kenapa harus ada sih?
bosen baso
nyari mie ayam
bosen nasi
nyari roti
bosen dji sam soe
boleh ganti star mild
bosen pacar
ya nyari lagi
bosen istri
boleh cerai kawin lagi
bosen hidup???
jangan mati!
sayang
enakan juga hidup
bisa berbuat dosa
ha..ha..ha..ha..
Tampilkan postingan dengan label Ndleming. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ndleming. Tampilkan semua postingan
Kamis, 17 September 2009
Rabu, 12 Agustus 2009
kerasukan jin entrepreneur
Saudaraku, banyak diantara kita (terutama saya) pengin bener mempunyai usaha sendiri. jualan misalnya. tapi, hanya sebatas musiman. padahal nyata-nyata mampu dan mau jualan walau cuma setahun sekali. saat menjelang lebaran, misalnya. padahal, kalau semangat jualan ini dipupuk, dilatih, dikembangkan, dibuat jaringan, bisa menjadi ladang usaha.
sorry ya, sejatinya tulisan ini aku tujukan untuk diri sendiri. hanya saja beberapa teman yang aku kontak secara pribadi rata-rata memiliki angan-angan sama. apalagi yang sudah bekerja belasan tahun sementara posisi gak berubah. kuat bener keinginan diri untuk merubah nasib. untuk berdiri sendiri, tidak bisa. tidak kuat. tapi, untuk menjalin kerjasama, terlalu takut kalau ditipu teman, di permainkan, dan sebagainya dan sebagainya.
saya termasuk orang yang sudah pengin banget punya usaha. tapi tidak tahu bagaimana merintis dan memulai apalagi mengembangkannya. he..he.he.. kacau ya, mulai aja belum koq udah pengin berkembang. dan, anehnya, ternya saya koq tidak sendirian. banyak diantara temen-temen yang saya ajak diskusi via jalur pribadi menginginkan hal yang sama.
lebih aneh lagi, banyak yang sudah memiliki penghasilan sampingan. tapi,ya itu tadi hanya musiman, dan tidak bergerak untuk dikembangkan. sulit. karena gak punya jaringan. saat ini masih merupakan sampingan. tahun depan sampingan juga. lima tahun lagi masih sampingan juga.
saya mencoba menggali informasi tentang sebuah produk yang lucu dan baru-baru ini dirintis. saya sungguh kagum akan kreatifitas dan kiprah sepasang suami istri ini, dan entah kenapa saya berjanji pada diri sendiri bahwa saya harus terlibat dalam kegiatan (perputaran) bisnis ini. entah kapan saya bisa merealisasikannya, pokoknya saat ini saya meyakinkan diri sendiri dulu bahwa saya bisa. dan harus bisa.
saat ini saya masih re-seller, dengan mendapat discount 5%, terkadang 10%, tergantung dari nilai belanja. dan, rata-rata konsumen yang saya datangi antusias. contoh : suatu sore, ketika saya photo copy, saya membawa dua sample kerudung ukuran ss. "coy (sapaan gaul)! anak loe cewek?" iya, katanya. "loe mesti pakein nih krudung, biar adhem ati orang tuanya. mumpung masih bayi. biasain dengan hawa kerudung", kataku setengah merayu.
langsugn dia comot tuch sample, sambil aku kasih gambar plus katalog. dan, "pak, saya ambil dua pasang. yang ini sama yang ini!". subhanallah. tukang photo copy langgananku, baru aku samperin dengan gaya menawarkan model bahasa preman, langsung beli 2 stel baju anak mufida.
"aku harus punya gerai. bisa aku mulai dari teras rumah kalau perlu!", aku pun tersenyum sambil berlalu.
anda tertarik juga untuk merintis "jualan" baju anak mufida? saya hanya punya usul, mari bentuk jaringan. insya allah, dengan berjamaah semuanya jadi lebih mudah.
tapi, kalau mau yang langsung action dan sudah kuat modal serta (terutama) kemauan, silahkan kontak "biangnya langsung" dan, mari kita berlomba. rintis dari sekarang untuk menuju usia 5 tahun mendatang sudah bisa free secara timing (bebas setiap saat bercanda dengan keluarga) dan free financial (fokus dakwah dalam penyebaran agama islam tanpa resah oleh urusan dunia) berani!
jalan sendiri kalau berani. kalau belum cukup kemampuan, mari berkolaborasi! berkoloni!
dan ini nih, tulsian yang aku comot dari biangnya mufida produk:
About Mufida
Berawal dari rumahgrosir.com, alhamdulillah mulai Maret 2009 ini kami bisa mulai produksi sendiri, Mufida Collection dengan produk awal kerudung anak. Kami berharap dengan hadirnya kerudung Mufida Collection, anak-anak muslimah bisa terbiasa menggunakan kerudung sejak dini. Mufida adalah nama putri kami yang jadi model kerudung Mufida karakter, ketika bulan Maret 2009 usianya baru 9 bulan.
Kerudung anak Mufida Collection unik dan lucu-lucu. Untuk anak-anak usia bayi-6tahun ada kerudung karakter animals, fruits&vegetables dan karakter tokoh kartun. Sedangkan untuk usia 7-12 tahun ada kerudung kombinasi yang cantik. Kerudung Mufida terbuat dari bahan kaos TC yang lembut dan tidak panas sehingga nyaman dipakai anak-anak.
Mufida Collection membuka kerjasama bagi distributor(per wilayah) dan agen. Untuk informasi lebih lanjut, silakan kontak kami di 081332375494 atau via emel/ym tehrohmah@yahoo.com
Rumah Mufida
info@rumahmufida.com
0227532960 / 02260878035
081332375494 / 081321535325
sorry ya, sejatinya tulisan ini aku tujukan untuk diri sendiri. hanya saja beberapa teman yang aku kontak secara pribadi rata-rata memiliki angan-angan sama. apalagi yang sudah bekerja belasan tahun sementara posisi gak berubah. kuat bener keinginan diri untuk merubah nasib. untuk berdiri sendiri, tidak bisa. tidak kuat. tapi, untuk menjalin kerjasama, terlalu takut kalau ditipu teman, di permainkan, dan sebagainya dan sebagainya.
saya termasuk orang yang sudah pengin banget punya usaha. tapi tidak tahu bagaimana merintis dan memulai apalagi mengembangkannya. he..he.he.. kacau ya, mulai aja belum koq udah pengin berkembang. dan, anehnya, ternya saya koq tidak sendirian. banyak diantara temen-temen yang saya ajak diskusi via jalur pribadi menginginkan hal yang sama.
lebih aneh lagi, banyak yang sudah memiliki penghasilan sampingan. tapi,ya itu tadi hanya musiman, dan tidak bergerak untuk dikembangkan. sulit. karena gak punya jaringan. saat ini masih merupakan sampingan. tahun depan sampingan juga. lima tahun lagi masih sampingan juga.
saya mencoba menggali informasi tentang sebuah produk yang lucu dan baru-baru ini dirintis. saya sungguh kagum akan kreatifitas dan kiprah sepasang suami istri ini, dan entah kenapa saya berjanji pada diri sendiri bahwa saya harus terlibat dalam kegiatan (perputaran) bisnis ini. entah kapan saya bisa merealisasikannya, pokoknya saat ini saya meyakinkan diri sendiri dulu bahwa saya bisa. dan harus bisa.
saat ini saya masih re-seller, dengan mendapat discount 5%, terkadang 10%, tergantung dari nilai belanja. dan, rata-rata konsumen yang saya datangi antusias. contoh : suatu sore, ketika saya photo copy, saya membawa dua sample kerudung ukuran ss. "coy (sapaan gaul)! anak loe cewek?" iya, katanya. "loe mesti pakein nih krudung, biar adhem ati orang tuanya. mumpung masih bayi. biasain dengan hawa kerudung", kataku setengah merayu.
langsugn dia comot tuch sample, sambil aku kasih gambar plus katalog. dan, "pak, saya ambil dua pasang. yang ini sama yang ini!". subhanallah. tukang photo copy langgananku, baru aku samperin dengan gaya menawarkan model bahasa preman, langsung beli 2 stel baju anak mufida.
"aku harus punya gerai. bisa aku mulai dari teras rumah kalau perlu!", aku pun tersenyum sambil berlalu.
anda tertarik juga untuk merintis "jualan" baju anak mufida? saya hanya punya usul, mari bentuk jaringan. insya allah, dengan berjamaah semuanya jadi lebih mudah.
tapi, kalau mau yang langsung action dan sudah kuat modal serta (terutama) kemauan, silahkan kontak "biangnya langsung" dan, mari kita berlomba. rintis dari sekarang untuk menuju usia 5 tahun mendatang sudah bisa free secara timing (bebas setiap saat bercanda dengan keluarga) dan free financial (fokus dakwah dalam penyebaran agama islam tanpa resah oleh urusan dunia) berani!
jalan sendiri kalau berani. kalau belum cukup kemampuan, mari berkolaborasi! berkoloni!
dan ini nih, tulsian yang aku comot dari biangnya mufida produk:
About Mufida
Berawal dari rumahgrosir.com, alhamdulillah mulai Maret 2009 ini kami bisa mulai produksi sendiri, Mufida Collection dengan produk awal kerudung anak. Kami berharap dengan hadirnya kerudung Mufida Collection, anak-anak muslimah bisa terbiasa menggunakan kerudung sejak dini. Mufida adalah nama putri kami yang jadi model kerudung Mufida karakter, ketika bulan Maret 2009 usianya baru 9 bulan.
Kerudung anak Mufida Collection unik dan lucu-lucu. Untuk anak-anak usia bayi-6tahun ada kerudung karakter animals, fruits&vegetables dan karakter tokoh kartun. Sedangkan untuk usia 7-12 tahun ada kerudung kombinasi yang cantik. Kerudung Mufida terbuat dari bahan kaos TC yang lembut dan tidak panas sehingga nyaman dipakai anak-anak.
Mufida Collection membuka kerjasama bagi distributor(per wilayah) dan agen. Untuk informasi lebih lanjut, silakan kontak kami di 081332375494 atau via emel/ym tehrohmah@yahoo.com
Rumah Mufida
info@rumahmufida.com
0227532960 / 02260878035
081332375494 / 081321535325
Selasa, 11 Agustus 2009
lagi kumat - edan -
sebenarnya hobyku tuch nulis. cuma, yaitu tadi. kumat-kumatan. alias dat nyeng. sekarang, hobynya lain lagi. melamun dan berkhayal. gara-gara ikutan seminar tda bekasi kemarin, jadi kesurupan jin yang namanya entrepreneur.
secara, sejak pertama kenal rupiah ya jadi nguli. lah koq pengin banting stir segala. pengin jadi entrepreneur. tukang bakulan. bisnis. apa lagi istilah lainnya.
satu saja impianku, aku pengin free timing maupun finacial, sementara hobbyku -manthengin komputer setiap saat 35 jam sehari semalam, internetan terus-terusan, nulis sepuas dan semauku, bisa tercapai.
trus gimana?
ya gak tahu. pokoknya punya keinginan aja dulu. kata orang orang pinter yang sudah lebih lama kesurupan jin entrepreneur ini, "bermimpilah. karena mimpi itu gratis. bangkitkan energi di ambang batas kesadaran. jadikan mimpi sebagai pendorong. energi. potensi. dan, rasakan sensasinya"
aku yang emang udah jadi kuli pabrik sejak pertama kenal duit cuma bisa manggut-manggut. ora mudheng babar blas. ning, koq ya pengin.
tda-bekasi, memang harus bertanggung jawab atas merebaknya virus (aku lebih suka nyebut 'jin') entrepreneur ini. jiwa wira-usaha. jiwa mandiri. jiwa 'tangan diatas'. jiwa pemberi. bukan sekedar penerima. jiwa penebar rahmat dari hasil keringat sendiri.
dan, aku?
hmmmm...... tunggu aja tanggal mainnya. minimal, kalaupun bukan aku yang sukses. biarlah aku yang mulai. biarlah aku yang merintis. sementara anak-anakku yang meneruskan jalan itu.
secara, sejak pertama kenal rupiah ya jadi nguli. lah koq pengin banting stir segala. pengin jadi entrepreneur. tukang bakulan. bisnis. apa lagi istilah lainnya.
satu saja impianku, aku pengin free timing maupun finacial, sementara hobbyku -manthengin komputer setiap saat 35 jam sehari semalam, internetan terus-terusan, nulis sepuas dan semauku, bisa tercapai.
trus gimana?
ya gak tahu. pokoknya punya keinginan aja dulu. kata orang orang pinter yang sudah lebih lama kesurupan jin entrepreneur ini, "bermimpilah. karena mimpi itu gratis. bangkitkan energi di ambang batas kesadaran. jadikan mimpi sebagai pendorong. energi. potensi. dan, rasakan sensasinya"
aku yang emang udah jadi kuli pabrik sejak pertama kenal duit cuma bisa manggut-manggut. ora mudheng babar blas. ning, koq ya pengin.
tda-bekasi, memang harus bertanggung jawab atas merebaknya virus (aku lebih suka nyebut 'jin') entrepreneur ini. jiwa wira-usaha. jiwa mandiri. jiwa 'tangan diatas'. jiwa pemberi. bukan sekedar penerima. jiwa penebar rahmat dari hasil keringat sendiri.
dan, aku?
hmmmm...... tunggu aja tanggal mainnya. minimal, kalaupun bukan aku yang sukses. biarlah aku yang mulai. biarlah aku yang merintis. sementara anak-anakku yang meneruskan jalan itu.
Jumat, 19 Juni 2009
burung blo'on
petikan "kira-kira loh ya", ustadz yusuf mansur dalam taujih dhuha. gak persis kayak gini sih, cuma, latihan mengingat sambil nulis aja.
dalam sebuah pertemuan ilmu, seorang guru bertanya pada muridnya , "burung apa yang gak bisa terbang?"
ada yang menjawab burung sakit. burung kejepit, burung tenggelam, burung patah sayap. beragam dah pokoknya. kemudian, dilanjut sama guru tadi. "yang benar adalah burung malas", katanya.
namanya burung tentu punya sayap. udah tahu punya sayap, kenapa gak terbang. padahal terbang itu indah, bisa melihat angkasa. melihat keindahan alam. menikmati semesta. boleh jadi karena memang bener-bener pemalas atau, tidak ada rasa ketertarikan sama keindahan. mati rasa dah pokoknya.
lebih parah lagi, kalau ada burung yang gak bisa terbang karena dia gak tahu kalau sebenarnya dia punya sayap, gak nyadar. jelas-jelas nempel di badan, koq sampai tidak merasa. burung apa klo seperti ini namanya? jelas aja burung bego. bahlul. tolol. blo'on. trus, apa lagi?
itu burung loh.
sekarang yang berhubungan dengan manusia. kewajiban manusia sebenarnya cuma satu loh. apa itu? sholat. berarti orang hidup didunia mesti sholat terus dong. ibadah terus dong. gak perlu nyari dunia! kacau itu mah!
tahan dulu. bukan itu penjabarannya. "amalan yang lain itu tergantung sholatnya. kalau sholatnya baik, maka baik seluruh amalannya. begitu pula kalau jelek sholatnya, jelek pula seluruh amalannya". dari sini jelas, bahwa sholat ialah indikator utama untuk menilai amalan seseorang. kalau hidupnya amburadul, sementara ngakunya sholatnya bener. trus, gimana tuch? tampangnya alim, jenggotnya panjang, jidatnya hitam, tapi, kelakuannya kacau. trus, gimana juga tuch? emang bisa yang kayak gitu dikatakan sholatnya bagus?
soal sholat bagus ini, ada juga tuntunannya. ibarat burung, sholat juga punya sayap. apaan tuch? qobliyah ba'diyah, tentu saja. kalau ada orang yang masih belum ngejalanin sunnat rowatib, bearti, tuch orang sama saja burung yang gak bisa terbang. bisa males. bisa blo'on.
tinggal pilih dah yang mana. klo males, berarti udah tahu klo sholat wajib itu ada qobliyah ba'diyah, tapi tetap aja gak dijalanin. kalau blo'on, berarti gak nyadar, alias gak tahu klo sholat wajib tuch ada qobliyah ba'diyahnya. udah berapa tahun ngejalanin sholat, masih gak paham soal "sayap" nya sholat wajib.
trus, dilanjut lagi nih. qobliyah ba'diyah itu, termasuk sunnah. tapi, muakkadah. sunnat yang dianjurkan. sangat dianjurkan. bagaimana mungkin burung bisa meresapi keindahan hidup, keindahan alam, keindahan semesta kalau tidak terbang. bagaimana mungkin sholat bisa mengarungi kenikmatan sipiritual kalau tidak disempurnain sama yang sunnah. gitu, sederhananya mah.
soal muakkadah ini, bukan cuma qobliyah ba'diyah doang. ada yang tak kalah penting juga. ialah dhuha. dan, masih banyak lagi. hanya saja, untuk dhuha memang kayak masih asing gitu. masih jarang orang ngejalanin. bagaimana sih, koq sampai orang pada jarang dhuha?
pertama, bisa jadi emang tuch orang kagak tahu. makanya kita kasih tahu. tentang fadhilahnya, keutamaannya, dan seluk beluk lainnya.
kedua, berada di lingkungan yang tidak me-familiar-kan dhuha. contoh saja kayak perkantoran, sekolahan, intansi pemerintahan. kalau tidak ada iklim per-dhuha-an, mana mungkin orang jadi tertarik buat ngelakuin. inilah, fungsinya membentuk serikat. koloni. komunitas. benahing bareng-bareng. biar kerja tuch ada maknanya. hidup ada maknanya. pokoknya penuh makna gitu dah.
ketiga, system pendidikan yang membentuk manusia, di indonesia ini, memang tidak ada yang me-wajib-kan dhuha sedari kecil. wajib disini kayak semacam kegiatan, "dilaharang masuk kelas sebelum sholat dhuha 2 rokaat". atau minimal, "setiap hari jumat pagi, seluruh siswa wajib dhuha bareng-bareng di lapangan. coba kalau dari kelas 1 sd sudah digalakkan kayak gitu. umur 30-an udah gak bakalan 'baru ribut' latihan dhuha dah. he..he..he..
dalam sebuah pertemuan ilmu, seorang guru bertanya pada muridnya , "burung apa yang gak bisa terbang?"
ada yang menjawab burung sakit. burung kejepit, burung tenggelam, burung patah sayap. beragam dah pokoknya. kemudian, dilanjut sama guru tadi. "yang benar adalah burung malas", katanya.
namanya burung tentu punya sayap. udah tahu punya sayap, kenapa gak terbang. padahal terbang itu indah, bisa melihat angkasa. melihat keindahan alam. menikmati semesta. boleh jadi karena memang bener-bener pemalas atau, tidak ada rasa ketertarikan sama keindahan. mati rasa dah pokoknya.
lebih parah lagi, kalau ada burung yang gak bisa terbang karena dia gak tahu kalau sebenarnya dia punya sayap, gak nyadar. jelas-jelas nempel di badan, koq sampai tidak merasa. burung apa klo seperti ini namanya? jelas aja burung bego. bahlul. tolol. blo'on. trus, apa lagi?
itu burung loh.
sekarang yang berhubungan dengan manusia. kewajiban manusia sebenarnya cuma satu loh. apa itu? sholat. berarti orang hidup didunia mesti sholat terus dong. ibadah terus dong. gak perlu nyari dunia! kacau itu mah!
tahan dulu. bukan itu penjabarannya. "amalan yang lain itu tergantung sholatnya. kalau sholatnya baik, maka baik seluruh amalannya. begitu pula kalau jelek sholatnya, jelek pula seluruh amalannya". dari sini jelas, bahwa sholat ialah indikator utama untuk menilai amalan seseorang. kalau hidupnya amburadul, sementara ngakunya sholatnya bener. trus, gimana tuch? tampangnya alim, jenggotnya panjang, jidatnya hitam, tapi, kelakuannya kacau. trus, gimana juga tuch? emang bisa yang kayak gitu dikatakan sholatnya bagus?
soal sholat bagus ini, ada juga tuntunannya. ibarat burung, sholat juga punya sayap. apaan tuch? qobliyah ba'diyah, tentu saja. kalau ada orang yang masih belum ngejalanin sunnat rowatib, bearti, tuch orang sama saja burung yang gak bisa terbang. bisa males. bisa blo'on.
tinggal pilih dah yang mana. klo males, berarti udah tahu klo sholat wajib itu ada qobliyah ba'diyah, tapi tetap aja gak dijalanin. kalau blo'on, berarti gak nyadar, alias gak tahu klo sholat wajib tuch ada qobliyah ba'diyahnya. udah berapa tahun ngejalanin sholat, masih gak paham soal "sayap" nya sholat wajib.
trus, dilanjut lagi nih. qobliyah ba'diyah itu, termasuk sunnah. tapi, muakkadah. sunnat yang dianjurkan. sangat dianjurkan. bagaimana mungkin burung bisa meresapi keindahan hidup, keindahan alam, keindahan semesta kalau tidak terbang. bagaimana mungkin sholat bisa mengarungi kenikmatan sipiritual kalau tidak disempurnain sama yang sunnah. gitu, sederhananya mah.
soal muakkadah ini, bukan cuma qobliyah ba'diyah doang. ada yang tak kalah penting juga. ialah dhuha. dan, masih banyak lagi. hanya saja, untuk dhuha memang kayak masih asing gitu. masih jarang orang ngejalanin. bagaimana sih, koq sampai orang pada jarang dhuha?
pertama, bisa jadi emang tuch orang kagak tahu. makanya kita kasih tahu. tentang fadhilahnya, keutamaannya, dan seluk beluk lainnya.
kedua, berada di lingkungan yang tidak me-familiar-kan dhuha. contoh saja kayak perkantoran, sekolahan, intansi pemerintahan. kalau tidak ada iklim per-dhuha-an, mana mungkin orang jadi tertarik buat ngelakuin. inilah, fungsinya membentuk serikat. koloni. komunitas. benahing bareng-bareng. biar kerja tuch ada maknanya. hidup ada maknanya. pokoknya penuh makna gitu dah.
ketiga, system pendidikan yang membentuk manusia, di indonesia ini, memang tidak ada yang me-wajib-kan dhuha sedari kecil. wajib disini kayak semacam kegiatan, "dilaharang masuk kelas sebelum sholat dhuha 2 rokaat". atau minimal, "setiap hari jumat pagi, seluruh siswa wajib dhuha bareng-bareng di lapangan. coba kalau dari kelas 1 sd sudah digalakkan kayak gitu. umur 30-an udah gak bakalan 'baru ribut' latihan dhuha dah. he..he..he..
