hati yang kian mati
"Kang, katanya jalan di desa kita mau diperlebar ya ?" Paimo membuka pembicaraan disela sruputan kopi panas ketika sedang duduk di halaman samping rumah. ia dan seorang tetangga seberang jalan kebetulan sedang duduk santai di sore hari, sebenarnya ia hendak berangkat ke sungai untuk memandikan sapi yang ada dikandang.
Secara rutin ia memandikan sapinya seminggu sekali paling lama, terkadang kalau badan sapi sudah belepotan "telethong" - tahi sapi - seminggu bisa 2 kali ia memandikan sapinya. Ketika sedang berjalan menuju kandang, Paidin menghampiri sambil nenteng "bendo" - golok yang ujungnya melengkung - sehabis memangkas pohon randu kapuk di pinggir jalan pojokan rumahnya.
Pak Karso utomo – kepala desa - mengistruksikan beberapa waktu yang lalu bahwa jalan utama desa tempat tinggal mereka hendak diperlebar sekaligus memperbaiki parit di kiri kanan jalan agar supaya aliran air menjadi lebih lancar. Jalan utama desa sebetulnya sudah cukup dengan lebar 3 meter, tetapi karena paritnya cukup sempit sehingga kalau hujan besar yang diperkirakan datang beberapa bulan lagi dikhawatirkan membludak mengalir ke jalan.
Rencana akan ditambah masing²satu meter di kiri kanan jalan sehingga lebar jalan menjadi 5 meter dengan dipotong parit setengah meter, praktis lebar jalan hanya 4 meter karena termakan untuk parit 1 meter. Hampir sebagian besar warga terutama di sekitar jalan desa menyambut gembira instruksi Pak Karso Utomo, dengan segala kesadaran dan kerelaan bahkan tidak sabar menunggu "gugur gunung" - kerja bhakti massal - kapan rencana pelebaran jalan dilakukan.
"Instruksinya sich begitu, namun rencana mateng baru nanti sore para warga berkumpul di balai desa untuk membicarakan kapan dan bagaimana pelaksanaannya" sahut Paidin yang di panggil "kang" oleh Paimo.
"kira² kita kena berapa meter ya kang ?
"terus dapet penggantian berapa per meternya ?" Paimo menyeruput kopinya sambil melanjutkan pembicaraan. sedangkan yang ditanya hanya merespon secara datar sambil menyalakan rokok kretek dengan tak lupa menyeruput kopi yang telah dihidangkan Paimo.
"Kalau aku sich terserah saja mau diganti berapa oleh pemerintah, ini juga untuk kebaikan kita bersama koq. Bahkan kalau memang tidak diganti juga tidak apa², aku malah senang klo tanahku dijadikan jalan yang nantinya dilalui orang banyak apalagi ini cuma diambil satu meter, halamanku sepanjang jalur jalan desa ini sekitar 25 meter berarti hanya 25 meter persegi yang diambil untuk pelebaran jalan." kata - kata Paidin meluncur dengan lancar dan tanpa beban menandakan sifat dan jiwa tulus dihatinya.
Itulah sekedar pembicaraan ringkas seputar proyek pelebaran jalan dan perbaikan parit sarana saluran irigasi di sebuah desa yang kata orang "penduduknya ndeso" namunternyata hati mereka justru hidup dan "legowo" terhadap kepentingan bersama. Mereka justru bangga bila tanah mereka dapat dimanfaatkan untuk kepentingan umum -jalan desa misalnya- apalagi
kelak mereka² juga yang ikut memanfaatkan serta menggunakannya.
Hanya memakan waktu satu minggu, para warga "gugur gunung" kerjabhakti massal mengerjakan pelebaran jalan, tidak ada yang digaji, tidak ada yang dipungut biaya, bahwa hampir 75 % warga yang tanahnya terkena pelebaran jalan menolak menerima uang pengganti dari pemerintah setempat dan merelakannya untuk merenovasi masjid utama di pedesaan itu.
Bukan untuk "sok suci", bukan pula untuk "sok dermawan", tapi tidak lebih dari "rasa bangga karena dapat memberikan apa yang mereka miliki untuk kepentingan bersama". Selaku kepala desa Pak Karso Utomo pun bukanlah orang sembarangan tahajudnya tidak pernah lewat satu malam pun kecuali uzur tertentu, puasa sunnah senin kemis nyaris tak pernah ia tinggalkan imam sholat jum'at secara bergantian dengan para generasi muda senantiasa dilakukannya.
Hal inilah yang membuat sosok Karso Utomo menjadi pemuka masyarakat yang benar² menggugah kesadaran para warganya. ia adalah sesosok pemimpin yang - meski cuma kepala desa - bersahaja dan sadar betul akan kiprahnya sbg panutan khalayak.
Tidak heran bila segala instruksi dan ucapannya senantiasa diikuti oleh warga termasuk saat meminta "sedikit" tanah sebagian warga untuk pelebaran jalan dan perbaikan parit.
Paimo dan Paidin hanyalah beberapa gelintir dari manusia yang merasa diri bagian dari manusia, sehingga apa yang mereka berikan untuk kepentingan bersama - mereka beranggapan - sejatinya hanyalah untuk mereka sendiri, tiada pantas menerima imbalan dari sesama manusia yang bersifat materi duniawi dan hanya mengharap Ridho Ilahi. Dengan perilaku sebagian besar warga desa yang meniru mereka berdua proyek pelebaran jalan dan peremajaan parit pun selesai dilakukan hanya dalam waktu 1 minggu padahal total panjang jalan yang di lebarkan adalah 1,5 km.
mereka malu kalau sampai tidak keluar rumah untuk kerjabhakti mereka malu kalau tidak bisa memberikan -minimal- tenaga untuk proyek pelebaran jalan ini bahkan para ibu - ibu pun malu kalau sampai tidak memberikan "nyamikan" - makanan kecil untuk mereka yang kerja bhakti
Gugur gunung adalah sebuah tradisi yang "nyaris mati" seiring matinya hati para manusia yang katanya "modern"
Hanya berselang satu setengah bulan setelah peremajaan parit, hujan deras mengguyur desa tersebut, namun mereka tak khawatir bahkan semakin bangga pada kepala desa mereka -Karso Utomo- dengan kebijakannya. Dari jam 5 ba'dal subuh hujan deras seperti diguyur dari langit tiada henti seolah menandakan langit yang sedang murka diiringi geledek menyambar namun hanya beberapa saat. Hanya setengah jam hujan pun berhenti namun masih hujan gerimis, seolah memberikan kesempatan kepada "sang parit" untuk uji coba karena sekitar jam 9 pagi hujan deras kembali mengguyur bahkan 3 jam tiada henti dengan 2 kali lipat lebih lebat dari hujan sebelumnya.
Parit pun teruji, dengan kedalaman 75 cm dan lebar setengah meter, terbukti -perhitungan yang tidak asal²an- dari para pemuka masyarakat, air laksana bah mengalir dengan begitu lancar menuju sungai di pinggiran desa.
Laen Paimo Paidin, lain pula dengan masyarakan jakarta masa kini. Begitu hujan setengah jam saja, air menggenang di sana sini, bahkan yang katanya "jalan utama" justru lebih parah terendam air. Praktis kemacetan pun tiada terelakkan lagi.
Warga jakarta nyalahin pemerintah setempat, sementara "sang pemimpin" seolah termakan omongan sendiri atas janji mereka selama kampanye. Banjir kanal barat dan timur tidak kunjung berfungsi, padahal "kataya ditangai para insinyur ahli".
Bagaimanapun juga "ketulusan membawa keberkahan", dan Tuhan maha tahu akan hal ini.
