Selasa, 31 Maret 2009

Telur busuk

Sore itu, hari minggu. Libur kerja tentu saja. Saatnya main dengan anak. Diteras rumah, aku main bola super heboh dengan si botak –Rangga. Berdua, bukan lagi seperti ayah dan anak. Lebih mirip bocah tua dan bocah beneran. Guling-guling. Lompat-lompat. Sesekali saling tendang. Setiap tetangga lewat depan rumah pasti melongok. “ini anak yang jadi bapak, apa bapak jadi anak?” mungkin gitu bisik mereka. Tak pelak, hanya senyum entah apa maksudnya tak perlu dibahas. Bibir mereka sendiri ini. Gak minjem punyaku.

Mengenai si botak ini ada sejarah tersendiri. Setiap mau potong rambut, Rangga selalu menolak kalau tidak bareng ayahnya. Sudah gitu, mesti dikasih contoh dulu. Otomatis, aku botak dulu, baru dia mau.

Pernah suatu ketika, aku ajak si botak sholat magrib ke masjid. Belum kelar sholat, barisan belakang ada yang ketawa. Trus, kedengaran orang itu melangkah meninggalkan ruangan masjid. Usai sholat, aku disamperin Agus yang duduk disebelah orang itu. “Mas, tadi Rangga ngusap kepala. Trus, gantian. Kepala mas juga diusap. ‘sama ya, botak!’ gitu kata rangga sambil cadel. Gak tahu ngomong sama siapa” kata orang itu.

“Oh, itu. Iya sih, tasyahud akhir kepalaku memang diusap tangan kecil. Aku sih biasa aja, emang Rangga sukanya gitu. Nyama-nyamain bapaknya. Cukur rambut aja kalau gak sama, gak mau” jelasku. “trus, kenapa orang itu ketawa?”.

Agus nyengir, bilang kalau sebenarnya dia juga pengin ketawa tapi ditahan. Sayang saja orang itu urat ketawanya terlalu gedhe. Gak bisa nahan.

Kembali ke main bola. Setengah lima, Rangga minta berhenti. Keringat bercucuran. Minum aqua botol setengah kurang dikit, ludes. Berdua, kami buka baju. Ngadhem sebentar, trus mandi. Rangga dulu aku mandiin.

Mungkin laper, Rangga teriak minta makan begitu kelar pakai baju. Giliran aku mandi, kedengeran ribut banget diruang tamu.

“Ibu…! Maem…” kata Rangga.

“Iya. Pake ayam apa naget?” kata istri.

“Ndak mau. Pake telur busuk aja”

Istri bingung. Sudah dirayu-rayu pake ini-itu, tetap ngotot. Pokoknya makan pake telur busuk, katanya. Dadar. Gak mau. Ceplok. Ogah. Telur bulet (rebus). Malah ngamuk.

Aku yang dikamar mandi, dengerin aja keributan kecil itu. Rangga udah siap-siap ngamuk dan hampir nangis. Istri juga panik. Bingung. Kemana nyari telur busuk, pikirnya. Lagian, ini anak dapet ilmu darimana. Ada-ada saja, makan minta pake telur busuk segala.

Keluar kamar mandi, masih pake lilitan handuk. Didepan rumah, isteri masih sibuk merayu Rangga. Putus asa hampir menjebol ubun-ubun. Terdengar dari nada bicaranya. Biasanya klo udah gitu cubitan bakalan bicara. Aku ambil aja telur di kulkas secara diam-diam. Kocok bentar. Kasih garam. Goreng. Jadi telur dadar. Siapin nasi di piring kecil. Kasih sayur trus, ambil piring kecil lagi buat tempat telur.

“Ini namanya telur dadar sayangku…” kata istri setengah sewot. Tapi geli. Rangga tetap ngotot kalau itu telur busuk. “Terserahlah apa namanya. Bikin panik orang tua aja!” sambil nyuapin, sisa-sisa sewot masih ada. Tapi,lega juga sih si botak tak jadi ngamuk.

Kelar makan, baru aku cerita.

Beberapa hari lalu, saat istri sedang arisan, ada abang-abang tukang telor berhenti didepan rumah. Itu tuch, telur yang digoreng dengan wajan banyak cetakan. Satunya gopek. Sebuletan kecil pokoknya. Satu telur bisa jadi 5 atau 6 buletan kecil. Istri udah pesen, jangan sampai beli telur gituan. Minyaknya jorok (padahal enggak juga koq. Sama. Yang dipakai goreng minyak minyak juga)

Banyak anak kecil pada beli. Rangga tak mau kalah. Ikut ngantri juga. Bingung gimana ngelarangnya, aku bilang aja “Ssst, itu telur busuk. Bikin sakit perut!”.

Eh, dasar si botak. Dibilangin gitu malah laporan ke abangnya, “Bang, itu telur busuk ya. Kata ayah, bikin sakit perut ya. Anak kecil gak boleh makan ya”. Mau gak mau, aku tersenyum aja sama si abang itu. Meski muka ditekuk, si abang maklumin juga akhirnya.

Rasa penasaran masih menggantung di benak Rangga. Anak-anak yang pada beli disamperin. “Bagi dong. Dikit. Nyobain” kata Rangga. Mungkin ngrasain enak. Tetap aja minta dibeliin. Untung abang-abangnya sudah pergi. Negosiasi jalan lagi.

“Ya udah, kita goreng aja yuk. Ayah bisa koq gorengin. Yang gedhe banget” kataku.

“Dua!” Rangga nawar. Jadi dech, dadar telur busuk.

Sampai sekarang, kalau nawarin, isteri tinggal teriak, “Rangga, mau makan pake telur busuk?”

Menit-Menit Sangat Berharga Dalam Hidup (3)

Pada waktu sujud, yaitu sujud dalam shlat atau sujud-sujud lain ang diajarkan Islam. (seperti sujud syukur, sujud tilawah dan sujud sahwi)

"Kedudukan hamba yang paling dekat dengan Tuhannya adalah ketika ia dalam keadaan sujud, maka perbanyaklah doa." (HR Muslim)
Dan dalam hadits Ibnu Abbas ra, ia berkata: "Rasulullah SAW membuka tabir (ketika beliau sakit), sementara orang-orang sedang berbaris (sholat ) dibelakang Abu Bakar ra, maka Rasulullah SAW bersabda; ""Wahai sekalian manusia, sesungguhnya tidak tersisa dari mubasysyirat nubuwwah (kabar gembira lewat kenabian) kecuali mimpi baik yang dilihat oleh seorang muslim atau diperlihatkan untuknya. Ingatlah bahwasanya aku dilarang untuk membaca Al Qur'an ketika ruku' atau ketika sujud. Adapun didalam ruku', maka agungkanlah Allah dan adapun di salam sujud, maka bersungguh-sunguhla h berdoa, sebab (hal itu) pantas dimaqbulkan bagi kamu semua." (HR Muslim)

Menit-Menit Sangat Berharga Dalam Hidup (2)

Waktu antara adzan dan iqamah, saat menunggu shalat berjamaah.