Rabu, 20 Mei 2009
Sapi Melenguh, Kamu Mengeluh, sama-sama 'Uh!'
Bekerja yang sesungguhnya adalah tidak bekerja. Nah loh, bingung kan?
Ketika engkau berdiam diri, tanpa ada aktifitas kau jalani, tak ada sesuatu menemani, itulah saat energimu terkuras habis. Engkau merasakan capek dan letih tak terkira. Urat terasa kaku, persendian ngilu. Kalori menumpuk yang seharusnya kau salurkan, bertarung antar diri di dalam tubuhmu. Cuma satu manusia butuhkan, ‘recycling’. Perputaran.
Itulah sebabnya, ketika manusia mendapati kelimpahan materi tanpa melalui perjuangan dan mengeluarkan energi, bukan nikmat ia dapat. Sebaliknya, bisa jadi laknat yang justru melekat.
Pernah dengar kabar tentang seorang pria baik-baik menjadi pembunuh dadakan? Justru, ketka ia barusaja menandatangani selembar deposit senilai 1,5 milyar di hadapan notaris. Warisan orang tua. “Kau hanya anak pungut, tak berhak mendapat bagian!”, tandasnya.
Illustrasi,
Perjalanan menuju dan pulang kantor memakan waktu satu jam setengah diatas kereta. Dan, aku cukup bersyukur bahwa buku adalah teman terbaikku. Begitu kaki melangkah pintu, jiwaku beralih ke buku. Tak kuhiraukan lagi segala kondisi –pengab, panas, gerah, berdesakan, berdiri dengan satu kaki, bergelayutan. Asal bisa nyari tempat strategis aja- sekitar. Terkadang kereta ditahan karena sebab tak pasti. Aku tetap tak peduli. Dan, ketika aku harus turun karena memang sudah sampai tujuan, aku merasakan keluar pintu sebagaimana aku keluar kamar tidur.
Beda lagi dengan orang lain disebelahku. Ia mengumpat sejadi-jadinya atas keterlambatan, kepenatan, nge-goblog-in masinis atau petugas kereta, dan masih banyak lagi. Pake teriak-teriak dan mengganggu orang disekitarnya pula. “Gila nih PJKA. Makin gak becus aja kerja!”, tangan terkepal, meninju dinding yang jelas terbuat dari lempengan baja. “Brang!”, semua mata pun menoleh.
Kepenatan dan keletihan bahkan capek luar biasa, justru akan diderita oleh orang kedua ketimbang saya. Padahal, aku justru beraktifitas, yaitu membaca. Sesekali menulis beberapa coretan setelah dapat giliran duduk, atau ada penumpang turun. Sementara orang itu, hanya diam. Diam tubuhnya. Diam tangannya. Tapi, gemuruh jiwanya.
Oke. Mungkin, tambahan illustrasi berikut ini lebih mengena lagi. Semog masih nyambung. Kalau gak, ya, sambung-sambungin aja.
Ketika kamu tidur. Beranjak pukul 9 misalnya, kamu hanya merasa beberapa saat saja walau bangun jam 7 pagi. Pulas. Kenikmatan selama tidur kamu rasakan sepenuhnya.
Apakah yang terjadi ketika kamu tidak mendapati kenikmatan (tidur) itu? Malam-malam terasa panjang, bentar-bentar melirik dinding. Jarum jam tiba-tiba berenti. Mati. Malahan, kau terbangun dan memastikan baterai apakah masih berfungsi.
Tersiksa jiwamu!
Dalam perjalanan tadi juga begitu. berapakali kau dengan sengit berucap serapah, hanya karena terlambat masuk kantor? padahal, satu saja diingat, nafas masih berkenan keluar masuk tenggorokan. Tentu akan lebih nyaman.
Dan, ingatlah pula ketika engkau bernafas! Begitu udara melewati lubang hidung dan keluar pada lubang yang sama disaat berikutnya. Maka, begitulah usiamu. Ia pergi tertiup angin dan tak pernah kembali lagi. Kecuali, dengan muatan nafas berikutnya. jadi, buat apa kau sia-siakan?
Hanya kesabaran yang dapat mengantarkan pada kemenangan. Tak ada ketergesaan kecuali hanya milik pecundang. Terburu-buru dan tanpa perhitunan adalah ciri kerja setan. Dan, kamu bukan setan kan? Jangan lagi sembrono, grasa-grusu, ceroboh, lantas protes dengan segala umpatan dan makian kotor terhadap apapun kondisi disekitarmu.
Nyaman tubuh, sedikit makan.
Nyaman jiwa, sedikit dosa.
Nyaman lisan, sedikit bicara.
Nyaman hati, sedikit keinginan.
Kata si cerdik pandai sich gitu. Dan, sayangnya aku setuju untuk beberapa kasus tertentu. Bagaimana untuk orator, sedikit bicara. Wah, bisa kabur semua audiens.
Sabar obatnya, syukur jalan keluarnya. Setuju?
Ketika engkau berdiam diri, tanpa ada aktifitas kau jalani, tak ada sesuatu menemani, itulah saat energimu terkuras habis. Engkau merasakan capek dan letih tak terkira. Urat terasa kaku, persendian ngilu. Kalori menumpuk yang seharusnya kau salurkan, bertarung antar diri di dalam tubuhmu. Cuma satu manusia butuhkan, ‘recycling’. Perputaran.
Itulah sebabnya, ketika manusia mendapati kelimpahan materi tanpa melalui perjuangan dan mengeluarkan energi, bukan nikmat ia dapat. Sebaliknya, bisa jadi laknat yang justru melekat.
Pernah dengar kabar tentang seorang pria baik-baik menjadi pembunuh dadakan? Justru, ketka ia barusaja menandatangani selembar deposit senilai 1,5 milyar di hadapan notaris. Warisan orang tua. “Kau hanya anak pungut, tak berhak mendapat bagian!”, tandasnya.
Illustrasi,
Perjalanan menuju dan pulang kantor memakan waktu satu jam setengah diatas kereta. Dan, aku cukup bersyukur bahwa buku adalah teman terbaikku. Begitu kaki melangkah pintu, jiwaku beralih ke buku. Tak kuhiraukan lagi segala kondisi –pengab, panas, gerah, berdesakan, berdiri dengan satu kaki, bergelayutan. Asal bisa nyari tempat strategis aja- sekitar. Terkadang kereta ditahan karena sebab tak pasti. Aku tetap tak peduli. Dan, ketika aku harus turun karena memang sudah sampai tujuan, aku merasakan keluar pintu sebagaimana aku keluar kamar tidur.
Beda lagi dengan orang lain disebelahku. Ia mengumpat sejadi-jadinya atas keterlambatan, kepenatan, nge-goblog-in masinis atau petugas kereta, dan masih banyak lagi. Pake teriak-teriak dan mengganggu orang disekitarnya pula. “Gila nih PJKA. Makin gak becus aja kerja!”, tangan terkepal, meninju dinding yang jelas terbuat dari lempengan baja. “Brang!”, semua mata pun menoleh.
Kepenatan dan keletihan bahkan capek luar biasa, justru akan diderita oleh orang kedua ketimbang saya. Padahal, aku justru beraktifitas, yaitu membaca. Sesekali menulis beberapa coretan setelah dapat giliran duduk, atau ada penumpang turun. Sementara orang itu, hanya diam. Diam tubuhnya. Diam tangannya. Tapi, gemuruh jiwanya.
Oke. Mungkin, tambahan illustrasi berikut ini lebih mengena lagi. Semog masih nyambung. Kalau gak, ya, sambung-sambungin aja.
Ketika kamu tidur. Beranjak pukul 9 misalnya, kamu hanya merasa beberapa saat saja walau bangun jam 7 pagi. Pulas. Kenikmatan selama tidur kamu rasakan sepenuhnya.
Apakah yang terjadi ketika kamu tidak mendapati kenikmatan (tidur) itu? Malam-malam terasa panjang, bentar-bentar melirik dinding. Jarum jam tiba-tiba berenti. Mati. Malahan, kau terbangun dan memastikan baterai apakah masih berfungsi.
Tersiksa jiwamu!
Dalam perjalanan tadi juga begitu. berapakali kau dengan sengit berucap serapah, hanya karena terlambat masuk kantor? padahal, satu saja diingat, nafas masih berkenan keluar masuk tenggorokan. Tentu akan lebih nyaman.
Dan, ingatlah pula ketika engkau bernafas! Begitu udara melewati lubang hidung dan keluar pada lubang yang sama disaat berikutnya. Maka, begitulah usiamu. Ia pergi tertiup angin dan tak pernah kembali lagi. Kecuali, dengan muatan nafas berikutnya. jadi, buat apa kau sia-siakan?
Hanya kesabaran yang dapat mengantarkan pada kemenangan. Tak ada ketergesaan kecuali hanya milik pecundang. Terburu-buru dan tanpa perhitunan adalah ciri kerja setan. Dan, kamu bukan setan kan? Jangan lagi sembrono, grasa-grusu, ceroboh, lantas protes dengan segala umpatan dan makian kotor terhadap apapun kondisi disekitarmu.
Nyaman tubuh, sedikit makan.
Nyaman jiwa, sedikit dosa.
Nyaman lisan, sedikit bicara.
Nyaman hati, sedikit keinginan.
Kata si cerdik pandai sich gitu. Dan, sayangnya aku setuju untuk beberapa kasus tertentu. Bagaimana untuk orator, sedikit bicara. Wah, bisa kabur semua audiens.
Sabar obatnya, syukur jalan keluarnya. Setuju?
Label:
Ndleming,
oyot gatel,
renungan
tragedi sore hari
“Cepet amat shalatnya”, tanyaku.
“Kan udah apal”, jawabnya.
Aku meletakkan sejenak buku ‘sirah nabawiyah’. Menatap serius sebentar. Menggantungkan pandangan pada sesosok wajah mungil itu. Ceria dan kekanak-kanakan masih memancar. Polos. Ya, namanya juga masih bocah. Masih anak-anak. Bukan cuma tubuhnya saja, jiwanya juga masih bocah, tentu saja.
Jadi ingat tulisan beberapa waktu lalu, “tumbuh badan sebatas usia, tumbuh jiwa sebatas usaha”. Sebagus bagus badan, ada titik klimaksnya. Kemudian menurun, ada yang drastic, ada pula lambat. Intinya, akan nyampai juga ke titik akhir. Mati. Hancur. Lenyap.
Beda dengan jiwa. Ia akan tumbuh terus, terus, dan terus. Tidak kembali ke-mula. Semakin dewasa, matang, akhirnya suci dan bersih kembali sebagaimana fitrahnya.
“Wahai para hamba-Ku, kalian semua tersesat kecuali yang Aku beri petunjuk, maka mintalah petunjuk kepada-Ku, niscaya Aku akan beri petunjuk” (hadits riwayat muslim).
Waduh. Pantas aja tuch bocah masih ‘express’ setiap shalat. Nilai dan existensi dari gerakan apalagi bacaan belum mengena. Dalam arti, “dia masih tersesat”, sehingga belum faham betul akan kebutuhan shalat. Dia pikir “pantesan aja, shalatnya lama. Belum hafal sich bacaannya. Takut salah. Pelan-pelan”. Padahal sich, ya gitu deh.
“Coba. Kalau emang udah hafal, kalau takhiat baca apa?” tanyaku kemudian.
“Tasyahud lah. Cemen pertanyaan gitu mah. Ngapain sih ayah nanya-nanya. Pasti mau usil deh”, celetuk tuch bocah.
“Trus, tasyahud tuch intinya apa?”
“Gak tahu. Pokoknya bacaannya udah apal, ya udah, baca. Shalat kan gitu” jawabnya polos.
Dan, itu jawaban dari seorang anak yang belum haid. Artinya, masih bocah. Bener-bener bocah. Belum kena dosa karena belum baligh.
Lantas, aku coba jelasin dengan bahasa paling sederhana. Maksudku sebenarnya, ya nasehatin diri sendiri. Biasanya, kalau ngomongin orang lain, ingatan akan lebih kuat. Prinsip satu ilmu “bagilah, maka akan semakin bertambah”.
Inti tasyahud, ya shalawat. Setelah, sebelumnya didahului dengan kepasrahan bahwa “Segala kehormatan, kemuliaan, kebahagiaan dan kebaikan adalah milik Allh”.
Sementara inti shalawat itu sendiri, “Allahumma shali ala Muhammad, wa ala ali Muhammad”. Kalau mau komplit (dan lebih afdol) terusin sampai ‘innaka hamidummajid’. Artinya, (penekanan disini) ‘dan keluarga Muhammad’.
“Emang, Muhammad punya keluarga?” tanyaku tiba-tiba.
“Ya punya lah. Ayah juga punya keluarga. Ibu. Anak. Tuch, si botak tuch keluarga namanya”, jawabnya mulai ketus. “Aneh. udah tahu pake nanya”
“Trus, keluarganya Muhammad tuch siapa aja. Jadi pengin kenal. Tinggalnya dimana sih?”
“Ya gak bisalah. Orang udah pada mati. Gimana mau kenalannya?”, makin sewot tuch. Biasanya emang gitu sih. kalau di tanya soal yang saben hari dikerjain. Dan dikiranya udah bener gitu. trus, ada yang sok ngetest. Bawaannya sewot aja. ‘ngapain loe nanya-nanya, udah tahu juga. Ngerti-an juga gue ketimbang eloe. Usil amat. Urusan sama orang lain’.
“Kalau gak kenal, gimana mau kirim shalawat segala. Ngapain juga kirim-kirim. Mending buat diri sendiri. Gak kenal ini.”, kataku. Trus, aku tegakkan punggung dan ambil nafas siap-siap deklamasi, “Allahumma shalli ala ana, wa ala ali ana. Duit koq dikasih-kasihin ke orang. Enak juga buat sendiri. Bisa buat beli es krim”
“Ih. Ayah nih aneh ya. Shalawat tuch hanya untuk nabi. Kalau ayah gak bisa dikasih shalawat. Emangnya ayah suci. Main-main dosa loh! Tanya sono sama ustadz! Yang ada tuch dikasih syafaat. Makanya, perlu ada shalawat biar dapet syafaat!”, waduh. Marah bener nih bocah. Klo diterusin, bisa ditimpuk raket nyamuk (lagi). Mana ada strumnya pula. Sakit sih enggak, kaget sama gatelnya itu. Ya udah dah. Mendingan stop aja. biarin bocah 10 tahun itu asyik dengan dunianya.
Tapi,
Aku jadi mikir juga. ‘wa ala ali Muhammad’, dan keluarga nabi Muhammad. Siapa aja ya istrinya. Siapa aja ya anak-anaknya. Ah, mesti baca sirah nabawiyah lagi nih kayaknya. Yuk!
“Kan udah apal”, jawabnya.
Aku meletakkan sejenak buku ‘sirah nabawiyah’. Menatap serius sebentar. Menggantungkan pandangan pada sesosok wajah mungil itu. Ceria dan kekanak-kanakan masih memancar. Polos. Ya, namanya juga masih bocah. Masih anak-anak. Bukan cuma tubuhnya saja, jiwanya juga masih bocah, tentu saja.
Jadi ingat tulisan beberapa waktu lalu, “tumbuh badan sebatas usia, tumbuh jiwa sebatas usaha”. Sebagus bagus badan, ada titik klimaksnya. Kemudian menurun, ada yang drastic, ada pula lambat. Intinya, akan nyampai juga ke titik akhir. Mati. Hancur. Lenyap.
Beda dengan jiwa. Ia akan tumbuh terus, terus, dan terus. Tidak kembali ke-mula. Semakin dewasa, matang, akhirnya suci dan bersih kembali sebagaimana fitrahnya.
“Wahai para hamba-Ku, kalian semua tersesat kecuali yang Aku beri petunjuk, maka mintalah petunjuk kepada-Ku, niscaya Aku akan beri petunjuk” (hadits riwayat muslim).
Waduh. Pantas aja tuch bocah masih ‘express’ setiap shalat. Nilai dan existensi dari gerakan apalagi bacaan belum mengena. Dalam arti, “dia masih tersesat”, sehingga belum faham betul akan kebutuhan shalat. Dia pikir “pantesan aja, shalatnya lama. Belum hafal sich bacaannya. Takut salah. Pelan-pelan”. Padahal sich, ya gitu deh.
“Coba. Kalau emang udah hafal, kalau takhiat baca apa?” tanyaku kemudian.
“Tasyahud lah. Cemen pertanyaan gitu mah. Ngapain sih ayah nanya-nanya. Pasti mau usil deh”, celetuk tuch bocah.
“Trus, tasyahud tuch intinya apa?”
“Gak tahu. Pokoknya bacaannya udah apal, ya udah, baca. Shalat kan gitu” jawabnya polos.
Dan, itu jawaban dari seorang anak yang belum haid. Artinya, masih bocah. Bener-bener bocah. Belum kena dosa karena belum baligh.
Lantas, aku coba jelasin dengan bahasa paling sederhana. Maksudku sebenarnya, ya nasehatin diri sendiri. Biasanya, kalau ngomongin orang lain, ingatan akan lebih kuat. Prinsip satu ilmu “bagilah, maka akan semakin bertambah”.
Inti tasyahud, ya shalawat. Setelah, sebelumnya didahului dengan kepasrahan bahwa “Segala kehormatan, kemuliaan, kebahagiaan dan kebaikan adalah milik Allh”.
Sementara inti shalawat itu sendiri, “Allahumma shali ala Muhammad, wa ala ali Muhammad”. Kalau mau komplit (dan lebih afdol) terusin sampai ‘innaka hamidummajid’. Artinya, (penekanan disini) ‘dan keluarga Muhammad’.
“Emang, Muhammad punya keluarga?” tanyaku tiba-tiba.
“Ya punya lah. Ayah juga punya keluarga. Ibu. Anak. Tuch, si botak tuch keluarga namanya”, jawabnya mulai ketus. “Aneh. udah tahu pake nanya”
“Trus, keluarganya Muhammad tuch siapa aja. Jadi pengin kenal. Tinggalnya dimana sih?”
“Ya gak bisalah. Orang udah pada mati. Gimana mau kenalannya?”, makin sewot tuch. Biasanya emang gitu sih. kalau di tanya soal yang saben hari dikerjain. Dan dikiranya udah bener gitu. trus, ada yang sok ngetest. Bawaannya sewot aja. ‘ngapain loe nanya-nanya, udah tahu juga. Ngerti-an juga gue ketimbang eloe. Usil amat. Urusan sama orang lain’.
“Kalau gak kenal, gimana mau kirim shalawat segala. Ngapain juga kirim-kirim. Mending buat diri sendiri. Gak kenal ini.”, kataku. Trus, aku tegakkan punggung dan ambil nafas siap-siap deklamasi, “Allahumma shalli ala ana, wa ala ali ana. Duit koq dikasih-kasihin ke orang. Enak juga buat sendiri. Bisa buat beli es krim”
“Ih. Ayah nih aneh ya. Shalawat tuch hanya untuk nabi. Kalau ayah gak bisa dikasih shalawat. Emangnya ayah suci. Main-main dosa loh! Tanya sono sama ustadz! Yang ada tuch dikasih syafaat. Makanya, perlu ada shalawat biar dapet syafaat!”, waduh. Marah bener nih bocah. Klo diterusin, bisa ditimpuk raket nyamuk (lagi). Mana ada strumnya pula. Sakit sih enggak, kaget sama gatelnya itu. Ya udah dah. Mendingan stop aja. biarin bocah 10 tahun itu asyik dengan dunianya.
Tapi,
Aku jadi mikir juga. ‘wa ala ali Muhammad’, dan keluarga nabi Muhammad. Siapa aja ya istrinya. Siapa aja ya anak-anaknya. Ah, mesti baca sirah nabawiyah lagi nih kayaknya. Yuk!
Label:
Ndleming,
oyot gatel
Senin, 11 Mei 2009
hai manusia, ingat umur! (2)
Lanjut ya, masih jam setengah satu. Sebenarnya udah laper sich, hanya saja, biar berentinya di persimpangan. Kapan-kapan kalau mau ngelanjutin lagi gampang. Gak perlu terlalu banyak muter ke belakang. Untuk ambil ancang-ancang.
Karena ini soal ibadah sebagai bekal di kehidupan berikutnya nanti, yang aku kupas juga seputar ibadah ini aja. “Tidak di ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah”. Tentu ingat dan hapal betul dengan ayat ini.
Iya, kalau bekerja ku dihitung ibadah. Lebih sering mengeluh ketimbang bersyukur. Apalagi kalau January kenaikan tak sebanding dengan angan-angan. Belum lagi kenaikan grade yang masih simpang siur dan tak kunjung datang. Masih ditambah kerjaan yang ditambah melulu. Ah… entah berapa prosen kadar ibadah di dalam aku bekerja ini.
Iya, kalau tidur ku dihitung ibadah. Kadang juga lupa berdoa apa enggak. Bangun tidur apalagi. Boro boro sebut “alhamdulillahiladzi ahyana ba’dama amatana wa ilaihinnusur”. Lebih sering langsung kabur ke kamar mandi kebelet kencing.
Iya, kalau puasaku di bulan ramadhan tidak Cuma mendapat predikat lapar dan dahaga. Secara, kebanyakan hanya menggeser jam makan doang. Mentang-mentang seharian (siang) puasa, begitu dalam magrib sampai menjelang subuh, puas-puasin makannya. Apa aja di caplok.
Iya, kalau makan dan minum ku dihitung ibadah. Masih suka makan enak dan kekenyangan. Minum juice beraneka rasa. Makan siang saat jam istirahat kantor masih milih-milih restoran. Menimbun beras dan sembako yang seharusnya boleh jadi hak fakir miskin. Kulkas kosong barang sehari aja, udah ngomel melulu.
