Rabu, 19 Maret 2008

kampret

bukanlah cinta bila menyakiti
dikatakan cinta sejati hanya yg bisa membahagiakan hati
tidak ada jatuh cinta
tidak ada ketiban asmara
yang ada adalah cinta dibina dipupuk dihadirkan dengan segenap jiwa
gila rasanya ditinggal cinta
demam rasanya ditikam cinta
putus asa rasanya ditolak cinta
hanya ada satu pemilik cinta yang tidak akan pernah menolaknya
carilah....
ketemukan dia
maka tidak ada yang pantas kau dapatkan kecuali hilang segala dahaga

tulisan ini terinspirasi setelah membaca "Ketika Cinta Bertasbih" Habiburrahman El Syirazy
dwilogi pembangun jiwa

stagnan

Aku masih disini
dengan satu kepala
terkadang kosong melompong tanpa isi
ingin rasanya mengganti kepala ini
dengan kepala kasparove atau utut adianto si jago catur
atau juga kepala habibi yang genius
atau juga kepala ken arok yang beringas
atau juga kepala HAMKA yang sastrawan sekaligus religus
atau juga kepala Tyson yang tak punya pikiran
terbersit juga mengganti dengan kepala rommy raphael sang illusionist
sehingga tak perlu pusing mikir hidup dan cukup berilusi ria sepanjang hari
lebih parah lagi terkadang terlintas mengganti dengan kepala kerbau
dan tak perlu lagi berpikir karena buat apa belajar kehidupan - kerbau gitu loh -
Aku masih disini
dengan dua tangan sepuluh jari
disela hening sunyi hati tetap menghentak menyelesaikan laporan manufacturing
walau lebih sering justru malah melahirkan goresan renungan hati
Aku masih disini
dengan memendam kerinduan yang teramat sangat
namun harus kutelan dalam sunyi matinya hati.
meski tak tahu rindu apa dengan siapa dan rindu bagaimana
padahal para ustadz telah sering berkoar "bagaimana kita merindu"
Aku masih disini
dengan segala pertarungan diri
menang dan kalah.... aku tetap disini
menanti apa yang tak ku mengerti
sampe mati ?
tetap disini ???

Jumat, 14 Maret 2008

remote control

Sore itu mulai gerimis ketika kaki kananku memasuki pintu rumah. "Assalamu 'alaikum....!!!" teriakku kencang mengagetkan. sengaja dari jarak 15 meter sebelum sampe depan rumah mesin motor bebek yang biasa aku pake pergi pulang kantor aku matikan ketika melihat sepi suasana depan rumah.

biasanya isteri dan dua anakku - rangga & nimas - sedang becanda bersama sekumpulan ibu² muda dengan masing - masing anaknya di beranda rumah, namun karena sore ini mendung dan mulai nampak rintik hujan sepantasnyalah mereka semua di dalam rumah sambil berkegiatan ala kadarnya.

ada yang hanya duduk bengong sambil memilah - milah bon yang harus dibayar, ada juga yang menemani anaknya belakar, namun yang lebih banyak dilakukan adalah senyum² sendiri di depan tv nonton sinetron kesayangan.

tak jarang pulang kening berkerut terbawa oleh alur kesedihan yang dilontarkan sang sutradara.
Dengan langkah berjingkat dan nyaris tak terdengar, aku pelan membuka pintu dan begitu kepala nongol kuucap salam dengan sekuat mungkin. Rangga yang sedang merangkai bangku plastik yang di copot² kakinya, nimas yang sedang membolak - balik buku pelajaran PPKN, sementara isteriku yang sedang asyik mengamati PR matematika yang baru saja selesai dikerjakan nimas - lebih tepat memeriksa - lebih spontan lagi kaget atas ulahku.

"wa 'alaikum salam...!!!"

Rangga yang baru satu setengah tahun dan sedang cedal²nya bicara serta hanya beberapa perbendaharaan kata sanggup diucapkan - maem, mama, nenen, dan satu bait lagu atu..atu....- berteriak girang memamerkan gigi - gigi putih mungil yang belum sempurna numbuh.

atu - atu merupakan penggalan kata "satu - satu" yang berkelanjutan dengan lagu "satu - satu aku sayang ibu".

"Ayaaaahhhhh.........!!!!!", luar biasa daya magis dari ucapan si botak ini, lesu bawaan kantor mendadak menguap.

Dengan melonjak tuyul mungil ini menyerbu bapaknya yang masih memakai jaket, kaos kaki dan kaos tangan sehabis berkendara motor. Aku pun langsung menyambut dan menggendong dengan satu tangan serta menduduk kannya kembali di lantai dimana ia berserakan dengan segala maiannya - bola, kursi yang belum selesai dirangkai, robot²an, tembak²an, mobilan kecil dan juga keranjang basket yang lepas dari tembok karena di tarik paksa olehnya.

