Tobat!
Kamu tinggalah ular tua yang sudah tidak sanggup lagi berganti kulit. Jangan lekas bilang telanjang terhadap ular muda yang masih bangga memamerkan kemulusannya. Masa-masa itu bukan lagi milikmu. Tak perlu kau gusar melihat mereka bertingkah laku. Bilakah engkau teringat akan dirimu?
Suara itu terus saja bergema. Rika, gadis yang baru mengenal parfum itu menamparku. Bukan dengan telapak mungilnya. Tapi, dengan sorot mata kebencian srigala mengincar mangsa. Bengis. Dendam. Bukan sepenuhnya salahnya. Aku juga turut andil dalam kematian papanya. Aku yang telah membuka jalan neraka bagi keluarga mereka.
Aku semakin bersujud. Tak terbendung lagi isak tangis. Tar tertahan lagi dada gemuruh. Bahuku terguncang. Kepalaku terasa melayang. Jika ada balon tiup lantas disebul anak kecil. Tak tahu batas ukuran. Tak paham batas kemampuan. Ia tiup sekehendak hati. hingga kulit balon menjadi berpori. Itulah kepalaku saat ini. Nyaris meledak!
Bayangan masa lalu semakin menari dibenak. Tubuh telanjang. Derit menderit teriring tangisan ranjang. Desah dan lenguh berpacu. Kepuasan birahi tak kunjung menentu. Semakin kupacu semakin menderu. Ah, masa itu….
Tuhan, bukan aku menjerit. Bukan aku meratap. Bukan pula menyesali masa lalu. Biarlah itu hanya menjadi catatan-Mu. Kelak, pertanggunganku menjadi taruhan dihadap-Mu.
Tuhan, Engkau bukanlah mereka. Engkau bukanlah pemurka. Engkau bukanlah penghujat. Engkau bukanlah pengazab. Kalaupun ada secuil bala’ ku terima, ini akibat ulahku jua.
Tuhan, Engkau maha pemurah. Engkau maha kasih. Engkau maha penerima taubat. Pintu maaf-Mu senantiasa terbuka. Engkau persilahkan aku, siapa saja untuk mengetuk.
Persaksikan oleh-Mu wahai Tuhan. Aku bersujud. Ku cium tanah ini. Hanya Engkau maha memahami segala rintihan dan genangan pertaubatan ini. Hanya Engkau Tuhan.
Aku tak sanggup lagi mengangkat kepala. Sujudku semakin panjang. Mataku tak lagi kuasa mengalirkan air suci. Air pengiring kesungguhan taubat ini.
Ular tua, katamu?
----&-----
Pohon itu berdiri tegak. angkuh dengan akar keseramannya. merasa diri dipakai banyak orang berlindung dari sengatan matahari. Pemakaman berlangsung hening. Dalam arti, banyak pengantar. Pelayat dengan segala aksesoris serba hitam banyak berdatangan. Tidak khutbah atau pidato yang bilang, “inilah kematian itu. Inilah yang dijanjikan Tuhan. Pintu diputusnya segala kenikmatan selama ini kalian raskan. Kalian lihat,….”
Sebentar kemudian, setelah orang berpeci itu menangkupkan tangan ke wajah pertanda selesai berdoa, entah apa, aku tak paham, walaupun seharusnya aku paham, lubang satu kali dua meter itu di tutup. orang-orang mulai berlalu. Rika tak lagi berdiri ditempatnya. Ia sungguh risih, muak, jijik, bahkan hanya sekedar untuk melirikku. Aku tak bisa salahkan dia. Tak bisa salahkan dia. Ia tak tahu urusan papanya denganku.
Tiga tahun sudah aku tak menatap langit sambil berpijak di kota ini. Seminggu lalu, aku masih asyik menelaah kumpulan ibu-ibu arisan di dusun lereng bukit. Pinggiran jogja sebelah timur. Dimana, deretan pohon meranggas ketika kemarau tiba menjadi pemandangan unik mencabik mata. Bukan gurun. Bukan padang pasir. Hanya hamparan pohon tanpa daun. Ranting-rantingnya seperti tanduk rusa yang semestinya indah dan menjadi kebanggaan.
Ketika Abel meneleponku, lima hari sebelumnya, aku sedang menyandarkan punggung di beranda pondok. Rumah mungil dari bilik anyaman bambu. Dengan tiang-tiang dari bambu pula. Menatap kembali buku tabungan yang kian menipis. Hidup kembali di alam pedesaan bukan perkara mudah. Tiga tahun terakhir nyaris tidak ada pemasukan sama sekali. Teh manis dalam gelas ukuran sedang selambat mungkin aku hirup. Seruput demi seruput. Bukan untuk menikmati. Apalagi meresapi gula aseli perkebungan di lembah nun jauh dibawah sana. Hanya untuk membunuh waktu. Menemani anganku. Bunyi handphone sudah ketiga kali. Aku masih tetap angkuh. Aku angkat gelas. Dari dalam gelas tulisan layer hp menjadi lebar dan besar. A B E L. sekilas tak terbaca jelas. Kalau kau angkat gelasmu, lantas kau hadapakan pada tulisan didinding, tentulah kau bisa meraba bagaimana tulisan abel itu. Nyaris saja aku mengabaikan suara itu kalau saja bukan nama itu yang muncul.
Kupencet tombol hijau, dan, “halo,” kataku.
“Yun,” jawab Abel. Diam. Terdengar tarikan nafas. Dipaksakan. Berat.
Aku juga tak tahu harus mulai bicara apa. Akhirnya terdengan juga suara lemah. Setengah terisak.
“Abel?” Sambarku cepat. “Ada apa?”
Aku beranjak dari bersandar. Punggung aku tegakkan. Dada aku busungkan. Udara di rongga paru-paru aku pompa setenang mungkin. Walau jujur, aku tak dapat menyembunyikan ketegaran palsu ini. Bagaimanapun juga, hanya ada tiga orang yang tahu keberadaanku. Termasuk nomor rahasiaku. Tidak mungkin tidak terjadi hal luar biasa kalau Abel meneleponku. Tiga tahun, tak ada komunikasi. Abel pegang janji, dan ia adalah sahabat terpercaya.
“Yun,” suaranya terdengar sesak. “Mending loe kesini cepat. Pakai pesawat aja. Pagi ini juga.” Entah, harus dengan apa aku membebaskan penyumbat tenggorokan ini. Dada terasa tersumbat oleh ribuan kerikil coral biasa buat cor bangunan. Gemeresak. Padat. Rebut. Berebutan memenuhi tempat. Takut keburu beku oleh adukan semen dan tak dapat bergerak lagi.
Akhirnya, aku berhasil juga membuat Abel bicara. Papa Rika meninggal dalam keadaan mulut penuh busa. Visum dokter belum juga keluar. Indikasi utama keracunan minuman dalam dosis untuk lima orang. Ditenggak seorang diri. Dikamar dimana aku dan dia mengumbar nafsu hewani. Tiga tahun lalu.
Dan, tulisan inipun harus berhenti sementara. Semoga berkelanjutan… doain ya…..
Rabu, 29 April 2009
Selasa, 28 April 2009
Mega Best Seller Tiada Tanding
Mega best seller dunia akherat
Hidup jangan kebanyakan ketawa! Ingat saja bahwa dunia hanya canda belaka. Tak baik terlalu berlebihan, termasuk urusan air mata.
Mendingan hapalin aja melalui tingkah laku disetiap hari-harimu. Bila nanti tiba saat pertanyaan diujikan secara lisan, kamu tidak geragapan lagi. Memang, tidak seperti ujian skripsi koq, dikelilingi oleh empat dosen ‘killer’. Memang, tidak seperti di pengadilan koq, dihadapi sama hakim penuntut umum didampingi sama dua hakim penasehat, plus ditontong wartawan.
Tapi, disampaikan oleh malaikat berwarna ungu kehitaman, yang ke-seram-annya belum pernah kau impikan. Bedanya, kamu dan dia hanya berhadapan satu lawan satu. Disamping kananmu tanah, samping kiri tanah, atas, bawah, ujung kaki, ujung kepala, menempel di pipi, semuanya tanah. Tak ada lagi ruang gerak. Face to face.
Pertanyaan sederhana aja koq, simak ya…
1. Siapa Tuhanmu?
2. Apa Agamamu?
3. Siapa Nabimu?
Untuk melatih lidah agar tidak kelu dari menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, jangan khawatir. Ada panduannya koq. Bisa dibaca dalam buku”skenario kehidupan segala alam.”
Sudah pernah mempelajari buku ini kan?
Berasakah sensasi ketika membaca novel Ayat-Ayat Cinta-Habiburrahman El Shirazy, The Firm-John Grisham, The Da Vinci Code-Dan Brown, Ernest Hemingway, Shidney Sheldon, Stephen King, Andrea Hirata, …
Berasa jugakah betapa semangat terdongkrak setinggi-tingginya ketika membaca kumpulan seminar Andre Wongso, Mario Teguh, Tung Desem Waringin, Ary Ginanjar Agustian, …
“Jika hatimu suci, maka tidak akan pernah bosan untuk mencerna makna setiap kata dalam buku ini”, inilah jaminan seorang penyair mengenai buku ini.
So pasti! Buku ini dijamin “mega best seller” segala alam. Sayangnya, HANYA ORANG (ber)SUCI (yang) BISA MENYENTUHNYA. Hmmmm, kalau udah tahu buku apa ini, kasih tahu gue ya?
Trus, kalau udah bisa menggali segala makna kehidupan, trus, kalau udah paham scenario jalan kehidupan mesti ditempuh, trus, kalau udah tahu bagian-bagian ide yang tidak pernah habis untuk diperbincangakan, trus, …… pokoknya kasih tahu gue deh. Please!
Hidup jangan kebanyakan ketawa! Ingat saja bahwa dunia hanya canda belaka. Tak baik terlalu berlebihan, termasuk urusan air mata.
Mendingan hapalin aja melalui tingkah laku disetiap hari-harimu. Bila nanti tiba saat pertanyaan diujikan secara lisan, kamu tidak geragapan lagi. Memang, tidak seperti ujian skripsi koq, dikelilingi oleh empat dosen ‘killer’. Memang, tidak seperti di pengadilan koq, dihadapi sama hakim penuntut umum didampingi sama dua hakim penasehat, plus ditontong wartawan.
Tapi, disampaikan oleh malaikat berwarna ungu kehitaman, yang ke-seram-annya belum pernah kau impikan. Bedanya, kamu dan dia hanya berhadapan satu lawan satu. Disamping kananmu tanah, samping kiri tanah, atas, bawah, ujung kaki, ujung kepala, menempel di pipi, semuanya tanah. Tak ada lagi ruang gerak. Face to face.
Pertanyaan sederhana aja koq, simak ya…
1. Siapa Tuhanmu?
2. Apa Agamamu?
3. Siapa Nabimu?
Untuk melatih lidah agar tidak kelu dari menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, jangan khawatir. Ada panduannya koq. Bisa dibaca dalam buku”skenario kehidupan segala alam.”
Sudah pernah mempelajari buku ini kan?
Berasakah sensasi ketika membaca novel Ayat-Ayat Cinta-Habiburrahman El Shirazy, The Firm-John Grisham, The Da Vinci Code-Dan Brown, Ernest Hemingway, Shidney Sheldon, Stephen King, Andrea Hirata, …
Berasa jugakah betapa semangat terdongkrak setinggi-tingginya ketika membaca kumpulan seminar Andre Wongso, Mario Teguh, Tung Desem Waringin, Ary Ginanjar Agustian, …
“Jika hatimu suci, maka tidak akan pernah bosan untuk mencerna makna setiap kata dalam buku ini”, inilah jaminan seorang penyair mengenai buku ini.
So pasti! Buku ini dijamin “mega best seller” segala alam. Sayangnya, HANYA ORANG (ber)SUCI (yang) BISA MENYENTUHNYA. Hmmmm, kalau udah tahu buku apa ini, kasih tahu gue ya?
Trus, kalau udah bisa menggali segala makna kehidupan, trus, kalau udah paham scenario jalan kehidupan mesti ditempuh, trus, kalau udah tahu bagian-bagian ide yang tidak pernah habis untuk diperbincangakan, trus, …… pokoknya kasih tahu gue deh. Please!
Senin, 27 April 2009
bukan sekedar syurrr(ga)
Ibnul Qayyim berkata, “Jika engkau bertanya tentang bidadari-bidadari surga, mereka adalah wanita yang tinggi semampai dan selalu muda. Jika menjumpai kekasihnya,ungkapkanlah sesukamu tentang dua sejoli yang serasi. Jika sedang berbincang dengannya, apa dugaanmu mengenai percakapandua sejoli yang sedang jatuh hati. jika mendekapnya, apa yang bisa kamu bayangkan tentang uda dahan yang sling membelit. Bergaul dengannya jauh lebih nikmat disbanding semua angan-angan. Tidak bertambah atas mereka pergeseran masa, kecuali keindahan dan kecantikan. Tidak ada yang lebih diinginkan kecuali untuk bersama-sama dengannya. Mereka tidak pernah hamil, melahirkan, haid dan nifas. Selalu suci dari ingus, ludah, kencing,kotoran, dan berbagai macam najis. Tidak pernah habis masa mudanya dan tidak pernah kumal pakaiannya.
Hati mereka belum pernah tersentuh oleh manusia maupun jin. Jika dipandang, hati akan terpenuhi kebahagiaan. Bila mendengar suaranya, telinga akan terasa penuh dengan irama yang indah dan syahdu, jika mereka muncul, istana dan kamar-kamar segera dipenuhi dengan cahaya.
Jika engkau bertanya tentang nikmatnya berhubungan dengan mereka, tidak bisa dibayangkan nikmatnya. Bila mereka berbunyi, begitu indah untuk dilihat dan didengar. Jika engkau bersenang-senang dan bergurau dengan mereka, betapa indah dan nikmat senda gurauan itu. Jika engkau menciumnya, tidak ada suatu apapun yang lebih memabukkandari ciuman mereka.
Jika engkau bertanya tentang sungai-sungai surga. Sesungguhnya sungai-sungai itu terdiri dari air yang tidak pernah kotor. Sungai-sungai dari khamr yang nikmat bagi yang meminumnya dan sungai-sungai darimadu yang jernih.
Jika engkau bertanya tentang makanan surga. Sesungguhnya makanan sura adalah buah-buahan yang bisa mereka pilih sekehendak mereka dan daging burung yang sangat mereka sukai.
Jika engkau bertanya tentang minuman mereka, sesungguhnya minuman mereka adalahair putih jernih yang sedap dan enak serta air yang dicampur jahe dan kafur.
Jika engkau bertanya tentang bejana-bejana mereka, sesungguhnya bejana-bejana mereka terbuat dari emas dan perak.
Jika engkau bertanya tentang bumi dan debunya, sesungguhnya bumi dan debunya terdari dari misk dan za’faran.
Jika engkau bertanya tentang langitnya, sesungguhnya langitnya adalah ‘Arsy Yang Maha Pengasih.
Jika engkau bertanya tentang bangunannya, sesungguhnya bangunan surga terdiri dari emas dan perak.
Jika engkau bertanya tentang luasnya, sesungguhnya ahli surga yang terendah berjalan di kerajaannya, istana-istananya dan kebun-kebunnya selama perjalanan dua ribu tahun.
Jika engkau bertanya tentang wajah ahli surga dan ketampanannya, sesungguhnya wajah mereka seperti bulan pernama (sangat tampan dan cantik).
Jika engkau bertanya tentang pelayan-pelayannya, sesungguhnya pelayan-pelayan surga itu muda dan selalu muda bagaikan mutiara yang bertebaran.
Jika engkau bertanya tentang hari di mana ahli surga mendapat kenikmatan tambahan, dengarlah saat terdengar suara penyer, ‘wahai ahli surga, sesungguhnya Alah masih mempunyai janji yang akan ditepatiNya kepada kalian hari ini.’ Mereka bertanya, ‘Apa janjiNya? Bukankah Dia telah memutihkan wajah-wajah kami, memberatkan timbangan-timbangan kami, memasukkan kami di dalam surga dan menghindarkan kami dari neraka?’ Di saat mereka bertanya-tanya demikian itu, tiba-tiba muncul dihadapan mereka cahaya yang menerangi seluruh kawasan surga. Mereka menengadahkan wajah-wajahnya, Tuhan Yang Maha Agung dan Maha Suci nama-namaNya, elah berada diatas mereka, dan berfirman, ‘Wahai ahli surga, salamun ‘alaikum!’ (kesejahteraan untuk kalian). Tidak ada ucapan yang lebih baik untuk menjawab salam ini selai ucapan, ‘Allahumma Antassalaam wa minkassalaam tabaarakta yadzal jalaali wal ikraam, (Ya Allah, Engkaulah kesejahteraan dan dariMu kesejahteraan, wahai Dzat Pemilik Keagungan dan Kemuliaan).’
Kemudian Allah berfirman, ‘Mana hamba-hambaKu yang taat kepadaKu padahal mereka tidak melihatKu?’ Inilah hari dimana mereka mendapat kenikmatan tambahan, mereka bersatu dalam satu ucapan, yaitu: “Kami telah ridha, maka ridhailah kami.” Allah berfirman, ‘Wahai hamba-hambaKu, jika Aku tidak ridha kepada kalian, maka tidaklah Aku masukkan kalian ke dalam surgaKu. Inilah hari tambahan kenikmatan, maka mintalah kepadaKu!’ Mereka pun bersatu dalam keinginan yang sama, ‘Wahai Tuhan kami, tunjukkan kepada kami WajahMu hingga kami bisa melihatNya! Maka Allah pun membuka tabir dan menunjukkan WajahNya kepada mereka, dan mereka pun terpesona dengan cahaNya kepada mereka, yang apabila Allah tidak mentakdirkan mereka kuat untuk melihatNya, tentulah mereka akan terbakar. Maka tidak seorang pun dalam tempat itu, kecuali benar-benar telah berhadapan langsung dengan Tuhan mereka,.
Betapa nikmat pertemuan dengan Allah sedemikian rupa ini, betapa berserinya bola mata manusia di saat melihat kepda Wajah Yang Maha Mulia di akhirat.
Wallahu alam bishawab.
Dikutip dari “Bagaimana bila ajal tiba” halaman 1 s/d 4.
Hati mereka belum pernah tersentuh oleh manusia maupun jin. Jika dipandang, hati akan terpenuhi kebahagiaan. Bila mendengar suaranya, telinga akan terasa penuh dengan irama yang indah dan syahdu, jika mereka muncul, istana dan kamar-kamar segera dipenuhi dengan cahaya.
Jika engkau bertanya tentang nikmatnya berhubungan dengan mereka, tidak bisa dibayangkan nikmatnya. Bila mereka berbunyi, begitu indah untuk dilihat dan didengar. Jika engkau bersenang-senang dan bergurau dengan mereka, betapa indah dan nikmat senda gurauan itu. Jika engkau menciumnya, tidak ada suatu apapun yang lebih memabukkandari ciuman mereka.
Jika engkau bertanya tentang sungai-sungai surga. Sesungguhnya sungai-sungai itu terdiri dari air yang tidak pernah kotor. Sungai-sungai dari khamr yang nikmat bagi yang meminumnya dan sungai-sungai darimadu yang jernih.
Jika engkau bertanya tentang makanan surga. Sesungguhnya makanan sura adalah buah-buahan yang bisa mereka pilih sekehendak mereka dan daging burung yang sangat mereka sukai.
Jika engkau bertanya tentang minuman mereka, sesungguhnya minuman mereka adalahair putih jernih yang sedap dan enak serta air yang dicampur jahe dan kafur.
Jika engkau bertanya tentang bejana-bejana mereka, sesungguhnya bejana-bejana mereka terbuat dari emas dan perak.
Jika engkau bertanya tentang bumi dan debunya, sesungguhnya bumi dan debunya terdari dari misk dan za’faran.
Jika engkau bertanya tentang langitnya, sesungguhnya langitnya adalah ‘Arsy Yang Maha Pengasih.
Jika engkau bertanya tentang bangunannya, sesungguhnya bangunan surga terdiri dari emas dan perak.
Jika engkau bertanya tentang luasnya, sesungguhnya ahli surga yang terendah berjalan di kerajaannya, istana-istananya dan kebun-kebunnya selama perjalanan dua ribu tahun.
Jika engkau bertanya tentang wajah ahli surga dan ketampanannya, sesungguhnya wajah mereka seperti bulan pernama (sangat tampan dan cantik).
Jika engkau bertanya tentang pelayan-pelayannya, sesungguhnya pelayan-pelayan surga itu muda dan selalu muda bagaikan mutiara yang bertebaran.
Jika engkau bertanya tentang hari di mana ahli surga mendapat kenikmatan tambahan, dengarlah saat terdengar suara penyer, ‘wahai ahli surga, sesungguhnya Alah masih mempunyai janji yang akan ditepatiNya kepada kalian hari ini.’ Mereka bertanya, ‘Apa janjiNya? Bukankah Dia telah memutihkan wajah-wajah kami, memberatkan timbangan-timbangan kami, memasukkan kami di dalam surga dan menghindarkan kami dari neraka?’ Di saat mereka bertanya-tanya demikian itu, tiba-tiba muncul dihadapan mereka cahaya yang menerangi seluruh kawasan surga. Mereka menengadahkan wajah-wajahnya, Tuhan Yang Maha Agung dan Maha Suci nama-namaNya, elah berada diatas mereka, dan berfirman, ‘Wahai ahli surga, salamun ‘alaikum!’ (kesejahteraan untuk kalian). Tidak ada ucapan yang lebih baik untuk menjawab salam ini selai ucapan, ‘Allahumma Antassalaam wa minkassalaam tabaarakta yadzal jalaali wal ikraam, (Ya Allah, Engkaulah kesejahteraan dan dariMu kesejahteraan, wahai Dzat Pemilik Keagungan dan Kemuliaan).’
Kemudian Allah berfirman, ‘Mana hamba-hambaKu yang taat kepadaKu padahal mereka tidak melihatKu?’ Inilah hari dimana mereka mendapat kenikmatan tambahan, mereka bersatu dalam satu ucapan, yaitu: “Kami telah ridha, maka ridhailah kami.” Allah berfirman, ‘Wahai hamba-hambaKu, jika Aku tidak ridha kepada kalian, maka tidaklah Aku masukkan kalian ke dalam surgaKu. Inilah hari tambahan kenikmatan, maka mintalah kepadaKu!’ Mereka pun bersatu dalam keinginan yang sama, ‘Wahai Tuhan kami, tunjukkan kepada kami WajahMu hingga kami bisa melihatNya! Maka Allah pun membuka tabir dan menunjukkan WajahNya kepada mereka, dan mereka pun terpesona dengan cahaNya kepada mereka, yang apabila Allah tidak mentakdirkan mereka kuat untuk melihatNya, tentulah mereka akan terbakar. Maka tidak seorang pun dalam tempat itu, kecuali benar-benar telah berhadapan langsung dengan Tuhan mereka,.
Betapa nikmat pertemuan dengan Allah sedemikian rupa ini, betapa berserinya bola mata manusia di saat melihat kepda Wajah Yang Maha Mulia di akhirat.
Wallahu alam bishawab.
Dikutip dari “Bagaimana bila ajal tiba” halaman 1 s/d 4.
Jumat, 24 April 2009
setengah gila
"kamu tuch ya", kata rio. "modal manusia itu cuma satu:nafas. heran saja. umur kan tidak dapat ditukar dengan apapun. koq disia-siakan gitu."
sambil berdecak, rio masih megang koran 'lampu merah' dengan judul super mencolok tentang seorang caleg mati gantung diri. padahal masih muda. cantik pula. cewek? ya iya. masak cowok cantik sih.
kalau mau mikir sih, untuk hidup cuma butuh satu kegiatan. nafas! that's sudah cukup. tak perlu embel-embel lagi. hanya saja, nafas bagaimana yang berpotensi hidup dan menghidupkan. itu yang repot.
orang bisa bertahan hidup karena keinginan, tapi, bisa mati juga (gara-gara) karena keinginan. kira-kira orang yang bunuh diri gitu, waras tidak ya?
hmmm, kata rio lagi sih orang gituan mah setengah gila. mau di reparasi belum boleh karena masih ada unsur warasnya. sementara mau di lepas bahaya juga kalau kambuh sewaktu-waktu.
"lah trus, kalau tiba-tiba bunuh diri gitu, yang sedang merasuki warasnya apa gilanya?" tanyaku. eh, rio-nya gak jawab.
sambil berdecak, rio masih megang koran 'lampu merah' dengan judul super mencolok tentang seorang caleg mati gantung diri. padahal masih muda. cantik pula. cewek? ya iya. masak cowok cantik sih.
kalau mau mikir sih, untuk hidup cuma butuh satu kegiatan. nafas! that's sudah cukup. tak perlu embel-embel lagi. hanya saja, nafas bagaimana yang berpotensi hidup dan menghidupkan. itu yang repot.
orang bisa bertahan hidup karena keinginan, tapi, bisa mati juga (gara-gara) karena keinginan. kira-kira orang yang bunuh diri gitu, waras tidak ya?
hmmm, kata rio lagi sih orang gituan mah setengah gila. mau di reparasi belum boleh karena masih ada unsur warasnya. sementara mau di lepas bahaya juga kalau kambuh sewaktu-waktu.
"lah trus, kalau tiba-tiba bunuh diri gitu, yang sedang merasuki warasnya apa gilanya?" tanyaku. eh, rio-nya gak jawab.
Kamis, 23 April 2009
(tulisan) pengantar pagi
janganlah makan dari apa yang diharamkan dan janganlah mengharamkan dari apa yang sudah dihalalkan. dan, pilihlah hanya yang halal lagi baik buatmu. halalan thoyyiban.
sesungguhnya obat dari segala macam penyakit adalah "puasa". hanya dengan puasa racun-racun yang terserap dalam tubuh terbuang degnan sistematika luar biasa canggih. disamping harus dikaji secara ilmu kesehatan, juga harus diimani dengan penuh kepahaman. tahajud dimalam hari dan puasa disiang hari akan menjadikan bukan saja tubuh sehat. lebih dari itu jiwaku pun kuat.
rasulullah bilang, "tidak ada yang lebih baik dari puasanya daud. sehari makan sehari berbuka." dan ketika ustadz yusuf mansur ditanya mengenai tahajud, "sebagaimana puasa, kerjakanlah secara selang seling". maksudnya, bukan semalam tahajud lantas semalem tidak. sore-sore (habis isya') tidur sekira dua jam. trus, bangun untuk sholat. tidur lagi. sholat lagi. tidur lagi. sholat lagi. sampai menjelang subuh. tutup dengan witir. istirahat sejenak, baru dilanjut qobliyah dua rokaat untuk menyongsong sholat subuh.
wallahu a'lam bis showab. ukurlah kekuatan dan bangunlah ketulusan. latih sejak sekarang juga ketika anda menjumpai seorang rekan yang coba mengingatkan. aku baru saja mencoba untuk menghafal surat alwaqi'ah. walau diketawain dan diledekin habis-habisan sama anakku 'nimas' yagn baru 11 tahun november nanti -sekarang kelas lima bentar lagi kenaikan kelas enam- katanya, "ih, ayah! udah bapak-bapak baru ngapalin surat gituan. albaqoroh atuh, ali imron, yang panjang-panajng gitu. mana lelet banget lagi. masak udah dua minggu baru tujuh ayat gak nambah-nambah."
subhanallah. dia bidadari kecil yang diutus untuk mengingatkanku. malu rasanya disindir begitu. walau ucapan itu murni polos ucapan seorang anak kecil. tapi, memang susah bener, aku mau ngapalin ayat-ayat alqur'an.
lantas, aku coba berkelit, "ayah kan gak cuma mikirin hapalan doang. mesti nyari bangun pagi, kerja, nguber gaji. udah gitu mesti bantuin ibu juga setrika, nyuci. belum lagi nglayanin adikmu tuch si botak. kalau udah ngajak main perang-perangan gak bisa ditolak lagi. ya gak pa pa, ayah lelet dalam menghafal" kataku. "itu belum seberapa, masih harus mikirin cicilan rumah, cicilan koprasi, bayaran telpon, bayaran listrik" kilahku.