Iya, kalau…. Ah, terlalu banyak ternyata yang meragukan untuk diperhitungkan sebagai IBADAH!
Okelah, untuk shalat yang Cuma 10 menit itu tadi (ini pun masih dengan asumsi, karena, tidak jarang shalat seperti ayam patuk beras. Capluk. Udah. Tak ada kesan sama sekali. Bahkan belum tasyahud aja udah lupa, tadi baca surat apa, boro-boro arti dan maknanya). Plus perhitungan biar gampang aku buletin menjadi 1 jam sehari semalam.
Karena ini ngelanjutin, biar gampang ngikutin, baca lagi dari depan aja. Intinya adalah, dalam kurun 65 tahun jatah usiaku, hanya 50 tahun diperhitungkan sebagai “pencari bekal” dengan beribadah. Sehingga ketemu angka 18.250 jam.
Atau, kalau dijadikan hari 18.250 jam / 24 jam(dalam 1 hari) = 760,4167 hari. Dibikin tahun, menjadi 760,4167 hari / 365 hari (dalam 1 tahun). Ketemu angka 2,08 tahun. Gila! Bener-bener gila. Selama itu hanya 2,08 tahun berbanding dengan angka 50 tahun! Hanya 4% saja. Astaghfirullahaladzim…
Jujur ya, ketika sampai (menulis ini) disini, aku menangkupkan kedua tangan ke mukaku. Hanya 4% saja, dan aku mengharap syurga. Bagaimana jadinya kalau aku meminjamkan uang 100 juta, lantas si peminjam baru mengembalikan 4 juta saja. Padahal dari uang modal itu, ia sudah menjadi kaya raya dan mempunyai pabrik dimana-mana. Apakah lantas, aku masih menganggap pantas tuch orang mendapatkan “tanah surgaku” seandainya aku punya? Udah gitu, giliran ditagih, “mana pinjamanku?”, dengan enteng ia menjawab, “apaan? Mana ada pinjaman itu. Yang ada ini adalah jerih payahku sendiri. Tak ada campur tanganmu?”
Itu baru perumpamaan uang 100 juta. Bagaimana dengan modal dua tangan, dua telinga, dua lubang hidung, ginjal, hati, jantung, sepasang kaki, otak yang tiap hari dipakai untuk ngibul dan ngebodohin orang lain ini? Masih ditambah lagi, rezeki, pekerjaan, kesehatan, anak yang lucu-lucu, teman yang saling ngerti. Ah…. Kembali aku hanya dapat beristighfar. Astaghfirullahaladzim!
Pahala sholat yang hanya 4% alias 2 tahun berbanding dengan perbuatan dosa dan lalai selama 48 tahun. Itupun, iya kalau sholat ku diterima. Ya Allah ya Rabb, sungguh, hanya Engkau yang maha agung, jauh lebih agung dari segala apa yang diperbuat seluruh manusia segala zaman. Sungguh, betapa hina dan terpuruknya aku jika Engkau ya Aziz, ya Rahman, ya Rahim, tidak mengampuni dosa-dosaku.
Dalam percakapanku, banyak dusta. Dalam pergaulanku banyak ngibulin orang. Dalam perbuatanku banyak mengecewakan sesama. Dan, mungkin juga, dalam tulisanku ini pun nyinggung pembaca juga. Waduh, 2 banding 48 gitu loh!
Allahu Akbar! Sungguh, hanya Allah yang Maha Besar. Ternyata udah limabelas menit aku menulis. Dan, perut ini sudah minta diisi. Semoga lain kali relungan ini masih berlanjut. Atau…. Ada rekan yang mau nerusin? Silakan.
Karena ini soal ibadah sebagai bekal di kehidupan berikutnya nanti, yang aku kupas juga seputar ibadah ini aja. “Tidak di ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah”. Tentu ingat dan hapal betul dengan ayat ini.
Iya, kalau bekerja ku dihitung ibadah. Lebih sering mengeluh ketimbang bersyukur. Apalagi kalau January kenaikan tak sebanding dengan angan-angan. Belum lagi kenaikan grade yang masih simpang siur dan tak kunjung datang. Masih ditambah kerjaan yang ditambah melulu. Ah… entah berapa prosen kadar ibadah di dalam aku bekerja ini.
Iya, kalau tidur ku dihitung ibadah. Kadang juga lupa berdoa apa enggak. Bangun tidur apalagi. Boro boro sebut “alhamdulillahiladzi ahyana ba’dama amatana wa ilaihinnusur”. Lebih sering langsung kabur ke kamar mandi kebelet kencing.
Iya, kalau puasaku di bulan ramadhan tidak Cuma mendapat predikat lapar dan dahaga. Secara, kebanyakan hanya menggeser jam makan doang. Mentang-mentang seharian (siang) puasa, begitu dalam magrib sampai menjelang subuh, puas-puasin makannya. Apa aja di caplok.
Iya, kalau makan dan minum ku dihitung ibadah. Masih suka makan enak dan kekenyangan. Minum juice beraneka rasa. Makan siang saat jam istirahat kantor masih milih-milih restoran. Menimbun beras dan sembako yang seharusnya boleh jadi hak fakir miskin. Kulkas kosong barang sehari aja, udah ngomel melulu.
Iya, kalau…. Ah, terlalu banyak ternyata yang meragukan untuk diperhitungkan sebagai IBADAH!
Okelah, untuk shalat yang Cuma 10 menit itu tadi (ini pun masih dengan asumsi, karena, tidak jarang shalat seperti ayam patuk beras. Capluk. Udah. Tak ada kesan sama sekali. Bahkan belum tasyahud aja udah lupa, tadi baca surat apa, boro-boro arti dan maknanya). Plus perhitungan biar gampang aku buletin menjadi 1 jam sehari semalam.
Karena ini ngelanjutin, biar gampang ngikutin, baca lagi dari depan aja. Intinya adalah, dalam kurun 65 tahun jatah usiaku, hanya 50 tahun diperhitungkan sebagai “pencari bekal” dengan beribadah. Sehingga ketemu angka 18.250 jam.
Atau, kalau dijadikan hari 18.250 jam / 24 jam(dalam 1 hari) = 760,4167 hari. Dibikin tahun, menjadi 760,4167 hari / 365 hari (dalam 1 tahun). Ketemu angka 2,08 tahun. Gila! Bener-bener gila. Selama itu hanya 2,08 tahun berbanding dengan angka 50 tahun! Hanya 4% saja. Astaghfirullahaladzim…
Jujur ya, ketika sampai (menulis ini) disini, aku menangkupkan kedua tangan ke mukaku. Hanya 4% saja, dan aku mengharap syurga. Bagaimana jadinya kalau aku meminjamkan uang 100 juta, lantas si peminjam baru mengembalikan 4 juta saja. Padahal dari uang modal itu, ia sudah menjadi kaya raya dan mempunyai pabrik dimana-mana. Apakah lantas, aku masih menganggap pantas tuch orang mendapatkan “tanah surgaku” seandainya aku punya? Udah gitu, giliran ditagih, “mana pinjamanku?”, dengan enteng ia menjawab, “apaan? Mana ada pinjaman itu. Yang ada ini adalah jerih payahku sendiri. Tak ada campur tanganmu?”
Itu baru perumpamaan uang 100 juta. Bagaimana dengan modal dua tangan, dua telinga, dua lubang hidung, ginjal, hati, jantung, sepasang kaki, otak yang tiap hari dipakai untuk ngibul dan ngebodohin orang lain ini? Masih ditambah lagi, rezeki, pekerjaan, kesehatan, anak yang lucu-lucu, teman yang saling ngerti. Ah…. Kembali aku hanya dapat beristighfar. Astaghfirullahaladzim!
Pahala sholat yang hanya 4% alias 2 tahun berbanding dengan perbuatan dosa dan lalai selama 48 tahun. Itupun, iya kalau sholat ku diterima. Ya Allah ya Rabb, sungguh, hanya Engkau yang maha agung, jauh lebih agung dari segala apa yang diperbuat seluruh manusia segala zaman. Sungguh, betapa hina dan terpuruknya aku jika Engkau ya Aziz, ya Rahman, ya Rahim, tidak mengampuni dosa-dosaku.
Dalam percakapanku, banyak dusta. Dalam pergaulanku banyak ngibulin orang. Dalam perbuatanku banyak mengecewakan sesama. Dan, mungkin juga, dalam tulisanku ini pun nyinggung pembaca juga. Waduh, 2 banding 48 gitu loh!
Allahu Akbar! Sungguh, hanya Allah yang Maha Besar. Ternyata udah limabelas menit aku menulis. Dan, perut ini sudah minta diisi. Semoga lain kali relungan ini masih berlanjut. Atau…. Ada rekan yang mau nerusin? Silakan.
hai manusia, ingat umur! (1)
“… sesungguhnya sehari di sisi Rabb adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.” (Qs. Al Hajj : 47)
akhir-akhir ini, aku suka memikirkan dan akhirnya menganalisa, sebenarnya berapa lama sih aku hidup di dunia ini? Tenyata, fantastic, very-very fantastic, hanya 3,9 menit! Atau, sekira 3 menit 54 detik saja!
Hal ini, aku teringat oleh petuah para pinisepuh di dusunku dulu. bahwa, “urip ana ndonya iku mung mampir ngombe”. Hidup didunia itu hanya numpang minum, perjalanan sesungguhnya masih jauh dan penuh gelombang terjal harus dilalui. Sayangnya, bekal yang harus dipersiapkan tergantung dari berapa banyak amalan yang dilakukan selama sesingkat itu.
Mau tahu analisaku? Begini.
Dari ayat diatas, berarti kalau boleh aku artikan secara isi kepalaku (untuk anda silahkan setuju atau juga punya argument lain) berarti 1000 tahun menurut perhitungan di dunia ini yang kita kenal dengan satuan waktu-nya manusia, berarti hanya 1 hari disisi Allah.
Aku lantas teringat pula sebuah hadits, “Umur umatku berkisar antara 60-70 tahun. Sangat sedikit di antara mereka yang umurnya melampaui kisaran itu.” Kata Rasulullah sebagaimana diriwayatkan At-Tirmidzi). Ambil rata-rata, bahwa jatah umurku habis di usia 65 (ini sekedar simulasi. Insya Allah, semoga Allah memanjangkan umurku, memberikan keberkahan dengan cahaya iman dan taqwa. Amin) berarti, coba cermati hitungan berikut ini.
65 tahun x 365 hari (abaikan tahun kabisat) x 24 (jam/hari). Ketemu angka 569.400 jam.
Sementara, versi (disisi ) Allah, satu hari itu identik dengan 1000 tahun. Berarti, satu harinya menurut Allah (berdasar ayat diatas) adalah 1000 x 365 x 24 = 8.760.000 jam.
Bagaimana untuk mendapatkan konversi pembanding?
65 tahun jatah umur saya berarti dibagi dengan 1.000 tahun. (perbandingan dibalik) hasilnya, 569.400 jam / 8.760.000 jam. Ketemu angka 0,065.
Biar gak pusing, jadikan ke menit, menjadi 0,065 x 60 = 3,9 menit. Ketemu kan?
Hanya segitu singkat! Pantes aja, orang tua sering bilang “hidup di dunia Cuma numpang minum!. 3,9 menit menurut perhitungan Allah (ini hanya logika asal-asalan berdasar versi satuan waktu yang dikenal oleh manusia. Kalau bicara dengan manusia memang harus pakai bahasa manusia juga.) atau 3 menit 54 detik.
Astaghfirullahaladzim, naudzubilahi min dzalik! Sesingkat itu, dan aku masih (suka) beranggapan bahwa hidup di dunia ini begitu lama dan mengasyikkan. Ya Rabb, ampuni hambamu yang masih suka lalai ini ya Allah.
Bayangkan, apa yang anda dapat lakukan dalam kurun 3 menit sekian detik tersebut, kecuali hanya dan hanya untuk mempersiapkan perjalanan panjang di fase berikutnya. So, masih pantaskah petentang-petenteng dengan apa yang didapatkan sampai saat ini?
Atau, masih pantaskah mengeluh atas sekelumit (anggapan) kekurangan akan fasilitas semu dari apa yang disodorkan dunia?
Ya Allah, ya Ghoffar. Ampuni hamba kalau masih lalai mempersiapkan bekal (amal) sebanyak-banyaknya. Tunjuki hamba pada jalan-Mu yang lurus. Tetapkan hatiku senantiasa dalam jalan taat kepadamu ya Allah.
Lantas, aku berpikir kembali kebelakang. Sekedar mau ngitung aja, sebanyak apa amalanku.
Rata-rata usia dihisap (akhir baliq) adalah selepas 15 tahun. Karena aku cowok. Untuk cewek biasanya 12 tahun, tergantung juga kapan pertama haid. Berarti 65-15=50 tahun. Berarti, kalau saja, dalam sehari, sholatku bener (yang Cuma 10 menit itu!) x 5 berarti ketemu angka 50 menit. Atau biar gampang ngitungnya, buletin aja menjadi 1 jam sehari semalam.
Dalam kurun waktu 50 tahun itu, waktuku terpakai untuk ibadah (taruhlah, shalatku aku anggap bener dan diperhitungkan sebagai ibadah) berapa lama?
Nanti dech, bersambugn ke tulisan berikutnya……
akhir-akhir ini, aku suka memikirkan dan akhirnya menganalisa, sebenarnya berapa lama sih aku hidup di dunia ini? Tenyata, fantastic, very-very fantastic, hanya 3,9 menit! Atau, sekira 3 menit 54 detik saja!
Hal ini, aku teringat oleh petuah para pinisepuh di dusunku dulu. bahwa, “urip ana ndonya iku mung mampir ngombe”. Hidup didunia itu hanya numpang minum, perjalanan sesungguhnya masih jauh dan penuh gelombang terjal harus dilalui. Sayangnya, bekal yang harus dipersiapkan tergantung dari berapa banyak amalan yang dilakukan selama sesingkat itu.
Mau tahu analisaku? Begini.
Dari ayat diatas, berarti kalau boleh aku artikan secara isi kepalaku (untuk anda silahkan setuju atau juga punya argument lain) berarti 1000 tahun menurut perhitungan di dunia ini yang kita kenal dengan satuan waktu-nya manusia, berarti hanya 1 hari disisi Allah.
Aku lantas teringat pula sebuah hadits, “Umur umatku berkisar antara 60-70 tahun. Sangat sedikit di antara mereka yang umurnya melampaui kisaran itu.” Kata Rasulullah sebagaimana diriwayatkan At-Tirmidzi). Ambil rata-rata, bahwa jatah umurku habis di usia 65 (ini sekedar simulasi. Insya Allah, semoga Allah memanjangkan umurku, memberikan keberkahan dengan cahaya iman dan taqwa. Amin) berarti, coba cermati hitungan berikut ini.
65 tahun x 365 hari (abaikan tahun kabisat) x 24 (jam/hari). Ketemu angka 569.400 jam.
Sementara, versi (disisi ) Allah, satu hari itu identik dengan 1000 tahun. Berarti, satu harinya menurut Allah (berdasar ayat diatas) adalah 1000 x 365 x 24 = 8.760.000 jam.
Bagaimana untuk mendapatkan konversi pembanding?
65 tahun jatah umur saya berarti dibagi dengan 1.000 tahun. (perbandingan dibalik) hasilnya, 569.400 jam / 8.760.000 jam. Ketemu angka 0,065.
Biar gak pusing, jadikan ke menit, menjadi 0,065 x 60 = 3,9 menit. Ketemu kan?
Hanya segitu singkat! Pantes aja, orang tua sering bilang “hidup di dunia Cuma numpang minum!. 3,9 menit menurut perhitungan Allah (ini hanya logika asal-asalan berdasar versi satuan waktu yang dikenal oleh manusia. Kalau bicara dengan manusia memang harus pakai bahasa manusia juga.) atau 3 menit 54 detik.
Astaghfirullahaladzim, naudzubilahi min dzalik! Sesingkat itu, dan aku masih (suka) beranggapan bahwa hidup di dunia ini begitu lama dan mengasyikkan. Ya Rabb, ampuni hambamu yang masih suka lalai ini ya Allah.
Bayangkan, apa yang anda dapat lakukan dalam kurun 3 menit sekian detik tersebut, kecuali hanya dan hanya untuk mempersiapkan perjalanan panjang di fase berikutnya. So, masih pantaskah petentang-petenteng dengan apa yang didapatkan sampai saat ini?
Atau, masih pantaskah mengeluh atas sekelumit (anggapan) kekurangan akan fasilitas semu dari apa yang disodorkan dunia?
Ya Allah, ya Ghoffar. Ampuni hamba kalau masih lalai mempersiapkan bekal (amal) sebanyak-banyaknya. Tunjuki hamba pada jalan-Mu yang lurus. Tetapkan hatiku senantiasa dalam jalan taat kepadamu ya Allah.
Lantas, aku berpikir kembali kebelakang. Sekedar mau ngitung aja, sebanyak apa amalanku.
Rata-rata usia dihisap (akhir baliq) adalah selepas 15 tahun. Karena aku cowok. Untuk cewek biasanya 12 tahun, tergantung juga kapan pertama haid. Berarti 65-15=50 tahun. Berarti, kalau saja, dalam sehari, sholatku bener (yang Cuma 10 menit itu!) x 5 berarti ketemu angka 50 menit. Atau biar gampang ngitungnya, buletin aja menjadi 1 jam sehari semalam.
Dalam kurun waktu 50 tahun itu, waktuku terpakai untuk ibadah (taruhlah, shalatku aku anggap bener dan diperhitungkan sebagai ibadah) berapa lama?
Nanti dech, bersambugn ke tulisan berikutnya……
Jumat, 01 Mei 2009
virus itu bernama -komentar-
selepas berkunjung ke blog "santri gundhul" dimana, dalam tautan blog ini aku kasih merek "ngawula gusti", aku kembali lagi untuk me-check apakah ada tulisan baru. ternyata belum. lantas, aku check lagi scroll down, ternyata komentarku bersambut. luar biasa, dampak dari 'meninggalkan jejak setiap blogwalking, ternyata menularkan spirit tersendiri untuk terus menulis.
makanya, buat sesama bloger, jangan hanya berkunjung ke 'rumah' yang udah dikenal aja. sempatkan untuk blog walking dan, berusahalah untuk menorehkan jejak disana. walhasil, pahala akan nyiprat kepada anda, karena turut membangkitkan semangat menulis. he..he.he... gitu kan?
komentarku begini,
kalau mau ndeketin kucing, ya bicaralah pakai bahasa kucing. macan, manuk, pitik, enthoq. apamaneh? bebek, wedhus, semana uga.
jadi, kalau mau ‘ndeketin’ (maksudnya biar kenal gitu) sama badan, jiwa, maupun ruh. ya, ‘mesti alias kudu bin harus’ ngerti dulu bahasa masing-masing.
bahasa badan, kalau gak mau mules, ya jangan makan sambel secobek-cobeknya. kalau gak mau mriang, jangan makan nasi ditelen segarpunya.
bahasa jiwa, gitu juga. bahasa ruh, apalagi.
mana ada orang bisa ndeketin ayam tapi, bahasa disuarakan pus..pus…pus… meong…meong…. lah, pitik’e malah kabur. he..he.he… manteb kang postingane.
secara, aku juga doyan sama blognya 'ngawula gusti' ini, terus berkarya ya mas. jangan kecewakan aku (pengunjung)dengan "lambat" posting. tulisan sampeyan huebat loh. dan, ini sambutan dari komentar ku itu.
***~~~~~~~~~~~~~~~~~~***
Kakang Salwangga,
Hanya yang KOSONG bisa MANUNGGAL dengan sang Maha KOSONG.
Untuk bisa manunggal dengan sang Sumber URIP yah harus dengan URIP kita.
Gonoh yah Kang…???
Sampeyan jiaaaaaaaannn….ces pleng tenan Kang.
Suwun Kang
lantas, dari komentar ini, karena kurang pas bener. aku coba ber-imaginasi ria. tuch kan, berbekal dari sebuah komentar bersambut, malah muncul ide baru untuk nulis.
selengkapnya, gini nih.
Aku tergelitik untuk menulis tuntas dan gamblang mengenai komentar ini. Dan, saat ini juga (jumat-01/05/09) pagi selepas dhuha 6 rokaat, setelah diawali sholat taubat 2 rokaat, aku sempetin bener-bener nih.
Semalem. Jam delapan malam ‘tenggo’ baru nyampe rumah. Kereta luar biasa tidak mau diajak kompromi. Niat sih, mau pulang cepet. Mau nemenin isteri buka puasa. Masalahnya, ini adalah kamis perdana istri bilang, “mumpung mbak Nimas libur, ada yang bantuin jaga rangga, ibu mau ikutan puasa bareng ayah”, katanya.
Subhanallah, seorang suami hanya perlu memberikan keteladanan, tak perlulah nasehat ‘dakik dakik’ dengan hujjah muluk muluk. Cukup tengadah tangan dikeheningan penghujung malam. “Duhai Dzat yang maha lembut, lembutkan hatiku, lembutkan hati istriku, lembutkan hati anak-anakku”, maka, ketika dosa-dosamu sudah ditolerir, munajad itu menjadi demikian kuat dan lekas nyampai.
Niat tinggal niat. Ternyata suasana kantor sepi. Bos-bos pada meeting di gedung tinggi. Mau kabur, ndak enak juga. Masak markas kosong melompong. Akhirnya, pulang awal pun gak jadi. Tetap aja on time, pulang jam 5. eh, malah kereta nambah-nambahin. Memang, kalau udah niat baik (demi istri bisa buka bareng, termasuk niat baik loh. Catat ya. Dan, mesti diingat nih. Suami romantis emang mesti kayak gini he..he..he..) malah ditunda, ya gini akibatnya. Masuk bekasi (stasiun) udah jam tujuh kurang duapuluh. Secara, isya’ aja jam tujuh teng udah masuk. mana sholatnya mesti ngantri pula.
