. ya, ‘mesti alias kudu bin harus’ ngerti dulu bahasa masing-masing.
bahasa badan, kalau gak mau mules, ya jangan makan sambel secobek-cobeknya. kalau gak mau mriang, jangan makan nasi ditelen segarpunya.
bahasa jiwa, gitu juga. bahasa ruh, apalagi.
mana ada orang bisa ndeketin ayam tapi, bahasa disuarakan pus..pus…pus… meong…meong…. lah, pitik’e malah kabur. he..he.he… manteb kang postingane.
secara, aku juga doyan sama blognya 'ngawula gusti' ini, terus berkarya ya mas. jangan kecewakan aku (pengunjung)dengan "lambat" posting. tulisan sampeyan huebat loh. dan, ini sambutan dari komentar ku itu.
***~~~~~~~~~~~~~~~~~~***
Kakang Salwangga,
Hanya yang KOSONG bisa MANUNGGAL dengan sang Maha KOSONG.
Untuk bisa manunggal dengan sang Sumber URIP yah harus dengan URIP kita.
Gonoh yah Kang…???
Sampeyan jiaaaaaaaannn….ces pleng tenan Kang.
Suwun Kang
lantas, dari komentar ini, karena kurang pas bener. aku coba ber-imaginasi ria. tuch kan, berbekal dari sebuah komentar bersambut, malah muncul ide baru untuk nulis.
selengkapnya, gini nih.
Aku tergelitik untuk menulis tuntas dan gamblang mengenai komentar ini. Dan, saat ini juga (jumat-01/05/09) pagi selepas dhuha 6 rokaat, setelah diawali sholat taubat 2 rokaat, aku sempetin bener-bener nih.
Semalem. Jam delapan malam ‘tenggo’ baru nyampe rumah. Kereta luar biasa tidak mau diajak kompromi. Niat sih, mau pulang cepet. Mau nemenin isteri buka puasa. Masalahnya, ini adalah kamis perdana istri bilang, “mumpung mbak Nimas libur, ada yang bantuin jaga rangga, ibu mau ikutan puasa bareng ayah”, katanya.
Subhanallah, seorang suami hanya perlu memberikan keteladanan, tak perlulah nasehat ‘dakik dakik’ dengan hujjah muluk muluk. Cukup tengadah tangan dikeheningan penghujung malam. “Duhai Dzat yang maha lembut, lembutkan hatiku, lembutkan hati istriku, lembutkan hati anak-anakku”, maka, ketika dosa-dosamu sudah ditolerir, munajad itu menjadi demikian kuat dan lekas nyampai.
Niat tinggal niat. Ternyata suasana kantor sepi. Bos-bos pada meeting di gedung tinggi. Mau kabur, ndak enak juga. Masak markas kosong melompong. Akhirnya, pulang awal pun gak jadi. Tetap aja on time, pulang jam 5. eh, malah kereta nambah-nambahin. Memang, kalau udah niat baik (demi istri bisa buka bareng, termasuk niat baik loh. Catat ya. Dan, mesti diingat nih. Suami romantis emang mesti kayak gini he..he..he..) malah ditunda, ya gini akibatnya. Masuk bekasi (stasiun) udah jam tujuh kurang duapuluh. Secara, isya’ aja jam tujuh teng udah masuk. mana sholatnya mesti ngantri pula.
Terlambat deh, magribnya. Begitu, “assalamu alaikum”, udah jam tujuh kurang sepuluh menit. Palingan, kalau langsung pulang, baru ambil motor, bayar parkir, udah keburu adzan. Ya udah aja. Tungguin isya’ sekalian. Biasanya, terdengar adzan tuch udah di deket rumah. Paling tidak udah tinggal sepertiga atau seperempat perjalanan gitu. tinggal belok dikit, nyari masjid terdekat. Absent dulu sama Allah, “aku datang memenuhi panggilan-Mu ya Allah, semoga pertemuanku dengan istri dan anak-anakku menjadi leih berkah atas berkah-Mu. Amin”. Baru deh, terusin perjalanan pulang. lah, ini. Tujuh lebih seperempat masih di bekasi. Masih empat puluh lima menit lagi nyampe rumah.
Begitu minum teh hangat (buka puasa koq jam 8, makan malam kali ini mah), mau nyuci, istri malah ngajakin ngobrol. Bagaimanapun juga, menjalin komuniasi mesti diutamain ketimbang pekerjaan mah. Menarik juga sih, hanya saja obrolannya tidak pas mau ditulis saat ini. Itu tuch, seputar hijab. Intinya, “Apa bener, seorang wanita yang sudah berjilbab lebar bahkan sampai bercadar harus mengasingkan diri dari pergaulan demi menjaga kesucian?” Tar aja deh, kapan-kapan.
Paginya, mau berangkat selepas subuh, “lah, cucian banyakjuga. Kasihan tuch, istri, kalau mesti nyuci juga. Jagain ‘si botak’ juga. Jagain warung juga. Masih harus masak juga.” Batinku. Udah aja, aku nyuci dulu. Berangkat kantor udah jam enam seperempat. Makanya, telat sampe kantor. naik kereta express jam tujuh.
Begitu duduk, nyalain komputer, tahu-tahu udah setengah sembilan. Cuap-cuap bentar, nyapa teman-teman, trus, pas jam sembilan baru dhuha. “Bukan nyengajaain nih, ngulur waktu. Saya perlu hablum minannas juga”, batinku. Alhamdulillah, 40 menit kemudian kelar. Asal jangan tiap hari aja, ngambil jam kantor buat ngejar sunnah mah.
Itu tadi, sekedar pengantar. Biasa, pamer! Mau bikin iri (para syetan) gitu, kalau dhuha tetep terjaga, he..he..he.. Tapi, Insya allah enggak ya, semoga aku dijauhkan dari segala riya’ dan sum’ah. Istighfar dulu deh, biar lurus gitu niatnya. “astaghfirullahaladziim…”. Selagi diberi kesadaran, tetap dijaga terus istiqomah.
Kembali ke tulisan kang Santri Gundul, yang aku komentari. Terus terang ya, aku tuch doyan banget baca-baca tulisan model beginian. Muatannya ada. Hanya saja, perlu penelaahan khusus untuk bisa memahami. Perlu hati khusus juga untuk ‘mau’ baca sampai tuntas. Berat bahasanya.
Sama itu indah loh. Mau tahu? Simak pengalaman saya berikut. Penekanan ada pada makna mempersamakan diri loh ya. Mesti sama dulu nih orientasinya.
Sore itu, Rangga (3 tahun). Cowok, tentu saja. Mana ada cewek dikasih merek Rangga, korslet ini mah, orang tua ngasih nama perempuan gitu. Susah bener suruh pulang. mandi. Dia main kejar-kejarn dengan empat temennya. Paling kecil padahal tuch anak. Tiga lainnya udah sekolah TK. Herannya, si botak tuch justru jadi jagoan dan pegang komando. “Aku jandi ranger merah. eh enggak, biru aja. Keren. Kamu yang jadi monster. Jahat”, tuch kan, anak kecil aja udah bisa main peran. Kenapa gak pilih jadi Khalid bin Walid aja, atau Shalahuhin Yusuf, atau,… ah, dasar emang zaman udah makin tua.
Pertama, kakaknya, Nimas (10 tahun, cewek. Anak pertama) ngegelandang. Mental tuch, tak mempan. Malah justru marah-marah, pulang tanpa hasil. Yang ada, punggungnya sakit di tebas pake pedang-pedangan. Katanya, “Orang malah disuruh jadi ranger pink sama Rangga. Belum-belum udah di gebuk. Ya sakit lah”, adunya.
Kedua, ibunya teriak-teriak. Kalau saja jam dua pagi, seluruh gang bisa kaget. Untung sore-sore. Hanya saja, istri tidak nyamperin. Cuma ngelongok’in kepala, “Rangga, pulang! udah sore tuch. Mau mandi enggak?”. Sekali, dicuekin. Dua kali, tetap dicuekin. Rangga masih asyik ketawa-ketawa sambil lari sana sini. Panggilan ketiga tambah kenceng, dan, alhamdulillah, di cuekin juga. Walaupun sudah diancem, “Ibu mau ke Arab nih”, katanya. Eh, malah dijawab, “Ya udah, sono. Rangga sama ayah aja”, kata Rangga.
“Ayah, tuch! Lihatin anaknya. Kalau udah main aja. Leher sampai sakit teriak-teriak. Susah banget disuruh pulang. belum mandi, belum makan” kata istri mulai sewot. Secara, dia juga lagi goreng apa tahu kegemaranku di dapur. “Biar ayah aja mbak. Biar ngerti, gimana ngejagain Rangga seharian”.
“Iya tuch. Punya anak gitu amat. Dasar, botak!”. Nimas, ikutan sewot. Tangannya ngelus punggung. Sakit juga kali ya, he..he.he.. konspirasi kaum wanita nih kayaknya. Adu gencar mencerca kaum laki-laki. But, double botak is the best, he..he..he….
Aku taruh buku, geliat sebentar, berdiri, puter leher kanan, “kletuk”, kiri, “kletuk”. Secara, masih pakai sarung. Sedari ashar belum copot baju koko, langsung duduk santai, baca buku. Tak terasa udah sejam. Ternyata enak juga dirumah. Bisa nyaksiin drama berbabak-babak. Ada celoteh anak. Ada celoteh tetangga. Ada celoteh istri. celoteh kambing juga ada koq. Klo anjing, gak ada. Gak ada yang berani miara. Babi, apalagi.
Pandangan aku arahkan ke tembok. Coba nyari, apa yang bisa aku perbuat. Arah mataku jatuh pada kolom meja belajar. Ada benda bundar dengan warna warni. Menarik. “Hmmm, ku tahu yang ku harus perbuat”, kataku sambil senyum.
