Preambule
“Kenapa maling selalu mengulangi perbuatannya? Karena sukses!” teriak Ikhwan Sopa (IS). Lebih tepatnya enerjik, bukan teriak. Ruangan itu mendadak sempit ketika trainer workshop EDAN ini berbicara. Langkahnya penuh, gebrak meja, menunjuk muka audiens, melempar spidol, pokoknya banyak deh atraksinya. Suaranya lantang, menggema, jelas, gamblang, tak perlu pake mik segala. Gayanya itu loh, full body moving. Pernah lihat Edy Murphy main Man In Black? Enerjiknya seperti itu kurang lebih.
“Beliau selalu enerjik kalau membawakan training, makanya saya tidak perlu memoderatori dari pada ketabrak-tabrak” Epri Tsaqip (ET)yang buku puisinya telah diterjemahkan kedalam empat bahasa berucap. Sal pun, membawa pulang buku itu, ‘kumpulan puisi Epri Tsaqip – Ruang Lengang’.
Lebih jauh lagi menurut IS, “kalau mau membuat menulis menjadi kegiatan yang berkelanjutan, tanamkan diri sejak sekarang, kalau anda sudah sukses. Contohnya seperti maling tadi, karena merasa sukses akan aksinya, si maling pun mengulangi perbuatannya. Sukses tidak ketahuan, sukses mengecoh tuan rumah, sukses menyimpan barang, sukses menyelenggarakan aksi-aksinya. Kalau si maling tadi merasa gagal, mengakibatkan was-was, ragu, bimbang, tidak percaya diri, maka tamatlah riwayatnya.”
“Kalau Andrew Wongso bilang ‘sukses is my right’, saya katakan disini ‘sukses adalah anda saat ini’, dengan anda berada diruangan ini, berarti anda sudah sukses. Berapa banyak orang diluaran sana, mau masuk ruangan training saja deg-degan tak karuan. ‘ramai gak suasananya, banyak gak orangnya, gurunya galak apa tidak, jangan-jangan disana nanti disuruh bicara di depan’. Jadi anda-anda yang ada diruangan ini adalah sukses”. Coba, siapa yang tidak berbesar hati dikatakan seperti ini oleh IS. Pembicara tahu betul bagaimana mendobrak penutup rasa percaya diri peserta.
Begitulah, sekilas tentang pelatihan penulisan bersama workshop EDAN. Hari sabtu, tanggal 20 september 2008 pukul 13.05 sampai dengan 18.00. mau tahu cerita selengkapnya? Sabar ya, sal akan ceritakan secara detail. Tapi, tidak gratis. Anda harus mendengarkan cerita Sal dulu. Judulnya, “antara anyer dan Jakarta, aku jatuh cinta” eh, bukan. Itu sih judul lagu.
Biar gak penasaran banget, bolehlah Sal bocorkan sedikit. Acara itu dimoderatori oleh ET, pembicara pertama jelas IS sebagai pendobrak semangat. Dan, memang terbukti, dengan timing yang meskipun sangat terbatas IS berhasil membakar semangat audiens. Begitu selesai training, ada sesuatu yang menggumpal dalam dada Sal, juga dada-dada peserta yang lain (kalau peserta cewek sih, gumpalan ini sampai menonjol keluar) yaitu rasa percaya diri bahwa ternyata Sal ini hebat. Satu saja kekurangannya adalah, training sangat singkat. Sehingga ada materi yang seharusnya dibahas dengan peragaan, lebih banyak interaksi dengan peserta, justeru terlewatkan.
Sal pun mengancam,”Sal harus ikut workshopnya IS secara utuh, 2 hari”, bisik Sal dalam hati.
Season kedua, setelah sholat ashar. Bung Jonru (BJ) tampil. Tak Sal sangka, ternyata BJ begitu imut-imut dan sekilas terkesan pemalu (giliran sudah bicara didepan forum, ternyata kesan itu salah. Belakangan Sal tahu bahwa yang mebuat BJ begitu percaya diri ternyata ya pelatihan EDAN ini).
Beda jauh dengan fotonya yang diinternet. Pak Guru Jonru –demikian Oma Ning Mahkota Dewa ‘sisswa SMO I- biasa memanggil- memang betul-betul berjiwa pendidik dan pengajar. Terbukti, kiat-kiat yang pernah saya dapatkan saat belajar di SMO angkatan tiga, masih terasa seperti teori baru begitu mendengar langsung secara bertatap muka.
Meskipun tidak se-enerjik IS, pembawaan BJ bagi Sal lumayan bagus. Apa yang disampaikan cukup mengena, Cuma sayang, koq kadang masih suka grogi ya. He..he..he.. ma’af, Sal sering menangkap BJ salah ucap saat sedang cerita tiba-tiba bilang “ya gitu deh”. Masih perlu ditingkatkan lagi “public speaking”nya. Tetapi, memang spesialisasi BJ adalah penulisan. Sangat wajar bila, untuk merambah dunia per-public speaking-an masih perlu banyak ditempa.
Ada tip-tip bonus dari ET yang disampaikan menjelang buka puasa. Mau tahu? Tar, gampang. Sal bocorin deh pokoknya. Dalam tulisan berikutnya tentunya.
Pokoknya, dapet ilmu, ketemu langsung dengan para pakar penulisan, dapet nasi kotak lagi. Buka puasanya jadi lebih nikmat. Udah gitu, trainingnya di kampus. Ketemu deh sama adik-adik mahasiswa. Wah, Sal jadi merasa muda, merasa jadi coverboy lagi.
Liputan selengkapnya, sabar ya….
~~~~$&$~~~
Cikarang – Kramat
Puasa keduapuluh, masih full spirit menjalani. Sal, gitu loh. Soal ibadah harus nomor satu. Tapi, soal usil juga nomor satu. Nah loh. (semoga, malaikat kehabisan tinta, tidak mencatat ucapan Sal yang ini. Jangan sampai kena degradasi nilai)
Hari ini, sabtu 20 september 2008 merupakan hari bersejarah sepanjang hidup Sal. Mudah-mudahan ini bukan pertama sekaligus terakhir, tetapi, titik balik kebangkitan setelah sekian lama mati. Loh, koq mati? Iya, mati hati alias setengah matengnya jiwa. Pengin jadi penulis, tapi koq ndak ada semangat, kurang pede, meskipun ada selalu turun naik. Mending kalau berimbang, yang ada malah naiknya dikit, dikit, dikit, begitu mau tinggi, -belum tinggi loh, baru mau- eh, turunnya ‘nukik’ tajem abis. Down.
Begitu selesai sahur, jam empat pagi, Sal masih bersantai sambil nonton PPT. – tahu kan ppt, sinetron para pencari tuhan, Sal doyan banget sama tontongan satu ini. Sarat hikmah. Bagi yang belum pernah lihat, dijamin rugi deh-. Nanti siang, jam satu setelah lohor adalah acaranya mas Jonru –training ‘cara EDAN menjadi penulis hebat’ kolaborasi dengan Ikhwan Sopa.
Yang bikin bangga adalah, Sal bukan early bird. Tidak seperti kamu, selalu memanfaatkan diskon dan potongan harga. Kalau bisa gratis malah. Kalaupun belum ada gratisan, merajuknya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Sal, bukan type seperti itu ya, tetapi berjiwa ‘rela berkorban jiwa dan raga bahkan harta demi sang kekasih –keinginan, maksudnya (sssst, dilarang tersinggung, Sal juga kalau kepepet nggak nolak gratisan koq. Hanya saja masih sering kepepetnya ketimbang enggak. Ups, kabuuuur, sebelum ditimpuk pembaca. Soalnya, mau ikutan early bird tanggal 13 Sal belum punya uang. Nunggu THR dulu turun, jatah baju lebaran buat ikutan pelatihannya mas Jonru)
Koq sewot, masih mau denger ceritanya gak? Ya udah, tadi itu Cuma becanda. Makanya jangan gampang tersinggung, cepet tua loh.
O.k. Sal lanjutin ya,
Begitu terdengar imsak, Sal langsung mandi, tidaklupa gosok gigi, habis mandi kutolong ibu, membersihkan tempat tidurku, …. Kacau lagi deh. Udah dong, jangan digangguin. Ini nih, ada nyamuk ngrecokin mulu. Kayaknya nyamuk ini cewek deh, namanya Sunlita. Wuih, keren. Nyamuk aja punya nama.
Kembali ke ….
Habis sholat subuh, nyetrika dulu. Biasa, bantuin isteri. Biar bisa pergi keluar rumah saat hari libur. Jadi, kerjaan rumah mesti beres dulu. Tuch kan, Sal termasuk pekerja keras dan rela berkorban demi tujuan. Meskipun ngantuknya minta ampyun, tetap aja nggosok –setrika baju- sampai jam sepuluh siang. Itung coba, berapa jam tuh. Mana ada pembantu bergaji tigaratus ribu sebulan mau setrika baju selama itu. Padahal gosokannya dikit loh, hanya saja lengket melulu. Jadi, mesti sebentar-sebentar ngerok bawahnya, matiin dulu biar adhem, kerok pakai pisau, nyalain lagi, start lagi. (pantesan lama)
Setelah itu mandi lagi (gerah boo…), langsung naik motor berangkat ke stasiun bekasi. Rencana ke senen naik kereta –KRL. Jarak stasiun bekasi dari rumah, sekitar berapa ya, mungkin tigapuluh kilo, pokoknya hampir satu jam perjalanan. Itung sendiri deh, speedo meter mati soalnya. Lagi pula gak penting-penting amat lah ngitung jarak Cikarang-Bekasi, ini kan mau cerita soal pelatihan ‘cara EDAN menjadi penulis hebat’ yang digawangi mas Jonru cs.
Tas Sal penuh banget, biar dikira jagoan pemikir, selalu bawa buku banyak-banyak. Seperti keledai yang gila hormat. Baca aja gak bisa tapi selalu naruh buku dipunggung bawa kemana-mana. Biar dikira pinter. Tapi, Sal bukan keledai loh. Sal pinter baca koq, swear!
Sampai Stasiun pas banget jam keberangkatan kereta. KRL semi ekonomi, tiket goceng. Sepanjang perjalanan, sal baca novel ‘cintamu seluas samudra’nya Gola Gong. (ups, corry banget Lita, on writing-stephen king belum kesentuh sama sekali. Habisnya, jiwa Sal sedang melankolis banget nih. Pengin yang romance-romance gitu). Asyik baca, tahu-tahu sudah sampai senen. Stasiun loh, bukan terminal. Tar nyasar. Lagi pula mana ada kereta berenti di terminal. Ada-ada saja. Keretanya Lia ini mah. Wah Lia baca ini gak yah. Itu tuh Berliana Saridanti. Kasih tahu dong, suruh baca. Udah capek nulis, kagak disampaiin. Sal pulang kampung nih.
Memang, perjalanan kalau diridhoi Tuhan begini ini nih (direstui isteri juga tentunya), nyaman,nikmat, hepy, tahu-tahun sudah adzan dhuhur begitu turun stasiun senen. Praktis, Sal kan orangnya religi banget. Makanya, langsung nyari musholla, sowan dulu sama yang punya dunia. Jangan sampai telat saat diabsen (qomat), masih lari-larian ambil air wudhlu, bisa kurang pahala. Apalagi sampai diusir, kan repot. Ditolak mertua, cari yang lain. Ditolak trainer, masih banyak mentor lain, tapi, kalau sampai ditolak yang merajai alam ini? Wah, mau lari kemana coba, bumi nolak, langit nolak. Mau ke Pluto, belum ada sumber air ditemukan. Gak kebayang deh.
Selesai sholat, jam duabelas seperempat, sms mas jonru. “Training EDAN jam berapa? – salwangga”, sent. Nyantai sebenar, make sepatu sambil lihat suasana stasiun. “busyet, nih orang pada mudik banyak amat. Emang simpenan di kampung masih menarik buat ditengokin?” batin Sal, usil ya. Emang kalau pulang kampung mesti nengokin simpedes –simpenan perawan desa?- ting-tung-ting-tung, sms dari mas jonru masuk “jam 13” jawabnya singkat. Lansung, Sal bergegas meninggalkan stasiun.
Panas terik, bunyi klakson, debu, brisik kenek metromini cuap-cuap, motor sradak-sruduk, tukang es menggoda tenggorokan (inget, Sal puasa), udah gitu lokasi dimana tuh STMIK Nusa Mandiri sebelah mana, belum tahu. Modal satu-satunya adalah penjelasan teman sekantor, “Jl. Kramat Raya No. 25, Jakarta Pusat dari atrium senen, sonoan dikit. Arah Salemba Raya”, katanya. “dari Atrium deket?” tanya Sal mastiin. “deket, jalan kaki juga nyampe” sahut teman.
Salemba Raya saja belum tahu sebelah mana. Tahunya Atrium doang. Nah, saat seperti ini, Sal sangat bergantung dengan apa yang orang sering sebut “intuisi – feeling – firasat”. Terserah, kamu nyebutnya apa, pokoknya itu.
Jalan kaki menyusuri koridor pinggir jalan yang menghubungkan sepanjang stasiun senen menuju atrium. Nyebrang dua kali lampu merah (perempatan) melintasi halte busway, celingak-celinguk lagi (heran, Sal paling anti nanya-nanya). Akhirnya, Sal ikuti aja kemana kaki melangkah, “masih jam setengah satu”, pikir Sal. “masih aman, nanti kalau waktu udah mendesak, belum ketemu, baru nanya orang” (ya iya lah, masak nanya setan, yang ada malah dijerumuskan).
Dari bawah jalan layang disepanjang jalan keramat raya, menyusuri pinggir jalan (klo ditengah, ketabrak mobil). Yang terlihat hanya kampus BSI- Bina Sarana Informatika, banyak mahasiswa lalu lalang, ada yang masuk toko buku, ada yang Cuma nongkrong. Ngurutin nomor bangunan dari 16 sampai tahu-tahu udah 60. “nah loh, nomor 25-nya mana?” pikir Sal. Terpaksa balik lagi, sampai dua kali klo dilurusin sudah lebih 2 kilo nih jalan, akhirnya nyerah. Sudah jam satu kurang sepuluh. “gawat, bisa terlambat nih kalau begini terus”.
“Permisi mbak, siang. STMIK Nusa Mandiri sebelah mana ya?” manis banget Sal tersenyum menyapa seorang mahasiswi BSI yang lagi nongkrong. Dasarnya memang aura Sal tuh kalem, lembut, menawan, si embak-embak pun antusias nunjukin. (tergantung cara nanya juga kali ya, coba kalau sambil melotot. Bisa-bisa ditimpuk tahu gejrot). “oh, itu mas (tuh kan, Sal dipanggil ‘mas’) seberang jalan” jawab mbak tadi.
Ternyata, insting Sal masih perlu diasah lagi. Dari tadi bolak-balik sampai dua kali, tulisan segedhe itu diseberang jalan koq ya ndak kelihatan. Ini dia, buntut dari rasa sombong dan terlalu pede, tidak mau bertanya. Dengan celana loreng-loreng (sragam ABRI beli di pasar) berkaos warna hitam tulisan INVANTERI gambarnya sniper yang lagi bersiap nembak, Sal melangkahkan kaki setegap mungkin. Menyusuri jalan, semakin jauh berlawanan arah dengan atrium (tahunya atrium doang nih) sasaran yang dituju adalah JEMBATAN PENYEBERANGAN.