Terlambat deh, magribnya. Begitu, “assalamu alaikum”, udah jam tujuh kurang sepuluh menit. Palingan, kalau langsung pulang, baru ambil motor, bayar parkir, udah keburu adzan. Ya udah aja. Tungguin isya’ sekalian. Biasanya, terdengar adzan tuch udah di deket rumah. Paling tidak udah tinggal sepertiga atau seperempat perjalanan gitu. tinggal belok dikit, nyari masjid terdekat. Absent dulu sama Allah, “aku datang memenuhi panggilan-Mu ya Allah, semoga pertemuanku dengan istri dan anak-anakku menjadi leih berkah atas berkah-Mu. Amin”. Baru deh, terusin perjalanan pulang. lah, ini. Tujuh lebih seperempat masih di bekasi. Masih empat puluh lima menit lagi nyampe rumah.
Begitu minum teh hangat (buka puasa koq jam 8, makan malam kali ini mah), mau nyuci, istri malah ngajakin ngobrol. Bagaimanapun juga, menjalin komuniasi mesti diutamain ketimbang pekerjaan mah. Menarik juga sih, hanya saja obrolannya tidak pas mau ditulis saat ini. Itu tuch, seputar hijab. Intinya, “Apa bener, seorang wanita yang sudah berjilbab lebar bahkan sampai bercadar harus mengasingkan diri dari pergaulan demi menjaga kesucian?” Tar aja deh, kapan-kapan.
Paginya, mau berangkat selepas subuh, “lah, cucian banyakjuga. Kasihan tuch, istri, kalau mesti nyuci juga. Jagain ‘si botak’ juga. Jagain warung juga. Masih harus masak juga.” Batinku. Udah aja, aku nyuci dulu. Berangkat kantor udah jam enam seperempat. Makanya, telat sampe kantor. naik kereta express jam tujuh.
Begitu duduk, nyalain komputer, tahu-tahu udah setengah sembilan. Cuap-cuap bentar, nyapa teman-teman, trus, pas jam sembilan baru dhuha. “Bukan nyengajaain nih, ngulur waktu. Saya perlu hablum minannas juga”, batinku. Alhamdulillah, 40 menit kemudian kelar. Asal jangan tiap hari aja, ngambil jam kantor buat ngejar sunnah mah.
Itu tadi, sekedar pengantar. Biasa, pamer! Mau bikin iri (para syetan) gitu, kalau dhuha tetep terjaga, he..he..he.. Tapi, Insya allah enggak ya, semoga aku dijauhkan dari segala riya’ dan sum’ah. Istighfar dulu deh, biar lurus gitu niatnya. “astaghfirullahaladziim…”. Selagi diberi kesadaran, tetap dijaga terus istiqomah.
Kembali ke tulisan kang Santri Gundul, yang aku komentari. Terus terang ya, aku tuch doyan banget baca-baca tulisan model beginian. Muatannya ada. Hanya saja, perlu penelaahan khusus untuk bisa memahami. Perlu hati khusus juga untuk ‘mau’ baca sampai tuntas. Berat bahasanya.
Sama itu indah loh. Mau tahu? Simak pengalaman saya berikut. Penekanan ada pada makna mempersamakan diri loh ya. Mesti sama dulu nih orientasinya.
Sore itu, Rangga (3 tahun). Cowok, tentu saja. Mana ada cewek dikasih merek Rangga, korslet ini mah, orang tua ngasih nama perempuan gitu. Susah bener suruh pulang. mandi. Dia main kejar-kejarn dengan empat temennya. Paling kecil padahal tuch anak. Tiga lainnya udah sekolah TK. Herannya, si botak tuch justru jadi jagoan dan pegang komando. “Aku jandi ranger merah. eh enggak, biru aja. Keren. Kamu yang jadi monster. Jahat”, tuch kan, anak kecil aja udah bisa main peran. Kenapa gak pilih jadi Khalid bin Walid aja, atau Shalahuhin Yusuf, atau,… ah, dasar emang zaman udah makin tua.
Pertama, kakaknya, Nimas (10 tahun, cewek. Anak pertama) ngegelandang. Mental tuch, tak mempan. Malah justru marah-marah, pulang tanpa hasil. Yang ada, punggungnya sakit di tebas pake pedang-pedangan. Katanya, “Orang malah disuruh jadi ranger pink sama Rangga. Belum-belum udah di gebuk. Ya sakit lah”, adunya.
Kedua, ibunya teriak-teriak. Kalau saja jam dua pagi, seluruh gang bisa kaget. Untung sore-sore. Hanya saja, istri tidak nyamperin. Cuma ngelongok’in kepala, “Rangga, pulang! udah sore tuch. Mau mandi enggak?”. Sekali, dicuekin. Dua kali, tetap dicuekin. Rangga masih asyik ketawa-ketawa sambil lari sana sini. Panggilan ketiga tambah kenceng, dan, alhamdulillah, di cuekin juga. Walaupun sudah diancem, “Ibu mau ke Arab nih”, katanya. Eh, malah dijawab, “Ya udah, sono. Rangga sama ayah aja”, kata Rangga.
“Ayah, tuch! Lihatin anaknya. Kalau udah main aja. Leher sampai sakit teriak-teriak. Susah banget disuruh pulang. belum mandi, belum makan” kata istri mulai sewot. Secara, dia juga lagi goreng apa tahu kegemaranku di dapur. “Biar ayah aja mbak. Biar ngerti, gimana ngejagain Rangga seharian”.
“Iya tuch. Punya anak gitu amat. Dasar, botak!”. Nimas, ikutan sewot. Tangannya ngelus punggung. Sakit juga kali ya, he..he.he.. konspirasi kaum wanita nih kayaknya. Adu gencar mencerca kaum laki-laki. But, double botak is the best, he..he..he….
Aku taruh buku, geliat sebentar, berdiri, puter leher kanan, “kletuk”, kiri, “kletuk”. Secara, masih pakai sarung. Sedari ashar belum copot baju koko, langsung duduk santai, baca buku. Tak terasa udah sejam. Ternyata enak juga dirumah. Bisa nyaksiin drama berbabak-babak. Ada celoteh anak. Ada celoteh tetangga. Ada celoteh istri. celoteh kambing juga ada koq. Klo anjing, gak ada. Gak ada yang berani miara. Babi, apalagi.
Pandangan aku arahkan ke tembok. Coba nyari, apa yang bisa aku perbuat. Arah mataku jatuh pada kolom meja belajar. Ada benda bundar dengan warna warni. Menarik. “Hmmm, ku tahu yang ku harus perbuat”, kataku sambil senyum.
Bola aku ambil, mainin sembentar. Tendang kearah tembok. “Jder…!”, Istri udah melotot aja. “Bukannya diurusin tuch anak. Suruh mandi udah sore. Malah main bola lagi!”, katanya. Aku copot sarung, lepas baju, cuma pakai kaos dalem doang. Celana kolor. Turun kejalan dan, mulai beraksi.
Gak perlu teriak, begitu aku main bola. Tendang sana, tendang sini, di gojek sendiri, sesekali main sundulan. Tuch bocah, empat-empatnya pada nyamper. Gak pake keluar urat, gak pakai bejam-jam. Sekira lima atau sepuluh menit kemudian, bukan hanya Rangga, tiga temennya udah asyik disekelilingku berebut bola.
Tak buang waktu lagi, “Mandi, makan, tar main bola lagi. Akur?” tanyaku. “Sip! Tos dulu.”
Cuma, imbasnya, aku harus mandi rame-rame juga di jalan. Pakai selang. Niatnya mau mandiin Rangga, lainnya pengin mandi juga. Apes dah. Kalau dikamar mandi, mana muat. Bisa kebaca kejadian selanjutnya. Ganti baju. Makan. Lancar-lancar aja. Sementara bola, “Besok sore, kita adu lagi. Sekarang makan dulu biar kuat. Udah pada pulang sana. Minta makan yang banyak! Jangan mau kalah sama Rangga. Masak, nendangnya loyo gitu”.
Sama itu indah. Sama itu nikmat. Sama itu bisa membuat ‘nyampai’ apa yang ingin kita komunikasikan. Bukan membuat ‘yang lain’ kita paksa untuk sama dengan kita. Tapi, bagaimana kita membuat sama diri kita dengan ‘yang lain’ itu. Samakan unsur. Itu intinya.
“Kalau mau manggil ayam, jangan bilang ‘wek…wek..wek…’ bisa-bisa bebek tuch nyamperin”, intinya gitu deh maksudnya. Jangan disamain anak gue sama ayam yah. Ini, perumpamaan aja. Analogi, bahasa kerennya mah.
Kalau mau dialog sama kambing, jangan mengaum. Bisa gak punya temen. Kabur semua. Begitu pula, kalau mau bersosialisasi sama macan, jangan kebanyakan mengembik, bisa dicaplok dan gak punya perbawa. Kurang greget. Kurang gigi. Gak ada taring. Kurang dianggap.
Dengan bahasa lebih dalam lagi, kalau mau mengenali jiwa, mesti paham dulu bahasa jiwa. Bahasa ruh. Bahasa badan. Bagaimana kalau badan ngantuk, berarti minta tidur. Lapar, minta makan. Capai minta istirahat. Mesti paham bener. Jangan sinyal udang bunyi, “eh, gue penat nih. lemah gitu. udah pengin diistirahatin” kata badan. Tindakan instant biasanya malah minum suplemen.
Contoh paling valid lagi deh. Alquran. Bahasa yang dipakai adalah bahasa nur. Cahaya. Bukan sembarang bahasa arab. Beda, asal tahu saja.
Untuk bisa memahami alquran, mesti “jadi” cahaya dulu. Dalam tanda kutip loh ya. Hanya cahaya yang bisa menyelami cahaya. Malaikat gak perlu berubah, karena emang unsurnya, dasarnya, bahan pembuatnya cahaya. Sementara manusia, asalnya tanah. Cikal bakalnya, dari setetes air mani yang hina. Butuh perjuangan super hebat untuk bisa paham alquran.
Itu pula yang dikatakan ‘tidak menyentuhnya, kecuali orang bersuci’, dalam artian menyucikan hati, menjernihkan jiwa, sering-sering akses ruh ilahiah yang ditiupkan pada jasad ini. Hanya saja, banyak yang ngartiin, “kalau nyentuh quran harus wudhu dulu. bersuci”, kata seorang temen. Boleh aja, silahkan artikan secara seperti itu. Namun, mesti ditinjau juga makna tersirat dan tersurat dibalik kalimat itu.
Bagaimana caranya bersuci. Waduh, butuh pembahasan panjang lagi nih. kembali ke konsep ‘samakan bahasa’ tadi. Sholat malam, tahajud, taubat, dzikir, puasa, dan segala macam makanan jiwa lainnya. Kesukaan ruh. Intinya, mesti sama bahasa dulu antara badani (jasadi), jiwa, ruh. Karena, ketiga komponen (ada juga yang bilang empat (ditambah sukma), silahkan saja) musti punya “key word” alias “kata kunci” alias “bahasa kunci” yang bisa meng-konek satu sama lain. Card interface, boleh lah dikatakan demikian.
Punya beda pandangan? Silahkan.
Jadi, jangan berharap bisa ndeketin macan (apalagi sampai berdialog dan memahami) melalui teriak, “embeeeek, embeeek…” he..he..he..he.. jaka sembung bawa golok sambil nenteng gitar, kagak nyambung tapi gak usah bilang goblok, mending nyanyi sambil nge-jrenk.
Satu pertanyaan buat direnungkan adalah, “untuk berdialog dengan kucing, apakah perlu menjadi kucing, atau hanya dibutuhkan paham cara berdialog (bahasa) kucing?” Pertanyaan ini adalah, untuk menyelami alquran, bahasa nur, apakah perlu jadi nur, ataukah memahami bahasa nur?”. Bagi saya, spirit islam itu, cikal bakalnya dari alquran dulu.
tuch kan, virus itu jadi gemuk begitu nyampe ke aku. tulisan jadi panjang gini. mau hobby nulis juga? makanya, komentar!
makanya, buat sesama bloger, jangan hanya berkunjung ke 'rumah' yang udah dikenal aja. sempatkan untuk blog walking dan, berusahalah untuk menorehkan jejak disana. walhasil, pahala akan nyiprat kepada anda, karena turut membangkitkan semangat menulis. he..he.he... gitu kan?
komentarku begini,
kalau mau ndeketin kucing, ya bicaralah pakai bahasa kucing. macan, manuk, pitik, enthoq. apamaneh? bebek, wedhus, semana uga.
jadi, kalau mau ‘ndeketin’ (maksudnya biar kenal gitu) sama badan, jiwa, maupun ruh. ya, ‘mesti alias kudu bin harus’ ngerti dulu bahasa masing-masing.
bahasa badan, kalau gak mau mules, ya jangan makan sambel secobek-cobeknya. kalau gak mau mriang, jangan makan nasi ditelen segarpunya.
bahasa jiwa, gitu juga. bahasa ruh, apalagi.
mana ada orang bisa ndeketin ayam tapi, bahasa disuarakan pus..pus…pus… meong…meong…. lah, pitik’e malah kabur. he..he.he… manteb kang postingane.
secara, aku juga doyan sama blognya 'ngawula gusti' ini, terus berkarya ya mas. jangan kecewakan aku (pengunjung)dengan "lambat" posting. tulisan sampeyan huebat loh. dan, ini sambutan dari komentar ku itu.
***~~~~~~~~~~~~~~~~~~***
Kakang Salwangga,
Hanya yang KOSONG bisa MANUNGGAL dengan sang Maha KOSONG.
Untuk bisa manunggal dengan sang Sumber URIP yah harus dengan URIP kita.
Gonoh yah Kang…???
Sampeyan jiaaaaaaaannn….ces pleng tenan Kang.
Suwun Kang
lantas, dari komentar ini, karena kurang pas bener. aku coba ber-imaginasi ria. tuch kan, berbekal dari sebuah komentar bersambut, malah muncul ide baru untuk nulis.
selengkapnya, gini nih.
Aku tergelitik untuk menulis tuntas dan gamblang mengenai komentar ini. Dan, saat ini juga (jumat-01/05/09) pagi selepas dhuha 6 rokaat, setelah diawali sholat taubat 2 rokaat, aku sempetin bener-bener nih.
Semalem. Jam delapan malam ‘tenggo’ baru nyampe rumah. Kereta luar biasa tidak mau diajak kompromi. Niat sih, mau pulang cepet. Mau nemenin isteri buka puasa. Masalahnya, ini adalah kamis perdana istri bilang, “mumpung mbak Nimas libur, ada yang bantuin jaga rangga, ibu mau ikutan puasa bareng ayah”, katanya.
Subhanallah, seorang suami hanya perlu memberikan keteladanan, tak perlulah nasehat ‘dakik dakik’ dengan hujjah muluk muluk. Cukup tengadah tangan dikeheningan penghujung malam. “Duhai Dzat yang maha lembut, lembutkan hatiku, lembutkan hati istriku, lembutkan hati anak-anakku”, maka, ketika dosa-dosamu sudah ditolerir, munajad itu menjadi demikian kuat dan lekas nyampai.
Niat tinggal niat. Ternyata suasana kantor sepi. Bos-bos pada meeting di gedung tinggi. Mau kabur, ndak enak juga. Masak markas kosong melompong. Akhirnya, pulang awal pun gak jadi. Tetap aja on time, pulang jam 5. eh, malah kereta nambah-nambahin. Memang, kalau udah niat baik (demi istri bisa buka bareng, termasuk niat baik loh. Catat ya. Dan, mesti diingat nih. Suami romantis emang mesti kayak gini he..he..he..) malah ditunda, ya gini akibatnya. Masuk bekasi (stasiun) udah jam tujuh kurang duapuluh. Secara, isya’ aja jam tujuh teng udah masuk. mana sholatnya mesti ngantri pula.
Terlambat deh, magribnya. Begitu, “assalamu alaikum”, udah jam tujuh kurang sepuluh menit. Palingan, kalau langsung pulang, baru ambil motor, bayar parkir, udah keburu adzan. Ya udah aja. Tungguin isya’ sekalian. Biasanya, terdengar adzan tuch udah di deket rumah. Paling tidak udah tinggal sepertiga atau seperempat perjalanan gitu. tinggal belok dikit, nyari masjid terdekat. Absent dulu sama Allah, “aku datang memenuhi panggilan-Mu ya Allah, semoga pertemuanku dengan istri dan anak-anakku menjadi leih berkah atas berkah-Mu. Amin”. Baru deh, terusin perjalanan pulang. lah, ini. Tujuh lebih seperempat masih di bekasi. Masih empat puluh lima menit lagi nyampe rumah.
Begitu minum teh hangat (buka puasa koq jam 8, makan malam kali ini mah), mau nyuci, istri malah ngajakin ngobrol. Bagaimanapun juga, menjalin komuniasi mesti diutamain ketimbang pekerjaan mah. Menarik juga sih, hanya saja obrolannya tidak pas mau ditulis saat ini. Itu tuch, seputar hijab. Intinya, “Apa bener, seorang wanita yang sudah berjilbab lebar bahkan sampai bercadar harus mengasingkan diri dari pergaulan demi menjaga kesucian?” Tar aja deh, kapan-kapan.
Paginya, mau berangkat selepas subuh, “lah, cucian banyakjuga. Kasihan tuch, istri, kalau mesti nyuci juga. Jagain ‘si botak’ juga. Jagain warung juga. Masih harus masak juga.” Batinku. Udah aja, aku nyuci dulu. Berangkat kantor udah jam enam seperempat. Makanya, telat sampe kantor. naik kereta express jam tujuh.
Begitu duduk, nyalain komputer, tahu-tahu udah setengah sembilan. Cuap-cuap bentar, nyapa teman-teman, trus, pas jam sembilan baru dhuha. “Bukan nyengajaain nih, ngulur waktu. Saya perlu hablum minannas juga”, batinku. Alhamdulillah, 40 menit kemudian kelar. Asal jangan tiap hari aja, ngambil jam kantor buat ngejar sunnah mah.
Itu tadi, sekedar pengantar. Biasa, pamer! Mau bikin iri (para syetan) gitu, kalau dhuha tetep terjaga, he..he..he.. Tapi, Insya allah enggak ya, semoga aku dijauhkan dari segala riya’ dan sum’ah. Istighfar dulu deh, biar lurus gitu niatnya. “astaghfirullahaladziim…”. Selagi diberi kesadaran, tetap dijaga terus istiqomah.
Kembali ke tulisan kang Santri Gundul, yang aku komentari. Terus terang ya, aku tuch doyan banget baca-baca tulisan model beginian. Muatannya ada. Hanya saja, perlu penelaahan khusus untuk bisa memahami. Perlu hati khusus juga untuk ‘mau’ baca sampai tuntas. Berat bahasanya.
Sama itu indah loh. Mau tahu? Simak pengalaman saya berikut. Penekanan ada pada makna mempersamakan diri loh ya. Mesti sama dulu nih orientasinya.
Sore itu, Rangga (3 tahun). Cowok, tentu saja. Mana ada cewek dikasih merek Rangga, korslet ini mah, orang tua ngasih nama perempuan gitu. Susah bener suruh pulang. mandi. Dia main kejar-kejarn dengan empat temennya. Paling kecil padahal tuch anak. Tiga lainnya udah sekolah TK. Herannya, si botak tuch justru jadi jagoan dan pegang komando. “Aku jandi ranger merah. eh enggak, biru aja. Keren. Kamu yang jadi monster. Jahat”, tuch kan, anak kecil aja udah bisa main peran. Kenapa gak pilih jadi Khalid bin Walid aja, atau Shalahuhin Yusuf, atau,… ah, dasar emang zaman udah makin tua.
Pertama, kakaknya, Nimas (10 tahun, cewek. Anak pertama) ngegelandang. Mental tuch, tak mempan. Malah justru marah-marah, pulang tanpa hasil. Yang ada, punggungnya sakit di tebas pake pedang-pedangan. Katanya, “Orang malah disuruh jadi ranger pink sama Rangga. Belum-belum udah di gebuk. Ya sakit lah”, adunya.
Kedua, ibunya teriak-teriak. Kalau saja jam dua pagi, seluruh gang bisa kaget. Untung sore-sore. Hanya saja, istri tidak nyamperin. Cuma ngelongok’in kepala, “Rangga, pulang! udah sore tuch. Mau mandi enggak?”. Sekali, dicuekin. Dua kali, tetap dicuekin. Rangga masih asyik ketawa-ketawa sambil lari sana sini. Panggilan ketiga tambah kenceng, dan, alhamdulillah, di cuekin juga. Walaupun sudah diancem, “Ibu mau ke Arab nih”, katanya. Eh, malah dijawab, “Ya udah, sono. Rangga sama ayah aja”, kata Rangga.
“Ayah, tuch! Lihatin anaknya. Kalau udah main aja. Leher sampai sakit teriak-teriak. Susah banget disuruh pulang. belum mandi, belum makan” kata istri mulai sewot. Secara, dia juga lagi goreng apa tahu kegemaranku di dapur. “Biar ayah aja mbak. Biar ngerti, gimana ngejagain Rangga seharian”.
“Iya tuch. Punya anak gitu amat. Dasar, botak!”. Nimas, ikutan sewot. Tangannya ngelus punggung. Sakit juga kali ya, he..he.he.. konspirasi kaum wanita nih kayaknya. Adu gencar mencerca kaum laki-laki. But, double botak is the best, he..he..he….
Aku taruh buku, geliat sebentar, berdiri, puter leher kanan, “kletuk”, kiri, “kletuk”. Secara, masih pakai sarung. Sedari ashar belum copot baju koko, langsung duduk santai, baca buku. Tak terasa udah sejam. Ternyata enak juga dirumah. Bisa nyaksiin drama berbabak-babak. Ada celoteh anak. Ada celoteh tetangga. Ada celoteh istri. celoteh kambing juga ada koq. Klo anjing, gak ada. Gak ada yang berani miara. Babi, apalagi.
Pandangan aku arahkan ke tembok. Coba nyari, apa yang bisa aku perbuat. Arah mataku jatuh pada kolom meja belajar. Ada benda bundar dengan warna warni. Menarik. “Hmmm, ku tahu yang ku harus perbuat”, kataku sambil senyum.