"makanya, mbak nimas mesti sebanyak mungkin tuch ngapalin sedari sekarang. nanti kalau udah smp apalagi sma, udah semakin banyak pelajaran mesti diresapi. percaya deh sama ayah, penyesalan tidak datang sekarang. tapi,nanti setelah gedhe. semakin banyak hapalan alquran mbak nimas, semakin mudah menyerap pelajaran. coba,kemarin masih ranking tiga melulu kan. sekarang udah ranking satu, karena hapalan udah nambah. tambahin terus tuch" kataku lagi memberi semangat.
kalau udah perbincangan gitu, persis antara guru sama murid dah. cuma bedanya, kalau murid beneran gak berani ngebantah. lah ini, bukan cuma itu (ngebantah), kadang kalau kesel malah lempar remote segala. tuch remot dirumah aja udah habis dua. kalau gak dilempar, ya keinjek. abis, gurunya juga kadang kelewatan juga kalau ngajarin. suka belak-belok gitu. klo cuman belok doang sih sekali ya, ini pakai (awalan) belak segala. nyasar kemana-mana.
sekedar biar lebih kuat lagi ingatanku dan tambah meresap. boleh juga aku tuliskan disini apa yang baru saja aku hapalin. dan, diledekin melulu tuch sama si (oneng) nimas.
idza waqo atil wa qi ah - apa bila terjadi hari kiamat
laisa liwaq atiha kadzibah - terjadinya tidak dapat disustakan (disangkal)
khofidhoturrofi'ah - merendahkan (satu golongan), meninggikan (golongan yang lain)
idza rujjatil ardhu rojja - apa bila bumi diguncangkan seguncang-guncangnya
wa bussatil jibalu bassa - dan gunung-gunung dihancurluluhkan sehancur-hancurnya
faka nat habaa-an mubiina - maka itu menjadi debu yang bertebaran
wainkuntum azwaajan tsalatsah - dan kamu sekalian menjadi tiga golongan.
yang aku bold merah tuch. pelajaran bener. sekarang aja kebayang kalau pas lagi ngliat copet ketangkep tuch. bener-bener dihina sehina-hinanya. serendah-rendahkan. dikatain babi lah, anjing lah, bajingan lah. pokoknya ga da ucapan pantas sama sekali dah. itu baru copet kelas kambing. yang menghinakan juga cuma mulut-mulut manusia yang tidak menjamin lebih suci ketimbang si copet itu tadi.
belum lagi kalau ada koruptor ketangkep.
belum lagi kalau pelacur kena razia.
itu belum seberapa terhina.
bagaimana jika allah tuhan sang pencipta yang menghinakan???
astaghfirullahal adzim.... naudzubilah min dhzalik. dan, kejadian itu tidak dapat disankal. tidak dapat dipungkiri. alias pasti terjadi. kejadian itulah yang "merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain).
hmmm..... kira-kira gue ada di golongan mana ya? atau, anda mungkin?
yuk! benahi mulai dari sekarang. ingat, pesan ini buat gue pribadi loh ya. tapi, kalau ada temen yang kena (merasa) terajak juga. alhamdulillah. kebaikan temen-temen bisa nyiprat ke gue gitu he..he..he... insya allah dah, pahala system mlm tidak ada matinya.
jadi, ketimbang mikirin makanan yang serba musingin kayak gini (lihat gambar) malah jadi takut. udah aja percaya. systematika tubuh udah sedemikian huebat dan canggih. allah maha tahu. penyakit apa aja maha tahu. bahkan yang belum terdeteksi sama dokter, allah maha tahu. hanya dengan berpasrah diri dan ibadah dengan benar, segala kemungkinan penyakit justru menjadi hikmah.
bukan lantas ceroboh makan sembarang loh ya. kalau makan sardines ya, ikannya aja dimakan. jangan kaleng juga ditelan. bahaya itu. emang kuda lumping. atau juga, udah tahu alergi masih dicaplok juga. bunuh diri itu mah. udah tahu darah tinggi suka kumat, eh, malah lihat daging kambing koq ngiler.
hanya saja, untuk tubuh sehat, makan apapun tak ada larangan sih. tak ngaruh. tak efek. itu baru tubuh sehat tuch. bagaimana dengan jiwa sehat? wah.. udah dah. tulisan ini mesti diakhiri. kalau tidak bisa nyampe kemana-mana.
sip... semoga ada hikmat terpetik dari tarian jariku pagi ini. tuch kan. masih nulis lagi. udah stop. ya udah. ini juga mau udahan. analisa downtime belum dibikin mesti segera diselesaiin.
ya iya. ini juga udahan koq. lah. bagaimana sih. katanya udahan masih nulis juga. he...he..he...
iya...iya... stop dah. stop!!!!
(sayang banget, gambar tidak dapat gue pasang disini. guenya yang gak bisa, maksudnya)
sesungguhnya obat dari segala macam penyakit adalah "puasa". hanya dengan puasa racun-racun yang terserap dalam tubuh terbuang degnan sistematika luar biasa canggih. disamping harus dikaji secara ilmu kesehatan, juga harus diimani dengan penuh kepahaman. tahajud dimalam hari dan puasa disiang hari akan menjadikan bukan saja tubuh sehat. lebih dari itu jiwaku pun kuat.
rasulullah bilang, "tidak ada yang lebih baik dari puasanya daud. sehari makan sehari berbuka." dan ketika ustadz yusuf mansur ditanya mengenai tahajud, "sebagaimana puasa, kerjakanlah secara selang seling". maksudnya, bukan semalam tahajud lantas semalem tidak. sore-sore (habis isya') tidur sekira dua jam. trus, bangun untuk sholat. tidur lagi. sholat lagi. tidur lagi. sholat lagi. sampai menjelang subuh. tutup dengan witir. istirahat sejenak, baru dilanjut qobliyah dua rokaat untuk menyongsong sholat subuh.
wallahu a'lam bis showab. ukurlah kekuatan dan bangunlah ketulusan. latih sejak sekarang juga ketika anda menjumpai seorang rekan yang coba mengingatkan. aku baru saja mencoba untuk menghafal surat alwaqi'ah. walau diketawain dan diledekin habis-habisan sama anakku 'nimas' yagn baru 11 tahun november nanti -sekarang kelas lima bentar lagi kenaikan kelas enam- katanya, "ih, ayah! udah bapak-bapak baru ngapalin surat gituan. albaqoroh atuh, ali imron, yang panjang-panajng gitu. mana lelet banget lagi. masak udah dua minggu baru tujuh ayat gak nambah-nambah."
subhanallah. dia bidadari kecil yang diutus untuk mengingatkanku. malu rasanya disindir begitu. walau ucapan itu murni polos ucapan seorang anak kecil. tapi, memang susah bener, aku mau ngapalin ayat-ayat alqur'an.
lantas, aku coba berkelit, "ayah kan gak cuma mikirin hapalan doang. mesti nyari bangun pagi, kerja, nguber gaji. udah gitu mesti bantuin ibu juga setrika, nyuci. belum lagi nglayanin adikmu tuch si botak. kalau udah ngajak main perang-perangan gak bisa ditolak lagi. ya gak pa pa, ayah lelet dalam menghafal" kataku. "itu belum seberapa, masih harus mikirin cicilan rumah, cicilan koprasi, bayaran telpon, bayaran listrik" kilahku.
"makanya, mbak nimas mesti sebanyak mungkin tuch ngapalin sedari sekarang. nanti kalau udah smp apalagi sma, udah semakin banyak pelajaran mesti diresapi. percaya deh sama ayah, penyesalan tidak datang sekarang. tapi,nanti setelah gedhe. semakin banyak hapalan alquran mbak nimas, semakin mudah menyerap pelajaran. coba,kemarin masih ranking tiga melulu kan. sekarang udah ranking satu, karena hapalan udah nambah. tambahin terus tuch" kataku lagi memberi semangat.
kalau udah perbincangan gitu, persis antara guru sama murid dah. cuma bedanya, kalau murid beneran gak berani ngebantah. lah ini, bukan cuma itu (ngebantah), kadang kalau kesel malah lempar remote segala. tuch remot dirumah aja udah habis dua. kalau gak dilempar, ya keinjek. abis, gurunya juga kadang kelewatan juga kalau ngajarin. suka belak-belok gitu. klo cuman belok doang sih sekali ya, ini pakai (awalan) belak segala. nyasar kemana-mana.
sekedar biar lebih kuat lagi ingatanku dan tambah meresap. boleh juga aku tuliskan disini apa yang baru saja aku hapalin. dan, diledekin melulu tuch sama si (oneng) nimas.
idza waqo atil wa qi ah - apa bila terjadi hari kiamat
laisa liwaq atiha kadzibah - terjadinya tidak dapat disustakan (disangkal)
khofidhoturrofi'ah - merendahkan (satu golongan), meninggikan (golongan yang lain)
idza rujjatil ardhu rojja - apa bila bumi diguncangkan seguncang-guncangnya
wa bussatil jibalu bassa - dan gunung-gunung dihancurluluhkan sehancur-hancurnya
faka nat habaa-an mubiina - maka itu menjadi debu yang bertebaran
wainkuntum azwaajan tsalatsah - dan kamu sekalian menjadi tiga golongan.
yang aku bold merah tuch. pelajaran bener. sekarang aja kebayang kalau pas lagi ngliat copet ketangkep tuch. bener-bener dihina sehina-hinanya. serendah-rendahkan. dikatain babi lah, anjing lah, bajingan lah. pokoknya ga da ucapan pantas sama sekali dah. itu baru copet kelas kambing. yang menghinakan juga cuma mulut-mulut manusia yang tidak menjamin lebih suci ketimbang si copet itu tadi.
belum lagi kalau ada koruptor ketangkep.
belum lagi kalau pelacur kena razia.
itu belum seberapa terhina.
bagaimana jika allah tuhan sang pencipta yang menghinakan???
astaghfirullahal adzim.... naudzubilah min dhzalik. dan, kejadian itu tidak dapat disankal. tidak dapat dipungkiri. alias pasti terjadi. kejadian itulah yang "merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain).
hmmm..... kira-kira gue ada di golongan mana ya? atau, anda mungkin?
yuk! benahi mulai dari sekarang. ingat, pesan ini buat gue pribadi loh ya. tapi, kalau ada temen yang kena (merasa) terajak juga. alhamdulillah. kebaikan temen-temen bisa nyiprat ke gue gitu he..he..he... insya allah dah, pahala system mlm tidak ada matinya.
jadi, ketimbang mikirin makanan yang serba musingin kayak gini (lihat gambar) malah jadi takut. udah aja percaya. systematika tubuh udah sedemikian huebat dan canggih. allah maha tahu. penyakit apa aja maha tahu. bahkan yang belum terdeteksi sama dokter, allah maha tahu. hanya dengan berpasrah diri dan ibadah dengan benar, segala kemungkinan penyakit justru menjadi hikmah.
bukan lantas ceroboh makan sembarang loh ya. kalau makan sardines ya, ikannya aja dimakan. jangan kaleng juga ditelan. bahaya itu. emang kuda lumping. atau juga, udah tahu alergi masih dicaplok juga. bunuh diri itu mah. udah tahu darah tinggi suka kumat, eh, malah lihat daging kambing koq ngiler.
hanya saja, untuk tubuh sehat, makan apapun tak ada larangan sih. tak ngaruh. tak efek. itu baru tubuh sehat tuch. bagaimana dengan jiwa sehat? wah.. udah dah. tulisan ini mesti diakhiri. kalau tidak bisa nyampe kemana-mana.
sip... semoga ada hikmat terpetik dari tarian jariku pagi ini. tuch kan. masih nulis lagi. udah stop. ya udah. ini juga mau udahan. analisa downtime belum dibikin mesti segera diselesaiin.
ya iya. ini juga udahan koq. lah. bagaimana sih. katanya udahan masih nulis juga. he...he..he...
iya...iya... stop dah. stop!!!!
(sayang banget, gambar tidak dapat gue pasang disini. guenya yang gak bisa, maksudnya)
Rabu, 22 April 2009
buangin sampah gue!
Hati-hati berkehendak
Ada seorang supervisor cost accounting. Chinest. Disebuah perusahaan, jika jabatannya sudah spv alias supervisor biasanya mempunyai daya magnet lumayan tinggi. Pengaruh maksudnya. Dimata para staff biasa, orang ini cukup disegani. Disamping ketelitian tinggi, disiplin dan tak kenal kompromi terhadap adanya penyimpangan data (cost gitu loh, duit duit. Oalah duit. Tiap hari berkutat sama perhitungan rugi laba dan cost production, labour cost, dan sejenisnya) yang kurang sreg. Intinya, harus zero defect. Cacat nul. Nihil penyimpangan. Serupiahpun. Udah kebayang, karakter gimana hendak kusampaikan tentang orang ini.
Sebut saja Koh. Tidak lantas, Koh tidak bisa diperintah. Tergantung bagaimana cara memanfaatkan move-energi.
Ceritanya gini nih. Aku bertaruh sebungkus rokok sama temen. Kalau aku bisa membuat Koh membuang sampah dari tanganku. Menyalakan rokok dimulutku. Maka, si temen ini harus membayar dengan dua bungkus rokok untukku. Ya iyalah, masak untuk monyet. Jelas untukku dong. Gimana sih?
Si temen ini ngotot ‘ah, mana mungkin’, secara, biasa urusan job aja mesti adu argument dulu untuk bisa ngalahin dia. Apalagi urusan update data yang jelas-jelas kita salah. Mesti ada berita acara dulu (ngemis istilahnya) baru ia mau berbuat.
Taruhan dinaikkan, untuk dia limapuluh ribu. Untukku cukup (tetap) dua bungkus rokok. Ia udah yakin banget bakal makan nasi padang siang ini. Akupun still yakin aja dengan perbuatanku.
“Koh”, kataku, “transaksi kemarin, ada kesalahan input data dibagian produksi. Sementara, cost sudah terlanjur diposting. Ini, akan berakibat pada posting month and close akhir bulan nanti. Ending balance tidak akan nyambung untuk periode kedepan”
Si Koh, mulai menoleh. “jurus pertama masuk” batinku. Untuk menarik simpati dan perhatian Koh, sengaja aku sodorkan permasalahan yang unik dan merugikan dia. Fatal akibatnya kalau tidak didengarkan. Akhirnya, Koh dengan antusias mendengarkan penjelasanku. Segala proses dan alur transaksi system aku jelaskan secara detail.
Interaksi dialog pun terjadi. Si Koh makin serius. Konsentrasi Koh seratus persen full pada pembicaraan. Ditengah asyik masyuk seperti itu. Perlahan aku keluarkan korek dan rokok yang masih utuh (belum dibuka segel). Dimana, kalau dibuka, harus ada part (bagian) harus dibuang. Inilah, sampah yang harus dibuang sama Koh.
Korek aku sodorkan ke dia. Sambil bercerita tentu saja. Tuch korek, aku peragakan sebagai sebuah data. Sengaja ceritaku se-berbelit mungkin.
Mau tidak mau, ia antusias menyimak. Sangat malah. Begitu pembicaraan makin masuk. aku buka rokok tadi. Dengan sampah masih aku pegang dengan tangan kiri. Sementara, tangan kanan masih pegang rokok.
Dengan body moving, aku atur sedemikian rupa. Sementara pikiranku tetap konsentrasi kearah mata. Memastikan ia semakin terlena dengan ucapanku. Costing gitu loh. Dia pasti super gerah kalau saja kesalahan benar-benar terjadi. Kalau tidak dapat diupdate ia bakalan kebakaran jenggot nantinya.
Sampah (tutup segel rokok yang beberapa menit lalu aku buka) telah berpindah tangan. Si Koh ini tidak menyadari. Aku pun hanya bilang degnan bahasa isyarat, “telunjuk menunjuk tempat sampah disebelah dia”, tanpa ucapan –nyuruh- ia membuang tuch sampah ketempatnya. Ingat, si Koh tetap antusias dan konsentrasi dengan topik pembicaraan.
“Yes”, batinku. Tanpa mengalihkan pembicaraan. Aku melirik ke teman. Ia mulai nyengir akan kecerdikanku. Misi pertama sukses. “Si Koh berhasil aku suruh ngebuangin sampah!” skak mat. Satu kosong buatku. Si temen udah kelihatan lemes aja. Tapi, ia mengacungkan satu jari. Pertanda, masih ada satu misi lagi.
Aku mengeluarkan rokok (sebatang. Ya iya lah. Mau di isep masa dua. Emang mulut gue berapa.), taruh di mulut. Bukan di hidung, tentu saja. Sambil terus meningkatkan interaksi dialog, tanganku berusaha gerayangan dari saku baju. Pindah ke saku celana, kanan, kiri, sambil terus tanganku bergerak mengikuti irama ucapanku (body moving juga) membuat ia semakin berusaha konsentrasi.
Hasilnya, si Koh ini menyalakan korek. Dan, nyus, mendekatkan tangannya kearah mulutku. Puss..pusss..puss. rokokpun nyala.
“Yes!” missiku berhasil dengan sukses. Si temen hanya nyengir. Untuk tidak mengundang kecurigaan, aku tetap melanjutkan topik pembicaraan. Intinya, aku harus menjelaskan lagi bagaimana kemungkinan untuk update data itu. Dimana, jelas-jelas transaksi itu hanya fiktif. Alias, problem yang aku buat-buat. Alias ngibul belaka.
“Oh, iya. Sorry. Aku salah persepsi. Ternyata transak udah benar” kataku. Akupun sambar pesawat aipun dan pura-pura ngecek ke bagian administrasi produksi. “Gimana, prosedur udah dijalankan dengan benar? Oke. Kalau gitu tidak ada masalah. Hanya saja, aku tadi salah dengar.”
Pembicaraan dengan Koh pun selesai sudah. Aku minta kembali korek itu dari tangannya. Dan aku ucapkan, “terimakasih bos. Anda layak jadi body guard-ku. Tanpa sadar anda telah menyalakan rokokku” kataku. Ia pun tersenyum, tanpa merasa tersinggung. Karena memang aku tidak nyuruh. Hanya reaksi spontan.
Sebaliknya, ia juga puas karena telah mendapatkan sharing penjelasan seputar cost specialisasi job-nya. Bahkan, ia berterimakasih juga karena ‘telah diselamatkan’ dari sebuah transaksi yang ‘bisa saja’ membahayakan posting month and closed akhir bulan ini.
Kejadian itu, nyata. Terjadi tahun 2004. si pecundang itu aku sendiri. Dan si temen –yang harus merelakan dua bungkus rokok- teman satu ruangan.
Hendak aku paparkan dari uraian diatas ialah, hati-hati dengan kehendak disekitar anda yang tidak anda sadari. Jangan sembarangan menanamkan keinginan dalam hati. Ingatlah, kekuatan pikiran jauh lebih dahsyat dapat menggerakkan segala sesuatu. Tapi, jauh lebih dahsyat lagi adalah kekuatan hati.
Bila hati anda jernih. Bila jiwa anda suci. Bila pikiran anda bersih. Anda akan dapat menggerakkan gunung hanya dengan “suara batin” anda. Fakta! Aku dapat menggerakkan seorang -supervisor cost accounting yang seorang chainis yang terkenal dilingkunganku sangat tetili dan a lot dalam hal negosiasi- untuk membuangkan sampahku dan menyalakan rokokku. Tanpa ia sadari!
Bisa jadi, anda dengan segala rutinitas keseharian anda adalah si Koh yang begitu serius menyimak pembicaraanku. Dan, aku hanyalah symbol dari transaksi kehidupan yang begitu menggoda dan melenakan. Sementara, anda tidak sadar telah melakukan perbuatan yang hanya menjauhkan dari tujuan hidup itu sendiri.
Waspadalah, anda pun bisa saja membuangkan sampah bahkan menyalakan rokokku tanpa anda sadari. Dan, itu jelas bukan keinginan anda. Kehidupan serba menipu. Jangan lekas percaya apa yang ada di depan anda. Tapi, percayalah dengan apa yang anda pahami dengan hati anda.
Untuk itu, biarkan Tuhan memberikan pendengaran dan penglihatan-Nya ke dalam lubuk hati anda. Waktunya adalah, sepertiga malam terakhir saat anda sujud dengan begitu damai dan khusyuk untuk menyembah-Nya. Disetiap penghujung malam, Ia bersama malaikatnya turun kelangit bumi untuk hamba-hamba_Nya.
Ashsholatu khoirun minannaum…..! Mau?
Ada seorang supervisor cost accounting. Chinest. Disebuah perusahaan, jika jabatannya sudah spv alias supervisor biasanya mempunyai daya magnet lumayan tinggi. Pengaruh maksudnya. Dimata para staff biasa, orang ini cukup disegani. Disamping ketelitian tinggi, disiplin dan tak kenal kompromi terhadap adanya penyimpangan data (cost gitu loh, duit duit. Oalah duit. Tiap hari berkutat sama perhitungan rugi laba dan cost production, labour cost, dan sejenisnya) yang kurang sreg. Intinya, harus zero defect. Cacat nul. Nihil penyimpangan. Serupiahpun. Udah kebayang, karakter gimana hendak kusampaikan tentang orang ini.
Sebut saja Koh. Tidak lantas, Koh tidak bisa diperintah. Tergantung bagaimana cara memanfaatkan move-energi.
Ceritanya gini nih. Aku bertaruh sebungkus rokok sama temen. Kalau aku bisa membuat Koh membuang sampah dari tanganku. Menyalakan rokok dimulutku. Maka, si temen ini harus membayar dengan dua bungkus rokok untukku. Ya iyalah, masak untuk monyet. Jelas untukku dong. Gimana sih?
Si temen ini ngotot ‘ah, mana mungkin’, secara, biasa urusan job aja mesti adu argument dulu untuk bisa ngalahin dia. Apalagi urusan update data yang jelas-jelas kita salah. Mesti ada berita acara dulu (ngemis istilahnya) baru ia mau berbuat.
Taruhan dinaikkan, untuk dia limapuluh ribu. Untukku cukup (tetap) dua bungkus rokok. Ia udah yakin banget bakal makan nasi padang siang ini. Akupun still yakin aja dengan perbuatanku.
“Koh”, kataku, “transaksi kemarin, ada kesalahan input data dibagian produksi. Sementara, cost sudah terlanjur diposting. Ini, akan berakibat pada posting month and close akhir bulan nanti. Ending balance tidak akan nyambung untuk periode kedepan”
Si Koh, mulai menoleh. “jurus pertama masuk” batinku. Untuk menarik simpati dan perhatian Koh, sengaja aku sodorkan permasalahan yang unik dan merugikan dia. Fatal akibatnya kalau tidak didengarkan. Akhirnya, Koh dengan antusias mendengarkan penjelasanku. Segala proses dan alur transaksi system aku jelaskan secara detail.
Interaksi dialog pun terjadi. Si Koh makin serius. Konsentrasi Koh seratus persen full pada pembicaraan. Ditengah asyik masyuk seperti itu. Perlahan aku keluarkan korek dan rokok yang masih utuh (belum dibuka segel). Dimana, kalau dibuka, harus ada part (bagian) harus dibuang. Inilah, sampah yang harus dibuang sama Koh.
Korek aku sodorkan ke dia. Sambil bercerita tentu saja. Tuch korek, aku peragakan sebagai sebuah data. Sengaja ceritaku se-berbelit mungkin.
Mau tidak mau, ia antusias menyimak. Sangat malah. Begitu pembicaraan makin masuk. aku buka rokok tadi. Dengan sampah masih aku pegang dengan tangan kiri. Sementara, tangan kanan masih pegang rokok.
Dengan body moving, aku atur sedemikian rupa. Sementara pikiranku tetap konsentrasi kearah mata. Memastikan ia semakin terlena dengan ucapanku. Costing gitu loh. Dia pasti super gerah kalau saja kesalahan benar-benar terjadi. Kalau tidak dapat diupdate ia bakalan kebakaran jenggot nantinya.
Sampah (tutup segel rokok yang beberapa menit lalu aku buka) telah berpindah tangan. Si Koh ini tidak menyadari. Aku pun hanya bilang degnan bahasa isyarat, “telunjuk menunjuk tempat sampah disebelah dia”, tanpa ucapan –nyuruh- ia membuang tuch sampah ketempatnya. Ingat, si Koh tetap antusias dan konsentrasi dengan topik pembicaraan.
“Yes”, batinku. Tanpa mengalihkan pembicaraan. Aku melirik ke teman. Ia mulai nyengir akan kecerdikanku. Misi pertama sukses. “Si Koh berhasil aku suruh ngebuangin sampah!” skak mat. Satu kosong buatku. Si temen udah kelihatan lemes aja. Tapi, ia mengacungkan satu jari. Pertanda, masih ada satu misi lagi.
Aku mengeluarkan rokok (sebatang. Ya iya lah. Mau di isep masa dua. Emang mulut gue berapa.), taruh di mulut. Bukan di hidung, tentu saja. Sambil terus meningkatkan interaksi dialog, tanganku berusaha gerayangan dari saku baju. Pindah ke saku celana, kanan, kiri, sambil terus tanganku bergerak mengikuti irama ucapanku (body moving juga) membuat ia semakin berusaha konsentrasi.
Hasilnya, si Koh ini menyalakan korek. Dan, nyus, mendekatkan tangannya kearah mulutku. Puss..pusss..puss. rokokpun nyala.
“Yes!” missiku berhasil dengan sukses. Si temen hanya nyengir. Untuk tidak mengundang kecurigaan, aku tetap melanjutkan topik pembicaraan. Intinya, aku harus menjelaskan lagi bagaimana kemungkinan untuk update data itu. Dimana, jelas-jelas transaksi itu hanya fiktif. Alias, problem yang aku buat-buat. Alias ngibul belaka.
“Oh, iya. Sorry. Aku salah persepsi. Ternyata transak udah benar” kataku. Akupun sambar pesawat aipun dan pura-pura ngecek ke bagian administrasi produksi. “Gimana, prosedur udah dijalankan dengan benar? Oke. Kalau gitu tidak ada masalah. Hanya saja, aku tadi salah dengar.”
Pembicaraan dengan Koh pun selesai sudah. Aku minta kembali korek itu dari tangannya. Dan aku ucapkan, “terimakasih bos. Anda layak jadi body guard-ku. Tanpa sadar anda telah menyalakan rokokku” kataku. Ia pun tersenyum, tanpa merasa tersinggung. Karena memang aku tidak nyuruh. Hanya reaksi spontan.
Sebaliknya, ia juga puas karena telah mendapatkan sharing penjelasan seputar cost specialisasi job-nya. Bahkan, ia berterimakasih juga karena ‘telah diselamatkan’ dari sebuah transaksi yang ‘bisa saja’ membahayakan posting month and closed akhir bulan ini.
Kejadian itu, nyata. Terjadi tahun 2004. si pecundang itu aku sendiri. Dan si temen –yang harus merelakan dua bungkus rokok- teman satu ruangan.
Hendak aku paparkan dari uraian diatas ialah, hati-hati dengan kehendak disekitar anda yang tidak anda sadari. Jangan sembarangan menanamkan keinginan dalam hati. Ingatlah, kekuatan pikiran jauh lebih dahsyat dapat menggerakkan segala sesuatu. Tapi, jauh lebih dahsyat lagi adalah kekuatan hati.
Bila hati anda jernih. Bila jiwa anda suci. Bila pikiran anda bersih. Anda akan dapat menggerakkan gunung hanya dengan “suara batin” anda. Fakta! Aku dapat menggerakkan seorang -supervisor cost accounting yang seorang chainis yang terkenal dilingkunganku sangat tetili dan a lot dalam hal negosiasi- untuk membuangkan sampahku dan menyalakan rokokku. Tanpa ia sadari!
