Ketika bumi terbelah
Ketika air laut membuncah
Ketika halilintar bersahut marah
Ku ingin, tubuh ini segera ditelan bumi
Lenyap, ke negeri antah berantah
Aku putus cinta (duh, segitunya)
Kembali, Ari –Kinoysan- Wulandari menyempatkan diri (disela penggarapan buku-buku yang lain) menyapa para jomblowati yang sempat frustrasi menanti jodoh, tak kunjung tiba. Membaca kisah-kisah dalam buku “Jodoh Cinta”, begitu mendayu-dayu. Perasaan pembaca benar-benar tersedot habis. Bahasa yang dipakai penulis pun sangat enjoy dan komunikatif. Menjadikannya ringan dan enteng dibaca, mudah diserap, meski sebenarnya berat bagi pembaca yang berperasaan sensitif.
Tak diperlukan harus membaca satu halaman full untuk membuat anda baru terikat mata, terbelenggu tangan, untuk selanjutnya tak berdaya melepaskan diri dari rasa “terenyuh” dan terpesona. Cukup satu paragraf. Ya, benar. Satu paragraf telah cukup membetot perhatian anda, pembaca, menyimpulkan urat syaraf perasaan, penuh memperhatikan makna demi makna setiap alur cerita
Kisah pertama, bagaimana sesosok wajah tirus Ambar Santi terjebak dalam cinta semu penuh harap. Bagaimana perjuangan dan pengorbanan untuk Hamdan, lelaki pujaannya. Satu kantor, tiap hari ketemu, apa yang menjadi kesulitan Hamdan selalu dibantu, tapi akhirnya? Semua untaian kata diramu dan diracik dengan segenap kepiawaian penulis yang tidak diragukan lagi.
Anda tahu, pembaca, makhluk apa yang paling kuat di dunia ini? Wanita. Ya, wanita. Dalam genangan air mata darah di kedua pelupuk mata, seorang Ambar Santi yang dengan rela dan tulus berkorban demi karir Hamdan, empat tahun menunggu. Hingga saatnya hendak meminta kepastian hubungan, Hamdan dan Titi, menyerahkan undangan pernikahan. Nafas anda masih sanggup bergerak bebas, menghadapi polemik seperti ini? Tersenyum? Tiba-tiba saja menginginkan bumi segera meledak, lenyap segala peri hidup. Egois ya.
Buku ini, memuat kisah-kisah para jomblowati diatas tigapuluhan yang difiksikan. Setelah diramu sedemikian rupa tentunya. Cerdiknya seorang Kinoysan, aneka tip bagaimana memupuk kesabaran, bagaimana tetap tegar, tidak berlarut dalam kesedihan, selalu berserah diri pada Tuhan dalam menanti jodoh, dijabarkan dalam buku ini. Bukan itu saja, referensi buku apa yang layak dibaca, dicantumkan pula dalam akhir bab.
Bagaimana rambu-rambu saat didekati, ataupun mendekati “calon” jodoh pun tak ketiggalan dikupas menjadi trik-trik jitu dan lebih masuk akal. Gak bakalah lagi deh, mengharap bumi meledak. Ingin hidup lebih lama lagi malah.
Penulis memang lihai dan paham, bagaimana memancing “rasa” pembaca untuk seolah-olah menjadi pelaku utama. Grafik ikatan emosional, begitu menyelusup, kuat, dibangun dari kalimat demi kalimat dari awal hingga akhir cerita. Awal yang menarik, meninggi, puncak airmata kesedihan, turun perlahan. Dan, ending yang diciptakan begitu tuntas. Membuat pembaca yang berkali-kali menahan nafas, tersenyum lega. Full of smile. Full of spirit. Membuka pengharapan dan hati semakin tabah, sabar, kuat dalam menanti jodoh.
Pernah lihat seorang gadis, nekat naik menara listrik? Apa yang dilakukan diatas sana? Pasang kabel connector baru? Tentu bukan. Tuh anak mau bunuh diri. Anehnya, saat sampai dipuncak menara 150 meter diatas tanah, gadis itu malah bengong. Burung bagau putih hinggap di pundaknya, mendadak pula si gadis memahami bahasa burung.
“Hai, gadis cantik. Lebaran depan telah ada seorang pria yang akan meminangmu. Aku diutus kesini untuk memberitahukan hal ini kepadamu” kata burung.
Olala, urung deh bunuh diri. Hanya saja, ketika hendak turun, bingung. “bangau, turunkanlah aku” pintanya. Nah lho, patah hati ternyata bisa membuat gadis manis memanjat menara. Apa mesti patah hati lagi untuk berani turun? Coba, ia baca buku kinoysan “Jodoh Cinta”, tak bakalan deh naik menara. Capek.
Adakah yang lebih indah dari sanggup bersyukur dan bersabar? Untuk jomblowati, tak usah khawatir. Berbesar hatilah. Membaca “Jodoh Cinta” ini, batin anda tercerahkan. Dan, saya tak perlu menjadi burung bangau putih untuk menolongmu.
Satu lagi. Lembar terakhir buku ini, berisi ucapan terimakasih penulis untuk orang-orang yang dikasihinya. “terimakasih kepada…. (point a, b, c, d, e) dan point “f” nya itu loh. “yang terakhir, …………..(kamu, yang telah membaca buku ini). Titik-titik ini bisa diisi oleh pembaca. So, tunggu apa lagi? Beli bukunya, baca, dan isikan nama kamu disitu.