Apa ada warga jakarta yang -dengan rela- menyerahkan secuil tanahnya untuk parit ? Jangankan parit bahkan luas tanah 80 meter dibangun habis dengan luas bangunan 80 meter juga ditingkat lagi. Jalan air di depan rumah bahkan kalau perlu "di blok" ditutup dengan cor²an agar dapat dihadikan "halaman kecil" bagi penghuninya atau bahkan hanya sebagai ruang parkir kendaraan.
Saat tanah mereka terkena "proyek" entah itu peremajaan parit atau jalan sekalipun justru dimanfaatkan untuk meminta "ganti rugi" dengan harga setinggi²nya, apabila tidak mendapatkan, pengacarapun mereka sewa untuk meng-golkan keinginan.
"ini tanah warisan engkong gue, sejengkal saja eloe atik² nyawa taruhannye" mungkin begitu kata mereka.
Paimo Paidin bahkan malu kalau "tritisan" sampai jatuh ke tanah tetangga, itulah sebabnya mereka senantiasa menyisakan tanah disekeliling rumah setengah meter untuk -sekedar jatuhnya air hujan- agar masih tetap ditanah sendiri.
Warga jakarta ndak mau banjir lagi ?
Tuluslah dengan alam mulai dari diri
Jangan salahkan pemerintah, tapi salahkan diri
atau...
belajar saja dari Paimo Paidin he..he..he...he....
Senin, 30 Juni 2008
Selasa, 24 Juni 2008
tetesan akhir motivasi diri
beberapa waktu lalu, aku mempunyai ajang curhat. namanya rubrikasi "relung". millist bayangan aku menyebutnya. inti dari kegiatan ini adalah tulisan saya bersifat curhat atau ganjalan-ganjalan hati yang aku tuang lewat tulisan dan aku kirim ke rekan-rekan sekantor lewat email secara bcc. dengan mode ini, hanya orang yang bersangkutan yang (dual-communication) dapat membaca. namun ternyata ada beberapa tulisan (ini salah satunya) yang nyasar dan terkirim secara tak sengaja ke rekan yang tidak aku kenal secara langsung. ada yang memang salah anggapan dan comment tak karuan.
selamat menikmati :
Tulisan awal.
relung kali ini terinspirasi dari kegiatan hari minggu tanggal 1 juni bertepatan dengan hari lahirnya pancasila 63 tahun lalu. walk fun 10 kilometer dirayakan di monas dengan hajatan memecahkan rekor MURI supermie Go Series makan mie secara serentak dengan 34.371 (quick count) orang. dihadiri pula oleh gubernur DKI Fauzi Bowo. sempatkan untuk menyaksikan siaran tundanya di trans tv tanggal 8 juni hari minggu mendatang jam 8 pagi. jangan sampai lewat ya?
relungku tersentuh saat terjadi didepan mata, perbedaan perlakuan antara "si ujung" dengan "si gagang". ingatanku kembali melayang pada acara tour bersama orang-orang HO di mega mendung permai desember tahun lalu. saya beserta team mendapat jatah kaos panitia demikian bervasiasi, sangat terbatas. tetapi ada beberapa group yang berkantor di gedung bertingkat bahkan sampai anaknyapun mendapat kaos gratisan secara seragam. kontras sekali. panitia saja beraneka warna, tetapi beberapa group malah berkaos satu warna. luar biasa. sampai-sampai ada seorang keluarga yang bertanya "panitianya yang mana?". bingung, yang seragam koq malah pesertanya.
sekali lagi, dimohon dengan bijak membaca tulisan "relung" kali ini. bukan berarti memperbesar rasa iri, tetapi segala sesuatu harus disikapi dengan hati.
selamat membaca!
oh iya, kalau ada yang mau sharing langsung reply with comment ya ? kalau keberatan, nama tidak akan dipublikasikan koq, tenang aja :)
Tombak kiai pleret, legenda dari tanah jawa. Konon kabarnya begitu sakti mandraguna. Hanya saja kesaktian senjata pusaka ini sangat tidak mumpuni jika dikendalikan oleh tangan tidak bertanggung jawab. Gelegar aura kedigdayaannya hanya bersifat sesaat dan sekejap. Setelah itu melempem karena si tangkai kusam dan kurus kering kehabisan semangat.
Selayaknya tombak, tentulah ujungnya sangat menentukan. Putih mengkilap, menyejukkan mata, mengundang perhatian dan kekaguman siapa saja memandang. Tajam, berkharisma. Keputusan-keputusan diambil oleh sang ujung tombak begitu mematikan, ide-idenya brilliant melumpuhkan serangan lawan. Itulah sebabnya dalam sebuah management, ada sebuah departemen sering disebut sebagi "ujung tombak".
Bagaimanapun sakti tombak kiai pleret, walau setajam apapun akan terkesan tumpul jika tidak dirangkai dengan gagang sebagai pegangan. Pegangan inipun harus kuat menyatu serta berpadu dalam gerak serta langkah. Arah manapun yang ujung tuju, sang gagang dengan setia (dipaksa) mengikuti. Sayangnya, tidak jarang si tangkai hanya sebagai pelengkap penderita. Ia sering tidak dilirik saat berhasil mengegolkan ivent-ivent si ujung. Disaat harus bekerja keras, gagang tombak selalu bekerja keras, bahkan dimotivasi habis-habisan.
"ayo, kita harus bekerja bersama, satukan langkah. Kita harus kuat!" tapi, setelah semua berhasil. Hanya sang ujung diusap dan dielus. Sementara sang gagang yang telah lecet-lecet, begitu cepat dilupakan, dianggap angin lalu peran sertanya. Pujian dan belaian hanya diberikan kepada si ujung, sang gagang dianggap tidak ada. No party for stick.
Apakah memang harus seperti itu ?
Disaat sang tombak harus bertempur habis-habisan mengegolkan berbagai hajatan (ivent) untuk mendongkrak penjualan, hanya ujungnya saja yang dielus dan dielu-elukan. Fasilitas dan doping spirit selalu digulirkan. Makanan dan asupan bergizi sangat diperhatikan.
Apakah demikian halnya dengan si tangkai ? tidak!
Walaupun begitu, si tangkai ternyata terbuat dari jantung kayu begitu keras. Nrimo dan hanya tahu soal bekerja. Sekuat tenaga, sampai cucuran keringat penghabisan. Kebahagiaan dan kepuasan hati bukan terletak pada gemerlapnya kulit bersinar, melainkan kematangan berfikir dan berjiwa besar.
Tetap semangat rekan-rekanku yang menjadi "gagang tombak abadi", meski kulitmu hitam kasar, tapi hatimu emas berkilau dengan keindahan jiwa tak tertandingi. kekayaan hati tak pernah diragukan lagi.
salam,
tukor
dan ini adalah historical sambutan terakhir. sayang sekali, beberapa email senada sebelumnya telah terhabus dari inbox.
salwangga
06/24/2008 11:28 AM
To:
cc:
Subject: TOP SECRET
ini hanyalah "salah satu" dari bola salju yang sempat aku gulirkan beberapa waktu lalu.
kalau "suatu saat" ada suara timpang untuk PPIC HO, ini adalah akibat dari ulah saya.
sebenarnya ada beberapa email emngenai tulisan lain yang lebih pedas masuk ke inbox saya, tapi "tidak mungkin saya ungkap" dan "cukup menjadi catatan pribadi" bagi saya. saya juga sudah putuskan untuk tidak menanggapi APAPAUN kata dan dari SIAPAPUN orangnya. KECUALI, bicara secara langsung empat mata berhadapan muka dengan saya.
dan ini, hanya salah satu sebab kenapa rubrik gerilya "relung" saya hentikan.
mohon ma'af untuk para senior, kalau secara tidak sengaja justeru terkena "efek samping" dari tulisan usil saya.
salam,
salwangga
ps: kalau ada yang hendak mengomentari atau memberikan masukan, silahkan reply dengan cara japri (just one name ke saya)
----- Forwarded by salwangga on 06/24/2008 10:12 AM -----
Riany Mutiara
06/24/2008 09:45 AM
To: Evie Sabrina, Willa Wilianti, Yusiana Ismaniharti, Christina Nurasima, Mariana, Lia Puspitasari, Ida Ramahwati, Triyatmi Dede, Agus Prasetyo, Wirawan Laksono
cc: salwangga
Subject: Re: relung : tombak kiai pleret
Ealah Mbaaaaak dia ngiri ma kaos Sarimi kita yg pas pergi ke mega Mendung....cilaka, coba dikoreksi ya, orang Marketing HO kagak ada yg bawa anak.....