Rasulullah SAW bersabda: "Doa itu tidak ditolak antara adzan dan iqamah, maka berdoalah!" (HR Ahmad dan Ibnu Hibban)

Hadits Abdullah bin Amr Ibnul Ash ra, bahwa ada seorang laki-laki berkata: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya para muadzin itu telah mengungguli kita," maka Rasulullah SAW bersabda: "Ucapkanlah seperti apa yang diucapkan oleh para muadzan itu dan jika kamu selesai (menjawab), maka memohonlah, kamu pasti diberi". (HR Abu Dawud dan Ibnu Hibban)

Menit-Menit Sangat Berharga Dalam Hidup (1)

Waktu sepertiga malam terakhir saat orang lain terlelap dalam tidurnya, Allah SWT berfirman: "....Mereka para muttaqin sedikit sekali tidur di waktu malam, dan di akhir malam, mereka memohon ampun kepada Allah." (QS Adz Dzariyat: 18-19).

Rasulullah SAW bersabda: "Rabb (Tuhan) kita turun disetiap malam ke langit yang terendah, yaitu saat sepertiga malam terakhir, maka Dia berfirman: Siapa yang berdoa kepadaKu maka Aku kabulkan, siapa yang meminta kepadaKu maka Aku berikan kepadanya, dan siapa yang meminta ampun kepadaKu maka Aku ampunkan untuknya." (HR Al Bukhari)

Dari Amr bin Ibnu Abasah mendengar Nabi SAW bersabda: "tempat yang paling mendekatkan seorang hamba dengan Tuhannya adala saat ia dalam sujudnya dan jika ia bangun melaksanakan sholat pada sepertiga malam yang akhir. Karena itu, jika kamu mampu menjadi orang yang berzikir kepada Allah pada saat itu maka jadilah." (HR At Tirmidzi dan Ahmad)

Senin, 30 Maret 2009

nikmatnya dhuha

“Yaa Fattahu, duhai Dzat yang Maha Pembuka. Bukalah hati ini untuk dapat memahami setiap pesan yang Engkau kirimkan. Duhai Dzat yang Maha Lembut. Lembutkan hati ini untuk selalu ridho menerima apapun keputusanmu. Sungguh, tidak ada satu kejadian pun yang menimpaku, tanpa kehendak dari-mu.”

Segala hal yang menimpa manusia, tidak ada yang kebetulan. Semua melalui kehendak dan ketentuan-Nya. Tidak ada sehelai daun menguning, kering, lepas dari tangkai, melayang dan jatuh ketanah tanpa sepengetahuan dzat yang tidak pernah tidur. Dzat yang terus menerus mengurus segala ciptaan-Nya.

Ini, cerita aku alami saat harus memilih “terusin dhuha sesuai niat awal, atau stop ditengah jalan nurutin interupsi manusia”. Aku bukanlah pemberi nasehat, bukan pula tukang hujjah. Tapi, sedikit pengalaman yang disharing, tentunya ada manfaat buat yang lain. Terutama untuk diri tentunya. Paling tidak, aku jadi ingat akan kejadian ini. Ahad pagi, 29 maret 2009.

Pulang dari masjid, aku lansung mencuci pakaian. Sementara ngrendhem pake deterjen, cuci piring dulu. Tiap hari libur memang begitu. Secara, lima hari dalam seminggu dari senin sampai jumat aku rutin membelah udara jam 5 pagi. Berkendara motor dari Cikarang menuju Bekasi. Rutinitas kerja. Sabtu-minggu sengaja buat istirahat (otak) dengan menikmati kerjaan (rumah).

Hari ini, istri rencana mengunjungi guru walikelas anakku –nimas, untuk meminjam raport yang harus diphotocopy sebagai persyaratan pengajuan beasiswa di pabrik. Sesegera mungkin, pekerjaan rumah harus kelar. Sabtu kemarin, sebenarnya sudah kesekolah. Tapi, raportnya dibawa pulang untuk dirapikan, kata guru.

Selesai nyuci, sudah jam enam. Langsung tempur ke pekerjaan berikutnya, setrika. Tidak cukup banyak sih, hanya saja isteri suka protes kalau hasil tidak rapi. Perlahan dan hati-hati. lipatan demi lipatan mesti diperhatiin benar. Sudah jam tujuh, tapi, belum seberapa hasil kuperoleh. Biasanya sudah dhuha, “Tuhan, bukan maksudku menyuruh-Mu menunggu. Biasanya sudah setor muka saat jam segini. Sambil ini (nggosok), aku juga tetap ingat (dhuha)” batinku.

Aku beresi alas setrika sudah jam 08:15. Ambil wudhu, ganti sarung dan baju. Bersiap dhuha. “Rangga, mau ikut ibu enggak? Mandi dulu sama ayah!” teriak istri dari dapur.

“Tuhan. Ini, bukan aku menunda-nunda lagi. Ada yang harus aku kerjakan lebih dulu”, terbayang, bagaimana harus mengeluarkan segala kelihaian. Si botak itu pun ku gelandang ke kamar mandi. Sudah biasa, pasti alot dan butuh negosiasi ekstra untuk dapat membuatnya bersedia mandi. Apresiasi setinggi-tingginya untuk istri yang tabah memandikan Rangga tiap pagi dan sore.

Sarung copot lagi, ganti handuk. Mandiin dan makein minyak kayu putih, bedak. Eh, tinggal pakai baju masih berbelit juga. Lebih tiga kali dipilihin baju tak ada yang cocok. “Rangga mau pakai baju keren, bukan cakep”, katanya, “klo cakep ini, klo keren ini”. Gayanya sok ngajarin. “Kalau ngaji pake baju yang ini, kalo mau pergi pake ini aja. Cakep” celoteh itu bukannya berhenti malah makin jadi.

Akhirnya, “Tuhan, aku datang menghadapkan wajahku padamu”, batinku. Melirik jam sudah setengah sembilan.

Niat 12 rokaat, mentok dhuha. Dari rokaat, ruku, sujud panjang kulakukan, kali ini kupersingkat. Ingat janji mau nganterin istri. kalau panjang itu, bacaan rukuk dan sujud masing-masing diresapi sampai 10x. kalau singkat, berarti cukup sekali saja.

Terdengar langkah istri menuju telpon. “hallo. Iya. Ini ibunya nimas. Oh gitu, ini bu hikmah ya. Kenapa harus jam sembilan. Hayoo, anak muda nih. mau kemana sih. Ini baru nyalain kompor mau masak dulu. Ayahnya nimas juga baru mulai sholat tuch. Ya udah, tunggu jam setengah sepuluh ya. Assalamu ‘alaikum…” suara istri. Wah, kurang khusyuk juga nih dhuhanya. Belum tentu juga. Toch kuping tak perlu disumpelin. Tak perlu budeg untuk menandakan khusyuk atau tidak.

Selesai rokaat ke-6, “yah, kata ibu udah ditungguin bu hikmah” bisik Nimas. Istriku tidak bilang sendiri. Aku hanya tersenyum. Berdiri lagi, nerusin sholat. “Tuhan, engkau yang menggenggam hati dan jiwaku. Tetapkan aku dalam petunjukmu” do’aku.