Judul buku : Jodoh Cinta
Penulis : Kinoysan
Penerbit : Lingkar Pena Kreativa, Depok
Tebal : 218 halaman.
Rabu, 27 Agustus 2008
Enter the Writing
“Kita butuh makna emosi, bukan marah. Jangan berfikir, gunakan perasaan. Seperti saat jari menunjuk bulan, jangan konsentrasi pada telunjuk. Engkau akan kehilangan keindahan bulan. Kendalimu bukan di otak, tapi, perasaan”.
Masih ingat Bruce Lee? Dialog diatas dikatakan oleh tokoh legendaries itu dalam film “Enter the Dragon”. Tidak sama persis memang, tapi, kria-kira seperti itulah. Badannya kecil, pejal, bagaikan otot keseluruhan. Peradaban Cina dalam hal beladiri, boleh dikatakan berawal dari kepiawaian Bruce Lee dalam meramu seni beladiri JetKundo.
Bagaimana dengan dunia penulisan?
Ingat Bruce Lee dengan teknik beladirinya, saya jadi melayangkan khayalan ke Banjarbaru. Sebuah padepokan tempat menetasnya para pemikir modern, Universitas Lambung Mangkurat. Ada seorang dosen, dengan gaya unik, rambut gondrong, kalau nulis enak banget dibaca. Pas untuk segala suasana.
Gaya tulisannya ringan, mudah dicerna, dan jargonnya itu lho, “bagaimana dengan sampeyan”, tak pernah ketinggalan disetiap akhir tulisan. “Menulis dengan Gembira”, merupakan salah satu buah karya dari hentakan sebelas jari bukti kreativitas dan produktititasnya. Ersis Warmansyah Abbas.
Imaginasi nakal, sesekali penulis lontarkan dalam buku ini. “Dengan kandungan pesan yang ingin saya landaskan –bukan tandas lho, di Malaysia tandas artinya kencing-“, tulisnya.
Dengan sapaan “nyentrik” seperti ini, menjadikan tidak jengah membaca lembar demi lembar buku ini. Provokasi yang terkandung pelan, tapi pasti, menyerusup dalam relung perasaan pembaca. Catat, bukan sekedar pikiran, tapi, sampai taraf perasaan. Ini merupakan cerminan dari usaha keinginan tidak main-main dari penulis untuk menciptakan paradigma “Menulis dapat dilakukan dengan gembira”. Benar-benar gembira, mengalir dari hulu hingga hilir.
Sebagaimana dikatakan “EWA tak pernah tidak bersemangat kalau diajak diskusi soal tulis menulis, sesuatu yang ditempatkan pada posisi sangat istimewa, jauh lebih penting dari apapun juga. Mudah-mudahan kecuali Tuhan” (pengantar, hal. xiv). Si penulis benar-benar berjiwa idealis dan bertekat untuk mengubah peradaban dengan menggalakkan dunia tulis menulis. Provokasinya terus mengalir sepanjang halaman buku, dari lembar pertama sampai penutup. Tak heran, begitu membuka lembar pertama buku ini, tak rela untuk menundanya esok pagi untuk membaca sampai tuntas.
Disamping sapaan dengan imaginasi yang terkadang liar, secara bercanda pun penulis cantumkan dalam buku ini. Seperti hal. 6, bab I Menulis bak Bersendaugurau, sapaan terhadap pembaca yang dipakai ialah “… bingung? Syukur, pertanda sampeyan masih sadar, masih berfikir”. Bagaimana? Terasa akrab kan? Serasa sedang duduk manis dibangku kuliah sambil mendengarkan pak dosen menerangkan dengan asyik, menarik, dan mengundang senyum audien saat-saat tak terduga.
Simak pula, ketika masuk pada pokok pembahasan yang mengajak pembaca untuk tidak takut ataupun merasa sulit dalam menulis, “sudahlah, menulis itu lebih lembut dari ubur-ubur, lebih renyah dari keripik udang, senyaman hamparan permadani rumput, lebih indah dari Niagara waterfall”, hal. 8. Ada juga pada hal. 91, “menulis, bukan kriminal koq. Kalau tidak mau menanggung resiko, jangan berbuat apa-apa. Duduk manis, good boy, good girl”, katanya memotivasi.
Boleh saja dikategorikan kelemahan, bagi pembaca yang berkarakter tidak suka digurui, akan sedikit terhenyakkan saat membaca buku ini. Hanya saja, buku “Menulis dengan Gembira” ini, sangat pas untuk kalangan penulis pemula. Terlebih lagi yang masih suka macet dan bengong didepan komputer kehabisan kata-kata saat menuliskan isi kepala. Yang jelas, bahasanya mengalir begitu saja, seakan pembaca terlibat secara langsung. Bagaimana sih, rasanya melakukan suatu kegiatan dengan perasaan senang dan gembira?