Bola aku ambil, mainin sembentar. Tendang kearah tembok. “Jder…!”, Istri udah melotot aja. “Bukannya diurusin tuch anak. Suruh mandi udah sore. Malah main bola lagi!”, katanya. Aku copot sarung, lepas baju, cuma pakai kaos dalem doang. Celana kolor. Turun kejalan dan, mulai beraksi.
Gak perlu teriak, begitu aku main bola. Tendang sana, tendang sini, di gojek sendiri, sesekali main sundulan. Tuch bocah, empat-empatnya pada nyamper. Gak pake keluar urat, gak pakai bejam-jam. Sekira lima atau sepuluh menit kemudian, bukan hanya Rangga, tiga temennya udah asyik disekelilingku berebut bola.
Tak buang waktu lagi, “Mandi, makan, tar main bola lagi. Akur?” tanyaku. “Sip! Tos dulu.”
Cuma, imbasnya, aku harus mandi rame-rame juga di jalan. Pakai selang. Niatnya mau mandiin Rangga, lainnya pengin mandi juga. Apes dah. Kalau dikamar mandi, mana muat. Bisa kebaca kejadian selanjutnya. Ganti baju. Makan. Lancar-lancar aja. Sementara bola, “Besok sore, kita adu lagi. Sekarang makan dulu biar kuat. Udah pada pulang sana. Minta makan yang banyak! Jangan mau kalah sama Rangga. Masak, nendangnya loyo gitu”.
Sama itu indah. Sama itu nikmat. Sama itu bisa membuat ‘nyampai’ apa yang ingin kita komunikasikan. Bukan membuat ‘yang lain’ kita paksa untuk sama dengan kita. Tapi, bagaimana kita membuat sama diri kita dengan ‘yang lain’ itu. Samakan unsur. Itu intinya.
“Kalau mau manggil ayam, jangan bilang ‘wek…wek..wek…’ bisa-bisa bebek tuch nyamperin”, intinya gitu deh maksudnya. Jangan disamain anak gue sama ayam yah. Ini, perumpamaan aja. Analogi, bahasa kerennya mah.
Kalau mau dialog sama kambing, jangan mengaum. Bisa gak punya temen. Kabur semua. Begitu pula, kalau mau bersosialisasi sama macan, jangan kebanyakan mengembik, bisa dicaplok dan gak punya perbawa. Kurang greget. Kurang gigi. Gak ada taring. Kurang dianggap.
Dengan bahasa lebih dalam lagi, kalau mau mengenali jiwa, mesti paham dulu bahasa jiwa. Bahasa ruh. Bahasa badan. Bagaimana kalau badan ngantuk, berarti minta tidur. Lapar, minta makan. Capai minta istirahat. Mesti paham bener. Jangan sinyal udang bunyi, “eh, gue penat nih. lemah gitu. udah pengin diistirahatin” kata badan. Tindakan instant biasanya malah minum suplemen.
Contoh paling valid lagi deh. Alquran. Bahasa yang dipakai adalah bahasa nur. Cahaya. Bukan sembarang bahasa arab. Beda, asal tahu saja.
Untuk bisa memahami alquran, mesti “jadi” cahaya dulu. Dalam tanda kutip loh ya. Hanya cahaya yang bisa menyelami cahaya. Malaikat gak perlu berubah, karena emang unsurnya, dasarnya, bahan pembuatnya cahaya. Sementara manusia, asalnya tanah. Cikal bakalnya, dari setetes air mani yang hina. Butuh perjuangan super hebat untuk bisa paham alquran.
Itu pula yang dikatakan ‘tidak menyentuhnya, kecuali orang bersuci’, dalam artian menyucikan hati, menjernihkan jiwa, sering-sering akses ruh ilahiah yang ditiupkan pada jasad ini. Hanya saja, banyak yang ngartiin, “kalau nyentuh quran harus wudhu dulu. bersuci”, kata seorang temen. Boleh aja, silahkan artikan secara seperti itu. Namun, mesti ditinjau juga makna tersirat dan tersurat dibalik kalimat itu.
Bagaimana caranya bersuci. Waduh, butuh pembahasan panjang lagi nih. kembali ke konsep ‘samakan bahasa’ tadi. Sholat malam, tahajud, taubat, dzikir, puasa, dan segala macam makanan jiwa lainnya. Kesukaan ruh. Intinya, mesti sama bahasa dulu antara badani (jasadi), jiwa, ruh. Karena, ketiga komponen (ada juga yang bilang empat (ditambah sukma), silahkan saja) musti punya “key word” alias “kata kunci” alias “bahasa kunci” yang bisa meng-konek satu sama lain. Card interface, boleh lah dikatakan demikian.
Punya beda pandangan? Silahkan.
Jadi, jangan berharap bisa ndeketin macan (apalagi sampai berdialog dan memahami) melalui teriak, “embeeeek, embeeek…” he..he..he..he.. jaka sembung bawa golok sambil nenteng gitar, kagak nyambung tapi gak usah bilang goblok, mending nyanyi sambil nge-jrenk.
Satu pertanyaan buat direnungkan adalah, “untuk berdialog dengan kucing, apakah perlu menjadi kucing, atau hanya dibutuhkan paham cara berdialog (bahasa) kucing?” Pertanyaan ini adalah, untuk menyelami alquran, bahasa nur, apakah perlu jadi nur, ataukah memahami bahasa nur?”. Bagi saya, spirit islam itu, cikal bakalnya dari alquran dulu.
tuch kan, virus itu jadi gemuk begitu nyampe ke aku. tulisan jadi panjang gini. mau hobby nulis juga? makanya, komentar!
makanya, buat sesama bloger, jangan hanya berkunjung ke 'rumah' yang udah dikenal aja. sempatkan untuk blog walking dan, berusahalah untuk menorehkan jejak disana. walhasil, pahala akan nyiprat kepada anda, karena turut membangkitkan semangat menulis. he..he.he... gitu kan?
komentarku begini,
kalau mau ndeketin kucing, ya bicaralah pakai bahasa kucing. macan, manuk, pitik, enthoq. apamaneh? bebek, wedhus, semana uga.
jadi, kalau mau ‘ndeketin’ (maksudnya biar kenal gitu) sama badan, jiwa, maupun ruh. ya, ‘mesti alias kudu bin harus’ ngerti dulu bahasa masing-masing.
bahasa badan, kalau gak mau mules, ya jangan makan sambel secobek-cobeknya. kalau gak mau mriang, jangan makan nasi ditelen segarpunya.
bahasa jiwa, gitu juga. bahasa ruh, apalagi.
mana ada orang bisa ndeketin ayam tapi, bahasa disuarakan pus..pus…pus… meong…meong…. lah, pitik’e malah kabur. he..he.he… manteb kang postingane.
secara, aku juga doyan sama blognya 'ngawula gusti' ini, terus berkarya ya mas. jangan kecewakan aku (pengunjung)dengan "lambat" posting. tulisan sampeyan huebat loh. dan, ini sambutan dari komentar ku itu.
***~~~~~~~~~~~~~~~~~~***
Kakang Salwangga,
Hanya yang KOSONG bisa MANUNGGAL dengan sang Maha KOSONG.
Untuk bisa manunggal dengan sang Sumber URIP yah harus dengan URIP kita.
Gonoh yah Kang…???
Sampeyan jiaaaaaaaannn….ces pleng tenan Kang.
Suwun Kang
lantas, dari komentar ini, karena kurang pas bener. aku coba ber-imaginasi ria. tuch kan, berbekal dari sebuah komentar bersambut, malah muncul ide baru untuk nulis.
selengkapnya, gini nih.
Aku tergelitik untuk menulis tuntas dan gamblang mengenai komentar ini. Dan, saat ini juga (jumat-01/05/09) pagi selepas dhuha 6 rokaat, setelah diawali sholat taubat 2 rokaat, aku sempetin bener-bener nih.
Semalem. Jam delapan malam ‘tenggo’ baru nyampe rumah. Kereta luar biasa tidak mau diajak kompromi. Niat sih, mau pulang cepet. Mau nemenin isteri buka puasa. Masalahnya, ini adalah kamis perdana istri bilang, “mumpung mbak Nimas libur, ada yang bantuin jaga rangga, ibu mau ikutan puasa bareng ayah”, katanya.
Subhanallah, seorang suami hanya perlu memberikan keteladanan, tak perlulah nasehat ‘dakik dakik’ dengan hujjah muluk muluk. Cukup tengadah tangan dikeheningan penghujung malam. “Duhai Dzat yang maha lembut, lembutkan hatiku, lembutkan hati istriku, lembutkan hati anak-anakku”, maka, ketika dosa-dosamu sudah ditolerir, munajad itu menjadi demikian kuat dan lekas nyampai.
Niat tinggal niat. Ternyata suasana kantor sepi. Bos-bos pada meeting di gedung tinggi. Mau kabur, ndak enak juga. Masak markas kosong melompong. Akhirnya, pulang awal pun gak jadi. Tetap aja on time, pulang jam 5. eh, malah kereta nambah-nambahin. Memang, kalau udah niat baik (demi istri bisa buka bareng, termasuk niat baik loh. Catat ya. Dan, mesti diingat nih. Suami romantis emang mesti kayak gini he..he..he..) malah ditunda, ya gini akibatnya. Masuk bekasi (stasiun) udah jam tujuh kurang duapuluh. Secara, isya’ aja jam tujuh teng udah masuk. mana sholatnya mesti ngantri pula.