Takbiratul ikhram mengawali rokaat 9-10, “Ih, ayah gitu deh. Gak enak kan sama bu hikmah” teriak istri sambil masih goreng bawang merah di dapur. Aku tetap mencoba untuk konsen di dhuha. Selesai 12 rokaat, aku lipat sarung. Ganti celana panjang, “yuk!” kataku.

Ternyata istri bikin lemper, spesial bin khusus buat bu hikmah –si wali kelas itu- sebagai buah tangan katanya. “belum jadi isi bensin?” tanya istri. makin belipet aja tersirat diwajahnya. Seharusnya bisa ambil jalan pintas, jadinya lewat depan. Motor juga perlu minum kan?

Masuk pasar induk cibitung, jalan macet. Yaa fattahu, yaa fattahu, …. Dalam hati terus aja melantunkan kalimat itu. Disamping mesti muter, ternyata, begitu masuk arah kartika wanasari ada pawai PKS. Istri udah makin ramai aja. “Bukannya lewat kompas malah lewat sini” katanya. Aku malah menikmati pawai itu. Pelan. Tanpa nyelip. Teratur. Rapi. Ada pandu-nya juga, tukang ngatur barisan. Beda memang sama pawai lainnya.

Jarak dua kilo mestinya lima menit. Lebih 20 menit belum juga sampai ke belokan. Masuk jalan belakang, tembus ke sebuah perumahan. “Ini perumahan apa” tanya istri. “tridaya tiga, dua-nya berarti di depan. Mesti tanya dulu. Blok apa tadi” kataku.

Ternyata, perumahan itu bukan tridaya. Tetapi trias. Berhenti sebentar, matiin motor, buka helm. “pagi pak. Ma’af tridaya dua dimana ya?” kataku pada dua orang yang duduk santai di pinggir lapangan. “wah, mas mesti keluar dulu. Baru ngikutin jalan. Dari sini, belok kiri, kanan, kiri, kanan, kanan lagi, kiri. Trus ada cucian, kiri, trus, kanan,….”. “iya pak, terimakasih”, jawabku.

“Ngerti yah?” tanya istri. “Enggak. Kiri-kanan aja mudhengnya. Belok kalau gak kanan ya pasti kiri. Bapak itu gak salah kok” kataku. Makin sewot aja tuch istri, “gimana sih, katanya tridaya ngerti. Udah nyampe sini malah bingung. Kembali lagi lewat jalan tadi ada pawai,….”

“yaa fattahu, yaa fattahu,….” Batinku. Dalam hati ketawa aja. Memang dasar wanita, bisanya nimpalin aja kebingungan orang. Herannya, hati koq tetap aja yakin sama arah yang kutempuh. Pasrah aja. Yakin sama belokan yang dipilih. Biar gak ketahuan kalau bingung. Sampai belokan ke sekian, ada sepasang cewek naik mio. Persis didepanku. Ikutin aja. Eh, bener nyampai gerbang keluar.

“Itu tuch, ada 39b” kata istri dibelakang. “Kata bu hikmah ngikutin angkot itu. Trus nanti nanya”. Aku jadi ragu sejenak, ikutin jalan terus, atau balik arah mbuntutin angkot. “Udah, berenti dulu, nanya aja. Nyasar, makin jauh entar. Tuch ada tukang bensin” istri nasehatin. Nadanya nyuruh sih. Sengal gitu. Lebih lembut kalau ditulis –nasehatin- kan?

Dari petunjuk, arah sudah benar, depan dikit ada masjid belok kanan. Dekat ruko-ruko, itulah tridaya dua. Pas pertigaan, untuk belok kanan mesti nyebrang. Ketemu pengendara motor juga, sepasang laki-perempuan. Aku lihat dia, dia lihat aku. Seakan tawar menawar, siapa mau jalan duluan.

Wanita diboncenganya nempelin hp ke kuping. Mungkin sedang nelpon seseorang. Kayaknya sih. Kalau gorengan tak mungkin ditempelin kuping, tentu saja. Motor itu ngasih kesempatan padaku buat nyebrang lebih dulu. Ternyata, saling memberi jalan lebih dulu lebih enak ketimbang sama-sama ngotot. Aku tersenyum, dia juga tersenyum. Dibelakangku ada beberapa motor lagi. Membuat orang itu harus berhenti beberapa saat untuk melanjutkan perjalanan.

“Ayah, ayah, ayah! Berhenti. Itu ibu hikmah.” Teriak istri. Subhanalaah. Ternyata tuch orang yang ngasih jalan, ya itu makhluk yang dicari. Yang didepan itu kakaknya (atau pacarnya, aku tak ada kepentingan buat nanya) ternyata.

Aku minggir, nyari parkir. Istri turun dan langsung nyamperin wanita itu. Terjadilah percakapan yang hanya dimengerti kaum perempuan. Aku tak merhatiin, dan hanya senyum lega sambil megangin si botak biar gak lepas. Maklum, rangga suka kabur klo ditempat ramai gitu. Sekira lima menitan, mereka berdua ngobrol. Saat seperti itu, wanita tidak membutuhkan laki-laki yang hanya akan ngrecokin pembicaraan. Herannya, koq ketawa-ketawa. tidak seperti selama bonceng motor tadi.

“Ayah, kita pulang aja. Bu hikmahnya udah mau pergi” istri berkata.

Sesampai dirumah, aku coba lihat hp ada 3 kali miscall. 09:48, 09:53, 09:58. nomor yang sama. Hikmah. Berarti, orang tadi nempelin hp dikuping misscal ke hp istriku. Tapi, ia tak dengar. Padahal dia pegang.

Aku tersenyum. Tak lepas tersenyum. Dhuha. Dzikir -yaa fattahu. Telah mempermudah urusanku (urusan istri sih sebenarnya. Tapi, jadi urusanku juga akhirnya). Tidak ketemu dirumahnya, tapi, ketemu di persimpangan jalan.

“Bu hikmah tadi, buru-buru mau jemput saudara juga. Sudah jam setengah sepuluh tidak datang. Ditunggu 15 menit, akhirnya raport dibawa sekalian. Siapa tahu ketemu di jalan. Tadi call hp tidak diangkat. Mana kedengeran. Suaranya kecil banget. Lagian di jalan kan ramai. Lemper yang dibikin tadi juga udah dikasihin. Makasih banget, katanya. Koq jadi ngrepotin.” Kata istri menjelaskan tanpa diminta. Kalau kemauan sudah terlaksana, wajahnya cerah, ceritanya susah dipotong. Mesti dengerin. Lagi pula, aku juga suka nglihatin istri klo lagi cerita gitu.

“Berarti, raport udah dapet. Bu hikmah udah ketemu. Udah gak ngomel lagi dong….?” Candaku.