Teruuuuus......aku sebagai orang yg pernah kerja di cabang selama 2 tahun (Cab. Surabaya) kok gak pernah ngiri ya dulu ma orang HO suerrrrr......di cabang enak kok......the truth is enak ato nggak enak nya lingkungan kantor kita itu kan tergantung dari kitanya sendiri, biar di manapun juga kalo hati kita gak bersih, gak tulus, selalu dengki alias nganggep rumput tetangga lebih hijau ya.....merana terus, merasa kecil terus.....Ada kata pepatah The one who should make you happy is YOURSELF...
So, Pak Salwangga yang terhormat kalo gak suka sama seragam kita waktu itu ngomongnya jgn sekarang doooonk, ngomong pas waktu itu ,protes kalo perlu...kalo sekarang mah UDAH BASI.......
Evie Sabrina
06/24/2008 08:39 AM
To: Riany Mutiaracc:
Subject: relung : tombak kiai pleret
----- Forwarded by Evie Sabrina on 06/24/2008 08:10 AM -----
Evie Sabrina
06/24/2008 08:27 AM
To: Willa Wilianti, Yusiana Ismaniharti, Emmy Kusumawati, Evie Pangestu, Christina Nurasima, Mariana, Lia Puspitasari, Ida Ramahwati, Triyatmi Dede, Nunuk Nuraini, Ike Susanti, Jenny Palit, Agus Prasetyo, Susienta Somawidjaja, Wirawan Laksono
cc:
Subject: relung : tombak kiai pleret
Maksudnya apa sih.............?
----- Forwarded by Evie Sabrina on 06/24/2008 07:53 AM -----
Tularsih
06/23/2008 05:11 PM
To: Maiya, Evie Sabrina
cc:
Subject: relung : tombak kiai pleret
----- Forwarded by Tularsih on 06/23/2008 04:45 PM -----
Neneng Henny
06/02/2008 04:43 PM
To:
cc: (bcc: Tularsih)
Subject: relung : tombak kiai pleret
Neneng Henny
----- Forwarded by Neneng Henny on 06/02/2008 04:49 PM -----
Salwangga 06/02/2008 04:21 PM
To:
cc: (bcc: Neneng Henny)
Subject: relung : tombak kiai pleret
dear rekans,
relung kali ini terinspirasi dari kegiatan hari minggu tanggal 1 juni bertepatan dengan hari lahirnya pancasila 63 tahun lalu. walk fun 10 kilometer dirayakan di monas dengan hajatan memecahkan rekor MURI supermie Go Series makan mie secara serentak dengan 34.371 (quick count) orang. dihadiri pula oleh gubernur DKI Fauzi Bowo. sempatkan untuk menyaksikan siaran tundanya di trans tv tanggal 8 juni hari minggu mendatang jam 8 pagi. jangan sampai lewat ya?
relungku tersentuh saat terjadi didepan mata, perbedaan perlakuan antara "si ujung" dengan "si gagang". ingatanku kembali melayang pada acara tour bersama orang-orang HO di mega mendung permai desember tahun lalu. saya beserta team mendapat jatah kaos panitia demikian bervasiasi, sangat terbatas. tetapi ada beberapa group yang berkantor di gedung bertingkat bahkan sampai anaknyapun mendapat kaos gratisan secara seragam. kontras sekali. panitia saja beraneka warna, tetapi beberapa group malah berkaos satu warna. luar biasa. sampai-sampai ada seorang keluarga yang bertanya "panitianya yang mana?". bingung, yang seragam koq malah pesertanya.
sekali lagi, dimohon dengan bijak membaca tulisan "relung" kali ini. bukan berarti memperbesar rasa iri, tetapi segala sesuatu harus disikapi dengan hati. selamat membaca!
oh iya, kalau ada yang mau sharing langsung reply with comment ya ? kalau keberatan, nama tidak akan dipublikasikan koq, tenang aja :)
Tombak kiai pleret, legenda dari tanah jawa. Konon kabarnya begitu sakti mandraguna. Hanya saja kesaktian senjata pusaka ini sangat tidak mumpuni jika dikendalikan oleh tangan tidak bertanggung jawab. Gelegar aura kedigdayaannya hanya bersifat sesaat dan sekejap. Setelah itu melempem karena si tangkai kusam dan kurus kering kehabisan semangat.
Selayaknya tombak, tentulah ujungnya sangat menentukan. Putih mengkilap, menyejukkan mata, mengundang perhatian dan kekaguman siapa saja memandang. Tajam, berkharisma. Keputusan-keputusan diambil oleh sang ujung tombak begitu mematikan, ide-idenya brilliant melumpuhkan serangan lawan. Itulah sebabnya dalam sebuah management, ada sebuah departemen sering disebut sebagi "ujung tombak".
Bagaimanapun sakti tombak kiai pleret, walau setajam apapun akan terkesan tumpul jika tidak dirangkai dengan gagang sebagai pegangan. Pegangan inipun harus kuat menyatu serta berpadu dalam gerak serta langkah. Arah manapun yang ujung tuju, sang gagang dengan setia (dipaksa) mengikuti. Sayangnya, tidak jarang si tangkai hanya sebagai pelengkap penderita. Ia sering tidak dilirik saat berhasil mengegolkan ivent-ivent si ujung. Disaat harus bekerja keras, gagang tombak selalu bekerja keras, bahkan dimotivasi habis-habisan.
"ayo, kita harus bekerja bersama, satukan langkah. Kita harus kuat!" tapi, setelah semua berhasil. Hanya sang ujung diusap dan dielus. Sementara sang gagang yang telah lecet-lecet, begitu cepat dilupakan, dianggap angin lalu peran sertanya. Pujian dan belaian hanya diberikan kepada si ujung, sang gagang dianggap tidak ada. No party for stick.
Apakah memang harus seperti itu ?
Disaat sang tombak harus bertempur habis-habisan mengegolkan berbagai hajatan (ivent) untuk mendongkrak penjualan, hanya ujungnya saja yang dielus dan dielu-elukan. Fasilitas dan doping spirit selalu digulirkan. Makanan dan asupan bergizi sangat diperhatikan.
Apakah demikian halnya dengan si tangkai ? tidak!
Walaupun begitu, si tangkai ternyata terbuat dari jantung kayu begitu keras. Nrimo dan hanya tahu soal bekerja. Sekuat tenaga, sampai cucuran keringat penghabisan. Kebahagiaan dan kepuasan hati bukan terletak pada gemerlapnya kulit bersinar, melainkan kematangan berfikir dan berjiwa besar.