Terlambat deh, magribnya. Begitu, “assalamu alaikum”, udah jam tujuh kurang sepuluh menit. Palingan, kalau langsung pulang, baru ambil motor, bayar parkir, udah keburu adzan. Ya udah aja. Tungguin isya’ sekalian. Biasanya, terdengar adzan tuch udah di deket rumah. Paling tidak udah tinggal sepertiga atau seperempat perjalanan gitu. tinggal belok dikit, nyari masjid terdekat. Absent dulu sama Allah, “aku datang memenuhi panggilan-Mu ya Allah, semoga pertemuanku dengan istri dan anak-anakku menjadi leih berkah atas berkah-Mu. Amin”. Baru deh, terusin perjalanan pulang. lah, ini. Tujuh lebih seperempat masih di bekasi. Masih empat puluh lima menit lagi nyampe rumah.
Begitu minum teh hangat (buka puasa koq jam 8, makan malam kali ini mah), mau nyuci, istri malah ngajakin ngobrol. Bagaimanapun juga, menjalin komuniasi mesti diutamain ketimbang pekerjaan mah. Menarik juga sih, hanya saja obrolannya tidak pas mau ditulis saat ini. Itu tuch, seputar hijab. Intinya, “Apa bener, seorang wanita yang sudah berjilbab lebar bahkan sampai bercadar harus mengasingkan diri dari pergaulan demi menjaga kesucian?” Tar aja deh, kapan-kapan.
Paginya, mau berangkat selepas subuh, “lah, cucian banyakjuga. Kasihan tuch, istri, kalau mesti nyuci juga. Jagain ‘si botak’ juga. Jagain warung juga. Masih harus masak juga.” Batinku. Udah aja, aku nyuci dulu. Berangkat kantor udah jam enam seperempat. Makanya, telat sampe kantor. naik kereta express jam tujuh.
Begitu duduk, nyalain komputer, tahu-tahu udah setengah sembilan. Cuap-cuap bentar, nyapa teman-teman, trus, pas jam sembilan baru dhuha. “Bukan nyengajaain nih, ngulur waktu. Saya perlu hablum minannas juga”, batinku. Alhamdulillah, 40 menit kemudian kelar. Asal jangan tiap hari aja, ngambil jam kantor buat ngejar sunnah mah.
Itu tadi, sekedar pengantar. Biasa, pamer! Mau bikin iri (para syetan) gitu, kalau dhuha tetep terjaga, he..he..he.. Tapi, Insya allah enggak ya, semoga aku dijauhkan dari segala riya’ dan sum’ah. Istighfar dulu deh, biar lurus gitu niatnya. “astaghfirullahaladziim…”. Selagi diberi kesadaran, tetap dijaga terus istiqomah.
Kembali ke tulisan kang Santri Gundul, yang aku komentari. Terus terang ya, aku tuch doyan banget baca-baca tulisan model beginian. Muatannya ada. Hanya saja, perlu penelaahan khusus untuk bisa memahami. Perlu hati khusus juga untuk ‘mau’ baca sampai tuntas. Berat bahasanya.
Sama itu indah loh. Mau tahu? Simak pengalaman saya berikut. Penekanan ada pada makna mempersamakan diri loh ya. Mesti sama dulu nih orientasinya.
Sore itu, Rangga (3 tahun). Cowok, tentu saja. Mana ada cewek dikasih merek Rangga, korslet ini mah, orang tua ngasih nama perempuan gitu. Susah bener suruh pulang. mandi. Dia main kejar-kejarn dengan empat temennya. Paling kecil padahal tuch anak. Tiga lainnya udah sekolah TK. Herannya, si botak tuch justru jadi jagoan dan pegang komando. “Aku jandi ranger merah. eh enggak, biru aja. Keren. Kamu yang jadi monster. Jahat”, tuch kan, anak kecil aja udah bisa main peran. Kenapa gak pilih jadi Khalid bin Walid aja, atau Shalahuhin Yusuf, atau,… ah, dasar emang zaman udah makin tua.
Pertama, kakaknya, Nimas (10 tahun, cewek. Anak pertama) ngegelandang. Mental tuch, tak mempan. Malah justru marah-marah, pulang tanpa hasil. Yang ada, punggungnya sakit di tebas pake pedang-pedangan. Katanya, “Orang malah disuruh jadi ranger pink sama Rangga. Belum-belum udah di gebuk. Ya sakit lah”, adunya.
Kedua, ibunya teriak-teriak. Kalau saja jam dua pagi, seluruh gang bisa kaget. Untung sore-sore. Hanya saja, istri tidak nyamperin. Cuma ngelongok’in kepala, “Rangga, pulang! udah sore tuch. Mau mandi enggak?”. Sekali, dicuekin. Dua kali, tetap dicuekin. Rangga masih asyik ketawa-ketawa sambil lari sana sini. Panggilan ketiga tambah kenceng, dan, alhamdulillah, di cuekin juga. Walaupun sudah diancem, “Ibu mau ke Arab nih”, katanya. Eh, malah dijawab, “Ya udah, sono. Rangga sama ayah aja”, kata Rangga.
“Ayah, tuch! Lihatin anaknya. Kalau udah main aja. Leher sampai sakit teriak-teriak. Susah banget disuruh pulang. belum mandi, belum makan” kata istri mulai sewot. Secara, dia juga lagi goreng apa tahu kegemaranku di dapur. “Biar ayah aja mbak. Biar ngerti, gimana ngejagain Rangga seharian”.
“Iya tuch. Punya anak gitu amat. Dasar, botak!”. Nimas, ikutan sewot. Tangannya ngelus punggung. Sakit juga kali ya, he..he.he.. konspirasi kaum wanita nih kayaknya. Adu gencar mencerca kaum laki-laki. But, double botak is the best, he..he..he….
Aku taruh buku, geliat sebentar, berdiri, puter leher kanan, “kletuk”, kiri, “kletuk”. Secara, masih pakai sarung. Sedari ashar belum copot baju koko, langsung duduk santai, baca buku. Tak terasa udah sejam. Ternyata enak juga dirumah. Bisa nyaksiin drama berbabak-babak. Ada celoteh anak. Ada celoteh tetangga. Ada celoteh istri. celoteh kambing juga ada koq. Klo anjing, gak ada. Gak ada yang berani miara. Babi, apalagi.
Pandangan aku arahkan ke tembok. Coba nyari, apa yang bisa aku perbuat. Arah mataku jatuh pada kolom meja belajar. Ada benda bundar dengan warna warni. Menarik. “Hmmm, ku tahu yang ku harus perbuat”, kataku sambil senyum.
Bola aku ambil, mainin sembentar. Tendang kearah tembok. “Jder…!”, Istri udah melotot aja. “Bukannya diurusin tuch anak. Suruh mandi udah sore. Malah main bola lagi!”, katanya. Aku copot sarung, lepas baju, cuma pakai kaos dalem doang. Celana kolor. Turun kejalan dan, mulai beraksi.
Gak perlu teriak, begitu aku main bola. Tendang sana, tendang sini, di gojek sendiri, sesekali main sundulan. Tuch bocah, empat-empatnya pada nyamper. Gak pake keluar urat, gak pakai bejam-jam. Sekira lima atau sepuluh menit kemudian, bukan hanya Rangga, tiga temennya udah asyik disekelilingku berebut bola.
Tak buang waktu lagi, “Mandi, makan, tar main bola lagi. Akur?” tanyaku. “Sip! Tos dulu.”
Cuma, imbasnya, aku harus mandi rame-rame juga di jalan. Pakai selang. Niatnya mau mandiin Rangga, lainnya pengin mandi juga. Apes dah. Kalau dikamar mandi, mana muat. Bisa kebaca kejadian selanjutnya. Ganti baju. Makan. Lancar-lancar aja. Sementara bola, “Besok sore, kita adu lagi. Sekarang makan dulu biar kuat. Udah pada pulang sana. Minta makan yang banyak! Jangan mau kalah sama Rangga. Masak, nendangnya loyo gitu”.
Sama itu indah. Sama itu nikmat. Sama itu bisa membuat ‘nyampai’ apa yang ingin kita komunikasikan. Bukan membuat ‘yang lain’ kita paksa untuk sama dengan kita. Tapi, bagaimana kita membuat sama diri kita dengan ‘yang lain’ itu. Samakan unsur. Itu intinya.
“Kalau mau manggil ayam, jangan bilang ‘wek…wek..wek…’ bisa-bisa bebek tuch nyamperin”, intinya gitu deh maksudnya. Jangan disamain anak gue sama ayam yah. Ini, perumpamaan aja. Analogi, bahasa kerennya mah.
Kalau mau dialog sama kambing, jangan mengaum. Bisa gak punya temen. Kabur semua. Begitu pula, kalau mau bersosialisasi sama macan, jangan kebanyakan mengembik, bisa dicaplok dan gak punya perbawa. Kurang greget. Kurang gigi. Gak ada taring. Kurang dianggap.
Dengan bahasa lebih dalam lagi, kalau mau mengenali jiwa, mesti paham dulu bahasa jiwa. Bahasa ruh. Bahasa badan. Bagaimana kalau badan ngantuk, berarti minta tidur. Lapar, minta makan. Capai minta istirahat. Mesti paham bener. Jangan sinyal udang bunyi, “eh, gue penat nih. lemah gitu. udah pengin diistirahatin” kata badan. Tindakan instant biasanya malah minum suplemen.
Contoh paling valid lagi deh. Alquran. Bahasa yang dipakai adalah bahasa nur. Cahaya. Bukan sembarang bahasa arab. Beda, asal tahu saja.
Untuk bisa memahami alquran, mesti “jadi” cahaya dulu. Dalam tanda kutip loh ya. Hanya cahaya yang bisa menyelami cahaya. Malaikat gak perlu berubah, karena emang unsurnya, dasarnya, bahan pembuatnya cahaya. Sementara manusia, asalnya tanah. Cikal bakalnya, dari setetes air mani yang hina. Butuh perjuangan super hebat untuk bisa paham alquran.