Letihku, lelahku, sayu mataku mendadak sumringah mendengar seruah "ayah" dari mulut mungil si botak - Rangga. Namun ada yang terselip aneh dalam suasana sore ini. Isteriku nampak muram sambil membolak - balik buku pelajran Nimas - anakku yang pertama kelas 4 SD sambil mengerutkan kening sesekali cercaan keluar dari mulutnya memarahi nimas atas nilainya yang terus merosot di awal semester tahun ini.

Di sudut laen, Nimas pun pura - pura serius di depan meja belajar sambil menghafal Qurdis - Qur'an Hadits - yang telah sampai lumayan jauh serta hafalan Qur'an yang telah 4 kali lipat dari hafalanku sendiri. Bangga juga melihat apa yang dibukanya - lebih ektrimnya iri mungkin - di sudut pojok kiri atas halaman kertas tertera "juz 28" sedangkan di tengahnya tertulis "al-mulk". Ternyata Nimas bukan hanya telah menghafal lafadz surat itu ayat demi ayat melainkan sekarang telah mencoba menghafal tafsirnya. Sedangkan aku -bapaknya - juz amma juz 30 puluh saja telah lama lenyap dari hafalan.

Padahal dulu dengan lancar dan fasih telah ku hafal diluar kepala bukan hanya lafadz melainkan lengkap dengan tafsir dan penjelasan serta golongan surat sebagaimana saat SMP telah menghafal butir² P4 pasal demi pasal UUD 45 dari pembukaan sampai penjelasan bahkan GBHN Pelita Repelita , namun karena telah terkikis terhanyut oleh arus "budak dunia" semua itu lenyap seiring dengan bertumpuknya bermacam kebutuhan yang harus aku penuhi dari mulai bayar PLN, cicilan rumah, cicilan kartu kredit, arisan blok, jajan anak buku anak dan tetek benget benda duniawi lainnya.

masih ditambah lagi setiap hari ada saja sales kartu kredit yang nyasar di extention kantor saat sedang konsentrasi memolot di layar komputer, ndak tahu apa klo di selipan dompet telah ada 9 kartu berjejer menunggu tanggal jatuh tempo dan hanya sempat terbayar tagihan minimum.

Sejurus aku duduk di kursi tamu dekat meja belajar Nimas, sambil melepas kaos kaki jaket dan kaos tangan, aku lepas kaca mata dan mengucek mata dengan lembaran tissue. Aku melihat raut muka anak perempuan itu kurang begitu jenaka seperti biasanya. Sekeliling aku memandang dan menebarkan "insting". Firasat kecil mengatakan "ohh... ternyata bidadari kecilku ini barusan di semprot oleh ibunya berkenaan dengan nilai² yang kian memudar", begitu bisik instingku.

Belum sempat minum dan dengan keringat masih basah dipunggung, jaket dan kaos yang aku kenakan telah lepas dari tubuhku, bertelanjang dada sambil terus mengamati Rangga yang makin asyik dengan bola² kecilnya, isteriku yang sedang serius menghayati soal demi soal matematika PR Nimas, serta nimas sendiri yang komat - kamit mendesiskan lafadz arab.

mereka adalah obat lelahku, meski terkadang kebebasanku terasa terenggut secara mutlak oleh mereka. inilah tantangan terbesar dalam diriku untuk memerangi diri dari segala hedonisme dan ego pribadi. aku bukan lagi hidup untuk diri sendiri, aku bukanlah lagi milikku, namun milik mereka. Selain iseng dengan mengagetkan mereka dengan ucapan salam menggelegar saat pulang tadi, kini timbul pula urat isengku untuk membuat suasanya cair dalam keheningan sore ini. Jam dinding telah menunjukkan jam 7 lewat 5 menit.

"Orang - orang kini makin tak berkurang kesabarannya, kian banyak saja orang yang berlomba menunjukkan kekasarannya"
begitu celetukku, namun masih tiada respon dari seluruh penghuni rumah.

"Tadi di tambun, dari jendela kereta nyata - nyata seorang bayi baru lahir tapi tak ada yang mau menolong kecuali ibunya sendiri, apa mentang² tidak jelas bapaknya, terus tak ada satu orang pun yang peduli ?" aku masih berkhotbah sambil sesekali melirik isteriku dan nimas yang tentu saja langsung penasaran menoleh kearahku serentak menghentikan hafalannya namun tangan
nya masih memegang alquran.

"dipinggir peron stasiun, bayi lahir dan tak satu orang pun mau mendekati, malah berembutan menyingkir sambil menutup hidung jijik, beberapa meludah malah" ceritaku.

"apa mereka pikir merekalah yang paling suci ???" imbuhku memancing emosi.

"hiii... koq bisa sich ?" timpal nimas sambil melongo.

isterikupun mulai tertarik dan sejenak melirik walau hanya sesaat, dan sekejap kemudian telah asyik lagi memeriksa PR matematika nimas.

