just prolog:
Yazid ar-Raasyi pernah berkata pada dirinya sendiri, “Yazid, Yazid. Celaka, kamu! Setelah kamu nanti tiada, siapa yang mau shalat atas namamu? Siapa yang sudi berpuasa atas namamu? Dan siapa yang bersedia memintakan keridhaan Allah atas namamu?”
“Ketika kami sedang duduk bersama Rasulullah, tiba-tiba muncul seorang sahabat Anshar. Setelah mengucap salam kepada beliau, ia bertanya, ‘Rasulullah, siapakah orang mukmin yang terbaik itu?’ Beliau menjawab, ‘Yang paling baik akhlaknya’. Ia bertanya, ‘Siapakah orang mukmin yang paling pintar?’ Beliau menajwab, ‘yang paling sering ingat kematian dan yang punya persiapan terbaik untuk menyambut apa yang terjadi sesudahnya. Mereka itulah orang yang paling pintar.’” (ath-Thabrani dan Ibnu Majah).
----------$$$----------
prolog diatas, merupakan cuplikan hadits. just pengantar aja. tulisan sebenarnya sich yang dibawah ini. meski comot sana sini dan gak jelas sumbernya (tepatnya lupa), yang penting tulis aja.
“Bu Tyas nitip buku yang kayak punya ibu”, kataku membuka pembicaraan. Sore itu jam setengah delapan aku udah nyampe rumah. Alhamdulillah, perjalanan lancar. Sholat isya’nya di dekat rumah pula. Begitu mau masuk komplek (perumahan), pas adzan. Mampir dulu dech, absen sama Allah, baru masuk rumah. Biar adhem dulu, gitu.
Sambil menyeruput teh manis anget buatan istri, trus, ada ubi juga, lumayan, buat buka. Kalau langsung makan, malah suka neg perut. secara, seharian kosong masak mau langsung dipenuhin.
“Ya udah. Sekarang aja kita beli. Yuk, ibu anterin”, sahutnya.
Udah kayak pacaran aja, cuma ke depan komplek, mesti berdua-dua. Hanya saja, si botak gak mau ketinggalan, biasa, buntut-buntutnya mau minta es krim tuch. Dan, benar saja. Begitu aku masuk ke toko buku, ia udah nyelonong duluan ke indomaret.
Saat aku mau bayar buku, di rak pojok deket pintu adalah beberapa majalah. Mataku terfokus pada tulisan pada salah satu sampul, “yang dikejar tidak dapat, yang dikandung berceceran”. Wah, boleh juga nih majalah, kataku.
Bukan majalan besar loh ya, hanya sebatas ukuran buku. Jadi praktis, bisa dibawa kemana-mana. Udah gitu, isinya hanya 32 halaman. Harganya juga murah koq. 3.500. ya udah, aku ambil aja.
“Udah, pulang! jangan ambil lagi. Niatnya beliin buku Bu Tyas, tar malah dapetnya macem-macem” kata istri.
Oh, pantes aja pengin nemenin. Critanya ngawal toch, takut klo kebanyakan buku kebeli. Tapi, emang sih, mataku udah ijo aja klo masuk ke toko buku.
Baru ini aku ngrasain ketemu majalah kecil, mungil, tapi penuh gizi. Sarat renungan. Menggelitik nurani untuk kembali fitri. Menghisab diri. koreksi diri. Tak tahan deh rasanya! rasanya gimana gitu.
Gaya bertutur (tulisan) nya itu loh, manusia banget dah pokoknya. Eit, jangan protes dulu! maksud ku gini. Fitrah manusia, itu kan sebenarnya hanif. Baik. Makanya, semua manusia tuch sebenarnya kangen dan rindu sama kebaikan.
Tapi, akhir-akhir ini ‘hakekat’ manusia itu sudah mati. Sedikit sekali yang tidak membuat kerusakan. Yang doyan ngrusak, apa dong namanya? Manusia?
Salah satu renungan yang uenteng banget nih ya, simak;
Kita,
Kita bukannya pandai untuk cakap orang lain bodoh, tapi, ktia adalah pandai jikalau kita sebarkan ilmu itu kepada orang lain.
Kita bukanlah kaya untuk cakap orang lain miskin, tapi, kita adalah kaya jikalau kita manfaatkankekayaan kita kepada jalan kebaikan.
Kita bukanlah handsome utnuk cakap orang lain muka tak handsome (perhatikan pemilihan kata ‘tak handsome’ ketimbang jelek. Jitu kan?), tapi, kita adalah handsome jikalau kita tak meninggi diri.
Kita bukanlah cantik untuk cakap orang lain tak cantik, tapi, kita adalah cantik jikalau kita senantiasa memuji orang lain.
Kita bukanlah baik untuk cakap orang lain jahat, tapi, kita adalah baik jikalau kita mengajak orang lain kea rah kebaikan dan menjadi contoh dan tauladan orang lain.
Kita bukanlah alim untuk cakap orang lain lupa sembahyang, tapi, kita adalah alim jikalau kita memperuntukkan sebagian rutin seharian kita kepada-Nya dengan seikhlas hati.
Kita bukanlah kuat untuk cakap orang lain lemah, tapi, kita adalah kuat jika kita senantiasa membantu orang yang lemah.
Kita bukanlah berani untuk cakap orang lain penakut, tapi, kita adalah berani jikalau kita sanggup menggadaikan nyawa untuk mempertahankan agama.
Kita bukannya manusia yang hebat untuk mencaci dan mengutuk ciptaan-Nya. Dia Maha Mengetahui. Setiap apa yang diciptakannya mempunyai hikmah yang tersendiri.
Keunikan dari majalah ini, banyak banget hadits-hadits pilihan yang sering diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Hanya saja, kemasannya itu tidak memuakkan dan bikin muntah. Tahu kan yang ku maksud?
Coba baca kumpulah hadits shohih Bukhari-Muslim. Gak bakalan betah dah pegang sejam aja. Paling-paling buka, kalau pas nyari lisensi doang.