Itu pula yang dikatakan ‘tidak menyentuhnya, kecuali orang bersuci’, dalam artian menyucikan hati, menjernihkan jiwa, sering-sering akses ruh ilahiah yang ditiupkan pada jasad ini. Hanya saja, banyak yang ngartiin, “kalau nyentuh quran harus wudhu dulu. bersuci”, kata seorang temen. Boleh aja, silahkan artikan secara seperti itu. Namun, mesti ditinjau juga makna tersirat dan tersurat dibalik kalimat itu.
Bagaimana caranya bersuci. Waduh, butuh pembahasan panjang lagi nih. kembali ke konsep ‘samakan bahasa’ tadi. Sholat malam, tahajud, taubat, dzikir, puasa, dan segala macam makanan jiwa lainnya. Kesukaan ruh. Intinya, mesti sama bahasa dulu antara badani (jasadi), jiwa, ruh. Karena, ketiga komponen (ada juga yang bilang empat (ditambah sukma), silahkan saja) musti punya “key word” alias “kata kunci” alias “bahasa kunci” yang bisa meng-konek satu sama lain. Card interface, boleh lah dikatakan demikian.
Punya beda pandangan? Silahkan.
Jadi, jangan berharap bisa ndeketin macan (apalagi sampai berdialog dan memahami) melalui teriak, “embeeeek, embeeek…” he..he..he..he.. jaka sembung bawa golok sambil nenteng gitar, kagak nyambung tapi gak usah bilang goblok, mending nyanyi sambil nge-jrenk.
Satu pertanyaan buat direnungkan adalah, “untuk berdialog dengan kucing, apakah perlu menjadi kucing, atau hanya dibutuhkan paham cara berdialog (bahasa) kucing?” Pertanyaan ini adalah, untuk menyelami alquran, bahasa nur, apakah perlu jadi nur, ataukah memahami bahasa nur?”. Bagi saya, spirit islam itu, cikal bakalnya dari alquran dulu.
tuch kan, virus itu jadi gemuk begitu nyampe ke aku. tulisan jadi panjang gini. mau hobby nulis juga? makanya, komentar!
Label:
Ndleming,
oyot gatel,
Uneg-Uneg
Jumat, 24 April 2009
setengah gila
"kamu tuch ya", kata rio. "modal manusia itu cuma satu:nafas. heran saja. umur kan tidak dapat ditukar dengan apapun. koq disia-siakan gitu."
sambil berdecak, rio masih megang koran 'lampu merah' dengan judul super mencolok tentang seorang caleg mati gantung diri. padahal masih muda. cantik pula. cewek? ya iya. masak cowok cantik sih.
kalau mau mikir sih, untuk hidup cuma butuh satu kegiatan. nafas! that's sudah cukup. tak perlu embel-embel lagi. hanya saja, nafas bagaimana yang berpotensi hidup dan menghidupkan. itu yang repot.
orang bisa bertahan hidup karena keinginan, tapi, bisa mati juga (gara-gara) karena keinginan. kira-kira orang yang bunuh diri gitu, waras tidak ya?
hmmm, kata rio lagi sih orang gituan mah setengah gila. mau di reparasi belum boleh karena masih ada unsur warasnya. sementara mau di lepas bahaya juga kalau kambuh sewaktu-waktu.
"lah trus, kalau tiba-tiba bunuh diri gitu, yang sedang merasuki warasnya apa gilanya?" tanyaku. eh, rio-nya gak jawab.
sambil berdecak, rio masih megang koran 'lampu merah' dengan judul super mencolok tentang seorang caleg mati gantung diri. padahal masih muda. cantik pula. cewek? ya iya. masak cowok cantik sih.
kalau mau mikir sih, untuk hidup cuma butuh satu kegiatan. nafas! that's sudah cukup. tak perlu embel-embel lagi. hanya saja, nafas bagaimana yang berpotensi hidup dan menghidupkan. itu yang repot.
orang bisa bertahan hidup karena keinginan, tapi, bisa mati juga (gara-gara) karena keinginan. kira-kira orang yang bunuh diri gitu, waras tidak ya?
hmmm, kata rio lagi sih orang gituan mah setengah gila. mau di reparasi belum boleh karena masih ada unsur warasnya. sementara mau di lepas bahaya juga kalau kambuh sewaktu-waktu.
"lah trus, kalau tiba-tiba bunuh diri gitu, yang sedang merasuki warasnya apa gilanya?" tanyaku. eh, rio-nya gak jawab.
Rabu, 08 April 2009
masa transisi
Gue tuch sekarang lagi bingung-bingungnya orang. Secara umur, memang udah diatas tiga puluh gitu. Double three lah. Selama segitu hidup di dunia yang katanya fana ini, banyak banget kejadian-kejadian yang luar biasa nyentil penyadaran. Anehnya, gue tuch masih nyantai-nyantai aja. Bisanya Cuma gundah doang. Kagak ada actionnya babar blas.
Apa ini, yang diakibatkan dari rasa kurang syukur ya. Selama berdo’a (ya, gue serging gitu dah. Masih percaya tuhan. Meskipun aslinya bukan pencarian dari diri gue sendiri. Sekedar warisan aja. Pas dari kedua orang tua gue ngajarin buat percaya tuhan) gue selalu bilang “tuhan, bantu gue untuk ngenali diri gue sendiri” kataku.
Tuhan. Gue tuch gak pengin percaya kalau tuhan tuh ada. Tapi, nyata-nyata gue takut dosa. Takut kualat. Takut akherat. Ini yang bikin gue ngeri. Sebaliknya, untuk mempercayai, pencarian gue tuch belum nyampe-nyampe juga. Dalam artian gini. Tuhan itu gimana, masih ngambang gitu.
Kalaupun ada ketenteraman dan kedamaian dalam hidup gue, yakin dah, itu bukan karena perbuatan baik apalagi doa tulus gue. Secara, masih belepotan gitu. Belum dari hati paling dalam. Masih sebatas mulut. Ibu gue tuch ya, semenjak gue lahir rajin banget sholat malam. Tahajud. Hanya saja untuk puasa sunnah emang belum pernah. Phisiknya gak memungkinkan. Tapi, soal bangun malam. Jagonya. Ini nih, yang bikin adhem hidup gue. Ngalir gitu aja. Doa dari ibu gue maksudnya.
Ini, gue kadang baru nyadar. Mikir gitu, bahasanya mah. Ternyata ketulusan dan kebersihan hati tuch emang dapat membawa pesan dari dan ke tuhan. Nyampe gitu. Bahasanya mah kata para cendekia bahawa cahaya. Hanya orang-orang yang bercahaya yang dapat mengaksesnya.
Swear dech. Gue tuch masih sering bolak balik. Berubah ubah. Molah malih. Tidak netep. Kadang, gue tuch adhem, kalem. Tak jarang pula berangasan. Singa kelaparan aja masih kalah sama gue.
Gue ngerasain ada pikiran lain, sesaat setelah setahun yang lalu (mungkin awal 2008) gue ketemu seseorang. Teman sih, hanya saja dia tuch udah 7 tahun lebih dulu hidup ketimbang gue. Jiwanya udah mapan. Tidak gampang goyah. Apa yang dia inginkan udah ketemu. Ketenteraman hati dan kelapangan jiwa. Udah terpateri gitu dah.
Dia bilang gini, “manusia, kalau udah lepas umur 30 mesti hati-hati. akan banyak pergolakan dan pergoncangan hebat pada dirinya. Jiwanya.” Gitu katanya.
Setelah gue tanya lebih lanjut, “emang apaan sih? misterius banget”
“Alaah, tar kamu juga ngalamin. Tunggu aja. Yagn penting siap-siapin. Soalnya, begitu usia empat puluh keatas, itu sangat mempengaruhi buat kelangsungan (maksud dia : kebaikan) keturunan kamu. Terlebih anak-anak generasi penerus kamu. Apakah mau baik atau tidak, tergantung apa yang kamu lakukan di usia itu.”
“Nah” lanjut dia, “apa yang akan kamu lakukan, istilahnya menjadi kegemaran kamu, adalah apa yang kamu usahakan di selepas umur tiga puluh itu. Makanya banyak goncangan. Banyak godaan. Banyak plin-plan. Banyakin hati-hati dah. Sering-sering minta petunjuk sama yang udah bikin kamu hidup” paparnya.
Sampai kata-kata ini nih, gue lantas mikir. Setiap anak kecil, tak kan pernah tahu, apa fungsinya gosok gigi. Dulu aja, gue paling badung tuch yang namanya disuruh mandi. Boro-boro gosok gigi. Sepuluh tahun kemudian, baru nyadar dah. Gigi gue tuch kuning. Udah gitu, rapuh dan gak sehat. Bukti lebih parah lagi, sekarang udah mulai berlubang. Dan, kalau sakit minta ampun dah. Nyerah.
Itu baru contoh gosok gigi yang yang gue alami. Belum lagi soal belajar. Ketika sekolah dasar, malas minta ampun soal belajar ini. Gue merasa pinter pinter aja. Dan memang selalu naik kelas. Hanya saja ketika kelulusan nilai gue pas pasan banget. Mau masuk SMP favorit gue, ketolak. Ya udah, apa adanya. Sedapetnya.
Jangan-jangan, model hidup gue begini, padahal ngincer surga. Malah makin jauh dari hasil. Itu contoh doang sih. makanya, gue tuch sekarang sedang risau-risaunya. Kelakuan gue, sejelek apapun, masih tercover sama doa dan tahajutnya nyokap. Apa iya, nyokap mau hidup selamanya. Apa iya, doanya akan mengalir terus-terusan.