Bisa jadi, anda dengan segala rutinitas keseharian anda adalah si Koh yang begitu serius menyimak pembicaraanku. Dan, aku hanyalah symbol dari transaksi kehidupan yang begitu menggoda dan melenakan. Sementara, anda tidak sadar telah melakukan perbuatan yang hanya menjauhkan dari tujuan hidup itu sendiri.
Waspadalah, anda pun bisa saja membuangkan sampah bahkan menyalakan rokokku tanpa anda sadari. Dan, itu jelas bukan keinginan anda. Kehidupan serba menipu. Jangan lekas percaya apa yang ada di depan anda. Tapi, percayalah dengan apa yang anda pahami dengan hati anda.
Untuk itu, biarkan Tuhan memberikan pendengaran dan penglihatan-Nya ke dalam lubuk hati anda. Waktunya adalah, sepertiga malam terakhir saat anda sujud dengan begitu damai dan khusyuk untuk menyembah-Nya. Disetiap penghujung malam, Ia bersama malaikatnya turun kelangit bumi untuk hamba-hamba_Nya.
Ashsholatu khoirun minannaum…..! Mau?
Senin, 20 April 2009
ulang tahun konyol
minggu (19/04) hari terindah bagi anakku -rangga. tiga tahun. sebenarnya ultah tuch tanggal 16. pas hari kerja. diundur.
mendadak pula. akhirnya, satu blok aja diundang. total 30 anak diundang. yang hadir 27. yang bawa kado 24. duh, seneng banget tuch si botak. lebih lucu lagi komentar atau tulisan di kado yang mereka bawa.
"dor juga! hayooo, jangan ngompol lagi yach...", ini salah satu komentar ditulis di kertas pembungkus kado yang paling lucu. tahu aja, kalau rangga masih hoby ngompol.
undangannya pun sangat sederhana sekali sehingga selembar saja selesai. tulis tangan lagi. bener-bener darurat. pagi bikin coret-coret, langsung photocopy, langsung edarin, langsung pesen kue, pokoknya serba langsung dech.
baru kali ini, aku kira, undangn dengan di tulis tangan. mau tahu tulisannya seperti apa?
ini dia,
assalamu alaikum...
dor! kaget ya, (nama yang diundang)
temen-temen, rangga mau cerita nih
alhamdulillah,
aku udah tiga tahun loh
udah gedhe ya. bentar lagi sekolah.
biar pinter gitu
oh iya. do'ain aku ya, semoga
menajadi anak sholeh.
trus, kalau udah gedhe menjadi
pembela agama allah. cerdas,
tangguh, dan menjadi pemimpin
orang-orang muttaqin
amin.
koq, tmen-temen diam aja
ayo, aminkan bareng-bareng
sambil tengadahkan tangan ya
itung dulu: 1, 2, 3...
amin, amin, yaa robbal alamin
insya allah dikabulkan sama
allah deh.
terimakasih atas do'anya
jangan lupa, datang kerumah
aku ya
AHAD SORE, 23 rabiul tsani 1430
19 april 2009
jangan sampai gak dateng loh.
JAM 4 SORE, inget-inget ya...
undangan ditulis dalam separuh lembar. sebelum photocopy, nulisnya dua kali. kanan kiri, seperti kolom koran gitu. kertas ukuran a4 (kwarto) trus, digaris bingkai pemisah. modal dua ribu perak buat photocopy.
bikin kue ultah sama tetangga 35 rb (ngomong doang, bayarnya entar). nasi kuning, sama tetangga juga, 40 bungkus @2500 total 100 rb (baru bayar 50 rb, masih ngutang separoh. bayar gajian). trus, chicky atau makanan ringan tujuh macem (ada yang gopek-an, ada yang cepek-an) perbungkus, sama pembungkus plastiknya sekalian, total habis 75 rb-an. terpal -pinjem dimasjid- buat lesehan. tak perlu tenda-tendaan. gratis.
total jendral, seharusnya habis 210 rb. tapi, baru ngeluarin duit 125 rb. untuk belanja di pasar harus cash. kalau sama tetangga bisa ngutang dulu. sama-sama tahu. tanggal tua.
ulang tahun pun sukses. modal cuap-cuap. berani ngedongeng. apa aja. toch anak kecil gak bakalan protes. ceritanya tentang kancil nyasar kehutan, ketemu harimau. hayo, tebak gimana kelanjutannya?
namanya anak udah ngebet. ketularan gaya kota. udah tahu tanggal tua, mau ulang tahun juga. gara-gara omongan sore, "rangga sekarang udah gedhe, udah tiga tahun. nakalnya dikurangin ya... ngompolnya juga".
"klo udah gedhe kan, ada ulang tahun. kayak farel kemarin. dapet kue kue. banyak,...." mulai dech si kecil ngoceh. hasil didapat dari pergaulan.
mendadak pula. akhirnya, satu blok aja diundang. total 30 anak diundang. yang hadir 27. yang bawa kado 24. duh, seneng banget tuch si botak. lebih lucu lagi komentar atau tulisan di kado yang mereka bawa.
"dor juga! hayooo, jangan ngompol lagi yach...", ini salah satu komentar ditulis di kertas pembungkus kado yang paling lucu. tahu aja, kalau rangga masih hoby ngompol.
undangannya pun sangat sederhana sekali sehingga selembar saja selesai. tulis tangan lagi. bener-bener darurat. pagi bikin coret-coret, langsung photocopy, langsung edarin, langsung pesen kue, pokoknya serba langsung dech.
baru kali ini, aku kira, undangn dengan di tulis tangan. mau tahu tulisannya seperti apa?
ini dia,
assalamu alaikum...
dor! kaget ya, (nama yang diundang)
temen-temen, rangga mau cerita nih
alhamdulillah,
aku udah tiga tahun loh
udah gedhe ya. bentar lagi sekolah.
biar pinter gitu
oh iya. do'ain aku ya, semoga
menajadi anak sholeh.
trus, kalau udah gedhe menjadi
pembela agama allah. cerdas,
tangguh, dan menjadi pemimpin
orang-orang muttaqin
amin.
koq, tmen-temen diam aja
ayo, aminkan bareng-bareng
sambil tengadahkan tangan ya
itung dulu: 1, 2, 3...
amin, amin, yaa robbal alamin
insya allah dikabulkan sama
allah deh.
terimakasih atas do'anya
jangan lupa, datang kerumah
aku ya
AHAD SORE, 23 rabiul tsani 1430
19 april 2009
jangan sampai gak dateng loh.
JAM 4 SORE, inget-inget ya...
undangan ditulis dalam separuh lembar. sebelum photocopy, nulisnya dua kali. kanan kiri, seperti kolom koran gitu. kertas ukuran a4 (kwarto) trus, digaris bingkai pemisah. modal dua ribu perak buat photocopy.
bikin kue ultah sama tetangga 35 rb (ngomong doang, bayarnya entar). nasi kuning, sama tetangga juga, 40 bungkus @2500 total 100 rb (baru bayar 50 rb, masih ngutang separoh. bayar gajian). trus, chicky atau makanan ringan tujuh macem (ada yang gopek-an, ada yang cepek-an) perbungkus, sama pembungkus plastiknya sekalian, total habis 75 rb-an. terpal -pinjem dimasjid- buat lesehan. tak perlu tenda-tendaan. gratis.
total jendral, seharusnya habis 210 rb. tapi, baru ngeluarin duit 125 rb. untuk belanja di pasar harus cash. kalau sama tetangga bisa ngutang dulu. sama-sama tahu. tanggal tua.
ulang tahun pun sukses. modal cuap-cuap. berani ngedongeng. apa aja. toch anak kecil gak bakalan protes. ceritanya tentang kancil nyasar kehutan, ketemu harimau. hayo, tebak gimana kelanjutannya?
namanya anak udah ngebet. ketularan gaya kota. udah tahu tanggal tua, mau ulang tahun juga. gara-gara omongan sore, "rangga sekarang udah gedhe, udah tiga tahun. nakalnya dikurangin ya... ngompolnya juga".
"klo udah gedhe kan, ada ulang tahun. kayak farel kemarin. dapet kue kue. banyak,...." mulai dech si kecil ngoceh. hasil didapat dari pergaulan.
Jumat, 17 April 2009
menulis adalah...
menulis itu dari dalam jiwa. jika jiwamu murni, menulis akan mengalir tanpa hambatn. jika tak murni? kau harus berlatih mati-matian.
jangan biarkan pikiran merajai aktivitas, biarkan hatimu pegang kendali. perbanyaklah melatih simpati, gali empati, pertajam intuisi. hanya itu satu-satunya cara agar jiwamu suci kembali.
sebagimana bayi dalam kandungan yang baru saja ditiupkan ruh oleh sang maha kreasi. kosong. putih. bersih. masih berupa lembaran siap kau toreh apa saja. sementara tintanya adalah darah setiap saat mengalir dalam diri. tak perlu kau tuntun, ia akan bergerak sendiri.
aku manggut-manggut saat membaca tulisan ini. secara, ada dibuku diary yang biasa aku bawa. lupa juga sih, kapan dan pada saat bagaimana aku menuliskan itu. hanya saja, aku jadi merenung juga gara-gara coretan ini.
berarti, aku harus memurnikan jiwaku untuk dapat memunculkan (ilmu) kesaktianku dalam hal tulis menulis.
caranya?
jangan biarkan pikiran merajai aktivitas, biarkan hatimu pegang kendali. perbanyaklah melatih simpati, gali empati, pertajam intuisi. hanya itu satu-satunya cara agar jiwamu suci kembali.
sebagimana bayi dalam kandungan yang baru saja ditiupkan ruh oleh sang maha kreasi. kosong. putih. bersih. masih berupa lembaran siap kau toreh apa saja. sementara tintanya adalah darah setiap saat mengalir dalam diri. tak perlu kau tuntun, ia akan bergerak sendiri.
aku manggut-manggut saat membaca tulisan ini. secara, ada dibuku diary yang biasa aku bawa. lupa juga sih, kapan dan pada saat bagaimana aku menuliskan itu. hanya saja, aku jadi merenung juga gara-gara coretan ini.
berarti, aku harus memurnikan jiwaku untuk dapat memunculkan (ilmu) kesaktianku dalam hal tulis menulis.
caranya?
nikmat itu saat ini
"empat dari lima orang sakit bukan dari kerusakan phisik. tapi, akibat seringnya mengalami kecemasan, kegelisahan, kebencian, ketidak-mampuan menyesuaikan diri dengan kehidupan" Dr. W.S. Fritz
kemarin adalah masa lalu yang tidak dapat diubah. sementara, esok adalah sesuatu yang tidak tahu apa bakal terjadi. lantas, untuk apa mengeluarkan energi begitu banyak mengubah yang tidak mungkin?
ikhlaskan, ridhokan. maka, anda dapat menikmati apa yang saat ini anda alami.
just, coretan perjalanan pagi.
kemarin adalah masa lalu yang tidak dapat diubah. sementara, esok adalah sesuatu yang tidak tahu apa bakal terjadi. lantas, untuk apa mengeluarkan energi begitu banyak mengubah yang tidak mungkin?
ikhlaskan, ridhokan. maka, anda dapat menikmati apa yang saat ini anda alami.
just, coretan perjalanan pagi.
Label:
catatan kertas,
renungan
Wanita Oh Wanita(5)
duhai istriku,
engkaulah jenis makhluk paling agung
penghormatan untukmu tiga kali daripadaku
hanya darimu-lah, kelak lahir pemimpin dunia
bukan dari aku
aku memang bisa saja mewariskan
sifat, semangat, dan budi(pekerti)ku
tetap saja,
hanya engkau dapat menyediakan
rahim untuk tumbuhnya jasad mungil itu
dan, dari jasad itu kelak
aku mengabadikan diri
melalui buaianmu terhadap anakku, tentu saja.
rasulullah, juga lahir dari rahim seorang wanita mulia.
*)"wanita-lah yang telah mempersembahkan orang-orang besar di dunia ini"
pesanku, jagalah sholatmu, maka, allah akan menjagamu
jangan kau hancurkan keagunganmu dengan
engkau hinakan dirimu sendiri melalui perbuatanmu
coretan diatas kereta express (pagi) bekasi-kota (17/04)
*)inspirasi dari Aidh Al Qarni
engkaulah jenis makhluk paling agung
penghormatan untukmu tiga kali daripadaku
hanya darimu-lah, kelak lahir pemimpin dunia
bukan dari aku
aku memang bisa saja mewariskan
sifat, semangat, dan budi(pekerti)ku
tetap saja,
hanya engkau dapat menyediakan
rahim untuk tumbuhnya jasad mungil itu
dan, dari jasad itu kelak
aku mengabadikan diri
melalui buaianmu terhadap anakku, tentu saja.
rasulullah, juga lahir dari rahim seorang wanita mulia.
*)"wanita-lah yang telah mempersembahkan orang-orang besar di dunia ini"
pesanku, jagalah sholatmu, maka, allah akan menjagamu
jangan kau hancurkan keagunganmu dengan
engkau hinakan dirimu sendiri melalui perbuatanmu
coretan diatas kereta express (pagi) bekasi-kota (17/04)
*)inspirasi dari Aidh Al Qarni
Kamis, 16 April 2009
Wanita Oh Wanita(4)
Duhai istriku,
Jangan katakan aku, suami sok romantis. Tapi, jujur aku katakan. Setiap mendapatkan sesuatu (bacaan) dari para cendekia, tak sabar rasanya untuk segera berbagi keteduhan ini. Dan, ini, satu lagi goresan kuabadikan disini.
Penawar (sakit) hati ada dalam wahyu (alquran)
Rasa tenteram bersandar pada keimanan
Kebahagiaan hati terdapat dalam shalat
Ketulusan tergantung pada keridhaan
Ketenangan jiwa tergantung kerelaan dalam menerima setiap kejadian
Kecantikan wajah ada pada senyuman
Keamanan martabat terdapat dalam hijab
Ketenteraman pikir terdapat dalam dzikir (aidh al qarni)
Jangan katakan aku, suami sok romantis. Tapi, jujur aku katakan. Setiap mendapatkan sesuatu (bacaan) dari para cendekia, tak sabar rasanya untuk segera berbagi keteduhan ini. Dan, ini, satu lagi goresan kuabadikan disini.
Penawar (sakit) hati ada dalam wahyu (alquran)
Rasa tenteram bersandar pada keimanan
Kebahagiaan hati terdapat dalam shalat
Ketulusan tergantung pada keridhaan
Ketenangan jiwa tergantung kerelaan dalam menerima setiap kejadian
Kecantikan wajah ada pada senyuman
Keamanan martabat terdapat dalam hijab
Ketenteraman pikir terdapat dalam dzikir (aidh al qarni)
Label:
catatan (hati) seorang suami,
renungan
Rabu, 15 April 2009
semua (berawal) dari tempat tidur(1)
“Waalaikum salam…” jawab istri dari seberang telpon. Baru saja aku call ke rumah. Ingat aja, Rangga kemarin sore masih mencret. Secara, mencretnya koq aneh gitu. Ada semacam lendir lembut. Warnanya hitam. Udah tiga hari sih. kalau untuk semalam, mencretnya udah berupa kuning. Normal. “Dari pagi sampai siang masih mencret. Tapi, hanya cepirit. Dikit dikit gitu. Ini lagi nyuciin celana”, kata istri lagi.
“Udah aja. Ngapain mesti dicuci. Biarin aja. Tinggalin. Tunggu ayah pulang. konsen aja sama si botak. Trus,…..”
Memang tuch bocah kelakukan banget. Udah tahu lagi begitu, mainnya gak mau diam. Lari sana sini. Nyelonong ke rumah tetangga. Siapa aja yang pintunya kebuka. Kalau pada tutupan pintu, digedor-gedor. Sambil teriak, “Kiki! Main!” katanya. Atau juga, “Cal, lihat CD yuk. Rangga udah beli ultraman tiga. Serem deh. Ada robotnya”. Udah dah, alamat rumah jadi bioskop.
Mending kalau pada diem. “Aku ranger merah loh. Keren” kata Rangga. “Aku yang kuning. Jagoan” Kiki tak mau kalah. “Kalau aku monsternya aja, badannya gedhe. Serem” Ical nimpalin, lebih ngotot lagi. Ciat. Ciaat. Ciaaaat. Ada yang pegang tembakan. Ada yang ambil sapu. Berantem dah. Perang-perangan. Daripada kepala meledak, istri keluar. Duduk didepan warung. Baca buku. Atau ngobrol sama ibu-ibu yang kebetulan lagi pada nyuapin anaknya.
Prolog diatas hanya pembuka aja sih. cerita sebenarnya adalah, “semua berawal dari tempat tidur”
Mulai ya,
Gini. Ternyata apa yang dikatakan Napoleon Bonaparte ada benernya juga. “Hanya wanita istimewa yang berada di balik laki-laki luar biasa”.
Coba deh, aku cermati.
Semalem, mataku udah gak bisa melek sama sekali. Ngantuk bukan main. Tapi, di tempat tidur tuch, istri masih aja ngajakin diskusi. Meski sambil merem-merem, aku layanin juga. Pas udah gak kuat bener. Aku bangun. Lihat jam, “alhamdulillah, 23:23” batinku. Setengah dua belas man! Secara, dari jam sepuluh ‘teng’ berangkat ke tempat tidur.
Biar mata tetep melek –masalahnya istri lagi demen-demennya belajar sholat nih. sayang aja dilewatin. Capek kayak gimana, mesti dilayanin. Tul gak. Duh senengnya yang punya suami model gue. Narsis abis ‘mode on’ wkek wkek wkek- aku bangun keluar kamar. Maksudnya, saat masuk lagi istri udah merem gitu. Eh, malah ikutan keluar. Duh, klo cinta mati emang begini ini nih. Ibarat, kencing aja diikutin. Akhirnya, aku minum sari kurma seteguk. Terusin lagi diskusi. Masih sambil rebahan.
Wah, gila. Baru mau mulai cerita soal diskusi itu. Tiba-tiba hang lagi nih. emang gini nih kalau amatiran. Saat dibutuhin memori malah ngadat. Ingatan blank sama sekali. Mendadak ilang aja gitu. Ya udah dah, terusin lagi kapan kapan.
Tiba-tiba ingat nih. satu topik dulu dah. Soal, masuk surga.
“Wanita itu gampang banget masuk surga. Cukup mengabdi sepenuh hati dengan segala keikhlasan sama suami. Cukup. Apa kata suami ikutin” kataku. “Kalau laki-laki, berat. Mesti bener semuanya dulu, istri, anak, baru dah. Gak cukup cuma diri sendiri aja bener. Istri dan anak menjadi tanggungan”.
Satu nih ya, kewajiban suami adalah mendidik istri. sementara istri, mesti ngajarin anak-anak. Tanggung jawab istri sebatas buat anak aja. Kalau suami gak bener istri gak dimintain pertanggung jawaban secara penuh. Beda sama suami. Istri dulu dilihat. Bener gak. Anaknya, bener gak. Salah satu aja melenceng, suami kena tanggungan tuch. Tendangan penalty. Apalagi kalau dirinya juga gak bener. Skak mat dah!
Indikator untuk itu semua, Cuma satu. Shalat. Sebagaimana dikatakan Rasulullah, “kalau shalatnya baik, maka baik juga seluruh amalnya”. Makanya, pertama-tama yang mesti dibenerin ya shalatnya itu.
Seutama-utama tahajud, levelnya masih dibawah yang wajib. Tapi, wajibnya bisa bener kalau didukung sama yang sunnah. Ada saling keterkaitan. Gak bisa berdiri sendiri-sendiri. Saling melengkapi.
Amalan pertama yang mesti dilihat nih ya, “yang paling disukai Allah adalah shalat tepat waktu” kudu diingat bener nih. masih ingat gak beberapa bulan lalu ibu bilang, “ah, shalat mah entar aja kalau hatinya udah enak. Orang lagi ribet gini. Kalau duah beres. Udah rapi. Masak sholat mikirin kerjaan.”
Memang sih, istri suka ngakhirin waktu shalat. (Dan, aku juga gak bisa ngotot untuk ngebilangin. Aku sendiri tidak kalah amburadul. Hanya saja, nyuruh istri supaya bener dulu. Sok mau jadi pemimpin gitu. Tukang nyuruh doang.) Dhuhur jam dua. Jam satu lah paling cepet. Isya’ jam sembilan. Atau kalau mau tidur. Giliran ditegur, “kalau hati belum sreg masak mau shalat. Yang ada malah gak khusyu’” sengit gitu jawabnya.
Alhamdulillah, fadhilah tahajud juga nih. gak perlu ditegur lagi. Doain aja. Aduin sama yang punya pabriknya. Eh, sekarang dia sendiri yang kenceng pengin benerin shalat. Tips jitu buat menularkan kebaikan nih, “tak usah terlalu banyak teori dan nyari dalil sana sini. Yang penting udah jelas, lakuin aja. Gak usah banyak protes. Buat istri mah, asalkan tiap hari lihat, tanpa disuruh dia akan ngikutin. Jelasnya –nasehat yang paling baik adalah contoh. Ingat-ingat ya, contoh. Oalaaahhh, contoh contoh (logatnya kayak iklan –agus agus – itu loh).
Pertama dari bacaan dulu. Niat kudu lempeng. Soal khusyuk atau tidak itu urusan nomor enam belas dah. Hak mutlak Allah itu. Manusia hanya boleh berusaha. Khusyuk itu menerima, bukan mencari. Sampai jidat mengkerut. Mata merem melek. Berdiri jadi kaku. Tangan kenceng sedekap. Bukan itu. Yang membikin hati khusyu’ atau ikhlas itu Allah. Dan, ini tergantung usaha juga.
Istri makin diam dan menyimak sambil kedip kedip. Aku udah ngantuk berat. Tapi, istri doyan banget kalau udah dengerin aku cerita. Jadi gak tega buat gak nerusin.
Trus, udah jam lima kurang sepuluh nih. mesti siap-siap pulang. ketinggalan kereta bisa repot. Terusin lagi besok dah. Jangan lupa, pantheng terus di frekuensi ini. Jangan geser gelompang sedikit pun. He..he..he… kayak lagi siaran aja. Trus, radionya apa dong namanya.
Sip. Terusin lagi dah. Masih nyambung kemarin nih. soal benerin sholat. Karena sholat sebagai indikator nanti menerima kitab catatan kehidupan di hari keadilan pakai tangan kanan atau tangan kiri.
Dari iftitah. Selepas takbiratul ikhram kan baca doa tuch. Ada yang allahumma ba’it baini, ada juga yang inni wajjahtu waj hiya dan seterusnya. Terserah aja, pilih mana suka. Paling penting, ngerti maknanya. Maksudnya. Minimal tahu artinya. Soal paham urusan hati dah. Terserah aja daya serap dan daya nalar kejiwaan masing-masing. Makin nambah umur biasanya daya pahamnya makin bagus. Tergantung kelakuan juga tapi.
Allahumma ba’it baini…, visualisasikan sedalem mungkin. Baca pelan. Ya Allah, jauhkan aku dengan kesalahanku, dosa-dosaku, sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat.
Allahumma naqqini minal …., resapi bener bahwa kita minta disucikan dari segala dosa sebagaimana kain putih yang dibersihkan dari segala kotoran.
Allahummaghsil khataa ya…., pahami bener kalau yang kita baca ini maksudnya mohon dengan segala ketundukan hati agar dibersihkan segala dosa (seperti) dengan air salju dan embun. Watsalji wal barrot.
“Mesti ngeh tuch” tandasku.
“Iya ya” istri mulai kagum. Dan, emang kalau udag ngomong, gayaku tuch memukau gitu. Ini juga yang bikin dia kesengsem dan langsung bertekuk lutut waktu aku lamar. “trus, gimana dengan bacaan surat-suratnya yah?”
Sama aja. Intinya, harus paham dengan setiap apa yang diucapkan. Bukan sekedar lafadz doang. Sampai ke intruksi-intruknya segala. Apalagi doa sujud dan ruku tuch. Mensucikan Allah. Mohon petunjuk. Jangan kayak orang mabuk. Kagak ngarti babar blas sama apa yang diomongin. Ini, baru namanya sholat. Bisa mencegah perbuatan keji dan munkar.
“Klo sami’allahuliman hamidah” potong istri, “artinya apa yah?”
“Sami’ tuch dengar. Mendengar. Allah, ya Allah. Trus, man berarti siapa saja. Dalam hal ini berarti manusia. Yang sholat kan manusia. Trus, hamidah. Hmm, apa ya kira-kira” kataku. Sengaja ngasih jeda, kasih pancingan buat istri.
“Loh, katanya harus tahu. Itu, ayah aja lupa. Berarti sholatnya belum bener juga dong” protes istri.
“Masalah bener atau enggak itu bukan tugas ayah buat menilainya. Kewajiban ayah adalah belajar dengan sungguh sungguh biar semakin bagus” kataku. “dalam kondisi begini (menelaah kata per kata bahasa arab) otak harus bekerja”
“Iya. Trus, apa artinya?” istri mulai gak sabar. Klo udah nanya begini, biasanya sambil nempelin kepala di dada. Pokoknya kayak waktu pacaran gitu dah. Atau, pura-puranya mencet hidung. Makin demen aja aku ngulur jawaban.
“Klo hamidah itu, kayaknya anaknya pak hamid (tetangga perumahan). Gak mau susah nyari nama. Akhirnya dikasih akhiran ah doang tuch. Dia pasti ngerti, mending sekarang telpon aja dah. Nanya ke dia” kataku.
“Ih, ngaco! Mendingan juga buka buku yang kemarin ayah beli. Ada semua artinya disana”.
“Lah itu. Udah ada bukunya. Masih nanya. Berarti belum dibaca tuch”
“Ih, ayah nih. kemarin udah. Tadi juga udah. Tapi, lupa lagi”
Kalau diskusi emang mesti gitu ya. Kesannya ringan. Diselingi canda. Sesekali dipancing biar ada interaksi.
“Hamidah. Ha’ mim’ dal’. Hamdu. Alhamdu. Nah, sekarang kalau alhamdulillah artinya apa?”
“Segala puji bagi Allah” jawab istri. singkat. Padat. Langsung nyamber. Kalau ditanya trus kebetulan tahu jawabannya. Bisa tepat, dia girang bagnet tuch. Merasa ada ilmu gitu. perasaan ini yang mesti sering-sering ditiupkan seorang suami ke istrinya. Merasa bangga. Jadi, ada tips lagi nih “tanyakan sesuatu yang istri kemungkinan tahu dan bangga jika bisa menjawab”
“Berarti arti komplitnya, maha mendengar allah, atas siapa saja yang memuji-Nya. Kayaknya benar gitu deh. Coba lagi buka bukunya besok pagi” kataku ngasih kesimpulan. “Kalau melenceng paling dikit”.
“Trus, kalau wudhunya gimana yah?” istri masih nanya lagi. Kirain udahan.
Kalau wudhu mesti konsentrasi juga. Gak boleh sambil ngomong. Hayati setiap gerakan. Saat mbasuh mulut, maksudnya biar terjaga omongan. Diampuni atas segala salah ucap. Usap mata, wajah, telinga, juga gitu. tangan, mesti di pastiin jemari tersirami dengan air wudhu, minta digugurin tuch dosa-dosa yang nyangkut di sela jari. Kaki, juga sama.
Satu kan, tadi. Suami itu kalau mau masuk surga mesti ngedidik istri. trus, istri biar ngedidik anak. Dua-nya, suami punya keajiban ngawasin tuch. Udah bener belum, didiknya. Makanya, kalau ada anakyang badung, jangan langsung salahin istri, “gimana sih loe ngerawat anak? Badung gitu!”