"Bener, bayi lahir di emperan peron stasisun, tadi dari kaca jendela kerata ayah lihat.
"tak seorang pun mau mendekat, boro² menolong.
"gerimis begini lagi, kedinginan tak pake baju, bahkan selembar kain pun tak ada.
"orang² memang sudah pada bebal rasa kasihannya"

nimas semakin tertantang jiwa penasarannya.
"masya' sich yah, kasihan banget" imbuhnya.

aku pun melanjutkan cerita.

"anehnya bayi itu seperti tahu keadaan dirinya, dan tak peduli dengan sikap acuh orang yg lalu lalang mencibirnya. sang ibu bayi juga dengan penuh kasih karena merasa hanya sendirian dan tak ada yang peduli. ibu bayi mendekati menciumi anaknya dengan lembut dan mulai membersihkan air ketuban yang menempel disana sini di sekujur bayinya dengan sangat telaten.
mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki tak terlewatkan setetes pun air ketuban yang tadinya belepotan. tahu gak mbak ? " tanyaku tiba - tiba pada anakku nimas dan tanpa menunggu jawaban aku kembali melanjutkan ceritaku.

"bayi yang baru lahir dan hanya ditungguin ibunya itu sungguh ajaib. kasihan bener bapaknya yang tidak bertanggung jawab itu karena tidak melihat keajaiban anak yg ditinggalkannya.
baru sekitar setengah jam lahir, ia langsung berlatih berdiri. bahkan belum makan apapun, jangan kan makan, minum susu ibunya juga mungkin belum. sungguh Allah maha kuasa, disela cibiran orang yang lalu lalang tak peduli, di tengah hujan rintik gerimis bayi itu mendapatkan karunia yang luar biasa. meski masih goyang - goyang bayi itu berdiri dengan pasti setapak demi setapak mulai melangkahkan kaki dan... ajaib.... subhanallah....... ia bisa jalan"

sampai disini Nimas semakin terbengong, bahkan isteriku yang serius dengan buku PR matematika anaknya angkat bicara.

"memang orang² gak pada heran melihat bayi bisa jalan ? koq aneh ? ayah bohong kali ?" sergahnya.

kata - kata isteriku yang lebih matang penalarannya mencoba menyerangku karena tahu bagaimana reputasi sejak masa pacaran dulu, beda halnya dengan nimas yang masih lugu dan polos. serius banget dan terkagum - kagum pada mu'jizat sang bayi.

"banyak koq yang lihat, tapi sayang ayah cuma lihat dari dalam kereta. udah gitu kereta keburu jalan" sergahku.


------------------------------------

"plakkkk........!", mendadak suara remote tv mendarat di punggungku yang mulai kering keringatnya.
serentak aku beranjak dari kursi dan bergegas menarik handuk di sampiran jemuran di dapur.
langkahku tergesa karena menghindari mendaratnya remote untuk kedua kali dari tangan gemas mungil anakku. di kamar mandi sambil mengguyur air ke sekujur badan mulutku masih senyum dan ketawa sendiri.

sementara di luar sana - diruang tamu - nimas menggerutu sejadi - jadinya.
"Dasar... punya bapak satu saja error, anak kambing diomongin !Siapa juga yang mau ndeketin kambing beranak !"

Kamis, 13 Maret 2008

penghianat

Langit agak mendung ketika wiwik menyirami aglonema jemani kobra setinggi sejengkal dalam pot plastic warna hitam. Sore itu angin semilir menambah suasana hening menjelang magrib.
“ciittt…. Braaakkk… rhheeeemmmmmm…”, suara ban direm mendadak berdecit beradu dengan aspal disusul benturan benda berat, mengiringi deruman mobil melaju kencang.

“Tolongin… tolongin…..”
“Aduh… kasihan amat tuch bocah.”
“Hoii.. dasar mobil gila, klakson sembarangan !”
Terdengar suara – suara gaduh memecah kesunyian. Serentak wiwik menghentikan aktifitasnya, memutar kran pada posisi off, berhambur keluar pagar.

“Ya ampun, bawa kepinggir Pak, tolong motornya”
“Ayo, gotong – gotong – gotong !”seru yang lain.
Seketika itu juga kotak P3K ambil peranan, entah kali keberapa kecelakaan ini terjadi, seperti sudah menjadi rutinitas, jalan menikung itu menjadi ajang tabrakan kendaraan. Kelalaian pengendara tergesa – gesa ataupun mobil ugal – ugalan menikung tanpa mengurangi kecepatan sambil membunyikan klakson adalah salah satu dari sekian penyebabnya.