Lah, giliran gue kapan ndoain buat diri sendiri. Begitu orang tua tiada, tak ada lagi yang mohonin ampunan, mohonin keselamatan sama tuhan. Ampun dah. Sempet pusing gue mikirin ini.
Secara, gue sekarang udah punya anak dua. Ya, jujur sih. usia dua satu (twenty one, man!) gue udah ngebet kawin. Setahun kemudian, udah ngegendong orok dah tuch diusia 22. mendekati 23-an lah. Makanya, sekarang giliran teman seangkatan baru pada mulai married, anak gue udah bengal minta ampun.
Yah, pengin sih nulis pikiran bebas ini. Cuma, udah siang. Mesti nerusin bikin laporan lagi. Tar dah, kapan-kapan. Intinya, di masa-masa pergolakan ini, gue penginnya tergelincir ke kanan. Bukan ke kiri. Karena apa yang akan gue terima sepuluh tahun mendatang –buat kehormatan keluarga gue tentunya- diusia empat puluh nanti, tergantung dari apa yang gue modalin (kerjakan) sekarang ini.
Semoga, sering bangun malam trus sholat bisa menjadi penerang gue dah. Emang begini ini nih, kalau mengakui punya tuhan tapi bukan dari pencarian. Cuma sekedar nongol di KTP doang. Itupun warisan orang tua.
Tuhan, bantu aku ya…. Buat temen-temen yang kebetulan berkunjung, bantu juga ya… semoga jiwa gersang ini tak kelamaan tandus. Keburu mati, masih gak kenal tuhannya. Berabe dah. Giliran udah di sono, minta kembali lagi ke dunia, udah gak bisa.
Apa ini, yang diakibatkan dari rasa kurang syukur ya. Selama berdo’a (ya, gue serging gitu dah. Masih percaya tuhan. Meskipun aslinya bukan pencarian dari diri gue sendiri. Sekedar warisan aja. Pas dari kedua orang tua gue ngajarin buat percaya tuhan) gue selalu bilang “tuhan, bantu gue untuk ngenali diri gue sendiri” kataku.
Tuhan. Gue tuch gak pengin percaya kalau tuhan tuh ada. Tapi, nyata-nyata gue takut dosa. Takut kualat. Takut akherat. Ini yang bikin gue ngeri. Sebaliknya, untuk mempercayai, pencarian gue tuch belum nyampe-nyampe juga. Dalam artian gini. Tuhan itu gimana, masih ngambang gitu.
Kalaupun ada ketenteraman dan kedamaian dalam hidup gue, yakin dah, itu bukan karena perbuatan baik apalagi doa tulus gue. Secara, masih belepotan gitu. Belum dari hati paling dalam. Masih sebatas mulut. Ibu gue tuch ya, semenjak gue lahir rajin banget sholat malam. Tahajud. Hanya saja untuk puasa sunnah emang belum pernah. Phisiknya gak memungkinkan. Tapi, soal bangun malam. Jagonya. Ini nih, yang bikin adhem hidup gue. Ngalir gitu aja. Doa dari ibu gue maksudnya.
Ini, gue kadang baru nyadar. Mikir gitu, bahasanya mah. Ternyata ketulusan dan kebersihan hati tuch emang dapat membawa pesan dari dan ke tuhan. Nyampe gitu. Bahasanya mah kata para cendekia bahawa cahaya. Hanya orang-orang yang bercahaya yang dapat mengaksesnya.
Swear dech. Gue tuch masih sering bolak balik. Berubah ubah. Molah malih. Tidak netep. Kadang, gue tuch adhem, kalem. Tak jarang pula berangasan. Singa kelaparan aja masih kalah sama gue.
Gue ngerasain ada pikiran lain, sesaat setelah setahun yang lalu (mungkin awal 2008) gue ketemu seseorang. Teman sih, hanya saja dia tuch udah 7 tahun lebih dulu hidup ketimbang gue. Jiwanya udah mapan. Tidak gampang goyah. Apa yang dia inginkan udah ketemu. Ketenteraman hati dan kelapangan jiwa. Udah terpateri gitu dah.
Dia bilang gini, “manusia, kalau udah lepas umur 30 mesti hati-hati. akan banyak pergolakan dan pergoncangan hebat pada dirinya. Jiwanya.” Gitu katanya.
Setelah gue tanya lebih lanjut, “emang apaan sih? misterius banget”
“Alaah, tar kamu juga ngalamin. Tunggu aja. Yagn penting siap-siapin. Soalnya, begitu usia empat puluh keatas, itu sangat mempengaruhi buat kelangsungan (maksud dia : kebaikan) keturunan kamu. Terlebih anak-anak generasi penerus kamu. Apakah mau baik atau tidak, tergantung apa yang kamu lakukan di usia itu.”
“Nah” lanjut dia, “apa yang akan kamu lakukan, istilahnya menjadi kegemaran kamu, adalah apa yang kamu usahakan di selepas umur tiga puluh itu. Makanya banyak goncangan. Banyak godaan. Banyak plin-plan. Banyakin hati-hati dah. Sering-sering minta petunjuk sama yang udah bikin kamu hidup” paparnya.
Sampai kata-kata ini nih, gue lantas mikir. Setiap anak kecil, tak kan pernah tahu, apa fungsinya gosok gigi. Dulu aja, gue paling badung tuch yang namanya disuruh mandi. Boro-boro gosok gigi. Sepuluh tahun kemudian, baru nyadar dah. Gigi gue tuch kuning. Udah gitu, rapuh dan gak sehat. Bukti lebih parah lagi, sekarang udah mulai berlubang. Dan, kalau sakit minta ampun dah. Nyerah.
Itu baru contoh gosok gigi yang yang gue alami. Belum lagi soal belajar. Ketika sekolah dasar, malas minta ampun soal belajar ini. Gue merasa pinter pinter aja. Dan memang selalu naik kelas. Hanya saja ketika kelulusan nilai gue pas pasan banget. Mau masuk SMP favorit gue, ketolak. Ya udah, apa adanya. Sedapetnya.
Jangan-jangan, model hidup gue begini, padahal ngincer surga. Malah makin jauh dari hasil. Itu contoh doang sih. makanya, gue tuch sekarang sedang risau-risaunya. Kelakuan gue, sejelek apapun, masih tercover sama doa dan tahajutnya nyokap. Apa iya, nyokap mau hidup selamanya. Apa iya, doanya akan mengalir terus-terusan.
Lah, giliran gue kapan ndoain buat diri sendiri. Begitu orang tua tiada, tak ada lagi yang mohonin ampunan, mohonin keselamatan sama tuhan. Ampun dah. Sempet pusing gue mikirin ini.
Secara, gue sekarang udah punya anak dua. Ya, jujur sih. usia dua satu (twenty one, man!) gue udah ngebet kawin. Setahun kemudian, udah ngegendong orok dah tuch diusia 22. mendekati 23-an lah. Makanya, sekarang giliran teman seangkatan baru pada mulai married, anak gue udah bengal minta ampun.
Yah, pengin sih nulis pikiran bebas ini. Cuma, udah siang. Mesti nerusin bikin laporan lagi. Tar dah, kapan-kapan. Intinya, di masa-masa pergolakan ini, gue penginnya tergelincir ke kanan. Bukan ke kiri. Karena apa yang akan gue terima sepuluh tahun mendatang –buat kehormatan keluarga gue tentunya- diusia empat puluh nanti, tergantung dari apa yang gue modalin (kerjakan) sekarang ini.
Semoga, sering bangun malam trus sholat bisa menjadi penerang gue dah. Emang begini ini nih, kalau mengakui punya tuhan tapi bukan dari pencarian. Cuma sekedar nongol di KTP doang. Itupun warisan orang tua.
Tuhan, bantu aku ya…. Buat temen-temen yang kebetulan berkunjung, bantu juga ya… semoga jiwa gersang ini tak kelamaan tandus. Keburu mati, masih gak kenal tuhannya. Berabe dah. Giliran udah di sono, minta kembali lagi ke dunia, udah gak bisa.
Senin, 06 April 2009
(ngintip) kenaikan gaji
orang tuch ya, penginnya serba tahu duluan. tradisi ngantri (nunggu setelah waktunya) memang udah pudar. ini, bincang-bincang seputar kenaikan gaji. yah, susah memang kalau bisa nembus system payroll dan udah diketahui sama teman.
begitu minta diintipin, nolak susah. nerima salah. tapi, gue sendiri doyan. mau gimana lagi. kayak ikan ketemu umpan dech.
(-) :)
(+) gimana kabar?
(-) nggak begitu sehat. masih flu.
(+) tumben lama. biasa cepat sembuh.
(-) iya nih dah lbh 2 minggu kyknya. bandel amat nih sakitnya.
(+) oh iya, sana dah dibagi slip? nik kamu berapa?
(-) blm, dengernya slip dibagi senin. kamu udah dpt ?
(+) blm juga. klo kelihatannya sih udah salinc-salary increase.
(-) maksudnya ?
(+) maksudnya udah kenaikan gaji. soalnya disana dieksekusi user fam semua yang transaksi. sayangnya kemarin transaksinya. all base spoolnya udah hilang. sekarang sih tinggal yang masih indent si system aja yang ketahuan. klo cabang lain masih komplit.
(-) ohhhhhhh..........
(+) nik kamu berapa?
(-) 773
(+) wah, ga da tuch. ada 772 langsung lompat 774. siapa tuh?
(-) lho ?
(-) gak tau
(+) klo si jangkung, atau si daging berapa nik nya?
(-) si daging 774, si jangkung gak tau
(+) atau... nik teman yang kamu tahu?
(-) aku gak ada yg tahu nik org lain
(+) :) oh, ya udah. udah sholat blm?
(-) ini lah mau sholat.
(+) coba hitung dulu :3.714.000 bandingin sama salary kamu yang dulu. berapa procen tuch?
