Start from yourself
“Anda dapat merubah nasib anda, dengan mengatur perasaan anda!”, inilah yang saya tuliskan dalam secarik kertas saat di perjalanan menuju kantor (kereta api patas purwakarta) selasa pagi.
Nasib seseorang mencerminkan karakternya. Sementara karakter orang itu berasal dari semua kebiasaan serta tindakannya. Dan tindakannya berasal dari pikirannya yang bermuara dari perasaannya. –Erbe Sentanu, dalam buku Quantum Ikhlas hal: 11.
Email pagi ini :
“Apa kabar Sal?
Sekarang kalau ngirim email ke Sal serasa lagi latihan monolog alias ngomong sendiri, ihik ihik ihik”
Sal cukup kaget membaca, setelah sekian lama merenung memang sudah beberapa kali belum Sal reply setiap ia menyapa. Pantes saja ia sensitive. Walau dengan bahasa sindiran (monolog) Sal cukup terkesima -koreksi diri.
Ternyata tidak mendapatkan apa yang diminta, cukup menyakitkan. Paling tidak menimbulkan risau, buntutnya menduga-duga tak jelas. Jika dapat merelakan pun tentunya setelah melalui perjuangan panjang. Diterima-terimain lah istilahnya. Tidak sesuai pengharapan pun juga gitu, contoh gampang sih kenaikan gaji (untuk karyawan loh ya) setiap awal tahun.
Atau juga, jabatan stagnan tak kunjung naik. Akhirnya Cuma bilang “tangga tempat aku meniti Cuma segini ini tingginya, mau naik seberapa lagi. Bisa sih manjat lebih tinggi lagi. Cari tangga lain maksudnya he..he..he..
Bagaimana jika “memberi tapi tidak diterima?” padahal pemberian itu tulus dan gratis. Seperti halnya sapaan tadi. Tanya kabar. Sekilas, hal sepele memang. Dan ini, termasuk rutin Sal lakukan jika bersua (tatap muka ataupun telpon) pertama kali yang kulakukan adalah tanya kabar.
“Halo, gimana kabar saudaraku?” kata pembuka ini seperti menjadi vocal wajib terucap. Biasanya bersambung dengan “alhamdulillah, baik” dari seberang sana.
Terbacalah dialog berikutnya, suasana cair, hangat, bersahabat, dari yang semula menanyakan pekerjaan ataupun protes atas suatu kejadian sebelumnya, jadi enak terlontarkan. Bahasanya pun akrab selayaknya saudara.
Seperti halnya email tadi, sampai ia bilang monolog karena memang Sal tak sempat (berat ngomong tak sempat ini, tergantung niat sebenarnya) sekedar reply. Sebagai tukang pijit (keyboard komputer) dikantor terkadang cukup menyita perhatian dalam menyelesaikan pekerjaan.
Apa yang ada dibenak teman tadi, tentunya “aku tanya kabar, karena aku perhatian sama kamu. Lantas, apa salahku tak kau jawab Sal?” atau juga “ih, ni orang kenapa sih. Tumben tak ada reply email ku, sombong amat!” dan, bisa juga kata-kata lain yang mencerminkan ketidak relaan atas tidak sesuainya pengharapan dengan kenyataan. Itulah yang Sal katakan sebagai “memberi tulus, tetapi tertolak”.
Itulah sifat, karakter, kebiasaan. Terkadang hal sepele menurut Sal (menunda menjawab sapaan teman lewat email) justeru menimbulkan penafsiran negative dan anggapan tak benar.
Teringat juga sebuah pesan nabi, “bila dua saudara bertemu lalu berjabat tangan, berguguranlah dosa-dosa kecil dari sela jemari hingga terlepas jabatan itu”. Kurang lebih begitu intinya, riwayat siapa dan mattannya bagaimana tak perlulah diributkan. Rasulullah juga mengajarkan agar “jabat erat saudaramu bila bertemu, jangan lepaskan sampai terasa pertanda ia mengendorkan tangan itu”.
Ingin merubah nasib? Perbaiki sikap ya…
Segera jawab bila ada teman tanya kabar, Karena itu doa untukmu. Jangan ditunda lagi apalagi sampai berkata –monolog. Jika perlu, segeralah malu jika keduluan ditanyain kabar. “kenapa aku yang tidak mendahului?”
Yuk, budayakan saling sapa dan tegur!