Terbawa seragam invanteri gadungan, gengsi kalau harus nyeberang tidak pada tempatnya. Sal bagi tip nih buat pembaca, kalau anda pengin malu menyeberang jalan tidak pada tempatnya, pakailah seragam ABRI, jangan seragam POLISI. Ini berarti, harus balik lagi arah berlawanan barusan ditempuh.
“Gila, berarti mondar-mandir tiga kali nih. Dua kilo seperempat on deh” batin Sal kesal, tapi tetap semangat loh. Ketemu mahasiswi (mahasiswa gak usah dilihatin) di sepanjang jalan, serasa semuanya merhatiin Sal. “nyari siapa pak, ada yang kedapetan narkoba, make, ketangkep main judi, atau mbawa kabur anak orang?” begitu mereka bertanya. “tenang pak, tenang, saya tidak terlibat koq. Jangan dibawa ke markas” sahut satunya lagi. “ssst, ada intel. Jangan gegabah, simpan serapi mungkin” seorang mahasiswa gondrong, jeans belel, sepatu warior bulukan, yang merasa ngantongin ekstasi ketakutan setengah mati. Wajahnya pucat, bersiap ngibrit. Dan…. Ini hanya khayalan Sal aja. Tak usah diterusin.
Kembali ke….
Nyampai juga akhirnya. Lega. Pas masuk pintu gerbang, satpam ngliatin aja. Sal sih cuek, “no business with you. Okay! You, nggak level by me. Pangkat you masih rendah, belum cukup untuk bicara dengan colonel salwangga” dalam hati tapi. Kalau ngomong beneran bisa digebukin orang sekampus.
Masuk loby, dengan gaya khas tahanan kota ngincer jemuran, Sal mencari ruangan 201 tempat training dimulai. “yup, tepat jam 13.00 waktu hape Sal. Ah, ini sih udah bukan saatnya gambling lagi. Mesti langsung ketemu tuh ruangan.
“Siang mas, ruang 201 dimana?” Tanya Sal singkat, padat, tegas, pokoknya jendral Suharto saja kalah berwibawa deh. Penjaga apotik (tuh kan, gimana bisa coba sampai nyasar ke ruangan apotik kampus, saking sradak-sruduknya). “oh, STMIK ya pak, silahkan ke lantai dua. Sudah ada yang standby disana” jawab orang itu ketakutan. Ternyata, para mahasiswa sudah dikontek sama mas jonru, sal akan datang he..he.he..
Begitu naik tangga, ada cewek lagi frustrasi. Duduk ditangga seorang diri sambil megang hape, main sms-an, matanya sayu, kayak habis putus pacaran. Waktu udah mepet masih juga kumat isengnya “dik, jangan sendirian ditempat seperti ini. Nanti kesurupan loh” kata Sal sambil terus menaiki tangga. Sal tak butuh jawaban, ataupun respon, dan emang Sal juga gak pikirin dia mau ngomong apa. Begitu dia noleh, Sal udah sampai lantai atas.
Namanya juga insting, mata sal langsung bertumpu kepada tiga orang yang sedang duduk dibangku kecil. Paling tengah, pake baju kotak-kotak, kayaknya familiar banget. “MAS JONRU!” teriak sal, dalam hati tapi. Duh, seneng juga ketemu sama sang idola, rajanya penulis, sang guru.
“Assalamu’alaikum. Salwangga” kata Sal memperkenalkan diri. Perbincangan singkat pun terjadi. “Belum mulai?” Tanya Sal lagi. “Dua menit lagi” kata mas Jonru. “okey, saya masuk dulu ya” imbuh Sal. Tujuan utamanya mau hunting lokasi. Nyari tempat strategis. Biasanya Sal suka paling belakang pojok. Jangan Tanya kenapa, pokoknya pesen guru spiritual Sal seperti itu.
Setelah nyari tempat, naruh tas, sal keluar ruangan lagi. Nyamperin mas Jonru. Mereka masih bertiga diantaranya dengan mas Epri Tsaqib disebelahnya “mas Epri, selamat atas bukunya ruang lengang telah diterjemahkan ke dalam empat bahasa” Sal membuka pembicaraan. “bentar mas” wajah Sal serius menatap lekat-lekat mata mas Epri, “kayaknya Sal mesti salaman lagi sama mas Epri” lanjut Sal sambil menjabat seakan transfer energi tenaga dalam lewat telapak tangan. “kalau orang suka menulis puisi, aura wajahnya terkesan mistis. Misterius” kata Sal.
Mas Epri hanya tersenyum, mas jonru menimpali “itu juga yang mau aku katakan tadi”. Kami bertiga sama-sama tertawa, kemudian masuk ruangan yang sudah mulai ramai.
Ikhwan Sopa, master trainer EDAN
Epri Abdurrahman Rafi’ alis Epri Tsaqib nama pena-nya, ke depan ambil mik dan mulai bicara. Ada yang ganjil, ruangan yang masih kosong, hanya terisi bagian deretan tengah sampai paling belakang. Termasuk Sal duduk paling pojok kanan belakang. Mengamati situasi.
“Bapak-bapak dan ibu-ibu, agar lebih efisien mohon untuk mengisi bangku depan terlebih dulu” sopan dan kalem mas Epri memberi instruksi. Baru deh, brubut-brubut pada menuhin bangku. Termasuk Sal, tentunya. Tempat idola bagi Sal adalah POJOK. Tak peduli depan atau belakang, yang penting pojok. Biar gampang melihat sekaligus dilihat. Narsis atau percaya diri, terserah pembaca. Yang jelas, selama seasion berlangsung nanti, beberapa kali mata audiens menatap kearah pojok kiri depan, dimana Sal duduk. Kenapa? Ikuti terus tulisan ini.
“kita tidak menunggu yang terlambat, langsung saja kita mulai acara ini. Waktu sangat berharga dan banyak sekali yang akan kita sampaikan” yang bicara ini masih mas Epri. Perkenalan awal, berisi workshop atau pelatihan ini merupakan ide dari mas Jonru dan sudah lama ingi dilaksanakan, hanya saja baru kali ini kesampaian.
Ide awal dari diambilnya tema “cara EDAN menjadi penulis hebat” menurut mas Jonru adalah “saya melihat dari komentar rekan-rekan atas polling kami bagikan beberapa waktu lalu, 36% diantaranya belum pede untuk menulis, mengirim naskah ke penerbit, meskipun sudah belajar teori penulisan. Akhirnya saya mempunyai ide untuk berkolaborasi dengan mas Ikhwan Sopa untuk menyelenggarakan lebih tepatnya memadukan wokshop EDAN dengan kiat-kiat praktis penulisan dari saya” jelasnya.
Disela pembuka oleh moderator – mas Epri Tsaqib, satu dua peserta masih berdatangan, bahkan mas Jonru masih memandu via phone, peserta yang kesasar belum ketemu juga lokasi training. (tuh kan, kalah sama Sal).
Akhirnya, session pertama dimulai, dari arah pintu seorang berambut hitam lurus (kalau putih keriting berarti bule kesasar) langsung berjalan kearah depan dengan tegap, semangat, energik, naruh tas diatas meja, menyalakan proyektor, matiin lampu ruangan, menyiapkan makalah, dan memperkenalkan diri.
“Kemarin malam, saya mendapat telpon. Orang ini tidak menjawab ketika saya Tanya ‘ini siapa?’ tapi langsung bicara ‘hallo, ini pak sofa ya. Yang tukang mbenerin sofa’. ‘ oh, bukan, saya sopa. Pakai ‘P’ bukan ‘F’. diterusin lagi sama orang itu ‘oh, kirain pak sofa, yang tukang reparasi perabot, saya mau bilang kalau sofa dirumah saya rusak. Minta tolong dibenerin’ kata orang itu lagi” kata pak Ikhwan Sopa memulai presentasi. Gimana, pembukaan yang unik bukan? Terbukti audien pun tersenyum walau sejenak. Termasuk Sal tentu saja. Urat ketawa Sal kan belum putus.
Diceritakan oleh trainer bagaimana, perjuangan lepas dari karyawan gajian –departemen accounting sebuah perusahaan- menjadi pembicara public. Dari orang terikat menjadi orang bebas, berjuang, menemukan diri sendiri, melecitkan potensi diri dan akhirnya ketemu, bahwa specialisasinya dalah motivator atau lebih fokus pada membuat orang percaya diri terhadap apa yang akan, sedang, telah, dilakukan.
“Kalau anda mau menjadi penulis hebat, bayangkan dulu saat ini anda sudah hebat. Bagaimana mungkin bisa menjadi hebat, kalau membayangkan saja tidak berani” kata trainer bercelana katun warna biru, berkemeja putih lengan panjang digulung sebatas siku. Sesekali membetulkan letak ikat pinggang hendak melorot. Pengaruh puasa, perut agak kendor.
PT QA Global Komunika, merupakan perusahaan yang didirikan di Jl. Letjen TB. Simatupang Kav. 10 Plaza Aminta Suite 704 Jakarta, atas prakarsa dan hasil jerih payahnya. “Kalau mau bikin PT, harus nangis dulu, menderita dulu, berjuang dulu, tidak segampang itu” kenangnya berbagi dengan peserta. Yang, memang dengan penuh perjuangan dan membangun keyakinan sungguh-sungguh untuk merealisasikan perusahaan ini.
Masalah gagal atau berhasil, itu hanyalah persoalan realitas. Sebagimana trainer simbolikkan dengan sebuah peristiwa -hujan. Berikut tuturnya, “Saat hendak berangkat ke pelatihan ini, ternyata langit mendung, sedangkan anda mengendarai motor. Ditengah perjalanan, hujan turun. hujan ini adalah realitas, kalau anda menyerah anda akan tetap kering dan aman, safe, berhenti ditengah jalan atau kembali pulang” diam sejenak, maju selangkah, tangan mengacungkan spidol kearah audien. “Tetapi, kalau anda terobos hujan ini, maka anda akan basah, namun anda sampai ke tempat ini, pelatihan. Disisi lain, seorang petani, memaknai lain hujan ini. Justru senang dan gembira, tanamannya tersiangi, kenyang, subur, meskipun hujan-hujanan, si petani malah senang. hujan ini, adalah realitas. Tergantung bagaimana anda menyikapinya” tandasnya dengan jelas.
“Realitas, dibangun dari dalam diri dan bersifat konstruktif. Objectnya sama, tetapi kalau cara membangun dari diri masing-masing orang berbeda, hasilnya pun juga berbeda. Tergantung orientasi dan kekuatan kepercayaan diri”.
“Contoh lain lagi ‘smile’ atau senyum. Ada dua macam senyuman, ialah generate dan aseli dari hati. Contoh senyuman generate adalah senyum para teller bank. Meskipun hatinya gondok, sedang ada masalah, tetapi harus senantiasa senyum. Inilah yang dikatakan sebagai senyum professional, generate dari suasana hati yang belum tentu sedang tersenyum. Sedangkan senyum aseli merupakan luapan tanpa basa basi, kalau hatinya gondok, ya kecut senyumnya. Begitu pula sebaliknya”.
“Dalam menulispun juga begitu, tergantung keyakinan dan semangat anda memeliharanya” pesan Ikhwan Sopa.
“sekarang saya Tanya, mbak anie” sambil menunjuk audien yang didadanya tersemat nama anie “seorang penulis, lima tahun lagi menjadi apa?” suasana hening, konsentrasi peserta tertuju pada trainer dan anie.
“jadi tua” dari arah pojok kiri depan terdengar celetukan. Lagi-lagi Sal yang gak bisa nahan mulut, udah tahu lagi serius, ada aja ulahnya. Kontan aja “gerrr” ketawa, perhatian seluruh audien beralih kearah Sal.
“hanya anda yang bisa memprediksinya, bukan orang lain. Dan penulis hebat, anda hebat, ini bisa realita. Tergantung bagaimana anda mewujudkannya” lanjutnya.
Suasana semakin serius, cara membawakan makalah dan cara presentasi master trainer EDAN ini memang layak diacungi jempol. Daya bakar dan daya dobrak terhadap semangat terbukti menghentak. Bagi yang masih apatis, meskipun pelan tapi pasti menyerusup ke dalam hati setiap peserta.
Kita simak secara detail yuk!
Yang harus diperhatikan bila hendak menjadi penulis hebat adalah, setiap diri harus punya target. “Antara anda saat ini, dengan target yang anda tetapkan berarti terbentang ‘jarak’. Nah, apa dan seberapa panjang yang menentukan jarak ini sangat dipengaruhi oleh BELIEFS” katanya sambil memperagakan slide. Kalau sal artikan sih bisa identik dengan “percaya”, namun lebih cenderung ke “yakin (iman)”. Tentu beda dong, antara percaya dengan iman? Hayo, nggak usah bertengkar. Anggap aja sama, beda-beda tipis lah. Cuma soal pemahaman doang koq.
Detilnya sebagai berikut : (ini mulai serius ya, simak dengan benar, ada lima hal tentang beliefs ini. Nanti kalau ada ujian, ndak bisa jawab soal, awas, raportnya bisa merah, uang spp ditahan, uang jajan diskorsing)
Pertama, percaya bahwa segala sesuatu “telah diciptakan”. Apa yang manusia inginkan, bahannya sudah ada dan tinggal nyomot saja.
“ingat teori big bang” kata Ikhwan Sopa memberikan jawaban atas pertanyaan pesertaan peserta tentang rasa percaya diri. “Alam ini, jagat raya ini, terbentuk dari sebuah atom, meledak –bang- menjadi besar, pecah lagi, terurai lagi, menjadi batu, pohon, meja, manusia, air, tanah, langit-langit, atap, motor, mobil. Hingga nanti saat kiamat, semua yang terbentang ini, akan diraup kembali menjadi asalnya. Sebuah atom. Jadi, kita semua ini asalnya sama, pemiliknya sama, dan akan kembali ke tempat yang sama. Tidak ada yang tidak mungkin”
diuraikan pula, apapun yang manusia inginkan semua sudah ter’built’in di dalam diri. Mau jadi dokter, sudah disediakan, mau jadi tukang kayu, orang kaya, penulis, pengusaha. Tuhan sudah menyediakan dalam garis dan suratan ‘Takdir’-Nya. Manusia tinggal nyari saja. Tinggal bagaimana usaha dan rasa percaya yang dilakukan, tentunya dengan diimbangi doa dan berserah diri pada ketentuan yang Maha Kuasa. Ikhlas, adalah pencapaian tertinggi yang dapat dirasakan oleh manusia. Kalau sudah terpatri rasa ini, maka segala keraguan, segala kebimbangan, segala ke-kurang pede-an, lenyap. “bahkan setan saja takut untuk menggoda” kata trainer membuat peserta semakin terpaku.