(-) 10 %
(+) klo yang 774 : 3.499.000
(-) heheee....itu gaji baru ya ?
(+) :) makanya, itung yang bener. kamu tepatnya berapa persen. persis se koma-komanya. aku mau cocokin
(-) 10,0458015267 %
(+) tuch kan. gaji kamu dah gedhe :) ya udah, sholat dulu sana. tar, klo masih penasaran bisa chat lagi.
(-) bener itu punya ku ?
(+) lihat tar senin aja klo masih penasaran.
(-) yeeeeeee..... hehehee......alhamdulillah. aku sholat dulu ya hahahhaha..........
trus, ini nyambung lagi setelah sholat. niknya si jangkung ketemu juga.
(+) 776 : 2.510.000
(+) kebaca?
(-) iya
(+) 1930 : 7.646.000 siapa tuh? gile. jabatannya apa nih orang? tukang ngelus-elus kepala bos kali. atau kalau enggak, dia pasti golongan satria. bukan sudra kayak kita.
(-) nggak tau. gue cuma mau tahu punya gue doang.
(+) klo gak salah check sih itu gaji baru. bukan rapelan. lagi pula klo rapel. dikit amat. gak salah itung persentasenya?
(-) nggak.
(+) hmm, selamat ya... tahun besok dijamin lompat level kepala 4 dech.
(-) amin.
(+) si jangkung masuk tahun ?
(-) 2004
(+) berarti gedhe dong.... baru 5 tahun udah segitu.
(-) iya udah pernah adjustment
(+) kamu sama si dagingn lebih dulu siapa? gedhean kamu kan?
(-) si daging dari produksi.
(+) iya, tapi, masuk pabrik ini duluan siapa? berarti tidak ada alasan lagi untuk males kerja. boring. bete.
(+) ya udah. selamat pulang. beli sate, kasih oleh-oleh buat anak-anak... "ini untuk kenaikan gaji tahun ini..." gitu bilang ke mereka
(-) duluan si daging. hehehe....iya. berarti aku cuti bawa berkah ke org lain ya. Si daging bisa naik 17 %, si tulang 20 %.
(-) hehehee.....uang nya kan blm terima.
(+) ssst... uang hanyanominal. yang penting angka.
(-) hahahhaa...........
(+) jangan lihat procentasenya. lihat actual akhirnya. kamu lebih tinggi dari yang lain. itu kan yang penting?
(-) iya alhamdulillah :)
(+) sip deh. Tetap semangat ya... by..bye...
(-) :)
trus, ini setelah dicheck ketika menerima slip sebenarnya. ternyata, angka yang gue intip memang tepat.
(+) koq bengong.... kangen bocah dirumah ya...
(-) hehehee....tau aja loe
(+) gw aja suka kangen sama bocah dirumah. gimana eloe yang baru kemarin dapet bayi.
(+) barusan slip dikasih. gw cuekin aja. gak gw buka sama sekali. langsung aja gw tulisin "untuk:istriku tersayang. baca bismillah, tolong dibukain. jangan lupa hamdalahnya ya...." taruh diatas meja. eh, dibaca sama orang-orang.
(-) nah.....itu dia.
(-) pasti org bilang kamu tuh orangnya aneh
(+) lainnya begitu dapet langsung dibuka, ngintip-ngintip. pelan banget.
(-) hehehee.......... loe gak bisa ngintip duluan ?
(+) ngintipnya beda. gw ngintip di system. klo mereka kan mesti nungguin slip di cetak.
(-) nah...itu yg bedain mereka ama kamu. loe dah tahu duluan jadi ya...gak usah buka slip
(+) emak gue (atasan) sempet nanyain sih, tapi klo kemarin masih gw jawab "tar aja, coba lihat slipnya". klo tadi gw bilang "diatas 20%" kataku.
(-) nah lho..... dia kan heran loe blm buka slip kok dah tau persennya.
(+) dia tahu juga koq. tahun kemarin kan aku unjukin kenaikan gaji dia. "nih bu, catet tuh naiknya berapa?" sambil aku unjukin layar monitor kode-kodenya. trus, cara lihatnya. otomatis dia udah tahu klo aku pasti dah ngintip duluan.
(-) wakakakkkkk........
(+) dari senin kemarin udah pada nanyain, tapi, aku jawab aja "tunggu aja slipnya, susah amat" kataku. saat tadi gw bilang > 20% emak langsung ngajakin ngobrol "bisik-bisik" pula ngobrolnya.
(-) ngobrol apaan ?
(+) soal kenaikan. kenapa koq gw bisa segitu naiknya. katanya sih dia kasih nilai very good gitu. makanya bisa gedhe.
(-) ohhh.......... trus
(+) sorry, lagi kontek sekretaris rt buat nyiapin rapat buat tar malem sama besok malem.
(-) wahh....... yg jadi pejabat. sibuk bgt kayaknya.
(+) ha..ha..ha... sibuk sih enggak. cuma koordinasi doang. "pak, tolong siapin anggaran ini ini ini, terpal. buat konsumsi budget sekian-sekian, udangan tolong diubat, pembahasan mengenai ini ini dan ini. jam mulai sekian, target selesai jam sekian." udah gitu doang. trus, sampe dimana tadi?
(+) oh iya, emak ngajakin ngobrol soal kenaikan tahun ini. rata-rata lumayan kata dia. budget dari aop naik dari 9% menjadi 12%. itung-itung subsidi bensin kan sempet naik. trus, adjustmen transport tidak dikasih. makanya, sekalian digabungin di kenaikan tahun ini. trus, dia mbandingin juga. "si brewokt juga lumayan naiknya. kata brewok sendiri sih" gitu dia bilang. "karena, brewok emang naik grade. dari 14 ke 15" lanjutnya. dalam hati gw, rejeki budi emang di grade cepet naik. dari 14 ke 15 aja segampang itu. sementara gw, mau masuk level 14 aja setengah budeg susahnya.
(-) loe gak nyinggung soal grade loe ?
(+) ha..ha..ha... udah males. biarin aja. gw sih netral aja. tapi, yang jelas tahun ini kenaikan gw (secara procentase loh ya) paling tinggi diantara orang sini. itu udah cukup koq bagi gw. tak perlu-lah nanya-nanya sesuatu yang gak jelas. Gue juga cukup tahu diri, kalau dalam industrialis kapitalis, gelar sangat disanjung. Sementara gue?
(-) ohhh......
(+) ups, sorry. dah adzan. sholat dulu ya...
ya, begitulah. sengaja chattingan ini gue muat di blog. biar gak disangka orang sinting. ups, atau kebalikannya ya?
begitu minta diintipin, nolak susah. nerima salah. tapi, gue sendiri doyan. mau gimana lagi. kayak ikan ketemu umpan dech.
(-) :)
(+) gimana kabar?
(-) nggak begitu sehat. masih flu.
(+) tumben lama. biasa cepat sembuh.
(-) iya nih dah lbh 2 minggu kyknya. bandel amat nih sakitnya.
(+) oh iya, sana dah dibagi slip? nik kamu berapa?
(-) blm, dengernya slip dibagi senin. kamu udah dpt ?
(+) blm juga. klo kelihatannya sih udah salinc-salary increase.
(-) maksudnya ?
(+) maksudnya udah kenaikan gaji. soalnya disana dieksekusi user fam semua yang transaksi. sayangnya kemarin transaksinya. all base spoolnya udah hilang. sekarang sih tinggal yang masih indent si system aja yang ketahuan. klo cabang lain masih komplit.
(-) ohhhhhhh..........
(+) nik kamu berapa?
(-) 773
(+) wah, ga da tuch. ada 772 langsung lompat 774. siapa tuh?
(-) lho ?
(-) gak tau
(+) klo si jangkung, atau si daging berapa nik nya?
(-) si daging 774, si jangkung gak tau
(+) atau... nik teman yang kamu tahu?
(-) aku gak ada yg tahu nik org lain
(+) :) oh, ya udah. udah sholat blm?
(-) ini lah mau sholat.
(+) coba hitung dulu :3.714.000 bandingin sama salary kamu yang dulu. berapa procen tuch?
(-) 10 %
(+) klo yang 774 : 3.499.000
(-) heheee....itu gaji baru ya ?
(+) :) makanya, itung yang bener. kamu tepatnya berapa persen. persis se koma-komanya. aku mau cocokin
(-) 10,0458015267 %
(+) tuch kan. gaji kamu dah gedhe :) ya udah, sholat dulu sana. tar, klo masih penasaran bisa chat lagi.
(-) bener itu punya ku ?
(+) lihat tar senin aja klo masih penasaran.
(-) yeeeeeee..... hehehee......alhamdulillah. aku sholat dulu ya hahahhaha..........
trus, ini nyambung lagi setelah sholat. niknya si jangkung ketemu juga.
(+) 776 : 2.510.000
(+) kebaca?
(-) iya
(+) 1930 : 7.646.000 siapa tuh? gile. jabatannya apa nih orang? tukang ngelus-elus kepala bos kali. atau kalau enggak, dia pasti golongan satria. bukan sudra kayak kita.
(-) nggak tau. gue cuma mau tahu punya gue doang.
(+) klo gak salah check sih itu gaji baru. bukan rapelan. lagi pula klo rapel. dikit amat. gak salah itung persentasenya?
(-) nggak.
(+) hmm, selamat ya... tahun besok dijamin lompat level kepala 4 dech.
(-) amin.
(+) si jangkung masuk tahun ?
(-) 2004
(+) berarti gedhe dong.... baru 5 tahun udah segitu.
(-) iya udah pernah adjustment
(+) kamu sama si dagingn lebih dulu siapa? gedhean kamu kan?
(-) si daging dari produksi.