“Aduuhhh….. sakit..!”
Syukur dech merintih, berarti kesadaran gadis ini tetap terjaga. Luka dilutut telah selesai diperban, begitu pula siku kiri telah dikasih obat luka, tidak perlu dibalut karena hanya luka kecil, tapi kenapa banyak darah di baju, dari mana ini.
“Tolong dimiringkan Pak, saya curiga ada luka dikepalanya”
Benar, ada benjolan mulai membesar dikepala bagian belakang, luka cukup lebar, darah merembes menyusuri rambut, pantas tidak kelihatan.

“Ya ampun mbak, helmnya sampai pecah begini, lukanya besar tuch, darahnya mengalir terus”, Bapak berkopyah yang tadi tersenggol angkat bicara.
Handuk kecil dan gunting segera ambil peranan, luka coba dibalut, namun agak kesulitan karena robeknya cukup dalam. Darah belum juga berhenti, hanya sedikit terhambat oleh obat luka dan balutan perban.

--------------------0&0----------------------

“Ma’af bu, lukanya cukup serius, pertolongan pertama ibu lakukan sudah cukup untuk sementara ini, pasien perlu segera cityscan untuk lebih pasti mengetahui keadaannya.” Dokter jaga di rumah sakit berjarak 500 meter dari lokasi kejadian menjelaskan. Dibantu beberapa security, wiwik kembali mengangkat tubuh gadis itu kerumah sakit yang lebih besar.

Mobil kembali melaju, hari semakin senja. Semburat kuning diufuk barat makin kemerahan.
“Kondisi pasien cukup lemah, harus segera ditangani secara serius, untuk hal ini perlu cityscan, di sini belum tersedia alatnya, silahkan ibu bawa ke Rumah Sakit Sanno Medical guna mendapat perawatan secara intensif”, kembali dokter jaga dirumah sakit ini pun angkat tangan dengan alasan peralatan. Rumah Sakit sebesar ini alat scan saja belum ada, aneh.

Kembali mobil meneruskan perjalanan, tepat saat adzan magrib berkumandang, wiwik sampai ke pintu gerbang rumah sakit yang dituju. Besar, terkesan mewah, banyak mobil parkir di halaman samping menunjukkan kelas para pasien yang berobat maupun rawat inap disini. Dibantu seorang perawat wiwik segera menuju UGD, sejurus kemudian Tika telah berpindah ke tempat tidur dorong.

“Permisi dok, apakah pasien perlu segera city scan ?”
“Ya, lukanya cukup serius, anda keluarganya ?”
“Eh, bukan dok, saya membawanya kerumah sakit ini, pihak keluarga sedang menuju kemari sebentar lagi sampai.” Selama di mobil, wiwik sempat check beberapa nomor telpon terakhir yang dihubungi Tika lewat HP, dari sinilah diketahui sebuah nomor dengan inisial “home”. Pembicaraan singkat denganorang tuanya telah menguatkan hati untuk melakukan apa yang dipandang perlu serta tidak melanggar privacy korban – harus seizin family, bahkan kedua orang tua mengamanatkan untuk melakukan yang terbaik untuk anaknya. Kartu pelajar di saku samping tas sekolah menginformasikan “Mulan Swastika Rini” siswi SMUN Karestin, wiwik tahu keberadaan sekolah ini.

“Bagaimana bu, apakah mau langsung di scan ?”
Aneh, kenapa harus bertanya seperti itu, bukankah baru saja dokter menyarankannya ?
“Aduuuh…. Sakit…” Tika merintih pelan tergolek di tempatnya, kondisi makin lemah.
“Iya, segera lakukan yang terbaik dok.”
“Kalau begitu silahkan ibu kebagian radiologi tepat dilorong ujung sebelah kanan pintu masuk.”
Wiwik bergegas begitu terburu , sambil melirik kearah korban dengan perasaan cemas dan khawatir terjadi hal lebih serius, rasa penasaran belum juga hilang dari benaknya menyaksikan Tika belum juga diapa-apain.

“Ibu silahkan menemui dokter jaga untuk membuat konfirmasi bahwa pasien memang harus di city scan.”
“Tapi saya baru saja dari sana bu, dan dokter Haji Risam sendiri menyuruh saya segera kesini.”
Sekilas sempat terlihat papan nama kecil disematkan didada kiri dr H. Risam, sepantasnya wiwik menganggap initial H disini adalah gelar Haji walau sebenarnya bukan, melainkan hanyalah sebuah nama depan. Hendargus. Lengkapnya dokter Hendargus Risam.
“Saya hanya bertugas di sini bu, saya tidak berani menjalankan alat ini tanpa rekomendasi pak dokter !”
Bagaimana sich, jelas – jelas dokter tadi menyuruh saya kesini ke bagian radiology. Perasaan tak karuan dan bingung serta heran campur tak mengerti silih berganti keluar masuk di kepala.
“Dari pada saya bolak – balik kesana lagi, apakah tidak sebaiknya suster konfirmasi melalui pesawat aipon, karena biar lebih cepat, kasihan pasien sudah dari tadi menunggu, kondisinya juga makin lemah, saya khawatir darah di lukanya ada yang membeku bisa menimbulkan masalah kalau tidak segera dibersihkan.”
Apalagi ini, bukannya argumenku lebih masuk akal, kenapa suster ini malah memasang muka cemberut seolah tidak suka dengan ucapanku, apanya yang salah ?
“Ma’af bu, pasien belum dapat dibawa kemari, silahkan ibu menemui dokter kembali untuk konfirmasi”
Wiwik merasakan lututnya mulai bergetar, bukan karena capek, tetapi karena berbagai keanehan pelayanan yang serba lelet dan terkesan di pingpong kesana kemari.