Tapi, dalam majalah ini, super ringan dan enak dibaca. Bahasanya menyeluruh. Dalam artian, tidak gaul, tapi, juga tidak formil. Dalam arti, dakik-dakik sebagai mana kiyai memberi petuah. Dibaca sekali saja, langsung tertanam dalam hati. artikelnya juga pendek-pendek. Padet gitu. mutiara kata juga ada. Dan, dikemas dalam tutur kata yang ‘nggak neko-neko’. Pokoknya pas gitu deh.
Atau juga, bagi yang pernah terjebak berbuat dholim atau maksiat, baca kalimat ini. “Sesungguhnya maksiat yang mencetuskan ketundukan dan membuat hati hancur lebih baik daripada ketaatan yang mengakibatkan ketakjuban diri sendiri dan ketakaburan.”
Siapa yang tidak berbesar hati walaupun pernah berbuat salah begitu membaca kalimat itu? Atau, bagaimana rasanya jika, orang udah salah, kehilangan, malah di salah-salahin. Di hujat pula. Eh, lah koq masih di goblok-goblokin. “Dasar, bahlul ente. Udah tahu gitu, masih dilakuin juga!”, apa gak gondok? Atau juga frustasi?
sebuah cerita terkenal tentang seorang pembunuh segera melintas. perampok sadis ini, yang suka ngambil harta sekaligus nyawa pemiliknya, ketika itu sudah membunuh 99 korban. saat hati resah, dan pengin tobat, ketemu kiai muda baru turun gunung. "he, anak muda. aku pengin tobat, apakah tuhan mengampuniku?".
"oh, dosamu sudah terlalu banyak. tuhan tidak mangampunimu!"
"ya sudah saja, sekalian kubunuh kau biar genap 100", kata perampok itu. trus, kelanjutannya udah pada tahu kan? akhirnya tuch perampok tobat juga dan diterima tuhan setelah mendapat arahan dari kiai sepuh penuh sahaja. bahwasanya, ia akan diampuni kalau tobat sungguh-sungguh, dan meninggalkan komunitas lama dan mencari tempat yang baru yang penuh dengan hunian orang shalih.
Salah satu testimoni seorang pembaca, “MA adalah majalah yang bagus untuk umat muslim, alangkah indah setiap kata-kata yang tersaji didalamnya, dari MA aku baru tahu betapa berartinya hidup ini, dan skan sia-sia apabila aku menjalankan hidup ini tanpa Allah, alhamdulillah aku telah mengenal MA, terus berjuang… wassalam.” (Novalia, Jakarta Timur)
Majalah apakah itu? (sebenarnya aku lebih suka menyebutnya buku. Karena bentuknya emang seukuran buku tulis). Itulah, Mutiara Amaly alias MA. Penyejuk jiwa penyubur iman.
Saat aku menulis tentang “umur manusia didunia Cuma 3 menit” beberapa waktu lalu, juga terinspirasi dari majalah MA ini.
Yang jelas, majalah ini bagus, dan aku suka baca renungan-renungannya. Aku juga ingin, temen-temen ikut baca juga.
So….
Kalau diantara rekan ada yang tertarik, cari aja di sekitar anda. semoga nemuin dech. atau juga, saya akan kirimkan ke alamat anda, mau?
Tampilkan postingan dengan label kupas buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kupas buku. Tampilkan semua postingan
Kamis, 14 Mei 2009
Rabu, 25 Februari 2009
bankir sesa(a)t : tapak² sesat bangkitkan konspirasi
Kocak, humoris, nyentrik. Itu kesan pertama menatap bankir sesa(a)t. Design cover dominan kuning klasik disuguhi gambar manusia klimis bertampang (di) iblis (-iblisin) mengingatkan masa kecil saat menempel gampar kepala dengan pas photo ukuran 10R kiai sharmin -musuh Flash Gordon. Kalau zaman sekarang mungkin sekelas Power Ranger atau Mask Rider Kuuga. Jagoan dalam angan-angan.
Kalau buku ini sampai jatuh ketangan autis, sontak berubah jadi dewa ketawa. Ngakak tiada henti. Kalau kebaca sama orang gila, langsung waras deh. Kasihan dokter kejiwaan, keserobot job-nya lantaran pasien menurun drastis. Stress, putus asa, gelisah, linglung. Apa lagi? Depresi, mungkin. Lenyap sebelum berkedip. Iblis klimis bertampang ganteng bertanduk nongkrong di sampul depan, narsis abis. Ini saja sudah cukup menggerakkan urat bibir buat mencibir – eh, nyengir maksudnya. Menahan geli.
Langsung halaman terakhir (cover dalam) terutama pembaca yang diuber janda beranak lima minta dinafkahi secara ekonomi, hilang tegang – muncul riang baca selembar ini saja. Urat penasaran segera pengin ketawa lebih ngakak menyendul-nyendul tirani (dan benteng) depresi. Profil penulis “… umur 17 tahun, oke..oke… korupsi 11 tahun, itung sendiri deh…” tengil abis kan? Belum lagi monyet piaraan ikut nampang disitu. Jadi inget si kaca mata dari goa hantu. Si buta apa si kaca mata, jadi lupa. Mirip banget sih.
Hidup ini hanya canda gurau. Just relax, please! Kalau Butet Kertaredjasa bilang “Urip mung mampir ngguyu” diabadikan dalam “presiden guyonan”. Ichanx lain lagi, “maka, sesungguhnya beserta kesukaran ada kemudahan. Sesungguhnya, beserta kesukaran ada kemudahan”. Loh, ini kan QS al-insyirah (kelapangan) : 4-5? Ketinggian! Yang bener klo versi Ichanx tuch “di balik kejadian ada yang pantas diketawa(korban)kan”. Dalam arti, setiap tapak sejarah pasti ada sisi ketawanya. Tergantung sudut pandang.
Lebih lanjut baca buku ini, tak tidur semaleman pun masih bisa fresh. Liku-liku menjadi bankir ”professsional” dengan tiga “s” (karena klo dua s, benar. Ini kelewat pro) dikemas kocak penuh canda. Makna, jelas ada. Pelajaran, ada juga. Dari sudut makhluk unik tentunya. Menunjukkan tak ada lagi perlu di bikin pusing problematika hidup. Kalau anda, pembaca belum masuk kategori unik berarti tidak masuk hitungan dapat mencerna hikmah. Walaupun baca sepuluh kali sambil merem sekalipun.