(+) iya, tapi, masuk pabrik ini duluan siapa? berarti tidak ada alasan lagi untuk males kerja. boring. bete.
(+) ya udah. selamat pulang. beli sate, kasih oleh-oleh buat anak-anak... "ini untuk kenaikan gaji tahun ini..." gitu bilang ke mereka
(-) duluan si daging. hehehe....iya. berarti aku cuti bawa berkah ke org lain ya. Si daging bisa naik 17 %, si tulang 20 %.
(-) hehehee.....uang nya kan blm terima.
(+) ssst... uang hanyanominal. yang penting angka.
(-) hahahhaa...........
(+) jangan lihat procentasenya. lihat actual akhirnya. kamu lebih tinggi dari yang lain. itu kan yang penting?
(-) iya alhamdulillah :)
(+) sip deh. Tetap semangat ya... by..bye...
(-) :)
trus, ini setelah dicheck ketika menerima slip sebenarnya. ternyata, angka yang gue intip memang tepat.
(+) koq bengong.... kangen bocah dirumah ya...
(-) hehehee....tau aja loe
(+) gw aja suka kangen sama bocah dirumah. gimana eloe yang baru kemarin dapet bayi.
(+) barusan slip dikasih. gw cuekin aja. gak gw buka sama sekali. langsung aja gw tulisin "untuk:istriku tersayang. baca bismillah, tolong dibukain. jangan lupa hamdalahnya ya...." taruh diatas meja. eh, dibaca sama orang-orang.
(-) nah.....itu dia.
(-) pasti org bilang kamu tuh orangnya aneh
(+) lainnya begitu dapet langsung dibuka, ngintip-ngintip. pelan banget.
(-) hehehee.......... loe gak bisa ngintip duluan ?
(+) ngintipnya beda. gw ngintip di system. klo mereka kan mesti nungguin slip di cetak.
(-) nah...itu yg bedain mereka ama kamu. loe dah tahu duluan jadi ya...gak usah buka slip
(+) emak gue (atasan) sempet nanyain sih, tapi klo kemarin masih gw jawab "tar aja, coba lihat slipnya". klo tadi gw bilang "diatas 20%" kataku.
(-) nah lho..... dia kan heran loe blm buka slip kok dah tau persennya.
(+) dia tahu juga koq. tahun kemarin kan aku unjukin kenaikan gaji dia. "nih bu, catet tuh naiknya berapa?" sambil aku unjukin layar monitor kode-kodenya. trus, cara lihatnya. otomatis dia udah tahu klo aku pasti dah ngintip duluan.
(-) wakakakkkkk........
(+) dari senin kemarin udah pada nanyain, tapi, aku jawab aja "tunggu aja slipnya, susah amat" kataku. saat tadi gw bilang > 20% emak langsung ngajakin ngobrol "bisik-bisik" pula ngobrolnya.
(-) ngobrol apaan ?
(+) soal kenaikan. kenapa koq gw bisa segitu naiknya. katanya sih dia kasih nilai very good gitu. makanya bisa gedhe.
(-) ohhh.......... trus
(+) sorry, lagi kontek sekretaris rt buat nyiapin rapat buat tar malem sama besok malem.
(-) wahh....... yg jadi pejabat. sibuk bgt kayaknya.
(+) ha..ha..ha... sibuk sih enggak. cuma koordinasi doang. "pak, tolong siapin anggaran ini ini ini, terpal. buat konsumsi budget sekian-sekian, udangan tolong diubat, pembahasan mengenai ini ini dan ini. jam mulai sekian, target selesai jam sekian." udah gitu doang. trus, sampe dimana tadi?
(+) oh iya, emak ngajakin ngobrol soal kenaikan tahun ini. rata-rata lumayan kata dia. budget dari aop naik dari 9% menjadi 12%. itung-itung subsidi bensin kan sempet naik. trus, adjustmen transport tidak dikasih. makanya, sekalian digabungin di kenaikan tahun ini. trus, dia mbandingin juga. "si brewokt juga lumayan naiknya. kata brewok sendiri sih" gitu dia bilang. "karena, brewok emang naik grade. dari 14 ke 15" lanjutnya. dalam hati gw, rejeki budi emang di grade cepet naik. dari 14 ke 15 aja segampang itu. sementara gw, mau masuk level 14 aja setengah budeg susahnya.
(-) loe gak nyinggung soal grade loe ?
(+) ha..ha..ha... udah males. biarin aja. gw sih netral aja. tapi, yang jelas tahun ini kenaikan gw (secara procentase loh ya) paling tinggi diantara orang sini. itu udah cukup koq bagi gw. tak perlu-lah nanya-nanya sesuatu yang gak jelas. Gue juga cukup tahu diri, kalau dalam industrialis kapitalis, gelar sangat disanjung. Sementara gue?
(-) ohhh......
(+) ups, sorry. dah adzan. sholat dulu ya...
ya, begitulah. sengaja chattingan ini gue muat di blog. biar gak disangka orang sinting. ups, atau kebalikannya ya?
Senin, 30 Maret 2009
lovely
segala kehidupan memang kegelapan jika tanpa keinginan,
segala keinginan adalah buta jika tanpa pengengatuhan,
segala pengetahuan adalah kosong jika tanpa kerja,
dan,
segala kerja adalah hampa jika tanpa disertai cinta. (ali bin abithalib)
lantas,
bagaimanakah kerja dengan cinta itu?
saat kaki mengayuni gawang pintu dengan senyum tanpa misteri
ketika bibir berucap "assalamu'alaikum" pada sang isteri
teriring "atas nama tuhan" kulangkahkan kaki
atas nama "ibadah", segala kuperbuat hari ini
rela dan ridha, apapun dikehendaki-nya untukku.
cukupkah (definisi) itu mewakili cinta?
tak akan. tak ada penafsiran sempurna, hanya
keheningan jiwa sanggup meresap segala makna.
segala keinginan adalah buta jika tanpa pengengatuhan,
segala pengetahuan adalah kosong jika tanpa kerja,
dan,
segala kerja adalah hampa jika tanpa disertai cinta. (ali bin abithalib)
lantas,
bagaimanakah kerja dengan cinta itu?
saat kaki mengayuni gawang pintu dengan senyum tanpa misteri
ketika bibir berucap "assalamu'alaikum" pada sang isteri
teriring "atas nama tuhan" kulangkahkan kaki
atas nama "ibadah", segala kuperbuat hari ini
rela dan ridha, apapun dikehendaki-nya untukku.
cukupkah (definisi) itu mewakili cinta?
tak akan. tak ada penafsiran sempurna, hanya
keheningan jiwa sanggup meresap segala makna.
Kamis, 16 Oktober 2008
terkesima
Minggu, 2008 Juni 29
Visitor Voice: Rindu ini Membuncah Lagi
Nurani Seorang Salwangga----------------sebelumnya salam kenal, saya terlahir di sebuah dusun kecil timur jogja. dusun petir, srimartani, piyungan, bantul, yogyakarta.hanya karena sebuah ke-egoisan pribadi, aku terlempar sampai tanah bekasi. rindu memang akan tumpah darah kelahiran.tapi,lingkaran kehidupan dengan rutinitas keseharian telah menawan aku ditempat ini.do'a restunya saudaraku.aku rindu ingin berkiprah dikampungku. saat ini, cukup dengan mengunjungi blog ini. rasanya menjadi obat tersendiri.2008 Juni 27 13:22[palungsalwangga]------------------
[Thanks untuk salwangga atas comment-nya. Maaf kalo kami tampilkan 'comment' ini... semoga tidak keberatan. Kami termotivasi untuk lebih meningkatkan 'kiprah' kami dengan membaca 'comment' ini. Dan setiap 'comment' juga catatan di 'Buku Tamu' yang kami anggap memberi motivasi akan kami posting di blog ini. Thanks again - ADMIN]
Visitor Voice: Rindu ini Membuncah Lagi
Nurani Seorang Salwangga----------------sebelumnya salam kenal, saya terlahir di sebuah dusun kecil timur jogja. dusun petir, srimartani, piyungan, bantul, yogyakarta.hanya karena sebuah ke-egoisan pribadi, aku terlempar sampai tanah bekasi. rindu memang akan tumpah darah kelahiran.tapi,lingkaran kehidupan dengan rutinitas keseharian telah menawan aku ditempat ini.do'a restunya saudaraku.aku rindu ingin berkiprah dikampungku. saat ini, cukup dengan mengunjungi blog ini. rasanya menjadi obat tersendiri.2008 Juni 27 13:22[palungsalwangga]------------------
[Thanks untuk salwangga atas comment-nya. Maaf kalo kami tampilkan 'comment' ini... semoga tidak keberatan. Kami termotivasi untuk lebih meningkatkan 'kiprah' kami dengan membaca 'comment' ini. Dan setiap 'comment' juga catatan di 'Buku Tamu' yang kami anggap memberi motivasi akan kami posting di blog ini. Thanks again - ADMIN]
Rabu, 19 Maret 2008
kampret
bukanlah cinta bila menyakiti
dikatakan cinta sejati hanya yg bisa membahagiakan hati
tidak ada jatuh cinta
tidak ada ketiban asmara
yang ada adalah cinta dibina dipupuk dihadirkan dengan segenap jiwa
gila rasanya ditinggal cinta
demam rasanya ditikam cinta
putus asa rasanya ditolak cinta
hanya ada satu pemilik cinta yang tidak akan pernah menolaknya
carilah....
ketemukan dia
maka tidak ada yang pantas kau dapatkan kecuali hilang segala dahaga
tulisan ini terinspirasi setelah membaca "Ketika Cinta Bertasbih" Habiburrahman El Syirazy
dwilogi pembangun jiwa
dikatakan cinta sejati hanya yg bisa membahagiakan hati
tidak ada jatuh cinta
tidak ada ketiban asmara
yang ada adalah cinta dibina dipupuk dihadirkan dengan segenap jiwa
gila rasanya ditinggal cinta
demam rasanya ditikam cinta
putus asa rasanya ditolak cinta
hanya ada satu pemilik cinta yang tidak akan pernah menolaknya
carilah....
ketemukan dia
maka tidak ada yang pantas kau dapatkan kecuali hilang segala dahaga
tulisan ini terinspirasi setelah membaca "Ketika Cinta Bertasbih" Habiburrahman El Syirazy
dwilogi pembangun jiwa
Kamis, 13 Maret 2008
dilarang berfikir
Anak kecil lebih mudah melakukan segala sesuatu dengan lebih kreatif daripada orang dewasa. Anak kecil juga lebih berbahagia dan ceria dibanding orang tua. Kenapa ? sifat – sifat ilahiah masih begitu murni terpancar dari perilaku sang anak. Itulah sebabnya intuisi seorang anak kecil lebih tepat dan akurat dibanding orang dewasa. Dengan kemurnian jiwanya naluri dan insting anak – anak terkadang dapat melihat dunia tak kasat mata atau bahkan merasakan perasaan orang tua dengan mengekspresikan ngambek, nangis, tertawa lepas bahkan bertingkah lucu dan menggemaskan.