Jumat, 23 Januari 2009
Rabu, 07 Januari 2009
candik ala
kado awal tahun : aku kagum dengan angan-angan anakku, sekaligus khawatir.
sekira pukul 21, sehabis aku main kuda lumping dengan rangga dengan keringat masih mengucur, aku melilitkan handuk di tubuhku bersiap untuk mandi. sampai rumah sepulang dari kantor tadi sudah jam setengah 8, rangga sudah menyongsong di depan pintu sambil teriak "ayam mitum....! (assalamu alaikum maksudnya) begitu mendengar suara motor berhenti didepan rumah.
ibunya nyambung "belum gih masuk pagar, yang bilang ayam itum itu ayah bukannya rangga. rangganya jawab itum ayam... gitu".
aku meletakkan helm di rak aqua galon depan warung setelah berucap salam (seperti biasa sambil teriak - biar terkesan semangat). tangan mungil rangga mengayun kedepan mengisyaratkan untuk menjabat tanganku. aku salami dia, sesungging senyum dari mulutku mencoba mengimbangi ceria wajah polos itu. secara, baru saja berkendara motor 45 menit dari stasiun bekasi dengan sebelumnya berdiri berdesakan di kereta selama 1,5 jam perjalanan dari ancol. alhamdulillah, aku sampai dirumah dengan "walau kaki pegal" senyuman dan sambutan si kepala botak dengan ucapan ayam mitum-nya mengusir segala capek dan lelah.
aku meraih berkas ulangan semesteran nimas yang masih utuh tergeletak di meja belajar. hanya ada dua macam nilai disana, angka 10 & 9. bukan murni 9 sih, hanya saja 8,9 atau 8,8 yang sesungguhnya lebih cenderung ke pembulatan atas yaitu 9. nilai itulah yang mengantarkan nimas ranking 1 dikelas pilihan sekolah dasar islam terpadu. dan, mendapat beasiswa gratis spp selama enam bulan. kelas 5 terbagi menjadi 2, a dan b. dengan kualitas murid yang sudah dipilah. mungkin, agar guru-guru lebih mudah dalam memberikan pemahaman pelajaran.
mataku terpaku saat sampai pada lembaran "ulangan bahasa arab" nilainya 10. full tanpa cacat. padahal untuk mengeja perintah pengerjaannya saja aku sudah bingung. satu kalimat yang sempat aku baca adalah (bila diterjemahkan) "isikan titik-titik dibawah ini dengan jer".
"mbak, jer itu apa sih?"
"mana sih, ayah nih ngribetin aja. orang nimas lagi main tetris juga" (kalau hari minggu aku suka rebutan main game tetris, sekedar ngramein aja)
"ini, yang dilembaran soal mbak nimas"
"oh, ini namanya jer. jer itu maksudnya jer isim. masih nanya jer isim itu apa? jer isim itu sifat benda" sejenak nimas pencet tombol pause game itu dan menghampiri ke arahku.
"sifat benda gimana?" tanyaku belum ngeh.
"ih, ayah nih. error banget jadi bapak. sifat benda itu misalnhya kalau rangga bader, kalau mbak nimas pinter"
"oh gitu. trus, kalau batu.... keras gitu?"
"iya, seperti itu. kalau ayah ... hmmm.. error.. he..he..he.." celetuknya.
"koq error, ayah kutuk jadi kodok baru tahu loh. trus... ini apa artinya?"
aku semakin terlibat dialog intensive tentang lembaran ulangan bahasa arab yang kesemuanya berhuruf arab. tanpa ada terkesan terpaksa, nimas sungguh bahagia dan bangga nerangin segala sesuatu yang aku tanyakan. "ga pa palah dikatain error sama anak sendiri, yang penting dia lebih percaya diri" batinku. hingga akhir pembicaraan masih sambil memegang handle kamar mandi aku bilang.
"mbak nimas tuch kuat dalam bahasa arabnya, bahasa indonesia juga. tapi bahasa inggris koq cuma dapet 8,6? mestinya 10 juga dong! sekarang gini, untuk sekolah dasar ini mbak nimas sudah mateng di bahasa arab. smp nanti matengin bahasa inggris, sma matengin bahasa jerman. setelah lulus sma trus kuliah sudah bisa nyari duit sendiri nerjemahin buku-buku ke dalam berbagai bahasa" kataku.
"nimas kan pengin ke mesir, jadi? tanyaku.
nimas hanya tersenyum sambil nyengir.
"setelah kembali sekolah dari kairo di mesir sono tuch, negerinya para nabi, nimas bisa mimpin sekolah trus rangga jadi pimpinan pengajar. nah, kita bisa jadi punya sekolah sendiri di jogja sana. gimana, hebat kan? trus, cita-cita mbak nimas untuk jadi guru kesampaian deh. bukan cuma guru malah, tetapi mempunyai sekolah sendiri."
"ih, duit darimana?" nimas nyengir. sekecil itu sudah tahu posisi ayahnya yang cuma kuli pabrik sehingga dalam benaknya muncul ketidak mungkinan (kecil kemungkinan) bisa ngumpulin duit untuk bikin sekolah apalagi yayasan.