“Lagian. udah tahu ditunggu. Itu tadi kalau nyasar gimana. Trias koq di kira tridaya. Jauh amat. Makannya, kalau….. “

aku:”!@@#$%^&**()*(_+&….”

lovely

segala kehidupan memang kegelapan jika tanpa keinginan,
segala keinginan adalah buta jika tanpa pengengatuhan,
segala pengetahuan adalah kosong jika tanpa kerja,
dan,
segala kerja adalah hampa jika tanpa disertai cinta. (ali bin abithalib)

lantas,

bagaimanakah kerja dengan cinta itu?

saat kaki mengayuni gawang pintu dengan senyum tanpa misteri
ketika bibir berucap "assalamu'alaikum" pada sang isteri
teriring "atas nama tuhan" kulangkahkan kaki
atas nama "ibadah", segala kuperbuat hari ini

rela dan ridha, apapun dikehendaki-nya untukku.

cukupkah (definisi) itu mewakili cinta?

tak akan. tak ada penafsiran sempurna, hanya
keheningan jiwa sanggup meresap segala makna.

Jumat, 27 Maret 2009

kaum wanita mengharap diperhatikan

“mas, mau nyenening wanita ya?” ibu muda berkerudung putih berkata

“iya nih, bacaanya aja buku begitu” timpal yang lagi hamil muda

“amin” sahutku. sekilas melirik mereka, “isteri baca buku, belum paham. Waktunya gak nyampai, direcokin anak melulu. Gak konsen. ‘ayah, bacain deh. Tar klo udah kelar ceritain aja’ kata istri", senyumku tersungging.


Dialoq itu diatas krl ekonomi bekasi tanah abang. Start 06:08 menit. Penuh. Padet. Kereta ekonomi memang begitu. bukan ke tanah abang sih tujuanku sebenarnya. Toch, kereta itu ekonomi paling pagi. Meskipun muter, jalan-jalan dulu ke tanah abang, lewat juga ke kampung bandan.

Lebih sering berdiri ketimbang duduknya, membuat aku harus bisa mensiasati diri agar tidka jenuh. Beruntung banget, hobbyku mbaca. Apa aja. Pas pagi ini, buku “menjadi wanita paling bahagia” tulisan aidh al-qarni kubaca.

Tepat didepanku berdiri, duduk ibu-ibu muda. Gak muda-muda amat sih, rata-rata udah pada punya anak. Tapi, masih cuantik loh. Heran. Kayaknya lebih cantik klo mau berangkat kerja ketimbang dirumah. Mudah-mudahan gak ironis ya. He..he.he..

Saking konsennya, aku memang rada cuex kalau udah baca. Terpenting, aku tidak mengganggu orang lain. Terserah saja klo ada yang terusik. Oleh bacaanku misalnya. Kayak buku itu, warna-nya pink ngejreng. Judulnya wanita. Dan, memang tentang wanita. Eh, ada juga yang nyeletuk. Awalnya nanya tak berani. Bisik-bisik sesama teman.

Bersyukur, baca buku jadi kesukaanku. Perjalanan kereta jadi tak terasa, mau lambat kek, mau disusul kereta express kek, mau nunggu signal rusak kek. Yang penting, selama ada buku, waktu serasa berhenti dan berpihak hanya untukku.

Tak mengira juga sih, kalau buku yang kubaca ‘itu’ menimbulkan lirikan wanita-wanita yang mendominasi kereta. 1 banding 4 memang kaum hawa yang pada berangkat kerja. Pastinya sih bukan aku, tetapi, buku itu yang mereka lirik. “Oh, penging bahagia juga toch, beli deh bukunya, atau baca sendiri aja lebih paham. Kalau nunggu aku ceritain, wah, ma’af ya, ‘ini’ jatah isteriku he..he.he…”narsisku. dalam hati tapi.

Selasa, 24 Maret 2009

situs sesat

sejak aku kenal situs ini dari blog sebelah (mau nulis link-nya langsung, masing bingung gimana caranya) aku jadi keranjingan ngetik cepat. pengin coba juga?

74 words (498 chr)

Speed test



pertama kali nyoba hasilnya :you rached 343 points, so you achieved position 2001 of 30887 on the ranking list. gile, berarti banyak juga orang yang tersesat bareng-bareng gue. lumayan sih prestasi perdana, "you type 416 characters per minute. you have 65 correct words. and you have 0 wrong words. hmm, lumayan lincah juga ternyata jemari gue.

hampir setiap hari, setiap saat malah. tersesat lagi tersesat lagi. sampai-sampai klo lagi sumpeg. andalan utama adalah menulis cepat ini. bener-bener bikin sesat dech. tapi, koq menyenangkan! nah loh.

ini terakhir kali setelah menyerah tak sanggup ke ranking lebih tinggi. yang ada malah semakin merosot. hasilnya? itu yang diatas itu tuch. gue dapet 402 points, pada posisi 861 dari 36336 ranking list. type nya 476 character. tetap 0 wrong word dong. gue masih bolak-balik delete klo merasa salah.

alhasil, tadi, gue bener-bener konsen. eh, malah jeblog. saat coba lagi sambil dengerin musik. lagunya pas mulan jameela tuch, judulnya lupa. point tertinggi bisa gue dapet. tetap 402 points, tapi posisi menjadi 861 dari 36336. speednya 498 character per minute, 74 correct words and 0 wrong words. ada yang masih bisa diatas saya :)

hati-hati tersesat yah. maksudnye, saking enjoy terpesona sama situs ini jadinya lupa balik lagi klo udah berkunjung. kalaupun balik, dijamin besok nyambangin lagi deh. test speed trusssss....!!! jadi ketagihan.

keseimbangan

jangan kehilangan keseimbangan! dibalik setiap canda tawa, mengintip tangis urai airmata. dibalik hidup ada maut. dibalik luang (waktu) siap menjepit si sempit. dibalik jaya (kaya) mengendus papa dan hina. dibalik kehormatan membidik dengan sadis si kebinasaan. dibalik harmonis hubunganmu, mendesak-desak perceraian. dibalik peluk cium, manis senyum, dendam membara siap mencabik.

maka, ambilan jalan tengah. siapkan airmata saat ketawa. sisakan dzikir saat berjaya. jangan terima kehormatan atau kehinaan sepenuhnya. jangan terima cinta dan dendam secara gelap mata. ambil jalan bijak (tengah) untuk kelestarian.

keindahan membunuh diri

pernah kau lihat rusa melompat-lompat dan kepala melenggang. matanya selalu waspada, jereng mengintip pemburu. tanduk indah itu bercabang, semakin indah. mahkota sejati terus meninggi. bukan penyelamat jiwa bahkan kulit ari. tanduk itulah pembunuh diri. saat berlari, kepala mendongak kelangit, indah sungguh. keindahan sia-sia. keindahan yang tidak bisa dia untuk sembunyi. hanya karena tanduk, si rusa dikutuk dewa. tidak dapat hidup bebas dipadang rumput. alam terbuka. padahal itu kesukaan rusa. berlarian kesana kemari. bercanda anak istri.

keindahan (tanduk) itu, bukan kebanggan. tapi, setiap saat pengancam jiwa dan kehidupan. mata panah dan pelor bedil mengintai setiap jengkal tapak ditinggalkan.

kutahu yang kumau

segalanya berubah, saat ku tahu apa yang kumau.

harus aku akui, sampai saat ini aku belum merasakan pas bener. apa sebenarnya aku mau. semoga ini tidak berkepanjangan, sehingga aku hidup tidak hanya sekedar numpang zaman. menggelinding tanpa sanggup berekspresi.