Tetap semangat rekan-rekanku yang menjadi "gagang tombak abadi", meski kulitmu hitam kasar, tapi hatimu emas berkilau dengan keindahan jiwa tak tertandingi. kekayaan hati tak pernah diragukan lagi.
salam,
tukor
selamat menikmati :
Tulisan awal.
relung kali ini terinspirasi dari kegiatan hari minggu tanggal 1 juni bertepatan dengan hari lahirnya pancasila 63 tahun lalu. walk fun 10 kilometer dirayakan di monas dengan hajatan memecahkan rekor MURI supermie Go Series makan mie secara serentak dengan 34.371 (quick count) orang. dihadiri pula oleh gubernur DKI Fauzi Bowo. sempatkan untuk menyaksikan siaran tundanya di trans tv tanggal 8 juni hari minggu mendatang jam 8 pagi. jangan sampai lewat ya?
relungku tersentuh saat terjadi didepan mata, perbedaan perlakuan antara "si ujung" dengan "si gagang". ingatanku kembali melayang pada acara tour bersama orang-orang HO di mega mendung permai desember tahun lalu. saya beserta team mendapat jatah kaos panitia demikian bervasiasi, sangat terbatas. tetapi ada beberapa group yang berkantor di gedung bertingkat bahkan sampai anaknyapun mendapat kaos gratisan secara seragam. kontras sekali. panitia saja beraneka warna, tetapi beberapa group malah berkaos satu warna. luar biasa. sampai-sampai ada seorang keluarga yang bertanya "panitianya yang mana?". bingung, yang seragam koq malah pesertanya.
sekali lagi, dimohon dengan bijak membaca tulisan "relung" kali ini. bukan berarti memperbesar rasa iri, tetapi segala sesuatu harus disikapi dengan hati.
selamat membaca!
oh iya, kalau ada yang mau sharing langsung reply with comment ya ? kalau keberatan, nama tidak akan dipublikasikan koq, tenang aja :)
Tombak kiai pleret, legenda dari tanah jawa. Konon kabarnya begitu sakti mandraguna. Hanya saja kesaktian senjata pusaka ini sangat tidak mumpuni jika dikendalikan oleh tangan tidak bertanggung jawab. Gelegar aura kedigdayaannya hanya bersifat sesaat dan sekejap. Setelah itu melempem karena si tangkai kusam dan kurus kering kehabisan semangat.
Selayaknya tombak, tentulah ujungnya sangat menentukan. Putih mengkilap, menyejukkan mata, mengundang perhatian dan kekaguman siapa saja memandang. Tajam, berkharisma. Keputusan-keputusan diambil oleh sang ujung tombak begitu mematikan, ide-idenya brilliant melumpuhkan serangan lawan. Itulah sebabnya dalam sebuah management, ada sebuah departemen sering disebut sebagi "ujung tombak".
Bagaimanapun sakti tombak kiai pleret, walau setajam apapun akan terkesan tumpul jika tidak dirangkai dengan gagang sebagai pegangan. Pegangan inipun harus kuat menyatu serta berpadu dalam gerak serta langkah. Arah manapun yang ujung tuju, sang gagang dengan setia (dipaksa) mengikuti. Sayangnya, tidak jarang si tangkai hanya sebagai pelengkap penderita. Ia sering tidak dilirik saat berhasil mengegolkan ivent-ivent si ujung. Disaat harus bekerja keras, gagang tombak selalu bekerja keras, bahkan dimotivasi habis-habisan.
"ayo, kita harus bekerja bersama, satukan langkah. Kita harus kuat!" tapi, setelah semua berhasil. Hanya sang ujung diusap dan dielus. Sementara sang gagang yang telah lecet-lecet, begitu cepat dilupakan, dianggap angin lalu peran sertanya. Pujian dan belaian hanya diberikan kepada si ujung, sang gagang dianggap tidak ada. No party for stick.
Apakah memang harus seperti itu ?
Disaat sang tombak harus bertempur habis-habisan mengegolkan berbagai hajatan (ivent) untuk mendongkrak penjualan, hanya ujungnya saja yang dielus dan dielu-elukan. Fasilitas dan doping spirit selalu digulirkan. Makanan dan asupan bergizi sangat diperhatikan.
Apakah demikian halnya dengan si tangkai ? tidak!
Walaupun begitu, si tangkai ternyata terbuat dari jantung kayu begitu keras. Nrimo dan hanya tahu soal bekerja. Sekuat tenaga, sampai cucuran keringat penghabisan. Kebahagiaan dan kepuasan hati bukan terletak pada gemerlapnya kulit bersinar, melainkan kematangan berfikir dan berjiwa besar.
Tetap semangat rekan-rekanku yang menjadi "gagang tombak abadi", meski kulitmu hitam kasar, tapi hatimu emas berkilau dengan keindahan jiwa tak tertandingi. kekayaan hati tak pernah diragukan lagi.
salam,
tukor
dan ini adalah historical sambutan terakhir. sayang sekali, beberapa email senada sebelumnya telah terhabus dari inbox.
salwangga
06/24/2008 11:28 AM
To:
cc:
Subject: TOP SECRET
ini hanyalah "salah satu" dari bola salju yang sempat aku gulirkan beberapa waktu lalu.
kalau "suatu saat" ada suara timpang untuk PPIC HO, ini adalah akibat dari ulah saya.
sebenarnya ada beberapa email emngenai tulisan lain yang lebih pedas masuk ke inbox saya, tapi "tidak mungkin saya ungkap" dan "cukup menjadi catatan pribadi" bagi saya. saya juga sudah putuskan untuk tidak menanggapi APAPAUN kata dan dari SIAPAPUN orangnya. KECUALI, bicara secara langsung empat mata berhadapan muka dengan saya.
dan ini, hanya salah satu sebab kenapa rubrik gerilya "relung" saya hentikan.
mohon ma'af untuk para senior, kalau secara tidak sengaja justeru terkena "efek samping" dari tulisan usil saya.
salam,
salwangga
ps: kalau ada yang hendak mengomentari atau memberikan masukan, silahkan reply dengan cara japri (just one name ke saya)
----- Forwarded by salwangga on 06/24/2008 10:12 AM -----
Riany Mutiara
06/24/2008 09:45 AM
To: Evie Sabrina, Willa Wilianti, Yusiana Ismaniharti, Christina Nurasima, Mariana, Lia Puspitasari, Ida Ramahwati, Triyatmi Dede, Agus Prasetyo, Wirawan Laksono
cc: salwangga
Subject: Re: relung : tombak kiai pleret
Ealah Mbaaaaak dia ngiri ma kaos Sarimi kita yg pas pergi ke mega Mendung....cilaka, coba dikoreksi ya, orang Marketing HO kagak ada yg bawa anak.....
Teruuuuus......aku sebagai orang yg pernah kerja di cabang selama 2 tahun (Cab. Surabaya) kok gak pernah ngiri ya dulu ma orang HO suerrrrr......di cabang enak kok......the truth is enak ato nggak enak nya lingkungan kantor kita itu kan tergantung dari kitanya sendiri, biar di manapun juga kalo hati kita gak bersih, gak tulus, selalu dengki alias nganggep rumput tetangga lebih hijau ya.....merana terus, merasa kecil terus.....Ada kata pepatah The one who should make you happy is YOURSELF...
So, Pak Salwangga yang terhormat kalo gak suka sama seragam kita waktu itu ngomongnya jgn sekarang doooonk, ngomong pas waktu itu ,protes kalo perlu...kalo sekarang mah UDAH BASI.......
Evie Sabrina
06/24/2008 08:39 AM
To: Riany Mutiaracc:
Subject: relung : tombak kiai pleret
----- Forwarded by Evie Sabrina on 06/24/2008 08:10 AM -----
Evie Sabrina
06/24/2008 08:27 AM
To: Willa Wilianti, Yusiana Ismaniharti, Emmy Kusumawati, Evie Pangestu, Christina Nurasima, Mariana, Lia Puspitasari, Ida Ramahwati, Triyatmi Dede, Nunuk Nuraini, Ike Susanti, Jenny Palit, Agus Prasetyo, Susienta Somawidjaja, Wirawan Laksono
cc:
Subject: relung : tombak kiai pleret
Maksudnya apa sih.............?