Saat hening sejenak itulah, lagi-lagi terdengar celetukan dari pojok kiri depan “apalagi manusia!”. Gerrr lagi. Memang Sal, suka nyeletuk yang gak perlu. Suka cari perhatian sih ni anak. (koq anak, kakek kaleeee)
Memang, untuk memulai segala sesuatu, untuk banting kemudi dari rutinitas kehidupan dijalani, untuk menjadi diri sendiri seutuhnya, yang bebas dan sesuai dengan karakter diri, kendala utama adalah “rasa percaya diri”. Dan, workshop atau pelatihan EDAN memang tugasnya. Untuk itulah, mas Jonru menggandeng Ikhwan Sopa untuk menambah rasa percaya diri para penulis dan calon penulis.
Beliefs yang kedua, segala sesuatu diciptakan dua kali. Tahab pertama adalah dalam konsep, ide, imaginasi, visi, impian, pikiran. Tahab kedua adalah dalam tindakan dan kejadian nyata. Dijelaskan lebih detail lagi beserta contoh, bagaimana sebuah mobil diciptkan. Tentulah dalam konsep dulu, bentuk, warna, kekuatan, bahan, setelah siap baru diactulalisasikan menjadi mobil yang seperti anda lihat.
Dalam dunia tulisan juga begitu, untuk menjadi penulis hebat pertama yang harus dilakukan adalah dalam konsep dulu, dalam imaginasi, dalam impian. Baru kemudian dicari cara bagaimana agar bisa direalisasikan. Caranya, paling utama adalah pupuk dulu rasa percaya diri, baru kemudian teori dipelajari, belajar diperbanyak, membaca digiatkan, dan, paling penting latihan menulis harus lebih diintensifkan.
Setiap manusia bisa sukses, hanya saja harus tahu rahasianya (beliefs ketiga).
anda adalah juara 1 dari 6 milyar. Siapa yang melarang jika anda mendeklarasikan “saya adalah penyanyi terbaik, kala saya menyanyi di kamar mandi. Saya adalah laki-laki paling tampan diantara seribu wanita” sah-sah saja. Hanya, jangan diekspose diluar. Hal ini dilakukan untuk memupuk rasa percaya diri.
anda siap tempur. Setiap manusia adalah laskar pasukan berani mati (karena setiap manusia pasti mati). Ini, artinya bahwa setiap usaha yang dilakukan harus benar-benar semaksimal mungkin, karena pada prinsipnya hanya kita sendiri yang mengerti apa yang terbaik yang kita rasakan. Kalau sudah jelas-jelas hidup ini cepat atau lambat pasti berakhir, tidak ada alasan lagi untuk “tidak segera mewujudkan impian anda menjadi penulis hebat”.
anda sukses detik ini juga. Sukses memang terletak di “rasa” bukan pikiran. Penting ditekankan dalam diri, bahwa anda sukses sejak langkah awal dimana anda mulai. Ingat kembali seorang maling yang mengulangi terus perbuatannya, karena merasa sukses. Begitu pun anda, penulis hebat, akan terus terpacu untuk berlatih bila rasa sukses ini selalu ada. Ditolak penerbit, berarti sukses telah berani mengirimkan naskah, dikritik penulis terkenal, berarti sukses telah mengambil tindakan untuk publikasi naskah. Ciptakan “realitas” dengan sudut pandang yang memacu semangat. Jangan malah melemahkan. Ingat kembali filosofi “hujan” dari sudut pandang anda yang hendak berangkat pelatihan dan dari segi petani.
untuk sukses, sukseskan dulu diluar diri anda. Maksudnya begini, kalau mau menulis, ya menulis saja. Yang penting berani dulu, sedikit demi sedikit sukseskan tulisan anda. Baru, setelah tulisan sukses, otomatis andapun sebagai penulis akan ikut sukses.
anda tidak sendiri. Fungsikan tangan, mulut, telinga, mata, kaki, otak, sebagai alat. Semuanya bermuara di “rasa” atau “hati”. tekankan bahwa “nothing to loose” menjadi konsep “ikhlas” untuk mendasari segala perbuatan. Jangan justeru terpaku pada otak sehingga malah diperalat oleh otak. Yang dimaksud “anda tidak sendiri” disini, adalah, fungsikan “diri kita” sebagai sebuah system. Jangan “tangan” suruh bekerja sendiri, “otak, telinga”, tetapi, fungsikan sebagaimana satu kesatuan yagn saling terkait dan bekerjasama. Ingat, anda bukan sendiri, masih ada Tuhan.
Keempat, sukses ada rumus pastinya. Yaitu, (1) berfikir dengan cara tertentu dan (2) bertindak dengan cara tertentu.
Sebagimana dikutip oleh Ikhwan Sopa dari perkataan Jimron. (jimron ini adalah guru dari pada Antony Robbins. Antony Robbins adalah public speaker alias motivator nomor satu didunia. Tung Desem Waringin juga belajar dari Tony Robbin, disamping Robert T Kiyosaki, dan juga sederetan public speaker level dunia lainnya). “bekerjalah lebih keras terhadap diri anda sendiri, daripada terhadap apa yang anda lakukan”.
Kalimat ini bisa ditafsirkan, yang seharusnya ditundukkan terlebih dulu (diperangi dengan keras) mestinya diri sendiri, lenyapkan ketakutan, perkecil rasa minder, selalu berpegang bahwa ada kekuatan yang serba MAHA tempat kita bersandar. Boleh bekerja keras mewujudkan diri menjadi penulis hebat, tiap hari berlatih sampai jari kapalan terlalu lama mencet keyboard komputer. Tapi, kalu diri masih belum digembleng, mindset masih belum benar, jarak antara target dengan diri anda saat ini tetap saja terbentang.
Kelima, sukses menuntut perubahan. “Siapapun anda yang ‘ideal’ bukan anda detik ini” kata Ikhwan Sopa. Memang benar, kalau sudah merasa ideal, ngapain juga bermimpi menjadi penulis hebat. Sosok ideal, pasti selalu didepan.
“pemicu terbesar perubahan adalah ‘perasaan’ bukan pikiran” tandas sang master trainer. Hal ini pun pernah sal baca pada buku quantum ikhlas karya Erbe Sentanu (baca sendiri deh bukunya, capek kalau sal mesti nulis juga, pembahasan tentang ikhlas sangat panjang soalnya). Apa yang diucapkan Ikhwan Sopa lebih identik dengan –jangan jadikan pikiranmu menjadi raja atas dirimu, tetapi, kelola dengan benar perasaan yang ada dalam dada. Bagaimanapun juga ada sebuah titik pasrah yang namanya ‘God Spot’ yang selalu membimbing manusia kepada intuisi yang bersandarkan pada ‘sandaran vertikal’. (Nah loh, apa lagi tuh sandaran vertikal. Religi, ketuhanan, gitu aja ndak tahu. Kalau ada yang atheis sih pantas saja kalau ndak ngerti. Sorry, jangan marah. Sal kan suka becanda).
Lebih lanjut lagi dijabarkan, tentang perasaan ini harus positif, perasaan positif berjumlah lebih dari 200. Seperti, senang, gembira, suka, berani, sayang, cinta, … (terusin sendiri deh, capek mesti nulis sampai duaratus). Dan, PERCAYA DIRI dapat menarik 199 perasaan positif lainnya. (makanya, setelah baca tulisan Sal ini langsung bikin nasi kuning ganti nama menjadi –percaya diri- panggilannya –caya- baguskan?)
Keenam, sukses ditentukan oleh rasa percaya diri. “gimana mau percaya diri, ngebayangin jadi penulis sukses saja gak berani” ledek Ikhwan Sopa saat ada peserta yang tidak tahu mau membayangkan seperti apa penulis hebat itu.
Lebih jauh disinggung oleh pembicara bahwa, ada paradigma lama tentang percaya diri adalah hasil dan akibat. Ia berpendapat tentang paradigma baru bahwa percaya diri merupakan “benih” dan “sebab”. Karena dengan rasa percaya diri yang tinggi, akan lebih mudah menarik energi positif dari perasaan lainnya. Kalau energi positif sudah kuat, maka pancaran perasaan negatif tidak akan berdaya meracuni semangat untuk berubah menjadi sukses.
Dalam saat-saat terakhir, si master trainer EDAN berpesan, “syarat sukses itu susah” katanya sambil mengenang perkataan seorang teman terhadap dirinya. “kamu kalau mau mendirikan PT Global Komunika, tidak segampang yang kamu impikan. Harus sampai nangis dulu! Galau, sakit, resah, luar bisa penat. Hal ini memang harus terjadi sebagai ajang pembersihan diri dari rasa takut dan kurang percaya diri” sharingnya.
Simak pula motivasiya mengenai gaya penulisan, “Setiap diri adalah unique, tidak ada yang bisa meniru (duplicate). Sehingga, kalau anda menjadi penulis hebat, tidak mungkin ada yang menyamai ‘gaya’ anda. Meskipun pada awalnya anda terpengaruh pada seorang penulis idola anda, lambat laun, karakter diri anda akan muncul juga. Ingat, percaya diri itu terletak di RASA bukan PIKIRAN. Mulai dari sekarang, mainkan perasaan anda pada mindset yang benar. Manusia diciptakan untuk kreatife bukan untuk kompetitif.”
Terakhir, sebelum pamitan. Master trainer EDAN berpesan. Agar lebih intensif lagi dalam pengembangan “RASA PERCAYA DIRI” untuk dapat mengikuti workshopnya selama dua hari full pada tanggal 25 dan 26 oktober. Waktu dua jam terlalu sangat singkat dan tidak mungkin untuk menyampaikan semua materi yang terlalu banyak.
Okey, itu saja sharing dari Sal. Terakhir pada session pertama sebelum break sholat ashar ini sal lampirkan apa itu singkatan EDAN. Ialah, Energy, Dignity, Anticipation, Nothing to Lose.
Juga ada syair lagu dalam bahasa bule : it’s my life/It’s now or never/ I ain’t gonna live forever/I’m a life/ It’s my life… my heart is like an open highway/ like Frankie said I did it my way/ I just wanna live while I’m alive/IT’S MY LIFE!!! (kampret, gue kagak ngarti artinya apa nih tulisan, bantuin dong!)
Jonru in Action
“Baiklah, terima kasih atas kesediaan teman-teman untuk terus mengikuti pelatihan ini. Setelah tadi kita mendapatkan rasa percaya diri begitu meningkat karena pak Ikhwan Sopa begitu membakar, sekarang, giliran mas Jonru menyampaikan bagaimana kiat jitu menjadi penulis hebat” kata Epri Tsaqib kembali membuka session setelah break sholat ashar.
Untuk pembaca yang belum pernah ketemu langsung dengan mas Epri, sayang banget loh. Orangnya tuh kalem, lembut, sopan, bersahaja. Type suami idaman, seperti Sal. Dan, ada jenggotnya dikit. Kayak Tukul Arwana. Ups, koq malah ngomongin jenggot sih. Baiklah kita simak saja session kedua dari mas Jonru.
Sekitar jam setengah empat saat founder penulis lepas ini maju menyampaikan presentasi. Slide pertama ditayangkan gambar Andrea Hirata (mirip banget sama Salwangga) diatasnya bertuliskan “APA YANG SAYA PUNYAI, TETAPI TIDAK ADA PADA ANDREA HIRATA”.
Audiens mengacungkan tangan satu persatu. “tulisan saya berhasil dimuat harian kompas, meskipun sekali, Andrea Hirata belum!” suara peserta dari arah belakang. Hebat, rasa percaya diri memang sudah terbakar.
“Saya menulis cerpen dengan gaya saya sendiri, dan Andrea Hirata tidak bisa meniru saya” teriak seorang ibu muda (kenapa mesti pakai –muda- sih, emang kalau tua kenapa?) yang mengenakan kebaya hijau. Pede-nya tak kalah sama bapak-bapak yang pertama tadi.
“Saya mas Jonru” teriak si botak dari arah pojok kiri depan, siapa lagi kalau bukan Sal. “Saya sudah punya uban, Andrea Hirata Belum” gerrr… audien sih ketawa. Tapi, “itu sih tidak ada hubungannya sama penulisan!” kata mas Jonru menyembunyikan ‘sewot’ (pembaca jangan ikutan sewot ya, bagi yang sewot dilarang baca tulisan ini).
Selain dipajang foto Andrea Hirata yang mendadak beken dan milyarder seketika setelah tetralogi laskar pelangi laris dipasaran, juga ditampilkan foto kang Abik nama singkat dari Habiburrahman El Shirazy, bapaknya yang melahirkan (baru ini, ada bapak melahirkan) novel ayat-ayat cinta yang fenomenal itu. Pertanyaannya pun sama “apa yang saya punyai, tetapi tidak ada pada kang Abik. Sal mau nyeletuk lagi, Cuma tertahan dalam hati. coba tebak, Sal mau ngomong apa. Kali ini tidak perlu ditulis deh.
Interaksi antara Jonru dengan peserta pelatihan cukup antusias. Satu persatu dijelaskan mengenai kiat jitu tersebut. Mau tahu, simak ya.
menulis bebas. Deskripsinya adalah (1) otak kanan dulu, batu orak kiri (bagi yang tidak punya otak, boleh pinjem otak kera. Masih satu ordo koq he..eh..he…); (2) tuangkan seluruh ide dan isi pikiran anda secara bebas, sesuka anda, semau anda; (3) hilangkan semua beban pikiran yang membuat anda macet dalam menulis; (4) jangan diedit/direvisi sebelum tulisan selesai.
rutin menulis. Dijelaskan oleh mas Jonru disini bahwa (1) practice make perfect; (2) menulis sama seperti menyetir mobil, semakin sering praktek akan semakin mahir; (3) tulislah apa yang anda lihat, rasakan, pikirkan. Pulang kantor ketemu copet, tulis. Dijalan ada cewek celananya sobek, tulis. Dst. (4) semakin rajin menulis, semakin banyak ide yang datang. Biasanya kalau sudah mulai menulis maka ide itu akan datang dengan sendirinya, mengalir begitu saja; (5) gunakan media apa saja dalam menulis, jangan terpaku pada media tertentu, bisa blog, buku harian, handphone, buku tulis,dst.
menulis itu gampang. (1) jangan dibebani oleh teori sastra, teori penulisan, kiat penulisan, dst.( Sampai disini, sal sempat terpikirkan, trus, apa gunanya pelatihan dan kiat praktis yang diberikan ini kalau tidak boleh dipikirkan. Otomatis, kalau kita mikirin nih pelatihan, dan juga ndengerin apa yang mas Jonru sampaikan. Kan beban juga akhrinya. Tapi, hanya dalam hati sal aja sih); (2) menulislah semampu anda, teori/kiat bisa dipelajari sambil jalan. (wah, bisa nubruk angkot mas, kalau jalan sambil baca makalah); (3) tugas penuils adalah menulis, teori itu urusan para pengamat. Jadi mau salah kek, mau pakai gaya nungging kek, jongkok, berdiri, lari, ortodoks, terusin aja. Kekurangan dan kelebihan serahin sama pengamat; (4) menulislah berdasarkan passion anda.
banyak membaca. Tak perlu dijabarkan, membaca memang kegiatan wajib seorang penulis, makanan pokok. “jenis bacaan kita akan sangat berpengaruh terhadap jenis tulisan yang kita hasilkan” kata mas Jonru. “makanya, jangan sering-sering baca cerita stensilan. Nanti anda akan ketularan bikin cerita bokep” kalau ini kata Sal loh, dalam hati tapi.