Tuhan,
banyak orang Kau takdirkan laki-laki, mereka ingin jadi perempuan
Kau takdirkan kaya, mereka mengingikan lebih kaya
Kau takdirkan tua, mereka ingin awet muda
Kau takdirkan mati, mereka ingin hidup selamanya
$$$$$$$$$$$$$$$4
aku ingin, paham diri sebelum paham apa yang kumau.
bantu aku ya Tuhan...

atmosfer

ada atmosfir cinta disetiap hembusan nafasku. ku reguk udara kehidupan. ku cecap nikmatnya aura hidup. ku tiris tuntas dengan lidahku, setiap teguk kopi pagi sebagaimana tetes embun menyegarkan bumi.

bloom

jika aku merasa bekerja sendiri, sama saja bunuh diri. disini, aku punya suaka. dialah penciptaku. pemeliharaku. penunjuk jalanku. pengawasku. pencatat setiap jejak tapakku. saksikanlah, dunia ini tempat orang saling bekerja sama. saling percaya. saling melindungi. tak ada orang jahat disini. dunia, selalu dalam pengawasan sang pencipta.

surga

Aku tidak memburu surga, hanya merasakan kedamaian. Aku tidak mengejar dunia, hanya mencecap kebahagiaan. ruku' dan sujud sebagai motivasiku. belajar (bekerja) cerdas inspirasiku. wahai dunia, jangan harap kau dapat menginjakku. berkendara angin, tapakku kan mengukirmu.

Senin, 23 Maret 2009

catatan harian pekerja teladan

just, coretan doang.
dari orang yang lagi pengin belajar jadi orang.
loh koq? emang tadinya monyet?
bukan!
enak aja. monyet terlalu bagus.
gue kan keledai!
hush.... :) just kidding yach

selamat menyimak,

(ps: untuk yang merasa menjadi teman dialog saya -silahkan smile-, tulisan ini telah melalui editing. sehingga insya allah tidak mengindikasikan nama, alamat, jenis kelamin, pekerjaan, bagian. trus, apalagi ya. hobby, kegemaran. pokoknya, identitas masih disamarkan. takutnya, klo dianggap kurang pantas, cukup saya aja)


(+) gimana, tulisanku, ada kesan "sombong" kah? pamer gitu. maksudku sih, biar teman-teman merasa "terajak" gitu. walau dikata cuma sedekah pengalaman, gue lakuin aja. sharing pengalaman klo dapat membuat orang jadi mbenerin ibadah, dapat ketularan pahala juga.

(-) nggak. klo aku nilainya sih gak ada kesan sombong.
tapi gaya nulisnya kok mirip ustad yusuf.
klo bisa buat gaya sendiri. jadi.... org trus tahu oh....ini tulisan kamu,bukan orang lain. gitu hooo..............

(+) soal gaya tulisan, saya berubah-ubah. gak konsistent. kalau pas ngupas buku cablak (catatan blak-blakan) gaya saya lain lagi. kalau pas serius, lain lagi. jadi, sebenarnya, saya tak punya gaya. flexible aja. kalau pas lagi nulis soal internet marketer, gayanya ya gitu, gimana supaya ada daya magnet dari tulisan itu.

tapi, boleh juga tuch masukannya. coba saya resapi deh. siapa tahu, gue bener bisa punya tulisan sendiri.

tadi dhuha gak? jam berapa?

(-) dhuha jam 9 deh kyknya. (red- klo udah biasa dhuha, trus, lupa sehari saja. Lantas ada temen nanyain, jadinya ada yang hilang gitu. Pengin balik lagi, ulang waktu, trus gak mau lagi lupa dhuha.)

(+) mantab.

klo gw inget lw, apalagi klo inget chattingan begini, gw jadi ada tambahan (semangat) tersendiri dhuhanya. penginnya juga gitu. diantara temen-temen klo saling ingat, ingatnya dhuha. gitu. meskipun dikit, kan, ketularan pahala juga. :)

disamping nambah-nambah daya ke-konsisten-an tentunya. apalagi klo sampai mau saling berbagi pengalaman. ini boleh dikata do’a bi do’a ya begini. saling mendo’akan. nanya kan sama aja ngingetin. do’a,

(-) ehh..... bagusnya sholat taubat itu berapa rakaat dan kapan dilakukan ?

aku tuh payah.......bgt mau tahajud. padahal si kecil (red-bayi, dua bulan) tuh rutin ngebangunin aku tiap malam. tapi aku nya kok malas bgt ya.

alhamdulillah sekarang klo sholat wajib aku selalu dgn qobliyah dan ba'diyah nya.
insyaalaah akan terus selalu terjaga. doain ya. (red-subhanallah, dengan saling tulis begini, jatuhnya insya allah bukan riya’. malah, bisa menimbulkan iri-cemburu. Iri untuk memacu semangat mbenerin ibadah, malah berkah. asal, niatnya dilurusin karena allah)

(+) ya, benar itu. kayak gue bilang. do'a bi do'a. do'a dengan do'a, saling mendo'akan.

soal tahajud, memang tak bisa dipaksa koq. meskipun dah bangun, tetap aja berat. karena tahajud emang nikmat. penghilang capek. dengan catatan mesti ikhlas. koq cuma setengah-setengah justru malah gak karuan rasanya. emang sih, untuk ikhlas ini, tak ada yang tahu. hanya allah saja yang tahu.

pengalaman nyata nih ya. semalem, gw nyampe rumah jam 8 kurang seperempat. kereta rada trouble karena ada pengurangan daya dari suralaya. otomatis penggunaan krl dibatasi, atau, mesti gantian. nah, lelet tuch jalannya kereta.

pas, nyampe rumah, istri udah ngremdhem cucian. emang udah biasa sih, pulang kerja gw bantuin nyuci. daripada paginya geradak-geruduk. udah di kucekin sebagian. ditambah lagi kolam (bak) mandi udah kotor. mesti di kuras.

eh, ada yang datang "mama rangga, kita ke bu ketua pengajian yuk. itu ketua arisannya lagi berantem. ngotot pengin pegang uang arisan. udah gitu bu ketua pengajiannya juga ngotot pengin dia yang pegang. ditanyain laporannya, ga da katanya. kita disuruh kesana buat nengahin", kata tamu itu.

pergi deh, tuh istri, ke rumah tetangga. beda blok, lumayan jauh. praktis, gw yang baru nyampe, mesti nerusin nyuci. di jalan, baru sempat buka air putih sama pisang pule yang kecil-kecil tuh.

pas banget, ada abang bakso. makan bakso jadinya.

kelar nguras bak mandi, jam sembilan-an lah lewat dikit. langsung nyuci pakaian. gile, laper abis. sekitar jam 10-an baru sempat makan. setengah 11 tidur, gigi malah kumat. semuanya udah pada tidur. giliran gw kelimpungan. istri nyaranin minum ponstan. gw bertahan aja. akhirnya, gw bangun, keluar kamar. sekitar jam 11-an kali. trus, sholat 2 rokaat.