"itu tugas ayah buat nyari duit, tugas mbak nimas belajar sampai ke mesir" sergahku.
"iya ya. ayah kan kerja. masak gak bisa ngumpulin duit"
"makanya, mbak nimas mesti kuasain dulu tuch minimal 4 bahasa, arab sudah, inggris tinggal matengin, bahasa indonesia sudah canggih. tinggal jerman doang kan. kuliah dimesir mah gampang, nanti kan bisa dapet beasiswa dari yayasan. trus disana buat makan dan beli buku-buku mbak nimas bisa sambil nulis nerjemahin kitab-kitab mesir yang bahasanya arab gundul semua tuch, trus dikirim ke indonesia, jadi deh dapat komisi."
hmmm, sambil menutup pintu kamar mandi aku mulai mengguyur tubuhku yang sudah mulai kering keringatnya selepas becanda dengan rangga, aku mulai mencoba menyelami apa yang ada dibenak anakku. dan juga, kenapa harus terjadi dialog itu. semoga dan semoga apa yang tertulis saat ini menjadi rekaman di bawah ambang bawah sadar dan nantinya jika bilangan tahun sudah mencukupi, hal itu bisa menjadi realisasi. amin.
dari dalam kamar mandi, sudah terdengar kembali nimas asyik main game tetris, sementara rangga diluar sana teriak-teriak nodong bakso sama tukang yang biasa lewat. "bang...bang... uwi bato bang, dua libu. ibu... ibu.... inta uit uwat beli bato...!!!". april 2009 nanti pas genap 3 tahun, meski cedal tapi sudah bisa minta duit dua ribu buat jajan. Bakso lagi.
tapi jujur, aku galau sekaligus bangga atas apa yang dicapai oleh nimas. semoga aku kuat dan bisa menjadi pengimbang apa yang menjadi cita-cita. guru ngaji disekolahnya sendiri.
saling mendo'akanlah sesama saudara muslim. karena, manusia tidak pernah tahu dari "hati" yang manakah doa itu terkabul. dan, aku saudaramu kan, doain kami ya. hasbunallah wa ni'mal wakil, ni'mal maula wa ni'man nasiir....
sekira pukul 21, sehabis aku main kuda lumping dengan rangga dengan keringat masih mengucur, aku melilitkan handuk di tubuhku bersiap untuk mandi. sampai rumah sepulang dari kantor tadi sudah jam setengah 8, rangga sudah menyongsong di depan pintu sambil teriak "ayam mitum....! (assalamu alaikum maksudnya) begitu mendengar suara motor berhenti didepan rumah.
ibunya nyambung "belum gih masuk pagar, yang bilang ayam itum itu ayah bukannya rangga. rangganya jawab itum ayam... gitu".
aku meletakkan helm di rak aqua galon depan warung setelah berucap salam (seperti biasa sambil teriak - biar terkesan semangat). tangan mungil rangga mengayun kedepan mengisyaratkan untuk menjabat tanganku. aku salami dia, sesungging senyum dari mulutku mencoba mengimbangi ceria wajah polos itu. secara, baru saja berkendara motor 45 menit dari stasiun bekasi dengan sebelumnya berdiri berdesakan di kereta selama 1,5 jam perjalanan dari ancol. alhamdulillah, aku sampai dirumah dengan "walau kaki pegal" senyuman dan sambutan si kepala botak dengan ucapan ayam mitum-nya mengusir segala capek dan lelah.
aku meraih berkas ulangan semesteran nimas yang masih utuh tergeletak di meja belajar. hanya ada dua macam nilai disana, angka 10 & 9. bukan murni 9 sih, hanya saja 8,9 atau 8,8 yang sesungguhnya lebih cenderung ke pembulatan atas yaitu 9. nilai itulah yang mengantarkan nimas ranking 1 dikelas pilihan sekolah dasar islam terpadu. dan, mendapat beasiswa gratis spp selama enam bulan. kelas 5 terbagi menjadi 2, a dan b. dengan kualitas murid yang sudah dipilah. mungkin, agar guru-guru lebih mudah dalam memberikan pemahaman pelajaran.
mataku terpaku saat sampai pada lembaran "ulangan bahasa arab" nilainya 10. full tanpa cacat. padahal untuk mengeja perintah pengerjaannya saja aku sudah bingung. satu kalimat yang sempat aku baca adalah (bila diterjemahkan) "isikan titik-titik dibawah ini dengan jer".
"mbak, jer itu apa sih?"