Jadi, disamping bisa mendidik harus juga bisa ngawasin. Mastiin apa yang diajarin itu bener-bener diterapin.
Sekarang, kenapa harus lewat istri. daripada muter-muter gitu, mendingan langsung aja sang ayah yang ngedidik anak.
Tidak sesederhana itu. Seorang istri memiliki perasaan khusus yang tidak bisa dimiliki oleh suami. Dan, ini hanya bisa diturunkan oleh seorang ibu kepada anaknya. Dan tidak bisa oleh bapaknya. Itulah kenapa, setiap anak jauh lebih punya ikatan batin yang kuat kepada ibu ketimbang ayah.
“Iya juga ya” samber istri. “Dulu aja, waktu masih sekolah, dikampung. Kalau belum ketemu mamak (istri panggil ibunya dengan sebutan ‘mamak’) rasanya gimana gitu. pokoknya harus ketemu dulu. Harus lihat dulu. Kalau udah lihat ‘oh disono’, udah. Tenang. Apalagi kalau habis pergi lama. Nginep, belajar dirumah temen, yang dicari pertama kali pasti mamak”
“Ya iya lah. Kalau seorang ibu pergi seharian saja, si anak udah pasti kelimpungan. Tapi, coba dah, si bapak pergi keluar kota, urusan kerja. Seminggu, sebulan. Si anak gak begitu parah. Gak begitu telak imbasnya. Ini, masalah kejiwaan. Gak bisa diraba secara inderawi. Makanya, diperlukan kerja sama antara suami dan istri dalam mendidik anak. Inilah beratnya suami. Dia mesti menanggung istri dan anak. Nggak bener salah satu aja, berat pertanggunjawabannya di akherat nanti. Kalau istri? sebatas diri sendiri saja. Makanya, gampang buat wanita masuk surga mah. Tapi, cara tergelincirnya jauh lebih gampang lagi”
Itu pula sebabnya, kenapa ayah ngotot untuk ngerjain apa yang kira-kira bisa ayah kerjain. Yang Cuma butuh tenaga. Nyuci. Setrika. Kalau ibu megang kerjaan gituan juga, bisa pecah nanti konsentrasi ke anak. Karena ayah tahu. Ayah gak mungkin menstransfer ilmu yang barbasis kejiwaan –psikis- ke anak. Hanya ibu yang bisa. Hanya orang yang punya rahim, yang bisa nglairin. Kalau ayah bisa hamil sih,….” Aku berhenti sejenak karena ada yang ganjil. Curita. Tiba-tiba koq sepi. Suara nafas mendadak teratur.
Sampai sini, aku cerita banyak lagi. Mata udah terlanjur melek. Udah jam 24:08 menit. Dan, istri udah merem. Ampun dah. Lagi enak-enak cerita ditinggal ngorok.
Aku bangun. Perhatiin timer lagi. Pastiin jam setengah tiga bangun. Yang penting bangun dulu. Soal nanti langsung sholat atau tidak. Yang penting udah niat. Biasanya. Butuh setengah jam untuk bener-bener melek sih. kadang, begitu bangun malah langsung ambil kertas sama pulpen. Coret-coret.
Dan, ternyata. Diskusi itu terus aja nyambung dikemudian harinya. Ketika istri selesai baca buku. Trus, dapet ilmu baru. Langsung dah pamer. Ngajakin ngomongin apa yang barusan dibaca. Mau gak mau dah, aku juga buka buku-buku lama.
Met ketemu lagi dah, pada dimensi (diskusi mesra dengan istri) berikutnya. kalau udah tidur dengan didongengin gitu, biasanya pules. pagi bangun udah seger aja bawaannya. yang ngeliat juga seneng. coba kalau bangun tidur, udah mah kusut, ditambah cemberut pula. kuntilanak aja langsung ngibrit kalah takut. gimana suami? satu lagi tips nih, "kalau pengin rasa senang menghampirimu, buat dulu rasa senang itu pada orang terdekatmu. itu hanya akan memantul (kembali) kepadamu"
“Udah aja. Ngapain mesti dicuci. Biarin aja. Tinggalin. Tunggu ayah pulang. konsen aja sama si botak. Trus,…..”
Memang tuch bocah kelakukan banget. Udah tahu lagi begitu, mainnya gak mau diam. Lari sana sini. Nyelonong ke rumah tetangga. Siapa aja yang pintunya kebuka. Kalau pada tutupan pintu, digedor-gedor. Sambil teriak, “Kiki! Main!” katanya. Atau juga, “Cal, lihat CD yuk. Rangga udah beli ultraman tiga. Serem deh. Ada robotnya”. Udah dah, alamat rumah jadi bioskop.
Mending kalau pada diem. “Aku ranger merah loh. Keren” kata Rangga. “Aku yang kuning. Jagoan” Kiki tak mau kalah. “Kalau aku monsternya aja, badannya gedhe. Serem” Ical nimpalin, lebih ngotot lagi. Ciat. Ciaat. Ciaaaat. Ada yang pegang tembakan. Ada yang ambil sapu. Berantem dah. Perang-perangan. Daripada kepala meledak, istri keluar. Duduk didepan warung. Baca buku. Atau ngobrol sama ibu-ibu yang kebetulan lagi pada nyuapin anaknya.
Prolog diatas hanya pembuka aja sih. cerita sebenarnya adalah, “semua berawal dari tempat tidur”
Mulai ya,
Gini. Ternyata apa yang dikatakan Napoleon Bonaparte ada benernya juga. “Hanya wanita istimewa yang berada di balik laki-laki luar biasa”.
Coba deh, aku cermati.
Semalem, mataku udah gak bisa melek sama sekali. Ngantuk bukan main. Tapi, di tempat tidur tuch, istri masih aja ngajakin diskusi. Meski sambil merem-merem, aku layanin juga. Pas udah gak kuat bener. Aku bangun. Lihat jam, “alhamdulillah, 23:23” batinku. Setengah dua belas man! Secara, dari jam sepuluh ‘teng’ berangkat ke tempat tidur.
Biar mata tetep melek –masalahnya istri lagi demen-demennya belajar sholat nih. sayang aja dilewatin. Capek kayak gimana, mesti dilayanin. Tul gak. Duh senengnya yang punya suami model gue. Narsis abis ‘mode on’ wkek wkek wkek- aku bangun keluar kamar. Maksudnya, saat masuk lagi istri udah merem gitu. Eh, malah ikutan keluar. Duh, klo cinta mati emang begini ini nih. Ibarat, kencing aja diikutin. Akhirnya, aku minum sari kurma seteguk. Terusin lagi diskusi. Masih sambil rebahan.
Wah, gila. Baru mau mulai cerita soal diskusi itu. Tiba-tiba hang lagi nih. emang gini nih kalau amatiran. Saat dibutuhin memori malah ngadat. Ingatan blank sama sekali. Mendadak ilang aja gitu. Ya udah dah, terusin lagi kapan kapan.
Tiba-tiba ingat nih. satu topik dulu dah. Soal, masuk surga.
“Wanita itu gampang banget masuk surga. Cukup mengabdi sepenuh hati dengan segala keikhlasan sama suami. Cukup. Apa kata suami ikutin” kataku. “Kalau laki-laki, berat. Mesti bener semuanya dulu, istri, anak, baru dah. Gak cukup cuma diri sendiri aja bener. Istri dan anak menjadi tanggungan”.
Satu nih ya, kewajiban suami adalah mendidik istri. sementara istri, mesti ngajarin anak-anak. Tanggung jawab istri sebatas buat anak aja. Kalau suami gak bener istri gak dimintain pertanggung jawaban secara penuh. Beda sama suami. Istri dulu dilihat. Bener gak. Anaknya, bener gak. Salah satu aja melenceng, suami kena tanggungan tuch. Tendangan penalty. Apalagi kalau dirinya juga gak bener. Skak mat dah!
Indikator untuk itu semua, Cuma satu. Shalat. Sebagaimana dikatakan Rasulullah, “kalau shalatnya baik, maka baik juga seluruh amalnya”. Makanya, pertama-tama yang mesti dibenerin ya shalatnya itu.
Seutama-utama tahajud, levelnya masih dibawah yang wajib. Tapi, wajibnya bisa bener kalau didukung sama yang sunnah. Ada saling keterkaitan. Gak bisa berdiri sendiri-sendiri. Saling melengkapi.
Amalan pertama yang mesti dilihat nih ya, “yang paling disukai Allah adalah shalat tepat waktu” kudu diingat bener nih. masih ingat gak beberapa bulan lalu ibu bilang, “ah, shalat mah entar aja kalau hatinya udah enak. Orang lagi ribet gini. Kalau duah beres. Udah rapi. Masak sholat mikirin kerjaan.”
Memang sih, istri suka ngakhirin waktu shalat. (Dan, aku juga gak bisa ngotot untuk ngebilangin. Aku sendiri tidak kalah amburadul. Hanya saja, nyuruh istri supaya bener dulu. Sok mau jadi pemimpin gitu. Tukang nyuruh doang.) Dhuhur jam dua. Jam satu lah paling cepet. Isya’ jam sembilan. Atau kalau mau tidur. Giliran ditegur, “kalau hati belum sreg masak mau shalat. Yang ada malah gak khusyu’” sengit gitu jawabnya.
Alhamdulillah, fadhilah tahajud juga nih. gak perlu ditegur lagi. Doain aja. Aduin sama yang punya pabriknya. Eh, sekarang dia sendiri yang kenceng pengin benerin shalat. Tips jitu buat menularkan kebaikan nih, “tak usah terlalu banyak teori dan nyari dalil sana sini. Yang penting udah jelas, lakuin aja. Gak usah banyak protes. Buat istri mah, asalkan tiap hari lihat, tanpa disuruh dia akan ngikutin. Jelasnya –nasehat yang paling baik adalah contoh. Ingat-ingat ya, contoh. Oalaaahhh, contoh contoh (logatnya kayak iklan –agus agus – itu loh).
Pertama dari bacaan dulu. Niat kudu lempeng. Soal khusyuk atau tidak itu urusan nomor enam belas dah. Hak mutlak Allah itu. Manusia hanya boleh berusaha. Khusyuk itu menerima, bukan mencari. Sampai jidat mengkerut. Mata merem melek. Berdiri jadi kaku. Tangan kenceng sedekap. Bukan itu. Yang membikin hati khusyu’ atau ikhlas itu Allah. Dan, ini tergantung usaha juga.
Istri makin diam dan menyimak sambil kedip kedip. Aku udah ngantuk berat. Tapi, istri doyan banget kalau udah dengerin aku cerita. Jadi gak tega buat gak nerusin.
Trus, udah jam lima kurang sepuluh nih. mesti siap-siap pulang. ketinggalan kereta bisa repot. Terusin lagi besok dah. Jangan lupa, pantheng terus di frekuensi ini. Jangan geser gelompang sedikit pun. He..he..he… kayak lagi siaran aja. Trus, radionya apa dong namanya.
Sip. Terusin lagi dah. Masih nyambung kemarin nih. soal benerin sholat. Karena sholat sebagai indikator nanti menerima kitab catatan kehidupan di hari keadilan pakai tangan kanan atau tangan kiri.
Dari iftitah. Selepas takbiratul ikhram kan baca doa tuch. Ada yang allahumma ba’it baini, ada juga yang inni wajjahtu waj hiya dan seterusnya. Terserah aja, pilih mana suka. Paling penting, ngerti maknanya. Maksudnya. Minimal tahu artinya. Soal paham urusan hati dah. Terserah aja daya serap dan daya nalar kejiwaan masing-masing. Makin nambah umur biasanya daya pahamnya makin bagus. Tergantung kelakuan juga tapi.
Allahumma ba’it baini…, visualisasikan sedalem mungkin. Baca pelan. Ya Allah, jauhkan aku dengan kesalahanku, dosa-dosaku, sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat.
Allahumma naqqini minal …., resapi bener bahwa kita minta disucikan dari segala dosa sebagaimana kain putih yang dibersihkan dari segala kotoran.
Allahummaghsil khataa ya…., pahami bener kalau yang kita baca ini maksudnya mohon dengan segala ketundukan hati agar dibersihkan segala dosa (seperti) dengan air salju dan embun. Watsalji wal barrot.
“Mesti ngeh tuch” tandasku.
“Iya ya” istri mulai kagum. Dan, emang kalau udag ngomong, gayaku tuch memukau gitu. Ini juga yang bikin dia kesengsem dan langsung bertekuk lutut waktu aku lamar. “trus, gimana dengan bacaan surat-suratnya yah?”
Sama aja. Intinya, harus paham dengan setiap apa yang diucapkan. Bukan sekedar lafadz doang. Sampai ke intruksi-intruknya segala. Apalagi doa sujud dan ruku tuch. Mensucikan Allah. Mohon petunjuk. Jangan kayak orang mabuk. Kagak ngarti babar blas sama apa yang diomongin. Ini, baru namanya sholat. Bisa mencegah perbuatan keji dan munkar.
“Klo sami’allahuliman hamidah” potong istri, “artinya apa yah?”
“Sami’ tuch dengar. Mendengar. Allah, ya Allah. Trus, man berarti siapa saja. Dalam hal ini berarti manusia. Yang sholat kan manusia. Trus, hamidah. Hmm, apa ya kira-kira” kataku. Sengaja ngasih jeda, kasih pancingan buat istri.
“Loh, katanya harus tahu. Itu, ayah aja lupa. Berarti sholatnya belum bener juga dong” protes istri.
“Masalah bener atau enggak itu bukan tugas ayah buat menilainya. Kewajiban ayah adalah belajar dengan sungguh sungguh biar semakin bagus” kataku. “dalam kondisi begini (menelaah kata per kata bahasa arab) otak harus bekerja”
“Iya. Trus, apa artinya?” istri mulai gak sabar. Klo udah nanya begini, biasanya sambil nempelin kepala di dada. Pokoknya kayak waktu pacaran gitu dah. Atau, pura-puranya mencet hidung. Makin demen aja aku ngulur jawaban.
“Klo hamidah itu, kayaknya anaknya pak hamid (tetangga perumahan). Gak mau susah nyari nama. Akhirnya dikasih akhiran ah doang tuch. Dia pasti ngerti, mending sekarang telpon aja dah. Nanya ke dia” kataku.
“Ih, ngaco! Mendingan juga buka buku yang kemarin ayah beli. Ada semua artinya disana”.
“Lah itu. Udah ada bukunya. Masih nanya. Berarti belum dibaca tuch”
“Ih, ayah nih. kemarin udah. Tadi juga udah. Tapi, lupa lagi”
Kalau diskusi emang mesti gitu ya. Kesannya ringan. Diselingi canda. Sesekali dipancing biar ada interaksi.
“Hamidah. Ha’ mim’ dal’. Hamdu. Alhamdu. Nah, sekarang kalau alhamdulillah artinya apa?”
“Segala puji bagi Allah” jawab istri. singkat. Padat. Langsung nyamber. Kalau ditanya trus kebetulan tahu jawabannya. Bisa tepat, dia girang bagnet tuch. Merasa ada ilmu gitu. perasaan ini yang mesti sering-sering ditiupkan seorang suami ke istrinya. Merasa bangga. Jadi, ada tips lagi nih “tanyakan sesuatu yang istri kemungkinan tahu dan bangga jika bisa menjawab”
“Berarti arti komplitnya, maha mendengar allah, atas siapa saja yang memuji-Nya. Kayaknya benar gitu deh. Coba lagi buka bukunya besok pagi” kataku ngasih kesimpulan. “Kalau melenceng paling dikit”.
“Trus, kalau wudhunya gimana yah?” istri masih nanya lagi. Kirain udahan.
Kalau wudhu mesti konsentrasi juga. Gak boleh sambil ngomong. Hayati setiap gerakan. Saat mbasuh mulut, maksudnya biar terjaga omongan. Diampuni atas segala salah ucap. Usap mata, wajah, telinga, juga gitu. tangan, mesti di pastiin jemari tersirami dengan air wudhu, minta digugurin tuch dosa-dosa yang nyangkut di sela jari. Kaki, juga sama.
Satu kan, tadi. Suami itu kalau mau masuk surga mesti ngedidik istri. trus, istri biar ngedidik anak. Dua-nya, suami punya keajiban ngawasin tuch. Udah bener belum, didiknya. Makanya, kalau ada anakyang badung, jangan langsung salahin istri, “gimana sih loe ngerawat anak? Badung gitu!”
Jadi, disamping bisa mendidik harus juga bisa ngawasin. Mastiin apa yang diajarin itu bener-bener diterapin.
Sekarang, kenapa harus lewat istri. daripada muter-muter gitu, mendingan langsung aja sang ayah yang ngedidik anak.
Tidak sesederhana itu. Seorang istri memiliki perasaan khusus yang tidak bisa dimiliki oleh suami. Dan, ini hanya bisa diturunkan oleh seorang ibu kepada anaknya. Dan tidak bisa oleh bapaknya. Itulah kenapa, setiap anak jauh lebih punya ikatan batin yang kuat kepada ibu ketimbang ayah.
“Iya juga ya” samber istri. “Dulu aja, waktu masih sekolah, dikampung. Kalau belum ketemu mamak (istri panggil ibunya dengan sebutan ‘mamak’) rasanya gimana gitu. pokoknya harus ketemu dulu. Harus lihat dulu. Kalau udah lihat ‘oh disono’, udah. Tenang. Apalagi kalau habis pergi lama. Nginep, belajar dirumah temen, yang dicari pertama kali pasti mamak”
“Ya iya lah. Kalau seorang ibu pergi seharian saja, si anak udah pasti kelimpungan. Tapi, coba dah, si bapak pergi keluar kota, urusan kerja. Seminggu, sebulan. Si anak gak begitu parah. Gak begitu telak imbasnya. Ini, masalah kejiwaan. Gak bisa diraba secara inderawi. Makanya, diperlukan kerja sama antara suami dan istri dalam mendidik anak. Inilah beratnya suami. Dia mesti menanggung istri dan anak. Nggak bener salah satu aja, berat pertanggunjawabannya di akherat nanti. Kalau istri? sebatas diri sendiri saja. Makanya, gampang buat wanita masuk surga mah. Tapi, cara tergelincirnya jauh lebih gampang lagi”
Itu pula sebabnya, kenapa ayah ngotot untuk ngerjain apa yang kira-kira bisa ayah kerjain. Yang Cuma butuh tenaga. Nyuci. Setrika. Kalau ibu megang kerjaan gituan juga, bisa pecah nanti konsentrasi ke anak. Karena ayah tahu. Ayah gak mungkin menstransfer ilmu yang barbasis kejiwaan –psikis- ke anak. Hanya ibu yang bisa. Hanya orang yang punya rahim, yang bisa nglairin. Kalau ayah bisa hamil sih,….” Aku berhenti sejenak karena ada yang ganjil. Curita. Tiba-tiba koq sepi. Suara nafas mendadak teratur.
Sampai sini, aku cerita banyak lagi. Mata udah terlanjur melek. Udah jam 24:08 menit. Dan, istri udah merem. Ampun dah. Lagi enak-enak cerita ditinggal ngorok.
Aku bangun. Perhatiin timer lagi. Pastiin jam setengah tiga bangun. Yang penting bangun dulu. Soal nanti langsung sholat atau tidak. Yang penting udah niat. Biasanya. Butuh setengah jam untuk bener-bener melek sih. kadang, begitu bangun malah langsung ambil kertas sama pulpen. Coret-coret.
Dan, ternyata. Diskusi itu terus aja nyambung dikemudian harinya. Ketika istri selesai baca buku. Trus, dapet ilmu baru. Langsung dah pamer. Ngajakin ngomongin apa yang barusan dibaca. Mau gak mau dah, aku juga buka buku-buku lama.
Met ketemu lagi dah, pada dimensi (diskusi mesra dengan istri) berikutnya. kalau udah tidur dengan didongengin gitu, biasanya pules. pagi bangun udah seger aja bawaannya. yang ngeliat juga seneng. coba kalau bangun tidur, udah mah kusut, ditambah cemberut pula. kuntilanak aja langsung ngibrit kalah takut. gimana suami? satu lagi tips nih, "kalau pengin rasa senang menghampirimu, buat dulu rasa senang itu pada orang terdekatmu. itu hanya akan memantul (kembali) kepadamu"
Label:
catatan (hati) seorang suami,
renungan
Wanita Oh Wanita(3)
banyak orang ngarepin bahagia. tapi, justru gemar (berbagi) bercerita tentang kesedihannya. ketahuilah, itu adalah (salah satu) penutup hadirnya kebahagiaan itu.
ber(bagi)cerita-lah tentang rasa sukamu. semangatmu. sandarkan (berlindunglah dari) duka-nestapa, capek-letih, bakhil-kikir, hanya pada tuhan saja.
ini, tips buatku juga. sesaat dalam perjalanan itu tadi (dalam tulisan wanita oh wanita-2) ada seorang perempuan pekerja, semangat banget banget narik simpati dengan cerita masalah (kesedihan) nya. yang ada malah, cuma satu dua yang ndengerin. selebihnya ada yang nguap, tak acuh, pura-pura baca majalah. boro-boro berbagi empati. kasihan ya?
beda aja, kalau yang diceritain itu kejadian yang mengundang tawa. antusias bener temen pada nimbrung mah.
orang lagi sedih emang butuh teman. butuh curhat. tapi, ya gitu dah. empati manusia sudah banyak bergeser. kemana tuch?
ber(bagi)cerita-lah tentang rasa sukamu. semangatmu. sandarkan (berlindunglah dari) duka-nestapa, capek-letih, bakhil-kikir, hanya pada tuhan saja.
ini, tips buatku juga. sesaat dalam perjalanan itu tadi (dalam tulisan wanita oh wanita-2) ada seorang perempuan pekerja, semangat banget banget narik simpati dengan cerita masalah (kesedihan) nya. yang ada malah, cuma satu dua yang ndengerin. selebihnya ada yang nguap, tak acuh, pura-pura baca majalah. boro-boro berbagi empati. kasihan ya?
beda aja, kalau yang diceritain itu kejadian yang mengundang tawa. antusias bener temen pada nimbrung mah.
orang lagi sedih emang butuh teman. butuh curhat. tapi, ya gitu dah. empati manusia sudah banyak bergeser. kemana tuch?
Label:
catatan (hati) seorang suami,
renungan
Wanita Oh Wanita(2)
aku tak pernah surut
ada kau disisiku
wanitaku
bidadariku
tak butuh ku mentari
tak perlu lagi aku rembulan
cukuplah engkau,
duhai wanitaku
bintang kejora yang tak pernah padam
bersinar abadi tak pernah tenggelam
ya, benar.
engkaulah, istriku
matahari yang tak pernah terbenam
saatkereta tertahan menjelang jatinegara. hingga perjalananku dari rumah setengah enam, nyampe kantor jam setengah sembilan. kalau banyak bergantung pada manusia (ngarepin banget kereta tepat waktu), siap-siap aja sering kecewa. tapi, kalau setiap perjalananmu hanya dengan niatan ibadah mencari ridho-nya. insya allah, hati bahagia selalu. dan, aku senang aja rasanya, bisa mencoret-coret kertas hingga jadi tulisan (puisi diatas) seperti itu. sedikit tips buatku pagi ini, "buat orang terkasihmu bangga dan merasa kamu ingat setiap waktu. maka, tiada pantas lagi kamu peroleh kecuali belai kasih dan rasa hormat imbas dari itu."
ayo, kamu bisa kan?
ada kau disisiku
wanitaku
bidadariku
tak butuh ku mentari
tak perlu lagi aku rembulan
cukuplah engkau,
duhai wanitaku
bintang kejora yang tak pernah padam
bersinar abadi tak pernah tenggelam
ya, benar.
engkaulah, istriku
matahari yang tak pernah terbenam
saatkereta tertahan menjelang jatinegara. hingga perjalananku dari rumah setengah enam, nyampe kantor jam setengah sembilan. kalau banyak bergantung pada manusia (ngarepin banget kereta tepat waktu), siap-siap aja sering kecewa. tapi, kalau setiap perjalananmu hanya dengan niatan ibadah mencari ridho-nya. insya allah, hati bahagia selalu. dan, aku senang aja rasanya, bisa mencoret-coret kertas hingga jadi tulisan (puisi diatas) seperti itu. sedikit tips buatku pagi ini, "buat orang terkasihmu bangga dan merasa kamu ingat setiap waktu. maka, tiada pantas lagi kamu peroleh kecuali belai kasih dan rasa hormat imbas dari itu."
ayo, kamu bisa kan?