Ada sesuatu yang rawan menyebar, menjangkiti setiap pembaca. Lebih parah lagi setiap menatap sampul depan. Sesuatu itu adalah semacam kuman yang membikin gatal untuk segera bikin blog, nulis catatan harian, dari paling pendek, sedang, sampai panjang. Dari biasa, rahasia sampai paling pribadi. Gawat! Sampai kebaca anggota DPR, bisa bersih koruptor. Tumpas abis oleh pengakuan sendiri. Bangga lagi. Ini loh trik korupsi paling jitu hasil kreasiku, katanya. Jangan sembarang baca kalau tidak siap mental, bisa-bisa komunitas bloger dengan predikat new comer tumbuh pesat. Program KB digalakkan lagi. “punya blog dibatasin cukup dua saja!” Kasihan juragan bandwich makin kaya, kebanjiran iklan.
Tapak-tapak sesat seperti ini (mepublikasi ketengilan lewat dunia blog akhirnya jadi buku), dapat membangkitkan konspirasi mesum. Setiap blog, berisi puluhan, bahkan ratusan pengakuan dosa (tanpa merasa berdosa). Penyelewengan, perselingkuhan, bahkan berapa kali ganti pacar dan cara pacaran pun di tulis juga. (* ada gak sih yang kayak gini. Ke depannya ada kali ya. Adain dong, ayo siapa berani duluan?) Kebanyakan memang catatan usil, sering disingkat cablak alias catatan blak-blakan.
Pembebasan! Inilah kata paling tepat. Zaman 1980-an, Pramoedya meluncurkan tetralogi pulau buru terdiri : bumi manusia, anak semua bangsa, jejak langkah dan rumah kaca. Pembebasan ideologi, pemikiran, perserikatan, benar-benar berlatar sejarah. Berawal pada 2004-an (sekarang berapa sih, 2009 ya) muncul karya pembebasan juga. Bedanya pembebasan diri dari pengungkapan segala hal paling pribadi. Raditya dika – kambing jantan, atau Pidi Baiq – drunken monster. Ada juga Ichanx dengan bankir sesa(a)t. Trus, who’s next?
Anda, pembaca. Hati-hati ketarik medan magnet –tapak-tapak sesat- ini. Satu hal pasti, diambil pelajaran dari Ichanx lewat buku bankir sesa(a)t. Setiap manusia butuh expresi, eksistensi – diakui keberadaan. Menulislah, maka kamu ada dan diakui anak cucu cicit. Sekedar ada sih dicatatan sipil pasti ada. Tapi, diakui anak cucu sampai cicit? Mesti dibuktikan lewat karya. Bebaskan segala beban (kehidupan) dengan berbagi. Kalau susah ngobrol, sahabat sejati langka, ya lewat blog. Diarynya dunia maya. Tak terbang ditiup angin, tak sobek diterpa hujan, tak karatan dijemur matahari.
Guratkan tapak-tapak sejarah lewat karya(tulis). Masa ejaan soewandi sudah lewat. EYD sudah telat. Sekarang zamannya EYP – Ejaan Yang di Pribadi kan. Alias ejaan suka-suka gue. Bayangkan, setiap orang punya ejaan pribadi, berapa edisi lagi mesti ditempuh bahasa bangsa ber-reinkarnasi untuk menjadi aslinya kembali.
Yuk! Rame-rame nulis blog. Para editor penerbitan sedang mencari mangsa, bloger mana mau dibukukan menyusul Ichanx. Bikin anak anda bangga dengan bonyoknya lewat karya. Kalau belum bisa EYS –Ejaan Yang di Sastra kan, pakai EYP juga boleh koq. Atau EYK – Ejaan Yang di Kacau kan, seperti komentar ini.
Gimana cara (belajar) nulisnya? Baca buku Ichanx –bankir sesa(a)t. Ganti aja peristiwanya dengan apa yang anda alami. Jadi deh, warisan keramat. Mau, mau, mau?
Senin, 01 September 2008
95% jalan ke penulis fiksi
“Terakhir, tetapi juga terpenting. Setelah bekal dan semua hal untuk menulis kamu punyai, jangan sampai lupakan tip-tip berikut ini. Meskipun tidak ada hubungannya dengan menulis, tetapi pengaruhnya besar banget terhadap penulisan….” Halaman 171 bab 13.
Ini dia yang anda cari. Jarang loh, penulis yang mengupas tuntas apa saja yang harus dipersiapkan bagi seorang yang pengin pinter nulis. Udah gitu, tip-tip penunjang pun dilampirkan. “Jadi penulis fiksi? Gampang, kok!”, merupakan buku kesekian kalinya dari Kinoysan. Setelah Tahajjud cinta, Istikharah cinta, jodoh cinta, Ari Wulandari, nama aseli penulis buku ini menyempatkan diri untuk membukakan jalan bagi siapa saja yang ingin menjadi penulis.
Buku ini boleh dibilang tebal bagi yang tidak terbiasa membaca. Faktanya, hanya perlu sekali duduk untuk menyelesaikan membaca.
Mau tahu, bolehlah. Saya coba buatkan analogi disini. Pernah ke kaliurang? Itu tuh, gunung merapi. Kalau masih belum ngeh juga, mbah Maridjan deh. Pasti kenal. Bingung, apa hubungannya dengan penulisan?
Begini, kalau pergi ke kaliurang, semakin naik pemandangan semakin bagus. Saat melihat ke bawah, hamparan tapak kaki yang barusan dilewati terlihat jelas. Di depan, diatas sana, hijau pohon dan aliran air diiringi gemericik gerojogan memenuhi telinga mengundang untuk segera didatangi. Semilir angin, menyapu kening, pohon-pohon rindang, rumput-rumput gajah setinggi dada, pisang setandan mateng di pohon, salak pondoh bergelayutan. Duh, pokoknya tak bakalan deh, mata tega merem untuk melewatkan itu semua.
Nah, begitupun membaca buku ini. “Jadi penulis fiksi? Gampang, kok!” Begitu mulai membaca dari lembar pertama, keindahan yang tercipta dari kesederhanaan kata yang dijalin oleh penulis, langsung berasa. Begitu pula saat membuat lembar demi lembar berikutnya. Semakin masuk ke dalam, semakin menuju puncak kaliurang rasanya. Sejuk. Tak terasa, dari duduk jongkok, karena pegel tahu-tahu berubah posisi bersila. Sejenak kemudian berdiri, nongkrong, tapi masih di lokasi yang sama. Sekali duduk deh, membaca buku ini sampai tuntas, hanya saja dalam beragam posisi. Biar gak kesemutan.