"ya, allah. saya terima kondisi ini. badan udah loyo, tinggal tidur. gigi malah kumat. ini, adalah bagian dari dosa-dosa dan kelalaian saya diwaktu lalu. saya pasrah ya allah. sekarang saya mau sholat 2 rokaat. saya niatin sholat tobat. saya minta untuk bisa tidur. lupa ama sakit gigi ini. hasbunallahu wa ni'mal wakil. ni'mal maula wa ni'mannasiir. laa haula wa la quwwata illa billah. a'udzubillahi sami' il 'aliimi' minassyaithanirrojiim. bismillahirrohmanirrahim"

diam sejenak. konsentrasi ngadhep kiblat dan, "allahu akbar" takbiratul ikhram. sholat deh 2 rokaat.

habis itu, tanpa do'a. tanpa dzikir. langsung rebahan gitu aja di depan tv. sajdah masih gue pegang. pasang timer 20 menit. tv mati udah gak nyadar. tahu-tahu bangun udah jam setengah tiga. pas banget timer bunyi. padahal timer (hp) di kamar. istri keluar kamar. gw pas udah bangun.

gue langsung wudhu, sholat (diniatin) taubat lagi 2 rokaat. badan rasanya kayak hancur. kaki pegal. pengin langsung tahajud, tapi, luar biasa berat nih kepala. mata juga susah melek. akhirnya, gue sujud aja "ya allah, aku udah niatin mau sholat tahajud nih. tapi berat banget. aku sujud diatas sajdah ini, klo emang mau tidur, tidur deh. aku pasrah aja ya allah".

mak pet. tidur beneran, dalam posisi sujud. sekira 10 atau 15 menit. pules bener. sadar-sadar jam 03:15. tidur dalam posisi sujud, gak bakalan bisa lama sih emang. langsung seger aja bawaannya. ambil wudlu lagi. trus, mulai sholat pembuka dulu. namanya sholat iftitah 2 rokaat. pengantar mau sholat tahajud. langsung deh, uenteeeng banget. sholat juga enak. 2-2-2-2. terus nyambung. sampai kelar rokaat ke-8 udah jam 04:20. istirahat. mandi. trus, dengerin TPI deh. itu tuh yang udah pernah gue tulis "indahnya sedekah"

sehabis mandi, terusin lagi sholat shaft 2 rokaat. terusin lagi 1 rokaat witir (total 11 rokaat) pas adzan subuh. sambung lagi sholat qobla subuh 2 rokaat. langsung keluar rumah, ke masjid. jamaah subuh.

selesai subuh, badan rasanya seger. berangkat kantor juga seger. sampai kantor jam setengah 8. begitu datang nyalain komputer. check email bentar. trus, ambil wudhu. naik ke lantai (2) atas, tempat mushola berada. sholat lagi 2 rokaat, niatin sholat taubat. trus, sambung dhuha 6 rokaat. turun-turun (ke lantai 1 - ruang ppic) udah jam setengah 9. alhamdulillah. badan seger sampai sekarang. tak ada rasa ngantuk sama sekali.

itu tadi, just sharring ya.... silahkan diambil hikmah kalau memang ada. ternyata sakit gigi bisa lupa sama sholat taubat. ngakuin klo itu (sakit gigi) emang hasil perbuatan kita juga yang salah dimasa lalu. ceroboh. khilaf.

klo sholat taubat itu hanya 2 rokaat. waktunya kapan aja. ustadz yusuf mansur sendiri sholat taubat (katanya) bisa 5 sampai 7 waktu sehari semalam.

(-) hhmm.....gitu ya.

(+) kayaknya.

tiap orang tentu beda-beda. konsisten aja dulu apa yang bisa dijalanin. utama tetapi yang wajib dulu. prinsipnya, wahuassami'ul 'alim. dan dia maha mendengar dan maha mengetahui. mendengar apa yang di dalam hati. termasuk apa yang akan sedang sudah diniatkan. mengetahui kondisi dan keadaan setiap hamba.

dengan sharing begini, minimal, gue merasa punya sahabat yang 'bisa ngingetin gue' senantiasa berusaha untuk istiqomah

(-) :) iya.

ehh........ tolong dong kasih No. Rek nya pondok pesantren ustad yusuf. (red- si temen ini, saudara seiman juga, berniat mau sedekah. Makanya nanya no rekening. Tak perlu tahu orangnya siapa, tapi, kita sama do’akan semoga niatannya segera terkabul. amin.)

(+) gw juga gak inget pasti. lw cari aja di web site. komplit koq. atau, di kuliah wisata hati online. sebenarnya, user itu kan harus registrasi. karena, secara tidak langsung, lw juga udah pake tuch user. bisa aja klo lw transfer ke rekening itu.

atau juga, ada teman yang sangat efektif banget. selain sedekah dia juga nyebarin ilmu. insya allah bermanfaat lebih luas. caranya, si teman itu, beli produk-produk wisata hati kayak cd tauziah, atau buku, sebanyak dan sesering mungkin. trus, produk tersebut ia bagi-bagi gratis ke siapa aja. (red - dengan cara ini –beli buku- misalnya, sesama muslim telah turut membangun geliat bisnis perbukan nasional. menanamkan cinta buku. cinta baca. dan kelak, cinta nulis. mewariskan pengetahuan buat anak cucu)

dengan cara si teman itu tadi, disamping menyokong bisnis yang yusuf mansyur rintis, juga akhirnya uang dari pembelian produk itu larinya ke pondok-pondok juga. terserah sih. tapi, soal rekening, cari dan pilih aja di wisata hati web site.

(-) iya deh.

Dari sini, saya kabur duluan, tanpa pamit. Karena udah jam 15. bentar lagi adzan ashar. Terusannya ada dibawah ini:

(+) :)

alhamdulillah, baru kelar ashar nih. di sini, ashar jam 15:11. tadi, jam 15:00 udah ngabur duluan. tahiyatul masjid 2 rokaat, lagi-lagi sholat taubat 2 rokaat. heran sendiri aku, koq doyan banget sama sholat ini. baru nyadar klo dosa-dosa gue saking guedhe-nya kali ya. kemarin-kemarin kemana aje? gitu mungkin kata syetan yang gemes nyaksiin gue. pasalnya, dari dalam hati gue juga ada yang nyeletuk, tahu deh, suduh hati nyang mana. "eh, loe ngapain sholat taubat segala. klo emang dosa loe udah gedhe, ya gedhe aja. sekarang aja loe masih ada riya'-riya' kecil. pengin disanjung. pengin diketahui amalan-amalan loe. itu bukan riya' namanya? udah deh, gak usah sok gitu. biasa aja" gitu kira-kira setan mbisikin gue.

