Selasa, 04 November 2008

siapa menjamin?

hampir habis jam istirahat, masih 10 menit lagi ke jam satu. cukup lah untuk menuliskan ini -kejadian sekejap tadi sesaat setelah makan siang.

"habis sholat mas?" tanya seorang teman kepada teman yang lain yang baru saja keluar ruangan sholat."saya sebentar lagi deh",lanjutnya.

saya, yang kebetulan berada persis di depan teman yang bertanya itu kontan nyeletuk "loh, koq sebentar lagi. memang siapa yang menjamin usia sampai sebentar lagi?".

"iya, iya, insya alloh" sambutnya cepat.

"bisa saja selesai berucap itu, ada pensil masuk mulutmu, ketelen, nah loh... . begitu denger adzan, segera, laksanakan!" sindirku, yang kelewat usil tentu saja.


aku pun kembali melangkah kaki, dan kembali ke mejaku. saya jadi teringat, malam-malam pas adzan isya' aku bilang ke isteri "sholatnya, tar dulu ah. tidur dulu, ngantuk. sekalian sholat malam" kataku. diplomasi

lantas, si isteriku nan cantik (jangan protes) menjawab "emang siapa yang menjamin bisa bangun tar malam? kalau bisa segera, ya lakukan saja, ngapain mesti tidur dulu. toh nanti kalau bangun bisa sholat lagi. masak sunat didahulukan, wajibnya malah ditunda."

mak nyos, kena deh. skak mat!

aku biasa berkoar, kali itu kena batunya. itupun, hanya kejadian kecil yang tegur balik. masih mending sama isteri, pernah waktu itu anak saya (perempuan -emang bawel ya) kelas lima sd nyeletuk. "ih, ayah nih. udah botak nyebelin lagi. bisanya nyuruh doang! mending nyari ayah lagi aja. yuk, bu, dipasar juga ada, banyak!" katanya.

wah, itu bukan anak kurang ajar loh. hanya saja, karena aku memang suka becanda, wajar saja kalau sesekali di "serang balik" sama anak sendiri.

kenikmatan, demi kenikmatan, selalu saja dianugerahkan alloh buat hambanya. tanpa nunggu diminta. lantas, kenapa panggilan-nya sering dientar-entarkan. kembali botakku ini kugaruk walau tidak gatal. tapi, itulah fungsinya. walaupun tidak langsung seratus persen melaksanakan, terkadang memberi nasehat baik perlu juga. imbasnya, aku suka teringat "kalau mau menyimpang, kan udah pernah bilang" lama-lama malu juga pada diri sendiri. bersyukur deh, masih dikaruniai rasa malu. kamu, masih punya juga kan?

atau juga, saat tertidur kalau saja, kuping ini tidak cukup radar yang selalu bekerja tak kenal waktu, bisa saja semut merah masuk ke lubang kuping ini. itu baru satu lubang, padahal masih banyak lubang-lubang lain di tubuh ini yang "bisa saja gajah" masuk ke salah satu lubang itu. bagaimana rasanya?

kenyataannya, jarang sekali terjadi. lantas, apakah ini kebetulan, atau memang sudah dari fungsinya? tidak, ternyata ada alloh yang menjaga saya, alloh tidak pernah tidur, tidak pernah capek, tidak pernah "entar-entar" dalam merawat, mengatur dan memelihara ciptaan-nya. termasuk aku, manusia. hmmm, masih ada alasan untuk menunda? atau, nunggu di cabut dulu nikmat pendengaran sehingga tidak pernah merasakan merdunya suara adzan lagi?

"duhai dzat yang tidak pernah tidur, duhai dzat tempat aku datang saat senang, susah, gembira, sedih. ampuni hambamu ini, yang suka lalai dalam memenuhi panggilanmu" amin.