Kalau yang bilang orang lain, boleh saja anda, pembaca mengabaikannya. Tapi, berhubung penulis sendiri yang bilang “bagi saya, bakat hanya menyumbang 5% dalam keberhasilan seseorang, 95% lainnya ditentukan dari usaha, kerja keras, dan doa”, apa masih ada alasan untuk mengelak. Kenapa sampai sekarang belum juga memulai menulis? Check di halaman 9 buku ini, anda akan temukan komponen utama “internal” setiap orang punya dan sudah built in dalam diri masing-masing. Hanya tinggal mengasahnya saja. Baca dengan teliti, maka, yang sudah built in tadi akan terasah dengan sendirinya.
Pernah dengar istilah “premis cerita?” Ada juga di kupas dalam buku ini, kenapa perlu ada, bagaimana jika tidak ada. Seberapa jauh peranannya. Contoh yang diberikan penulis dalam pembahasan bab ini adalah ketika Kinoysan menulis “kingkong jatuh cinta”. Dari premis ini ternyata terbukti powerfull banget peranannya dalam membangun cerita.
Sudah tergugah untuk menulis fiksi, ide semakin bermunculan, tangan semakin gatal untuk segera memencet tombol keyboard komputer. Sabar. Masih harus anda pikirkan lagi mengenai bagaimana pengemasan tulisan, cara mengirim naskah, sampai isi perjanjian tentang apa saja biar tidak dikerjain sama penerbit. Tenang, semua itu ada di dalam buku ini. Sampai alamat media dan penerbit yang ada di Indonesia, lengkap dengan alamat email maupun lokasi, komplit.
Ssst, ini rahasia. Tapi, bolehlah saya bocorkan disini. Ternyata Kinoysan pernah, bahkan sering, dulu, ditolak naskah-naskahnya oleh penerbit. Baru tahu kan? Baca buku ini secara lengkap, dan dapatkan perjuangan penulis dalam menempuh lekuk liku dunia penulisan. Sampai akhirnya, saat ini Kinoysan, sangat ditunggu-tunggu karyanya. Adakah yang bisa lebih membuat hidup dari “merasa dibutuhkan”?
Banyak loh, yang hampir frustrasi gara-gara merasa tidak dianggap/tidak dibutuhkan. Untuk penulis fiksi, no way! Dan ternyata, menjadi penulis fiksi. Gampang, koq!
Untuk kelemahan buku ini, boleh dibilang minim. Karena, tergantung karakteristik pembaca. Bagi yang kurang menyukai “sedikit” bahasa remaja, lumayan terusik memang. Tapi, bidikan yang hendak dibidik oleh penulis, memang untuk para pemula. So, tepat sasaran lah buku ini.
Judul buku : Jadi Penulis fiksi? Gampang, kok!
Penulis : Kinoysan
Penerbit : Andi, yogyakarta
Tebal : 184 halaman
Ini dia yang anda cari. Jarang loh, penulis yang mengupas tuntas apa saja yang harus dipersiapkan bagi seorang yang pengin pinter nulis. Udah gitu, tip-tip penunjang pun dilampirkan. “Jadi penulis fiksi? Gampang, kok!”, merupakan buku kesekian kalinya dari Kinoysan. Setelah Tahajjud cinta, Istikharah cinta, jodoh cinta, Ari Wulandari, nama aseli penulis buku ini menyempatkan diri untuk membukakan jalan bagi siapa saja yang ingin menjadi penulis.
Buku ini boleh dibilang tebal bagi yang tidak terbiasa membaca. Faktanya, hanya perlu sekali duduk untuk menyelesaikan membaca.
Mau tahu, bolehlah. Saya coba buatkan analogi disini. Pernah ke kaliurang? Itu tuh, gunung merapi. Kalau masih belum ngeh juga, mbah Maridjan deh. Pasti kenal. Bingung, apa hubungannya dengan penulisan?
Begini, kalau pergi ke kaliurang, semakin naik pemandangan semakin bagus. Saat melihat ke bawah, hamparan tapak kaki yang barusan dilewati terlihat jelas. Di depan, diatas sana, hijau pohon dan aliran air diiringi gemericik gerojogan memenuhi telinga mengundang untuk segera didatangi. Semilir angin, menyapu kening, pohon-pohon rindang, rumput-rumput gajah setinggi dada, pisang setandan mateng di pohon, salak pondoh bergelayutan. Duh, pokoknya tak bakalan deh, mata tega merem untuk melewatkan itu semua.
Nah, begitupun membaca buku ini. “Jadi penulis fiksi? Gampang, kok!” Begitu mulai membaca dari lembar pertama, keindahan yang tercipta dari kesederhanaan kata yang dijalin oleh penulis, langsung berasa. Begitu pula saat membuat lembar demi lembar berikutnya. Semakin masuk ke dalam, semakin menuju puncak kaliurang rasanya. Sejuk. Tak terasa, dari duduk jongkok, karena pegel tahu-tahu berubah posisi bersila. Sejenak kemudian berdiri, nongkrong, tapi masih di lokasi yang sama. Sekali duduk deh, membaca buku ini sampai tuntas, hanya saja dalam beragam posisi. Biar gak kesemutan.
Kalau yang bilang orang lain, boleh saja anda, pembaca mengabaikannya. Tapi, berhubung penulis sendiri yang bilang “bagi saya, bakat hanya menyumbang 5% dalam keberhasilan seseorang, 95% lainnya ditentukan dari usaha, kerja keras, dan doa”, apa masih ada alasan untuk mengelak. Kenapa sampai sekarang belum juga memulai menulis? Check di halaman 9 buku ini, anda akan temukan komponen utama “internal” setiap orang punya dan sudah built in dalam diri masing-masing. Hanya tinggal mengasahnya saja. Baca dengan teliti, maka, yang sudah built in tadi akan terasah dengan sendirinya.