Bola aku ambil, mainin sembentar. Tendang kearah tembok. “Jder…!”, Istri udah melotot aja. “Bukannya diurusin tuch anak. Suruh mandi udah sore. Malah main bola lagi!”, katanya. Aku copot sarung, lepas baju, cuma pakai kaos dalem doang. Celana kolor. Turun kejalan dan, mulai beraksi.
Gak perlu teriak, begitu aku main bola. Tendang sana, tendang sini, di gojek sendiri, sesekali main sundulan. Tuch bocah, empat-empatnya pada nyamper. Gak pake keluar urat, gak pakai bejam-jam. Sekira lima atau sepuluh menit kemudian, bukan hanya Rangga, tiga temennya udah asyik disekelilingku berebut bola.
Tak buang waktu lagi, “Mandi, makan, tar main bola lagi. Akur?” tanyaku. “Sip! Tos dulu.”
Cuma, imbasnya, aku harus mandi rame-rame juga di jalan. Pakai selang. Niatnya mau mandiin Rangga, lainnya pengin mandi juga. Apes dah. Kalau dikamar mandi, mana muat. Bisa kebaca kejadian selanjutnya. Ganti baju. Makan. Lancar-lancar aja. Sementara bola, “Besok sore, kita adu lagi. Sekarang makan dulu biar kuat. Udah pada pulang sana. Minta makan yang banyak! Jangan mau kalah sama Rangga. Masak, nendangnya loyo gitu”.
Sama itu indah. Sama itu nikmat. Sama itu bisa membuat ‘nyampai’ apa yang ingin kita komunikasikan. Bukan membuat ‘yang lain’ kita paksa untuk sama dengan kita. Tapi, bagaimana kita membuat sama diri kita dengan ‘yang lain’ itu. Samakan unsur. Itu intinya.
“Kalau mau manggil ayam, jangan bilang ‘wek…wek..wek…’ bisa-bisa bebek tuch nyamperin”, intinya gitu deh maksudnya. Jangan disamain anak gue sama ayam yah. Ini, perumpamaan aja. Analogi, bahasa kerennya mah.
Kalau mau dialog sama kambing, jangan mengaum. Bisa gak punya temen. Kabur semua. Begitu pula, kalau mau bersosialisasi sama macan, jangan kebanyakan mengembik, bisa dicaplok dan gak punya perbawa. Kurang greget. Kurang gigi. Gak ada taring. Kurang dianggap.
Dengan bahasa lebih dalam lagi, kalau mau mengenali jiwa, mesti paham dulu bahasa jiwa. Bahasa ruh. Bahasa badan. Bagaimana kalau badan ngantuk, berarti minta tidur. Lapar, minta makan. Capai minta istirahat. Mesti paham bener. Jangan sinyal udang bunyi, “eh, gue penat nih. lemah gitu. udah pengin diistirahatin” kata badan. Tindakan instant biasanya malah minum suplemen.
Contoh paling valid lagi deh. Alquran. Bahasa yang dipakai adalah bahasa nur. Cahaya. Bukan sembarang bahasa arab. Beda, asal tahu saja.
Untuk bisa memahami alquran, mesti “jadi” cahaya dulu. Dalam tanda kutip loh ya. Hanya cahaya yang bisa menyelami cahaya. Malaikat gak perlu berubah, karena emang unsurnya, dasarnya, bahan pembuatnya cahaya. Sementara manusia, asalnya tanah. Cikal bakalnya, dari setetes air mani yang hina. Butuh perjuangan super hebat untuk bisa paham alquran.
Itu pula yang dikatakan ‘tidak menyentuhnya, kecuali orang bersuci’, dalam artian menyucikan hati, menjernihkan jiwa, sering-sering akses ruh ilahiah yang ditiupkan pada jasad ini. Hanya saja, banyak yang ngartiin, “kalau nyentuh quran harus wudhu dulu. bersuci”, kata seorang temen. Boleh aja, silahkan artikan secara seperti itu. Namun, mesti ditinjau juga makna tersirat dan tersurat dibalik kalimat itu.
Bagaimana caranya bersuci. Waduh, butuh pembahasan panjang lagi nih. kembali ke konsep ‘samakan bahasa’ tadi. Sholat malam, tahajud, taubat, dzikir, puasa, dan segala macam makanan jiwa lainnya. Kesukaan ruh. Intinya, mesti sama bahasa dulu antara badani (jasadi), jiwa, ruh. Karena, ketiga komponen (ada juga yang bilang empat (ditambah sukma), silahkan saja) musti punya “key word” alias “kata kunci” alias “bahasa kunci” yang bisa meng-konek satu sama lain. Card interface, boleh lah dikatakan demikian.
Punya beda pandangan? Silahkan.
Jadi, jangan berharap bisa ndeketin macan (apalagi sampai berdialog dan memahami) melalui teriak, “embeeeek, embeeek…” he..he..he..he.. jaka sembung bawa golok sambil nenteng gitar, kagak nyambung tapi gak usah bilang goblok, mending nyanyi sambil nge-jrenk.
Satu pertanyaan buat direnungkan adalah, “untuk berdialog dengan kucing, apakah perlu menjadi kucing, atau hanya dibutuhkan paham cara berdialog (bahasa) kucing?” Pertanyaan ini adalah, untuk menyelami alquran, bahasa nur, apakah perlu jadi nur, ataukah memahami bahasa nur?”. Bagi saya, spirit islam itu, cikal bakalnya dari alquran dulu.
tuch kan, virus itu jadi gemuk begitu nyampe ke aku. tulisan jadi panjang gini. mau hobby nulis juga? makanya, komentar!
Label:
Ndleming,
oyot gatel,
Uneg-Uneg
Selasa, 14 April 2009
sedekah melunasi hutang(2)
tulisan ini, sekedar nulis bebas dari apa yang aku dengar dan pengin tuliskan. tanpa konsep. mencoba mengingat. lugu. apa adanya. jadi kalau tanpa alur apalagi tanpa makna, ya maklumi aja. tapi, pasti ada lah. sesederhana apapun tulisan itu, bila dibaca dengan hati tentulah menyimpulkan makna tersendiri.
yach, itung-itung nglancarin tarian jemari di atas tut's lah. he..he..he..
Udah kelar ni laporan aku bikin. Terusin lagi nulisnya. Sampai dimana tadi. Oh iya, tentang jawaban YM soal pertanyaan salah satu jamaah. Wah, mesti baca dulu nih tulisan yang tadi. Ya udah. Baca aja dulu. Bentar ya. Biar nyambung gitu.
Semalem, nyampe rumah udah jam setengah sembilan. Istri udah minta buku lagi, “yah, cari buku sholat khusyuk” katanya. Wah, seneng juga nih, virus pengin mbenerin sholat udah menjangkiti isteri juga.
Pulang kantor, langsung mampir ke toko buku Gunung Agung. Borobudur , bekasi. Penginnya sih ke Gramedia. Mesti ke Metropolitan Mall. Jauh, muternya. Sekalian sholat isya’ disono. Kan ada tuch mushola dipinggir lapangan alun-alun. Gak gedhe-gedhe amat sih, tapi, cukup bersih. Pas, nyampe sono belum adzan. Ya udah, tunggu bentaran, sekira semenitan lah. Jamaah dah. Pengin aja, gimana rasanya merhatiin waktu-waktu sholat gitu.
Begitu dapet buku yang dipesen, eh, mata jelalatan. Gatel aja kalau udah ke toko buku. Kesamber juga akhirnya, ringkasan Ihya Ulumudin-nya Imam Ghazali. Kalau mesti baca edisi aslinya kan berjilid-jilid tuch. Ada juga ringkasannya. Ya udah. Beli aja. Itung-itung sebagai pelengkap bacaan. Nyampe kasir, seratus empat puluh ribu mesti keluar juga. Waduh, payah nih. kartu kredit di gesek melulu.
Pengin sih, bebas gitu. Gak usah pake credit card segala. Ada yang bilang haram. Tapi, “ah… pemahaman belum nyampe. Masih pengin make.” Kataku dalam hati. “ya udah, biarin aja begini. Nikmatin aja yang ada. Masak segalanya mesti berubah bersamaan. Mesti bertahab” hiburku pada diri sendiri. Jujur sih, udah mulai risau juga soal credit card ini, tapi, mungkin lain kali aja aku tulis. Lebih detail dech. Buat pembelajaran sendiri juga.
Kembali ke pengajian “nikmatnya sedekah” di TPI setiap selasa dan rabu pagi jam 04:30 s/d 05:30. kali ini nerusin tulisan tadi, bahasan hari selasa (14/04/09). Temanya apa, aku juga gak tahu persis. Hanya sekilas pandang aja, sambil nyiapin tas buat berangkat kantor. gak bisa ngikutin secara utuh. Mesti berangkat pagi-pagi.
“Setiap perjalanan, pasti nyampe” kata YM kemudian. “Hanya saja, banyak orang yang menyerah giliran perjalaan itu justru tinggal sejengkal”. Padahal, udah mah ditempuh awal yang melelahkan. Udah panjang jalan diawali. Giliran udah mau finish, semangat kendor. Abis baterai.
“Dulu, ketika masih tahun 80-an. Masih kecil sih” kata YM lagi, “saya pengin banget mainan. Harganya empat belas ribu. Pengin beli. Tapi, gak punya duit. Pas minta sama nenek, dijawab, mesti nabung dulu.
Akhirnya nabung juga, sehari cepek. Cepek. Cepek. Eh, ngumpul seminggu, ketemu nenek. Kan baru tujuh ratus tuch. Diambil tuch tabungan. Waktu itu saya nggak nanya. Tapi, sama nenek udah langsung dibilang kalau duit itu dibeliin bawang sama tomat. Buat ngasih makan orang habis sembahyang jumat.
Ditanya lagi sama nenek, “masih pengin mainan itu?”. Ya masih, kata saya. Disuruh nabung lagi. Mulai dah tuch. Cepek. Cepek. Udah diumpet umpetin. Celengan juga dibagusin, biar sayang gitu kalau mau diambil mah. Eh, seminggu kemudian, ngumpul lagi tujuh ratus. Ketahuan juga. Dipecah lagi. Diambil lagi. Buat beli bawang tomat lagi.
Akhirnya, jadi lupa. Saat ditanya masih mau mainan apa enggak. Tetap aja, masih mau. Tapi, kalau mau nabung lagi, entar-entarnya diambil lagi. Ya udah dah. Lemes aja bawaannya.
Beberapa hari kemudian, tante yang tinggalnya jauh berkunjugn. Saya, bersama dua sepupu. Jadi, kami bertiga. Dibeliin semua. Tiga-tiganya. Mainan itu. Padahal mah, udah lupa. Udah gak pengin lagi. Pengin sih iya, maksudnya udah lemes gitu. Udah nyerah. Udah relain dah pokoknya.
Kalau yang satu sih, emang dia sedang hajatan. Di sunat. Pantes aja, dikasih hadiah. Kalau saya sama yang satunya lagi. Tidak ada hajatan apa-apa, ikut dibeliin juga.
Nenek agnkat bicara, “ya itu, fadhilahnya sedekah” katanya. Coba kalau ngumpulin cepek terus tiap hari. Buat nyampe 14000 mesti nunggu 140 hari. Udah keburu naik keubun ubun tuch. Makanya, cepetin dengan sedekah.
Sekarang-sekarang aja, udah gedhe gini. Setelah mengalami banyak perjalanan kehidupan. Baru nyadar. Ternyata, tiga orang emang punya keistimewaan masing-masing. Satu, jagoan subuh. Dari kecil tuch boleh dibilang penjaga gawangnya sholat subuh. Orang-orang belum datang, udah stand by duluan di masjid. Manggilin orang buat pada jamaah subuh. Pake apa. Ya, adzan.
Trus, kedua, jagoan sedekah. Klo ketiganya, emang yang punya hajat. Di sunat. Ternyata sedekah tidak hanya membawa fadhilah pada diri sendiri saja, tapi juga pada orang-orang disekitar kita.
Itu hanya analogi sederhana mengenai perjalanan sedekah. Diawal telah disinggung bahwa, setiap perjalanan akan sampai kalau sudah waktunya. Sayang saja, banyak orang yang tidak tahu. Gampang nyerah. Gampang memvonis.
Kalau mau pake itungan mah. Bisa aja. Tadi, saya nabung dapet tujuh ratus. Disedekahin buat bawang sama tomat. Dikali sepuluh udah berapa. Tujuh ribu. Untuk nyampe ke empat belas ribu berarti masih kurang tujuh ribu lagi. Minggu kedua, dapet tujuh ratus lagi. Pas dah. Kalau tuch duit gak disedekahin, bisa bener mesti ngitung 140 hari lagi baru dapet mainan.
Ini, dua minggu kebeli. Langsung tiga lagi. Ini sudah diatur. Bukan kebetulan. Sedekah emang begitu. suka tiba-tiba aja balasannya
Makanya, kalau ente bilang “udah sedekah, koq utang masih banyak aja”. Mesti banyak dilihat lagi. Dosanya banyak enggak. Sholatnya bener enggak. Dhuha. Tahajud. Qobliyah. Ba’diyah. Penting, wajibnya dulu mesti dibenerin. Kebanyakan orang, hobynya gali lubang tutup empang. Bukannya ketutup, malah makin menganga. Coba aja, lewat jalan sedekah. Janji Allah itu pasti. Masak, Allah mau ingkar sih. syaratnya, mesti ngerti dulu ilmunya.
“Kalau soal hutang sih”, lanjut YM, “Sedekahin aja. Insya Allah dah”
Sekira tahun 91-an, YM menjadi tukang es di terminal kalideres (diawal tulisan udah disinggung ya). Ketika itu punya utang 80 juta-an. Padahal duit dikantong paling-paling sepuluh ribu.
Seminggu lagi, itu hutang bakalan ditagih. Kalau tidak ada duit juga, bakalan dipenjara. Ancam orang itu. Jalan satu-satunya, pasrah. Tapi, mesti ikhtiar dulu. Datangi Allah, lewat sedekah.
YM lantas pergi ke sekolah terdekat, nanya sama guru, “pak, tolong kasih saya siswa paling pintar di sini. Saya mau bayarin buat dia”. Ternyata, uang bayarannya 27 ribu. Pas bener sama yang dikantong. Sukses dah, pulang gak bawa duit.
Makin dekat hari penagihan. Belum juga ada tanda-tanda. “Kayaknya sedekahnya masih kurang nih”, pikir YM. Oke dah kalau gitu. “Tambahin satu anak lagi!” ngomongnya sama diri sendiri.
Datang lagi kesekolah. “Pak, tolong kasih saya satu anak lagi. Yang yatim. Yang paling miskin. Tak usah pinter-piner amat ga pa pa dah”, kata YM.
Dapet anak cewek. Sampai sini, YM kasih interupsi. “Ma’af ma (istri YM), jadi kebuka juga nih kisah lama”, kata YM. Dan, ternyata anak tadi, memang akhirnya menjadi istri YM. Belum juga kelar kelas tiga SMP, udah diserahin sama orang tuanya.
Trus, gimana soal hutang yang 80 juta tadi? “Ya tetep! Gak tahu kelanjutannya” klo ini kata aku (yang nulis ini) loh ya. Penginnya sih ngikutin terus acara nikmatnya sedekah itu. Tapi, apa mau dikata. Setiap keinginan manusia hanya berpusat pada satu kehendak tuhan saja. Silahkan ber-asa setinggi mungkin. Hanya, harus ingat juga, ada tangan-tangan diluar kita yang campur tangan.
Tuch kan, kalau udah mepet gini, suka ngelantur lagi tulisannya. Biarin aja dah. Yang penting sambil ngelancarin jari juga. Biar apa yang ada dikepala lancar mengalir ke tangan. Jadi ketikan. Jadi tulisan. Namanya juga latihan nulis. Ini,udah jam tiga lewat lima, bentar lagi adzan ashar. Jadwalnya lewat empat belas. Masih sepuluh menit lagi buat jalan ke mesjid. Yuk!
yach, itung-itung nglancarin tarian jemari di atas tut's lah. he..he..he..
Udah kelar ni laporan aku bikin. Terusin lagi nulisnya. Sampai dimana tadi. Oh iya, tentang jawaban YM soal pertanyaan salah satu jamaah. Wah, mesti baca dulu nih tulisan yang tadi. Ya udah. Baca aja dulu. Bentar ya. Biar nyambung gitu.
Semalem, nyampe rumah udah jam setengah sembilan. Istri udah minta buku lagi, “yah, cari buku sholat khusyuk” katanya. Wah, seneng juga nih, virus pengin mbenerin sholat udah menjangkiti isteri juga.
Pulang kantor, langsung mampir ke toko buku Gunung Agung. Borobudur , bekasi. Penginnya sih ke Gramedia. Mesti ke Metropolitan Mall. Jauh, muternya. Sekalian sholat isya’ disono. Kan ada tuch mushola dipinggir lapangan alun-alun. Gak gedhe-gedhe amat sih, tapi, cukup bersih. Pas, nyampe sono belum adzan. Ya udah, tunggu bentaran, sekira semenitan lah. Jamaah dah. Pengin aja, gimana rasanya merhatiin waktu-waktu sholat gitu.
Begitu dapet buku yang dipesen, eh, mata jelalatan. Gatel aja kalau udah ke toko buku. Kesamber juga akhirnya, ringkasan Ihya Ulumudin-nya Imam Ghazali. Kalau mesti baca edisi aslinya kan berjilid-jilid tuch. Ada juga ringkasannya. Ya udah. Beli aja. Itung-itung sebagai pelengkap bacaan. Nyampe kasir, seratus empat puluh ribu mesti keluar juga. Waduh, payah nih. kartu kredit di gesek melulu.
Pengin sih, bebas gitu. Gak usah pake credit card segala. Ada yang bilang haram. Tapi, “ah… pemahaman belum nyampe. Masih pengin make.” Kataku dalam hati. “ya udah, biarin aja begini. Nikmatin aja yang ada. Masak segalanya mesti berubah bersamaan. Mesti bertahab” hiburku pada diri sendiri. Jujur sih, udah mulai risau juga soal credit card ini, tapi, mungkin lain kali aja aku tulis. Lebih detail dech. Buat pembelajaran sendiri juga.
Kembali ke pengajian “nikmatnya sedekah” di TPI setiap selasa dan rabu pagi jam 04:30 s/d 05:30. kali ini nerusin tulisan tadi, bahasan hari selasa (14/04/09). Temanya apa, aku juga gak tahu persis. Hanya sekilas pandang aja, sambil nyiapin tas buat berangkat kantor. gak bisa ngikutin secara utuh. Mesti berangkat pagi-pagi.
“Setiap perjalanan, pasti nyampe” kata YM kemudian. “Hanya saja, banyak orang yang menyerah giliran perjalaan itu justru tinggal sejengkal”. Padahal, udah mah ditempuh awal yang melelahkan. Udah panjang jalan diawali. Giliran udah mau finish, semangat kendor. Abis baterai.
“Dulu, ketika masih tahun 80-an. Masih kecil sih” kata YM lagi, “saya pengin banget mainan. Harganya empat belas ribu. Pengin beli. Tapi, gak punya duit. Pas minta sama nenek, dijawab, mesti nabung dulu.
Akhirnya nabung juga, sehari cepek. Cepek. Cepek. Eh, ngumpul seminggu, ketemu nenek. Kan baru tujuh ratus tuch. Diambil tuch tabungan. Waktu itu saya nggak nanya. Tapi, sama nenek udah langsung dibilang kalau duit itu dibeliin bawang sama tomat. Buat ngasih makan orang habis sembahyang jumat.
Ditanya lagi sama nenek, “masih pengin mainan itu?”. Ya masih, kata saya. Disuruh nabung lagi. Mulai dah tuch. Cepek. Cepek. Udah diumpet umpetin. Celengan juga dibagusin, biar sayang gitu kalau mau diambil mah. Eh, seminggu kemudian, ngumpul lagi tujuh ratus. Ketahuan juga. Dipecah lagi. Diambil lagi. Buat beli bawang tomat lagi.
Akhirnya, jadi lupa. Saat ditanya masih mau mainan apa enggak. Tetap aja, masih mau. Tapi, kalau mau nabung lagi, entar-entarnya diambil lagi. Ya udah dah. Lemes aja bawaannya.
Beberapa hari kemudian, tante yang tinggalnya jauh berkunjugn. Saya, bersama dua sepupu. Jadi, kami bertiga. Dibeliin semua. Tiga-tiganya. Mainan itu. Padahal mah, udah lupa. Udah gak pengin lagi. Pengin sih iya, maksudnya udah lemes gitu. Udah nyerah. Udah relain dah pokoknya.
Kalau yang satu sih, emang dia sedang hajatan. Di sunat. Pantes aja, dikasih hadiah. Kalau saya sama yang satunya lagi. Tidak ada hajatan apa-apa, ikut dibeliin juga.
Nenek agnkat bicara, “ya itu, fadhilahnya sedekah” katanya. Coba kalau ngumpulin cepek terus tiap hari. Buat nyampe 14000 mesti nunggu 140 hari. Udah keburu naik keubun ubun tuch. Makanya, cepetin dengan sedekah.
Sekarang-sekarang aja, udah gedhe gini. Setelah mengalami banyak perjalanan kehidupan. Baru nyadar. Ternyata, tiga orang emang punya keistimewaan masing-masing. Satu, jagoan subuh. Dari kecil tuch boleh dibilang penjaga gawangnya sholat subuh. Orang-orang belum datang, udah stand by duluan di masjid. Manggilin orang buat pada jamaah subuh. Pake apa. Ya, adzan.
Trus, kedua, jagoan sedekah. Klo ketiganya, emang yang punya hajat. Di sunat. Ternyata sedekah tidak hanya membawa fadhilah pada diri sendiri saja, tapi juga pada orang-orang disekitar kita.
Itu hanya analogi sederhana mengenai perjalanan sedekah. Diawal telah disinggung bahwa, setiap perjalanan akan sampai kalau sudah waktunya. Sayang saja, banyak orang yang tidak tahu. Gampang nyerah. Gampang memvonis.