Memang, “teknik tertinggi adalah tidak ada teknik. Saat ada kesempatan menyerang, aku tak memukul. Tanganku bergerak sendiri.” Kata Bruce Lee. Menulis pun begitu. Saat ada kesempatan menulis, pikiran, tangan, imaginasi, bergerak dengan sendirinya. Berpadu. Menulis seperti halnya air yang mengalir menuju tempat lebih rendah. Tak terasa, tak ada beban, karena begitu gembira. Hasilnya? Artikel, opini, buku, jadi begitu saja. Cara penulis dalam menggiring pembaca, begitu memukau. Hingga, yang digiring pun tak merasa mengikuti langkah demi langkah penjelasan dan penjabaran penulis.
Hati-hati membaca buku ini. Kalau anda “mendadak menulis”, bisa kena cekal sama Titi Kamal. Dianggap telah menjiplak inspirasi dari judul lagu “mendadak dangdut”. Atau tiba-tiba saja anda menciptakan “jurus/aliran” baru penulisan begitu selesai membaca. Watawww…!
Judul buku : Menulis dengan Gembira
Penulis : Ersis Warmansyah Abbas
Penerbit : GAMA MEDIA, Yogyakarta
Cetakan pertama : Agustus 2008
Tebal : 245 halaman
Masih ingat Bruce Lee? Dialog diatas dikatakan oleh tokoh legendaries itu dalam film “Enter the Dragon”. Tidak sama persis memang, tapi, kria-kira seperti itulah. Badannya kecil, pejal, bagaikan otot keseluruhan. Peradaban Cina dalam hal beladiri, boleh dikatakan berawal dari kepiawaian Bruce Lee dalam meramu seni beladiri JetKundo.
Bagaimana dengan dunia penulisan?
Ingat Bruce Lee dengan teknik beladirinya, saya jadi melayangkan khayalan ke Banjarbaru. Sebuah padepokan tempat menetasnya para pemikir modern, Universitas Lambung Mangkurat. Ada seorang dosen, dengan gaya unik, rambut gondrong, kalau nulis enak banget dibaca. Pas untuk segala suasana.
Gaya tulisannya ringan, mudah dicerna, dan jargonnya itu lho, “bagaimana dengan sampeyan”, tak pernah ketinggalan disetiap akhir tulisan. “Menulis dengan Gembira”, merupakan salah satu buah karya dari hentakan sebelas jari bukti kreativitas dan produktititasnya. Ersis Warmansyah Abbas.
Imaginasi nakal, sesekali penulis lontarkan dalam buku ini. “Dengan kandungan pesan yang ingin saya landaskan –bukan tandas lho, di Malaysia tandas artinya kencing-“, tulisnya.
Dengan sapaan “nyentrik” seperti ini, menjadikan tidak jengah membaca lembar demi lembar buku ini. Provokasi yang terkandung pelan, tapi pasti, menyerusup dalam relung perasaan pembaca. Catat, bukan sekedar pikiran, tapi, sampai taraf perasaan. Ini merupakan cerminan dari usaha keinginan tidak main-main dari penulis untuk menciptakan paradigma “Menulis dapat dilakukan dengan gembira”. Benar-benar gembira, mengalir dari hulu hingga hilir.
Sebagaimana dikatakan “EWA tak pernah tidak bersemangat kalau diajak diskusi soal tulis menulis, sesuatu yang ditempatkan pada posisi sangat istimewa, jauh lebih penting dari apapun juga. Mudah-mudahan kecuali Tuhan” (pengantar, hal. xiv). Si penulis benar-benar berjiwa idealis dan bertekat untuk mengubah peradaban dengan menggalakkan dunia tulis menulis. Provokasinya terus mengalir sepanjang halaman buku, dari lembar pertama sampai penutup. Tak heran, begitu membuka lembar pertama buku ini, tak rela untuk menundanya esok pagi untuk membaca sampai tuntas.
Disamping sapaan dengan imaginasi yang terkadang liar, secara bercanda pun penulis cantumkan dalam buku ini. Seperti hal. 6, bab I Menulis bak Bersendaugurau, sapaan terhadap pembaca yang dipakai ialah “… bingung? Syukur, pertanda sampeyan masih sadar, masih berfikir”. Bagaimana? Terasa akrab kan? Serasa sedang duduk manis dibangku kuliah sambil mendengarkan pak dosen menerangkan dengan asyik, menarik, dan mengundang senyum audien saat-saat tak terduga.
Simak pula, ketika masuk pada pokok pembahasan yang mengajak pembaca untuk tidak takut ataupun merasa sulit dalam menulis, “sudahlah, menulis itu lebih lembut dari ubur-ubur, lebih renyah dari keripik udang, senyaman hamparan permadani rumput, lebih indah dari Niagara waterfall”, hal. 8. Ada juga pada hal. 91, “menulis, bukan kriminal koq. Kalau tidak mau menanggung resiko, jangan berbuat apa-apa. Duduk manis, good boy, good girl”, katanya memotivasi.
Boleh saja dikategorikan kelemahan, bagi pembaca yang berkarakter tidak suka digurui, akan sedikit terhenyakkan saat membaca buku ini. Hanya saja, buku “Menulis dengan Gembira” ini, sangat pas untuk kalangan penulis pemula. Terlebih lagi yang masih suka macet dan bengong didepan komputer kehabisan kata-kata saat menuliskan isi kepala. Yang jelas, bahasanya mengalir begitu saja, seakan pembaca terlibat secara langsung. Bagaimana sih, rasanya melakukan suatu kegiatan dengan perasaan senang dan gembira?