Pernah dengar istilah “premis cerita?” Ada juga di kupas dalam buku ini, kenapa perlu ada, bagaimana jika tidak ada. Seberapa jauh peranannya. Contoh yang diberikan penulis dalam pembahasan bab ini adalah ketika Kinoysan menulis “kingkong jatuh cinta”. Dari premis ini ternyata terbukti powerfull banget peranannya dalam membangun cerita.
Sudah tergugah untuk menulis fiksi, ide semakin bermunculan, tangan semakin gatal untuk segera memencet tombol keyboard komputer. Sabar. Masih harus anda pikirkan lagi mengenai bagaimana pengemasan tulisan, cara mengirim naskah, sampai isi perjanjian tentang apa saja biar tidak dikerjain sama penerbit. Tenang, semua itu ada di dalam buku ini. Sampai alamat media dan penerbit yang ada di Indonesia, lengkap dengan alamat email maupun lokasi, komplit.
Ssst, ini rahasia. Tapi, bolehlah saya bocorkan disini. Ternyata Kinoysan pernah, bahkan sering, dulu, ditolak naskah-naskahnya oleh penerbit. Baru tahu kan? Baca buku ini secara lengkap, dan dapatkan perjuangan penulis dalam menempuh lekuk liku dunia penulisan. Sampai akhirnya, saat ini Kinoysan, sangat ditunggu-tunggu karyanya. Adakah yang bisa lebih membuat hidup dari “merasa dibutuhkan”?
Banyak loh, yang hampir frustrasi gara-gara merasa tidak dianggap/tidak dibutuhkan. Untuk penulis fiksi, no way! Dan ternyata, menjadi penulis fiksi. Gampang, koq!
Untuk kelemahan buku ini, boleh dibilang minim. Karena, tergantung karakteristik pembaca. Bagi yang kurang menyukai “sedikit” bahasa remaja, lumayan terusik memang. Tapi, bidikan yang hendak dibidik oleh penulis, memang untuk para pemula. So, tepat sasaran lah buku ini.
Judul buku : Jadi Penulis fiksi? Gampang, kok!
Penulis : Kinoysan
Penerbit : Andi, yogyakarta
Tebal : 184 halaman
Rabu, 27 Agustus 2008
batal bunuh diri karena kinoysan
Ketika bumi terbelah
Ketika air laut membuncah
Ketika halilintar bersahut marah
Ku ingin, tubuh ini segera ditelan bumi
Lenyap, ke negeri antah berantah
Aku putus cinta (duh, segitunya)
Kembali, Ari –Kinoysan- Wulandari menyempatkan diri (disela penggarapan buku-buku yang lain) menyapa para jomblowati yang sempat frustrasi menanti jodoh, tak kunjung tiba. Membaca kisah-kisah dalam buku “Jodoh Cinta”, begitu mendayu-dayu. Perasaan pembaca benar-benar tersedot habis. Bahasa yang dipakai penulis pun sangat enjoy dan komunikatif. Menjadikannya ringan dan enteng dibaca, mudah diserap, meski sebenarnya berat bagi pembaca yang berperasaan sensitif.
Tak diperlukan harus membaca satu halaman full untuk membuat anda baru terikat mata, terbelenggu tangan, untuk selanjutnya tak berdaya melepaskan diri dari rasa “terenyuh” dan terpesona. Cukup satu paragraf. Ya, benar. Satu paragraf telah cukup membetot perhatian anda, pembaca, menyimpulkan urat syaraf perasaan, penuh memperhatikan makna demi makna setiap alur cerita
Kisah pertama, bagaimana sesosok wajah tirus Ambar Santi terjebak dalam cinta semu penuh harap. Bagaimana perjuangan dan pengorbanan untuk Hamdan, lelaki pujaannya. Satu kantor, tiap hari ketemu, apa yang menjadi kesulitan Hamdan selalu dibantu, tapi akhirnya? Semua untaian kata diramu dan diracik dengan segenap kepiawaian penulis yang tidak diragukan lagi.
Anda tahu, pembaca, makhluk apa yang paling kuat di dunia ini? Wanita. Ya, wanita. Dalam genangan air mata darah di kedua pelupuk mata, seorang Ambar Santi yang dengan rela dan tulus berkorban demi karir Hamdan, empat tahun menunggu. Hingga saatnya hendak meminta kepastian hubungan, Hamdan dan Titi, menyerahkan undangan pernikahan. Nafas anda masih sanggup bergerak bebas, menghadapi polemik seperti ini? Tersenyum? Tiba-tiba saja menginginkan bumi segera meledak, lenyap segala peri hidup. Egois ya.
Buku ini, memuat kisah-kisah para jomblowati diatas tigapuluhan yang difiksikan. Setelah diramu sedemikian rupa tentunya. Cerdiknya seorang Kinoysan, aneka tip bagaimana memupuk kesabaran, bagaimana tetap tegar, tidak berlarut dalam kesedihan, selalu berserah diri pada Tuhan dalam menanti jodoh, dijabarkan dalam buku ini. Bukan itu saja, referensi buku apa yang layak dibaca, dicantumkan pula dalam akhir bab.
Bagaimana rambu-rambu saat didekati, ataupun mendekati “calon” jodoh pun tak ketiggalan dikupas menjadi trik-trik jitu dan lebih masuk akal. Gak bakalah lagi deh, mengharap bumi meledak. Ingin hidup lebih lama lagi malah.
Penulis memang lihai dan paham, bagaimana memancing “rasa” pembaca untuk seolah-olah menjadi pelaku utama. Grafik ikatan emosional, begitu menyelusup, kuat, dibangun dari kalimat demi kalimat dari awal hingga akhir cerita. Awal yang menarik, meninggi, puncak airmata kesedihan, turun perlahan. Dan, ending yang diciptakan begitu tuntas. Membuat pembaca yang berkali-kali menahan nafas, tersenyum lega. Full of smile. Full of spirit. Membuka pengharapan dan hati semakin tabah, sabar, kuat dalam menanti jodoh.
Pernah lihat seorang gadis, nekat naik menara listrik? Apa yang dilakukan diatas sana? Pasang kabel connector baru? Tentu bukan. Tuh anak mau bunuh diri. Anehnya, saat sampai dipuncak menara 150 meter diatas tanah, gadis itu malah bengong. Burung bagau putih hinggap di pundaknya, mendadak pula si gadis memahami bahasa burung.