----- Forwarded by Evie Sabrina on 06/24/2008 07:53 AM -----
Tularsih
06/23/2008 05:11 PM
To: Maiya, Evie Sabrina
cc:
Subject: relung : tombak kiai pleret
----- Forwarded by Tularsih on 06/23/2008 04:45 PM -----
Neneng Henny
06/02/2008 04:43 PM
To:
cc: (bcc: Tularsih)
Subject: relung : tombak kiai pleret
Neneng Henny
----- Forwarded by Neneng Henny on 06/02/2008 04:49 PM -----
Salwangga 06/02/2008 04:21 PM
To:
cc: (bcc: Neneng Henny)
Subject: relung : tombak kiai pleret
dear rekans,
relung kali ini terinspirasi dari kegiatan hari minggu tanggal 1 juni bertepatan dengan hari lahirnya pancasila 63 tahun lalu. walk fun 10 kilometer dirayakan di monas dengan hajatan memecahkan rekor MURI supermie Go Series makan mie secara serentak dengan 34.371 (quick count) orang. dihadiri pula oleh gubernur DKI Fauzi Bowo. sempatkan untuk menyaksikan siaran tundanya di trans tv tanggal 8 juni hari minggu mendatang jam 8 pagi. jangan sampai lewat ya?
relungku tersentuh saat terjadi didepan mata, perbedaan perlakuan antara "si ujung" dengan "si gagang". ingatanku kembali melayang pada acara tour bersama orang-orang HO di mega mendung permai desember tahun lalu. saya beserta team mendapat jatah kaos panitia demikian bervasiasi, sangat terbatas. tetapi ada beberapa group yang berkantor di gedung bertingkat bahkan sampai anaknyapun mendapat kaos gratisan secara seragam. kontras sekali. panitia saja beraneka warna, tetapi beberapa group malah berkaos satu warna. luar biasa. sampai-sampai ada seorang keluarga yang bertanya "panitianya yang mana?". bingung, yang seragam koq malah pesertanya.
sekali lagi, dimohon dengan bijak membaca tulisan "relung" kali ini. bukan berarti memperbesar rasa iri, tetapi segala sesuatu harus disikapi dengan hati. selamat membaca!
oh iya, kalau ada yang mau sharing langsung reply with comment ya ? kalau keberatan, nama tidak akan dipublikasikan koq, tenang aja :)
Tombak kiai pleret, legenda dari tanah jawa. Konon kabarnya begitu sakti mandraguna. Hanya saja kesaktian senjata pusaka ini sangat tidak mumpuni jika dikendalikan oleh tangan tidak bertanggung jawab. Gelegar aura kedigdayaannya hanya bersifat sesaat dan sekejap. Setelah itu melempem karena si tangkai kusam dan kurus kering kehabisan semangat.
Selayaknya tombak, tentulah ujungnya sangat menentukan. Putih mengkilap, menyejukkan mata, mengundang perhatian dan kekaguman siapa saja memandang. Tajam, berkharisma. Keputusan-keputusan diambil oleh sang ujung tombak begitu mematikan, ide-idenya brilliant melumpuhkan serangan lawan. Itulah sebabnya dalam sebuah management, ada sebuah departemen sering disebut sebagi "ujung tombak".
Bagaimanapun sakti tombak kiai pleret, walau setajam apapun akan terkesan tumpul jika tidak dirangkai dengan gagang sebagai pegangan. Pegangan inipun harus kuat menyatu serta berpadu dalam gerak serta langkah. Arah manapun yang ujung tuju, sang gagang dengan setia (dipaksa) mengikuti. Sayangnya, tidak jarang si tangkai hanya sebagai pelengkap penderita. Ia sering tidak dilirik saat berhasil mengegolkan ivent-ivent si ujung. Disaat harus bekerja keras, gagang tombak selalu bekerja keras, bahkan dimotivasi habis-habisan.
"ayo, kita harus bekerja bersama, satukan langkah. Kita harus kuat!" tapi, setelah semua berhasil. Hanya sang ujung diusap dan dielus. Sementara sang gagang yang telah lecet-lecet, begitu cepat dilupakan, dianggap angin lalu peran sertanya. Pujian dan belaian hanya diberikan kepada si ujung, sang gagang dianggap tidak ada. No party for stick.
Apakah memang harus seperti itu ?
Disaat sang tombak harus bertempur habis-habisan mengegolkan berbagai hajatan (ivent) untuk mendongkrak penjualan, hanya ujungnya saja yang dielus dan dielu-elukan. Fasilitas dan doping spirit selalu digulirkan. Makanan dan asupan bergizi sangat diperhatikan.
Apakah demikian halnya dengan si tangkai ? tidak!
Walaupun begitu, si tangkai ternyata terbuat dari jantung kayu begitu keras. Nrimo dan hanya tahu soal bekerja. Sekuat tenaga, sampai cucuran keringat penghabisan. Kebahagiaan dan kepuasan hati bukan terletak pada gemerlapnya kulit bersinar, melainkan kematangan berfikir dan berjiwa besar.
Tetap semangat rekan-rekanku yang menjadi "gagang tombak abadi", meski kulitmu hitam kasar, tapi hatimu emas berkilau dengan keindahan jiwa tak tertandingi. kekayaan hati tak pernah diragukan lagi.
salam,
tukor
Senin, 16 Juni 2008
tukang kompor
karena saya mau hidup, maka saya menulis
Posted by salwangga on 10 Jun 2008 at 12:39 pm Tagged as: Umum Edit This
Bagi rekan seangkatan (SMO-3) atau angkatan pertama dan kedua yang hendak menimpali tulisan ini, silahkan. Lebih tepatnya sangat saya harapkan. Tapi untuk saya jawab komentar tersebut, atau menulis kembali di blog menulis ini. Saya tidak bisa janji, melainkan motto cadangan yang bicara –menulis adalah hak saya- yakni tergantung urgenitas dan kondisi tentunya. (wuih… nich orang cuex amat! Emang siapa sich ?)
Lingkaran kehidupan seakan menjelma menjadi lingkaran setan. Koq setan? Kenapa tidak buat lingkaran kesenangan?
Penginnya sih, tapi masak hati sendiri mau dibohongi, suasana sudah tidak enak, bahkan tidak pernah enak. Mau dienak-enakin. Ditutup-tutupin. Makin mati dong. Penuh kepura-puraan. Pagi berangkat kerja, seharian di kantor, nunggu jam pulang. Job desc pun hanya itu-itu saja, tak kunjung ada perubahan. Jenuh. Senin nunggu jumat. Minggu pertama berharap segera lewat, tanggal akhir bulan pun sangat ditunggu. Begitu setiap hari. Stagnan. Keseharian ibarat robot, harus bekerja demi mendapat gaji untuk memenuhi kebutuhan hidup. Masih terngiang masa-masa doyan pacaran eh, sekarang sudah tiga puluhan. Hampa. Jiwa seperti mati.
Sayang memang, saya termasuk orang yang terjebak dalam komunitas tulisan diatas. Untungnya, ada sedikit celah saat saya mendapat kesempatan secara tidak sengaja membuka internet eksplorer di komputer teman sekantor, ternyata connect. Sejak saat itulah, saya tahu ternyata si teman itu (atasan/senior saya) mendapat fasilitas browsing. Makin cemburu saja rasanya, ternyata saya benar-benar kuli rendah. Hanya sebatas buruh pabrik, mesin pembuat uang bagi management. Mau protes, atau minta fasilitas dapat akses internet, segera tahu diri. Apa pangkat saya? Apa pendidikan saya?
Wah, senangnya hatiku. Dari mulai asal klick, nyasar, komputer hang kebanyakan open new window sampai kepergok. Pernah juga nyasar ke situs tak terduga membikin mata terbelalak, pikiran memanas, diiringi jantung berdegup tak berirama semestinya. Deg deg plas, deg deg plas. Plas plas deg, plas plas deg. Akhirnya plas, plas,plas. Bablas! Orang-orang sudah berkutat dengan dunia blog, bahkan web design. Tidak sedikit malah sudah berbisnis online dan hidup sukses hanya dari internet. saya baru mulai melek.