astaghfirullahah adzim, aku hanya dapat beristighfar. "terserah. mau dianggap apa kek, pokoknya gue mau sholat, ya sholat aja" bantah sisi lain batin gue. "urusan mau diterima, atau tidak, dicatat kebaikan atau keburukan, dianggap riya' atau bukan, itu sih terserah allah saja"

pas, baru duduk diantara dua sujud rokaat terakhir (dari sholat taubat gue), waktu ashar dah masuk. ada orang yang udah nyalain speaker. adzan. udah niat juga sih tadi, klo emang blum ada yang datang, sekalian gue mau adzan juga. dasar, dalam ibadah pun gak boleh srakah juga. udah keduluan. yang penting udah niat. udah di catat kok. inysa allah sebagai kebaikan.

kelar adzan, sholat lagi qobla ashar, 2 rokaat. biar asharnya makin nikmat. meski gak bisa 100% khusyu' (namanya syetan ada aja celah buat bisik-bisikin), tapi, emang beda klo sholat tepat waktu diawalin qobliyah dulu. berjamaah lagi. semoga saja niatanku lurus.

sedekah harta, memang dianjurkan. dan, ini tindakan nyata berbagi terhadap sesama. tapi, sedekah pengalaman tidak kalah pentingnya loh. terserah aja, mau dibilang pamer. Yang penting niatnya bener. apalagi dapat menggugah yang di sedekahin buat mbenahin diri. insya allah dah, dicatat sebagai kebaikan tersendiri. dapat cipratan kebaikan juga ujung-ujungnya.

gimana, disana udah ashar juga kan?

(-) gitu adzan aku ambil wudhu dan mau sholat. ehhh........... keduluan teman dah sholat duluan. (sajadah dipakai dia).
jadi nunggu sampe dia selesai baru aku yg sholat.
alhamdulillah qobliyah dulu, baru ashar nya.

(+) ubhanallah, yang penting niat dulu. actualisasi diusahakan, soal realisasi terserah allah.
bisa juga, sebelum gajian udah ngantri dulu di depan atm. begitu dapat info transferan dah masuk,langsung tancep. dijamin, paling dulu deh dapet duitnya. begitu pula, 2 menit sebelum adzan (mesti pegang jadwal sholat ya) udah siap dengan wudhu. belum kelar 2 rokaat qobliyah, adzan terdengar deh. langsung senyum, "ya allah, lihat nih. saya paling duluan absen memenuhi panggilanmu" gitu.

but, salut. usaha yang gigih. meskipun keduluan teman, niatnya udah dicatat koq. semoga dengan menuliskan sharing ini, kita (ini bener-bener kita loh, bukan 'gue mah kagak, eloe aja kalee'nya di ruben onsu) semakin istiqomah menjaga kesungguhan "mbenerin" ibadah. amin.

wah, ini si kecil (anak yang dirumah) udah ngrekam nih. apa yang dilakukan biangnya, insya allah ditiru setelah baligh nanti. amin lagi ya :)

(-) hehehee........ karena tadi sajadah dipake teman, bsk aku sediain alas utk sajadah lagi ( karton dulu baru sajadahnya ).
biar bisa sekaligus dua yg sholat. gak ngatri. ( sholatnya di ruangan kosong ) sebelah ruang kantor.

tadi waktu mau makan siang, dah mau masuk zuhur, aku tuh pengennya sholat dulu, tapi.... dasar setan selalu menggoda hati manusia.
ada rasa nggak enak ama teman. ya udah...ikut makan dulu. padahal rasanya nyesalll.............. bgt gak bisa lgsg sholat di awal waktu.

Insyaallah, anak gue menjadi wanita sholehah. Amin.

-----------0------------

Sampai disini, obrolan (tapi, kerja –bikin laporan- tetap jalan loh ya) lewat email terputus. Karena, memang sudah mau jam lima. Mesti siap-siap pulang. gak tahu juga, kapan nyambung lagi. Mudah-mudahan ada hikmah yang dapat dipetik. tapi, kalaupun tidak ada, minimal ini sebagai catatan saya sendiri. saya suka koq baca-baca tulisan sendiri.

Ini adalah (salah satu) teman di millist bayangan –yang saya kirimi artikel maupun tulisan secara bcc- yang suka saling inget-mengingatkan soal me-konsisten-kan diri soal ibadah. dengan saling sharing pengalaman, saling tegur, cukup efektif untuk memberikan daya dorong (untuk istiqomah) secara tersendiri.

catatan iseng

Banyak yang lupa Allah ketika sedang jaya, tapi, ingat ketika susah.

Sekira jam 10 pagi, seorang ibu datang ke pondok. “loh, mau kemana nih, koq buru-buru. Katanya mau ngobrol sama saya”. “Eh, ini mau ketemu ustadz”, katanya. “tadz, mau minjem duit. Pek go aja. Anak lagi mau bayaran sekolah nih, duitnya kurang”, katanya. Trus, saya bilang, “ini masih masuk dhuha, sholat aja dulu. Jangan minta ke saya. Mintanya ke Allah saja”. Sejenak si ibu itu kebingunan, tapi, bener, langsung ke mesjid. Dhuha.

Saat papasan lagi, “tadz, makasih. Uangnya udah dapet”. “loh, dapet dari mana. Kan saya nggak ngasih”. “tadi, tiba-tiba ada jamaah ustadz, ngasih duit gitu aja” katanya ngejelasin.

Satu lagi cerita, dan ini sungguh-sungguh terjadi.

“tadz, anak saya belum bayaran sekolah. Paling lambat hari ini. Kalau gak bayar, bisa dikeluarin”. “lah, itu, jam tangan harganya berapa klo dijual?”. “paling cuma cepek tadz”. “ya udah, sini. Sedekahin aja. Ente pulang. Datang deh loe ke sekolah. Isya Allah, diomelin deh. Udah, pasrah aja. Sedekah yang ikhlas. Minta sama Allah, jangan sama saya.”

bener, dia datangin tuch sekolah. Ya diomelin. Diem aja. Anaknya juga diem. Trus, ada tamu dateng, “ini, anak kenapa diomelin”, katanya. “belum bayar sekolah”, kata guru. “alaa..h, udah. Gak usah diributin. Ini gua bayarin!” kata tamu itu. Tiba-tiba gitu aja. Tak ada angin tak ada hujan. Main ngasih duit gitu aja. Kelar urusan.

Ya gitu. Klo Allah udah bekerja. Tak masuk akal di pikiran manusia. Serta tiba-tiba, tak disangka darimana-darimana. Itulah ajaibnya sedekah.

Makanya, jangan terlalu dimudahin. Klo ada yang minta, ajarin gimana ngasih dulu. Baru minta. Jangan minta melulu. Trus, dikasih. Kurang bagus juga. Minta, kasih. Minta, kasih. Jadi gak ada ilmunya. Ini, lain sama pelit.

Sedekah itu bagus, tapi,ngajarin (ngebenerin) sedekah juga penting. Hanya dengan sedekah, kita bisa berbagi.

Itulah kenapa ini dikatakan “nikmatnya sedekah”.

Dialog dan narasi singkat diatas saya tangkap sesaat menjelang adzan subuh pagi tadi (18/03) di TPI. Acara ini, memang baru launching tadi pagi. Programnya, selasa-rabu setiap jam setengah lima pagi sampai setengah enam. Dipotong jamaah subuh, tentu saja.