“Hai, gadis cantik. Lebaran depan telah ada seorang pria yang akan meminangmu. Aku diutus kesini untuk memberitahukan hal ini kepadamu” kata burung.
Olala, urung deh bunuh diri. Hanya saja, ketika hendak turun, bingung. “bangau, turunkanlah aku” pintanya. Nah lho, patah hati ternyata bisa membuat gadis manis memanjat menara. Apa mesti patah hati lagi untuk berani turun? Coba, ia baca buku kinoysan “Jodoh Cinta”, tak bakalan deh naik menara. Capek.
Adakah yang lebih indah dari sanggup bersyukur dan bersabar? Untuk jomblowati, tak usah khawatir. Berbesar hatilah. Membaca “Jodoh Cinta” ini, batin anda tercerahkan. Dan, saya tak perlu menjadi burung bangau putih untuk menolongmu.
Satu lagi. Lembar terakhir buku ini, berisi ucapan terimakasih penulis untuk orang-orang yang dikasihinya. “terimakasih kepada…. (point a, b, c, d, e) dan point “f” nya itu loh. “yang terakhir, …………..(kamu, yang telah membaca buku ini). Titik-titik ini bisa diisi oleh pembaca. So, tunggu apa lagi? Beli bukunya, baca, dan isikan nama kamu disitu.
Judul buku : Jodoh Cinta
Penulis : Kinoysan
Penerbit : Lingkar Pena Kreativa, Depok
Tebal : 218 halaman.
Ketika air laut membuncah
Ketika halilintar bersahut marah
Ku ingin, tubuh ini segera ditelan bumi
Lenyap, ke negeri antah berantah
Aku putus cinta (duh, segitunya)
Kembali, Ari –Kinoysan- Wulandari menyempatkan diri (disela penggarapan buku-buku yang lain) menyapa para jomblowati yang sempat frustrasi menanti jodoh, tak kunjung tiba. Membaca kisah-kisah dalam buku “Jodoh Cinta”, begitu mendayu-dayu. Perasaan pembaca benar-benar tersedot habis. Bahasa yang dipakai penulis pun sangat enjoy dan komunikatif. Menjadikannya ringan dan enteng dibaca, mudah diserap, meski sebenarnya berat bagi pembaca yang berperasaan sensitif.
Tak diperlukan harus membaca satu halaman full untuk membuat anda baru terikat mata, terbelenggu tangan, untuk selanjutnya tak berdaya melepaskan diri dari rasa “terenyuh” dan terpesona. Cukup satu paragraf. Ya, benar. Satu paragraf telah cukup membetot perhatian anda, pembaca, menyimpulkan urat syaraf perasaan, penuh memperhatikan makna demi makna setiap alur cerita
Kisah pertama, bagaimana sesosok wajah tirus Ambar Santi terjebak dalam cinta semu penuh harap. Bagaimana perjuangan dan pengorbanan untuk Hamdan, lelaki pujaannya. Satu kantor, tiap hari ketemu, apa yang menjadi kesulitan Hamdan selalu dibantu, tapi akhirnya? Semua untaian kata diramu dan diracik dengan segenap kepiawaian penulis yang tidak diragukan lagi.
Anda tahu, pembaca, makhluk apa yang paling kuat di dunia ini? Wanita. Ya, wanita. Dalam genangan air mata darah di kedua pelupuk mata, seorang Ambar Santi yang dengan rela dan tulus berkorban demi karir Hamdan, empat tahun menunggu. Hingga saatnya hendak meminta kepastian hubungan, Hamdan dan Titi, menyerahkan undangan pernikahan. Nafas anda masih sanggup bergerak bebas, menghadapi polemik seperti ini? Tersenyum? Tiba-tiba saja menginginkan bumi segera meledak, lenyap segala peri hidup. Egois ya.
Buku ini, memuat kisah-kisah para jomblowati diatas tigapuluhan yang difiksikan. Setelah diramu sedemikian rupa tentunya. Cerdiknya seorang Kinoysan, aneka tip bagaimana memupuk kesabaran, bagaimana tetap tegar, tidak berlarut dalam kesedihan, selalu berserah diri pada Tuhan dalam menanti jodoh, dijabarkan dalam buku ini. Bukan itu saja, referensi buku apa yang layak dibaca, dicantumkan pula dalam akhir bab.
Bagaimana rambu-rambu saat didekati, ataupun mendekati “calon” jodoh pun tak ketiggalan dikupas menjadi trik-trik jitu dan lebih masuk akal. Gak bakalah lagi deh, mengharap bumi meledak. Ingin hidup lebih lama lagi malah.
Penulis memang lihai dan paham, bagaimana memancing “rasa” pembaca untuk seolah-olah menjadi pelaku utama. Grafik ikatan emosional, begitu menyelusup, kuat, dibangun dari kalimat demi kalimat dari awal hingga akhir cerita. Awal yang menarik, meninggi, puncak airmata kesedihan, turun perlahan. Dan, ending yang diciptakan begitu tuntas. Membuat pembaca yang berkali-kali menahan nafas, tersenyum lega. Full of smile. Full of spirit. Membuka pengharapan dan hati semakin tabah, sabar, kuat dalam menanti jodoh.
Pernah lihat seorang gadis, nekat naik menara listrik? Apa yang dilakukan diatas sana? Pasang kabel connector baru? Tentu bukan. Tuh anak mau bunuh diri. Anehnya, saat sampai dipuncak menara 150 meter diatas tanah, gadis itu malah bengong. Burung bagau putih hinggap di pundaknya, mendadak pula si gadis memahami bahasa burung.
“Hai, gadis cantik. Lebaran depan telah ada seorang pria yang akan meminangmu. Aku diutus kesini untuk memberitahukan hal ini kepadamu” kata burung.
Olala, urung deh bunuh diri. Hanya saja, ketika hendak turun, bingung. “bangau, turunkanlah aku” pintanya. Nah lho, patah hati ternyata bisa membuat gadis manis memanjat menara. Apa mesti patah hati lagi untuk berani turun? Coba, ia baca buku kinoysan “Jodoh Cinta”, tak bakalan deh naik menara. Capek.