“Apakah pasien perlu segera di city scan atau tidak dok ?” nada wiwik mulai meninggi.
“Sebaiknya memang dari tadi bu”
“Lalu, kenapa tidak segera dibawa ke radiologi ?”
“Silahkan ibu mengisi formulir dulu untuk segera kami ambil tindakan”
Apa-apan ini, hanya untuk city scan saja 750 ribu, harus dibayar dimuka.
“Ya ampun, kenapa tidak bilang dari tadi dok”
Seperti ini ternyata pelayanan disini, informasi administrasi saja harus berbelit – belit, harus bolak – balik dulu UGD – dokter jaga – ruang radiology.

“Apakah tidak bisa kalau di city scan dulu, bayarnya belakangan dok ?”
“prosedur disini memang seperti itu, saya hanya menjalankan tugas”
Mana sempat aku memikirkan hal – hal seperti ini, jam setengah tujuh, telah lewat magrib, mana belum sholat lagi. Bisa berfikir jernih dan tidak panik, tenang membawa mobil sendirian dengan segera membawa kerumah sakit saja sudah untung, boro-boro menyiapkan uang cukup, isi dompet paling Cuma 200 ribuan, itupun sisa beli pupuk kembang tadi pagi.
“Eh,… ma’af dok, apakah benar – benar tidak bisa kalau dibayar belakangan dok, pihak keluarga sedang dalam perjalanan menuju kemari”
“kalau untuk urusan itu, silahkan ibu kebagian kasir”

“Aduuhhh… sakittt….. hooeekkk…. hooekk..”
Tika kembali merintih, suaranya lemah sekali, kali ini seperti spontan didorong dari dalam, semua makanan muntah dengan hebatnya, tubuh terguncang, wajahnya pucat, bibir gemetar.
Prosedur apalagi ini, kenapa pasien kecelakaan jelas seperti ini, masih didiamkan begitu saja, bukannya langsung ditangani dengan tindakan pertama, apa yang aku lakukan tadi sekedar pertolongan pertama, serta terbatas, dengan dibawa kerumah sakit aku berharap segera mendapat perawatan secara intensif tenaga ahli, kenapa malah terbengkalai seperti ini. Wiwik menebar pandangan dengan perasaan makin tak karuan, terlihat dari gerakan – gerakan serba salah, bersedekap, menarik nafas panjang, merapikan rambut, menoleh kearah Tika. Ya ampun masih belum disentuh juga, gila. Lebih terkejut lagi saat pandangannya menyapu tempat duduk persis dibelakang dokter jaga. Dua orang dokter itu ngapain saja, bukannya membantu malah asyik sendiri mainin HP, itu lagi, perawat satunya malah ikutan ngobrol, acuh banget dengan semua ini.

“Tapi, kenapa pasien tidak segera mendapat perawatan dok, dari tadi semenjak saya datang, ke ruangan radiology, balik lagi kesini, masih belum juga disentuh. Sejak dalam mobil ia telah muntah dua kali dan sekarang terjadi lagi dengan lebih hebat, pertolongan pertama yang saya lakukan hanyalah untuk pengobatan luar. Saya tidak menyangka ternyata dibelakang kepalanya robek cukup dalam, bagaimana kalau ada darah beku masih tertinggal disana, apakah tidak akan membahayakan otaknya ? Kalau terjadi sesuatu dengan kepalanya bagaimana ?” Wiwik bicara tanpa henti, nada meninggi. Bagaimanapun juga ia telah kehilangan akal sehatnya dengan kejadian yang dialami sedari tadi. Kembali ia melirik, Tika terkulai lemas semakin tak berdaya, seorang suster mendekati hanya sebatas membersihkan muntahan tercecer dilantai, sementar dua orang dokter tadi hanya melihat sekilas dan melanjutkan kembali aktivitas mereka – ngobrol sambil sesekali memencet tombol – tombol HP. Secara naluri kemanusiaan, hatinya berkata kalaupun urusan administrasi bukannya sudah ada saya yang bertanggung jawab dan menunggui disini sampai pihak keluarga datang. Lagi pula melihat orang seperti ini siapapun seharusnya segera bertindak, bukan malah dijadikan tontonan begini. Potongan daging di pasar swalayan masih lebih berarti bahkan diberi label harga per satu gramnya, ditempatnya dengan begitu bersih dibungkus plastic tipis sehingga menarik untuk dibeli, ini, manusia hampir sekarat, teronggok tak berdaya diatas tempat tidur dorong disebuah Rumah Sakit besar jangankan dipegang, bahkan dilirikpun tidak oleh para dokter disekitarnya. Makin berkecamuk di dalam dadanya suara – suara berontak dan protes terhadap tenaga medis di Rumah Sakit.