Memang, “teknik tertinggi adalah tidak ada teknik. Saat ada kesempatan menyerang, aku tak memukul. Tanganku bergerak sendiri.” Kata Bruce Lee. Menulis pun begitu. Saat ada kesempatan menulis, pikiran, tangan, imaginasi, bergerak dengan sendirinya. Berpadu. Menulis seperti halnya air yang mengalir menuju tempat lebih rendah. Tak terasa, tak ada beban, karena begitu gembira. Hasilnya? Artikel, opini, buku, jadi begitu saja. Cara penulis dalam menggiring pembaca, begitu memukau. Hingga, yang digiring pun tak merasa mengikuti langkah demi langkah penjelasan dan penjabaran penulis.
Hati-hati membaca buku ini. Kalau anda “mendadak menulis”, bisa kena cekal sama Titi Kamal. Dianggap telah menjiplak inspirasi dari judul lagu “mendadak dangdut”. Atau tiba-tiba saja anda menciptakan “jurus/aliran” baru penulisan begitu selesai membaca. Watawww…!
Judul buku : Menulis dengan Gembira
Penulis : Ersis Warmansyah Abbas
Penerbit : GAMA MEDIA, Yogyakarta
Cetakan pertama : Agustus 2008
Tebal : 245 halaman
Senin, 25 Agustus 2008
kereta jawa (translate dari emprit gantil)
kalau sudah tiba saatnya semua manusia
sampai pastinya habis kontrak
jatah umur dari Tuhan
sudah jamak yang namanya manusia
ada yang bersifat baik, juga jelek
saling ingat-mengingatkan lebih utama
dari sekedar menuruti nafsu angkara
serakah mburu senang yang hanya sementara
lupa dengan kebahagiaan yang lebih utama
dengarkan suaraku,
tiada guna emas dan harta kekayaan
pakaian rapi, serba indah
ditinggal semua, kecuali selembar kain kafan
hanya kelakuan baik bisa membuatmu segar seperti air
keberangkatanmu teriring hujan tangis
kendaraannya kereta jawa
yang rodanya dari manusia
namanya keranda
menuju tanah yang sudah tua (kuburan)
tidak ada kasur, bantal, guling atau selimut
tidak ada pintu, jendela atau ventilasi udara
meskipun ke utara, ke selalatan, ke barat atau ke timur (langkahmu sebelumnya)
hanya satu jalan yang sebenarnya dituju
dunia ini memang panggung sandiwara (canda)
tidak ada calon dokter, pilot ataupun calon insinyur
apalagi kapal terbang
yang ada hanya siksa kubur
meskipun isterimu cantik, tetap saja kau tinggal
hanya bikin senang siapa yang menemukan (ngawinin jandanya)
harta banyak, bikin kaya tak terperikan
tidak mungkin dibawa selama perjalanan
bahkan, salah-salah malah
anak, saudara jauh, saudara dekat, pukul-pukulan
tidak jarang saling gigit, rebutan warisan
ingat,
kadang hidup sekedar menjadi bulu mata.
Penghias manis bagi diri,Kadang rontok tiada guna.
sampai pastinya habis kontrak
jatah umur dari Tuhan
sudah jamak yang namanya manusia
ada yang bersifat baik, juga jelek
saling ingat-mengingatkan lebih utama
dari sekedar menuruti nafsu angkara
serakah mburu senang yang hanya sementara
lupa dengan kebahagiaan yang lebih utama
dengarkan suaraku,
tiada guna emas dan harta kekayaan
pakaian rapi, serba indah
ditinggal semua, kecuali selembar kain kafan
hanya kelakuan baik bisa membuatmu segar seperti air
keberangkatanmu teriring hujan tangis
kendaraannya kereta jawa
yang rodanya dari manusia
namanya keranda
menuju tanah yang sudah tua (kuburan)
tidak ada kasur, bantal, guling atau selimut
tidak ada pintu, jendela atau ventilasi udara
meskipun ke utara, ke selalatan, ke barat atau ke timur (langkahmu sebelumnya)
hanya satu jalan yang sebenarnya dituju
dunia ini memang panggung sandiwara (canda)
tidak ada calon dokter, pilot ataupun calon insinyur
apalagi kapal terbang
yang ada hanya siksa kubur
meskipun isterimu cantik, tetap saja kau tinggal
hanya bikin senang siapa yang menemukan (ngawinin jandanya)
harta banyak, bikin kaya tak terperikan
tidak mungkin dibawa selama perjalanan
bahkan, salah-salah malah
anak, saudara jauh, saudara dekat, pukul-pukulan
tidak jarang saling gigit, rebutan warisan
ingat,
kadang hidup sekedar menjadi bulu mata.
Penghias manis bagi diri,Kadang rontok tiada guna.