Adakah yang lebih indah dari sanggup bersyukur dan bersabar? Untuk jomblowati, tak usah khawatir. Berbesar hatilah. Membaca “Jodoh Cinta” ini, batin anda tercerahkan. Dan, saya tak perlu menjadi burung bangau putih untuk menolongmu.
Satu lagi. Lembar terakhir buku ini, berisi ucapan terimakasih penulis untuk orang-orang yang dikasihinya. “terimakasih kepada…. (point a, b, c, d, e) dan point “f” nya itu loh. “yang terakhir, …………..(kamu, yang telah membaca buku ini). Titik-titik ini bisa diisi oleh pembaca. So, tunggu apa lagi? Beli bukunya, baca, dan isikan nama kamu disitu.
Judul buku : Jodoh Cinta
Penulis : Kinoysan
Penerbit : Lingkar Pena Kreativa, Depok
Tebal : 218 halaman.
Enter the Writing
“Kita butuh makna emosi, bukan marah. Jangan berfikir, gunakan perasaan. Seperti saat jari menunjuk bulan, jangan konsentrasi pada telunjuk. Engkau akan kehilangan keindahan bulan. Kendalimu bukan di otak, tapi, perasaan”.
Masih ingat Bruce Lee? Dialog diatas dikatakan oleh tokoh legendaries itu dalam film “Enter the Dragon”. Tidak sama persis memang, tapi, kria-kira seperti itulah. Badannya kecil, pejal, bagaikan otot keseluruhan. Peradaban Cina dalam hal beladiri, boleh dikatakan berawal dari kepiawaian Bruce Lee dalam meramu seni beladiri JetKundo.
Bagaimana dengan dunia penulisan?
Ingat Bruce Lee dengan teknik beladirinya, saya jadi melayangkan khayalan ke Banjarbaru. Sebuah padepokan tempat menetasnya para pemikir modern, Universitas Lambung Mangkurat. Ada seorang dosen, dengan gaya unik, rambut gondrong, kalau nulis enak banget dibaca. Pas untuk segala suasana.
Gaya tulisannya ringan, mudah dicerna, dan jargonnya itu lho, “bagaimana dengan sampeyan”, tak pernah ketinggalan disetiap akhir tulisan. “Menulis dengan Gembira”, merupakan salah satu buah karya dari hentakan sebelas jari bukti kreativitas dan produktititasnya. Ersis Warmansyah Abbas.
Imaginasi nakal, sesekali penulis lontarkan dalam buku ini. “Dengan kandungan pesan yang ingin saya landaskan –bukan tandas lho, di Malaysia tandas artinya kencing-“, tulisnya.
Dengan sapaan “nyentrik” seperti ini, menjadikan tidak jengah membaca lembar demi lembar buku ini. Provokasi yang terkandung pelan, tapi pasti, menyerusup dalam relung perasaan pembaca. Catat, bukan sekedar pikiran, tapi, sampai taraf perasaan. Ini merupakan cerminan dari usaha keinginan tidak main-main dari penulis untuk menciptakan paradigma “Menulis dapat dilakukan dengan gembira”. Benar-benar gembira, mengalir dari hulu hingga hilir.
Sebagaimana dikatakan “EWA tak pernah tidak bersemangat kalau diajak diskusi soal tulis menulis, sesuatu yang ditempatkan pada posisi sangat istimewa, jauh lebih penting dari apapun juga. Mudah-mudahan kecuali Tuhan” (pengantar, hal. xiv). Si penulis benar-benar berjiwa idealis dan bertekat untuk mengubah peradaban dengan menggalakkan dunia tulis menulis. Provokasinya terus mengalir sepanjang halaman buku, dari lembar pertama sampai penutup. Tak heran, begitu membuka lembar pertama buku ini, tak rela untuk menundanya esok pagi untuk membaca sampai tuntas.
Disamping sapaan dengan imaginasi yang terkadang liar, secara bercanda pun penulis cantumkan dalam buku ini. Seperti hal. 6, bab I Menulis bak Bersendaugurau, sapaan terhadap pembaca yang dipakai ialah “… bingung? Syukur, pertanda sampeyan masih sadar, masih berfikir”. Bagaimana? Terasa akrab kan? Serasa sedang duduk manis dibangku kuliah sambil mendengarkan pak dosen menerangkan dengan asyik, menarik, dan mengundang senyum audien saat-saat tak terduga.
Simak pula, ketika masuk pada pokok pembahasan yang mengajak pembaca untuk tidak takut ataupun merasa sulit dalam menulis, “sudahlah, menulis itu lebih lembut dari ubur-ubur, lebih renyah dari keripik udang, senyaman hamparan permadani rumput, lebih indah dari Niagara waterfall”, hal. 8. Ada juga pada hal. 91, “menulis, bukan kriminal koq. Kalau tidak mau menanggung resiko, jangan berbuat apa-apa. Duduk manis, good boy, good girl”, katanya memotivasi.
Boleh saja dikategorikan kelemahan, bagi pembaca yang berkarakter tidak suka digurui, akan sedikit terhenyakkan saat membaca buku ini. Hanya saja, buku “Menulis dengan Gembira” ini, sangat pas untuk kalangan penulis pemula. Terlebih lagi yang masih suka macet dan bengong didepan komputer kehabisan kata-kata saat menuliskan isi kepala. Yang jelas, bahasanya mengalir begitu saja, seakan pembaca terlibat secara langsung. Bagaimana sih, rasanya melakukan suatu kegiatan dengan perasaan senang dan gembira?
Memang, “teknik tertinggi adalah tidak ada teknik. Saat ada kesempatan menyerang, aku tak memukul. Tanganku bergerak sendiri.” Kata Bruce Lee. Menulis pun begitu. Saat ada kesempatan menulis, pikiran, tangan, imaginasi, bergerak dengan sendirinya. Berpadu. Menulis seperti halnya air yang mengalir menuju tempat lebih rendah. Tak terasa, tak ada beban, karena begitu gembira. Hasilnya? Artikel, opini, buku, jadi begitu saja. Cara penulis dalam menggiring pembaca, begitu memukau. Hingga, yang digiring pun tak merasa mengikuti langkah demi langkah penjelasan dan penjabaran penulis.