Rasa kagum (tercengang) saat main kata pencari lewat google search engine, pernah waktu itu kata kunci yang aku pakai “cerita” dengan maksud mencari cerita-cerita pendek. Eh, yang muncul malah cerita seru. Begitu saya klick satu persatu, loh! Dapetnya koq cerita aneh. Mata tak mau diajak kompromi, jadi dech. Baca!
Selayaknya anak kecil baru bisa naik sepeda. Bangun tidur sepeda, siang hari terik saat ibu berteriak “tidur! Udah siang!”, hati tetap ngotot bersepeda. Bahkan malam hari saat harus istirahat, mau tidurpun sepeda dielus, dibelai. seperti tak kan ada lagi hari esok. Begitu menggebu untuk nangkring diatas sadel. Ibu, bapak, kakak geleng kepala menyaksikan tingkah itu. Mereka hanya bisa tersenyum, antara maklum dan kesal. Pengin marah, tapi menggelikan.
Karena itu jika anda yang kebetulan membaca tulisan ini, silahkan saja tersenyum membayangkan saya yang baru bisa akses internet. Nebeng di kantor, pinjem komputer teman lagi.
Bosen situs cerita seru, cerita panas, cerita heboh, dan seterusnya. Saya klick lagi lewat mesin pencari dengan kata kunci lain. Ketemu dech situs “sriti.com”. setiap ada kesempatan, cerita demi cerita pun saya download kemudian print, baca diperjalanan pergi dan pulang kantor. Gairah bekerja kembali tumbuh, perasaan hampa pun perlahan tergeser menjadi rasa senang. Ada hiburan baru, download cerita-cerita pendek!
Searching demi searching pun terjadi, bahkan telah bisa membuat account email di google. Wuihh… senengnya, serasa sayalah paling pinter. Sampai-sampai setiap ketemu kenalan baru, tidak pernah absen aku tanyakan adalah”punya alamat email gak, catat nich punya gw”. Apalagi ketemu temen lama, anggapan saat itu mereka tak punya user mail. Dengan narsisnya aku katakan “bikin aja, gampang koq. Kalau perlu sekarang juga kita ke warnet. Gw bikinin dech!”
Pada pencarian berikutnya, ketemu dech situs Sekolah Menulis Online. Seakan menemukan setetes embun disiang terik. Mak nyeees, segar mesti cuma setitik. Seketika itu juga keinginan yang pernah muncul saat membaca novel The Best Laid Plan nya Sidney Sheldon kumat lagi. Obsesi untuk menggeser popularitas novel itu kambuh lagi. Menjadi penulis novel pengguncang dunia. Mungkin gak ya? Belajar! Pasti bisa! Tempatnya, ya Sekolah Menulis Online ini.
“Saya harus belajar, dan pasti menjadi murid SMO. Harus!” pekik saya. Melebihi teriakan merdeka atau mati kakek saat mengusir penjajah belanda dari tanah pertiwi. Api kehidupan (keinginan menulis) yang telah lama mati, terpercik kembali. Berpuluh tahun lingkaran setan gajian membelenggu rutinitas kehidupan, mendadak pecah. Keinginan bisa menulis begitu menggebu. Mendesak-desak, seakan menjebol tanggul emosi jiwa ini.
Akhirnya, terimakasih bung jonru. Telah menerima saya menjadi murid SMO.
Disela senggang waktu menyelesaikan laporan-laporan manufacturing di kantor, saya selalu menulis. Apa saja. Entah cerita saat perjalanan. Entah menuliskan kembali berbagai artikel yang saya baca. Dengan sudut pandang dan gaya penulisan (penguasaan kata) saya tentunya. Pokoknya apa saja. Saya juga membangun sebuah millist bayangan dilingkungan kantor. Komentar demi komentar rekan se nusantara pun muncul, sahut²an. Bahkan kalau lagi full job, mesti banyak laporan harus diselesaikan. Kesempatan menulis nyaris tak ada. Teman-teman di millist bayangan protes “mas, mana tulisannya. Koq ndak muncul lagi?” tambah semangat rasanya.
Kejadian menarik, geli, sekaligus menggugah kreatifitas menulis. saya mengupas tentang iklan produk (company saya). saya bandingkan dengan iklan kompetitor saya puji, sebaliknya iklan sendiri saya jelek-jelekkan. “Pemilihan bintang iklan mubazir, diksi yang dipakai asal-asalan, sampai kapan adopsi bahasa gaul gak jelas momentnya!”kata saya.
Eh, pihak tersangkut ada yang marah. Sampai turun gunung, jauh-jauh dari Menara Sudirman disempatkan ke pabrik Ancol hanya untuk melihat “Salwangga itu yang mana sih, itu tuh yang jelek-jelekin produk kita?” saking penasarannya. Apesnya lagi, itu orang tidak ketemu dengan saya.
pelajaran penting saya petik dari kejadian ini, “yang saya kritik iklannya, bukan pelakunya. koq malah sakit hati? Murid SMO saya yakin tidak seperti ini, yang dibantai mentor adalah karyanya, bukan orangnya.”
penasaran, saya baca berulang-ulang apa yang saya tulis. kenapa para dewa gerah sampai turun kahyangan?
Millist bayangan saya maksudkan disini adalah, saya mengirimkan ke beberapa rekan cabang (factory) dari medan sampai makasar secara bcc. Sehingga mereka hanya bisa reply satu arah kepada saya. Ada yang protes, mencaci, juga curhat. Sesekali atasan tahu klo saya suka nulis, negur juga sich. Tapi, “menulis adalah hak saya”. Kewajiban tak terbengkelai, tak ada yang salah. Laporan juga tepat waktu. Justeru saya lebih betah didepan komputer dari pada kelayapan. Buru-buru ingin segera selesai mengerjakan laporan, agar cepat bisa menulis.
Ya, menulis adalah hak saya. Tak sengaja saya menemukan motto untuk memberikan semangat diri.
Tapi,
Jadi teringat seorang di pembelajar dot com, mantan TKW hongkong sekarang tinggal di banyuwangi. Belajar menulis harus main kucing-kucingan dengan lirikan liar majikan. Namanya Eny Kusuma. Ia juga jebolan SMA, berhasil menulis sebuah buku “anda luar biasa”. Bahkan sekarang menjadi pembicara public dan motivator. Ia mengusung “belajar adalah hak saya” menjadi motto hidupnya. Jadi ragu dech, mau pake motto itu. Dikira ikut-ikutan kan repot. Mana saya sudah biasa tampil beda pula. Kurang sreg klo ada yang nyamain.
Setelah saya resapi, jiwa saya merasa lebih hidup dari kegiatan menulis. Imaginasi menggelegak terbang bebas tak terbatas aturan. Lingkaran setan (rutinitas kerja), menjelma menjadi kegiatan menyenangkan. Kerja bukan lagi beban. Akhirnya saya menemukan motto sesuai kondisi. “Karena saya mau hidup, maka saya menulis”. Bukan hanya untuk saat ini, tetapi untuk segala zaman. Jika sehari saja saya berhenti menarikan jari menggoreskan pena menggulirkan tulisan, berarti saya kembali mati! Ya, benar. Inilah motto utama saya biar tetap semangat menulis. Meski saya mati, tulisan saya tetap hidup.
Memang jiwaku telah lama merana, bak daun kering tertiup angin. Hanya dapat mengikuti kemana angin berhembus tanpa punya pegangan pasti. Kini semua itu tak lagi berarti, aku bukan lagi selembar daun tanpa opini, melainkan pena yang akan selalu membuat hidup. Saya tidak mau mati, atau sekedar bangkai berjalan tanpa makna. Oleh karena saya mau hidup, maka saya menulis!