Dokter Sam bangkit dari tempat duduk, menatap tajam pada sosok perempuan diseberang meja.
“Apa yang ibu lakukan sudah benar dengan membawa segera korban kecelakaan ke sini, satu hal yang ibu harus ketahui luka – luka itu harus dibersihkan terlebih dulu baru bisa dilakukan cityscan. Segala sesuatu disini juga telah ada prosedur yang sudah baku, Ibu harusnya tahu akan hal ini !”
“Kalau begitu kenapa tidak langsung segera dibersihkan, kondisi pasien semakin lemah, bahkan isi perutnya mungkin sudah habis terkuras, bagaimana kalau sampai terjadi dehidrasi, bagaimana juga kalau sampai mati ditempat ini, ditempat yang seharusnya mengobati orang sakit ?”
“Mati ada ditangan Tuhan, bukan urusan saya !”

Petir menggelegar memekakkan telinga, tidak ada hujan tidak ada angin, gemuruh didada wiwiklah yang membuat kilatan besar menyambar jantung seakan meledakkan paru – paru berubah menjadi kilatan guntur. Tersurut hampir terlompat kebelakang beberapa langkah sampai tubuhnya terpojok diantara tumpukan filing cabinet tempat beberapa arsip berjajar. Benar – benar tersudut, tangan gemetar mencoba mencari pegangan. Untunglah ada patung anatomi tubuh manusia disebelah kirinya, sehingga lutut lemas seketika masih bisa ditopang dengan memeluk patung telanjang dengan gambar perut dan jantung terlihat jelas. Matanya berubah nanar, kata-kata yang tadi tegas begitu lancar keluar dari mulutnya kini tercekat bagai terkunci di tenggorokan. Tanpa ia sadar, air mata menitik setetes, tak sempat meleleh dipipi, serta merta diusap dengan menggunakan punggung tangan kiri. BUKAN URUSAN SAYA. Inilah geledek terpanas menampar telinga, dalam sekejap menggugurkan anggapannya tentang seorang dokter, seorang tenaga medis, seorang penyelamat. Dari kecil hingga Lulus kuliah di IPB setahun lalu, dokter, sebuah kata begitu agung tertanam kuat di jiwanya, kini di Rumah Sakit ini, Pusat Kesehatan serba canggih, dengan peralatan mutakhir, para dokter specialis, perawat professional, ternyata telah mengingkari sumpah mereka sebagai pengabdi kesehatan.

“Bu … kan … U …. Rus ….. san …. Dok … ter…. !
Suara keluar dari mulutnya begitu terbata, bukan lagi lantunan kata – kata cerdas seorang mahasiswa pertanian dengan pola pikir terarah seperti selama ini. Bahkan sepintas lalu suara ini layaknya jeritan anak kecil ketika dilarang makan permen karet oleh ibunya.

Dua orang dokter sedari tadi hanya ngobrol dan main HP mulai memperhatikan, mendadak bangkit dari tempat duduk, begitu pula dengan seorang suster yang mengelap muntahan Tika. Bertiga segera mendekat, memeriksa lutut, tangan, siku dan salah seorang dokter dengan perawakan kecil berwajah bersih tanpa kumis intensif memeriksa kepala. Tersadar mereka oleh teriakan patah – patah wiwik, seperti tersadar akan dedikasi dan sumpah mereka pada saat pertama menjadi dokter, panggilan jiwa. Namun semua itu seperti terlambat dan tidak mengubah paradigma yang baru saja ditorehkan oleh seorang dokter Sam kedalam sanubari terdalam. Inilah bentuk penghianatan nyata panggilan hati seorang dokter.