Kalau mau pake itungan mah. Bisa aja. Tadi, saya nabung dapet tujuh ratus. Disedekahin buat bawang sama tomat. Dikali sepuluh udah berapa. Tujuh ribu. Untuk nyampe ke empat belas ribu berarti masih kurang tujuh ribu lagi. Minggu kedua, dapet tujuh ratus lagi. Pas dah. Kalau tuch duit gak disedekahin, bisa bener mesti ngitung 140 hari lagi baru dapet mainan.
Ini, dua minggu kebeli. Langsung tiga lagi. Ini sudah diatur. Bukan kebetulan. Sedekah emang begitu. suka tiba-tiba aja balasannya
Makanya, kalau ente bilang “udah sedekah, koq utang masih banyak aja”. Mesti banyak dilihat lagi. Dosanya banyak enggak. Sholatnya bener enggak. Dhuha. Tahajud. Qobliyah. Ba’diyah. Penting, wajibnya dulu mesti dibenerin. Kebanyakan orang, hobynya gali lubang tutup empang. Bukannya ketutup, malah makin menganga. Coba aja, lewat jalan sedekah. Janji Allah itu pasti. Masak, Allah mau ingkar sih. syaratnya, mesti ngerti dulu ilmunya.
“Kalau soal hutang sih”, lanjut YM, “Sedekahin aja. Insya Allah dah”
Sekira tahun 91-an, YM menjadi tukang es di terminal kalideres (diawal tulisan udah disinggung ya). Ketika itu punya utang 80 juta-an. Padahal duit dikantong paling-paling sepuluh ribu.
Seminggu lagi, itu hutang bakalan ditagih. Kalau tidak ada duit juga, bakalan dipenjara. Ancam orang itu. Jalan satu-satunya, pasrah. Tapi, mesti ikhtiar dulu. Datangi Allah, lewat sedekah.
YM lantas pergi ke sekolah terdekat, nanya sama guru, “pak, tolong kasih saya siswa paling pintar di sini. Saya mau bayarin buat dia”. Ternyata, uang bayarannya 27 ribu. Pas bener sama yang dikantong. Sukses dah, pulang gak bawa duit.
Makin dekat hari penagihan. Belum juga ada tanda-tanda. “Kayaknya sedekahnya masih kurang nih”, pikir YM. Oke dah kalau gitu. “Tambahin satu anak lagi!” ngomongnya sama diri sendiri.
Datang lagi kesekolah. “Pak, tolong kasih saya satu anak lagi. Yang yatim. Yang paling miskin. Tak usah pinter-piner amat ga pa pa dah”, kata YM.
Dapet anak cewek. Sampai sini, YM kasih interupsi. “Ma’af ma (istri YM), jadi kebuka juga nih kisah lama”, kata YM. Dan, ternyata anak tadi, memang akhirnya menjadi istri YM. Belum juga kelar kelas tiga SMP, udah diserahin sama orang tuanya.
Trus, gimana soal hutang yang 80 juta tadi? “Ya tetep! Gak tahu kelanjutannya” klo ini kata aku (yang nulis ini) loh ya. Penginnya sih ngikutin terus acara nikmatnya sedekah itu. Tapi, apa mau dikata. Setiap keinginan manusia hanya berpusat pada satu kehendak tuhan saja. Silahkan ber-asa setinggi mungkin. Hanya, harus ingat juga, ada tangan-tangan diluar kita yang campur tangan.
Tuch kan, kalau udah mepet gini, suka ngelantur lagi tulisannya. Biarin aja dah. Yang penting sambil ngelancarin jari juga. Biar apa yang ada dikepala lancar mengalir ke tangan. Jadi ketikan. Jadi tulisan. Namanya juga latihan nulis. Ini,udah jam tiga lewat lima, bentar lagi adzan ashar. Jadwalnya lewat empat belas. Masih sepuluh menit lagi buat jalan ke mesjid. Yuk!
sedekah melunasi hutang(1)
Gali lubang tutup empang, hidup sekali kelilit utang.
“Dari dulu saya sudah rajin sedekah. Meskipun kecil-kecilan. Tapi, rutin. Hutang juga ada. Lebih gedhe malah. Saya bingung tadz. Kenapa hutang saya itu tidak lunas-lunas juga. Malah kayak uber-uberan. Belum kelar yang satu, udah muncul lagi utang baru. Apakah sedekah saya tidak ada artinya?” seorang jamaah, masih muda, sekira tigapuluhan lah usianya. Bertanya.
“Sedekah kecil kecil. Minta hutang cepet lunas.” Kata Ustadz Yusuf Mansur. Selanjutnya, aku singkat aja YM. Biar gampang nulisnya.
Berikutnya terjadi dialog interaktif, bagaimana sedekah yang bisa melunaskan hutang. Tidak tanggung-tanggung. Contohnya pada diri YM sendiri. Dimana, sekitar 91-an YM menjadi tukang es di terminal kalideres. Secara, total dagangan paling banter Cuma laku sepuluh ribuan, tapi, YM punya hutang waktu itu delapan puluh jutaan.
Bagaimana YM melunasi hutang tersebut, dan apa jawaban dari pertanyaan jamaah tadi?
Mesti sabar ya. Nulisnya pelan-pelan soalnya. Sambil kerja. Nyelesaiin laporan. Walaupun speed jemariku sudah sampai 496 karakter per menit, kalau buat nulis ginian rada lelet juga. Pakai mikir soalnya. Kalau pas lagi enak banget nulis sih, tulisan empat halaman gak nyampe setengah jam. Dua puluh menit juga gak nyampe. Ini bukan sombong. Atau juga, kalau ada yang bilang ini pamer silahkan saja.
Aku hanya ingin bilang, waktu itu pernah ada suara nyampe ketelinga saya “nih orang ga da kerjaan kali. Disela kerja bikin tulisan beginian. Mana panjang-panjang pula.” Gitu katanya. Makanya, agar gak menjadi fitnah. Disamping nulis beginian emang aku tuch doyan banget. Juga aku sampaikan sekalian kalau speed tulisanku tuch udah hampir nyampe 500 karakter per menit. Ada seorang teman aku suruh latihan. Web site buat latihannya aku kasih unjuk. Dia cuma geleng-geleng kepala doang. “lincah juga jari loe ya” komentarnya singkat.
Hanya saja, tulisan maupun bahasanya kadang belepotan juga. Mau nulis apa jadinya apa. Kadang judul sama tema suka gak nyambung. Tapi, ya biarin aja. Itung-itung buat dibaca sendiri ini. Suka juga kadang jari jempol sama kelingking berebut mencet huruf f misalnya. Jadinya rancu. Mau nulis dengan aja keliru degnan. Untuk kata-kata umum sih gampang aja di ketahui. Kalau pas ketemu kata yang memang agak kurang lazim. Bingung juga bacanya.
Tadinya, mau langsung nulis nikmat sedekah tadi pagi di TPI yang sempat aku lihat sepulang subuh. Karena Cuma sepenggal sepenggal, jadinya kurang utuh. Lha iya lah. Namanya juga sepenggal. Sama aja dengan kurang utuh. Begitu mulai nulis ini, kepikiran ITO belum aku bikin. Tapi, mesti nunggu jam satu dulu baru bisa ambil data. Akhirnya nulis ada dulu.
Di otakku ada dua memori besar terisi. Ada dua pilihan. Nulis atau bikin ITO. Maka dari itu. Pas nyambung ke materi Cuma di awal-awal doang. Yang lagi aku inget ya pertanyaan si jamaah tadi. Sementara mau nulis jawaban dan kisah yang disampaikan YM, eh, lupa. Malah kemana-mana kan nulisnya. He..he..he….
Ini, aku coba tulis selepas sholat dhuhur. Jamaah, tadi. Temen-temen tentunya jamaah juga kan? Alhamdulillah. Hari ini puasa. Jadi gak kepotong waktu buat makan. nunggu selewat jam satu siang dulu. Harus update data inventory turn over dari BW. Nanti terusin lagi dah nulisnya.
Wait a minute. Don’t go away. Cause, I’ll be back (ups, udah seperti terminator aja nih….)
“Dari dulu saya sudah rajin sedekah. Meskipun kecil-kecilan. Tapi, rutin. Hutang juga ada. Lebih gedhe malah. Saya bingung tadz. Kenapa hutang saya itu tidak lunas-lunas juga. Malah kayak uber-uberan. Belum kelar yang satu, udah muncul lagi utang baru. Apakah sedekah saya tidak ada artinya?” seorang jamaah, masih muda, sekira tigapuluhan lah usianya. Bertanya.
“Sedekah kecil kecil. Minta hutang cepet lunas.” Kata Ustadz Yusuf Mansur. Selanjutnya, aku singkat aja YM. Biar gampang nulisnya.
Berikutnya terjadi dialog interaktif, bagaimana sedekah yang bisa melunaskan hutang. Tidak tanggung-tanggung. Contohnya pada diri YM sendiri. Dimana, sekitar 91-an YM menjadi tukang es di terminal kalideres. Secara, total dagangan paling banter Cuma laku sepuluh ribuan, tapi, YM punya hutang waktu itu delapan puluh jutaan.
Bagaimana YM melunasi hutang tersebut, dan apa jawaban dari pertanyaan jamaah tadi?
Mesti sabar ya. Nulisnya pelan-pelan soalnya. Sambil kerja. Nyelesaiin laporan. Walaupun speed jemariku sudah sampai 496 karakter per menit, kalau buat nulis ginian rada lelet juga. Pakai mikir soalnya. Kalau pas lagi enak banget nulis sih, tulisan empat halaman gak nyampe setengah jam. Dua puluh menit juga gak nyampe. Ini bukan sombong. Atau juga, kalau ada yang bilang ini pamer silahkan saja.
Aku hanya ingin bilang, waktu itu pernah ada suara nyampe ketelinga saya “nih orang ga da kerjaan kali. Disela kerja bikin tulisan beginian. Mana panjang-panjang pula.” Gitu katanya. Makanya, agar gak menjadi fitnah. Disamping nulis beginian emang aku tuch doyan banget. Juga aku sampaikan sekalian kalau speed tulisanku tuch udah hampir nyampe 500 karakter per menit. Ada seorang teman aku suruh latihan. Web site buat latihannya aku kasih unjuk. Dia cuma geleng-geleng kepala doang. “lincah juga jari loe ya” komentarnya singkat.
Hanya saja, tulisan maupun bahasanya kadang belepotan juga. Mau nulis apa jadinya apa. Kadang judul sama tema suka gak nyambung. Tapi, ya biarin aja. Itung-itung buat dibaca sendiri ini. Suka juga kadang jari jempol sama kelingking berebut mencet huruf f misalnya. Jadinya rancu. Mau nulis dengan aja keliru degnan. Untuk kata-kata umum sih gampang aja di ketahui. Kalau pas ketemu kata yang memang agak kurang lazim. Bingung juga bacanya.
Tadinya, mau langsung nulis nikmat sedekah tadi pagi di TPI yang sempat aku lihat sepulang subuh. Karena Cuma sepenggal sepenggal, jadinya kurang utuh. Lha iya lah. Namanya juga sepenggal. Sama aja dengan kurang utuh. Begitu mulai nulis ini, kepikiran ITO belum aku bikin. Tapi, mesti nunggu jam satu dulu baru bisa ambil data. Akhirnya nulis ada dulu.
Di otakku ada dua memori besar terisi. Ada dua pilihan. Nulis atau bikin ITO. Maka dari itu. Pas nyambung ke materi Cuma di awal-awal doang. Yang lagi aku inget ya pertanyaan si jamaah tadi. Sementara mau nulis jawaban dan kisah yang disampaikan YM, eh, lupa. Malah kemana-mana kan nulisnya. He..he..he….
Ini, aku coba tulis selepas sholat dhuhur. Jamaah, tadi. Temen-temen tentunya jamaah juga kan? Alhamdulillah. Hari ini puasa. Jadi gak kepotong waktu buat makan. nunggu selewat jam satu siang dulu. Harus update data inventory turn over dari BW. Nanti terusin lagi dah nulisnya.
Wait a minute. Don’t go away. Cause, I’ll be back (ups, udah seperti terminator aja nih….)
Selasa, 24 Maret 2009
situs sesat
sejak aku kenal situs ini dari blog sebelah (mau nulis link-nya langsung, masing bingung gimana caranya) aku jadi keranjingan ngetik cepat. pengin coba juga?
74 words (498 chr)
pertama kali nyoba hasilnya :you rached 343 points, so you achieved position 2001 of 30887 on the ranking list. gile, berarti banyak juga orang yang tersesat bareng-bareng gue. lumayan sih prestasi perdana, "you type 416 characters per minute. you have 65 correct words. and you have 0 wrong words. hmm, lumayan lincah juga ternyata jemari gue.
hampir setiap hari, setiap saat malah. tersesat lagi tersesat lagi. sampai-sampai klo lagi sumpeg. andalan utama adalah menulis cepat ini. bener-bener bikin sesat dech. tapi, koq menyenangkan! nah loh.
ini terakhir kali setelah menyerah tak sanggup ke ranking lebih tinggi. yang ada malah semakin merosot. hasilnya? itu yang diatas itu tuch. gue dapet 402 points, pada posisi 861 dari 36336 ranking list. type nya 476 character. tetap 0 wrong word dong. gue masih bolak-balik delete klo merasa salah.
alhasil, tadi, gue bener-bener konsen. eh, malah jeblog. saat coba lagi sambil dengerin musik. lagunya pas mulan jameela tuch, judulnya lupa. point tertinggi bisa gue dapet. tetap 402 points, tapi posisi menjadi 861 dari 36336. speednya 498 character per minute, 74 correct words and 0 wrong words. ada yang masih bisa diatas saya :)
hati-hati tersesat yah. maksudnye, saking enjoy terpesona sama situs ini jadinya lupa balik lagi klo udah berkunjung. kalaupun balik, dijamin besok nyambangin lagi deh. test speed trusssss....!!! jadi ketagihan.
74 words (498 chr)
pertama kali nyoba hasilnya :you rached 343 points, so you achieved position 2001 of 30887 on the ranking list. gile, berarti banyak juga orang yang tersesat bareng-bareng gue. lumayan sih prestasi perdana, "you type 416 characters per minute. you have 65 correct words. and you have 0 wrong words. hmm, lumayan lincah juga ternyata jemari gue.
hampir setiap hari, setiap saat malah. tersesat lagi tersesat lagi. sampai-sampai klo lagi sumpeg. andalan utama adalah menulis cepat ini. bener-bener bikin sesat dech. tapi, koq menyenangkan! nah loh.
ini terakhir kali setelah menyerah tak sanggup ke ranking lebih tinggi. yang ada malah semakin merosot. hasilnya? itu yang diatas itu tuch. gue dapet 402 points, pada posisi 861 dari 36336 ranking list. type nya 476 character. tetap 0 wrong word dong. gue masih bolak-balik delete klo merasa salah.
alhasil, tadi, gue bener-bener konsen. eh, malah jeblog. saat coba lagi sambil dengerin musik. lagunya pas mulan jameela tuch, judulnya lupa. point tertinggi bisa gue dapet. tetap 402 points, tapi posisi menjadi 861 dari 36336. speednya 498 character per minute, 74 correct words and 0 wrong words. ada yang masih bisa diatas saya :)
hati-hati tersesat yah. maksudnye, saking enjoy terpesona sama situs ini jadinya lupa balik lagi klo udah berkunjung. kalaupun balik, dijamin besok nyambangin lagi deh. test speed trusssss....!!! jadi ketagihan.
Rabu, 11 Februari 2009
takluk
teringat akan sejarah
bagaimana indian punah
ditaklukkan
dinasranikan
dipetanikan
pribadi hilang, cuma tahu cangkul
tanah disrobot
pabrik dan gedung didirikan
tak ada lagi pencaharian
tumpas.. pas..pas..pas...
indonesia?
kecil disekolahkan
goblok dipintarkan
besar dikuli(pabrik)kan
umur dibeli
tak ada kreasi
aku?
yaaaa gitu dech....
bagaimana indian punah
ditaklukkan
dinasranikan
dipetanikan
pribadi hilang, cuma tahu cangkul
tanah disrobot
pabrik dan gedung didirikan
tak ada lagi pencaharian
tumpas.. pas..pas..pas...
indonesia?
kecil disekolahkan
goblok dipintarkan
besar dikuli(pabrik)kan
umur dibeli
tak ada kreasi
aku?
yaaaa gitu dech....
Senin, 02 Februari 2009
edi - ejakulasi dini
panjang kenikmatan
tak lebih tiga centi
atau waktu
tak lebih dua menit
begitu ayam panggang kecap
selesai bibir berdecap
lepas mulut tenggorokan lewat
hilang rasa lezat
lenyap tak beraturan
jadi ampas
pun,
dengusan nafas
gelinjang kaki
cengkeraman birahi
lenyap seirama lenguhan
oh yes, oh no, o m g...
masih juga kau
hendak berpuas diri?
tak lebih tiga centi
atau waktu
tak lebih dua menit
begitu ayam panggang kecap
selesai bibir berdecap
lepas mulut tenggorokan lewat
hilang rasa lezat
lenyap tak beraturan
jadi ampas
pun,
dengusan nafas
gelinjang kaki
cengkeraman birahi
lenyap seirama lenguhan
oh yes, oh no, o m g...
masih juga kau
hendak berpuas diri?
Selasa, 23 September 2008
nulis bebas lagi
Pernah ku bicara tentang cinta, namun kau anggap hal yang biasa. Seolah tiada hal yang peduli lagi. Jauh sudah kau banyak berubah. segala cara tlah kucoba untuk pahamikan sikapmu. percuma rasanya bertahan dengan segala kesetyaanku. Bagai air di daun talas mana mungkin cinta kan terbalas, buat apa, dan, percuma saja bila bersama tak bersa tak pernah bersatu. jalan terbaik kita berpisah.
Wah, ternyata aku ini melankolis juga. Romantis, gitu loh, lebih tepatnya. Bagaimana tidak, aku yang notabene pernah menyandang sabuk coklat beladiri kempo jebolan gelanggang mahasiswa ugm bulak sumu jogjakarta. Eh, suka lama kirey dengan lagu judul bagai air di daunt alas.
But, itulah salah satu sisi hidupku. Terlalu komplek. Satu sore aku begitu mendayu-dayu dengan rayuan maut yang bisa menggoyahkan siapa saja. Dan soal rayuan maut ini, bukan Cuma sekali dua kali aku buktikan. Seandanya saja, ada pembaca blog pribadi ini yang kebetulan pernah merasakan “xxxxx” gara-gara ulahku. Wah, malunya tak ketulungan. Tapi, masih mending malu di dunia ini, hanya manusia yang mencibir, hanya setan yang menertawakan. Daripada, di akherat nanti justru malaikan dan bahkan Tuhan yang tak mau memandangku. Atau bahkan sang rasul saw pun tak mau mengakui keumatanku.
Pagi ini, aku datang kantor lumayan pagi. Jam setengah tuhuh. Waw, rekor terpagi tentunya. Setelah secara minggu-minggu kemarin aku datang bisa jam sebelas siang baru nongol di pintu kantor. itupun bukan langsung pegang laporang dan kontrol system sap di kantor. malah, nyalain komputer, stel musik. Dan, pasti lagu perdana yang kudengar adalah padi dengan sang penghiburnya. Tahu kan lagu ini?
Salah satu baitnya aku sukai adalah “bukankah hidup ada perhentian, tak harus kencang terus berlari, kuhelakan nafas panjang, tuk siang berlari kembali”. Begitu meresap dan menjiwai. Mebakar semangat sekaligus menyadarkan bahwa manusia masih perlu istirahat agar selalu fresh.intinya, yang aku tangkap sih, perlu keseimbangan. Itu saja. Untuk aplikasi penyelaman makna yang lain lagi, ada pada bait pertama.
Simak deh, “setiap perkataan yang menjatuhkan, tak lagi ku dengar dengan sungguh. Juga tutur kata yang mencela tak lagi kucerna dalam jiwa. Aku bukanlah seorang yang megerti tentang kelihaian membaca hati. Ku hanya pemimpi kecil yang berangan tuk merubah nasibnya”. Hmm, bukankah manusia itu seharusnya begini. Begitu pula aku, tak usahlah terlalu muluk untuk mendedikasikan diri harus bersinar terang bak matahari. Yang penting, cukup memiliki sinar sendiri, minimal memantulkan sinar terang. Tak perlulah harus menjadi bintang, cukup rembulan yang memantulkan cahaya penerang. Jangan malah kabut malam yagn selalu menyelimutkan ketakutan dalam benak anak-anak.
Komplek. Inilah, kata yang lebih tepat untuk menggambarkan tentang aku. Masih soal rayuan maut akibat dari sisi melankolis dan romantisme diriku. Wuih, diriku. Tadi aku, kadang gue, kadang ane, kadang saya. Tuh kan, komplek pokoknya.
Pada saat awal bekerja (dipindah) ke kantor pusat di bilangan ancol, Jakarta utara. Ya iyalah, namanya ancol itu dijakarta utara. Tak perlulah disebutin. Masak ancol di bekasi. Ngaco. Wah, lagi mau cerita tentang “selingkuh batin”ku malah dengar nugie. Nyanyi dulu ya…
Lama sudah kumencari, apa yang hendak kulalukan. Sgala titik ku jelajahi, tiada satupun kumengerti. Tersesatkah aku disamudra hidup. Kata-kata yang kubaca, terkadang tak mudah ku kenang. Ooooh, bunga-bunga dan rerumputan bilakah kau tahu jawabnya. Inikah jalanku, inikah takdirku. Biarkan ku mengikuti swara dalam hati yang slalu membunyikan cinta… kupercaya dan ku yakini murninya nurani menjadi penunjuk jalanku… lentera jiwaku….oohhhhh yeeaaahhhhh…
Nah kan. Dari segi tulisan ini saja terlihat banget kalau aku tuh labil. Rapuh, eh, tar dulu ya. Klo rapuh kayaknya tidak deh. Hanya kadang-kadang saja sih. Dari mulai nulis asal ketik. Denger lagu ikut nyanyi. Lalu melayang angan ikutin kemana aja suka. Tanpa arah tujuan. Sampai berkali-kali berputar-putar tak karuan.