Jumat, 22 Agustus 2008
kuda australi
huh, cinta.
pemakan sukma
penelantar jiwa
penggerogos cita-cita
hingga akhirnya,
cinta memakan dirinya sendiriya,
benar.
saat tak ada lagi yang dimangsa
cinta memakan dirinya
aku tak perlu hati-hati sama cinta
hanya perlu waspada
kalau perlu,
tak usah mengenalnya.
tapi,
cinta yang mengenalku.
hingga ia tak berani hadir, karena takut denganku. ia harus mempersiapkan diri begitu kuat, walau saat hendak melirikku.
cinta,bukan apa-apa bagiku. aku bukan budak cinta, tapi cintalah budakku. ku kekang talinya, ku keluhi hidungnya, ku jerat kakinya. hingga tak berkutik kecuali atas perintahku.
saat ini, cinta akan ku kembalikan kepada Sang Pemilik.
pemakan sukma
penelantar jiwa
penggerogos cita-cita
hingga akhirnya,
cinta memakan dirinya sendiriya,
benar.
saat tak ada lagi yang dimangsa
cinta memakan dirinya
aku tak perlu hati-hati sama cinta
hanya perlu waspada
kalau perlu,
tak usah mengenalnya.
tapi,
cinta yang mengenalku.
hingga ia tak berani hadir, karena takut denganku. ia harus mempersiapkan diri begitu kuat, walau saat hendak melirikku.
cinta,bukan apa-apa bagiku. aku bukan budak cinta, tapi cintalah budakku. ku kekang talinya, ku keluhi hidungnya, ku jerat kakinya. hingga tak berkutik kecuali atas perintahku.
saat ini, cinta akan ku kembalikan kepada Sang Pemilik.
Kamis, 21 Agustus 2008
sebenarnya...
Sebenarnya, aku ingin jadi model
Tapi, aku tak tampan
Maka gagal
Sebenarnya, aku ingin jadi insinyur
Tapi, aku tak pintar
Maka gagal
Sebenarnya, aku ingin jadi penyanyi
Tapi, nyamuk pun terbangun dengar suaraku
Maka gagal
Sebenarnya, aku ingin jadi pejabat
Tapi, aku tak pandai korupsi
Maka gagal
Sebenarnya, aku ingin jadi pilot
Tapi, aku takut ketinggian
Maka gagal
Sebenarnya, aku ingin jadi presiden
Tapi, aku tak bisa memimpin
Maka gagal
Sebenarnya, aku ingin terbang
Tapi, aku tak punya sayap
Maka gagal
Sebenarnya, apa ya…..
Sebenarnya, aku ingin jadi pak dokter
Maka, kulamar saja bu dokter yang telah janda
Berhasilkah?
Tapi, aku tak tampan
Maka gagal
Sebenarnya, aku ingin jadi insinyur
Tapi, aku tak pintar
Maka gagal
Sebenarnya, aku ingin jadi penyanyi
Tapi, nyamuk pun terbangun dengar suaraku
Maka gagal
Sebenarnya, aku ingin jadi pejabat
Tapi, aku tak pandai korupsi
Maka gagal
Sebenarnya, aku ingin jadi pilot
Tapi, aku takut ketinggian
Maka gagal
Sebenarnya, aku ingin jadi presiden
Tapi, aku tak bisa memimpin
Maka gagal
Sebenarnya, aku ingin terbang
Tapi, aku tak punya sayap
Maka gagal
Sebenarnya, apa ya…..
Sebenarnya, aku ingin jadi pak dokter
Maka, kulamar saja bu dokter yang telah janda
Berhasilkah?
celeng
Dasar babi
Babi liar
Kau lubangi kedua mata mangsa
Dengan taringmu
Meski tak kau bunuh
Butakan mata, targetmu
Saat meraung mangsa itu
Ketika tersungkur korban itu
Tatkala kelimpungan tak melihat
Kau incar calon yang lain
Untuk kembali
Kau butakan mata mata itu
------&-------
aku bukan babi,
hanya bisa membutakan
tanpa membagi pencerahan
Babi liar
Kau lubangi kedua mata mangsa
Dengan taringmu
Meski tak kau bunuh
Butakan mata, targetmu
Saat meraung mangsa itu
Ketika tersungkur korban itu
Tatkala kelimpungan tak melihat
Kau incar calon yang lain
Untuk kembali
Kau butakan mata mata itu
------&-------
aku bukan babi,
hanya bisa membutakan
tanpa membagi pencerahan
Kamis, 14 Agustus 2008
rambut sinigar pitu
rambut
sinigar dadi pitu
kanggo liwat
tapaking sikilmu
mangkono iku pralambang urip
sing kudu diliwati manungsa ana alam padhang
tumuju alam peteng
jaratan
swargaloka
utawi neraka
wus cumepak
ana ing pucuk rambut mau
mbrangkang,
ngesot,
mlaku thimik-thimik,
engklek,
utawa mlayu
terserah, piye caramu
amung siji pesenku, cekalana talining Gusti
bene slamet teka mburi
rambut sinigar pitu,
elingana sak jroning uripmu.
sinigar dadi pitu
kanggo liwat
tapaking sikilmu
mangkono iku pralambang urip
sing kudu diliwati manungsa ana alam padhang
tumuju alam peteng
jaratan
swargaloka
utawi neraka
wus cumepak
ana ing pucuk rambut mau
mbrangkang,
ngesot,
mlaku thimik-thimik,
engklek,
utawa mlayu
terserah, piye caramu
amung siji pesenku, cekalana talining Gusti
bene slamet teka mburi
rambut sinigar pitu,
elingana sak jroning uripmu.