“Bukan urusan saya” begitu terngiang, tak juga mau hilang, mendengung bagai ribuah lebah memenuhi gendang telinga menyusuri saraf mengalir menyatu dengan aliran darah menumpuk, membeku bersemayam lekat di dasar jantung. Di sini, di ruangn UGD sebuah rumah sakit terkemuda, dedikasi penyelamat manusia – dokter, telah terkoyak oleh sebuah drama tragedi kemanusiaan. Bentakan seorang terpelajar dengan predikat dokter – dokter Risam namanya, melemaskan persendian, meruntuhkan keyakinan bagamana agungnya profesi panggilan jiwa ini. Patung anatomi tubuh manusia di sudut ruangan jantungnya begitu terbuka, paru – paru, hati, usus besar, usus dua belas jari, limpha, semua terlihat jelas menggambarkan organ dalam bagian tubuh manusia, persis didepan filing cabinet tempat arsip seluruh pasien rumah sakit tersimpan, dimana sejarah pengobatan dan penyelamatan dicatat, menjadi saksi diantara mereka berlima ditambah seorang security yang – mungkin – sengaja dihadirkan untuk menjaganya agar tidak kabur meninggalkan tanggung jawab administrasi, kabur dari kewajiban pembayaran. Seorang berhati tulus berniat menyelamatkan seorang gadis kecelakaan lalulintas, bukan dokter – bukan. Ia hanya sekedar mahasiswa – bekas mahasiswa lebih tepatnya – yang mengabdikan ilmunya untuk merawat dan menyalurkan hoby tanaman hias. Namun sorang calon tukang kebun penyayang tanaman ini memiliki rasa kemanusiaan jauh lebih besar dan lebih tulus ketimbang dokter, apalagi dokter Hendargus Risam. Jiwa perempuan penyayang, berhati lembut telah dibuktikan dengan lembar demi lembar daun tanaman hias yang dirawatnya. Ya. Ia memperlakukan manusia terluka selayaknya membelai daun – daun di pekarangan kost tempat tinggalnya.

Dalam sujut terakhir, ia tumpahkan air mata, ia kuak seluruh penat didadanya, ia mengadu pada Sang Pencipta atas apa yang baru saja dialami. Carut marut perasaan mulai menipis hingga akhirnya memudar, dengan basuhan air wudlu dan ciuman hangat pada sajadah di mushola Rumah Sakit, lega perasaan mulai terkembang kembali seiring ucapan salam penutup sholat magrib yang ia lakukan. Jam tujuh kurang lima, lima belas menit lagi waktu isya’ datang. Mungkin aku minum dulu di kantin sekedar melancarkan air ludah yang mendadak tersangkut ditenggorokan. Orang tuanya telah datang, bahkan namanya mereka pun aku belum sempat tanya. Rasanya ingin mengetahui keadaan Tika lebih lanjut, informasi singkat kejadian yang menimpa anaknya belum sepenuhnya aku ceritakan secara tuntas kepada kedua orang tua itu, bukannya aku tidak mau, bukan, ini semua murni karena ulah dokter itu. Belum pernah aku merasakan hilang kata seperti ini. Sudah cukup rasanya aku sampaikan runtutan kejadian yang aku tahu, untuk uang muka administrasi biarlah, aku ikhlas memberikannya untuk Tika, untuk segala sesuatunya dikemudian hari biarlah menjadi urusan keluarganya.

Sekali lagi wiwik menatap bangunan rumah sakit megah itu sebelum menyalakan mobilnya, matanya masih basah, sembab, tangannya mengambil beberapa tissue dan kertas Koran untuk menutupi bekas muntahan di joke belakang. Sejenak mematung dibelakang kemudi. Perlahan, sangat pelan, seakan mobil itu juga menjadi saksi gundahnya hati seorang wanita muda atas apa yang baru saja dialaminya dan membagi empatinya dengan bergulir pelan, meninggalkan sang dokter Hendargus Risam.

dilarang berfikir

Anak kecil lebih mudah melakukan segala sesuatu dengan lebih kreatif daripada orang dewasa. Anak kecil juga lebih berbahagia dan ceria dibanding orang tua. Kenapa ? sifat – sifat ilahiah masih begitu murni terpancar dari perilaku sang anak. Itulah sebabnya intuisi seorang anak kecil lebih tepat dan akurat dibanding orang dewasa. Dengan kemurnian jiwanya naluri dan insting anak – anak terkadang dapat melihat dunia tak kasat mata atau bahkan merasakan perasaan orang tua dengan mengekspresikan ngambek, nangis, tertawa lepas bahkan bertingkah lucu dan menggemaskan.

Dalam menjalani kehidupan ini sebenarnya yang lebih banyak membutuhkan intuisi utnuk bertindak adalah orang dewasa / orang tua. Untuk memenuhi segala tuntutan hidup diperlukan tindakan nyata misalnya apakah akan bertahan menjadi karyawan rendahan atau berwiraswasta. Kenyataannya intuisi ini justeru lebih banyak dipunyai oleh anak kecil. Pikiran dan akal orang dewasa telah demikian tercemar oleh pemikiran – pemikiran yang boleh dikatakan overload. Computer saja kalau sudah stack rawan hang, bagaimana manusia. Computer jelas mempunyai tombol reset, bila hang tinggal pencet atau cabut kabel arusnya. Manusia ? tombol apa yang mesti dipencet agar dapat re start ?

Bagaimana merangsang intuisi untuk muncul secara tepat ?