"mana sih, ayah nih ngribetin aja. orang nimas lagi main tetris juga" (kalau hari minggu aku suka rebutan main game tetris, sekedar ngramein aja)
"ini, yang dilembaran soal mbak nimas"
"oh, ini namanya jer. jer itu maksudnya jer isim. masih nanya jer isim itu apa? jer isim itu sifat benda" sejenak nimas pencet tombol pause game itu dan menghampiri ke arahku.
"sifat benda gimana?" tanyaku belum ngeh.
"ih, ayah nih. error banget jadi bapak. sifat benda itu misalnhya kalau rangga bader, kalau mbak nimas pinter"
"oh gitu. trus, kalau batu.... keras gitu?"
"iya, seperti itu. kalau ayah ... hmmm.. error.. he..he..he.." celetuknya.
"koq error, ayah kutuk jadi kodok baru tahu loh. trus... ini apa artinya?"
aku semakin terlibat dialog intensive tentang lembaran ulangan bahasa arab yang kesemuanya berhuruf arab. tanpa ada terkesan terpaksa, nimas sungguh bahagia dan bangga nerangin segala sesuatu yang aku tanyakan. "ga pa palah dikatain error sama anak sendiri, yang penting dia lebih percaya diri" batinku. hingga akhir pembicaraan masih sambil memegang handle kamar mandi aku bilang.
"mbak nimas tuch kuat dalam bahasa arabnya, bahasa indonesia juga. tapi bahasa inggris koq cuma dapet 8,6? mestinya 10 juga dong! sekarang gini, untuk sekolah dasar ini mbak nimas sudah mateng di bahasa arab. smp nanti matengin bahasa inggris, sma matengin bahasa jerman. setelah lulus sma trus kuliah sudah bisa nyari duit sendiri nerjemahin buku-buku ke dalam berbagai bahasa" kataku.
"nimas kan pengin ke mesir, jadi? tanyaku.
nimas hanya tersenyum sambil nyengir.
"setelah kembali sekolah dari kairo di mesir sono tuch, negerinya para nabi, nimas bisa mimpin sekolah trus rangga jadi pimpinan pengajar. nah, kita bisa jadi punya sekolah sendiri di jogja sana. gimana, hebat kan? trus, cita-cita mbak nimas untuk jadi guru kesampaian deh. bukan cuma guru malah, tetapi mempunyai sekolah sendiri."
"ih, duit darimana?" nimas nyengir. sekecil itu sudah tahu posisi ayahnya yang cuma kuli pabrik sehingga dalam benaknya muncul ketidak mungkinan (kecil kemungkinan) bisa ngumpulin duit untuk bikin sekolah apalagi yayasan.
"itu tugas ayah buat nyari duit, tugas mbak nimas belajar sampai ke mesir" sergahku.
"iya ya. ayah kan kerja. masak gak bisa ngumpulin duit"
"makanya, mbak nimas mesti kuasain dulu tuch minimal 4 bahasa, arab sudah, inggris tinggal matengin, bahasa indonesia sudah canggih. tinggal jerman doang kan. kuliah dimesir mah gampang, nanti kan bisa dapet beasiswa dari yayasan. trus disana buat makan dan beli buku-buku mbak nimas bisa sambil nulis nerjemahin kitab-kitab mesir yang bahasanya arab gundul semua tuch, trus dikirim ke indonesia, jadi deh dapat komisi."
hmmm, sambil menutup pintu kamar mandi aku mulai mengguyur tubuhku yang sudah mulai kering keringatnya selepas becanda dengan rangga, aku mulai mencoba menyelami apa yang ada dibenak anakku. dan juga, kenapa harus terjadi dialog itu. semoga dan semoga apa yang tertulis saat ini menjadi rekaman di bawah ambang bawah sadar dan nantinya jika bilangan tahun sudah mencukupi, hal itu bisa menjadi realisasi. amin.
dari dalam kamar mandi, sudah terdengar kembali nimas asyik main game tetris, sementara rangga diluar sana teriak-teriak nodong bakso sama tukang yang biasa lewat. "bang...bang... uwi bato bang, dua libu. ibu... ibu.... inta uit uwat beli bato...!!!". april 2009 nanti pas genap 3 tahun, meski cedal tapi sudah bisa minta duit dua ribu buat jajan. Bakso lagi.
tapi jujur, aku galau sekaligus bangga atas apa yang dicapai oleh nimas. semoga aku kuat dan bisa menjadi pengimbang apa yang menjadi cita-cita. guru ngaji disekolahnya sendiri.
saling mendo'akanlah sesama saudara muslim. karena, manusia tidak pernah tahu dari "hati" yang manakah doa itu terkabul. dan, aku saudaramu kan, doain kami ya. hasbunallah wa ni'mal wakil, ni'mal maula wa ni'man nasiir....
Langganan:
Postingan (Atom)