Setelah menjabarkan panjang kali lebar kali tinggi dibagi sisi-sinya (emang jajaran genjang) , disertai interaksi dan contoh-contoh dengan komputer langsung, bagaimana judul yang menarik, pemilihan tema, membangun paragraph, dsb. Dilanjutkan dengan bahasan santai, ngobrol-ngobrol, sharing, dan masih banyak lagi perbincangan bermutu seputar penulisan. Untuk menuliskan disini, Sal udah lupa. Sorry ya…. Makanya, ikutan klo ada pelatihan lagi.
Sharing dari mas Jonru, bagaimana ia menemukan karakter denga rasa percaya diri begitu meningkat setelah diundang untuk mengikuti pelatihan workwhop EDAN–nya Ikhwan Sopa secara gratis (kapan giliran Sal nih) selama dua hari. Ternyata sang founder penulis lepas.com sekaligus pemilik beberapa web terlaris (belajarmenulis.com, sekolah menulis online. Com versus google search engine ini menemukenali dirinya sebagai seorang creator.
Ditambah lagi keahlian dibidang IT yang dimilikinya semakin menunjang hobbynya otak-atik web design. Dan, memang begitu kesepuluh jemari terampil sang founder ini menari diatas keyboard, maka terlahirlah web-web design yang cantik dan cepat populer. Coba saya check di situs-situ pencarian dengan key “penulis lepas” pastilah nama situs penulislepas dot com milik Jonru terpampang di urutan nomor satu.
Atau juga, coba key nya anda ganti dengan “penulis”, yang muncul paling atas juga nama Jonru, bukan Andrea Hirata, bukan Kang Abik. Ini berarti, nama Jonru sudah dikenal dikalangan per-internet-an. Ini yang membuat ia semakin pede abis menggeluti dunia bisnis sekaligus menjadi hobby.
Session Tanya jawab berlangsung seru. Ketika masih ada sedikit waktu, kami para peserta training dibagikan kertas kosong untuk langsung mempraktekkan “gaya menulis bebas” sekaligus mencoba kiat-kiat yang telah diajarkan.
Trik ini ternyata jitu, dan belum pernah ada dalam pelatihan penulisan yang lain. Terbukti, waktu 15 menit yang diberikan begitu cukup untuk melahirkan beragam tulisan dari seluruh peserta. “untuk kedepannya, saya akan menerapkan latihan menulis dalam pelatihan berikutnya” tegas Jonru.
Sal sendiri merasakan, saat menuangkan apa yang ada dalam pikiran tidak membutuhkan waktu lama. Begitu disodorkan kertas, langsung menuliskan apa yang ada dibenak. Mengalir begitu saja. Dari limabelas menit disediakan, cukup hanya dua belas menit kertas kosong itu telah penuh dengan tulisan, bolak-balik.
Mau tahu, apa yang Sal tuliskan?
Waduh, lupa. Kertasnya ada di mas Jonru sih, he..he..he.. Tetapi, tidak jauh dari makalah koq. Dan, tulisan itu mengalir begitu saja. Sal berharap, perasaan seperti ini (percaya diri tinggi, dan gampang menuliskan pikiran) akan terbawa terus sampai rumah dan seterusnya. Bukan hanya pada saat pelatihan ini saja. Begitu melangkah pintu keluar ruangan sudah lupa lagi.
Sungguh, baru kali ini, Sal merasakan rasa percaya diri bahwa “Gue bisa nulis” yang selama ini naik turun (lebih banyak downnya tapi), bertambah tinggi dan semakin melejit. Tak sabar ingin segera mewujudkan impian menjadi penulis hebat setelah mengikuti pelatihan “Cara E D A N Menjadi Penulis Hebat” ini. Terimakasih kepada ketiga orang -Jonru (Penulislepas.com), Ikhwan Sopa (PT. QA Global Komunika), dilengkapi dengan kehadiran penulis kumpulan puisi “Ruang Lengang” yang telah diterjemahkan ke dalam empat bahasa – Epri Abdurrahman Rafi’ alis Epri Tsaqib yang telah berbagi ilmunya dengan menyelenggarakan acara ini.
Semoga, acara seperti ini bisa mendorong lahirnya penulis-penulis pemula hingga akhirnya bangsa ini tidak dipenuhi oleh –meminjam istilah Taufik Ismail- generasi rabun baca tumpul menulis.
Begitu acara ditutup, dari 32 peserta yang 95% muslim mendapatkan hidangan pembuka puasa snack ‘makan’ nasi kotak gratis dengan lauk ayam goreng, tumis wortel campur jagung muda (ada sawinya juga, pokoknya sayur deh). Antara guru dan peserta training makan bareng dalam satu ruangan. Bagi yang masih penasaran masih bisa berbincang dan sharing. Sayang sekali, rumah Sal jauh mesti ke bekasi. Sehingga mesti buru-buru pulang atau ketinggalan kereta.
Kamis, 25 September 2008
Selasa, 23 September 2008
nulis bebas lagi
Pernah ku bicara tentang cinta, namun kau anggap hal yang biasa. Seolah tiada hal yang peduli lagi. Jauh sudah kau banyak berubah. segala cara tlah kucoba untuk pahamikan sikapmu. percuma rasanya bertahan dengan segala kesetyaanku. Bagai air di daun talas mana mungkin cinta kan terbalas, buat apa, dan, percuma saja bila bersama tak bersa tak pernah bersatu. jalan terbaik kita berpisah.
Wah, ternyata aku ini melankolis juga. Romantis, gitu loh, lebih tepatnya. Bagaimana tidak, aku yang notabene pernah menyandang sabuk coklat beladiri kempo jebolan gelanggang mahasiswa ugm bulak sumu jogjakarta. Eh, suka lama kirey dengan lagu judul bagai air di daunt alas.
But, itulah salah satu sisi hidupku. Terlalu komplek. Satu sore aku begitu mendayu-dayu dengan rayuan maut yang bisa menggoyahkan siapa saja. Dan soal rayuan maut ini, bukan Cuma sekali dua kali aku buktikan. Seandanya saja, ada pembaca blog pribadi ini yang kebetulan pernah merasakan “xxxxx” gara-gara ulahku. Wah, malunya tak ketulungan. Tapi, masih mending malu di dunia ini, hanya manusia yang mencibir, hanya setan yang menertawakan. Daripada, di akherat nanti justru malaikan dan bahkan Tuhan yang tak mau memandangku. Atau bahkan sang rasul saw pun tak mau mengakui keumatanku.
Pagi ini, aku datang kantor lumayan pagi. Jam setengah tuhuh. Waw, rekor terpagi tentunya. Setelah secara minggu-minggu kemarin aku datang bisa jam sebelas siang baru nongol di pintu kantor. itupun bukan langsung pegang laporang dan kontrol system sap di kantor. malah, nyalain komputer, stel musik. Dan, pasti lagu perdana yang kudengar adalah padi dengan sang penghiburnya. Tahu kan lagu ini?
Salah satu baitnya aku sukai adalah “bukankah hidup ada perhentian, tak harus kencang terus berlari, kuhelakan nafas panjang, tuk siang berlari kembali”. Begitu meresap dan menjiwai. Mebakar semangat sekaligus menyadarkan bahwa manusia masih perlu istirahat agar selalu fresh.intinya, yang aku tangkap sih, perlu keseimbangan. Itu saja. Untuk aplikasi penyelaman makna yang lain lagi, ada pada bait pertama.
Simak deh, “setiap perkataan yang menjatuhkan, tak lagi ku dengar dengan sungguh. Juga tutur kata yang mencela tak lagi kucerna dalam jiwa. Aku bukanlah seorang yang megerti tentang kelihaian membaca hati. Ku hanya pemimpi kecil yang berangan tuk merubah nasibnya”. Hmm, bukankah manusia itu seharusnya begini. Begitu pula aku, tak usahlah terlalu muluk untuk mendedikasikan diri harus bersinar terang bak matahari. Yang penting, cukup memiliki sinar sendiri, minimal memantulkan sinar terang. Tak perlulah harus menjadi bintang, cukup rembulan yang memantulkan cahaya penerang. Jangan malah kabut malam yagn selalu menyelimutkan ketakutan dalam benak anak-anak.
Komplek. Inilah, kata yang lebih tepat untuk menggambarkan tentang aku. Masih soal rayuan maut akibat dari sisi melankolis dan romantisme diriku. Wuih, diriku. Tadi aku, kadang gue, kadang ane, kadang saya. Tuh kan, komplek pokoknya.
Pada saat awal bekerja (dipindah) ke kantor pusat di bilangan ancol, Jakarta utara. Ya iyalah, namanya ancol itu dijakarta utara. Tak perlulah disebutin. Masak ancol di bekasi. Ngaco. Wah, lagi mau cerita tentang “selingkuh batin”ku malah dengar nugie. Nyanyi dulu ya…
Lama sudah kumencari, apa yang hendak kulalukan. Sgala titik ku jelajahi, tiada satupun kumengerti. Tersesatkah aku disamudra hidup. Kata-kata yang kubaca, terkadang tak mudah ku kenang. Ooooh, bunga-bunga dan rerumputan bilakah kau tahu jawabnya. Inikah jalanku, inikah takdirku. Biarkan ku mengikuti swara dalam hati yang slalu membunyikan cinta… kupercaya dan ku yakini murninya nurani menjadi penunjuk jalanku… lentera jiwaku….oohhhhh yeeaaahhhhh…
Nah kan. Dari segi tulisan ini saja terlihat banget kalau aku tuh labil. Rapuh, eh, tar dulu ya. Klo rapuh kayaknya tidak deh. Hanya kadang-kadang saja sih. Dari mulai nulis asal ketik. Denger lagu ikut nyanyi. Lalu melayang angan ikutin kemana aja suka. Tanpa arah tujuan. Sampai berkali-kali berputar-putar tak karuan.
Oh iya, mau cerita apaan tadi? Hmmmm, nah, selingkuh batin. Ini adalah merupakan satu sisi kejelekanku. Hmmm….. mungkin tar aja kali ya. Dalam kesempatan lain cerita soal beginian. Abisnya, lagu yang terdengan dari pc ku sedang pas banget sih. Tar malah kebongkar semuanya, repot. Lagu apa coba. “main hati” ha..ha..ha..ha… tahu kan penyanyinya. Itu tuh, salwangga and the black born. Artinya apa tuh, asal deh. Pokoknya.
Hhh, kembali aku coba helakan nafas pagi ini. Mendinga cerita pas tadi mau nyeberang jalan aja deh. Gini, begitu mau nyeberang perempatan depan hotel alexis. Lumayan lama banget baru bisa nyeberang. Apa pasar? Begitu aku berdiri di tengah persimpangan. Ditengah loh ya, bukan di pinggir. Klo dipinggir, tar orang pikir lagi ngemis. Atau juga lagi nunggu langganan. Ups, langganan, emang jablay. Kacau.
Aku berdiri ditengah tuh, maksudnya biar ketahuan klo aku mau nyeberang. Tak tahunya, berkali-kali mobil-mobil ngejreng dengan satu penumpang malah menyalakan lampu dim berkali-kali. Begitu pula motor. Gila, tak ada yang mau ngalah. Kasih kesempatan dikit aja denga melambatkan laju kendaraan. Tak mau. Apalagi mengalah. Padahal hanya memberikan kesempatan jalan nyeberang bagi satu pejalan kaki ganteng kayak aku ini. Tak mau! Sungguh terlalu.
Rupanya seperti ini toh, profil pengendara Jakarta. Tak mau sedikitpun membuka jalan untuk orang lain. Pejalan kaki gitu loh. Ini, memang aku sengaja. Aku tunggu sampai benar-benar ada yang mau memberikan jalan. Sabar sedikit dengan melambatkan laju kendaraan. Dan, aku baru mau nyeberang. Satu menit, belum ada juga. Dua menit, eh, lah koq malah lampu dim tanpa henti terus berkedip-kedip. Dari sedan, kijang, ah, sampai jenis mobil apa tak hapal aku. Maklum, orang pinggiran. Biasa naik gerobak, nangkring di punggung kerbau. Tak tahu lah aku jenis-jenis mobil.
Hingga akhirnya lima menit kucoba bersabar dan membuktikan teoriku. “setiap orang apalagi yang sedang berkendara dijalanan, lebih suka menutup orang lain daripada memberi jalan”. Padahal, sudah dijelaskan bahwa, barang siapa menutup rejeki sesame tiada lain dan tiada bukan kecuali dia menutup rejeki sendiri. Kasih kesempatan pejalan kaki buat nyeberang kan juga rejeki?
Akhirnya, tak tahan juga aku menunggu terlalu lama. Ya udah, maju aja. Sambil tatapan mata nyalang, di serem-seremin gitu. Kalau perlu tangan pegang batu diacungin keatas sambil bawa tulisan “hayo, kasih jalan gak. Kalau sampai nyelonong bikin panas, batu siap melayang nih. Siap-siap aja kaca mobil loe pecah” ternyata, cara ini memang berhasil. Terbukti, kalau mau nyeberang jalan tak usah permisi dulu. Langsung aja maju pelan-pelan sedikit demi sedikit. Dengan tetap membiarkan suara klakson motor maupun mobil berdentingan ditelinga kanan kiri.
Tuh, begitu profil pengendara dijalan. Belum lagi saat mau belok kanan bagi sesame pengendara. Misalnya, saat satu arus sama-sama naik motor. Kalau mau motong jalan ke arah kanan. Tentunya kita ngasih lampu sein. Setengah budeg, pastilah kuping ini panas dengar suara klakson dari belakang. Seakan bilang “hoi… awas, jangan belok kanan dulu. Gue dibelakang loe nih” padahal, seharusnya kita ngasih lampu sein tuh mau belok kanan dan mohon diberikan jalan. Eh, malah klaksonan seperti suitan panjang terdengar. Pernah ngalamin gak seperti ini?
Sebenarnya masih pengin nulis sih. Tapi, iwan fals dalam pc mengucapkan “selamat tidur, sayang” lagi pula jam di kantor sudah menunjukkan delapan kurang seperempat. Bentar lagi jam kantor berdentang. Siap-siap dengan rutinitas baru. Apaan tuh? Check system? Kerjain laporan? Kontrol transaksi sap? Wah, tar dulu deh. Kayaknya browsing dulu deh. Mumpung masih duduk di kantor dengan fasilitas internetan gratis. Meskipun banyak yang diblok sih.
Oh iya, soal blokir i-netan ini ternyata untuk akses blog yang di multiply gak bisa juga. Payah. Padahal blog itu banyak yang bagus-bagus loh.
Eh, ini gimana sih. Katanya udahan nulis bebasnya, koq masih berlanjut juga. Ya,siapa yang larang. Nulis mah nulis aja. Gak ada yang larang koq. Lagi pula dengan menulis bebas seperti ini justeru otak tuh lebih fresh, seger. Itung-itung rekreasi jiwa tanpa biaya. Coba kalau ke dufan atau ke pantai marina sewa kapal. Berapa duit tuh buat ngegantiin?