Label:
catatan (hati) seorang suami,
renungan
Selasa, 14 April 2009
jati diri (juga)
apabila kamu bekerja dan hanya berujung capek dan kurang, pertanyakanlah nilai ibadah didalamnya. bisa jadi, dosa-dosamu telah terlalu tebal. sehingga, menutup pintu rahmat turun menghampirimu.
jadi mikir juga nih, ketika menuliskan ini. entah dapet dari mana. lupa. kalau kata-kataku sendiri, gak mungkin lah. masak iya sih, aku sudah se-cendekia itu. tapi, bisa jadi juga loh ya. siapa tahu dari coretan iseng akhirnya jadi rankaian kata penu makna.
toch setiap orang dikaruniai otak sama, hanya penggunaannya saja beda. tergantung mana kecenderungan dilatih.
contoh saja, kayak pohon jambu air dan jambu biji di dekat empang belakang rumah. kalau dipikir, empang buat nampung kalau berak. ini bener- bener berak loh, bukan jorok. emang gitu orang namainnya. kalau aku ganti dengan istilah lain, justru gak nyambung kan?
secara, air diempang itu, walaupun ada ikan lelenya. nota bene si lele ini di jual ke pasar. makanan utamanya ya, tentu saja muttan si berak itu tadi. bukan jorok, sekali lagi loh ya. ini nyata. siapa yang doyan beli lele di pasar. siapa jamin, makanan ikan itu bersih. ga ada. setiap mata, hanya mampu melihat apa yang ada dihadapannya.
selayak camera aja deh. yang namanya mata kamera hanya menyorot hal-hal yang udah enak dilihat. beda sama kalau melihat aslinya. se dalem-dalemnya. contoh kejadian gempa, misalnya. apa yang di sorot sama kamera tuch, pasti udah di edit sana sini. tidak murni. beda banget kalau melihat dan berkunjung langsung. bagaimana ada kaki tinggal sebelah kegencet mobil. kepala pecah, dengan otak berhamburan.
oke dah, dari pada kemana-mana, kembali ke masalah si empang itu tadi. maksudku gini, air itu jelas kotor. tempat buangan. apa saja. dari mulai bangkai ayam. bangkai tikus. pokoknya bangkai apa aja. kecuali bangkai manusia tidak mugnkin dibuang disitu.
walaupun empang itu mengalir, karena berada di aliran irigasi yang disekat sedemikian rupa, menyerupai tambak gitu. tetap saja, banyak kotoran nyangkut disana. intinya, airnya jorok. tentu kamu paham apa maksudku.
ikan lele tadi, makan dari air itu. jambu air juga. jambu biji juga. ada nangka belanda, tumbuh disana. subur. buahnya banyak. walaupun mesti pakai musim.
tapi, dari asal air yang sama joroknya itu, ternyata si lele maupun jambu dan nangka belanda itu, mampu mengubahnya menjadi beraneka rasa lezat. kalau dimakan oleh kita nih ya, manusia. kamu, manusia juga kan? tentunya makan juga dong. enjoy aja, gitu. nikmat-nikmat aja. padahal kalau diminum airnya (asli dari empang) luar biasa jijik bin jorok alias ampun dah. amit-amit.
ternyata si pohon dan si lele mampu memfilter dari asal "air" yang sama menjadi rasa yang luar biasa lezat sesuai dengan spesialisasinya. dan, ini dipersembahkan khusus buat kita, manusia. mereka makhluk tak berakal, tapi, mampu membuat kinerja yang terus menerus dan simultan dan jelas menghasilkan. tanpa keluhan.
lantas, apa yang udah aku lakukan dengan diriku ini? sudahkan aku bekerja dengan tanpa keluh?
sudahkan aku memfilter "air comberan kehidupan" menjadi multi guna bagi siapa saja yang ada disekelilingku. teman. sahabat. istri. anak. orang tua. dan,.....
ah, ternyata aku masih belum bisa se-tulus ikan lele dan jambu air itu. mereka tak pernah protes asal muasal makanan mereka, yang mereka tahu hanyalah "bagaimana membuat apa yang mereka dapatkan itu menjadi full cita rasa. full penuh guna"
ternyata, masih harus aku tanyakan lagi pada diriku, "seberapa tebal dosa menumpuk disekujur tubuh. sehingga, belum mampu juga mengurai rahasia ayat-ayat kauniyah yang terbentang dari fajar hingga sore. dari sore hingga fajar lagi"
please, nasehatin aku ya..... (tulisan menjelang pulang kantor, 17 kurang seperempat)
jadi mikir juga nih, ketika menuliskan ini. entah dapet dari mana. lupa. kalau kata-kataku sendiri, gak mungkin lah. masak iya sih, aku sudah se-cendekia itu. tapi, bisa jadi juga loh ya. siapa tahu dari coretan iseng akhirnya jadi rankaian kata penu makna.
toch setiap orang dikaruniai otak sama, hanya penggunaannya saja beda. tergantung mana kecenderungan dilatih.
contoh saja, kayak pohon jambu air dan jambu biji di dekat empang belakang rumah. kalau dipikir, empang buat nampung kalau berak. ini bener- bener berak loh, bukan jorok. emang gitu orang namainnya. kalau aku ganti dengan istilah lain, justru gak nyambung kan?
secara, air diempang itu, walaupun ada ikan lelenya. nota bene si lele ini di jual ke pasar. makanan utamanya ya, tentu saja muttan si berak itu tadi. bukan jorok, sekali lagi loh ya. ini nyata. siapa yang doyan beli lele di pasar. siapa jamin, makanan ikan itu bersih. ga ada. setiap mata, hanya mampu melihat apa yang ada dihadapannya.
selayak camera aja deh. yang namanya mata kamera hanya menyorot hal-hal yang udah enak dilihat. beda sama kalau melihat aslinya. se dalem-dalemnya. contoh kejadian gempa, misalnya. apa yang di sorot sama kamera tuch, pasti udah di edit sana sini. tidak murni. beda banget kalau melihat dan berkunjung langsung. bagaimana ada kaki tinggal sebelah kegencet mobil. kepala pecah, dengan otak berhamburan.
oke dah, dari pada kemana-mana, kembali ke masalah si empang itu tadi. maksudku gini, air itu jelas kotor. tempat buangan. apa saja. dari mulai bangkai ayam. bangkai tikus. pokoknya bangkai apa aja. kecuali bangkai manusia tidak mugnkin dibuang disitu.
walaupun empang itu mengalir, karena berada di aliran irigasi yang disekat sedemikian rupa, menyerupai tambak gitu. tetap saja, banyak kotoran nyangkut disana. intinya, airnya jorok. tentu kamu paham apa maksudku.
ikan lele tadi, makan dari air itu. jambu air juga. jambu biji juga. ada nangka belanda, tumbuh disana. subur. buahnya banyak. walaupun mesti pakai musim.
tapi, dari asal air yang sama joroknya itu, ternyata si lele maupun jambu dan nangka belanda itu, mampu mengubahnya menjadi beraneka rasa lezat. kalau dimakan oleh kita nih ya, manusia. kamu, manusia juga kan? tentunya makan juga dong. enjoy aja, gitu. nikmat-nikmat aja. padahal kalau diminum airnya (asli dari empang) luar biasa jijik bin jorok alias ampun dah. amit-amit.
ternyata si pohon dan si lele mampu memfilter dari asal "air" yang sama menjadi rasa yang luar biasa lezat sesuai dengan spesialisasinya. dan, ini dipersembahkan khusus buat kita, manusia. mereka makhluk tak berakal, tapi, mampu membuat kinerja yang terus menerus dan simultan dan jelas menghasilkan. tanpa keluhan.
lantas, apa yang udah aku lakukan dengan diriku ini? sudahkan aku bekerja dengan tanpa keluh?
sudahkan aku memfilter "air comberan kehidupan" menjadi multi guna bagi siapa saja yang ada disekelilingku. teman. sahabat. istri. anak. orang tua. dan,.....
ah, ternyata aku masih belum bisa se-tulus ikan lele dan jambu air itu. mereka tak pernah protes asal muasal makanan mereka, yang mereka tahu hanyalah "bagaimana membuat apa yang mereka dapatkan itu menjadi full cita rasa. full penuh guna"
ternyata, masih harus aku tanyakan lagi pada diriku, "seberapa tebal dosa menumpuk disekujur tubuh. sehingga, belum mampu juga mengurai rahasia ayat-ayat kauniyah yang terbentang dari fajar hingga sore. dari sore hingga fajar lagi"
please, nasehatin aku ya..... (tulisan menjelang pulang kantor, 17 kurang seperempat)
jati diri
baca (& tulis) adalah jati diri manusia modern. oleh karena itu, tulis setiap jengkal tanah yang anda tapaki. ukir langkah itu agar terbukti bahwa anda pernah hidup dan menjadi pelaku sejarah.
gitu dong....
masak kalah sama rhoma irama, "dangdut adalah jatidiri music indonesia. oleh karena itu, setiap handphone kamu mesti ada iramanya. cuma tiga ribu. jangan mau kalah loh" selanjutnya kirim sms reg...
gile, bahasa iklan makin inspiratif aja. untungnya gue gak kalah creative ya. nebeng-nebeng dikit lah, he..he..he....
gitu dong....
masak kalah sama rhoma irama, "dangdut adalah jatidiri music indonesia. oleh karena itu, setiap handphone kamu mesti ada iramanya. cuma tiga ribu. jangan mau kalah loh" selanjutnya kirim sms reg...
gile, bahasa iklan makin inspiratif aja. untungnya gue gak kalah creative ya. nebeng-nebeng dikit lah, he..he..he....
sedekah melunasi hutang(2)
tulisan ini, sekedar nulis bebas dari apa yang aku dengar dan pengin tuliskan. tanpa konsep. mencoba mengingat. lugu. apa adanya. jadi kalau tanpa alur apalagi tanpa makna, ya maklumi aja. tapi, pasti ada lah. sesederhana apapun tulisan itu, bila dibaca dengan hati tentulah menyimpulkan makna tersendiri.
yach, itung-itung nglancarin tarian jemari di atas tut's lah. he..he..he..
Udah kelar ni laporan aku bikin. Terusin lagi nulisnya. Sampai dimana tadi. Oh iya, tentang jawaban YM soal pertanyaan salah satu jamaah. Wah, mesti baca dulu nih tulisan yang tadi. Ya udah. Baca aja dulu. Bentar ya. Biar nyambung gitu.
Semalem, nyampe rumah udah jam setengah sembilan. Istri udah minta buku lagi, “yah, cari buku sholat khusyuk” katanya. Wah, seneng juga nih, virus pengin mbenerin sholat udah menjangkiti isteri juga.
Pulang kantor, langsung mampir ke toko buku Gunung Agung. Borobudur , bekasi. Penginnya sih ke Gramedia. Mesti ke Metropolitan Mall. Jauh, muternya. Sekalian sholat isya’ disono. Kan ada tuch mushola dipinggir lapangan alun-alun. Gak gedhe-gedhe amat sih, tapi, cukup bersih. Pas, nyampe sono belum adzan. Ya udah, tunggu bentaran, sekira semenitan lah. Jamaah dah. Pengin aja, gimana rasanya merhatiin waktu-waktu sholat gitu.
Begitu dapet buku yang dipesen, eh, mata jelalatan. Gatel aja kalau udah ke toko buku. Kesamber juga akhirnya, ringkasan Ihya Ulumudin-nya Imam Ghazali. Kalau mesti baca edisi aslinya kan berjilid-jilid tuch. Ada juga ringkasannya. Ya udah. Beli aja. Itung-itung sebagai pelengkap bacaan. Nyampe kasir, seratus empat puluh ribu mesti keluar juga. Waduh, payah nih. kartu kredit di gesek melulu.
Pengin sih, bebas gitu. Gak usah pake credit card segala. Ada yang bilang haram. Tapi, “ah… pemahaman belum nyampe. Masih pengin make.” Kataku dalam hati. “ya udah, biarin aja begini. Nikmatin aja yang ada. Masak segalanya mesti berubah bersamaan. Mesti bertahab” hiburku pada diri sendiri. Jujur sih, udah mulai risau juga soal credit card ini, tapi, mungkin lain kali aja aku tulis. Lebih detail dech. Buat pembelajaran sendiri juga.
Kembali ke pengajian “nikmatnya sedekah” di TPI setiap selasa dan rabu pagi jam 04:30 s/d 05:30. kali ini nerusin tulisan tadi, bahasan hari selasa (14/04/09). Temanya apa, aku juga gak tahu persis. Hanya sekilas pandang aja, sambil nyiapin tas buat berangkat kantor. gak bisa ngikutin secara utuh. Mesti berangkat pagi-pagi.
“Setiap perjalanan, pasti nyampe” kata YM kemudian. “Hanya saja, banyak orang yang menyerah giliran perjalaan itu justru tinggal sejengkal”. Padahal, udah mah ditempuh awal yang melelahkan. Udah panjang jalan diawali. Giliran udah mau finish, semangat kendor. Abis baterai.
“Dulu, ketika masih tahun 80-an. Masih kecil sih” kata YM lagi, “saya pengin banget mainan. Harganya empat belas ribu. Pengin beli. Tapi, gak punya duit. Pas minta sama nenek, dijawab, mesti nabung dulu.
Akhirnya nabung juga, sehari cepek. Cepek. Cepek. Eh, ngumpul seminggu, ketemu nenek. Kan baru tujuh ratus tuch. Diambil tuch tabungan. Waktu itu saya nggak nanya. Tapi, sama nenek udah langsung dibilang kalau duit itu dibeliin bawang sama tomat. Buat ngasih makan orang habis sembahyang jumat.
Ditanya lagi sama nenek, “masih pengin mainan itu?”. Ya masih, kata saya. Disuruh nabung lagi. Mulai dah tuch. Cepek. Cepek. Udah diumpet umpetin. Celengan juga dibagusin, biar sayang gitu kalau mau diambil mah. Eh, seminggu kemudian, ngumpul lagi tujuh ratus. Ketahuan juga. Dipecah lagi. Diambil lagi. Buat beli bawang tomat lagi.
Akhirnya, jadi lupa. Saat ditanya masih mau mainan apa enggak. Tetap aja, masih mau. Tapi, kalau mau nabung lagi, entar-entarnya diambil lagi. Ya udah dah. Lemes aja bawaannya.
Beberapa hari kemudian, tante yang tinggalnya jauh berkunjugn. Saya, bersama dua sepupu. Jadi, kami bertiga. Dibeliin semua. Tiga-tiganya. Mainan itu. Padahal mah, udah lupa. Udah gak pengin lagi. Pengin sih iya, maksudnya udah lemes gitu. Udah nyerah. Udah relain dah pokoknya.
Kalau yang satu sih, emang dia sedang hajatan. Di sunat. Pantes aja, dikasih hadiah. Kalau saya sama yang satunya lagi. Tidak ada hajatan apa-apa, ikut dibeliin juga.
Nenek agnkat bicara, “ya itu, fadhilahnya sedekah” katanya. Coba kalau ngumpulin cepek terus tiap hari. Buat nyampe 14000 mesti nunggu 140 hari. Udah keburu naik keubun ubun tuch. Makanya, cepetin dengan sedekah.
Sekarang-sekarang aja, udah gedhe gini. Setelah mengalami banyak perjalanan kehidupan. Baru nyadar. Ternyata, tiga orang emang punya keistimewaan masing-masing. Satu, jagoan subuh. Dari kecil tuch boleh dibilang penjaga gawangnya sholat subuh. Orang-orang belum datang, udah stand by duluan di masjid. Manggilin orang buat pada jamaah subuh. Pake apa. Ya, adzan.
Trus, kedua, jagoan sedekah. Klo ketiganya, emang yang punya hajat. Di sunat. Ternyata sedekah tidak hanya membawa fadhilah pada diri sendiri saja, tapi juga pada orang-orang disekitar kita.
Itu hanya analogi sederhana mengenai perjalanan sedekah. Diawal telah disinggung bahwa, setiap perjalanan akan sampai kalau sudah waktunya. Sayang saja, banyak orang yang tidak tahu. Gampang nyerah. Gampang memvonis.
Kalau mau pake itungan mah. Bisa aja. Tadi, saya nabung dapet tujuh ratus. Disedekahin buat bawang sama tomat. Dikali sepuluh udah berapa. Tujuh ribu. Untuk nyampe ke empat belas ribu berarti masih kurang tujuh ribu lagi. Minggu kedua, dapet tujuh ratus lagi. Pas dah. Kalau tuch duit gak disedekahin, bisa bener mesti ngitung 140 hari lagi baru dapet mainan.
Ini, dua minggu kebeli. Langsung tiga lagi. Ini sudah diatur. Bukan kebetulan. Sedekah emang begitu. suka tiba-tiba aja balasannya
Makanya, kalau ente bilang “udah sedekah, koq utang masih banyak aja”. Mesti banyak dilihat lagi. Dosanya banyak enggak. Sholatnya bener enggak. Dhuha. Tahajud. Qobliyah. Ba’diyah. Penting, wajibnya dulu mesti dibenerin. Kebanyakan orang, hobynya gali lubang tutup empang. Bukannya ketutup, malah makin menganga. Coba aja, lewat jalan sedekah. Janji Allah itu pasti. Masak, Allah mau ingkar sih. syaratnya, mesti ngerti dulu ilmunya.
“Kalau soal hutang sih”, lanjut YM, “Sedekahin aja. Insya Allah dah”
Sekira tahun 91-an, YM menjadi tukang es di terminal kalideres (diawal tulisan udah disinggung ya). Ketika itu punya utang 80 juta-an. Padahal duit dikantong paling-paling sepuluh ribu.
Seminggu lagi, itu hutang bakalan ditagih. Kalau tidak ada duit juga, bakalan dipenjara. Ancam orang itu. Jalan satu-satunya, pasrah. Tapi, mesti ikhtiar dulu. Datangi Allah, lewat sedekah.
YM lantas pergi ke sekolah terdekat, nanya sama guru, “pak, tolong kasih saya siswa paling pintar di sini. Saya mau bayarin buat dia”. Ternyata, uang bayarannya 27 ribu. Pas bener sama yang dikantong. Sukses dah, pulang gak bawa duit.
Makin dekat hari penagihan. Belum juga ada tanda-tanda. “Kayaknya sedekahnya masih kurang nih”, pikir YM. Oke dah kalau gitu. “Tambahin satu anak lagi!” ngomongnya sama diri sendiri.
Datang lagi kesekolah. “Pak, tolong kasih saya satu anak lagi. Yang yatim. Yang paling miskin. Tak usah pinter-piner amat ga pa pa dah”, kata YM.
Dapet anak cewek. Sampai sini, YM kasih interupsi. “Ma’af ma (istri YM), jadi kebuka juga nih kisah lama”, kata YM. Dan, ternyata anak tadi, memang akhirnya menjadi istri YM. Belum juga kelar kelas tiga SMP, udah diserahin sama orang tuanya.
Trus, gimana soal hutang yang 80 juta tadi? “Ya tetep! Gak tahu kelanjutannya” klo ini kata aku (yang nulis ini) loh ya. Penginnya sih ngikutin terus acara nikmatnya sedekah itu. Tapi, apa mau dikata. Setiap keinginan manusia hanya berpusat pada satu kehendak tuhan saja. Silahkan ber-asa setinggi mungkin. Hanya, harus ingat juga, ada tangan-tangan diluar kita yang campur tangan.
Tuch kan, kalau udah mepet gini, suka ngelantur lagi tulisannya. Biarin aja dah. Yang penting sambil ngelancarin jari juga. Biar apa yang ada dikepala lancar mengalir ke tangan. Jadi ketikan. Jadi tulisan. Namanya juga latihan nulis. Ini,udah jam tiga lewat lima, bentar lagi adzan ashar. Jadwalnya lewat empat belas. Masih sepuluh menit lagi buat jalan ke mesjid. Yuk!
yach, itung-itung nglancarin tarian jemari di atas tut's lah. he..he..he..
Udah kelar ni laporan aku bikin. Terusin lagi nulisnya. Sampai dimana tadi. Oh iya, tentang jawaban YM soal pertanyaan salah satu jamaah. Wah, mesti baca dulu nih tulisan yang tadi. Ya udah. Baca aja dulu. Bentar ya. Biar nyambung gitu.
Semalem, nyampe rumah udah jam setengah sembilan. Istri udah minta buku lagi, “yah, cari buku sholat khusyuk” katanya. Wah, seneng juga nih, virus pengin mbenerin sholat udah menjangkiti isteri juga.
Pulang kantor, langsung mampir ke toko buku Gunung Agung. Borobudur , bekasi. Penginnya sih ke Gramedia. Mesti ke Metropolitan Mall. Jauh, muternya. Sekalian sholat isya’ disono. Kan ada tuch mushola dipinggir lapangan alun-alun. Gak gedhe-gedhe amat sih, tapi, cukup bersih. Pas, nyampe sono belum adzan. Ya udah, tunggu bentaran, sekira semenitan lah. Jamaah dah. Pengin aja, gimana rasanya merhatiin waktu-waktu sholat gitu.
Begitu dapet buku yang dipesen, eh, mata jelalatan. Gatel aja kalau udah ke toko buku. Kesamber juga akhirnya, ringkasan Ihya Ulumudin-nya Imam Ghazali. Kalau mesti baca edisi aslinya kan berjilid-jilid tuch. Ada juga ringkasannya. Ya udah. Beli aja. Itung-itung sebagai pelengkap bacaan. Nyampe kasir, seratus empat puluh ribu mesti keluar juga. Waduh, payah nih. kartu kredit di gesek melulu.
Pengin sih, bebas gitu. Gak usah pake credit card segala. Ada yang bilang haram. Tapi, “ah… pemahaman belum nyampe. Masih pengin make.” Kataku dalam hati. “ya udah, biarin aja begini. Nikmatin aja yang ada. Masak segalanya mesti berubah bersamaan. Mesti bertahab” hiburku pada diri sendiri. Jujur sih, udah mulai risau juga soal credit card ini, tapi, mungkin lain kali aja aku tulis. Lebih detail dech. Buat pembelajaran sendiri juga.
Kembali ke pengajian “nikmatnya sedekah” di TPI setiap selasa dan rabu pagi jam 04:30 s/d 05:30. kali ini nerusin tulisan tadi, bahasan hari selasa (14/04/09). Temanya apa, aku juga gak tahu persis. Hanya sekilas pandang aja, sambil nyiapin tas buat berangkat kantor. gak bisa ngikutin secara utuh. Mesti berangkat pagi-pagi.
“Setiap perjalanan, pasti nyampe” kata YM kemudian. “Hanya saja, banyak orang yang menyerah giliran perjalaan itu justru tinggal sejengkal”. Padahal, udah mah ditempuh awal yang melelahkan. Udah panjang jalan diawali. Giliran udah mau finish, semangat kendor. Abis baterai.
“Dulu, ketika masih tahun 80-an. Masih kecil sih” kata YM lagi, “saya pengin banget mainan. Harganya empat belas ribu. Pengin beli. Tapi, gak punya duit. Pas minta sama nenek, dijawab, mesti nabung dulu.
Akhirnya nabung juga, sehari cepek. Cepek. Cepek. Eh, ngumpul seminggu, ketemu nenek. Kan baru tujuh ratus tuch. Diambil tuch tabungan. Waktu itu saya nggak nanya. Tapi, sama nenek udah langsung dibilang kalau duit itu dibeliin bawang sama tomat. Buat ngasih makan orang habis sembahyang jumat.
Ditanya lagi sama nenek, “masih pengin mainan itu?”. Ya masih, kata saya. Disuruh nabung lagi. Mulai dah tuch. Cepek. Cepek. Udah diumpet umpetin. Celengan juga dibagusin, biar sayang gitu kalau mau diambil mah. Eh, seminggu kemudian, ngumpul lagi tujuh ratus. Ketahuan juga. Dipecah lagi. Diambil lagi. Buat beli bawang tomat lagi.
Akhirnya, jadi lupa. Saat ditanya masih mau mainan apa enggak. Tetap aja, masih mau. Tapi, kalau mau nabung lagi, entar-entarnya diambil lagi. Ya udah dah. Lemes aja bawaannya.
Beberapa hari kemudian, tante yang tinggalnya jauh berkunjugn. Saya, bersama dua sepupu. Jadi, kami bertiga. Dibeliin semua. Tiga-tiganya. Mainan itu. Padahal mah, udah lupa. Udah gak pengin lagi. Pengin sih iya, maksudnya udah lemes gitu. Udah nyerah. Udah relain dah pokoknya.
Kalau yang satu sih, emang dia sedang hajatan. Di sunat. Pantes aja, dikasih hadiah. Kalau saya sama yang satunya lagi. Tidak ada hajatan apa-apa, ikut dibeliin juga.
Nenek agnkat bicara, “ya itu, fadhilahnya sedekah” katanya. Coba kalau ngumpulin cepek terus tiap hari. Buat nyampe 14000 mesti nunggu 140 hari. Udah keburu naik keubun ubun tuch. Makanya, cepetin dengan sedekah.
Sekarang-sekarang aja, udah gedhe gini. Setelah mengalami banyak perjalanan kehidupan. Baru nyadar. Ternyata, tiga orang emang punya keistimewaan masing-masing. Satu, jagoan subuh. Dari kecil tuch boleh dibilang penjaga gawangnya sholat subuh. Orang-orang belum datang, udah stand by duluan di masjid. Manggilin orang buat pada jamaah subuh. Pake apa. Ya, adzan.
Trus, kedua, jagoan sedekah. Klo ketiganya, emang yang punya hajat. Di sunat. Ternyata sedekah tidak hanya membawa fadhilah pada diri sendiri saja, tapi juga pada orang-orang disekitar kita.
Itu hanya analogi sederhana mengenai perjalanan sedekah. Diawal telah disinggung bahwa, setiap perjalanan akan sampai kalau sudah waktunya. Sayang saja, banyak orang yang tidak tahu. Gampang nyerah. Gampang memvonis.
Kalau mau pake itungan mah. Bisa aja. Tadi, saya nabung dapet tujuh ratus. Disedekahin buat bawang sama tomat. Dikali sepuluh udah berapa. Tujuh ribu. Untuk nyampe ke empat belas ribu berarti masih kurang tujuh ribu lagi. Minggu kedua, dapet tujuh ratus lagi. Pas dah. Kalau tuch duit gak disedekahin, bisa bener mesti ngitung 140 hari lagi baru dapet mainan.
Ini, dua minggu kebeli. Langsung tiga lagi. Ini sudah diatur. Bukan kebetulan. Sedekah emang begitu. suka tiba-tiba aja balasannya
Makanya, kalau ente bilang “udah sedekah, koq utang masih banyak aja”. Mesti banyak dilihat lagi. Dosanya banyak enggak. Sholatnya bener enggak. Dhuha. Tahajud. Qobliyah. Ba’diyah. Penting, wajibnya dulu mesti dibenerin. Kebanyakan orang, hobynya gali lubang tutup empang. Bukannya ketutup, malah makin menganga. Coba aja, lewat jalan sedekah. Janji Allah itu pasti. Masak, Allah mau ingkar sih. syaratnya, mesti ngerti dulu ilmunya.
“Kalau soal hutang sih”, lanjut YM, “Sedekahin aja. Insya Allah dah”
Sekira tahun 91-an, YM menjadi tukang es di terminal kalideres (diawal tulisan udah disinggung ya). Ketika itu punya utang 80 juta-an. Padahal duit dikantong paling-paling sepuluh ribu.
Seminggu lagi, itu hutang bakalan ditagih. Kalau tidak ada duit juga, bakalan dipenjara. Ancam orang itu. Jalan satu-satunya, pasrah. Tapi, mesti ikhtiar dulu. Datangi Allah, lewat sedekah.
YM lantas pergi ke sekolah terdekat, nanya sama guru, “pak, tolong kasih saya siswa paling pintar di sini. Saya mau bayarin buat dia”. Ternyata, uang bayarannya 27 ribu. Pas bener sama yang dikantong. Sukses dah, pulang gak bawa duit.
Makin dekat hari penagihan. Belum juga ada tanda-tanda. “Kayaknya sedekahnya masih kurang nih”, pikir YM. Oke dah kalau gitu. “Tambahin satu anak lagi!” ngomongnya sama diri sendiri.
Datang lagi kesekolah. “Pak, tolong kasih saya satu anak lagi. Yang yatim. Yang paling miskin. Tak usah pinter-piner amat ga pa pa dah”, kata YM.
Dapet anak cewek. Sampai sini, YM kasih interupsi. “Ma’af ma (istri YM), jadi kebuka juga nih kisah lama”, kata YM. Dan, ternyata anak tadi, memang akhirnya menjadi istri YM. Belum juga kelar kelas tiga SMP, udah diserahin sama orang tuanya.
Trus, gimana soal hutang yang 80 juta tadi? “Ya tetep! Gak tahu kelanjutannya” klo ini kata aku (yang nulis ini) loh ya. Penginnya sih ngikutin terus acara nikmatnya sedekah itu. Tapi, apa mau dikata. Setiap keinginan manusia hanya berpusat pada satu kehendak tuhan saja. Silahkan ber-asa setinggi mungkin. Hanya, harus ingat juga, ada tangan-tangan diluar kita yang campur tangan.
Tuch kan, kalau udah mepet gini, suka ngelantur lagi tulisannya. Biarin aja dah. Yang penting sambil ngelancarin jari juga. Biar apa yang ada dikepala lancar mengalir ke tangan. Jadi ketikan. Jadi tulisan. Namanya juga latihan nulis. Ini,udah jam tiga lewat lima, bentar lagi adzan ashar. Jadwalnya lewat empat belas. Masih sepuluh menit lagi buat jalan ke mesjid. Yuk!
sedekah melunasi hutang(1)
Gali lubang tutup empang, hidup sekali kelilit utang.
“Dari dulu saya sudah rajin sedekah. Meskipun kecil-kecilan. Tapi, rutin. Hutang juga ada. Lebih gedhe malah. Saya bingung tadz. Kenapa hutang saya itu tidak lunas-lunas juga. Malah kayak uber-uberan. Belum kelar yang satu, udah muncul lagi utang baru. Apakah sedekah saya tidak ada artinya?” seorang jamaah, masih muda, sekira tigapuluhan lah usianya. Bertanya.
“Sedekah kecil kecil. Minta hutang cepet lunas.” Kata Ustadz Yusuf Mansur. Selanjutnya, aku singkat aja YM. Biar gampang nulisnya.
Berikutnya terjadi dialog interaktif, bagaimana sedekah yang bisa melunaskan hutang. Tidak tanggung-tanggung. Contohnya pada diri YM sendiri. Dimana, sekitar 91-an YM menjadi tukang es di terminal kalideres. Secara, total dagangan paling banter Cuma laku sepuluh ribuan, tapi, YM punya hutang waktu itu delapan puluh jutaan.
Bagaimana YM melunasi hutang tersebut, dan apa jawaban dari pertanyaan jamaah tadi?
Mesti sabar ya. Nulisnya pelan-pelan soalnya. Sambil kerja. Nyelesaiin laporan. Walaupun speed jemariku sudah sampai 496 karakter per menit, kalau buat nulis ginian rada lelet juga. Pakai mikir soalnya. Kalau pas lagi enak banget nulis sih, tulisan empat halaman gak nyampe setengah jam. Dua puluh menit juga gak nyampe. Ini bukan sombong. Atau juga, kalau ada yang bilang ini pamer silahkan saja.