Oh iya, mau cerita apaan tadi? Hmmmm, nah, selingkuh batin. Ini adalah merupakan satu sisi kejelekanku. Hmmm….. mungkin tar aja kali ya. Dalam kesempatan lain cerita soal beginian. Abisnya, lagu yang terdengan dari pc ku sedang pas banget sih. Tar malah kebongkar semuanya, repot. Lagu apa coba. “main hati” ha..ha..ha..ha… tahu kan penyanyinya. Itu tuh, salwangga and the black born. Artinya apa tuh, asal deh. Pokoknya.
Hhh, kembali aku coba helakan nafas pagi ini. Mendinga cerita pas tadi mau nyeberang jalan aja deh. Gini, begitu mau nyeberang perempatan depan hotel alexis. Lumayan lama banget baru bisa nyeberang. Apa pasar? Begitu aku berdiri di tengah persimpangan. Ditengah loh ya, bukan di pinggir. Klo dipinggir, tar orang pikir lagi ngemis. Atau juga lagi nunggu langganan. Ups, langganan, emang jablay. Kacau.
Aku berdiri ditengah tuh, maksudnya biar ketahuan klo aku mau nyeberang. Tak tahunya, berkali-kali mobil-mobil ngejreng dengan satu penumpang malah menyalakan lampu dim berkali-kali. Begitu pula motor. Gila, tak ada yang mau ngalah. Kasih kesempatan dikit aja denga melambatkan laju kendaraan. Tak mau. Apalagi mengalah. Padahal hanya memberikan kesempatan jalan nyeberang bagi satu pejalan kaki ganteng kayak aku ini. Tak mau! Sungguh terlalu.
Rupanya seperti ini toh, profil pengendara Jakarta. Tak mau sedikitpun membuka jalan untuk orang lain. Pejalan kaki gitu loh. Ini, memang aku sengaja. Aku tunggu sampai benar-benar ada yang mau memberikan jalan. Sabar sedikit dengan melambatkan laju kendaraan. Dan, aku baru mau nyeberang. Satu menit, belum ada juga. Dua menit, eh, lah koq malah lampu dim tanpa henti terus berkedip-kedip. Dari sedan, kijang, ah, sampai jenis mobil apa tak hapal aku. Maklum, orang pinggiran. Biasa naik gerobak, nangkring di punggung kerbau. Tak tahu lah aku jenis-jenis mobil.
Hingga akhirnya lima menit kucoba bersabar dan membuktikan teoriku. “setiap orang apalagi yang sedang berkendara dijalanan, lebih suka menutup orang lain daripada memberi jalan”. Padahal, sudah dijelaskan bahwa, barang siapa menutup rejeki sesame tiada lain dan tiada bukan kecuali dia menutup rejeki sendiri. Kasih kesempatan pejalan kaki buat nyeberang kan juga rejeki?
Akhirnya, tak tahan juga aku menunggu terlalu lama. Ya udah, maju aja. Sambil tatapan mata nyalang, di serem-seremin gitu. Kalau perlu tangan pegang batu diacungin keatas sambil bawa tulisan “hayo, kasih jalan gak. Kalau sampai nyelonong bikin panas, batu siap melayang nih. Siap-siap aja kaca mobil loe pecah” ternyata, cara ini memang berhasil. Terbukti, kalau mau nyeberang jalan tak usah permisi dulu. Langsung aja maju pelan-pelan sedikit demi sedikit. Dengan tetap membiarkan suara klakson motor maupun mobil berdentingan ditelinga kanan kiri.
Tuh, begitu profil pengendara dijalan. Belum lagi saat mau belok kanan bagi sesame pengendara. Misalnya, saat satu arus sama-sama naik motor. Kalau mau motong jalan ke arah kanan. Tentunya kita ngasih lampu sein. Setengah budeg, pastilah kuping ini panas dengar suara klakson dari belakang. Seakan bilang “hoi… awas, jangan belok kanan dulu. Gue dibelakang loe nih” padahal, seharusnya kita ngasih lampu sein tuh mau belok kanan dan mohon diberikan jalan. Eh, malah klaksonan seperti suitan panjang terdengar. Pernah ngalamin gak seperti ini?
Sebenarnya masih pengin nulis sih. Tapi, iwan fals dalam pc mengucapkan “selamat tidur, sayang” lagi pula jam di kantor sudah menunjukkan delapan kurang seperempat. Bentar lagi jam kantor berdentang. Siap-siap dengan rutinitas baru. Apaan tuh? Check system? Kerjain laporan? Kontrol transaksi sap? Wah, tar dulu deh. Kayaknya browsing dulu deh. Mumpung masih duduk di kantor dengan fasilitas internetan gratis. Meskipun banyak yang diblok sih.
Oh iya, soal blokir i-netan ini ternyata untuk akses blog yang di multiply gak bisa juga. Payah. Padahal blog itu banyak yang bagus-bagus loh.
Eh, ini gimana sih. Katanya udahan nulis bebasnya, koq masih berlanjut juga. Ya,siapa yang larang. Nulis mah nulis aja. Gak ada yang larang koq. Lagi pula dengan menulis bebas seperti ini justeru otak tuh lebih fresh, seger. Itung-itung rekreasi jiwa tanpa biaya. Coba kalau ke dufan atau ke pantai marina sewa kapal. Berapa duit tuh buat ngegantiin?
Terserah aku dong, mau nulis apa kek. Curhat, lagu, uneg-uneg. Atau bahkan pisuhan kasar pun suka-suka lah. Toh, dengan nulis ini tak mengganggu orang lain. Kecuali anda yang baca tentunya. Daripada tiba-tiba aku kerasukan mike Tyson, trus main pukul setiap orang aku termui. Gawat kan. Mending kayak gini. Duduk didepan komputer sambil dengerin musik, trus nulise sekenanya. Tak perlu editing, tak perlu sensoring, screening, apalagi meeting. Loh… apa hubungannya.
Begini, saudara-saudara. Dalam menjalani aktivitas sehari-hari, rasa jenuh tak mungkin tak menghinggapi. Kita butuh keluar dari pakem rotasi yang dijalani. Keluar dari jalur rutinintas, maksunya. Gitu aja gak ngerti.
Sebenarnya, apa sih yang menyebabkan rasa bosan? Susah juga menjawab pertanyaan ini. Bosan itu adlaah sebuah kata dengan awalan huruf b dan berakhiran dengan huruf n jumlah hurus ada lima. Huruf tengagnya s. loh, anak teka yang baru mengeja huruf juga tahu, monyong!
o.k. o.k. bosan menururp kamus besar kepala salwangga adalah, suatu kondisi dimana hati ini tak tenang jiwa ini resah dalam beraktivitas seperti biasa. Maksudnya? Ya aktivitas itu kegiatan. Bosan itu pengin keluar dari lingkaran rutinitas. Nah, ketemu juga akhirnya definisi yang pas. Pokoknya ya gitu. Bosan itu is bosan, boring, pengin keluar dari kehidupan. Loh, koq? Penging mati maksunya. Ya iya. Pengin mati. Betul itu. Tapi bukan mati orangnya, melainkan dimatikan sejenak kegiatan rutin yang biasa dilakukan.
Contohnya, gampang. Apa yang aku lakukan ini adalah untuk menghilangakan rasa bosan alias membuat otak fresh seketika. Dan, terbukti. Saat menuliskan bebas, tanpa tema, tanpa koreksi, mau salah kek, mau benar kek, mau nyambung, mau enggak, mau berbobot mau beringan. Terserah saja. Dan, tak perlu dibaca ulang. Kalaupun banyak yang salah eja, salah ketik. Wah, itu berarti karena belum terbiasa saja.
Coba deh, untuk pengetik dengan system sepuluh jari seperti aku ini. Banyak kemungkinan salah ketik. Gak percaya, coba aja baca tulisanku ini, dan hitung berapa huruf yang salah pencet. Satu hurus dihargai seratus perak. Berani? Tapi, maksimal Cuma seratus huruf loh. Karena kalau sampai lebih dari seratus huruf yang salh, itu berarti ketahuan bagnet klo jari-jariku ini tidak mudah dikendalikan. Jangan bilang otakku error ya…. Awas!
Hmm, lumayan kan. Sudah setengah jam berlalu tak berasa. Dan otakku rasanya fresh, seger gitu. Kalau saja anda merasakan sedang puasa, trus saat ini sudah jam lima sore. Atau setengah enem deh, menjelang buka puasa. Nah. Anda kebetulan sedang habis jalan dari kantor. maksudnya anda baru saja pulang kantor dengan berjalan kaki. boro-boro mobil, motor aja gakada. Sepeda aja Cuma minjem, makanya jalan kaki. saat badan setengah letih. Jangan letih banget. Trus, masuk kamar mandi, guyur sepuasnya. Mandi keramas. Seger kan? Nah, seperti itu rasanya otakku saat ini.
Ini berarti menunjukkan klo aku tuh bener-bener punya otak. Terbukti bisa merasakan segernya, gitu loh… he..he..he..
Pas jam delapan. Agnes monika nih. Mau dengerin?
Tertutup sudah pintu
Pintu hatiku
Pernah dibuka untuk hanya untukmu
Kini kau pergi dari hidupku
Ku harus relakanmu
Walau aku tak mau
Berjuta warna pelangi
Didalam hati
Sejenak luluh bergeming
Menjauh pergi
Tak ada lagi
Cahaya suci
Semua pudar beranjak aku terdiam sepi.
Dengarlah matahariku suara tangisanku, kubersedih karena panah cinta menusuk jantungku. Ucapkan matahariku berbisik tentang hidupku. Tentangku yang tak mampu mengatakan cinta.
Oh, berjuta warna pelangi didalam hati. Sejenak luluh bergeming menjauh pergi. Wah, udah kembali ke bait awal.
Asyik juga pagi-pagi datang kantor lebih awal. Nulis sekenanya, sambil dengerin musik. Apa saja yang terlintas dalam kepala, tulis sekenanya, tak perlu ada ejaan yang disempurnakan, tak perlu pake tata karma. Yang penting, tulis dan tuangkan dengan tulisan. Tujuan utama saya adalah melatih kesepuluh jari ini agar tak salah-salah lagi menulis. Dan ternyata, siapa yang mau koreksi hayo……
Gimana nih, terusin gak? Apanya? Nulisnya lah, masak tidur. Hmmm, gimana ya. Pengin berhenti, eh, lagunya bagus nih……
Kau rinduku jiwaku indah memnggil dirimu mataku terbangun untuk menanti menantimu. Jangan pernah kau ragukan cinta yang sesungguhnya itu bisa menghancukan semua buka begitu. aku sungguh masih sayang padamu, jangan sampai kau meninggalkan aku begitu sangat berharga dirimu bagiku. Kan ku pastikan saja dihatimu kan ku korbankan semuanya untukmu sungguh kuberharapkau pun begitu padaku.
Engkau rasakah cinta yang begitu kan mengesankan yang ku pasti dapatkan kemesraan yang penuh bintang…….
Hayooo… lagu apaan tuh yang coba ku ketik????
Udah ah… mau kencing dulu. Kebelet nih….
Wah, ternyata aku ini melankolis juga. Romantis, gitu loh, lebih tepatnya. Bagaimana tidak, aku yang notabene pernah menyandang sabuk coklat beladiri kempo jebolan gelanggang mahasiswa ugm bulak sumu jogjakarta. Eh, suka lama kirey dengan lagu judul bagai air di daunt alas.
But, itulah salah satu sisi hidupku. Terlalu komplek. Satu sore aku begitu mendayu-dayu dengan rayuan maut yang bisa menggoyahkan siapa saja. Dan soal rayuan maut ini, bukan Cuma sekali dua kali aku buktikan. Seandanya saja, ada pembaca blog pribadi ini yang kebetulan pernah merasakan “xxxxx” gara-gara ulahku. Wah, malunya tak ketulungan. Tapi, masih mending malu di dunia ini, hanya manusia yang mencibir, hanya setan yang menertawakan. Daripada, di akherat nanti justru malaikan dan bahkan Tuhan yang tak mau memandangku. Atau bahkan sang rasul saw pun tak mau mengakui keumatanku.
Pagi ini, aku datang kantor lumayan pagi. Jam setengah tuhuh. Waw, rekor terpagi tentunya. Setelah secara minggu-minggu kemarin aku datang bisa jam sebelas siang baru nongol di pintu kantor. itupun bukan langsung pegang laporang dan kontrol system sap di kantor. malah, nyalain komputer, stel musik. Dan, pasti lagu perdana yang kudengar adalah padi dengan sang penghiburnya. Tahu kan lagu ini?
Salah satu baitnya aku sukai adalah “bukankah hidup ada perhentian, tak harus kencang terus berlari, kuhelakan nafas panjang, tuk siang berlari kembali”. Begitu meresap dan menjiwai. Mebakar semangat sekaligus menyadarkan bahwa manusia masih perlu istirahat agar selalu fresh.intinya, yang aku tangkap sih, perlu keseimbangan. Itu saja. Untuk aplikasi penyelaman makna yang lain lagi, ada pada bait pertama.
Simak deh, “setiap perkataan yang menjatuhkan, tak lagi ku dengar dengan sungguh. Juga tutur kata yang mencela tak lagi kucerna dalam jiwa. Aku bukanlah seorang yang megerti tentang kelihaian membaca hati. Ku hanya pemimpi kecil yang berangan tuk merubah nasibnya”. Hmm, bukankah manusia itu seharusnya begini. Begitu pula aku, tak usahlah terlalu muluk untuk mendedikasikan diri harus bersinar terang bak matahari. Yang penting, cukup memiliki sinar sendiri, minimal memantulkan sinar terang. Tak perlulah harus menjadi bintang, cukup rembulan yang memantulkan cahaya penerang. Jangan malah kabut malam yagn selalu menyelimutkan ketakutan dalam benak anak-anak.
Komplek. Inilah, kata yang lebih tepat untuk menggambarkan tentang aku. Masih soal rayuan maut akibat dari sisi melankolis dan romantisme diriku. Wuih, diriku. Tadi aku, kadang gue, kadang ane, kadang saya. Tuh kan, komplek pokoknya.
Pada saat awal bekerja (dipindah) ke kantor pusat di bilangan ancol, Jakarta utara. Ya iyalah, namanya ancol itu dijakarta utara. Tak perlulah disebutin. Masak ancol di bekasi. Ngaco. Wah, lagi mau cerita tentang “selingkuh batin”ku malah dengar nugie. Nyanyi dulu ya…
Lama sudah kumencari, apa yang hendak kulalukan. Sgala titik ku jelajahi, tiada satupun kumengerti. Tersesatkah aku disamudra hidup. Kata-kata yang kubaca, terkadang tak mudah ku kenang. Ooooh, bunga-bunga dan rerumputan bilakah kau tahu jawabnya. Inikah jalanku, inikah takdirku. Biarkan ku mengikuti swara dalam hati yang slalu membunyikan cinta… kupercaya dan ku yakini murninya nurani menjadi penunjuk jalanku… lentera jiwaku….oohhhhh yeeaaahhhhh…
Nah kan. Dari segi tulisan ini saja terlihat banget kalau aku tuh labil. Rapuh, eh, tar dulu ya. Klo rapuh kayaknya tidak deh. Hanya kadang-kadang saja sih. Dari mulai nulis asal ketik. Denger lagu ikut nyanyi. Lalu melayang angan ikutin kemana aja suka. Tanpa arah tujuan. Sampai berkali-kali berputar-putar tak karuan.
Oh iya, mau cerita apaan tadi? Hmmmm, nah, selingkuh batin. Ini adalah merupakan satu sisi kejelekanku. Hmmm….. mungkin tar aja kali ya. Dalam kesempatan lain cerita soal beginian. Abisnya, lagu yang terdengan dari pc ku sedang pas banget sih. Tar malah kebongkar semuanya, repot. Lagu apa coba. “main hati” ha..ha..ha..ha… tahu kan penyanyinya. Itu tuh, salwangga and the black born. Artinya apa tuh, asal deh. Pokoknya.
Hhh, kembali aku coba helakan nafas pagi ini. Mendinga cerita pas tadi mau nyeberang jalan aja deh. Gini, begitu mau nyeberang perempatan depan hotel alexis. Lumayan lama banget baru bisa nyeberang. Apa pasar? Begitu aku berdiri di tengah persimpangan. Ditengah loh ya, bukan di pinggir. Klo dipinggir, tar orang pikir lagi ngemis. Atau juga lagi nunggu langganan. Ups, langganan, emang jablay. Kacau.
Aku berdiri ditengah tuh, maksudnya biar ketahuan klo aku mau nyeberang. Tak tahunya, berkali-kali mobil-mobil ngejreng dengan satu penumpang malah menyalakan lampu dim berkali-kali. Begitu pula motor. Gila, tak ada yang mau ngalah. Kasih kesempatan dikit aja denga melambatkan laju kendaraan. Tak mau. Apalagi mengalah. Padahal hanya memberikan kesempatan jalan nyeberang bagi satu pejalan kaki ganteng kayak aku ini. Tak mau! Sungguh terlalu.
Rupanya seperti ini toh, profil pengendara Jakarta. Tak mau sedikitpun membuka jalan untuk orang lain. Pejalan kaki gitu loh. Ini, memang aku sengaja. Aku tunggu sampai benar-benar ada yang mau memberikan jalan. Sabar sedikit dengan melambatkan laju kendaraan. Dan, aku baru mau nyeberang. Satu menit, belum ada juga. Dua menit, eh, lah koq malah lampu dim tanpa henti terus berkedip-kedip. Dari sedan, kijang, ah, sampai jenis mobil apa tak hapal aku. Maklum, orang pinggiran. Biasa naik gerobak, nangkring di punggung kerbau. Tak tahu lah aku jenis-jenis mobil.
Hingga akhirnya lima menit kucoba bersabar dan membuktikan teoriku. “setiap orang apalagi yang sedang berkendara dijalanan, lebih suka menutup orang lain daripada memberi jalan”. Padahal, sudah dijelaskan bahwa, barang siapa menutup rejeki sesame tiada lain dan tiada bukan kecuali dia menutup rejeki sendiri. Kasih kesempatan pejalan kaki buat nyeberang kan juga rejeki?
Akhirnya, tak tahan juga aku menunggu terlalu lama. Ya udah, maju aja. Sambil tatapan mata nyalang, di serem-seremin gitu. Kalau perlu tangan pegang batu diacungin keatas sambil bawa tulisan “hayo, kasih jalan gak. Kalau sampai nyelonong bikin panas, batu siap melayang nih. Siap-siap aja kaca mobil loe pecah” ternyata, cara ini memang berhasil. Terbukti, kalau mau nyeberang jalan tak usah permisi dulu. Langsung aja maju pelan-pelan sedikit demi sedikit. Dengan tetap membiarkan suara klakson motor maupun mobil berdentingan ditelinga kanan kiri.
Tuh, begitu profil pengendara dijalan. Belum lagi saat mau belok kanan bagi sesame pengendara. Misalnya, saat satu arus sama-sama naik motor. Kalau mau motong jalan ke arah kanan. Tentunya kita ngasih lampu sein. Setengah budeg, pastilah kuping ini panas dengar suara klakson dari belakang. Seakan bilang “hoi… awas, jangan belok kanan dulu. Gue dibelakang loe nih” padahal, seharusnya kita ngasih lampu sein tuh mau belok kanan dan mohon diberikan jalan. Eh, malah klaksonan seperti suitan panjang terdengar. Pernah ngalamin gak seperti ini?
Sebenarnya masih pengin nulis sih. Tapi, iwan fals dalam pc mengucapkan “selamat tidur, sayang” lagi pula jam di kantor sudah menunjukkan delapan kurang seperempat. Bentar lagi jam kantor berdentang. Siap-siap dengan rutinitas baru. Apaan tuh? Check system? Kerjain laporan? Kontrol transaksi sap? Wah, tar dulu deh. Kayaknya browsing dulu deh. Mumpung masih duduk di kantor dengan fasilitas internetan gratis. Meskipun banyak yang diblok sih.
Oh iya, soal blokir i-netan ini ternyata untuk akses blog yang di multiply gak bisa juga. Payah. Padahal blog itu banyak yang bagus-bagus loh.
Eh, ini gimana sih. Katanya udahan nulis bebasnya, koq masih berlanjut juga. Ya,siapa yang larang. Nulis mah nulis aja. Gak ada yang larang koq. Lagi pula dengan menulis bebas seperti ini justeru otak tuh lebih fresh, seger. Itung-itung rekreasi jiwa tanpa biaya. Coba kalau ke dufan atau ke pantai marina sewa kapal. Berapa duit tuh buat ngegantiin?
Terserah aku dong, mau nulis apa kek. Curhat, lagu, uneg-uneg. Atau bahkan pisuhan kasar pun suka-suka lah. Toh, dengan nulis ini tak mengganggu orang lain. Kecuali anda yang baca tentunya. Daripada tiba-tiba aku kerasukan mike Tyson, trus main pukul setiap orang aku termui. Gawat kan. Mending kayak gini. Duduk didepan komputer sambil dengerin musik, trus nulise sekenanya. Tak perlu editing, tak perlu sensoring, screening, apalagi meeting. Loh… apa hubungannya.
Begini, saudara-saudara. Dalam menjalani aktivitas sehari-hari, rasa jenuh tak mungkin tak menghinggapi. Kita butuh keluar dari pakem rotasi yang dijalani. Keluar dari jalur rutinintas, maksunya. Gitu aja gak ngerti.
Sebenarnya, apa sih yang menyebabkan rasa bosan? Susah juga menjawab pertanyaan ini. Bosan itu adlaah sebuah kata dengan awalan huruf b dan berakhiran dengan huruf n jumlah hurus ada lima. Huruf tengagnya s. loh, anak teka yang baru mengeja huruf juga tahu, monyong!
o.k. o.k. bosan menururp kamus besar kepala salwangga adalah, suatu kondisi dimana hati ini tak tenang jiwa ini resah dalam beraktivitas seperti biasa. Maksudnya? Ya aktivitas itu kegiatan. Bosan itu pengin keluar dari lingkaran rutinitas. Nah, ketemu juga akhirnya definisi yang pas. Pokoknya ya gitu. Bosan itu is bosan, boring, pengin keluar dari kehidupan. Loh, koq? Penging mati maksunya. Ya iya. Pengin mati. Betul itu. Tapi bukan mati orangnya, melainkan dimatikan sejenak kegiatan rutin yang biasa dilakukan.