-->
7 Responses to “karena saya mau hidup, maka saya menulis”
on 10 Jun 2008 at 2:34 pm edit thisKania
wah… wah…1. Hebat sekali motto hidupnya2. Seru sekali biografinya3. terima kasih sudah mengingatkan
Asyik tulisannya…
on 10 Jun 2008 at 4:11 pm edit thisHeri Ispriyahadi
to be frankly tulisannya menggugah kita bagi yang senang menulis. Kita dipacu untuk selalu menulis apa saja yang menjadi perhatian kita. Tidak peduli dimanapun kita kegemaran menulis harus dipelihara. Dengan menulis semua apapun masalah yang kita hadapi menjadi ringan. Oke selamat Mas Salwangga teruskan proses kreatif nya dan motto nya menjadi mesin motivasi yang dasyat.
Salam kenal dari Heri ispriyahadi
on 10 Jun 2008 at 5:32 pm edit thislita
Huebaaatt…! Maju terus Mas!
on 11 Jun 2008 at 7:06 am edit thisSunlita Citra Tanggyono
bahasa yang segar untuk sebuah esai, ada pun demikian saya kira akan jauh lebih mengena (menurut saya) apabila bungkus terluarnya adalah baku. strukturnya rapi, dan isinya segar, waah saya kira Bung Salwangga pasti bisa, karena ketika memberi komentar ke karya-karya lain bahasanya jauh lebih terstruktur. .
on 11 Jun 2008 at 8:51 am edit thissalwangga
Kania, th’s atas supportnya. membaca comment Kania jadi spirit tersendiri.
Heri Ispriyahadi, matur nuwun pituturnya. kata pak dhe saya di kota kecil pati (garudafood)kalau mau maju memang harus mampu menyemangati diri sendiri dulu.
Lita, makasih ya. kadang kala harus mundur loh. bukan menyerah, tapi ambil ancang-ancang untuk maju lebih pesat. selayaknya ketapel (plintheng), klo mau melepaskan kerikil harus ditarik dulu kebelakang kan?
Sunlita Citra Tanggyono, makasih banget atas koreksinya. untuk tatabahasa diriku ini memang super kacau. akibat kenakalan masa kecil “sering ngintipin guru bahasa indonesia”, imbasnya sampai sekarang jadi kacau. kutukan kali ya?
on 11 Jun 2008 at 9:06 am edit thisSunlita Citra Tanggyono
tentang tatabahasa. . salah seorang teman pernah merekomendasikan buku “bahasa indonesia” oleh widjono hs, penerbit grasindo. siapa tahu Pak Salwangga berminat.
on 11 Jun 2008 at 11:12 pm edit thisRina Kustriani
weehhh segerrrrrrrr rek..!asyik mas…bacanya gak bosen.. asik
Posted by salwangga on 10 Jun 2008 at 12:39 pm Tagged as: Umum Edit This
Bagi rekan seangkatan (SMO-3) atau angkatan pertama dan kedua yang hendak menimpali tulisan ini, silahkan. Lebih tepatnya sangat saya harapkan. Tapi untuk saya jawab komentar tersebut, atau menulis kembali di blog menulis ini. Saya tidak bisa janji, melainkan motto cadangan yang bicara –menulis adalah hak saya- yakni tergantung urgenitas dan kondisi tentunya. (wuih… nich orang cuex amat! Emang siapa sich ?)
Lingkaran kehidupan seakan menjelma menjadi lingkaran setan. Koq setan? Kenapa tidak buat lingkaran kesenangan?
Penginnya sih, tapi masak hati sendiri mau dibohongi, suasana sudah tidak enak, bahkan tidak pernah enak. Mau dienak-enakin. Ditutup-tutupin. Makin mati dong. Penuh kepura-puraan. Pagi berangkat kerja, seharian di kantor, nunggu jam pulang. Job desc pun hanya itu-itu saja, tak kunjung ada perubahan. Jenuh. Senin nunggu jumat. Minggu pertama berharap segera lewat, tanggal akhir bulan pun sangat ditunggu. Begitu setiap hari. Stagnan. Keseharian ibarat robot, harus bekerja demi mendapat gaji untuk memenuhi kebutuhan hidup. Masih terngiang masa-masa doyan pacaran eh, sekarang sudah tiga puluhan. Hampa. Jiwa seperti mati.
Sayang memang, saya termasuk orang yang terjebak dalam komunitas tulisan diatas. Untungnya, ada sedikit celah saat saya mendapat kesempatan secara tidak sengaja membuka internet eksplorer di komputer teman sekantor, ternyata connect. Sejak saat itulah, saya tahu ternyata si teman itu (atasan/senior saya) mendapat fasilitas browsing. Makin cemburu saja rasanya, ternyata saya benar-benar kuli rendah. Hanya sebatas buruh pabrik, mesin pembuat uang bagi management. Mau protes, atau minta fasilitas dapat akses internet, segera tahu diri. Apa pangkat saya? Apa pendidikan saya?
Wah, senangnya hatiku. Dari mulai asal klick, nyasar, komputer hang kebanyakan open new window sampai kepergok. Pernah juga nyasar ke situs tak terduga membikin mata terbelalak, pikiran memanas, diiringi jantung berdegup tak berirama semestinya. Deg deg plas, deg deg plas. Plas plas deg, plas plas deg. Akhirnya plas, plas,plas. Bablas! Orang-orang sudah berkutat dengan dunia blog, bahkan web design. Tidak sedikit malah sudah berbisnis online dan hidup sukses hanya dari internet. saya baru mulai melek.
Rasa kagum (tercengang) saat main kata pencari lewat google search engine, pernah waktu itu kata kunci yang aku pakai “cerita” dengan maksud mencari cerita-cerita pendek. Eh, yang muncul malah cerita seru. Begitu saya klick satu persatu, loh! Dapetnya koq cerita aneh. Mata tak mau diajak kompromi, jadi dech. Baca!
Selayaknya anak kecil baru bisa naik sepeda. Bangun tidur sepeda, siang hari terik saat ibu berteriak “tidur! Udah siang!”, hati tetap ngotot bersepeda. Bahkan malam hari saat harus istirahat, mau tidurpun sepeda dielus, dibelai. seperti tak kan ada lagi hari esok. Begitu menggebu untuk nangkring diatas sadel. Ibu, bapak, kakak geleng kepala menyaksikan tingkah itu. Mereka hanya bisa tersenyum, antara maklum dan kesal. Pengin marah, tapi menggelikan.
Karena itu jika anda yang kebetulan membaca tulisan ini, silahkan saja tersenyum membayangkan saya yang baru bisa akses internet. Nebeng di kantor, pinjem komputer teman lagi.
Bosen situs cerita seru, cerita panas, cerita heboh, dan seterusnya. Saya klick lagi lewat mesin pencari dengan kata kunci lain. Ketemu dech situs “sriti.com”. setiap ada kesempatan, cerita demi cerita pun saya download kemudian print, baca diperjalanan pergi dan pulang kantor. Gairah bekerja kembali tumbuh, perasaan hampa pun perlahan tergeser menjadi rasa senang. Ada hiburan baru, download cerita-cerita pendek!
Searching demi searching pun terjadi, bahkan telah bisa membuat account email di google. Wuihh… senengnya, serasa sayalah paling pinter. Sampai-sampai setiap ketemu kenalan baru, tidak pernah absen aku tanyakan adalah”punya alamat email gak, catat nich punya gw”. Apalagi ketemu temen lama, anggapan saat itu mereka tak punya user mail. Dengan narsisnya aku katakan “bikin aja, gampang koq. Kalau perlu sekarang juga kita ke warnet. Gw bikinin dech!”
Pada pencarian berikutnya, ketemu dech situs Sekolah Menulis Online. Seakan menemukan setetes embun disiang terik. Mak nyeees, segar mesti cuma setitik. Seketika itu juga keinginan yang pernah muncul saat membaca novel The Best Laid Plan nya Sidney Sheldon kumat lagi. Obsesi untuk menggeser popularitas novel itu kambuh lagi. Menjadi penulis novel pengguncang dunia. Mungkin gak ya? Belajar! Pasti bisa! Tempatnya, ya Sekolah Menulis Online ini.