Aku hanya ingin bilang, waktu itu pernah ada suara nyampe ketelinga saya “nih orang ga da kerjaan kali. Disela kerja bikin tulisan beginian. Mana panjang-panjang pula.” Gitu katanya. Makanya, agar gak menjadi fitnah. Disamping nulis beginian emang aku tuch doyan banget. Juga aku sampaikan sekalian kalau speed tulisanku tuch udah hampir nyampe 500 karakter per menit. Ada seorang teman aku suruh latihan. Web site buat latihannya aku kasih unjuk. Dia cuma geleng-geleng kepala doang. “lincah juga jari loe ya” komentarnya singkat.
Hanya saja, tulisan maupun bahasanya kadang belepotan juga. Mau nulis apa jadinya apa. Kadang judul sama tema suka gak nyambung. Tapi, ya biarin aja. Itung-itung buat dibaca sendiri ini. Suka juga kadang jari jempol sama kelingking berebut mencet huruf f misalnya. Jadinya rancu. Mau nulis dengan aja keliru degnan. Untuk kata-kata umum sih gampang aja di ketahui. Kalau pas ketemu kata yang memang agak kurang lazim. Bingung juga bacanya.
Tadinya, mau langsung nulis nikmat sedekah tadi pagi di TPI yang sempat aku lihat sepulang subuh. Karena Cuma sepenggal sepenggal, jadinya kurang utuh. Lha iya lah. Namanya juga sepenggal. Sama aja dengan kurang utuh. Begitu mulai nulis ini, kepikiran ITO belum aku bikin. Tapi, mesti nunggu jam satu dulu baru bisa ambil data. Akhirnya nulis ada dulu.
Di otakku ada dua memori besar terisi. Ada dua pilihan. Nulis atau bikin ITO. Maka dari itu. Pas nyambung ke materi Cuma di awal-awal doang. Yang lagi aku inget ya pertanyaan si jamaah tadi. Sementara mau nulis jawaban dan kisah yang disampaikan YM, eh, lupa. Malah kemana-mana kan nulisnya. He..he..he….
Ini, aku coba tulis selepas sholat dhuhur. Jamaah, tadi. Temen-temen tentunya jamaah juga kan? Alhamdulillah. Hari ini puasa. Jadi gak kepotong waktu buat makan. nunggu selewat jam satu siang dulu. Harus update data inventory turn over dari BW. Nanti terusin lagi dah nulisnya.
Wait a minute. Don’t go away. Cause, I’ll be back (ups, udah seperti terminator aja nih….)
“Dari dulu saya sudah rajin sedekah. Meskipun kecil-kecilan. Tapi, rutin. Hutang juga ada. Lebih gedhe malah. Saya bingung tadz. Kenapa hutang saya itu tidak lunas-lunas juga. Malah kayak uber-uberan. Belum kelar yang satu, udah muncul lagi utang baru. Apakah sedekah saya tidak ada artinya?” seorang jamaah, masih muda, sekira tigapuluhan lah usianya. Bertanya.
“Sedekah kecil kecil. Minta hutang cepet lunas.” Kata Ustadz Yusuf Mansur. Selanjutnya, aku singkat aja YM. Biar gampang nulisnya.
Berikutnya terjadi dialog interaktif, bagaimana sedekah yang bisa melunaskan hutang. Tidak tanggung-tanggung. Contohnya pada diri YM sendiri. Dimana, sekitar 91-an YM menjadi tukang es di terminal kalideres. Secara, total dagangan paling banter Cuma laku sepuluh ribuan, tapi, YM punya hutang waktu itu delapan puluh jutaan.
Bagaimana YM melunasi hutang tersebut, dan apa jawaban dari pertanyaan jamaah tadi?
Mesti sabar ya. Nulisnya pelan-pelan soalnya. Sambil kerja. Nyelesaiin laporan. Walaupun speed jemariku sudah sampai 496 karakter per menit, kalau buat nulis ginian rada lelet juga. Pakai mikir soalnya. Kalau pas lagi enak banget nulis sih, tulisan empat halaman gak nyampe setengah jam. Dua puluh menit juga gak nyampe. Ini bukan sombong. Atau juga, kalau ada yang bilang ini pamer silahkan saja.
Aku hanya ingin bilang, waktu itu pernah ada suara nyampe ketelinga saya “nih orang ga da kerjaan kali. Disela kerja bikin tulisan beginian. Mana panjang-panjang pula.” Gitu katanya. Makanya, agar gak menjadi fitnah. Disamping nulis beginian emang aku tuch doyan banget. Juga aku sampaikan sekalian kalau speed tulisanku tuch udah hampir nyampe 500 karakter per menit. Ada seorang teman aku suruh latihan. Web site buat latihannya aku kasih unjuk. Dia cuma geleng-geleng kepala doang. “lincah juga jari loe ya” komentarnya singkat.
Hanya saja, tulisan maupun bahasanya kadang belepotan juga. Mau nulis apa jadinya apa. Kadang judul sama tema suka gak nyambung. Tapi, ya biarin aja. Itung-itung buat dibaca sendiri ini. Suka juga kadang jari jempol sama kelingking berebut mencet huruf f misalnya. Jadinya rancu. Mau nulis dengan aja keliru degnan. Untuk kata-kata umum sih gampang aja di ketahui. Kalau pas ketemu kata yang memang agak kurang lazim. Bingung juga bacanya.
Tadinya, mau langsung nulis nikmat sedekah tadi pagi di TPI yang sempat aku lihat sepulang subuh. Karena Cuma sepenggal sepenggal, jadinya kurang utuh. Lha iya lah. Namanya juga sepenggal. Sama aja dengan kurang utuh. Begitu mulai nulis ini, kepikiran ITO belum aku bikin. Tapi, mesti nunggu jam satu dulu baru bisa ambil data. Akhirnya nulis ada dulu.
Di otakku ada dua memori besar terisi. Ada dua pilihan. Nulis atau bikin ITO. Maka dari itu. Pas nyambung ke materi Cuma di awal-awal doang. Yang lagi aku inget ya pertanyaan si jamaah tadi. Sementara mau nulis jawaban dan kisah yang disampaikan YM, eh, lupa. Malah kemana-mana kan nulisnya. He..he..he….
Ini, aku coba tulis selepas sholat dhuhur. Jamaah, tadi. Temen-temen tentunya jamaah juga kan? Alhamdulillah. Hari ini puasa. Jadi gak kepotong waktu buat makan. nunggu selewat jam satu siang dulu. Harus update data inventory turn over dari BW. Nanti terusin lagi dah nulisnya.
Wait a minute. Don’t go away. Cause, I’ll be back (ups, udah seperti terminator aja nih….)
Senin, 13 April 2009
riya' bikin hina
Ada semacam virus yang jika seseorang terjangkiti, maka tidak akan kelihatan dan bahkan tidak merasa. Virus itu adalah riya’.
Barang siapa ada perasaan riya’ di hatinya karena menyembah kepada-Ku, akan masuk neraka dalam keadaan hina.
Riya’ disini adalah menganggap ibadah diri lebih bagus dari orang lain. Dan menganggap ibadah orang lain lebih rendah (jelek).
Obatnya: banyakin istighfar dan sering-sering kontrol hati. selalu berdo’a dan mohon petunjuk.
Wah, klo untuk demi mengajak orang lain biar bener trus gimana dong. Mau gak mau kan harus nampilin juga. Ngasih contoh dulu gitu maksudnya mah. Tapi, ya terserah saja dah. Mau dibilang riya’ atau bukan, aku tak pernah pikirin koq. Terserah anggapan orang saja. Yang penting, niatku gak gitu.
Barang siapa ada perasaan riya’ di hatinya karena menyembah kepada-Ku, akan masuk neraka dalam keadaan hina.
Riya’ disini adalah menganggap ibadah diri lebih bagus dari orang lain. Dan menganggap ibadah orang lain lebih rendah (jelek).
Obatnya: banyakin istighfar dan sering-sering kontrol hati. selalu berdo’a dan mohon petunjuk.
Wah, klo untuk demi mengajak orang lain biar bener trus gimana dong. Mau gak mau kan harus nampilin juga. Ngasih contoh dulu gitu maksudnya mah. Tapi, ya terserah saja dah. Mau dibilang riya’ atau bukan, aku tak pernah pikirin koq. Terserah anggapan orang saja. Yang penting, niatku gak gitu.
Wanita Oh Wanita(1)
"Ih! Bapak-bapak doyan nonton gosip artis" kata isteri. "Mending klo dapet duit".
Minggu pagi itu, emang aku lagi santai. sambil setrika pakaian, pencet remote tv. eh, dapet si Dewi Sandra di gugat cerai sama Glen Fredly. ada juga Surya Saputra diembel-embelin terlibat. "wah, asyik nih" batinku.
"Kawin cerai enak kali ya! bisa dapet hadiah berkali-kali tuh. Coba aja sekali kawin, ada temen kasih kulkas buat kado. kawin kedua, mobil. kawin ketiga, rumah. Wah, bisa kaya tak usah nabung dulu tuch. Nyobain cerai yuk neng. Bo'ongan aja. Tar rujuk lagi. Trus, bikin undangan lagi, trus...." belum kelar aku nyerocos udah ditimpuk wortel sama isteri.
"Itu gosokan, awas! kebakar ganti loh. yang niat apa, klo bantuin" timpal istri. Walaupun sewot, tapi, wajahnya agak malu-malu juga tuch aku ledekin gitu.
pengantar doang tuch, kejadian diatas. sungguh-sungguh terjadi, tapi, ya, emang udah biasa becanda.
Nasehat Umamah binti Harits kepada putrinya (Ummu Ilyas binti Auf) tatkala menikah. “Kalau hanya harta dan kekayaan yang dicari seorang wanita. Ia tak akan mencari laki-laki untuk menjadi suaminya. Telah cukuplah harta kedua orang tua baginya”. Lantas berikut ini penuturan (nasehat) itu.
Perhatikan dengan segenap nurani. Pahami dengan hati. niscaya tidak ada lagi wanita yang lebih bahagia melebihi apa yang akan engkau rasakan.
Pertama dan kedua;
Hendaklah engkau (wahai putriku) patuhi suamimu dengan segala ketulusan dan perhatikan perintah itu penuh ketaatan. Hanya dengan seperti itu engkau mendapati pengabdianmu penuh kesahajaan yang akan membawa ketenteraman.
Ketiga dan keempat;
Pelihara bagian tubuhmu yang menjadi tujuan hidung dan mata suamimu. Jangan biarkan seorang lelaki (yang telah menjadi pilihanmu) melihat yang tidak ia senangi atau mencium bau yang tidak wangi pada tubuhmu. Senantiasa manjakanlah kedua indera (suami) itu dengan segenap kehormatanmu.
Kelima dan keenam;
Perhatikan waktu tidur dan waktu makan suamimu. Karena jika lapar sampai melanda, ia akan menjadi garang. Sementara rasa kantuk akibat dari kurang tidurnya, ia akan menjadi mudah marah.
Ketujuh dan kedelapan;
Jaga harta. Pelihara kehormatan diri dan keluarga. Atur rumah tangga dan rawat anak-anak dengan penuh perhatian. Karena itu-lah surga bagi suamimu.
Kesembilan dan kesepuluh;
Jangan tentang perintah. Jangan sebar aib atau rahasianya. Kecuali engkau hanya akan membuat dadanya bergolak penuh murka. Karena itu berarti, engkau wahai anakku, tidak dapat menjaga kehormatan keluarga.
Berikutnya adalah; jangan nampakkan keceriaan jika ia sedih. Jangan sedih jiga ia sedang berbunga-bunga.
Hmmm, aku ingin menuliskan ini, secara mendadak. Alias spontan gitu. Sesaat setelah mengunjungi blog Regisha. Postingan milad ke-21 katanya. Aku ingat bener sama angka ini, karena, di angka inilah aku dulu married. Bukan doyan, apalagi kecelakaan loh. Tapi, emang udah pengin. Udah gitu, pas ketemu cewek, ditanya. Eh, mau! Ya, jadi dah.
Dan, selayaknya seorang wanita, impian terbesar tentulah menjadi ibu dari beberapa anak yang lucu. Tentu saja dibarengi dengan pengabdian tulus teruntuk suami tercinta (kelak) yang lembut dan penyayang. Seperti Sal ini-lah kira-kiranya mah (ups, jangan protes!).
Kalau pas yang bersangkutan baca, jangan ketawa dulu ya. Apalagi mencibir. Amin-kan saja. Bagaimanapun juga ini adalah do’a (versi lain dari semoga panjang umur, enteng jodoh, bahagia selalu) meskipun secara tidak langsung. Juga, jika ada seseorang yang kebetulan baca. Mending amin-kan juga aja dah he.he..he.. (loh, koq maksa). Siapa tahu, begitu kelar baca postingan ini, pintu rumah diketuk. Klo cowok didatengin bidadari jelmaan puteri salju. Klo cewek didatengi kodok yang dikepalanya tertancap paku. Trus, minta dicabutin tuch. Jadi dah pangeran tampan.
Berikutnya lagi, jadi ingat sebuah hadits (langsung buka buku kecil tempat aku corat-coret nih), “maukah engkau, aku (Muhammad) beri tahu tentang sebaik baik harta simpanan? Yaitu istri sholehah”.
Dalam hadits lain, disempurnakan isinya dengan “(yaitu) istri yang menyenangkan jika suaminya melihatnya. Yang taat jika suami memerintahnya dan yang tidak membantahnya. Dan menjaga diri kala suami meninggalkannya”.
Kewajiban suami memang mendidik istri. kalau cuma mau yang udah jadi (udah ready to use hasil didikan mertua) setiap orang tentu juga mau. Masalahnya, hanya wanita baik-baik saja yang akan dimiliki oleh lelaki baik-baik. Begitu juga sebaliknya.
Sementara diri amburadul, eh, penginya dapet yang serba sempurna. Berjuang bersama-sama tentunya lebih indah. Karena, untuk bisa “digituin” sama wanita, harus terlebih dulu bisa menyenangkan. Membahagiakan. Mesti imbal balik. Jadi, mending untuk para jomblo, sama-sama saling nyiapin diri dah.
Samain dulu, orientasi hidup dan sudut pandang mana mesti dipakai. Dan, ini kewajiban lelaki sebagai pemimpin. Mesti bisa ngasih contoh dulu. Ini juga, untuk nasehatin diriku sendiri. Sekedar ngingetin aja, bahwa, tidak ada didunia ini yang serba gratis. Budaya take and give udah lewat. Yang ada adalah ‘give and take’. Memberi dulu baru (mudah-mudahan) menerima. Kasih perhatian dulu, baru akan mendapatkan pengabdian.
Hebat bener nih, aku klo udah nasehatin diri sendiri. Coba Dewi Sandra sama Glen Fredly baca postingan di blog gue ini. Dijamin nyesel dah cerai segala. Si goyang gergaji Dewi Persik juga tuch. Apalagi si jenggot Ahmad Dani (Dewa) Prasetyo.
Yah, namanya juga lagi pengin belajar bener. Suka-suka gue lah. Mau nulis apa kek. Pengisi jam istirahat siang. He..he..he….
Minggu pagi itu, emang aku lagi santai. sambil setrika pakaian, pencet remote tv. eh, dapet si Dewi Sandra di gugat cerai sama Glen Fredly. ada juga Surya Saputra diembel-embelin terlibat. "wah, asyik nih" batinku.
"Kawin cerai enak kali ya! bisa dapet hadiah berkali-kali tuh. Coba aja sekali kawin, ada temen kasih kulkas buat kado. kawin kedua, mobil. kawin ketiga, rumah. Wah, bisa kaya tak usah nabung dulu tuch. Nyobain cerai yuk neng. Bo'ongan aja. Tar rujuk lagi. Trus, bikin undangan lagi, trus...." belum kelar aku nyerocos udah ditimpuk wortel sama isteri.
"Itu gosokan, awas! kebakar ganti loh. yang niat apa, klo bantuin" timpal istri. Walaupun sewot, tapi, wajahnya agak malu-malu juga tuch aku ledekin gitu.
pengantar doang tuch, kejadian diatas. sungguh-sungguh terjadi, tapi, ya, emang udah biasa becanda.
Nasehat Umamah binti Harits kepada putrinya (Ummu Ilyas binti Auf) tatkala menikah. “Kalau hanya harta dan kekayaan yang dicari seorang wanita. Ia tak akan mencari laki-laki untuk menjadi suaminya. Telah cukuplah harta kedua orang tua baginya”. Lantas berikut ini penuturan (nasehat) itu.
Perhatikan dengan segenap nurani. Pahami dengan hati. niscaya tidak ada lagi wanita yang lebih bahagia melebihi apa yang akan engkau rasakan.
Pertama dan kedua;
Hendaklah engkau (wahai putriku) patuhi suamimu dengan segala ketulusan dan perhatikan perintah itu penuh ketaatan. Hanya dengan seperti itu engkau mendapati pengabdianmu penuh kesahajaan yang akan membawa ketenteraman.
Ketiga dan keempat;
Pelihara bagian tubuhmu yang menjadi tujuan hidung dan mata suamimu. Jangan biarkan seorang lelaki (yang telah menjadi pilihanmu) melihat yang tidak ia senangi atau mencium bau yang tidak wangi pada tubuhmu. Senantiasa manjakanlah kedua indera (suami) itu dengan segenap kehormatanmu.
Kelima dan keenam;
Perhatikan waktu tidur dan waktu makan suamimu. Karena jika lapar sampai melanda, ia akan menjadi garang. Sementara rasa kantuk akibat dari kurang tidurnya, ia akan menjadi mudah marah.
Ketujuh dan kedelapan;
Jaga harta. Pelihara kehormatan diri dan keluarga. Atur rumah tangga dan rawat anak-anak dengan penuh perhatian. Karena itu-lah surga bagi suamimu.
Kesembilan dan kesepuluh;
Jangan tentang perintah. Jangan sebar aib atau rahasianya. Kecuali engkau hanya akan membuat dadanya bergolak penuh murka. Karena itu berarti, engkau wahai anakku, tidak dapat menjaga kehormatan keluarga.
Berikutnya adalah; jangan nampakkan keceriaan jika ia sedih. Jangan sedih jiga ia sedang berbunga-bunga.
Hmmm, aku ingin menuliskan ini, secara mendadak. Alias spontan gitu. Sesaat setelah mengunjungi blog Regisha. Postingan milad ke-21 katanya. Aku ingat bener sama angka ini, karena, di angka inilah aku dulu married. Bukan doyan, apalagi kecelakaan loh. Tapi, emang udah pengin. Udah gitu, pas ketemu cewek, ditanya. Eh, mau! Ya, jadi dah.
Dan, selayaknya seorang wanita, impian terbesar tentulah menjadi ibu dari beberapa anak yang lucu. Tentu saja dibarengi dengan pengabdian tulus teruntuk suami tercinta (kelak) yang lembut dan penyayang. Seperti Sal ini-lah kira-kiranya mah (ups, jangan protes!).
Kalau pas yang bersangkutan baca, jangan ketawa dulu ya. Apalagi mencibir. Amin-kan saja. Bagaimanapun juga ini adalah do’a (versi lain dari semoga panjang umur, enteng jodoh, bahagia selalu) meskipun secara tidak langsung. Juga, jika ada seseorang yang kebetulan baca. Mending amin-kan juga aja dah he.he..he.. (loh, koq maksa). Siapa tahu, begitu kelar baca postingan ini, pintu rumah diketuk. Klo cowok didatengin bidadari jelmaan puteri salju. Klo cewek didatengi kodok yang dikepalanya tertancap paku. Trus, minta dicabutin tuch. Jadi dah pangeran tampan.
Berikutnya lagi, jadi ingat sebuah hadits (langsung buka buku kecil tempat aku corat-coret nih), “maukah engkau, aku (Muhammad) beri tahu tentang sebaik baik harta simpanan? Yaitu istri sholehah”.
Dalam hadits lain, disempurnakan isinya dengan “(yaitu) istri yang menyenangkan jika suaminya melihatnya. Yang taat jika suami memerintahnya dan yang tidak membantahnya. Dan menjaga diri kala suami meninggalkannya”.
Kewajiban suami memang mendidik istri. kalau cuma mau yang udah jadi (udah ready to use hasil didikan mertua) setiap orang tentu juga mau. Masalahnya, hanya wanita baik-baik saja yang akan dimiliki oleh lelaki baik-baik. Begitu juga sebaliknya.
Sementara diri amburadul, eh, penginya dapet yang serba sempurna. Berjuang bersama-sama tentunya lebih indah. Karena, untuk bisa “digituin” sama wanita, harus terlebih dulu bisa menyenangkan. Membahagiakan. Mesti imbal balik. Jadi, mending untuk para jomblo, sama-sama saling nyiapin diri dah.
Samain dulu, orientasi hidup dan sudut pandang mana mesti dipakai. Dan, ini kewajiban lelaki sebagai pemimpin. Mesti bisa ngasih contoh dulu. Ini juga, untuk nasehatin diriku sendiri. Sekedar ngingetin aja, bahwa, tidak ada didunia ini yang serba gratis. Budaya take and give udah lewat. Yang ada adalah ‘give and take’. Memberi dulu baru (mudah-mudahan) menerima. Kasih perhatian dulu, baru akan mendapatkan pengabdian.
Hebat bener nih, aku klo udah nasehatin diri sendiri. Coba Dewi Sandra sama Glen Fredly baca postingan di blog gue ini. Dijamin nyesel dah cerai segala. Si goyang gergaji Dewi Persik juga tuch. Apalagi si jenggot Ahmad Dani (Dewa) Prasetyo.
Yah, namanya juga lagi pengin belajar bener. Suka-suka gue lah. Mau nulis apa kek. Pengisi jam istirahat siang. He..he..he….
Label:
catatan (hati) seorang suami,
renungan
Saatnya Tanggalkan baju (5)
Dan, akhirnya edaran terakhir. Pas hari minggu (05/04) terakhir masa kampanye aku bikin edaran ini. Sayang saja, hanya nyangkut di ketua RW dan tak sempat diedarin ke warga. Tapi, buat kenang-kenangan aja. Tulisan ini masuk blog juga.
Yuk SMS! Yuuuk SAS
Danau telaga sakinah rata dengan pasir. Seorang muda dengan penuh semangat, walau peluh menetes sepanjang tanah, terus saja bolak-balik memikul sekarung pasir. “Danau ini harus segera penuh dengan pasir-pasir. Pembenahan lingkungan harus segera terjadi”, katanya dalam hati.
Dari aparat setempat, katanya tempat itu hendak dirapikan dan dijadikan arena rekreasi. Taman perumahan. Agar lebih tertata dengan tidak mengurangi fungsinya sebagai resapan dan tampungan air.
Banyak orang hanya melihat. Ada yangmencibir, ada pula yang diam. Masa bodo. Tidak sedikit juga yang mendukung memberikan semangat. Paling banyak adalah hanya bicara memberikan pengarahan bagaimana cara lebih baik.
Pemuda itu tetap dengan apa yang dilakukannya. Ditengah orang yang tidak banyak berbuat, ia terus saja bekerja. “Saya niatkan ibadah, tentang hasil, kapan, dan, bagaimana jadinya, biar menjadi urusan Tuhan saja” katanya.
Narasi diatas hanya fiktif belaka.
Hendak saya sampaikan disini ialah; seandainya seluruh komponen masyarakat sekitar turut andil, bersama-sama menggenggam pasir, melempar ke danau itu. Niscaya, peluh dan kepayahan tidak begitu terasa. Sejuta orang memikul kerja bersama-sama, hasilnya lebih cepat merubah keadaan ketimbang hanya satu orang. Walaupun satu orang itu menggunakan seluruh potensi miliknya.
Membenahi lingkungan tidak semudah membalik telapak tangan. Butuh proses secara berkesinambungan. Butuh pemimpin berdiri didepan. Sangat bergantung masyarakat yangmendukung dibarisan belakang.
Kalau disuatu tempat sering terjadi tindak pencurian, misalnya. Si pencuri tidak sepenuhnya salah. Si tercuri tidak sepenuhnya menjadi korban. Lingkungan sosial juga harus diperhatikan. Begitu pula, si kekurangan (miskin) tidak selalu malas, si kelebihan (kaya) bukan berarti tak peduli. System birokrasi pemerintahan dan tatanan masyarakat wajib dipertanyakan.
Yuk, SMS - Saatnya Mengukir Sejarah!
Yuk, SAS - dukung Saipul Anwar Sadat.
Baik itu dimulai dari rumah. Blok A adalah rumah kita.
Mari kita benahi bersama.
Pilih wakil terdekat dengan rumah kita. Kalau kita ingat dengan seseorang, tentulah orang itu juga ingat kepada kita.
Ingat, kamis 9 April 2009, kesampingkan sejenak urusan pribadi anda! Datanglah ke TPS, gunakan hak pilih anda.
JANGAN golput! Karena dapat mempengaruhi mental “siapapun” yang duduk di dewan nantinya. Sisi manusiawi “semangat berjuang” bisa saja drop. Lemah. Merasa lebih banyak yang tidak butuh pada pemimpin. Berarti, anda –yang mungkin berpikiran tidak ikut pemilu- turut andil dalam menbangun bobroknya mental bangsa ini.
Jika saya dipercaya orang lain, maka saya akan mempertahankan kepercayaan itu. Begitu pula anda, bukan?
Yuk SMS!, Yuuuk SAS.
Salam,
simpatisan untuk kemajuan blok-A
he..he… narsis abis gue. Iya kan?
Yang penting kan hasilnya. 80% warga (dari total daftar pemilih tetap) hadir dan milih. yang tadinya (mayoritas) ngotot golput dan gak mau dateng.
20% (yang gak datang) itupun, kebanyakan orangnya udah gak ada ditempat. Ya pindah lah. Ya pergi lah. Ya meninggal lah.
Dan dari 80% itu, 75% suara masuk ke sang tokoh. Manteb ya? Jangan ditiru loh, kampanye seperti ini. Tapi, buat pemilihan presiden kelak. Boleh lah….
Yuk SMS! Yuuuk SAS
Danau telaga sakinah rata dengan pasir. Seorang muda dengan penuh semangat, walau peluh menetes sepanjang tanah, terus saja bolak-balik memikul sekarung pasir. “Danau ini harus segera penuh dengan pasir-pasir. Pembenahan lingkungan harus segera terjadi”, katanya dalam hati.
Dari aparat setempat, katanya tempat itu hendak dirapikan dan dijadikan arena rekreasi. Taman perumahan. Agar lebih tertata dengan tidak mengurangi fungsinya sebagai resapan dan tampungan air.
Banyak orang hanya melihat. Ada yangmencibir, ada pula yang diam. Masa bodo. Tidak sedikit juga yang mendukung memberikan semangat. Paling banyak adalah hanya bicara memberikan pengarahan bagaimana cara lebih baik.
Pemuda itu tetap dengan apa yang dilakukannya. Ditengah orang yang tidak banyak berbuat, ia terus saja bekerja. “Saya niatkan ibadah, tentang hasil, kapan, dan, bagaimana jadinya, biar menjadi urusan Tuhan saja” katanya.
Narasi diatas hanya fiktif belaka.
Hendak saya sampaikan disini ialah; seandainya seluruh komponen masyarakat sekitar turut andil, bersama-sama menggenggam pasir, melempar ke danau itu. Niscaya, peluh dan kepayahan tidak begitu terasa. Sejuta orang memikul kerja bersama-sama, hasilnya lebih cepat merubah keadaan ketimbang hanya satu orang. Walaupun satu orang itu menggunakan seluruh potensi miliknya.