Terserah aku dong, mau nulis apa kek. Curhat, lagu, uneg-uneg. Atau bahkan pisuhan kasar pun suka-suka lah. Toh, dengan nulis ini tak mengganggu orang lain. Kecuali anda yang baca tentunya. Daripada tiba-tiba aku kerasukan mike Tyson, trus main pukul setiap orang aku termui. Gawat kan. Mending kayak gini. Duduk didepan komputer sambil dengerin musik, trus nulise sekenanya. Tak perlu editing, tak perlu sensoring, screening, apalagi meeting. Loh… apa hubungannya.
Begini, saudara-saudara. Dalam menjalani aktivitas sehari-hari, rasa jenuh tak mungkin tak menghinggapi. Kita butuh keluar dari pakem rotasi yang dijalani. Keluar dari jalur rutinintas, maksunya. Gitu aja gak ngerti.
Sebenarnya, apa sih yang menyebabkan rasa bosan? Susah juga menjawab pertanyaan ini. Bosan itu adlaah sebuah kata dengan awalan huruf b dan berakhiran dengan huruf n jumlah hurus ada lima. Huruf tengagnya s. loh, anak teka yang baru mengeja huruf juga tahu, monyong!
o.k. o.k. bosan menururp kamus besar kepala salwangga adalah, suatu kondisi dimana hati ini tak tenang jiwa ini resah dalam beraktivitas seperti biasa. Maksudnya? Ya aktivitas itu kegiatan. Bosan itu pengin keluar dari lingkaran rutinitas. Nah, ketemu juga akhirnya definisi yang pas. Pokoknya ya gitu. Bosan itu is bosan, boring, pengin keluar dari kehidupan. Loh, koq? Penging mati maksunya. Ya iya. Pengin mati. Betul itu. Tapi bukan mati orangnya, melainkan dimatikan sejenak kegiatan rutin yang biasa dilakukan.
Contohnya, gampang. Apa yang aku lakukan ini adalah untuk menghilangakan rasa bosan alias membuat otak fresh seketika. Dan, terbukti. Saat menuliskan bebas, tanpa tema, tanpa koreksi, mau salah kek, mau benar kek, mau nyambung, mau enggak, mau berbobot mau beringan. Terserah saja. Dan, tak perlu dibaca ulang. Kalaupun banyak yang salah eja, salah ketik. Wah, itu berarti karena belum terbiasa saja.
Coba deh, untuk pengetik dengan system sepuluh jari seperti aku ini. Banyak kemungkinan salah ketik. Gak percaya, coba aja baca tulisanku ini, dan hitung berapa huruf yang salah pencet. Satu hurus dihargai seratus perak. Berani? Tapi, maksimal Cuma seratus huruf loh. Karena kalau sampai lebih dari seratus huruf yang salh, itu berarti ketahuan bagnet klo jari-jariku ini tidak mudah dikendalikan. Jangan bilang otakku error ya…. Awas!
Hmm, lumayan kan. Sudah setengah jam berlalu tak berasa. Dan otakku rasanya fresh, seger gitu. Kalau saja anda merasakan sedang puasa, trus saat ini sudah jam lima sore. Atau setengah enem deh, menjelang buka puasa. Nah. Anda kebetulan sedang habis jalan dari kantor. maksudnya anda baru saja pulang kantor dengan berjalan kaki. boro-boro mobil, motor aja gakada. Sepeda aja Cuma minjem, makanya jalan kaki. saat badan setengah letih. Jangan letih banget. Trus, masuk kamar mandi, guyur sepuasnya. Mandi keramas. Seger kan? Nah, seperti itu rasanya otakku saat ini.
Ini berarti menunjukkan klo aku tuh bener-bener punya otak. Terbukti bisa merasakan segernya, gitu loh… he..he..he..
Pas jam delapan. Agnes monika nih. Mau dengerin?
Tertutup sudah pintu
Pintu hatiku
Pernah dibuka untuk hanya untukmu
Kini kau pergi dari hidupku
Ku harus relakanmu
Walau aku tak mau
Berjuta warna pelangi
Didalam hati
Sejenak luluh bergeming
Menjauh pergi
Tak ada lagi
Cahaya suci
Semua pudar beranjak aku terdiam sepi.
Dengarlah matahariku suara tangisanku, kubersedih karena panah cinta menusuk jantungku. Ucapkan matahariku berbisik tentang hidupku. Tentangku yang tak mampu mengatakan cinta.
Oh, berjuta warna pelangi didalam hati. Sejenak luluh bergeming menjauh pergi. Wah, udah kembali ke bait awal.
Asyik juga pagi-pagi datang kantor lebih awal. Nulis sekenanya, sambil dengerin musik. Apa saja yang terlintas dalam kepala, tulis sekenanya, tak perlu ada ejaan yang disempurnakan, tak perlu pake tata karma. Yang penting, tulis dan tuangkan dengan tulisan. Tujuan utama saya adalah melatih kesepuluh jari ini agar tak salah-salah lagi menulis. Dan ternyata, siapa yang mau koreksi hayo……
Gimana nih, terusin gak? Apanya? Nulisnya lah, masak tidur. Hmmm, gimana ya. Pengin berhenti, eh, lagunya bagus nih……
Kau rinduku jiwaku indah memnggil dirimu mataku terbangun untuk menanti menantimu. Jangan pernah kau ragukan cinta yang sesungguhnya itu bisa menghancukan semua buka begitu. aku sungguh masih sayang padamu, jangan sampai kau meninggalkan aku begitu sangat berharga dirimu bagiku. Kan ku pastikan saja dihatimu kan ku korbankan semuanya untukmu sungguh kuberharapkau pun begitu padaku.
Engkau rasakah cinta yang begitu kan mengesankan yang ku pasti dapatkan kemesraan yang penuh bintang…….
Hayooo… lagu apaan tuh yang coba ku ketik????
Udah ah… mau kencing dulu. Kebelet nih….
Wah, ternyata aku ini melankolis juga. Romantis, gitu loh, lebih tepatnya. Bagaimana tidak, aku yang notabene pernah menyandang sabuk coklat beladiri kempo jebolan gelanggang mahasiswa ugm bulak sumu jogjakarta. Eh, suka lama kirey dengan lagu judul bagai air di daunt alas.
But, itulah salah satu sisi hidupku. Terlalu komplek. Satu sore aku begitu mendayu-dayu dengan rayuan maut yang bisa menggoyahkan siapa saja. Dan soal rayuan maut ini, bukan Cuma sekali dua kali aku buktikan. Seandanya saja, ada pembaca blog pribadi ini yang kebetulan pernah merasakan “xxxxx” gara-gara ulahku. Wah, malunya tak ketulungan. Tapi, masih mending malu di dunia ini, hanya manusia yang mencibir, hanya setan yang menertawakan. Daripada, di akherat nanti justru malaikan dan bahkan Tuhan yang tak mau memandangku. Atau bahkan sang rasul saw pun tak mau mengakui keumatanku.
Pagi ini, aku datang kantor lumayan pagi. Jam setengah tuhuh. Waw, rekor terpagi tentunya. Setelah secara minggu-minggu kemarin aku datang bisa jam sebelas siang baru nongol di pintu kantor. itupun bukan langsung pegang laporang dan kontrol system sap di kantor. malah, nyalain komputer, stel musik. Dan, pasti lagu perdana yang kudengar adalah padi dengan sang penghiburnya. Tahu kan lagu ini?
Salah satu baitnya aku sukai adalah “bukankah hidup ada perhentian, tak harus kencang terus berlari, kuhelakan nafas panjang, tuk siang berlari kembali”. Begitu meresap dan menjiwai. Mebakar semangat sekaligus menyadarkan bahwa manusia masih perlu istirahat agar selalu fresh.intinya, yang aku tangkap sih, perlu keseimbangan. Itu saja. Untuk aplikasi penyelaman makna yang lain lagi, ada pada bait pertama.
Simak deh, “setiap perkataan yang menjatuhkan, tak lagi ku dengar dengan sungguh. Juga tutur kata yang mencela tak lagi kucerna dalam jiwa. Aku bukanlah seorang yang megerti tentang kelihaian membaca hati. Ku hanya pemimpi kecil yang berangan tuk merubah nasibnya”. Hmm, bukankah manusia itu seharusnya begini. Begitu pula aku, tak usahlah terlalu muluk untuk mendedikasikan diri harus bersinar terang bak matahari. Yang penting, cukup memiliki sinar sendiri, minimal memantulkan sinar terang. Tak perlulah harus menjadi bintang, cukup rembulan yang memantulkan cahaya penerang. Jangan malah kabut malam yagn selalu menyelimutkan ketakutan dalam benak anak-anak.
Komplek. Inilah, kata yang lebih tepat untuk menggambarkan tentang aku. Masih soal rayuan maut akibat dari sisi melankolis dan romantisme diriku. Wuih, diriku. Tadi aku, kadang gue, kadang ane, kadang saya. Tuh kan, komplek pokoknya.
Pada saat awal bekerja (dipindah) ke kantor pusat di bilangan ancol, Jakarta utara. Ya iyalah, namanya ancol itu dijakarta utara. Tak perlulah disebutin. Masak ancol di bekasi. Ngaco. Wah, lagi mau cerita tentang “selingkuh batin”ku malah dengar nugie. Nyanyi dulu ya…
Lama sudah kumencari, apa yang hendak kulalukan. Sgala titik ku jelajahi, tiada satupun kumengerti. Tersesatkah aku disamudra hidup. Kata-kata yang kubaca, terkadang tak mudah ku kenang. Ooooh, bunga-bunga dan rerumputan bilakah kau tahu jawabnya. Inikah jalanku, inikah takdirku. Biarkan ku mengikuti swara dalam hati yang slalu membunyikan cinta… kupercaya dan ku yakini murninya nurani menjadi penunjuk jalanku… lentera jiwaku….oohhhhh yeeaaahhhhh…
Nah kan. Dari segi tulisan ini saja terlihat banget kalau aku tuh labil. Rapuh, eh, tar dulu ya. Klo rapuh kayaknya tidak deh. Hanya kadang-kadang saja sih. Dari mulai nulis asal ketik. Denger lagu ikut nyanyi. Lalu melayang angan ikutin kemana aja suka. Tanpa arah tujuan. Sampai berkali-kali berputar-putar tak karuan.
Oh iya, mau cerita apaan tadi? Hmmmm, nah, selingkuh batin. Ini adalah merupakan satu sisi kejelekanku. Hmmm….. mungkin tar aja kali ya. Dalam kesempatan lain cerita soal beginian. Abisnya, lagu yang terdengan dari pc ku sedang pas banget sih. Tar malah kebongkar semuanya, repot. Lagu apa coba. “main hati” ha..ha..ha..ha… tahu kan penyanyinya. Itu tuh, salwangga and the black born. Artinya apa tuh, asal deh. Pokoknya.
Hhh, kembali aku coba helakan nafas pagi ini. Mendinga cerita pas tadi mau nyeberang jalan aja deh. Gini, begitu mau nyeberang perempatan depan hotel alexis. Lumayan lama banget baru bisa nyeberang. Apa pasar? Begitu aku berdiri di tengah persimpangan. Ditengah loh ya, bukan di pinggir. Klo dipinggir, tar orang pikir lagi ngemis. Atau juga lagi nunggu langganan. Ups, langganan, emang jablay. Kacau.
Aku berdiri ditengah tuh, maksudnya biar ketahuan klo aku mau nyeberang. Tak tahunya, berkali-kali mobil-mobil ngejreng dengan satu penumpang malah menyalakan lampu dim berkali-kali. Begitu pula motor. Gila, tak ada yang mau ngalah. Kasih kesempatan dikit aja denga melambatkan laju kendaraan. Tak mau. Apalagi mengalah. Padahal hanya memberikan kesempatan jalan nyeberang bagi satu pejalan kaki ganteng kayak aku ini. Tak mau! Sungguh terlalu.
Rupanya seperti ini toh, profil pengendara Jakarta. Tak mau sedikitpun membuka jalan untuk orang lain. Pejalan kaki gitu loh. Ini, memang aku sengaja. Aku tunggu sampai benar-benar ada yang mau memberikan jalan. Sabar sedikit dengan melambatkan laju kendaraan. Dan, aku baru mau nyeberang. Satu menit, belum ada juga. Dua menit, eh, lah koq malah lampu dim tanpa henti terus berkedip-kedip. Dari sedan, kijang, ah, sampai jenis mobil apa tak hapal aku. Maklum, orang pinggiran. Biasa naik gerobak, nangkring di punggung kerbau. Tak tahu lah aku jenis-jenis mobil.
Hingga akhirnya lima menit kucoba bersabar dan membuktikan teoriku. “setiap orang apalagi yang sedang berkendara dijalanan, lebih suka menutup orang lain daripada memberi jalan”. Padahal, sudah dijelaskan bahwa, barang siapa menutup rejeki sesame tiada lain dan tiada bukan kecuali dia menutup rejeki sendiri. Kasih kesempatan pejalan kaki buat nyeberang kan juga rejeki?
Akhirnya, tak tahan juga aku menunggu terlalu lama. Ya udah, maju aja. Sambil tatapan mata nyalang, di serem-seremin gitu. Kalau perlu tangan pegang batu diacungin keatas sambil bawa tulisan “hayo, kasih jalan gak. Kalau sampai nyelonong bikin panas, batu siap melayang nih. Siap-siap aja kaca mobil loe pecah” ternyata, cara ini memang berhasil. Terbukti, kalau mau nyeberang jalan tak usah permisi dulu. Langsung aja maju pelan-pelan sedikit demi sedikit. Dengan tetap membiarkan suara klakson motor maupun mobil berdentingan ditelinga kanan kiri.
Tuh, begitu profil pengendara dijalan. Belum lagi saat mau belok kanan bagi sesame pengendara. Misalnya, saat satu arus sama-sama naik motor. Kalau mau motong jalan ke arah kanan. Tentunya kita ngasih lampu sein. Setengah budeg, pastilah kuping ini panas dengar suara klakson dari belakang. Seakan bilang “hoi… awas, jangan belok kanan dulu. Gue dibelakang loe nih” padahal, seharusnya kita ngasih lampu sein tuh mau belok kanan dan mohon diberikan jalan. Eh, malah klaksonan seperti suitan panjang terdengar. Pernah ngalamin gak seperti ini?
Sebenarnya masih pengin nulis sih. Tapi, iwan fals dalam pc mengucapkan “selamat tidur, sayang” lagi pula jam di kantor sudah menunjukkan delapan kurang seperempat. Bentar lagi jam kantor berdentang. Siap-siap dengan rutinitas baru. Apaan tuh? Check system? Kerjain laporan? Kontrol transaksi sap? Wah, tar dulu deh. Kayaknya browsing dulu deh. Mumpung masih duduk di kantor dengan fasilitas internetan gratis. Meskipun banyak yang diblok sih.
Oh iya, soal blokir i-netan ini ternyata untuk akses blog yang di multiply gak bisa juga. Payah. Padahal blog itu banyak yang bagus-bagus loh.