“Saya harus belajar, dan pasti menjadi murid SMO. Harus!” pekik saya. Melebihi teriakan merdeka atau mati kakek saat mengusir penjajah belanda dari tanah pertiwi. Api kehidupan (keinginan menulis) yang telah lama mati, terpercik kembali. Berpuluh tahun lingkaran setan gajian membelenggu rutinitas kehidupan, mendadak pecah. Keinginan bisa menulis begitu menggebu. Mendesak-desak, seakan menjebol tanggul emosi jiwa ini.
Akhirnya, terimakasih bung jonru. Telah menerima saya menjadi murid SMO.
Disela senggang waktu menyelesaikan laporan-laporan manufacturing di kantor, saya selalu menulis. Apa saja. Entah cerita saat perjalanan. Entah menuliskan kembali berbagai artikel yang saya baca. Dengan sudut pandang dan gaya penulisan (penguasaan kata) saya tentunya. Pokoknya apa saja. Saya juga membangun sebuah millist bayangan dilingkungan kantor. Komentar demi komentar rekan se nusantara pun muncul, sahut²an. Bahkan kalau lagi full job, mesti banyak laporan harus diselesaikan. Kesempatan menulis nyaris tak ada. Teman-teman di millist bayangan protes “mas, mana tulisannya. Koq ndak muncul lagi?” tambah semangat rasanya.
Kejadian menarik, geli, sekaligus menggugah kreatifitas menulis. saya mengupas tentang iklan produk (company saya). saya bandingkan dengan iklan kompetitor saya puji, sebaliknya iklan sendiri saya jelek-jelekkan. “Pemilihan bintang iklan mubazir, diksi yang dipakai asal-asalan, sampai kapan adopsi bahasa gaul gak jelas momentnya!”kata saya.
Eh, pihak tersangkut ada yang marah. Sampai turun gunung, jauh-jauh dari Menara Sudirman disempatkan ke pabrik Ancol hanya untuk melihat “Salwangga itu yang mana sih, itu tuh yang jelek-jelekin produk kita?” saking penasarannya. Apesnya lagi, itu orang tidak ketemu dengan saya.
pelajaran penting saya petik dari kejadian ini, “yang saya kritik iklannya, bukan pelakunya. koq malah sakit hati? Murid SMO saya yakin tidak seperti ini, yang dibantai mentor adalah karyanya, bukan orangnya.”
penasaran, saya baca berulang-ulang apa yang saya tulis. kenapa para dewa gerah sampai turun kahyangan?
Millist bayangan saya maksudkan disini adalah, saya mengirimkan ke beberapa rekan cabang (factory) dari medan sampai makasar secara bcc. Sehingga mereka hanya bisa reply satu arah kepada saya. Ada yang protes, mencaci, juga curhat. Sesekali atasan tahu klo saya suka nulis, negur juga sich. Tapi, “menulis adalah hak saya”. Kewajiban tak terbengkelai, tak ada yang salah. Laporan juga tepat waktu. Justeru saya lebih betah didepan komputer dari pada kelayapan. Buru-buru ingin segera selesai mengerjakan laporan, agar cepat bisa menulis.
Ya, menulis adalah hak saya. Tak sengaja saya menemukan motto untuk memberikan semangat diri.
Tapi,
Jadi teringat seorang di pembelajar dot com, mantan TKW hongkong sekarang tinggal di banyuwangi. Belajar menulis harus main kucing-kucingan dengan lirikan liar majikan. Namanya Eny Kusuma. Ia juga jebolan SMA, berhasil menulis sebuah buku “anda luar biasa”. Bahkan sekarang menjadi pembicara public dan motivator. Ia mengusung “belajar adalah hak saya” menjadi motto hidupnya. Jadi ragu dech, mau pake motto itu. Dikira ikut-ikutan kan repot. Mana saya sudah biasa tampil beda pula. Kurang sreg klo ada yang nyamain.
Setelah saya resapi, jiwa saya merasa lebih hidup dari kegiatan menulis. Imaginasi menggelegak terbang bebas tak terbatas aturan. Lingkaran setan (rutinitas kerja), menjelma menjadi kegiatan menyenangkan. Kerja bukan lagi beban. Akhirnya saya menemukan motto sesuai kondisi. “Karena saya mau hidup, maka saya menulis”. Bukan hanya untuk saat ini, tetapi untuk segala zaman. Jika sehari saja saya berhenti menarikan jari menggoreskan pena menggulirkan tulisan, berarti saya kembali mati! Ya, benar. Inilah motto utama saya biar tetap semangat menulis. Meski saya mati, tulisan saya tetap hidup.
Memang jiwaku telah lama merana, bak daun kering tertiup angin. Hanya dapat mengikuti kemana angin berhembus tanpa punya pegangan pasti. Kini semua itu tak lagi berarti, aku bukan lagi selembar daun tanpa opini, melainkan pena yang akan selalu membuat hidup. Saya tidak mau mati, atau sekedar bangkai berjalan tanpa makna. Oleh karena saya mau hidup, maka saya menulis!
-->
7 Responses to “karena saya mau hidup, maka saya menulis”
on 10 Jun 2008 at 2:34 pm edit thisKania
wah… wah…1. Hebat sekali motto hidupnya2. Seru sekali biografinya3. terima kasih sudah mengingatkan
Asyik tulisannya…
on 10 Jun 2008 at 4:11 pm edit thisHeri Ispriyahadi
to be frankly tulisannya menggugah kita bagi yang senang menulis. Kita dipacu untuk selalu menulis apa saja yang menjadi perhatian kita. Tidak peduli dimanapun kita kegemaran menulis harus dipelihara. Dengan menulis semua apapun masalah yang kita hadapi menjadi ringan. Oke selamat Mas Salwangga teruskan proses kreatif nya dan motto nya menjadi mesin motivasi yang dasyat.
Salam kenal dari Heri ispriyahadi
on 10 Jun 2008 at 5:32 pm edit thislita
Huebaaatt…! Maju terus Mas!
on 11 Jun 2008 at 7:06 am edit thisSunlita Citra Tanggyono
bahasa yang segar untuk sebuah esai, ada pun demikian saya kira akan jauh lebih mengena (menurut saya) apabila bungkus terluarnya adalah baku. strukturnya rapi, dan isinya segar, waah saya kira Bung Salwangga pasti bisa, karena ketika memberi komentar ke karya-karya lain bahasanya jauh lebih terstruktur. .
on 11 Jun 2008 at 8:51 am edit thissalwangga
Kania, th’s atas supportnya. membaca comment Kania jadi spirit tersendiri.
Heri Ispriyahadi, matur nuwun pituturnya. kata pak dhe saya di kota kecil pati (garudafood)kalau mau maju memang harus mampu menyemangati diri sendiri dulu.
Lita, makasih ya. kadang kala harus mundur loh. bukan menyerah, tapi ambil ancang-ancang untuk maju lebih pesat. selayaknya ketapel (plintheng), klo mau melepaskan kerikil harus ditarik dulu kebelakang kan?
Sunlita Citra Tanggyono, makasih banget atas koreksinya. untuk tatabahasa diriku ini memang super kacau. akibat kenakalan masa kecil “sering ngintipin guru bahasa indonesia”, imbasnya sampai sekarang jadi kacau. kutukan kali ya?
on 11 Jun 2008 at 9:06 am edit thisSunlita Citra Tanggyono
tentang tatabahasa. . salah seorang teman pernah merekomendasikan buku “bahasa indonesia” oleh widjono hs, penerbit grasindo. siapa tahu Pak Salwangga berminat.
on 11 Jun 2008 at 11:12 pm edit thisRina Kustriani
weehhh segerrrrrrrr rek..!asyik mas…bacanya gak bosen.. asik
Langganan:
Postingan (Atom)