Membenahi lingkungan tidak semudah membalik telapak tangan. Butuh proses secara berkesinambungan. Butuh pemimpin berdiri didepan. Sangat bergantung masyarakat yangmendukung dibarisan belakang.
Kalau disuatu tempat sering terjadi tindak pencurian, misalnya. Si pencuri tidak sepenuhnya salah. Si tercuri tidak sepenuhnya menjadi korban. Lingkungan sosial juga harus diperhatikan. Begitu pula, si kekurangan (miskin) tidak selalu malas, si kelebihan (kaya) bukan berarti tak peduli. System birokrasi pemerintahan dan tatanan masyarakat wajib dipertanyakan.
Yuk, SMS - Saatnya Mengukir Sejarah!
Yuk, SAS - dukung Saipul Anwar Sadat.
Baik itu dimulai dari rumah. Blok A adalah rumah kita.
Mari kita benahi bersama.
Pilih wakil terdekat dengan rumah kita. Kalau kita ingat dengan seseorang, tentulah orang itu juga ingat kepada kita.
Ingat, kamis 9 April 2009, kesampingkan sejenak urusan pribadi anda! Datanglah ke TPS, gunakan hak pilih anda.
JANGAN golput! Karena dapat mempengaruhi mental “siapapun” yang duduk di dewan nantinya. Sisi manusiawi “semangat berjuang” bisa saja drop. Lemah. Merasa lebih banyak yang tidak butuh pada pemimpin. Berarti, anda –yang mungkin berpikiran tidak ikut pemilu- turut andil dalam menbangun bobroknya mental bangsa ini.
Jika saya dipercaya orang lain, maka saya akan mempertahankan kepercayaan itu. Begitu pula anda, bukan?
Yuk SMS!, Yuuuk SAS.
Salam,
simpatisan untuk kemajuan blok-A
he..he… narsis abis gue. Iya kan?
Yang penting kan hasilnya. 80% warga (dari total daftar pemilih tetap) hadir dan milih. yang tadinya (mayoritas) ngotot golput dan gak mau dateng.
20% (yang gak datang) itupun, kebanyakan orangnya udah gak ada ditempat. Ya pindah lah. Ya pergi lah. Ya meninggal lah.
Dan dari 80% itu, 75% suara masuk ke sang tokoh. Manteb ya? Jangan ditiru loh, kampanye seperti ini. Tapi, buat pemilihan presiden kelak. Boleh lah….
Label:
catatan harian,
oyot gatel
Saatnya Tanggalkan baju (4)
Tukang kompor beraksi
Hasrat hati memeluk gunung, apa daya gunugnya menciut. Ya udah. Kekep ajah. Gitu kata aku mah.
Sekian lama memendam keinginan. Akhirnya terbongkar juga. Gerak jalan itu hanya untuk mengundang simpati sekaligus mengenalkan “sang tokoh” dilingkungan sendiri. Secara, orang penting, kan otomatis jarang bersambang dipelosok-pelosik gang. Meskipun itu komplek hunian sendiri. Untuk itu, harus dikenalin juga.
Inti dari pelaksanaan gerak jalan adalah saat pemotongan pita. Balon pun terbang kesana kemari. Dihadiri oleh 1200 peserta, mulai dari orok yang masih digendong, didorong pakai sepeda bayi, keranjang bayi, anak-anak batita, balita, sampai abg. Juga bapak-bapak, emak-emak, nenek-nenek, kakek-kakek. Komplit pokoknya. Kalau perlu kambing piaraan juga didaftar kalau bisa ngomong mah.
Balon disiapin, diikat diatas hadiah utama (sepeda) trus, datang deh sang maestro. Dengan pakaian olahraga, sepatu kets putih. Ia nangkring diatas panggung. Dan, tress… putus dah tuch tali. Si tokoh pun tersenyum manis dan langsung jalan paling depan. Dan, itulah mereka baru tahu dan kenal langsung dalam artian lihat dari dekat. Face to face. Karena, selama ini mereka (para warga) hanya kenal nama dan nyaris tak pernah ketemu.
“Begitu saya teriakkan ‘kita bersaudara’, hadirin harus menyambut dengan ‘aku suka bekerja sama’, begitu pun kalau dibalik” kataku berseru. Tukang jual obat aja dijamin kalah dah. Antusias bener mereka. Karena aku bilang juga, barang siapa bergaya paling unik langsung dapet hadiah tanpa diundi. Kontan aja tuch. Ada yang jinkrak-jingkrak. Ada yang pekik merdeka segala.
Kinim, musim coblos mencoblos telah lewat. Yang ada adalah contreng mencontreng. Akhirnya, siapa yang dikenal itulah yang dipilih.
Tugas “memperkenalkan” inilah yang harus aku (dan teman-teman) perjuangkan. Masih dengan system edaran juga. Menjelang hari pemili (masa kampanye) edaran demi edaran ku tulis mulai beraksi. Ini nih, yang pertama.
Saatnya mengukir sejarah
2010 siklus banjir 5 tahun-an. Blok A, telaga murni terendam. Hah…?! Yang bener?
Seorang warga di blok A6 terbangun dari tidur. Air telah masuk rumah! Ternyata hujan yang mengguyur sejak sore, pagi itu telah bermain-main ke kamar warga. Air memang tak bisa dilarang. Kemana saja pengin masuk, disanalah berada.
“kemana nih, orang-orang. Saya kebanjiran begini tidak ada yang keluar satu pun”, pikirnya. Intip tetangga sebelah. Kasur berenang diruang tamu, sementara pintu terkunci. Orangnya masuk shift malam.
Bergegas kearah timur, ternyata di dekat irigasi telah banyak orang kerjabhati mengeruk parit dan sungai kecil itu. “baru bangun? Kebanjiran juga toh?” tanya seorang. “iya. Kirain saya aja, koq sepi pada kemana. Tak tahunya disini sudah ramai”, jawabnya.
Kejadian itu terjadi beberapa waktu menjelang akhir musim hujan awal maret lalu. Terdokumentasi, lapangan bulutangkis RT-02 telah dipenuhi oleh air. Ya, benar. Air hujan. Banjir! Tidak banyak yang tahu memang, tapi, dari tulisan ini anda jadi paham. Blok A pernah ada banjir dan sudah masuk kerumah warga. Saat itu anda tidur pulas, karena, kejadian jam 2 dini hari.
“wah, 2010 nanti, bisa kerendem nih blok A” canda orang itu. “jangan lah. Gak enak banjir itu. Kita harus kerjabhakti, benerin saluran air. Rapiin jalan kalau perlu”
apa yang terlintas dari narasi singkat diatas?
Untuk membenahi lingkungan, tidak bisa sendiri. Harus bersama-sama. Bareng-bareng. Rame-rame. Kompak!
Terpenting adalah, tahu jalur briokrasi untuk minta bantuan. Tambahan dana, misalnya. Harus tahu kemana mintanya, bagaimana caranya, siapa yang harus dihubungi dan tentunya prosedurnya tidak boleh dilupakan.
–Harus ada aparat bergerak!-
Kita butuh pemimpin. Itu sudah pasti! Tapi, pemimpin yang kenal, ngerti, tanggap lingkungan dimana kita tinggal. Mudah dihubungi, loyal terhadap masyarakat, terbukti sudah berbuat untuk blok A, ini yang mesti dipikirkan.
Masjid tidak berada dengan sendirinya di blok A. ada jalur birokrasi harus ditempuh untuk mendatangkan bantuan dari Uni Emirat Arab. Pos yandu, lapangan, fasilitas sosial, dan juga berbagai kegiatan, tidak mungkin ada tanpa campur tangan pemuka masyarakat dan aparat pemerintahan.
Anda tahu, siapa yang kenal dan terdekat dengan blok A?
Renungkan. Kita butuh TPA, Sekolah mini, balai pertemuan dengan semarak kegiatan ibu-ibu dan bapak-bapak serta anak-anaknya. Siapa (pemimpin) yang dekat dengan kita, kenal kita, pernah membaur, bahkan menganggap saudara?
Saatnya mengukir sejarah. Torehkan “100% warga blok A mendukung SAS untuk menyalurkan aspirasi di kursi legislatif”
Hamzah Haz, pemilu lalu baru 98% didukung oleh masyarakat dimana ia tinggal. Tapi, tahun ini, blok A telaga murni, akan mengukir sejarah, satu-satunya di Indonesia, bahkan didunia yang 100% warganya mencoblos di bilik suara 9 april 2009 mendatang. Dan, contrengannya adalah seragam. SAS.
Ini bukan untuk kepentingan apa dan siapa, melainkan akan kembali ke blok A. satu orang saja tidak menggunakan hak pilih dengan benar, angka 100% tidak mungkin terealisasi.
Saya yakin, blok A adalah satu keluarga. Semangat bersatu sangat tinggi. Saling bahu-membahu dalam hidup bermasyarakat.
Satu suara anda, sangat menentukan sejarah ini dapat terjadi. Seumur hidup anda akan bangga, karena pernah tinggal di blok A. dan menjadi bagian dari satu suara bulat -100% SAS.
Uang satu juta, jika kurang satu rupiah saja, gugur-lah predikat sejuta itu. Suara anda sangat berharga untuk kehormatan blok A.
kita adalah warga blok A. kita adalah saudara. Keluarga besar blok A akan mengukir sejarah di pemilu 2009 ini. Amin. Dari caleg DPD, DPRD2, DPRD1, DPR pusat. Khusus DPRD2, tanggalkan (baju) kepartaian –utamakan kehormatan keluarga.
Koran, radio, televisi, akan menyiarkan sejarah ini. mau?
Judul beritanya, “sebuah perumahan di cikarang barat-bekasi- sangat kompak!” dan, salah satu diantara anda akan diwawancarai.
Kita bersaudara! Aku suka bekerjasama.
Aku bangga tinggal di blok A.
Salam,
simpatisan untuk kemajuan blok A
Ya, benar. Edaran ini aku copy lebih 400 lembar. Kembali, bersama aparat RW dan seluruh RT yang ada di blok A telaga murni, satu persatu, pintu perpintu diketuk dan dikasih selebaran ini.
Hasrat hati memeluk gunung, apa daya gunugnya menciut. Ya udah. Kekep ajah. Gitu kata aku mah.
Sekian lama memendam keinginan. Akhirnya terbongkar juga. Gerak jalan itu hanya untuk mengundang simpati sekaligus mengenalkan “sang tokoh” dilingkungan sendiri. Secara, orang penting, kan otomatis jarang bersambang dipelosok-pelosik gang. Meskipun itu komplek hunian sendiri. Untuk itu, harus dikenalin juga.
Inti dari pelaksanaan gerak jalan adalah saat pemotongan pita. Balon pun terbang kesana kemari. Dihadiri oleh 1200 peserta, mulai dari orok yang masih digendong, didorong pakai sepeda bayi, keranjang bayi, anak-anak batita, balita, sampai abg. Juga bapak-bapak, emak-emak, nenek-nenek, kakek-kakek. Komplit pokoknya. Kalau perlu kambing piaraan juga didaftar kalau bisa ngomong mah.
Balon disiapin, diikat diatas hadiah utama (sepeda) trus, datang deh sang maestro. Dengan pakaian olahraga, sepatu kets putih. Ia nangkring diatas panggung. Dan, tress… putus dah tuch tali. Si tokoh pun tersenyum manis dan langsung jalan paling depan. Dan, itulah mereka baru tahu dan kenal langsung dalam artian lihat dari dekat. Face to face. Karena, selama ini mereka (para warga) hanya kenal nama dan nyaris tak pernah ketemu.
“Begitu saya teriakkan ‘kita bersaudara’, hadirin harus menyambut dengan ‘aku suka bekerja sama’, begitu pun kalau dibalik” kataku berseru. Tukang jual obat aja dijamin kalah dah. Antusias bener mereka. Karena aku bilang juga, barang siapa bergaya paling unik langsung dapet hadiah tanpa diundi. Kontan aja tuch. Ada yang jinkrak-jingkrak. Ada yang pekik merdeka segala.
Kinim, musim coblos mencoblos telah lewat. Yang ada adalah contreng mencontreng. Akhirnya, siapa yang dikenal itulah yang dipilih.
Tugas “memperkenalkan” inilah yang harus aku (dan teman-teman) perjuangkan. Masih dengan system edaran juga. Menjelang hari pemili (masa kampanye) edaran demi edaran ku tulis mulai beraksi. Ini nih, yang pertama.
Saatnya mengukir sejarah
2010 siklus banjir 5 tahun-an. Blok A, telaga murni terendam. Hah…?! Yang bener?
Seorang warga di blok A6 terbangun dari tidur. Air telah masuk rumah! Ternyata hujan yang mengguyur sejak sore, pagi itu telah bermain-main ke kamar warga. Air memang tak bisa dilarang. Kemana saja pengin masuk, disanalah berada.
“kemana nih, orang-orang. Saya kebanjiran begini tidak ada yang keluar satu pun”, pikirnya. Intip tetangga sebelah. Kasur berenang diruang tamu, sementara pintu terkunci. Orangnya masuk shift malam.
Bergegas kearah timur, ternyata di dekat irigasi telah banyak orang kerjabhati mengeruk parit dan sungai kecil itu. “baru bangun? Kebanjiran juga toh?” tanya seorang. “iya. Kirain saya aja, koq sepi pada kemana. Tak tahunya disini sudah ramai”, jawabnya.
Kejadian itu terjadi beberapa waktu menjelang akhir musim hujan awal maret lalu. Terdokumentasi, lapangan bulutangkis RT-02 telah dipenuhi oleh air. Ya, benar. Air hujan. Banjir! Tidak banyak yang tahu memang, tapi, dari tulisan ini anda jadi paham. Blok A pernah ada banjir dan sudah masuk kerumah warga. Saat itu anda tidur pulas, karena, kejadian jam 2 dini hari.
“wah, 2010 nanti, bisa kerendem nih blok A” canda orang itu. “jangan lah. Gak enak banjir itu. Kita harus kerjabhakti, benerin saluran air. Rapiin jalan kalau perlu”
apa yang terlintas dari narasi singkat diatas?
Untuk membenahi lingkungan, tidak bisa sendiri. Harus bersama-sama. Bareng-bareng. Rame-rame. Kompak!
Terpenting adalah, tahu jalur briokrasi untuk minta bantuan. Tambahan dana, misalnya. Harus tahu kemana mintanya, bagaimana caranya, siapa yang harus dihubungi dan tentunya prosedurnya tidak boleh dilupakan.
–Harus ada aparat bergerak!-
Kita butuh pemimpin. Itu sudah pasti! Tapi, pemimpin yang kenal, ngerti, tanggap lingkungan dimana kita tinggal. Mudah dihubungi, loyal terhadap masyarakat, terbukti sudah berbuat untuk blok A, ini yang mesti dipikirkan.
Masjid tidak berada dengan sendirinya di blok A. ada jalur birokrasi harus ditempuh untuk mendatangkan bantuan dari Uni Emirat Arab. Pos yandu, lapangan, fasilitas sosial, dan juga berbagai kegiatan, tidak mungkin ada tanpa campur tangan pemuka masyarakat dan aparat pemerintahan.
Anda tahu, siapa yang kenal dan terdekat dengan blok A?
Renungkan. Kita butuh TPA, Sekolah mini, balai pertemuan dengan semarak kegiatan ibu-ibu dan bapak-bapak serta anak-anaknya. Siapa (pemimpin) yang dekat dengan kita, kenal kita, pernah membaur, bahkan menganggap saudara?
Saatnya mengukir sejarah. Torehkan “100% warga blok A mendukung SAS untuk menyalurkan aspirasi di kursi legislatif”
Hamzah Haz, pemilu lalu baru 98% didukung oleh masyarakat dimana ia tinggal. Tapi, tahun ini, blok A telaga murni, akan mengukir sejarah, satu-satunya di Indonesia, bahkan didunia yang 100% warganya mencoblos di bilik suara 9 april 2009 mendatang. Dan, contrengannya adalah seragam. SAS.
Ini bukan untuk kepentingan apa dan siapa, melainkan akan kembali ke blok A. satu orang saja tidak menggunakan hak pilih dengan benar, angka 100% tidak mungkin terealisasi.
Saya yakin, blok A adalah satu keluarga. Semangat bersatu sangat tinggi. Saling bahu-membahu dalam hidup bermasyarakat.
Satu suara anda, sangat menentukan sejarah ini dapat terjadi. Seumur hidup anda akan bangga, karena pernah tinggal di blok A. dan menjadi bagian dari satu suara bulat -100% SAS.
Uang satu juta, jika kurang satu rupiah saja, gugur-lah predikat sejuta itu. Suara anda sangat berharga untuk kehormatan blok A.
kita adalah warga blok A. kita adalah saudara. Keluarga besar blok A akan mengukir sejarah di pemilu 2009 ini. Amin. Dari caleg DPD, DPRD2, DPRD1, DPR pusat. Khusus DPRD2, tanggalkan (baju) kepartaian –utamakan kehormatan keluarga.
Koran, radio, televisi, akan menyiarkan sejarah ini. mau?
Judul beritanya, “sebuah perumahan di cikarang barat-bekasi- sangat kompak!” dan, salah satu diantara anda akan diwawancarai.
Kita bersaudara! Aku suka bekerjasama.
Aku bangga tinggal di blok A.
Salam,
simpatisan untuk kemajuan blok A
Ya, benar. Edaran ini aku copy lebih 400 lembar. Kembali, bersama aparat RW dan seluruh RT yang ada di blok A telaga murni, satu persatu, pintu perpintu diketuk dan dikasih selebaran ini.
Label:
catatan harian,
oyot gatel
Saatnya Tanggalkan baju (3)
Tahab berikutnya adalah, aku membuat selebaran. Dengan sedikit provokatif dan nyentrik. Kata-kata aku pilih sedemikian rupa. Sayang aja, aku gak bisa nyantumin di blog ini secara lay-out sebenarnya aku buat. Padahal komposisi tulisan maupun warga, luar biasa bagus bagnet loh. Secara, penulis amatiran gitu.
Kata-katanya kurang lebih seperti ini nih.
jangan lewatkan
jalan santai berhadiah, menyongsong agustus-an
kita bersaudara! Aku suka bekerjasama
balonku ada lima, rupa-rupa warnanya. Hijau kuning kelabu, merah muda dan biru
meletus balon merah duar! Hilang semua prasangka
minggu, 03 agustus 2008
jam 06:00 berangkat dari blok A
jangan terlambat ya, karena hadiah utama di undi sebelum berangkat.
route,
menuju lapangan depan telaga sakinah, istirahat sejenak. Kembali lagi ke blok A
hadiah hiburan : tas, tempat pensil, mainan anak-anak, kaos, sepatu, dan masih banyak lagi
sering kebingunan cari lilin saat mati lampu? Kami sediakan 5 buah Emergency lamp untuk anda.
pengin dapet handphone gratis? Datang deh… ada 2 lho HP-nya….
atur jadwal rutin anda, jangan sampai terlewatkan. Luangkan waktu cukup 2 jam.
adik-adik suka balon?
panitia menyediakan (+-)500 buah lho, semuanya gratis!
WAW! hadiah utama, Sepeda! mau?
pendaftaran, GRATIS. Hubungi ketua RT masing-masing untuk mendapat info selengkap-lengkapnya.
eh, ada satu lagi nih. Bagi peserta yang bisa menjawab soal yang diberikan oleh panitia, hadiah unik berhak anda bawa pulang.
sssttt…. Jangan bilang-bilang ya, ini bocoran seputar pertanyaan : siapa nama ketua RT 03, siapa bendahara RT 04, tetangga sebelah namanya siapa,
apa nama masjid di blok A, fasos & fasum di blok A ada apa saja, berapa kali got depan rumah dibersihkan, siapa nama tokoh dlm edaran pertama.
ups… kebanyakan ya, bocorannya.
Intinya, pertanyaan gampang² aja koq. Pasti bisa dijawab, karena hanya seputar sosial lingkungan bermasyarakat.
tapi, kalau mau tahu lebih banyak. Tidak ada salahnya sih nglobi ketua RT, siapa tahu dikasih bocoran lebih banyak lagi.
hmmm, apa lagi ya. Tuh kan, hampir saja lupa. Kalau masih ada sisa anggaran, kegiatan ini akan di-CD-kan.
wah, pasti seru dech kalau dilihat 2 atau 5 tahun mendatang. Ternyata warga blok A sangat kompak!
Gerak jalan santai, ikut semua. Ada 5 kamera digital untuk mengabadikan acara ini. Termasuk 1 handycam.
Acara ini lumayan sukes. Dari target peserta 800-an orang. All in. maksudnya all ini adalah semua warga dari mulai orok sampai nenek-nenek. Hadir. Eh, peserta membludak. Total lebih dari 1200 peserta. Bahkan ada tetangga komplek yang ikut nyelonong jadi peserta gelap juga. Terang aja, Cuma dapet snack doang. Gak boleh bawa hadiah pulang.
Akhirnya, dari total hadiah yang semuanya aku belanja sendirian. Ke mangga dua. Pasar nelayan. Pasar petak. Dari mulai mobilan, boneka kecil, tas segala ukuran, sampai sepeda ukuran sedang dengan merek united. Aku semua yang beli. Secara, team kami sudah ada bagian masing-masing. Udah gitu mereka (masing-masing ketua RT) mesti ngontrol pelaksanaan tanding tujuh belasan.
Walau akhirnya, mereka harus kecewa. Karena, piala utama jatuh ke aku juga. Ha..ha..ha..ha.. terimakasih buat seluruh rekan-rekan seksie olahraga atas kerjakerasnya.
Kata-katanya kurang lebih seperti ini nih.
jangan lewatkan
jalan santai berhadiah, menyongsong agustus-an
kita bersaudara! Aku suka bekerjasama
balonku ada lima, rupa-rupa warnanya. Hijau kuning kelabu, merah muda dan biru
meletus balon merah duar! Hilang semua prasangka
minggu, 03 agustus 2008
jam 06:00 berangkat dari blok A
jangan terlambat ya, karena hadiah utama di undi sebelum berangkat.
route,
menuju lapangan depan telaga sakinah, istirahat sejenak. Kembali lagi ke blok A
hadiah hiburan : tas, tempat pensil, mainan anak-anak, kaos, sepatu, dan masih banyak lagi
sering kebingunan cari lilin saat mati lampu? Kami sediakan 5 buah Emergency lamp untuk anda.
pengin dapet handphone gratis? Datang deh… ada 2 lho HP-nya….
atur jadwal rutin anda, jangan sampai terlewatkan. Luangkan waktu cukup 2 jam.
adik-adik suka balon?
panitia menyediakan (+-)500 buah lho, semuanya gratis!
WAW! hadiah utama, Sepeda! mau?
pendaftaran, GRATIS. Hubungi ketua RT masing-masing untuk mendapat info selengkap-lengkapnya.
eh, ada satu lagi nih. Bagi peserta yang bisa menjawab soal yang diberikan oleh panitia, hadiah unik berhak anda bawa pulang.
sssttt…. Jangan bilang-bilang ya, ini bocoran seputar pertanyaan : siapa nama ketua RT 03, siapa bendahara RT 04, tetangga sebelah namanya siapa,
apa nama masjid di blok A, fasos & fasum di blok A ada apa saja, berapa kali got depan rumah dibersihkan, siapa nama tokoh dlm edaran pertama.
ups… kebanyakan ya, bocorannya.
Intinya, pertanyaan gampang² aja koq. Pasti bisa dijawab, karena hanya seputar sosial lingkungan bermasyarakat.
tapi, kalau mau tahu lebih banyak. Tidak ada salahnya sih nglobi ketua RT, siapa tahu dikasih bocoran lebih banyak lagi.
hmmm, apa lagi ya. Tuh kan, hampir saja lupa. Kalau masih ada sisa anggaran, kegiatan ini akan di-CD-kan.
wah, pasti seru dech kalau dilihat 2 atau 5 tahun mendatang. Ternyata warga blok A sangat kompak!
Gerak jalan santai, ikut semua. Ada 5 kamera digital untuk mengabadikan acara ini. Termasuk 1 handycam.
Acara ini lumayan sukes. Dari target peserta 800-an orang. All in. maksudnya all ini adalah semua warga dari mulai orok sampai nenek-nenek. Hadir. Eh, peserta membludak. Total lebih dari 1200 peserta. Bahkan ada tetangga komplek yang ikut nyelonong jadi peserta gelap juga. Terang aja, Cuma dapet snack doang. Gak boleh bawa hadiah pulang.
Akhirnya, dari total hadiah yang semuanya aku belanja sendirian. Ke mangga dua. Pasar nelayan. Pasar petak. Dari mulai mobilan, boneka kecil, tas segala ukuran, sampai sepeda ukuran sedang dengan merek united. Aku semua yang beli. Secara, team kami sudah ada bagian masing-masing. Udah gitu mereka (masing-masing ketua RT) mesti ngontrol pelaksanaan tanding tujuh belasan.
Walau akhirnya, mereka harus kecewa. Karena, piala utama jatuh ke aku juga. Ha..ha..ha..ha.. terimakasih buat seluruh rekan-rekan seksie olahraga atas kerjakerasnya.
Label:
catatan harian,
oyot gatel
Saatnya Tanggalkan baju (2)
Awal perjuangan itu
Sekira pertengahan tahun 2008, menjelang agustusan. Telah ada desas-desus maupun issue terpendam mengenai “akan dicalonkannya” seorang teman menjadi caleg. Dari sini, kemudian pengaruh mulai dicari. Pertama-tama adalah para pengurus RW dan juga RT setempat mulai digalang perhatiannya.
Saat itu kami, para pengurus pemerintahan setempat (selevel RT loh ya. Pak lurah dan keamanan setempat juga kami libatkan) mencoba mengadakan kegiatan yang bisa diikuti oleh seluruh warga. Dan, inilah memoir itu diawali.
Gerak jalan santai. Topik inilah aku coba sodorkan dengan berbagai proposal dan cara pelaksanaan. Setelah dialog dan negosiasi mengenai budgeting, akhirnya disetujui. Untuk penarik massa pertama, aku coba gunakan system edaran.
Segera, kami berlima waktu itu, rapat mendadak secara singkat dan jelas. Membahas dari awal sampai akhir. Untuk mendukung suasanya, aku sodorkan sebuah budget bahwa, untuk mebahas seperti ini butuh tempat khusus, suasana khusus, dan tentu saja jamuan khusus. Aku pilihlah tempat makan “riung bandung” (eh, di cikarang ada juga loh. Kirain dibandung aja) depan hotel perdana. Waw, teman-teman semangat abis kalau rapat ditempat gituan. Dan, hasilnya, luar biasa. Bukan hanya rencana mateng tapi juga konsisten bersama untuk saling bekerja keras.
Dan, inilah edaran itu. Aku ketuk pintu per pintu setiap warga. Kasih rumah per rumah.
Sifat : edaran
GERAK JALAN SANTAI menyongsong PERAYAAN 17 AGUSTUS 2008
Slogan : Kita Bersaudara! Aku Suka Bekerjasama
Rumahku surgaku
Klowor, seorang siswa SMP swasta di Bekasi. Baru kelas dua. Setiap pagi berangkat sekolah, pulang pun tak pernah telat. Sehari-harinya juga menjadi anak penurut dan rajin membantu orang tua. Ia baik, ramah, hanya saja sedikit tertutup. Sayangnya, ia tidak begitu akrab dengan tetangga.
Sore itu, jam lima sore Klowor ditegur keras Bapaknya. Apa pasal? Ternyata surat panggilan dari sekolah untuk orang tua murid agar datang ke sekolah karena sering bolos. Setelah diusut, klowor memang berangkat dari rumah. Tapi parkir di Ply Station sampai jam sekolah bubar.