Rabu, 13 Agustus 2008
tuyul si kuncung (maneh)
Masih ingat Bendhol? Dalam kesempatan ini, si Bendhol masih kena dikerjain sama sal. Badan boleh gedhe, otot boleh kuat. Tapi, soal licik sal tiada duanya. Penasaran? Baca dech… sekalian nginget-inget bahasa pribumi, jangan sampai keduluan dibajak Malaysia.
Kanca-kanca kabeh, mesti ngerti ndog gemak. Iku loh, cilik-cilik sing biasane diasongke ana pinggir ndalan. Bocah-bocah padha seneng banget. Ibu-ibu apa maneh. Biasane kanggo campuran nyayur bening utawa sup. Soto akeh uga sing nganggo ndog gemak dicampurake supaya katon nyentrik. Sate ndog gemak uga ana, biasane dijejerke karo sate kikil. Yen sate kikil, mesti apal. Iku rak, gayemanmu kawit cuilik. Padha karo aku. Mulane ra pinter-pinter. Kalah karo bocah landa.
Ing wayah awan ngarepake lohor. Aku, Bendhol, lan ana maneh kancaku liyane telu cacahe. Kawit esuk sak wetara jam wolu, aku ngasak ndog gemak anak kebonan jagung. Gemak liar yen ngendhog biasane ana kono. Ana ndesaku pancen akeh kebon jagung, apa maneh musim rendheng ngene. Gemak alas utawa gemak liar akeh banget yen wayah ngene. Ndogke pating gelethek ana tumpukan uwuh utawa klaras sing slenggreh.
Awan mau, aku entuk akeh tenan. Ana sak plastik prapatan meh kebak. Yen diitung ana selawe mesti luwih. Sak wise, wareg kacang srenthul karo timun olehe nyolong nggone mbah karso aku lan kanca siap-siap mulih.
“Ndol, iki aku entuk ndog polos. Yen wis tak isi nganggo tenaga dalam, ora bakalan kowe isa mecahke” kandhaku karo lambe komat-kamit njur sak sebulake ana ndog mau.
“isi apa, emange kowe sekti?” celatuke Bendhol. “wingi tak dhupak pisan cekengkangan ngaku sekti” ujare umuk.
“awakmu cen gedhe, ototmu kuat. Ning, sadela maneh bakalan ngakoni yen aku luwih pinter” ngana bathin atiku.
Njur aku celuluk maneh “aja umuk sik kowe, yen pancen kowe isa mbuktek-ke isa mecah ndog iki, aku ora selak menawa kowe pancen kuat. Ning ana syarate”
“Apa…” Bendhol, sing gampang emosi ora sabaran. Jelas banget yen kena pancinganku.
“Srengene wayah ngarepe luhur ngene, pas tegak lurus ana nduwur ndasmu. Teorine, sinar srengene sing pas jejek mau othot-othotan karo gravitasi bumi. Gravitasi kowe mesti ra ngerti” ujarku karo manasi Bendhol. Dasar Bendhol, tak omongi ngono langsung ngglinthu ndasku.
“Gravitasi iku ya daya tarik bumi, ngana wae ra ngerti. Trus piye?” Bendhol nyelot ra sabar.
“Mripatmu di picingke, merem separo. Kiwa oleh, tengen ya ra pa pa. sing penting salah siji kudu merem. Njur ndog gemak iki tok trawang, tegak lurus karo srengenge. Pecahen nganggo jempol karo driji. Ayo, ndang buktekna yen pancen kuat” tantangku.
Dudu bendhol jenenge yang ora gembeleng. Krungu ujarku mau, dheweke banjur melu apa sing dadi kandhaku. Aku wis ora kuwawa nahan cekikikan. Nanging tetep tak tahan, nganti anginku metu saka mburi. Ngentut. Dene kanca sing telu maneh, tetep durung paham apa sing tak karepake.
Dumadakan….
Ceprotttt….. ndog gemak kuwi mau pecah, di pencet sak kayange pas ngebaki mripate Bendhol. Ambune amis ra karuan. Dheweke merem-merem klilipen cipratan kulit sing remuk. Ndadak ngana, Bendhol isih durung ngeh yen tak akali. Bendhol muntab njur ngoyak aku sing wis mlayu dhisik sak wise Capung –kancaku sing busiken sikile ngguyu ngakak.
“Ndhol, kowe ki mung diakali. Sak durunge mau si sal wis ngomong bisi-bisik neng aku, yen dhelok maneh arep nyeprotake ndog gemak ning matamu. Eh, malah kowe dhewe sing nyeprotake” ujare Capung.
Bendhol mblayu karo mbengok “jankrik upa, awas kowe Sal!”
Kanca-kanca kabeh, mesti ngerti ndog gemak. Iku loh, cilik-cilik sing biasane diasongke ana pinggir ndalan. Bocah-bocah padha seneng banget. Ibu-ibu apa maneh. Biasane kanggo campuran nyayur bening utawa sup. Soto akeh uga sing nganggo ndog gemak dicampurake supaya katon nyentrik. Sate ndog gemak uga ana, biasane dijejerke karo sate kikil. Yen sate kikil, mesti apal. Iku rak, gayemanmu kawit cuilik. Padha karo aku. Mulane ra pinter-pinter. Kalah karo bocah landa.