Sayangya, saya tidak dapat mengikuti dari awal sampai akhir. Banyak dialog-dialog kejadian sehari-hari, makna tersirat. Kadang kita melihat itu hal biasa dan memang sering terjadi. Hanya saja, kalau dengerin ngaji begitu, jadi tahu ilmunya. Tahu jalur-jalurnya. Saya sendiri sering mengalami hal yang “ah, kayaknya biasa saja”. Tapi, setelah dihubung-hubungkan, “ah, bener juga yah. Tak mungkin semua itu kebetulan. Pasti ada yang ngatur. Ngrencanaain”, gitu.

Penginnya, saya ngikutin dari awal sampai akhir. Secara, jam 04:20 baru kelar rokaat terakhir (ke-8) tahajud. Mulainya sih dari jam setengah 3. sholat taubat dulu (maklum, masa muda saya terlalu bengal. Banyak dosa. Belum pernah puasa sunnah. Boro-boro tahajud. Sholat taubat apalagi) 2 rokaat. Tiduran, barang 10 menit. Trus, sambung tahajjud.

Selesai mandi, acara “nikmatnya sedekah” bersama ustadz yusuf mansur udah mulai. Sambil melilit handuk. Telanjang bulat. Cuma handuk doang. Itu tadi, diatas, sempat saya tuliskan. Meski cuma sekilas saja.

Mau siap-siap nerusin sholat shaff 2 rokaat trus witir 1 rokaat kan tadi baru 8. belum selesai witir, masjid udah adzan. Gak pakai dzikir lagi. Langsung aja sambung 2 rokaat qobla subuh.

Begitu melangkah ke mesjid (deket sih, paling 2 menit jalan kaki), sampai, pas qomat. Emang udah biasa gitu, sholat qobla subuhnya dirumah. Ke mesjid klo sempat tahiyyatul masjid, ya, jalanin. Klo enggak, ya udah.

Kelar subuhan, yusuf mansyurnya masih ada sih. Tapi, mesti siap-siap ke kantor. gak bisa ngikutin deh. Sayang banget memang.

Ini, sekedar catatan ringan saja. Terserah klo ada yang bilang summ’ah, sombong, pamer ibadah. Saya sih tak peduli. Klo ada yang sempat nyaksiin juga, trus sharing pengalaman. Saya akan senang sekali.

Jangan lupa, besok pagi (rabu) di TPI ya…

Sambung lagi nih…

Tadi keburu masuk waktu dhuhur. Makanya buru-buru ditinggalin. Ke mesjid maksudnya. Ada yang kurang klo sampe ketinggalan qobla-nya. Temen-temen juga gitu kan? Sebelum kedengeran adzan, kabur dulu ke mesjid. Urusan kantor mah, lanjutin lagi entar. Saya yakin (dan berdo’a) temen-temen jauh lebih konsisten ketimbang saya. Amin. Saya nulis gini, biar saya ketularan, maksudnya. Paling tidak, saya jadi selalu inget akan apa yang saya tulis.

Nulisnya juga tak pakai di edit. Sekenanya aja. Klo bahasanya kacau, maklumin aja. Prinsip saya, selama saya nulis ini untuk kepentingan diri –pengingat diri, maksudnya- ya tidak apa-apa. Inipun, sebenarnya catatan pribadi. Tapi, saya kirim buat temen-temen secara bcc. Toch yang tahu sebatas dual way doang.

Sambil nyiapin buku dan alat tulis (wuih, kayak anak sekolahan saja), baju kantor, masih nyempet-nyempetin dengerin “nikmatnya sedekah” bersama ustadz yusuf mansur. Baru mau pegang pulpen, istri nawarin “nyarap pake telur yah, gorengin ya?”

Waduh, gimana nih. Maunya konsen ngaji di TPI, tapi klo nolak gak enak juga. Padahal lagi gak niat sarapan. Cukup makan roti 3 potong cukup. Klo bilang cukup mah, satu aja. Tiga sih maruk namanya he..he..he..

“ya udah, mantab nih. Pagi sarapan nasi putih pake telur ceplok. Tapi, dadar kayaknya lebih enak deh” kataku. Kasih argument dikit, biar istri tambah semangat. Namanya udah nawarin. Saya aja klo minta (kata –minta- jangan dimacem-macemin ya) trus ditolak, rasanya gak enak. Apalagi ini, niat tulus memberi, tapi, tertolak. Gimana rasanya?

Loh koq, jadi ngomongin ritual pagi.

Ada penelpon masuk, “pak ustad mansur, sholat tahajud, paling bagus kapan?” tanya si penelpon.

“sebelum saya jawab, saya tanya ke jamaah nih. Yang bisa, saya kasih hanphone. Puasa apa yang paling bagus, kata rasulullah. Sebelum jawab, handphone bukan punya saya loh ya. Tapi punya antum” kata yusuf mansur sambil nunjuk moderator. Mc-lah, istilahnya.

Sejenak hadirin ketawa. Dan, memang suasananya tuch renyah banget. Santai. Tapi, tidak wakwak-an. Disambung sama mc-nya “kala ada yang bisa jawab, saya kasih mobil, punya ustadz yusuf mansur, tapi.” Selorohnya.

“tidak ada puasa yang lebih baik dari puasanya nabi daud. Gimana puasanya? Sehari puasa, sehari berbuka.” Sambungnya.

“pernah kiai beken, bertandang ke pondok daarul qur’an di ketapang sana. Ketemu saya. ‘ente udah biasa bangun di penghujung malam. Coba deh, tahajud seperti tahajudnya nabi daud’ kata beliau. Nah, tahajud juga gitu. Paling bagus, jam sembilan, tidur. Jam 11 bangun, sholat. Tidur lagi. Sholat. Tidur lagi. Sholat. Seperti puasa tadi, selang seling. Tapi, kata saya sama kiai tadi, waduh, iya juga sih. Pegimana klo mesti bentar-bentar bangun. Kayaknya badan blm siap nih. jadi gitu ya, jawabannya ya.” Kata ustadz yusuf mansur.

Pas lagi asyik dengerin (tv) lagi, eh, ada interupsi “yah, nih sarapannya” kata isteri. Sebenarnya ada beberapa penanya, yang, pertanyaannya lumayan bagus sih. Waktu itu ingat banget. Tapi, berhubung tak saya tulis, dan saya juga pelupa, jadi lupa deh. Ya udah, nikmatin dulu sarapan pagi, nasi putih + telur dadar. Mau?

Oh iya, pernah ada yang sakit gigi, tak bisa tidur, bahkan sambil nungging pun masih tetap aja cnut-cnut? Obatnya apa coba? Sholat dua rekaat, dan, tertidur pules. Bener nih, saya ngalamin. Ternyata sakit gigi bisa dikibulin juga. Kata isteri “minum ponstan yah, biar bisa tidur”, bukannya ke warung, malah ambil sajdah. Cerita lengkap, kapan-kapan deh. Mau ngerjain laporan dulu. Bentar.