Eh, ini gimana sih. Katanya udahan nulis bebasnya, koq masih berlanjut juga. Ya,siapa yang larang. Nulis mah nulis aja. Gak ada yang larang koq. Lagi pula dengan menulis bebas seperti ini justeru otak tuh lebih fresh, seger. Itung-itung rekreasi jiwa tanpa biaya. Coba kalau ke dufan atau ke pantai marina sewa kapal. Berapa duit tuh buat ngegantiin?
Terserah aku dong, mau nulis apa kek. Curhat, lagu, uneg-uneg. Atau bahkan pisuhan kasar pun suka-suka lah. Toh, dengan nulis ini tak mengganggu orang lain. Kecuali anda yang baca tentunya. Daripada tiba-tiba aku kerasukan mike Tyson, trus main pukul setiap orang aku termui. Gawat kan. Mending kayak gini. Duduk didepan komputer sambil dengerin musik, trus nulise sekenanya. Tak perlu editing, tak perlu sensoring, screening, apalagi meeting. Loh… apa hubungannya.
Begini, saudara-saudara. Dalam menjalani aktivitas sehari-hari, rasa jenuh tak mungkin tak menghinggapi. Kita butuh keluar dari pakem rotasi yang dijalani. Keluar dari jalur rutinintas, maksunya. Gitu aja gak ngerti.
Sebenarnya, apa sih yang menyebabkan rasa bosan? Susah juga menjawab pertanyaan ini. Bosan itu adlaah sebuah kata dengan awalan huruf b dan berakhiran dengan huruf n jumlah hurus ada lima. Huruf tengagnya s. loh, anak teka yang baru mengeja huruf juga tahu, monyong!
o.k. o.k. bosan menururp kamus besar kepala salwangga adalah, suatu kondisi dimana hati ini tak tenang jiwa ini resah dalam beraktivitas seperti biasa. Maksudnya? Ya aktivitas itu kegiatan. Bosan itu pengin keluar dari lingkaran rutinitas. Nah, ketemu juga akhirnya definisi yang pas. Pokoknya ya gitu. Bosan itu is bosan, boring, pengin keluar dari kehidupan. Loh, koq? Penging mati maksunya. Ya iya. Pengin mati. Betul itu. Tapi bukan mati orangnya, melainkan dimatikan sejenak kegiatan rutin yang biasa dilakukan.
Contohnya, gampang. Apa yang aku lakukan ini adalah untuk menghilangakan rasa bosan alias membuat otak fresh seketika. Dan, terbukti. Saat menuliskan bebas, tanpa tema, tanpa koreksi, mau salah kek, mau benar kek, mau nyambung, mau enggak, mau berbobot mau beringan. Terserah saja. Dan, tak perlu dibaca ulang. Kalaupun banyak yang salah eja, salah ketik. Wah, itu berarti karena belum terbiasa saja.
Coba deh, untuk pengetik dengan system sepuluh jari seperti aku ini. Banyak kemungkinan salah ketik. Gak percaya, coba aja baca tulisanku ini, dan hitung berapa huruf yang salah pencet. Satu hurus dihargai seratus perak. Berani? Tapi, maksimal Cuma seratus huruf loh. Karena kalau sampai lebih dari seratus huruf yang salh, itu berarti ketahuan bagnet klo jari-jariku ini tidak mudah dikendalikan. Jangan bilang otakku error ya…. Awas!
Hmm, lumayan kan. Sudah setengah jam berlalu tak berasa. Dan otakku rasanya fresh, seger gitu. Kalau saja anda merasakan sedang puasa, trus saat ini sudah jam lima sore. Atau setengah enem deh, menjelang buka puasa. Nah. Anda kebetulan sedang habis jalan dari kantor. maksudnya anda baru saja pulang kantor dengan berjalan kaki. boro-boro mobil, motor aja gakada. Sepeda aja Cuma minjem, makanya jalan kaki. saat badan setengah letih. Jangan letih banget. Trus, masuk kamar mandi, guyur sepuasnya. Mandi keramas. Seger kan? Nah, seperti itu rasanya otakku saat ini.
Ini berarti menunjukkan klo aku tuh bener-bener punya otak. Terbukti bisa merasakan segernya, gitu loh… he..he..he..
Pas jam delapan. Agnes monika nih. Mau dengerin?
Tertutup sudah pintu
Pintu hatiku
Pernah dibuka untuk hanya untukmu
Kini kau pergi dari hidupku
Ku harus relakanmu
Walau aku tak mau
Berjuta warna pelangi
Didalam hati
Sejenak luluh bergeming
Menjauh pergi
Tak ada lagi
Cahaya suci
Semua pudar beranjak aku terdiam sepi.
Dengarlah matahariku suara tangisanku, kubersedih karena panah cinta menusuk jantungku. Ucapkan matahariku berbisik tentang hidupku. Tentangku yang tak mampu mengatakan cinta.
Oh, berjuta warna pelangi didalam hati. Sejenak luluh bergeming menjauh pergi. Wah, udah kembali ke bait awal.
Asyik juga pagi-pagi datang kantor lebih awal. Nulis sekenanya, sambil dengerin musik. Apa saja yang terlintas dalam kepala, tulis sekenanya, tak perlu ada ejaan yang disempurnakan, tak perlu pake tata karma. Yang penting, tulis dan tuangkan dengan tulisan. Tujuan utama saya adalah melatih kesepuluh jari ini agar tak salah-salah lagi menulis. Dan ternyata, siapa yang mau koreksi hayo……
Gimana nih, terusin gak? Apanya? Nulisnya lah, masak tidur. Hmmm, gimana ya. Pengin berhenti, eh, lagunya bagus nih……
Kau rinduku jiwaku indah memnggil dirimu mataku terbangun untuk menanti menantimu. Jangan pernah kau ragukan cinta yang sesungguhnya itu bisa menghancukan semua buka begitu. aku sungguh masih sayang padamu, jangan sampai kau meninggalkan aku begitu sangat berharga dirimu bagiku. Kan ku pastikan saja dihatimu kan ku korbankan semuanya untukmu sungguh kuberharapkau pun begitu padaku.
Engkau rasakah cinta yang begitu kan mengesankan yang ku pasti dapatkan kemesraan yang penuh bintang…….
Hayooo… lagu apaan tuh yang coba ku ketik????
Udah ah… mau kencing dulu. Kebelet nih….
Senin, 22 September 2008
ngetik bebas, sekalian curhat
Entah perasaan apa ini namanya, aku sudah terlalu kangen dengan dusun petir, kelurahan srimartani, kecamatan piyungan, kabupaten mbantul. Masih termasuk propinsi yogyakarta. Begitu kuat dan terngiang keinginan ini.
Terbayang, bagaimana aku mencoba mbabat alas ditanah kelahiranku tersebut. Babat alas? Ya, benar. Babat alas. Bagaimana tidak. Aku yang notabene dilahirkan disana, dibesarkan disana, sekolah, mengaji, nyari kayu bakar, bermain gobaq sodor, main pasar-pasaran, main bola, nyuri mangga, nyruri srenthul, bahkan berlaku usil dengan menggodai teman-teman cewek. Sampai cinta monyet, aku disana. Sempat juga menjadi penggerak rismasa, tahu kan rismasa, itu, remaja islam masjid dan mushola.
Bercerita sedikit tentang rismasa, ditempatku persis dusun petir, ada dua masjid. Kalau untuk ukuran Jakarta sih lebih tepat disebut musholla. Entah bagaimana cikal bakal orang tua jaman dulu sehingga kedua tempat itu disebut masjid. Tentulah hal ini mengandung posisi psikologis para tetua, maupun peta religi dengan latar belakang organisasi berbeda. Konon, katanya sih antara nahdlatul ulama versus muhammadiyah. Tapi, tak usahlah saya ingat-ingat masalah ini. Topic lain mungkin bolehlah. Tulisan ini hanya untuk mengorek unek-unek saja.
Serius, aku sangat kangen untuk hidup di jogja, dusun petir itu. Daerah piyungan, namanya. Hanya saja, mesti babad alas kalau mau begitu. semenjak jebol sekolah menengah atas aku langsung kabur ke Jakarta tepatnya daerah bekasi, tempat kakak perempuanku kedua. Numpang makan, pertama-taman. Setelah itu, biasalah, nyari pabrik untuk mencari sekeping rejeki sekedar beli sesuap nasi.
Dari awal bujangan, liar, ngontrak satu petak ramai-ramai, akhirnya tertarik dengan seorang gadis dan melamar hingga akhirnya hidup berdua dalam sebuah kontrakan kecil. Kini telah lebih 14 tahun aku meninggalkan kampung itu. Dusun petir, maksudnya. Bukan berarti los begitu saja, empat belas tahun tidak pernah pulang. Hanya saja setahun sekali minimal-lah pulang untuk sekedar berlebaran. Selama rentan itu lah doktrin-doktrin kehidupan telah meracuni aku. Sehingga selama itu pula (menjadi kuli pabrik) telah mengikat aku dengan rutinitas kehidupan.
Korban ganasnya metropolitan dan pergeseran peradaban. Ini yang aku rasakan. Selama ini aku merasa semakin lengket bergantung dengan sesame makhluk. Tersirat dalam ingatan ini setempelan sticker di meja belajar anak saya yang pertama, kelas lima sd. Apa yang ia tuliskan? Maksudnya, apa yang tertulis dalam sticker itu? “muslim, takut dan harapan hanya kepada allah” nah loh, aku ini seorang muslim. Walau mugnkin masih dikategorikan muslim ktp sekedar untuk administrasi kependudukan. Hanya saja aku benar-benar merasakan jiwa ini juga muslim, pikiran ini juga muslim, tapi, giliran ditanya seberapa jauh dan dalam iman serta keyakinan terhadap ketentuan allah. Aku hanya bisa diam dan geleng kepala dalam hati. Udah geleng kepala, dalam hati pula. Sungguh meragukan.
Satu contoh, tepatnya. Dalam hal rejeki, masih saja aku takut kalau tidak menjadi karyawan seperti ini, lantas, aku mau jadi apa? Profesionalitas, aku ndak merasa mampu. Dokter, tukang ngajar atau guru, pedagang, dan lain-lain. Intinya yang keluar jalur dari selama ini aku lakukan –buruh pabrik- rasanya terlalu takut. Justru rasa takut inilah yang meragukan ke-islaman-ku. Sticker aja bisa bilang –hanya pada allah- tapi, ternyata takutku tidak kebagian rejeki –gaji- lah lebih tepatnyanya malah kepada pabrik dimana aku bekerja.
Oke. Biar ada sedikit penerangan, aku ceritakanlah seberapa parah ketakutanku pada pabrik ini. Dulu, sekitar atahu 1997 lebih tepatnya tanggal 19 februari, aku mengalahkan 25 orang untuk aku singkirkan. Persaingan, ya benar. Persaingan untuk memperebutkan jabatan quality control “field” di departemen –ya quality- tentunya. Masak departemen gudang. Bagi yang belum pernah menginjak paberik sama sekali bolehlah saya ceritakan mengenai beberapa departemen dalam pabrik ini.
Departemen produksi, menangani processing yang akan menghasilkan output. Misalnya pbarik mie, berarti departemen ini menangani langsung pembuatan mie. Komponen didalamnya, berarti, operator – tukang megang mesin, helper – tukang ngisi mie yang jalan diconveyor ke dalam kardus, aja juga yang tukang meletakkan bumbu sachet diatas mie yang jalan diatas conveyor untuk kemudian process selanjutnya pengemasan secara otomatis.
Departemen gudang, ya menangani masalah penyimpanan. Fifo - first in fisrt out- atau dalam keadaan tertentu lifo – last in first out- intinya bagaimana melayani distribusi dalam hal pengiriman ke std – sales to distributor – atau stt - sales to trade. Distributor, berarti gudang antara pabrik – factory- ke pasar atau toko. Kalo trade itu maksudnya pasar. Pokoknya seperti itulah.
Departemen ppic, marketing, accounting, personalia, dsb.
Nah, keduapuluh lima pelamar ini adalah peminat yang mau masuk ke departemen qc –quality control. Yang ditangani adalah laboratorium alias tukang analisa, atau polisinya bahan baku, juga process produksi. Waktu melamar departemen ini, aku ndak tahu apakah hendak diletakkan di analyst atau field nya bahan baku. Yang belakangan akhirnya aku tahu kalau lowongan ini adalah quality field raw material. Singkatnya –qc field rm. Specialisasinya menangani (ngececk) berdasarkan sampling bahan-bahan baku yang hendak masuk.
Karton, etiket, bumbu, minyak bumbu, minyak goreng, terigu, plagban, itu gambaran umum bahan baku membuat mie. Kalau untuk popmie, berarti shrink label, lead seal, garpu lipat, shrink film. Ada lagi tetek bengek lainnya, tapi, hanya sekedar material tambahan. Seperti btm-bahan makanan tambahan- atau disebut juga ingredient. Bahan-bahan seperti inilah yang harus aku check sebelum pembongkaran dilakukan. Urusannya ya, naik turun truk pengangkut, beradepan sama kenek, sopir, kuli bongkar muat, untuk pekerjaan ini. Tapi, karena menyingkirkan duapuluh lima peminat, bangga-lah aku menangani pekerjaan ini.
Akhirnya, tahun demi tahun, mutasi-demi mutasi, ganti atasan, ganti suasana kerja, ganti spesialisasi, terjadi. Hingga posisi terakhir, setelah 3 atau 4 kali pergantian, semenjak tahun 2004, aku pindah ke kantor pusat. Menangani reporting juga analisa data laporan seluruh cabang. Lumayan banyak, ada 16 cabang noodle yang harus aku handle. Praktis, dari yang gaptek menjadi familiar banget dengan yang namanya komputer.
Sementara teman seangkatanku, masih begitu-begitu saja di departemen quality. Aku sudah mentereng (kata mereka) di kantor pusat. Enjoykah? Nikmatkah? Justru inilah pertanyaan batinku yang gundah selalu.
Aku hampir tak tahu lagi sebenarnya apa yang aku cari. Kalau pertanyaan diatas aku jawab dengan “ya” otomatis tak mungkin ada lagi perasaan risau seperti ini. Seperti dikatakan dalam sebuat sajak berjudul “pintu”
Ke pintu
Setelah pertengkaran itu
Seharusnya engkau mengerti
Tapi, malah menjauh
Entahlah, lupa, pokoknya intinya seperti itu. Tafsir dari sajak itu kira-kira “setelah pertengkaran dalam dadaku yang memporak-porandakan ketenteraman jiwa, seharusnya kau tuh sadar dan segera tahu pintu mana yang harus kutuju. Namun, malah semakin jauh. Tak kunjung ketemu pintu itu. Boro-boro pintu, handle pintunya saja tak kelihatan. Copot. Entah siapa yang lebih dulu mencopotnya.
Risau, galau, tak tenang, walau sudah duduk disebuah departemen mapan, pusat lagi. Tapi, perasaanku hanyalah aku yang tahu. Oh, ternyata “rindu kampung” alias pengin hidup dikampung inilah yang membuatnya.