Ing wayah awan ngarepake lohor. Aku, Bendhol, lan ana maneh kancaku liyane telu cacahe. Kawit esuk sak wetara jam wolu, aku ngasak ndog gemak anak kebonan jagung. Gemak liar yen ngendhog biasane ana kono. Ana ndesaku pancen akeh kebon jagung, apa maneh musim rendheng ngene. Gemak alas utawa gemak liar akeh banget yen wayah ngene. Ndogke pating gelethek ana tumpukan uwuh utawa klaras sing slenggreh.
Awan mau, aku entuk akeh tenan. Ana sak plastik prapatan meh kebak. Yen diitung ana selawe mesti luwih. Sak wise, wareg kacang srenthul karo timun olehe nyolong nggone mbah karso aku lan kanca siap-siap mulih.
“Ndol, iki aku entuk ndog polos. Yen wis tak isi nganggo tenaga dalam, ora bakalan kowe isa mecahke” kandhaku karo lambe komat-kamit njur sak sebulake ana ndog mau.
“isi apa, emange kowe sekti?” celatuke Bendhol. “wingi tak dhupak pisan cekengkangan ngaku sekti” ujare umuk.
“awakmu cen gedhe, ototmu kuat. Ning, sadela maneh bakalan ngakoni yen aku luwih pinter” ngana bathin atiku.
Njur aku celuluk maneh “aja umuk sik kowe, yen pancen kowe isa mbuktek-ke isa mecah ndog iki, aku ora selak menawa kowe pancen kuat. Ning ana syarate”
“Apa…” Bendhol, sing gampang emosi ora sabaran. Jelas banget yen kena pancinganku.
“Srengene wayah ngarepe luhur ngene, pas tegak lurus ana nduwur ndasmu. Teorine, sinar srengene sing pas jejek mau othot-othotan karo gravitasi bumi. Gravitasi kowe mesti ra ngerti” ujarku karo manasi Bendhol. Dasar Bendhol, tak omongi ngono langsung ngglinthu ndasku.
“Gravitasi iku ya daya tarik bumi, ngana wae ra ngerti. Trus piye?” Bendhol nyelot ra sabar.
“Mripatmu di picingke, merem separo. Kiwa oleh, tengen ya ra pa pa. sing penting salah siji kudu merem. Njur ndog gemak iki tok trawang, tegak lurus karo srengenge. Pecahen nganggo jempol karo driji. Ayo, ndang buktekna yen pancen kuat” tantangku.
Dudu bendhol jenenge yang ora gembeleng. Krungu ujarku mau, dheweke banjur melu apa sing dadi kandhaku. Aku wis ora kuwawa nahan cekikikan. Nanging tetep tak tahan, nganti anginku metu saka mburi. Ngentut. Dene kanca sing telu maneh, tetep durung paham apa sing tak karepake.
Dumadakan….
Ceprotttt….. ndog gemak kuwi mau pecah, di pencet sak kayange pas ngebaki mripate Bendhol. Ambune amis ra karuan. Dheweke merem-merem klilipen cipratan kulit sing remuk. Ndadak ngana, Bendhol isih durung ngeh yen tak akali. Bendhol muntab njur ngoyak aku sing wis mlayu dhisik sak wise Capung –kancaku sing busiken sikile ngguyu ngakak.
“Ndhol, kowe ki mung diakali. Sak durunge mau si sal wis ngomong bisi-bisik neng aku, yen dhelok maneh arep nyeprotake ndog gemak ning matamu. Eh, malah kowe dhewe sing nyeprotake” ujare Capung.
Bendhol mblayu karo mbengok “jankrik upa, awas kowe Sal!”
tuyul si kuncung
yen kelingan aku jaman cilik. mbiyen nyolongan banget, ukil, ngapusi wong. apa maneh yen ketemu wit krambil ijo, wis ra bakalan slamet saka incenganku. utawa ana kayu garing, mesti tak penek tak tegor nganti pernah di oyak sing nduwi wit, merga arep
dinggo dhewe. utawa maneh angger golek kayu garing kanggo masak ora entuk-entuk, biasane mlebu neng lungguh (kebun) tebu, mangan nganti wareg. nek ra ngana mbabiti wit pelem nggone tanggane. utawa jajan nggawa dhuit seket gelo, ning wis nyomot sak genggem permen ning sing diduduhna mung lima.
ana maneh critane pas aku njaili kanca sing ndugal banget. bendhol jenenge amarga sirahe pating pecothot ra karuan. ana ndesaku mbah arjo galak’e ngluwihi pitik ngarak, wayah semana ana pinggir kali, mbah arjo lagi ngguyang sapine. aku sengaja nyeraki mbah arjo karo sapine ning aku mung neng pinggir kali, bendhol ana ngarepku sak wetara 10 meter.
aku ngomong ngene “ndhol, nek tanganmu dudu kiwo kabeh mesti isa nangkep watu iki” jare aku karo nguncalke watu lumayan gedhe.
bendhol sing panas kupinge merga tak omong tangane kiwo kabeh ora tahu isa nyawat kanthi titis njur muntab mbalekna waktu sing tak balangke. aku wis ngira yen ngana. ning aku njur ndodok, ethok-ethok ngising ana pinggir kali karo tanganku dolanan banyu. pas banget watu mau ngenangi bokong sapi. Sapi mbengok karo mengkal sikil mburi. kontan mbah arjo cekengkakang ketendhang sapi.