Contohnya, gampang. Apa yang aku lakukan ini adalah untuk menghilangakan rasa bosan alias membuat otak fresh seketika. Dan, terbukti. Saat menuliskan bebas, tanpa tema, tanpa koreksi, mau salah kek, mau benar kek, mau nyambung, mau enggak, mau berbobot mau beringan. Terserah saja. Dan, tak perlu dibaca ulang. Kalaupun banyak yang salah eja, salah ketik. Wah, itu berarti karena belum terbiasa saja.
Coba deh, untuk pengetik dengan system sepuluh jari seperti aku ini. Banyak kemungkinan salah ketik. Gak percaya, coba aja baca tulisanku ini, dan hitung berapa huruf yang salah pencet. Satu hurus dihargai seratus perak. Berani? Tapi, maksimal Cuma seratus huruf loh. Karena kalau sampai lebih dari seratus huruf yang salh, itu berarti ketahuan bagnet klo jari-jariku ini tidak mudah dikendalikan. Jangan bilang otakku error ya…. Awas!
Hmm, lumayan kan. Sudah setengah jam berlalu tak berasa. Dan otakku rasanya fresh, seger gitu. Kalau saja anda merasakan sedang puasa, trus saat ini sudah jam lima sore. Atau setengah enem deh, menjelang buka puasa. Nah. Anda kebetulan sedang habis jalan dari kantor. maksudnya anda baru saja pulang kantor dengan berjalan kaki. boro-boro mobil, motor aja gakada. Sepeda aja Cuma minjem, makanya jalan kaki. saat badan setengah letih. Jangan letih banget. Trus, masuk kamar mandi, guyur sepuasnya. Mandi keramas. Seger kan? Nah, seperti itu rasanya otakku saat ini.
Ini berarti menunjukkan klo aku tuh bener-bener punya otak. Terbukti bisa merasakan segernya, gitu loh… he..he..he..
Pas jam delapan. Agnes monika nih. Mau dengerin?
Tertutup sudah pintu
Pintu hatiku
Pernah dibuka untuk hanya untukmu
Kini kau pergi dari hidupku
Ku harus relakanmu
Walau aku tak mau
Berjuta warna pelangi
Didalam hati
Sejenak luluh bergeming
Menjauh pergi
Tak ada lagi
Cahaya suci
Semua pudar beranjak aku terdiam sepi.
Dengarlah matahariku suara tangisanku, kubersedih karena panah cinta menusuk jantungku. Ucapkan matahariku berbisik tentang hidupku. Tentangku yang tak mampu mengatakan cinta.
Oh, berjuta warna pelangi didalam hati. Sejenak luluh bergeming menjauh pergi. Wah, udah kembali ke bait awal.
Asyik juga pagi-pagi datang kantor lebih awal. Nulis sekenanya, sambil dengerin musik. Apa saja yang terlintas dalam kepala, tulis sekenanya, tak perlu ada ejaan yang disempurnakan, tak perlu pake tata karma. Yang penting, tulis dan tuangkan dengan tulisan. Tujuan utama saya adalah melatih kesepuluh jari ini agar tak salah-salah lagi menulis. Dan ternyata, siapa yang mau koreksi hayo……
Gimana nih, terusin gak? Apanya? Nulisnya lah, masak tidur. Hmmm, gimana ya. Pengin berhenti, eh, lagunya bagus nih……
Kau rinduku jiwaku indah memnggil dirimu mataku terbangun untuk menanti menantimu. Jangan pernah kau ragukan cinta yang sesungguhnya itu bisa menghancukan semua buka begitu. aku sungguh masih sayang padamu, jangan sampai kau meninggalkan aku begitu sangat berharga dirimu bagiku. Kan ku pastikan saja dihatimu kan ku korbankan semuanya untukmu sungguh kuberharapkau pun begitu padaku.
Engkau rasakah cinta yang begitu kan mengesankan yang ku pasti dapatkan kemesraan yang penuh bintang…….
Hayooo… lagu apaan tuh yang coba ku ketik????
Udah ah… mau kencing dulu. Kebelet nih….
Jumat, 22 Agustus 2008
kuda australi
huh, cinta.
pemakan sukma
penelantar jiwa
penggerogos cita-cita
hingga akhirnya,
cinta memakan dirinya sendiriya,
benar.
saat tak ada lagi yang dimangsa
cinta memakan dirinya
aku tak perlu hati-hati sama cinta
hanya perlu waspada
kalau perlu,
tak usah mengenalnya.
tapi,
cinta yang mengenalku.
hingga ia tak berani hadir, karena takut denganku. ia harus mempersiapkan diri begitu kuat, walau saat hendak melirikku.
cinta,bukan apa-apa bagiku. aku bukan budak cinta, tapi cintalah budakku. ku kekang talinya, ku keluhi hidungnya, ku jerat kakinya. hingga tak berkutik kecuali atas perintahku.
saat ini, cinta akan ku kembalikan kepada Sang Pemilik.
pemakan sukma
penelantar jiwa
penggerogos cita-cita
hingga akhirnya,
cinta memakan dirinya sendiriya,
benar.
saat tak ada lagi yang dimangsa
cinta memakan dirinya
aku tak perlu hati-hati sama cinta
hanya perlu waspada
kalau perlu,
tak usah mengenalnya.
tapi,
cinta yang mengenalku.
hingga ia tak berani hadir, karena takut denganku. ia harus mempersiapkan diri begitu kuat, walau saat hendak melirikku.
cinta,bukan apa-apa bagiku. aku bukan budak cinta, tapi cintalah budakku. ku kekang talinya, ku keluhi hidungnya, ku jerat kakinya. hingga tak berkutik kecuali atas perintahku.
saat ini, cinta akan ku kembalikan kepada Sang Pemilik.
Kamis, 21 Agustus 2008
sebenarnya...
Sebenarnya, aku ingin jadi model
Tapi, aku tak tampan
Maka gagal
Sebenarnya, aku ingin jadi insinyur
Tapi, aku tak pintar
Maka gagal
Sebenarnya, aku ingin jadi penyanyi
Tapi, nyamuk pun terbangun dengar suaraku
Maka gagal
Sebenarnya, aku ingin jadi pejabat
Tapi, aku tak pandai korupsi
Maka gagal
Sebenarnya, aku ingin jadi pilot
Tapi, aku takut ketinggian
Maka gagal
Sebenarnya, aku ingin jadi presiden
Tapi, aku tak bisa memimpin
Maka gagal
Sebenarnya, aku ingin terbang
Tapi, aku tak punya sayap
Maka gagal
Sebenarnya, apa ya…..
Sebenarnya, aku ingin jadi pak dokter
Maka, kulamar saja bu dokter yang telah janda
Berhasilkah?
Tapi, aku tak tampan
Maka gagal
Sebenarnya, aku ingin jadi insinyur
Tapi, aku tak pintar
Maka gagal
Sebenarnya, aku ingin jadi penyanyi
Tapi, nyamuk pun terbangun dengar suaraku
Maka gagal
Sebenarnya, aku ingin jadi pejabat
Tapi, aku tak pandai korupsi
Maka gagal
Sebenarnya, aku ingin jadi pilot
Tapi, aku takut ketinggian
Maka gagal
Sebenarnya, aku ingin jadi presiden
Tapi, aku tak bisa memimpin
Maka gagal
Sebenarnya, aku ingin terbang
Tapi, aku tak punya sayap
Maka gagal
Sebenarnya, apa ya…..
Sebenarnya, aku ingin jadi pak dokter
Maka, kulamar saja bu dokter yang telah janda
Berhasilkah?
Jumat, 18 Juli 2008
setan laknat
otakmu basi
tak perlu kau sanggah
langsung aku kasih bukti
setiap kau bicara
aroma mulutmu bau sekali
satu saat
kau tunggal, begitu kuat
lain saat
kau menjelma empat
menyerangku,
dari penjuru yang juga empat
setan laknat
kau-lah makhluk jadi-jadian
hidupmu antara dua tempat
desismu menyeruak
menyelusup
merasuki tubuh-tubuh manusia sekarat
satu celah menghindar darimu
nunduk, introspeksi diri
mendongak, munajad ke haridar Robbi
tak perlu kau sanggah
langsung aku kasih bukti
setiap kau bicara
aroma mulutmu bau sekali
satu saat
kau tunggal, begitu kuat
lain saat
kau menjelma empat
menyerangku,
dari penjuru yang juga empat
setan laknat
kau-lah makhluk jadi-jadian
hidupmu antara dua tempat
desismu menyeruak
menyelusup
merasuki tubuh-tubuh manusia sekarat
satu celah menghindar darimu
nunduk, introspeksi diri
mendongak, munajad ke haridar Robbi
Senin, 14 Juli 2008
jago kluruk
esuk-esuk sarapan gethuk
sekolah ngantuk-antuk
krungu jago kluruk
rasane kaya isih esuk
krasa bathuk kena thuthuk
aku ngimpi ketiban bluluk
jebule pak guru nuthuk bathuk
aku manthuk-manthuk
ngrasakke bathuk kena thuthuk
hidupku cuma mimpi
kepalaku penuh ilusi
tak ada memang harus diratapi
segala langkah hanya menepati janji
janji,
ya, janji atas ketentuan ilahi
menuju pintu mati
untuk bertemu, hidup abadi
sekolah ngantuk-antuk
krungu jago kluruk
rasane kaya isih esuk
krasa bathuk kena thuthuk
aku ngimpi ketiban bluluk
jebule pak guru nuthuk bathuk
aku manthuk-manthuk
ngrasakke bathuk kena thuthuk
hidupku cuma mimpi
kepalaku penuh ilusi
tak ada memang harus diratapi
segala langkah hanya menepati janji
janji,
ya, janji atas ketentuan ilahi
menuju pintu mati
untuk bertemu, hidup abadi
Selasa, 01 April 2008
janda kembang
Sri, penjual kopiHari itu hari minggu pagi, aku baru saja bertolak dari stasiun kutoarjo.Kereta sawunggalih utama tujuan stasiun pasar senen Jakarta menjadipilihaku untuk kembali bertolak dari jogja mengejar rutinitas senin pagi.Berangkat pukul 07:05.Kopi mas…. Energen, jahe anget, kopi susu, atau popmie juga ada. Biar gakngantuk mas…”Di tengah asyik membaca tulisan “sembilan elemen jurnalisme” kupasan daribuku the elements of journalism “what newspople should know and the publicshould expect oleh bill kovach dan tom rosenstiel”salah satu bloger yangsengaja aku print, telingaku mendengar sapaan lembut seorang wanitapedagang asong kereta sawunggalih utama kutoarjo. Lembut, mendesah, sexi,genit bahasa gaulnya tak pelak lagi wajahku mendongak mencari sumber suaratersebut.Deg !Jantung lelakiku mendadak berdegup sesaat dua kali lebih cepat dari normal.Wanita itu menawarkan asongannya setengah jongkok persis didepanku. Bibirmerah menyala dipoles lipstick murahan, bedak putih memenuhi wajah, alisdikerok diganti dengan tato hitam mengkilap. Satu lagi yang mengikattatapanku malas beranjak adalah belahan dada sedikit tersembul mengundangpenasaran.“ayo mas, kopi panas, kopi susu biar anget tidak lemes” rayunya.Sebenarnya aku cukup terusik dengan rayuan itu karena sedang konsenmembaca, herannya mataku tetap lekap mengamati dari ujung rambut sampaiujung kaki, lagi² tatapanku berhenti di seputar dada. Lebih mengejutkanlagi ia tak merasa risih dengan tatapan penuh persepsi dari calon pembeli.Celana jeans warna biru, kaos oblong kuning menyala ketat membentukbayangan body mengundang berpasang mata untuk terus menatap, penumpang yangduduk dikursi seberang juga memperhatikan bagian pinggul yang pasitkelihatan kulit putihnya. Herannya kenapa aku yang harus ia dekati, padahal
jelas² aku sedang pegang kertas serius membaca. “ya iya lah, disekitar akududuk aku yang paling muda paling ganteng” batinku kumat narsisnya.“aku ndak biasa ngopi mbak, klo susu boleh juga sich tapi yang gak pakegelas ada gak ?” tanyaku mencoba menyembunyikan kesal terusik keasyikanmembaca.“susu gak pake gelas ? kanan kiri atau kiri aja mas ?” penumpang lainnyeletuk. Agaknya tanggap apa yang menjadi banyolan konyolku. Dari awalperjalanan ia hanya diam ngelepus rokok saingan sama lokomotif, giliran adaasong melek juga matanya.Aku kira mbak pengasong akan tersipu, tapi malah semakin genit dengan terusberjongkok mengembankan senyum yang aku akui cukup manis. Kulit lumayanbersih walau jauh dari impian, body juga tak kalah disbanding luna dewipersik beda kemasan dan beda nasib tentunya. Umur tak lebih dari 20, rambutpendek sebatas leher. Tak ada anting atau giwang menghiasi kuping. Benar²simbul wanita kereta pedagang asongan. Simbul pengais recehan dari parapenumpang kereta pulang kampung.“Ayo dong mas, jahe anget biar tambah sumringah perjalanannya. Jakartamasih jauh.” Tak henti tersenyum bibir mungil itu terus saja mencari celahbagaimana caranya agar calon pembeli benar² tertarik.“ya udah, bikinin aku jahe wangi satu. Duduknya gak usah nglesot dibawah,disini saja sebelahku kursinya kosong koq.” Aku menyerah juga akhirnya,melipat kertas yang tadi aku baca. Sebersitpun tak ada keinginan untukminum jahe apalagi kopi. Dalam perjalanan panjang jogja Jakarta aku lebihsering mebaca atau kalau sudah capek tidur. Ngobrol dengan penumpanglainpun hanya sekedar ramah tamah tegur sapa biasa biar gak kaku² amat.“masih muda kelayapan dikereta, gak dirumah aja mbantuin emak ? tanyaku.“Ini juga buat mbantuin ibu, nyari duit”“umur kamu paling 20 an, cantik lagi. Kenapa ga cari kerjaan lain aja. Bukatoko dirumah, warung kecil²an, atau dagang dipasar. Pacarmu ndak keberatan
kamu jualan seperti ini dikereta ?”“saya janda koq mas, baru dua bulan ini. Suami saya kabur ndak balik lagi.Untungnya saja belum punya anak, idiiihhh… mas sok tahu ah, orang saya baru18 tahun koq. Pacar belu ada mas, emangnya mas mau sama saya ?”Gedubrak…!!!18 tahun ? janda ? janda kembang pula ???ternyata perjalanan kereta hari ini membuka wawasan tentang duniaperkawinan. Artis sinetron layar lebar atau sekedar dunia foto model takhabis² kawin cerai. Gadis² asong kereta pun tak kalah menarik jikadimasukkan dalam berita infotainment. bedanya dunia artis untukmempertahankan popularitas sedangkan dunia asongan hanya sekedar kopinyalaku.Satu trik cukup menarik dan mempunyai persamaan adalah eksploitasi phisikuntuk mendukung apa yang dijajakannya. Contoh paling nyata adalah kejadiansaya alami diatas, dimana sebenarnya saya ndak butuh² amat minum jahewangi, tapi karena factor “belahan dada” yang membuat mata menjadi betahakhirnya kemakan juga. Tak hanya berhenti sampai disitu, setelah terjadiobrolan dan senda gurau ( walau gurauan konyol ) antara saya dengan penjajaasongan tadi, penumpang sekitar saya duduk juga ikut nimbrung dengansahut²an saling komentar. Efeknya mereka jadi ikut minum kopi, kopi susu,suplemen, bahkan popmie ada yang sampai nambah dua kali. Kalau saya hitung²ada sekitar 15 orang di tempat itu yang beli asongan dia.Sekali tepuk 15 nyamuk klepek², sekali rayu seseorang 15 lainnya ikutmembeli. Secara system komisi seharusnya saya tak perlu membayar padaasongan tadi. Toch hanya saya yang tadinya ia tawari untuk minum, dengansaya persilahkan duduk disebelah saya, kemudian ngobrol ternyata malahmenarik perhatian lainnya. Hanya satu modal gadis tadi, genitnya mintaampun, bibir tipis dandanan menyolok kemudian mampu memilah calon pelangganyang tepat untuk mau nyambung diajak ngobrol. Naik kereta gratis, dapat
duduk manis, dagangan laku.“ohh… sri, pantesan 18 tahun sudah janda. Ternyata kamu hanya jualan kopi.Cinta bagimu hanya semu. Sesemu para artis di dalam tv yang terus mencaripopularitas diri.” Gumanku mengiringi kepergian sri si janda kembangpedagang asongan kereta. Meski ia telah sempat menikah namun tetap tak mautinggal dirumah ngurus keluarga. “gak bebas mas, sudah dari kecil hidupdiluar klo dirumah terus sumpeq.”
jelas² aku sedang pegang kertas serius membaca. “ya iya lah, disekitar akududuk aku yang paling muda paling ganteng” batinku kumat narsisnya.“aku ndak biasa ngopi mbak, klo susu boleh juga sich tapi yang gak pakegelas ada gak ?” tanyaku mencoba menyembunyikan kesal terusik keasyikanmembaca.“susu gak pake gelas ? kanan kiri atau kiri aja mas ?” penumpang lainnyeletuk. Agaknya tanggap apa yang menjadi banyolan konyolku. Dari awalperjalanan ia hanya diam ngelepus rokok saingan sama lokomotif, giliran adaasong melek juga matanya.Aku kira mbak pengasong akan tersipu, tapi malah semakin genit dengan terusberjongkok mengembankan senyum yang aku akui cukup manis. Kulit lumayanbersih walau jauh dari impian, body juga tak kalah disbanding luna dewipersik beda kemasan dan beda nasib tentunya. Umur tak lebih dari 20, rambutpendek sebatas leher. Tak ada anting atau giwang menghiasi kuping. Benar²simbul wanita kereta pedagang asongan. Simbul pengais recehan dari parapenumpang kereta pulang kampung.“Ayo dong mas, jahe anget biar tambah sumringah perjalanannya. Jakartamasih jauh.” Tak henti tersenyum bibir mungil itu terus saja mencari celahbagaimana caranya agar calon pembeli benar² tertarik.“ya udah, bikinin aku jahe wangi satu. Duduknya gak usah nglesot dibawah,disini saja sebelahku kursinya kosong koq.” Aku menyerah juga akhirnya,melipat kertas yang tadi aku baca. Sebersitpun tak ada keinginan untukminum jahe apalagi kopi. Dalam perjalanan panjang jogja Jakarta aku lebihsering mebaca atau kalau sudah capek tidur. Ngobrol dengan penumpanglainpun hanya sekedar ramah tamah tegur sapa biasa biar gak kaku² amat.“masih muda kelayapan dikereta, gak dirumah aja mbantuin emak ? tanyaku.“Ini juga buat mbantuin ibu, nyari duit”“umur kamu paling 20 an, cantik lagi. Kenapa ga cari kerjaan lain aja. Bukatoko dirumah, warung kecil²an, atau dagang dipasar. Pacarmu ndak keberatan
kamu jualan seperti ini dikereta ?”“saya janda koq mas, baru dua bulan ini. Suami saya kabur ndak balik lagi.Untungnya saja belum punya anak, idiiihhh… mas sok tahu ah, orang saya baru18 tahun koq. Pacar belu ada mas, emangnya mas mau sama saya ?”Gedubrak…!!!18 tahun ? janda ? janda kembang pula ???ternyata perjalanan kereta hari ini membuka wawasan tentang duniaperkawinan. Artis sinetron layar lebar atau sekedar dunia foto model takhabis² kawin cerai. Gadis² asong kereta pun tak kalah menarik jikadimasukkan dalam berita infotainment. bedanya dunia artis untukmempertahankan popularitas sedangkan dunia asongan hanya sekedar kopinyalaku.Satu trik cukup menarik dan mempunyai persamaan adalah eksploitasi phisikuntuk mendukung apa yang dijajakannya. Contoh paling nyata adalah kejadiansaya alami diatas, dimana sebenarnya saya ndak butuh² amat minum jahewangi, tapi karena factor “belahan dada” yang membuat mata menjadi betahakhirnya kemakan juga. Tak hanya berhenti sampai disitu, setelah terjadiobrolan dan senda gurau ( walau gurauan konyol ) antara saya dengan penjajaasongan tadi, penumpang sekitar saya duduk juga ikut nimbrung dengansahut²an saling komentar. Efeknya mereka jadi ikut minum kopi, kopi susu,suplemen, bahkan popmie ada yang sampai nambah dua kali. Kalau saya hitung²ada sekitar 15 orang di tempat itu yang beli asongan dia.Sekali tepuk 15 nyamuk klepek², sekali rayu seseorang 15 lainnya ikutmembeli. Secara system komisi seharusnya saya tak perlu membayar padaasongan tadi. Toch hanya saya yang tadinya ia tawari untuk minum, dengansaya persilahkan duduk disebelah saya, kemudian ngobrol ternyata malahmenarik perhatian lainnya. Hanya satu modal gadis tadi, genitnya mintaampun, bibir tipis dandanan menyolok kemudian mampu memilah calon pelangganyang tepat untuk mau nyambung diajak ngobrol. Naik kereta gratis, dapat
duduk manis, dagangan laku.“ohh… sri, pantesan 18 tahun sudah janda. Ternyata kamu hanya jualan kopi.Cinta bagimu hanya semu. Sesemu para artis di dalam tv yang terus mencaripopularitas diri.” Gumanku mengiringi kepergian sri si janda kembangpedagang asongan kereta. Meski ia telah sempat menikah namun tetap tak mautinggal dirumah ngurus keluarga. “gak bebas mas, sudah dari kecil hidupdiluar klo dirumah terus sumpeq.”
Langganan:
Postingan (Atom)