Antara percaya dan tidak, tapi terjadi. Klowor begitu baik dan pendiam di rumah, siapa sangka tak terkendali di luar. Dan tahukah anda, si Klowor ini anak dari salah satu tetangga di blok A. sebenarnya ada salah seorang tetangga melihat bolos, tapi “biarin aja lah, bukan anakku ini. Toh pertanggungjawaban di akherat tidak mungkin tertukar”, batinnya.
Lain Klowor, lain pula Pak Jagur
Pagi jam enam pergi kerja, sore hari menjelang magrib baru nyampe rumah. Sabtu minggu terkadang lembur, kalaupun libur dimanfaatkan untuk memperdalam ilmu agama. Majelis taklim diluar perumahan. Sholat jamaah di masjid selalu aktif, dari subuh hingga isyak. Selain dhuhur dan ashar tentunya, karena sudah pasti di tempat kerja. Ia tidak begitu pusing dengan urusan anak, karena istrinya sebagai ibu rumah tangga selalu di rumah. Anaknya pun baru satu, umur dua setengah tahun.
Yang menjadikannya aneh adalah, Pak Jagur selalu aktif dengan pengajian di luar komplek, padahal sudah ada masjid. Ironis memang, masjid sendiri malah jarang dikunjungi. Meskipun sudah lebih empat tahun tinggal. “Oh, saya kan berbeda pandangan”, bisiknya dalam hati. Padahal sesama mukmin bersaudara.
Beda lagi dengan Bu Sumringah
Ia seorang ibu rumah tangga tulen, sehari-hari berkecimpung dengan pekerjaan dapur dan anak yang baru TK nol kecil. Aneh bin ajaib, si ibu ini tidak pernah keluar rumah. Alasannya, hanya memperbanyak dosa karena ngrumpi. Sampi-sampai pengajian yang diadakan untuk seluruh warga pun tidak mau datang. Paling tidak, ia mencoba menerapkan apa yang sempat ia tangkap dari ustadzah “bicara yang baik, atau diam”.
Apa yang kurang dengan blok A, kenapa kegiatan terasa kerontang? Beberapa orang yang potensial dan berilmu justeru merasa lebih dibutuhkan aktif diluar.
-----------&-----------
Ketika terjadi penyelewengan moral, misalnya. Reaksionis langsung terjadi. “ayo, tangkap saja. Gerebek rame-rame. Ini sudah mencemari lingkungan kita”. Atau juga dalam skala besar, penyesatan aqidah –penyimpangan ritual- selayaknya ahmadiyah. Anarkis pun tak terelakkan, “bubarkan, bakar masjidnya”. Kenapa bisa se-sensitive itu ya? Kenapa harus ber-orientasi jauh keluar, padahal lingkungan sendiri butuh pertolongan. Bagaimana dengan keanehan sosial, Apakah secepat itu reaksinya? Hidayah memang mutlak milik Tuhan. Tapi, dakwah dengan orang terdekat rasanya tidak merugikan. Menguntungkan malah.
Krisis kontrol sosial, agaknya sudah menggejala. Sangat berbahaya untuk generasi mendatang.
Pernah mengamati pelangi?
Me-ji-ku-hi-bi-ni-u atau merah jingga kuning hijau biru nila dan ungu. Merahnya sangat kuat, begitu pula kuning ataupun hijau. Tapi, TIDAK ADA GARIS PEMBATAS antar warna. Dari merah perlahan pudar, samar bercampur semi jingga akhirnya jingga penuh. Begitu seterusnya sampai ungu. Sama-sama kuat karakter warnanya tapi berdampingan harmonis tanpa garis pembatas, hingga membentuk keindahan. Coba satu warna, bukan pelangi namanya. Tidak akan pernah ada lagu “… merah kunging hijau, dilangit yang biru…pelukismu agung, siapa gerangan ….”
-----------&&-----------
Hari minggu, tanggal 22 juni 2008. pengajian ibu-ibu tingkat RW, seharusnya bisa dihadiri oleh tiga tarus enam puluh lima. Kenyataan hadir hanya kurang lebih dua puluh lima orang. Pengajian bapak-bapak lebih parah lagi malah. Paling banter sepuluh orang, itupun empat orang diantaranya terkantuk-kantuk nyandar di tembok. Saat ada season Tanya jawab “… kalau ada yang mau ditanyakan, silahkan…” kata Ustadz. Sepi. Langsung do’a penutup. Wasalam.
Pengurus yang hanya itu-itu saja, sampai putus asa. Bagaimana caranya agar pengajian bisa semarak.
Apakah memang harus seperti ini lingkungan blok A perumahan telaga murni. Apakah sudah tidak mungkin lagi, cerdas secara sosial?
Bisa, pasti bisa. Caranya? Kerjasama. Endapkan dalam hati slogan ini “Kita Bersaudara! Aku Suka Bekerjasama”
Latar belakang daerah dengan beragam culture budaya bahkan seni beribadah bukan hal yang tidak bisa dipadukan. Sulit memang. Tapi, harus optimis. Bukan hanya rumahku surgaku yang akan tercipta, tapi lingkunganku surgaku tidak mustahil dapat terlaksana. Dengan catatan, si merah tidak menonjolkan merahnya, si kuning tidak angkuh dengan kuningnya, si jingga tidak ngotot paling benar dengan jingganya. Begitu pula si hijau, si nila, si ungu. Tidak saling mempertegas garis pemisah, tetapi saling berbaur agar tercipta kebersamaan.
-----------&&&-----------
Untuk itulah, kami selaku pengurus RW akan mencoba mengadakan kegiatan yang dapat diikuti oleh seluruh warga blok A dari mulai bayi, anak-anak, remaja bahkan orang tua.
Catat hari dan tanggal pelakanaannya. Minggu, tanggal 03 agustus 2008. gerak jalan santai atau kami singkat gelasan dengan mengambil route; blok A menuju lapangan bola depan telaga sakinah. Kemudian kembali lagi. Jarak yang ditempuh sekitar 950 meter. Atur rencana anda, jangan sampai dilewatkan acara ini.
Kami, selaku team panitia gelasan akan mencoba menggali dana dari para donatur (bukan iuran warga) demi meriahnya agenda ini. Hadiah dan doorprize serta cindera mata dengan total jutaan rupiah telah kami targetkan. Satu hal lagi yang menarik, kami akan membagikan gratis satu buah balon kepada seluruh anak-anak yang mengikuti. Pastikan, jangan sampai anak anda ketinggalan.
Tunggu ketua RT mendata kembali warganya. Jangan sampai terlewat. Kegiatan ini gratis dan tidak dipungut biaya sepeserpun. Hadiah utama? Insya Allah ada.
Salam,
Panitia gelasan.
Ps : edaran ini bukan pertama. Akan ada edaran-edaran berikutnya. Catat dan ingat beberapa point penting, bagi yang bisa menjawab pertanyaan panitia seputar edaran ini, hadiah menarik berhak menjadi milik anda.
secara, edaran ini bertujuan untuk memperkenalkan acara yang akan diusung itu. dan ternyata, efektif juga. hasilnya, postingan berikutnya deh.
Sekira pertengahan tahun 2008, menjelang agustusan. Telah ada desas-desus maupun issue terpendam mengenai “akan dicalonkannya” seorang teman menjadi caleg. Dari sini, kemudian pengaruh mulai dicari. Pertama-tama adalah para pengurus RW dan juga RT setempat mulai digalang perhatiannya.
Saat itu kami, para pengurus pemerintahan setempat (selevel RT loh ya. Pak lurah dan keamanan setempat juga kami libatkan) mencoba mengadakan kegiatan yang bisa diikuti oleh seluruh warga. Dan, inilah memoir itu diawali.
Gerak jalan santai. Topik inilah aku coba sodorkan dengan berbagai proposal dan cara pelaksanaan. Setelah dialog dan negosiasi mengenai budgeting, akhirnya disetujui. Untuk penarik massa pertama, aku coba gunakan system edaran.
Segera, kami berlima waktu itu, rapat mendadak secara singkat dan jelas. Membahas dari awal sampai akhir. Untuk mendukung suasanya, aku sodorkan sebuah budget bahwa, untuk mebahas seperti ini butuh tempat khusus, suasana khusus, dan tentu saja jamuan khusus. Aku pilihlah tempat makan “riung bandung” (eh, di cikarang ada juga loh. Kirain dibandung aja) depan hotel perdana. Waw, teman-teman semangat abis kalau rapat ditempat gituan. Dan, hasilnya, luar biasa. Bukan hanya rencana mateng tapi juga konsisten bersama untuk saling bekerja keras.
Dan, inilah edaran itu. Aku ketuk pintu per pintu setiap warga. Kasih rumah per rumah.
Sifat : edaran
GERAK JALAN SANTAI menyongsong PERAYAAN 17 AGUSTUS 2008
Slogan : Kita Bersaudara! Aku Suka Bekerjasama
Rumahku surgaku
Klowor, seorang siswa SMP swasta di Bekasi. Baru kelas dua. Setiap pagi berangkat sekolah, pulang pun tak pernah telat. Sehari-harinya juga menjadi anak penurut dan rajin membantu orang tua. Ia baik, ramah, hanya saja sedikit tertutup. Sayangnya, ia tidak begitu akrab dengan tetangga.
Sore itu, jam lima sore Klowor ditegur keras Bapaknya. Apa pasal? Ternyata surat panggilan dari sekolah untuk orang tua murid agar datang ke sekolah karena sering bolos. Setelah diusut, klowor memang berangkat dari rumah. Tapi parkir di Ply Station sampai jam sekolah bubar.
Antara percaya dan tidak, tapi terjadi. Klowor begitu baik dan pendiam di rumah, siapa sangka tak terkendali di luar. Dan tahukah anda, si Klowor ini anak dari salah satu tetangga di blok A. sebenarnya ada salah seorang tetangga melihat bolos, tapi “biarin aja lah, bukan anakku ini. Toh pertanggungjawaban di akherat tidak mungkin tertukar”, batinnya.
Lain Klowor, lain pula Pak Jagur
Pagi jam enam pergi kerja, sore hari menjelang magrib baru nyampe rumah. Sabtu minggu terkadang lembur, kalaupun libur dimanfaatkan untuk memperdalam ilmu agama. Majelis taklim diluar perumahan. Sholat jamaah di masjid selalu aktif, dari subuh hingga isyak. Selain dhuhur dan ashar tentunya, karena sudah pasti di tempat kerja. Ia tidak begitu pusing dengan urusan anak, karena istrinya sebagai ibu rumah tangga selalu di rumah. Anaknya pun baru satu, umur dua setengah tahun.
Yang menjadikannya aneh adalah, Pak Jagur selalu aktif dengan pengajian di luar komplek, padahal sudah ada masjid. Ironis memang, masjid sendiri malah jarang dikunjungi. Meskipun sudah lebih empat tahun tinggal. “Oh, saya kan berbeda pandangan”, bisiknya dalam hati. Padahal sesama mukmin bersaudara.
Beda lagi dengan Bu Sumringah
Ia seorang ibu rumah tangga tulen, sehari-hari berkecimpung dengan pekerjaan dapur dan anak yang baru TK nol kecil. Aneh bin ajaib, si ibu ini tidak pernah keluar rumah. Alasannya, hanya memperbanyak dosa karena ngrumpi. Sampi-sampai pengajian yang diadakan untuk seluruh warga pun tidak mau datang. Paling tidak, ia mencoba menerapkan apa yang sempat ia tangkap dari ustadzah “bicara yang baik, atau diam”.
Apa yang kurang dengan blok A, kenapa kegiatan terasa kerontang? Beberapa orang yang potensial dan berilmu justeru merasa lebih dibutuhkan aktif diluar.
-----------&-----------
Ketika terjadi penyelewengan moral, misalnya. Reaksionis langsung terjadi. “ayo, tangkap saja. Gerebek rame-rame. Ini sudah mencemari lingkungan kita”. Atau juga dalam skala besar, penyesatan aqidah –penyimpangan ritual- selayaknya ahmadiyah. Anarkis pun tak terelakkan, “bubarkan, bakar masjidnya”. Kenapa bisa se-sensitive itu ya? Kenapa harus ber-orientasi jauh keluar, padahal lingkungan sendiri butuh pertolongan. Bagaimana dengan keanehan sosial, Apakah secepat itu reaksinya? Hidayah memang mutlak milik Tuhan. Tapi, dakwah dengan orang terdekat rasanya tidak merugikan. Menguntungkan malah.
Krisis kontrol sosial, agaknya sudah menggejala. Sangat berbahaya untuk generasi mendatang.
Pernah mengamati pelangi?
Me-ji-ku-hi-bi-ni-u atau merah jingga kuning hijau biru nila dan ungu. Merahnya sangat kuat, begitu pula kuning ataupun hijau. Tapi, TIDAK ADA GARIS PEMBATAS antar warna. Dari merah perlahan pudar, samar bercampur semi jingga akhirnya jingga penuh. Begitu seterusnya sampai ungu. Sama-sama kuat karakter warnanya tapi berdampingan harmonis tanpa garis pembatas, hingga membentuk keindahan. Coba satu warna, bukan pelangi namanya. Tidak akan pernah ada lagu “… merah kunging hijau, dilangit yang biru…pelukismu agung, siapa gerangan ….”
-----------&&-----------
Hari minggu, tanggal 22 juni 2008. pengajian ibu-ibu tingkat RW, seharusnya bisa dihadiri oleh tiga tarus enam puluh lima. Kenyataan hadir hanya kurang lebih dua puluh lima orang. Pengajian bapak-bapak lebih parah lagi malah. Paling banter sepuluh orang, itupun empat orang diantaranya terkantuk-kantuk nyandar di tembok. Saat ada season Tanya jawab “… kalau ada yang mau ditanyakan, silahkan…” kata Ustadz. Sepi. Langsung do’a penutup. Wasalam.
Pengurus yang hanya itu-itu saja, sampai putus asa. Bagaimana caranya agar pengajian bisa semarak.
Apakah memang harus seperti ini lingkungan blok A perumahan telaga murni. Apakah sudah tidak mungkin lagi, cerdas secara sosial?
Bisa, pasti bisa. Caranya? Kerjasama. Endapkan dalam hati slogan ini “Kita Bersaudara! Aku Suka Bekerjasama”
Latar belakang daerah dengan beragam culture budaya bahkan seni beribadah bukan hal yang tidak bisa dipadukan. Sulit memang. Tapi, harus optimis. Bukan hanya rumahku surgaku yang akan tercipta, tapi lingkunganku surgaku tidak mustahil dapat terlaksana. Dengan catatan, si merah tidak menonjolkan merahnya, si kuning tidak angkuh dengan kuningnya, si jingga tidak ngotot paling benar dengan jingganya. Begitu pula si hijau, si nila, si ungu. Tidak saling mempertegas garis pemisah, tetapi saling berbaur agar tercipta kebersamaan.
-----------&&&-----------
Untuk itulah, kami selaku pengurus RW akan mencoba mengadakan kegiatan yang dapat diikuti oleh seluruh warga blok A dari mulai bayi, anak-anak, remaja bahkan orang tua.
Catat hari dan tanggal pelakanaannya. Minggu, tanggal 03 agustus 2008. gerak jalan santai atau kami singkat gelasan dengan mengambil route; blok A menuju lapangan bola depan telaga sakinah. Kemudian kembali lagi. Jarak yang ditempuh sekitar 950 meter. Atur rencana anda, jangan sampai dilewatkan acara ini.
Kami, selaku team panitia gelasan akan mencoba menggali dana dari para donatur (bukan iuran warga) demi meriahnya agenda ini. Hadiah dan doorprize serta cindera mata dengan total jutaan rupiah telah kami targetkan. Satu hal lagi yang menarik, kami akan membagikan gratis satu buah balon kepada seluruh anak-anak yang mengikuti. Pastikan, jangan sampai anak anda ketinggalan.
Tunggu ketua RT mendata kembali warganya. Jangan sampai terlewat. Kegiatan ini gratis dan tidak dipungut biaya sepeserpun. Hadiah utama? Insya Allah ada.
Salam,
Panitia gelasan.
Ps : edaran ini bukan pertama. Akan ada edaran-edaran berikutnya. Catat dan ingat beberapa point penting, bagi yang bisa menjawab pertanyaan panitia seputar edaran ini, hadiah menarik berhak menjadi milik anda.
secara, edaran ini bertujuan untuk memperkenalkan acara yang akan diusung itu. dan ternyata, efektif juga. hasilnya, postingan berikutnya deh.
Label:
catatan harian,
oyot gatel
Saatnya Tanggalkan baju (1)
Perjuangan itu tidak sia-sia.
Sabtu (11/04) sekira jam setengah satu siang. Selepas dhuhur. Hp nokia jadul dimeja kuraih. Sepotong nomer kutuju dan tak berapa lama….
“Halo. Sadat gimana?”
“Sudah aman pak. Dari procentase pemilih yang masuk, hanya butuh minimal 12000 suara. Sekarang udah masuk 8000. Pasti dapet”
“Okelah, gak sia-sia perjuangan kita. Yang aku tanyakan adalah lingkungan kita”
“Aman pak. Dari wilayah kita, RT 01 dan 02 di TPS 56. total undangan….”
“Bentar bentar. Aku ambil pulpen dulu” sergahku. “Yuk. Lanjut!”
“TPS 56 dari 488 DPT, datang dan milih 394 orang. Masuk ke suara Sadat 296. nyoblos partai 9. jumlah suara rusak 7. sementara, dari RT 03 & 04 yang di TPS 57 meskipun menghawatirkan karena ada golkar dan demokrat, tapi, masih unggul. Dari DPT 430 yang datang nyoblos 324. masuk suara Sadat 180 orang. Golkar…”
“Sip! Berarti kita berhasil menggiring warga di TPS 56 dengan 75% mendukung. Sementara 55% dari TPS 57. Angka yang cukup untuk kita sodorkan jika suatu saat kita butuh bantuan”
Secara singkat, aku bikin kalkulasi ringan. Ternyata, dari total kehadiran warga yang tadinya kenceng di golput alias tak mau milih. Lebih 80% orang berbongong-bondong datang ke Tempat pemungutan suara. Sementara dari TPS satunya lagi, memang lebih rengah. Hanya saja –aku bilang- masih diatas rata-rata. Yaitu 75%. Mengingat dari seorang temen di kawasan Jakarta utara, ada sebuah tps dengan kehadiran cuma 20%.
Kemudian, aku tulis pesan singkat. “Harapan tidak pernah datang dengan sendirinya. Harapan harus kita ciptakan. Dan, keyakinanku berkata, bahwa engkau saudaraku, mamapu menciptakan harapan itu. Selamat berjuang! Salam, Salwangga”. Sent.
Hanya dalam hitungan detik, HP kembali bunyi. “Terimakasih Pak Sal atas dukungannya. Semoga, harapan dapat kita ciptakan sesuai tujuan bersama.” Dari seorang caleg yang aku dukung. Yang namanya SADAT itu. Dan, tentu saja aku perjuangkan segenap kemampuan supaya dapet suara penuh dari lingkunganku sendiri.
Mungkin, ada yang bingung. Postingan apa ini, koq tentang suara segala.
Baiklah, aku coba petakan. Paling tidak ini adalah memoir atau kenang-kenangan perjuanganku atas seorang teman, saudara, tetangga, bahkan sahabat yang mencalonkan diri menjadi caleg di komplek aku tinggal.
Rumahku, type 21/60, berada dikawasan cikarang barat. Namanya, Telaga Murni. Memang sih, tidak ada telaganya. Konon, dari cerita masyarakat setempat, kawasan itu dulunya (tahunnya gak disebutin. Pokokny duluuuu aja) sebuah rawa. Nama kampungnya pun rawa keting. Ada sebuah pengembang tertarik dengan kawasan itu. Maka jadilah komplek hunian. Perumahan.
Blok A adalah sebuah hunian kecil dengan kapasitas 425 kepala keluarga. Karena tempatnya yang terpisah dengan blok Telaga Murni lama, maka dijadikanlah satu RW. Terdiri dari 4 RT. Di sini ada 2 TPS. Kalau satu dikhawatirkan tidak cukup menampung dafter pemilih tetap yang ada.
Secara, caleg ini tinggal sini juga. Maka, mau tidak mau atas dasar pertimbangan rasa kekeluargaan. Kami, harus mendukung si “sahabat” tadi. Meskipun, sejatinya beda partai. Tapi, bolehlah secara bertahap aku coba postingkan di blog ini. Sekali lagi, ini adalah kenang-kenangan buat aku sendiri. Siapa tahu ada blogger yang baca, terus, ada yang kenal dengan daerah itu.
Meskipun, ini adalah “kecil” dibanding puluhan ribu suara yang dibutuhkan untuk membetot si caleg agar dapat duduk di kursi dewan, tapi, suara kami sangat menentukan. Kenapa?
Secara logika gini. Itu caleg tinggal di komplek kami. Setiap hari boleh dikata aku lewat didepan rumah dia. Yang namanya kehormatan, aku bilang, dimulai dari rumah. Asalkan tuch caleg gak jelek-jelek amat, bisa kerjasama, profil kepemimpinan ada, tidak pelit, bisa berpolitik, bisa memperjuangkan hak-hak lingkungan, buruh, orang kecil. Tidak ada alasan untuk tidak didukung.
Akhirnya, dari yang semula banyak issue berhembus “tidak ada caleg yang layak. Semua partai sama saja. Orang-orangya gak bener. Tukang korupsi. Mendingan golput. Gak usah milih”, dan sebagainya. Lingkungan kami berhasil mebawa 80% warga untuk nyoblos dan ikut active dalam menggunakan hak pilihnya.
Oh iya, secara hukum, kebetulan saat ini aku masih menjabat jadi ketua RT. Jadi, inilah kenang-kenangan termanis yang dapat aku persembahkan buat “sejarah”. Meski kecil-kecilan. Tapi, guratan ini tak akan pernah lekang di pelupuk kami. Saya terutama. Kalau untuk menorehkan sejarah besar, aku kan bukan Ken Arok yang berani membunuh raja untuk kemudian berkuasa. Aku juga bukan orang nekat, yang tiba-tiba saja menodongkan pistol di kepala bapak presiden dan memaksa hengkang, lalu aku duduki kursinya.
Terpenting adalah, kami semua bisa kompak.
Sabtu (11/04) sekira jam setengah satu siang. Selepas dhuhur. Hp nokia jadul dimeja kuraih. Sepotong nomer kutuju dan tak berapa lama….
“Halo. Sadat gimana?”
“Sudah aman pak. Dari procentase pemilih yang masuk, hanya butuh minimal 12000 suara. Sekarang udah masuk 8000. Pasti dapet”
“Okelah, gak sia-sia perjuangan kita. Yang aku tanyakan adalah lingkungan kita”
“Aman pak. Dari wilayah kita, RT 01 dan 02 di TPS 56. total undangan….”
“Bentar bentar. Aku ambil pulpen dulu” sergahku. “Yuk. Lanjut!”
“TPS 56 dari 488 DPT, datang dan milih 394 orang. Masuk ke suara Sadat 296. nyoblos partai 9. jumlah suara rusak 7. sementara, dari RT 03 & 04 yang di TPS 57 meskipun menghawatirkan karena ada golkar dan demokrat, tapi, masih unggul. Dari DPT 430 yang datang nyoblos 324. masuk suara Sadat 180 orang. Golkar…”
“Sip! Berarti kita berhasil menggiring warga di TPS 56 dengan 75% mendukung. Sementara 55% dari TPS 57. Angka yang cukup untuk kita sodorkan jika suatu saat kita butuh bantuan”
Secara singkat, aku bikin kalkulasi ringan. Ternyata, dari total kehadiran warga yang tadinya kenceng di golput alias tak mau milih. Lebih 80% orang berbongong-bondong datang ke Tempat pemungutan suara. Sementara dari TPS satunya lagi, memang lebih rengah. Hanya saja –aku bilang- masih diatas rata-rata. Yaitu 75%. Mengingat dari seorang temen di kawasan Jakarta utara, ada sebuah tps dengan kehadiran cuma 20%.
Kemudian, aku tulis pesan singkat. “Harapan tidak pernah datang dengan sendirinya. Harapan harus kita ciptakan. Dan, keyakinanku berkata, bahwa engkau saudaraku, mamapu menciptakan harapan itu. Selamat berjuang! Salam, Salwangga”. Sent.
Hanya dalam hitungan detik, HP kembali bunyi. “Terimakasih Pak Sal atas dukungannya. Semoga, harapan dapat kita ciptakan sesuai tujuan bersama.” Dari seorang caleg yang aku dukung. Yang namanya SADAT itu. Dan, tentu saja aku perjuangkan segenap kemampuan supaya dapet suara penuh dari lingkunganku sendiri.
Mungkin, ada yang bingung. Postingan apa ini, koq tentang suara segala.
Baiklah, aku coba petakan. Paling tidak ini adalah memoir atau kenang-kenangan perjuanganku atas seorang teman, saudara, tetangga, bahkan sahabat yang mencalonkan diri menjadi caleg di komplek aku tinggal.
Rumahku, type 21/60, berada dikawasan cikarang barat. Namanya, Telaga Murni. Memang sih, tidak ada telaganya. Konon, dari cerita masyarakat setempat, kawasan itu dulunya (tahunnya gak disebutin. Pokokny duluuuu aja) sebuah rawa. Nama kampungnya pun rawa keting. Ada sebuah pengembang tertarik dengan kawasan itu. Maka jadilah komplek hunian. Perumahan.
Blok A adalah sebuah hunian kecil dengan kapasitas 425 kepala keluarga. Karena tempatnya yang terpisah dengan blok Telaga Murni lama, maka dijadikanlah satu RW. Terdiri dari 4 RT. Di sini ada 2 TPS. Kalau satu dikhawatirkan tidak cukup menampung dafter pemilih tetap yang ada.
Secara, caleg ini tinggal sini juga. Maka, mau tidak mau atas dasar pertimbangan rasa kekeluargaan. Kami, harus mendukung si “sahabat” tadi. Meskipun, sejatinya beda partai. Tapi, bolehlah secara bertahap aku coba postingkan di blog ini. Sekali lagi, ini adalah kenang-kenangan buat aku sendiri. Siapa tahu ada blogger yang baca, terus, ada yang kenal dengan daerah itu.
Meskipun, ini adalah “kecil” dibanding puluhan ribu suara yang dibutuhkan untuk membetot si caleg agar dapat duduk di kursi dewan, tapi, suara kami sangat menentukan. Kenapa?
Secara logika gini. Itu caleg tinggal di komplek kami. Setiap hari boleh dikata aku lewat didepan rumah dia. Yang namanya kehormatan, aku bilang, dimulai dari rumah. Asalkan tuch caleg gak jelek-jelek amat, bisa kerjasama, profil kepemimpinan ada, tidak pelit, bisa berpolitik, bisa memperjuangkan hak-hak lingkungan, buruh, orang kecil. Tidak ada alasan untuk tidak didukung.
Akhirnya, dari yang semula banyak issue berhembus “tidak ada caleg yang layak. Semua partai sama saja. Orang-orangya gak bener. Tukang korupsi. Mendingan golput. Gak usah milih”, dan sebagainya. Lingkungan kami berhasil mebawa 80% warga untuk nyoblos dan ikut active dalam menggunakan hak pilihnya.
Oh iya, secara hukum, kebetulan saat ini aku masih menjabat jadi ketua RT. Jadi, inilah kenang-kenangan termanis yang dapat aku persembahkan buat “sejarah”. Meski kecil-kecilan. Tapi, guratan ini tak akan pernah lekang di pelupuk kami. Saya terutama. Kalau untuk menorehkan sejarah besar, aku kan bukan Ken Arok yang berani membunuh raja untuk kemudian berkuasa. Aku juga bukan orang nekat, yang tiba-tiba saja menodongkan pistol di kepala bapak presiden dan memaksa hengkang, lalu aku duduki kursinya.
Terpenting adalah, kami semua bisa kompak.
Label:
catatan harian,
oyot gatel
Langganan:
Postingan (Atom)