Hati-hati membaca buku ini. Kalau anda “mendadak menulis”, bisa kena cekal sama Titi Kamal. Dianggap telah menjiplak inspirasi dari judul lagu “mendadak dangdut”. Atau tiba-tiba saja anda menciptakan “jurus/aliran” baru penulisan begitu selesai membaca. Watawww…!
Judul buku : Menulis dengan Gembira
Penulis : Ersis Warmansyah Abbas
Penerbit : GAMA MEDIA, Yogyakarta
Cetakan pertama : Agustus 2008
Tebal : 245 halaman
Masih ingat Bruce Lee? Dialog diatas dikatakan oleh tokoh legendaries itu dalam film “Enter the Dragon”. Tidak sama persis memang, tapi, kria-kira seperti itulah. Badannya kecil, pejal, bagaikan otot keseluruhan. Peradaban Cina dalam hal beladiri, boleh dikatakan berawal dari kepiawaian Bruce Lee dalam meramu seni beladiri JetKundo.
Bagaimana dengan dunia penulisan?
Ingat Bruce Lee dengan teknik beladirinya, saya jadi melayangkan khayalan ke Banjarbaru. Sebuah padepokan tempat menetasnya para pemikir modern, Universitas Lambung Mangkurat. Ada seorang dosen, dengan gaya unik, rambut gondrong, kalau nulis enak banget dibaca. Pas untuk segala suasana.
Gaya tulisannya ringan, mudah dicerna, dan jargonnya itu lho, “bagaimana dengan sampeyan”, tak pernah ketinggalan disetiap akhir tulisan. “Menulis dengan Gembira”, merupakan salah satu buah karya dari hentakan sebelas jari bukti kreativitas dan produktititasnya. Ersis Warmansyah Abbas.
Imaginasi nakal, sesekali penulis lontarkan dalam buku ini. “Dengan kandungan pesan yang ingin saya landaskan –bukan tandas lho, di Malaysia tandas artinya kencing-“, tulisnya.
Dengan sapaan “nyentrik” seperti ini, menjadikan tidak jengah membaca lembar demi lembar buku ini. Provokasi yang terkandung pelan, tapi pasti, menyerusup dalam relung perasaan pembaca. Catat, bukan sekedar pikiran, tapi, sampai taraf perasaan. Ini merupakan cerminan dari usaha keinginan tidak main-main dari penulis untuk menciptakan paradigma “Menulis dapat dilakukan dengan gembira”. Benar-benar gembira, mengalir dari hulu hingga hilir.
Sebagaimana dikatakan “EWA tak pernah tidak bersemangat kalau diajak diskusi soal tulis menulis, sesuatu yang ditempatkan pada posisi sangat istimewa, jauh lebih penting dari apapun juga. Mudah-mudahan kecuali Tuhan” (pengantar, hal. xiv). Si penulis benar-benar berjiwa idealis dan bertekat untuk mengubah peradaban dengan menggalakkan dunia tulis menulis. Provokasinya terus mengalir sepanjang halaman buku, dari lembar pertama sampai penutup. Tak heran, begitu membuka lembar pertama buku ini, tak rela untuk menundanya esok pagi untuk membaca sampai tuntas.
Disamping sapaan dengan imaginasi yang terkadang liar, secara bercanda pun penulis cantumkan dalam buku ini. Seperti hal. 6, bab I Menulis bak Bersendaugurau, sapaan terhadap pembaca yang dipakai ialah “… bingung? Syukur, pertanda sampeyan masih sadar, masih berfikir”. Bagaimana? Terasa akrab kan? Serasa sedang duduk manis dibangku kuliah sambil mendengarkan pak dosen menerangkan dengan asyik, menarik, dan mengundang senyum audien saat-saat tak terduga.
Simak pula, ketika masuk pada pokok pembahasan yang mengajak pembaca untuk tidak takut ataupun merasa sulit dalam menulis, “sudahlah, menulis itu lebih lembut dari ubur-ubur, lebih renyah dari keripik udang, senyaman hamparan permadani rumput, lebih indah dari Niagara waterfall”, hal. 8. Ada juga pada hal. 91, “menulis, bukan kriminal koq. Kalau tidak mau menanggung resiko, jangan berbuat apa-apa. Duduk manis, good boy, good girl”, katanya memotivasi.
Boleh saja dikategorikan kelemahan, bagi pembaca yang berkarakter tidak suka digurui, akan sedikit terhenyakkan saat membaca buku ini. Hanya saja, buku “Menulis dengan Gembira” ini, sangat pas untuk kalangan penulis pemula. Terlebih lagi yang masih suka macet dan bengong didepan komputer kehabisan kata-kata saat menuliskan isi kepala. Yang jelas, bahasanya mengalir begitu saja, seakan pembaca terlibat secara langsung. Bagaimana sih, rasanya melakukan suatu kegiatan dengan perasaan senang dan gembira?
Memang, “teknik tertinggi adalah tidak ada teknik. Saat ada kesempatan menyerang, aku tak memukul. Tanganku bergerak sendiri.” Kata Bruce Lee. Menulis pun begitu. Saat ada kesempatan menulis, pikiran, tangan, imaginasi, bergerak dengan sendirinya. Berpadu. Menulis seperti halnya air yang mengalir menuju tempat lebih rendah. Tak terasa, tak ada beban, karena begitu gembira. Hasilnya? Artikel, opini, buku, jadi begitu saja. Cara penulis dalam menggiring pembaca, begitu memukau. Hingga, yang digiring pun tak merasa mengikuti langkah demi langkah penjelasan dan penjabaran penulis.
Hati-hati membaca buku ini. Kalau anda “mendadak menulis”, bisa kena cekal sama Titi Kamal. Dianggap telah menjiplak inspirasi dari judul lagu “mendadak dangdut”. Atau tiba-tiba saja anda menciptakan “jurus/aliran” baru penulisan begitu selesai membaca. Watawww…!
Judul buku : Menulis dengan Gembira
Penulis : Ersis Warmansyah Abbas
Penerbit : GAMA MEDIA, Yogyakarta
Cetakan pertama : Agustus 2008
Tebal : 245 halaman
Selasa, 12 Agustus 2008
Langganan:
Postingan (Atom)