Dalam menjalani kehidupan ini sebenarnya yang lebih banyak membutuhkan intuisi utnuk bertindak adalah orang dewasa / orang tua. Untuk memenuhi segala tuntutan hidup diperlukan tindakan nyata misalnya apakah akan bertahan menjadi karyawan rendahan atau berwiraswasta. Kenyataannya intuisi ini justeru lebih banyak dipunyai oleh anak kecil. Pikiran dan akal orang dewasa telah demikian tercemar oleh pemikiran – pemikiran yang boleh dikatakan overload. Computer saja kalau sudah stack rawan hang, bagaimana manusia. Computer jelas mempunyai tombol reset, bila hang tinggal pencet atau cabut kabel arusnya. Manusia ? tombol apa yang mesti dipencet agar dapat re start ?
Bagaimana merangsang intuisi untuk muncul secara tepat ?
Setiap orang pasti memiliki intuisi, yang membedakan adalah kadar dan kesadaran bagaimana intuisi ini muncul kepermukaan. Namun demikian, intuisi selalu dapat dirangsang untuk kemudian dilatih dan dikembangkan. Banyak mentor – mentor, atau motivator – motivator yang menawarkan program traning pengendalian diri. Sebenarnya segala sesuatu hanya akan kembali kepada diri sendiri. Inilah fungsinya pengenalan diri.
Sebelum itu selayaknya dipahami dulu apakah dan bagaimanakah intuisi itu.
Sangat tipis perbedaan antara intuisi dengan nafsu. Nafsu mempunyai ciri serba terburu – buru, terkesan diyakin – yakinkan, melalui pemikiran njlimet dan ada perasaan was – was untuk memulainya, ujung – ujungnya timbul keraguan untuk memilih ya atau tidak. Sedangkan intuisi biasanya muncul kepermukaan begitu saja atau spontan, tertuang dengan tenang, rasional dan sesuai dengan rasa kita.
Dari uraian singkat ini dapatlah ditarik benang merah perbedaan mendasar antara intuisi dengan nafsu.
Mengembankan intuisi.
Intuisi yang begitu besar dan begitu potensial pada saat masih usia anak – anak lambat laun semakin berkurang kualitasnya seiring dengan bertambahnya usia, hal ini tentulah sangat dipengaruhi oleh kebersihan hati dan pikiran ( baca : ketenangan jiwa ). Ada beberapa hal yang dapat dijadikan tahapan untuk mengembangkan intuisi, yaitu :
empati. Dapat dilakukan dengan sering – sering menyerap energi kehidupan disekitar kita.
stimulis / rangsangan. Syarat utama untuk dapat melatih rangsangan ini adalah banyak – banyak lah tersenyum dan santai – rileks.
menciptakan manfaat. Segala sesuatu yang dilalui adalah bagian dari process yang harus dijalani. Tanamkan perasaan seperti ini dalam diri. Sehingga akan timbul pandangan bahwa apapun yang terjadi selalu disikapi secara – asas manfaat ( mengambil hikmah & pelajaran ).
silaturahim. Tidak disangka ternyata menjalin, menyambung dan mepertahankan hubungan antar manusia dapat melatih mengembangkan intuisi. Bagaimana tidak. Dalam pergaulan yang sehat tentulah sangat memungkinkan terjadi dialogis dua arah ( atau lebih ) yang mau tidak mau harus melatih berbicara. Minimal melatih pendengaran.
Dari empat point diatas sebenarnya point kedua lah yang lebih dominan. Setiap diri kita sangat membutuhkan relaksasi. Boleh – boleh saja berpikiran serius dengan memikirkan planning, actuating, orgazing dan reporting, akan tetapi kalau kebablasan serius bisa jadi stress yang akan melanda bahkan depresi. Santai, rileks, bahkan kalau perlu lambungkan angan dan imaginasi seluas kita mau. Rehat sejenak memang sangat diperlukan. Berfikir dengan nyaman dan memunculkan spontanitas selayaknya dilatih agar apa yang kita ambil dengan cepat dan spontan tapi tidak asal – asalan.
Hal ini memang perlu dilatih, agar hidup lebih enjoy namun terarah.
So…. Mulai sekarang kurangi berfikir serius, tersenyumlah, atau tertawalah selama belum dikenakan pajak.
Dalam menjalani kehidupan ini sebenarnya yang lebih banyak membutuhkan intuisi utnuk bertindak adalah orang dewasa / orang tua. Untuk memenuhi segala tuntutan hidup diperlukan tindakan nyata misalnya apakah akan bertahan menjadi karyawan rendahan atau berwiraswasta. Kenyataannya intuisi ini justeru lebih banyak dipunyai oleh anak kecil. Pikiran dan akal orang dewasa telah demikian tercemar oleh pemikiran – pemikiran yang boleh dikatakan overload. Computer saja kalau sudah stack rawan hang, bagaimana manusia. Computer jelas mempunyai tombol reset, bila hang tinggal pencet atau cabut kabel arusnya. Manusia ? tombol apa yang mesti dipencet agar dapat re start ?
Bagaimana merangsang intuisi untuk muncul secara tepat ?
Setiap orang pasti memiliki intuisi, yang membedakan adalah kadar dan kesadaran bagaimana intuisi ini muncul kepermukaan. Namun demikian, intuisi selalu dapat dirangsang untuk kemudian dilatih dan dikembangkan. Banyak mentor – mentor, atau motivator – motivator yang menawarkan program traning pengendalian diri. Sebenarnya segala sesuatu hanya akan kembali kepada diri sendiri. Inilah fungsinya pengenalan diri.
Sebelum itu selayaknya dipahami dulu apakah dan bagaimanakah intuisi itu.
Sangat tipis perbedaan antara intuisi dengan nafsu. Nafsu mempunyai ciri serba terburu – buru, terkesan diyakin – yakinkan, melalui pemikiran njlimet dan ada perasaan was – was untuk memulainya, ujung – ujungnya timbul keraguan untuk memilih ya atau tidak. Sedangkan intuisi biasanya muncul kepermukaan begitu saja atau spontan, tertuang dengan tenang, rasional dan sesuai dengan rasa kita.
Dari uraian singkat ini dapatlah ditarik benang merah perbedaan mendasar antara intuisi dengan nafsu.
Mengembankan intuisi.
Intuisi yang begitu besar dan begitu potensial pada saat masih usia anak – anak lambat laun semakin berkurang kualitasnya seiring dengan bertambahnya usia, hal ini tentulah sangat dipengaruhi oleh kebersihan hati dan pikiran ( baca : ketenangan jiwa ). Ada beberapa hal yang dapat dijadikan tahapan untuk mengembangkan intuisi, yaitu :
empati. Dapat dilakukan dengan sering – sering menyerap energi kehidupan disekitar kita.
stimulis / rangsangan. Syarat utama untuk dapat melatih rangsangan ini adalah banyak – banyak lah tersenyum dan santai – rileks.
menciptakan manfaat. Segala sesuatu yang dilalui adalah bagian dari process yang harus dijalani. Tanamkan perasaan seperti ini dalam diri. Sehingga akan timbul pandangan bahwa apapun yang terjadi selalu disikapi secara – asas manfaat ( mengambil hikmah & pelajaran ).
silaturahim. Tidak disangka ternyata menjalin, menyambung dan mepertahankan hubungan antar manusia dapat melatih mengembangkan intuisi. Bagaimana tidak. Dalam pergaulan yang sehat tentulah sangat memungkinkan terjadi dialogis dua arah ( atau lebih ) yang mau tidak mau harus melatih berbicara. Minimal melatih pendengaran.
Dari empat point diatas sebenarnya point kedua lah yang lebih dominan. Setiap diri kita sangat membutuhkan relaksasi. Boleh – boleh saja berpikiran serius dengan memikirkan planning, actuating, orgazing dan reporting, akan tetapi kalau kebablasan serius bisa jadi stress yang akan melanda bahkan depresi. Santai, rileks, bahkan kalau perlu lambungkan angan dan imaginasi seluas kita mau. Rehat sejenak memang sangat diperlukan. Berfikir dengan nyaman dan memunculkan spontanitas selayaknya dilatih agar apa yang kita ambil dengan cepat dan spontan tapi tidak asal – asalan.
Hal ini memang perlu dilatih, agar hidup lebih enjoy namun terarah.
So…. Mulai sekarang kurangi berfikir serius, tersenyumlah, atau tertawalah selama belum dikenakan pajak.
Langganan:
Postingan (Atom)