Praktis, saat ini, lilitan hutang koperasi, merasa aman karena kesehatan sudah ada yang nanggung, gaji –bagi saya sih gedhe, relative- tiap bulan dapet, tungjangan transport. Tunjangan makan, pokoknya nyaman lah. Ibarat hidup itu sudah disediakan dan dijamin, hanya tinggal menjalani saja.
Namun, ternyata dalam perasaan yang seharusnya enjoy seperti ini, secara, coba saja bandignkan dengan para gelandangan dan pengangguran yagn masih sibuk nenteng map lusuh kesana kemari, sarjana yang masih kelimpungan belum mampu tapi malu numpang terus sama orang tua, toh katanya sarjana. Aku sebenarnya orang yang sudah semapan-mapannya. Garasi hidup didunia sudah ada. Hanya saja, aku merasakan umurku sudah dikontrak –dibeli dengan kertas segel- oleh pabrik ini. Yah, benar. Umurku telah diborgol oleh pabrik dimana aku bekerja. Kalau mau bebas menggunakan umurku, tunggu sampai pension. Umur 55 tahun. Itupun dengan segala macem perjanjian yang tidak sedikit pasal-pasalnya.
Keinginanku, sebenarnya sederhana. Saat ini, bisa berkiprah untuk berdakwah di kampung kelahiran-dusun petir. Penghasilan seadanyan, mandiri, tidak bergantung kepada orang lain, tidak dikontrak umurnya, tidak dikekang oleh sesame manusia hanya sekedar untuk mendapatkan jaminan “gaji secuil setiap bulan” makan. Apakah, aku ini seorang yang termasuk pemberontak, atau tidak bisa mensyukuri?
Aku kira tidak seperti itu ya, aku hanya sekedar pengin berkiprah, memajukan daerah sendiri setelah sekian lama mencari pengalaman hidup di tanah rantau. Bagaimanapun juga aku menganggap, kebahagiaanku hanya akan terukur dari seberapa banyak aku bisa berbagi. Mengabdi. Ke siapa? Tentu saja kepada tuhan yang telah menciptakan aku. Dalam hal ini, seperti mengenan tahun-tahun semasa usia sekolah. Setiap sore mengajari ngaji anak-anak, ada kemah dakwah, ada pengajian antar kecamatan, ada pembibitan penceramah, kegiatan agustusan, dan sebagainya. Intinya, kegiatan sosial yang bukan didasarkan pada komersial.
Ini, yang aku tidak miliki disini. Meskipun secara ekonomi dan pekerjaan boleh dikatakan mapan. Dikatakan loh ya, kalau mapan itukan relative. Aku tidak punya kegiatan itu. Pembebasan secara moral sosial, ini aku tidak ada. Yang ada justeru semakin tertekan secara psikir, jiwa semakin terbelenggu, kebebasan berekspresi –wuih, kayak anak muda saja berekspresi- tidak punya lagi. Praktis, hidup ini hanya seperti robot yang sudah disetir. Paling tidak semacam kerbau yang sudah ditancapi microprocessor diotakknya dan dikendalikan jarak jauh oleh komponen manusia yang lebih canggih. Mau tidak mau, si kerbau ini harus pecahkan kepalanya dulu untuk ambil microprocessor ini.
Aku, manusia. Harus pula memecahkan kepalaku untuk membebaskan diri dari belenggu ini. Terbebas dari rasa sangat bergantung kepada pabrik –mentang-mentang sudah membayarku- secara total. Bagaimana tidak, sesaat saja, tiga hari misalnya, aku pengin bercengkerama full dengan anak dan keluarga. Pasti harus nungguin setahun sekali. Nunggu libur lebaran. Padahal, seharusnya prioritas utamaku adalah keluarga, anak-anak, kesejahteraan isteri. Tapi, apa?
Huh, terbayang makin kuat dalam imaginasi ini. Nekat-nekatanlah, beli sepuluh kambing dengan cukup dua pejantan sedangkan delapan lagi betina sebagai peranakan. Misalkan satu kambing seharga limaratus ribu, berarti Cuma lima juta. Rasanya berat mau nyisain uang lima juta ini. Sudah terlanjur menjadi manusia konsumtif. Bahkan total tanggungan kartu kredit saja lebih dari limabelas juta. Ini, Cuma sepertiganya. Koq berat.
Ada banyak anak-anak kampung yang bisa aku suruh untuk ngangon kambing dengan system bagi hasil. Dalam artian, bila delapan betina itu beranak, separuh anak itu menjadi milik yang tukang nyari rumput. Hanya tinggal nyediain tempat saja. Sama modal awal tentunya. Urusan kesana sudah tidak perlu lagi mikirin. Taruhlah setiap enam bulan beranak empat, berarti kurun waktu satu tahun sudah punya enambelas kambing.
Kalau aku mulai saat ini, berarti tahun depan, sudah punya minimal duapuluh enam kambing. Itu minimal, pasti lebih soalnya. Tuhan maha tahu, maha kaya, pastilah tak bakalan tinggal diam dalam urusan seperti ini. Intinya, mau usaha, yakin, pasrah, dan berdo’a. tuhan tidak akan tinggal diam. Hanya saja. Sekali lagi, diawal tulisan ini telah aku katakana bahwa, keyakinan alias rasa iman terhadap tuhan lebih banyak dikesampingkan. Soal rejeki saja masih takut, terikat oleh si-paberik tempat bekerja. “nanti, kalau tidak kerja mau makan apa, dapet duit darimana, anak-anak sekolah mau bayar pakai apa” resahku. Ini tidak beralasan sebenarnya, tapi… ahhh…….. sudah sore, besok lagi curhatnya. Keburu nguber kereta untuk pulang.
Terbayang, bagaimana aku mencoba mbabat alas ditanah kelahiranku tersebut. Babat alas? Ya, benar. Babat alas. Bagaimana tidak. Aku yang notabene dilahirkan disana, dibesarkan disana, sekolah, mengaji, nyari kayu bakar, bermain gobaq sodor, main pasar-pasaran, main bola, nyuri mangga, nyruri srenthul, bahkan berlaku usil dengan menggodai teman-teman cewek. Sampai cinta monyet, aku disana. Sempat juga menjadi penggerak rismasa, tahu kan rismasa, itu, remaja islam masjid dan mushola.
Bercerita sedikit tentang rismasa, ditempatku persis dusun petir, ada dua masjid. Kalau untuk ukuran Jakarta sih lebih tepat disebut musholla. Entah bagaimana cikal bakal orang tua jaman dulu sehingga kedua tempat itu disebut masjid. Tentulah hal ini mengandung posisi psikologis para tetua, maupun peta religi dengan latar belakang organisasi berbeda. Konon, katanya sih antara nahdlatul ulama versus muhammadiyah. Tapi, tak usahlah saya ingat-ingat masalah ini. Topic lain mungkin bolehlah. Tulisan ini hanya untuk mengorek unek-unek saja.
Serius, aku sangat kangen untuk hidup di jogja, dusun petir itu. Daerah piyungan, namanya. Hanya saja, mesti babad alas kalau mau begitu. semenjak jebol sekolah menengah atas aku langsung kabur ke Jakarta tepatnya daerah bekasi, tempat kakak perempuanku kedua. Numpang makan, pertama-taman. Setelah itu, biasalah, nyari pabrik untuk mencari sekeping rejeki sekedar beli sesuap nasi.
Dari awal bujangan, liar, ngontrak satu petak ramai-ramai, akhirnya tertarik dengan seorang gadis dan melamar hingga akhirnya hidup berdua dalam sebuah kontrakan kecil. Kini telah lebih 14 tahun aku meninggalkan kampung itu. Dusun petir, maksudnya. Bukan berarti los begitu saja, empat belas tahun tidak pernah pulang. Hanya saja setahun sekali minimal-lah pulang untuk sekedar berlebaran. Selama rentan itu lah doktrin-doktrin kehidupan telah meracuni aku. Sehingga selama itu pula (menjadi kuli pabrik) telah mengikat aku dengan rutinitas kehidupan.
Korban ganasnya metropolitan dan pergeseran peradaban. Ini yang aku rasakan. Selama ini aku merasa semakin lengket bergantung dengan sesame makhluk. Tersirat dalam ingatan ini setempelan sticker di meja belajar anak saya yang pertama, kelas lima sd. Apa yang ia tuliskan? Maksudnya, apa yang tertulis dalam sticker itu? “muslim, takut dan harapan hanya kepada allah” nah loh, aku ini seorang muslim. Walau mugnkin masih dikategorikan muslim ktp sekedar untuk administrasi kependudukan. Hanya saja aku benar-benar merasakan jiwa ini juga muslim, pikiran ini juga muslim, tapi, giliran ditanya seberapa jauh dan dalam iman serta keyakinan terhadap ketentuan allah. Aku hanya bisa diam dan geleng kepala dalam hati. Udah geleng kepala, dalam hati pula. Sungguh meragukan.
Satu contoh, tepatnya. Dalam hal rejeki, masih saja aku takut kalau tidak menjadi karyawan seperti ini, lantas, aku mau jadi apa? Profesionalitas, aku ndak merasa mampu. Dokter, tukang ngajar atau guru, pedagang, dan lain-lain. Intinya yang keluar jalur dari selama ini aku lakukan –buruh pabrik- rasanya terlalu takut. Justru rasa takut inilah yang meragukan ke-islaman-ku. Sticker aja bisa bilang –hanya pada allah- tapi, ternyata takutku tidak kebagian rejeki –gaji- lah lebih tepatnyanya malah kepada pabrik dimana aku bekerja.
Oke. Biar ada sedikit penerangan, aku ceritakanlah seberapa parah ketakutanku pada pabrik ini. Dulu, sekitar atahu 1997 lebih tepatnya tanggal 19 februari, aku mengalahkan 25 orang untuk aku singkirkan. Persaingan, ya benar. Persaingan untuk memperebutkan jabatan quality control “field” di departemen –ya quality- tentunya. Masak departemen gudang. Bagi yang belum pernah menginjak paberik sama sekali bolehlah saya ceritakan mengenai beberapa departemen dalam pabrik ini.
Departemen produksi, menangani processing yang akan menghasilkan output. Misalnya pbarik mie, berarti departemen ini menangani langsung pembuatan mie. Komponen didalamnya, berarti, operator – tukang megang mesin, helper – tukang ngisi mie yang jalan diconveyor ke dalam kardus, aja juga yang tukang meletakkan bumbu sachet diatas mie yang jalan diatas conveyor untuk kemudian process selanjutnya pengemasan secara otomatis.
Departemen gudang, ya menangani masalah penyimpanan. Fifo - first in fisrt out- atau dalam keadaan tertentu lifo – last in first out- intinya bagaimana melayani distribusi dalam hal pengiriman ke std – sales to distributor – atau stt - sales to trade. Distributor, berarti gudang antara pabrik – factory- ke pasar atau toko. Kalo trade itu maksudnya pasar. Pokoknya seperti itulah.
Departemen ppic, marketing, accounting, personalia, dsb.
Nah, keduapuluh lima pelamar ini adalah peminat yang mau masuk ke departemen qc –quality control. Yang ditangani adalah laboratorium alias tukang analisa, atau polisinya bahan baku, juga process produksi. Waktu melamar departemen ini, aku ndak tahu apakah hendak diletakkan di analyst atau field nya bahan baku. Yang belakangan akhirnya aku tahu kalau lowongan ini adalah quality field raw material. Singkatnya –qc field rm. Specialisasinya menangani (ngececk) berdasarkan sampling bahan-bahan baku yang hendak masuk.
Karton, etiket, bumbu, minyak bumbu, minyak goreng, terigu, plagban, itu gambaran umum bahan baku membuat mie. Kalau untuk popmie, berarti shrink label, lead seal, garpu lipat, shrink film. Ada lagi tetek bengek lainnya, tapi, hanya sekedar material tambahan. Seperti btm-bahan makanan tambahan- atau disebut juga ingredient. Bahan-bahan seperti inilah yang harus aku check sebelum pembongkaran dilakukan. Urusannya ya, naik turun truk pengangkut, beradepan sama kenek, sopir, kuli bongkar muat, untuk pekerjaan ini. Tapi, karena menyingkirkan duapuluh lima peminat, bangga-lah aku menangani pekerjaan ini.
Akhirnya, tahun demi tahun, mutasi-demi mutasi, ganti atasan, ganti suasana kerja, ganti spesialisasi, terjadi. Hingga posisi terakhir, setelah 3 atau 4 kali pergantian, semenjak tahun 2004, aku pindah ke kantor pusat. Menangani reporting juga analisa data laporan seluruh cabang. Lumayan banyak, ada 16 cabang noodle yang harus aku handle. Praktis, dari yang gaptek menjadi familiar banget dengan yang namanya komputer.
Sementara teman seangkatanku, masih begitu-begitu saja di departemen quality. Aku sudah mentereng (kata mereka) di kantor pusat. Enjoykah? Nikmatkah? Justru inilah pertanyaan batinku yang gundah selalu.
Aku hampir tak tahu lagi sebenarnya apa yang aku cari. Kalau pertanyaan diatas aku jawab dengan “ya” otomatis tak mungkin ada lagi perasaan risau seperti ini. Seperti dikatakan dalam sebuat sajak berjudul “pintu”
Ke pintu
Setelah pertengkaran itu
Seharusnya engkau mengerti
Tapi, malah menjauh
Entahlah, lupa, pokoknya intinya seperti itu. Tafsir dari sajak itu kira-kira “setelah pertengkaran dalam dadaku yang memporak-porandakan ketenteraman jiwa, seharusnya kau tuh sadar dan segera tahu pintu mana yang harus kutuju. Namun, malah semakin jauh. Tak kunjung ketemu pintu itu. Boro-boro pintu, handle pintunya saja tak kelihatan. Copot. Entah siapa yang lebih dulu mencopotnya.
Risau, galau, tak tenang, walau sudah duduk disebuah departemen mapan, pusat lagi. Tapi, perasaanku hanyalah aku yang tahu. Oh, ternyata “rindu kampung” alias pengin hidup dikampung inilah yang membuatnya.
Praktis, saat ini, lilitan hutang koperasi, merasa aman karena kesehatan sudah ada yang nanggung, gaji –bagi saya sih gedhe, relative- tiap bulan dapet, tungjangan transport. Tunjangan makan, pokoknya nyaman lah. Ibarat hidup itu sudah disediakan dan dijamin, hanya tinggal menjalani saja.
Namun, ternyata dalam perasaan yang seharusnya enjoy seperti ini, secara, coba saja bandignkan dengan para gelandangan dan pengangguran yagn masih sibuk nenteng map lusuh kesana kemari, sarjana yang masih kelimpungan belum mampu tapi malu numpang terus sama orang tua, toh katanya sarjana. Aku sebenarnya orang yang sudah semapan-mapannya. Garasi hidup didunia sudah ada. Hanya saja, aku merasakan umurku sudah dikontrak –dibeli dengan kertas segel- oleh pabrik ini. Yah, benar. Umurku telah diborgol oleh pabrik dimana aku bekerja. Kalau mau bebas menggunakan umurku, tunggu sampai pension. Umur 55 tahun. Itupun dengan segala macem perjanjian yang tidak sedikit pasal-pasalnya.