byuuurr…… teles kecebur kali. ngertine mbah arjo aku lagi ngising ana pinggir kali, dadi ora curiga. sing diawaske langsung si bendhol kuwi mau. di oyak oyak nganti tekan adoh banget.
aku mung ngguyu “iyo mbah, bendhol cen kurang ajar mbabiti sapi sing diguyang, jantur ae mbah, blesekna kali kene”.
mbah arjo ora isa ngoyak bendhol margo umure wis tuwa. “awas, kowe mengko tak kandakke bapakmu, kene nek wani tak jewer kupingmu. Hayo, aja mblayu. Kecandhak tak tetaki ngepok kowe. “ujare mbah arjo karo bengok-bengok kentekan nafas ngoyak bendhol. dene bendhol kaweden mlayu ora wani mulih wedi ndak dikandakke bapakne.
wis, aja di gagas, iki mung crita jaman cilik. durung kenal PS2. aku saiki wis sadar, ora usil maneh. Kejaba kepepet.
dinggo dhewe. utawa maneh angger golek kayu garing kanggo masak ora entuk-entuk, biasane mlebu neng lungguh (kebun) tebu, mangan nganti wareg. nek ra ngana mbabiti wit pelem nggone tanggane. utawa jajan nggawa dhuit seket gelo, ning wis nyomot sak genggem permen ning sing diduduhna mung lima.
ana maneh critane pas aku njaili kanca sing ndugal banget. bendhol jenenge amarga sirahe pating pecothot ra karuan. ana ndesaku mbah arjo galak’e ngluwihi pitik ngarak, wayah semana ana pinggir kali, mbah arjo lagi ngguyang sapine. aku sengaja nyeraki mbah arjo karo sapine ning aku mung neng pinggir kali, bendhol ana ngarepku sak wetara 10 meter.
aku ngomong ngene “ndhol, nek tanganmu dudu kiwo kabeh mesti isa nangkep watu iki” jare aku karo nguncalke watu lumayan gedhe.
bendhol sing panas kupinge merga tak omong tangane kiwo kabeh ora tahu isa nyawat kanthi titis njur muntab mbalekna waktu sing tak balangke. aku wis ngira yen ngana. ning aku njur ndodok, ethok-ethok ngising ana pinggir kali karo tanganku dolanan banyu. pas banget watu mau ngenangi bokong sapi. Sapi mbengok karo mengkal sikil mburi. kontan mbah arjo cekengkakang ketendhang sapi.
byuuurr…… teles kecebur kali. ngertine mbah arjo aku lagi ngising ana pinggir kali, dadi ora curiga. sing diawaske langsung si bendhol kuwi mau. di oyak oyak nganti tekan adoh banget.
aku mung ngguyu “iyo mbah, bendhol cen kurang ajar mbabiti sapi sing diguyang, jantur ae mbah, blesekna kali kene”.
mbah arjo ora isa ngoyak bendhol margo umure wis tuwa. “awas, kowe mengko tak kandakke bapakmu, kene nek wani tak jewer kupingmu. Hayo, aja mblayu. Kecandhak tak tetaki ngepok kowe. “ujare mbah arjo karo bengok-bengok kentekan nafas ngoyak bendhol. dene bendhol kaweden mlayu ora wani mulih wedi ndak dikandakke bapakne.
wis, aja di gagas, iki mung crita jaman cilik. durung kenal PS2. aku saiki wis sadar, ora usil maneh. Kejaba kepepet.
kerling sudut
Kemari, datanglah padaku
Kutunjukkan ladang cintaku
Bawalah benih padi, tanamkanlah ditengahku
Kesuburanku menjadi jaminan
Akan hasil dari jerih nikmatmu
Tak perlu bimbangmu itu
Apalagi sampai ragu
Kerlingku bukan untuk menggodamu
Aku hanya mencoba tawarkan suka
Untukmu
sang guru
Kutunjukkan ladang cintaku
Bawalah benih padi, tanamkanlah ditengahku
Kesuburanku menjadi jaminan
Akan hasil dari jerih nikmatmu
Tak perlu bimbangmu itu
Apalagi sampai ragu
Kerlingku bukan untuk menggodamu
Aku hanya mencoba tawarkan suka
Untukmu
sang guru
Selasa, 12 Agustus 2008
please forgive me
Apuranen
Aku ora sengaja
Nggawe atimu cidra
Niatku
Mbabahi suka rasa
Jebule
Marahi nandang branta lara
Tresna
Pancen ora duwe mata
Sapa wae
Bisa ketaman asmara
Nanging,
Aku sak drema manungsa
Luwih cerak bala nestapa
Tinimbang kasampurnaning ukara
Pisan maneh,
Apuranen aku ya…
Aku ora sengaja
Nggawe atimu cidra
Niatku
Mbabahi suka rasa
Jebule
Marahi nandang branta lara
Tresna
Pancen ora duwe mata
Sapa wae
Bisa ketaman asmara
Nanging,
Aku sak drema manungsa
Luwih cerak bala nestapa
Tinimbang kasampurnaning ukara
Pisan maneh,
Apuranen aku ya…
Langganan:
Postingan (Atom)