Setiap orang pasti memiliki intuisi, yang membedakan adalah kadar dan kesadaran bagaimana intuisi ini muncul kepermukaan. Namun demikian, intuisi selalu dapat dirangsang untuk kemudian dilatih dan dikembangkan. Banyak mentor – mentor, atau motivator – motivator yang menawarkan program traning pengendalian diri. Sebenarnya segala sesuatu hanya akan kembali kepada diri sendiri. Inilah fungsinya pengenalan diri.

Sebelum itu selayaknya dipahami dulu apakah dan bagaimanakah intuisi itu.

Sangat tipis perbedaan antara intuisi dengan nafsu. Nafsu mempunyai ciri serba terburu – buru, terkesan diyakin – yakinkan, melalui pemikiran njlimet dan ada perasaan was – was untuk memulainya, ujung – ujungnya timbul keraguan untuk memilih ya atau tidak. Sedangkan intuisi biasanya muncul kepermukaan begitu saja atau spontan, tertuang dengan tenang, rasional dan sesuai dengan rasa kita.

Dari uraian singkat ini dapatlah ditarik benang merah perbedaan mendasar antara intuisi dengan nafsu.

Mengembankan intuisi.

Intuisi yang begitu besar dan begitu potensial pada saat masih usia anak – anak lambat laun semakin berkurang kualitasnya seiring dengan bertambahnya usia, hal ini tentulah sangat dipengaruhi oleh kebersihan hati dan pikiran ( baca : ketenangan jiwa ). Ada beberapa hal yang dapat dijadikan tahapan untuk mengembangkan intuisi, yaitu :
empati. Dapat dilakukan dengan sering – sering menyerap energi kehidupan disekitar kita.
stimulis / rangsangan. Syarat utama untuk dapat melatih rangsangan ini adalah banyak – banyak lah tersenyum dan santai – rileks.
menciptakan manfaat. Segala sesuatu yang dilalui adalah bagian dari process yang harus dijalani. Tanamkan perasaan seperti ini dalam diri. Sehingga akan timbul pandangan bahwa apapun yang terjadi selalu disikapi secara – asas manfaat ( mengambil hikmah & pelajaran ).
silaturahim. Tidak disangka ternyata menjalin, menyambung dan mepertahankan hubungan antar manusia dapat melatih mengembangkan intuisi. Bagaimana tidak. Dalam pergaulan yang sehat tentulah sangat memungkinkan terjadi dialogis dua arah ( atau lebih ) yang mau tidak mau harus melatih berbicara. Minimal melatih pendengaran.

Dari empat point diatas sebenarnya point kedua lah yang lebih dominan. Setiap diri kita sangat membutuhkan relaksasi. Boleh – boleh saja berpikiran serius dengan memikirkan planning, actuating, orgazing dan reporting, akan tetapi kalau kebablasan serius bisa jadi stress yang akan melanda bahkan depresi. Santai, rileks, bahkan kalau perlu lambungkan angan dan imaginasi seluas kita mau. Rehat sejenak memang sangat diperlukan. Berfikir dengan nyaman dan memunculkan spontanitas selayaknya dilatih agar apa yang kita ambil dengan cepat dan spontan tapi tidak asal – asalan.

Hal ini memang perlu dilatih, agar hidup lebih enjoy namun terarah.
So…. Mulai sekarang kurangi berfikir serius, tersenyumlah, atau tertawalah selama belum dikenakan pajak.

tukang ndleming

wis sak wetara wektu aku duwe julukan anyar saka kenya item manis djogja kang arane toeti, ndadak sak durunge dheweke njeluk aku ndoro bagus. walah... kamangkakna awit cuilik aku diparapi den bagus, malah wis kepara luwih sepuluh tahun ora ana sing muni nganggo parapan iku koq dumadakan mak jegagik gandrik galeh asem ujug ujug ana sing njeluk nganggo jeneng lawas. dadi mak nyes kaya entuk ilining tuk ana wayah awan panas kentheng - kentheng. ya wis, muga wae iki widodari sing dikirim saka awang-awang kanggo aku. supaya bisa ngobrak abrik utekku sing wis suwe suwung.

lah piye ta ? koq suwung ?

critane ngene, wis suwe isine ndasku tak jupuk tak titipna jelase tak gadhekna ana perum pegadaian kanggo mbayar cicilan kartu kredit sing cacahe lima, tekan saiki durung bisa katebus dadi ndasku durung ana isine he..he..he.he... ngelantur ta ?

lah piye maneh, jenenge tukang ndleming, omongane mesti ra isa di cekel. yen isa dicekel wis tak goreng wingi - wingi, isa kena lawuh mangan sore.

sekilas jatidiri:
tukang ndleming lahir anak pinggiran wetan kutha yoja, ana sikile gunung kidul. luwih tepate ereng - ereng gunung kidul. wis lumrah yen basane pinggiran banget. cetha yen asli cerak watu adoh ratu, mangan apa - apa ora tuku ( nyolong maksude ). wis ya... kenalan semene dhisik, yen ana wektu sambung maneh.