Keinginanku, sebenarnya sederhana. Saat ini, bisa berkiprah untuk berdakwah di kampung kelahiran-dusun petir. Penghasilan seadanyan, mandiri, tidak bergantung kepada orang lain, tidak dikontrak umurnya, tidak dikekang oleh sesame manusia hanya sekedar untuk mendapatkan jaminan “gaji secuil setiap bulan” makan. Apakah, aku ini seorang yang termasuk pemberontak, atau tidak bisa mensyukuri?
Aku kira tidak seperti itu ya, aku hanya sekedar pengin berkiprah, memajukan daerah sendiri setelah sekian lama mencari pengalaman hidup di tanah rantau. Bagaimanapun juga aku menganggap, kebahagiaanku hanya akan terukur dari seberapa banyak aku bisa berbagi. Mengabdi. Ke siapa? Tentu saja kepada tuhan yang telah menciptakan aku. Dalam hal ini, seperti mengenan tahun-tahun semasa usia sekolah. Setiap sore mengajari ngaji anak-anak, ada kemah dakwah, ada pengajian antar kecamatan, ada pembibitan penceramah, kegiatan agustusan, dan sebagainya. Intinya, kegiatan sosial yang bukan didasarkan pada komersial.
Ini, yang aku tidak miliki disini. Meskipun secara ekonomi dan pekerjaan boleh dikatakan mapan. Dikatakan loh ya, kalau mapan itukan relative. Aku tidak punya kegiatan itu. Pembebasan secara moral sosial, ini aku tidak ada. Yang ada justeru semakin tertekan secara psikir, jiwa semakin terbelenggu, kebebasan berekspresi –wuih, kayak anak muda saja berekspresi- tidak punya lagi. Praktis, hidup ini hanya seperti robot yang sudah disetir. Paling tidak semacam kerbau yang sudah ditancapi microprocessor diotakknya dan dikendalikan jarak jauh oleh komponen manusia yang lebih canggih. Mau tidak mau, si kerbau ini harus pecahkan kepalanya dulu untuk ambil microprocessor ini.
Aku, manusia. Harus pula memecahkan kepalaku untuk membebaskan diri dari belenggu ini. Terbebas dari rasa sangat bergantung kepada pabrik –mentang-mentang sudah membayarku- secara total. Bagaimana tidak, sesaat saja, tiga hari misalnya, aku pengin bercengkerama full dengan anak dan keluarga. Pasti harus nungguin setahun sekali. Nunggu libur lebaran. Padahal, seharusnya prioritas utamaku adalah keluarga, anak-anak, kesejahteraan isteri. Tapi, apa?
Huh, terbayang makin kuat dalam imaginasi ini. Nekat-nekatanlah, beli sepuluh kambing dengan cukup dua pejantan sedangkan delapan lagi betina sebagai peranakan. Misalkan satu kambing seharga limaratus ribu, berarti Cuma lima juta. Rasanya berat mau nyisain uang lima juta ini. Sudah terlanjur menjadi manusia konsumtif. Bahkan total tanggungan kartu kredit saja lebih dari limabelas juta. Ini, Cuma sepertiganya. Koq berat.
Ada banyak anak-anak kampung yang bisa aku suruh untuk ngangon kambing dengan system bagi hasil. Dalam artian, bila delapan betina itu beranak, separuh anak itu menjadi milik yang tukang nyari rumput. Hanya tinggal nyediain tempat saja. Sama modal awal tentunya. Urusan kesana sudah tidak perlu lagi mikirin. Taruhlah setiap enam bulan beranak empat, berarti kurun waktu satu tahun sudah punya enambelas kambing.
Kalau aku mulai saat ini, berarti tahun depan, sudah punya minimal duapuluh enam kambing. Itu minimal, pasti lebih soalnya. Tuhan maha tahu, maha kaya, pastilah tak bakalan tinggal diam dalam urusan seperti ini. Intinya, mau usaha, yakin, pasrah, dan berdo’a. tuhan tidak akan tinggal diam. Hanya saja. Sekali lagi, diawal tulisan ini telah aku katakana bahwa, keyakinan alias rasa iman terhadap tuhan lebih banyak dikesampingkan. Soal rejeki saja masih takut, terikat oleh si-paberik tempat bekerja. “nanti, kalau tidak kerja mau makan apa, dapet duit darimana, anak-anak sekolah mau bayar pakai apa” resahku. Ini tidak beralasan sebenarnya, tapi… ahhh…….. sudah sore, besok lagi curhatnya. Keburu nguber kereta untuk pulang.
Senin, 01 September 2008
95% jalan ke penulis fiksi
“Terakhir, tetapi juga terpenting. Setelah bekal dan semua hal untuk menulis kamu punyai, jangan sampai lupakan tip-tip berikut ini. Meskipun tidak ada hubungannya dengan menulis, tetapi pengaruhnya besar banget terhadap penulisan….” Halaman 171 bab 13.
Ini dia yang anda cari. Jarang loh, penulis yang mengupas tuntas apa saja yang harus dipersiapkan bagi seorang yang pengin pinter nulis. Udah gitu, tip-tip penunjang pun dilampirkan. “Jadi penulis fiksi? Gampang, kok!”, merupakan buku kesekian kalinya dari Kinoysan. Setelah Tahajjud cinta, Istikharah cinta, jodoh cinta, Ari Wulandari, nama aseli penulis buku ini menyempatkan diri untuk membukakan jalan bagi siapa saja yang ingin menjadi penulis.
Buku ini boleh dibilang tebal bagi yang tidak terbiasa membaca. Faktanya, hanya perlu sekali duduk untuk menyelesaikan membaca.
Mau tahu, bolehlah. Saya coba buatkan analogi disini. Pernah ke kaliurang? Itu tuh, gunung merapi. Kalau masih belum ngeh juga, mbah Maridjan deh. Pasti kenal. Bingung, apa hubungannya dengan penulisan?
Begini, kalau pergi ke kaliurang, semakin naik pemandangan semakin bagus. Saat melihat ke bawah, hamparan tapak kaki yang barusan dilewati terlihat jelas. Di depan, diatas sana, hijau pohon dan aliran air diiringi gemericik gerojogan memenuhi telinga mengundang untuk segera didatangi. Semilir angin, menyapu kening, pohon-pohon rindang, rumput-rumput gajah setinggi dada, pisang setandan mateng di pohon, salak pondoh bergelayutan. Duh, pokoknya tak bakalan deh, mata tega merem untuk melewatkan itu semua.
Nah, begitupun membaca buku ini. “Jadi penulis fiksi? Gampang, kok!” Begitu mulai membaca dari lembar pertama, keindahan yang tercipta dari kesederhanaan kata yang dijalin oleh penulis, langsung berasa. Begitu pula saat membuat lembar demi lembar berikutnya. Semakin masuk ke dalam, semakin menuju puncak kaliurang rasanya. Sejuk. Tak terasa, dari duduk jongkok, karena pegel tahu-tahu berubah posisi bersila. Sejenak kemudian berdiri, nongkrong, tapi masih di lokasi yang sama. Sekali duduk deh, membaca buku ini sampai tuntas, hanya saja dalam beragam posisi. Biar gak kesemutan.
Kalau yang bilang orang lain, boleh saja anda, pembaca mengabaikannya. Tapi, berhubung penulis sendiri yang bilang “bagi saya, bakat hanya menyumbang 5% dalam keberhasilan seseorang, 95% lainnya ditentukan dari usaha, kerja keras, dan doa”, apa masih ada alasan untuk mengelak. Kenapa sampai sekarang belum juga memulai menulis? Check di halaman 9 buku ini, anda akan temukan komponen utama “internal” setiap orang punya dan sudah built in dalam diri masing-masing. Hanya tinggal mengasahnya saja. Baca dengan teliti, maka, yang sudah built in tadi akan terasah dengan sendirinya.
Pernah dengar istilah “premis cerita?” Ada juga di kupas dalam buku ini, kenapa perlu ada, bagaimana jika tidak ada. Seberapa jauh peranannya. Contoh yang diberikan penulis dalam pembahasan bab ini adalah ketika Kinoysan menulis “kingkong jatuh cinta”. Dari premis ini ternyata terbukti powerfull banget peranannya dalam membangun cerita.
Sudah tergugah untuk menulis fiksi, ide semakin bermunculan, tangan semakin gatal untuk segera memencet tombol keyboard komputer. Sabar. Masih harus anda pikirkan lagi mengenai bagaimana pengemasan tulisan, cara mengirim naskah, sampai isi perjanjian tentang apa saja biar tidak dikerjain sama penerbit. Tenang, semua itu ada di dalam buku ini. Sampai alamat media dan penerbit yang ada di Indonesia, lengkap dengan alamat email maupun lokasi, komplit.
Ssst, ini rahasia. Tapi, bolehlah saya bocorkan disini. Ternyata Kinoysan pernah, bahkan sering, dulu, ditolak naskah-naskahnya oleh penerbit. Baru tahu kan? Baca buku ini secara lengkap, dan dapatkan perjuangan penulis dalam menempuh lekuk liku dunia penulisan. Sampai akhirnya, saat ini Kinoysan, sangat ditunggu-tunggu karyanya. Adakah yang bisa lebih membuat hidup dari “merasa dibutuhkan”?
Banyak loh, yang hampir frustrasi gara-gara merasa tidak dianggap/tidak dibutuhkan. Untuk penulis fiksi, no way! Dan ternyata, menjadi penulis fiksi. Gampang, koq!
Untuk kelemahan buku ini, boleh dibilang minim. Karena, tergantung karakteristik pembaca. Bagi yang kurang menyukai “sedikit” bahasa remaja, lumayan terusik memang. Tapi, bidikan yang hendak dibidik oleh penulis, memang untuk para pemula. So, tepat sasaran lah buku ini.
Judul buku : Jadi Penulis fiksi? Gampang, kok!
Penulis : Kinoysan
Penerbit : Andi, yogyakarta
Tebal : 184 halaman
Ini dia yang anda cari. Jarang loh, penulis yang mengupas tuntas apa saja yang harus dipersiapkan bagi seorang yang pengin pinter nulis. Udah gitu, tip-tip penunjang pun dilampirkan. “Jadi penulis fiksi? Gampang, kok!”, merupakan buku kesekian kalinya dari Kinoysan. Setelah Tahajjud cinta, Istikharah cinta, jodoh cinta, Ari Wulandari, nama aseli penulis buku ini menyempatkan diri untuk membukakan jalan bagi siapa saja yang ingin menjadi penulis.
Buku ini boleh dibilang tebal bagi yang tidak terbiasa membaca. Faktanya, hanya perlu sekali duduk untuk menyelesaikan membaca.
Mau tahu, bolehlah. Saya coba buatkan analogi disini. Pernah ke kaliurang? Itu tuh, gunung merapi. Kalau masih belum ngeh juga, mbah Maridjan deh. Pasti kenal. Bingung, apa hubungannya dengan penulisan?
Begini, kalau pergi ke kaliurang, semakin naik pemandangan semakin bagus. Saat melihat ke bawah, hamparan tapak kaki yang barusan dilewati terlihat jelas. Di depan, diatas sana, hijau pohon dan aliran air diiringi gemericik gerojogan memenuhi telinga mengundang untuk segera didatangi. Semilir angin, menyapu kening, pohon-pohon rindang, rumput-rumput gajah setinggi dada, pisang setandan mateng di pohon, salak pondoh bergelayutan. Duh, pokoknya tak bakalan deh, mata tega merem untuk melewatkan itu semua.
Nah, begitupun membaca buku ini. “Jadi penulis fiksi? Gampang, kok!” Begitu mulai membaca dari lembar pertama, keindahan yang tercipta dari kesederhanaan kata yang dijalin oleh penulis, langsung berasa. Begitu pula saat membuat lembar demi lembar berikutnya. Semakin masuk ke dalam, semakin menuju puncak kaliurang rasanya. Sejuk. Tak terasa, dari duduk jongkok, karena pegel tahu-tahu berubah posisi bersila. Sejenak kemudian berdiri, nongkrong, tapi masih di lokasi yang sama. Sekali duduk deh, membaca buku ini sampai tuntas, hanya saja dalam beragam posisi. Biar gak kesemutan.
Kalau yang bilang orang lain, boleh saja anda, pembaca mengabaikannya. Tapi, berhubung penulis sendiri yang bilang “bagi saya, bakat hanya menyumbang 5% dalam keberhasilan seseorang, 95% lainnya ditentukan dari usaha, kerja keras, dan doa”, apa masih ada alasan untuk mengelak. Kenapa sampai sekarang belum juga memulai menulis? Check di halaman 9 buku ini, anda akan temukan komponen utama “internal” setiap orang punya dan sudah built in dalam diri masing-masing. Hanya tinggal mengasahnya saja. Baca dengan teliti, maka, yang sudah built in tadi akan terasah dengan sendirinya.
Pernah dengar istilah “premis cerita?” Ada juga di kupas dalam buku ini, kenapa perlu ada, bagaimana jika tidak ada. Seberapa jauh peranannya. Contoh yang diberikan penulis dalam pembahasan bab ini adalah ketika Kinoysan menulis “kingkong jatuh cinta”. Dari premis ini ternyata terbukti powerfull banget peranannya dalam membangun cerita.
Sudah tergugah untuk menulis fiksi, ide semakin bermunculan, tangan semakin gatal untuk segera memencet tombol keyboard komputer. Sabar. Masih harus anda pikirkan lagi mengenai bagaimana pengemasan tulisan, cara mengirim naskah, sampai isi perjanjian tentang apa saja biar tidak dikerjain sama penerbit. Tenang, semua itu ada di dalam buku ini. Sampai alamat media dan penerbit yang ada di Indonesia, lengkap dengan alamat email maupun lokasi, komplit.
Ssst, ini rahasia. Tapi, bolehlah saya bocorkan disini. Ternyata Kinoysan pernah, bahkan sering, dulu, ditolak naskah-naskahnya oleh penerbit. Baru tahu kan? Baca buku ini secara lengkap, dan dapatkan perjuangan penulis dalam menempuh lekuk liku dunia penulisan. Sampai akhirnya, saat ini Kinoysan, sangat ditunggu-tunggu karyanya. Adakah yang bisa lebih membuat hidup dari “merasa dibutuhkan”?
Banyak loh, yang hampir frustrasi gara-gara merasa tidak dianggap/tidak dibutuhkan. Untuk penulis fiksi, no way! Dan ternyata, menjadi penulis fiksi. Gampang, koq!
Untuk kelemahan buku ini, boleh dibilang minim. Karena, tergantung karakteristik pembaca. Bagi yang kurang menyukai “sedikit” bahasa remaja, lumayan terusik memang. Tapi, bidikan yang hendak dibidik oleh penulis, memang untuk para pemula. So, tepat sasaran lah buku ini.
Judul buku : Jadi Penulis fiksi? Gampang, kok!
Penulis : Kinoysan
Penerbit : Andi, yogyakarta
Tebal : 184 halaman
Langganan:
Postingan (Atom)